Tag Archives: ramalan

Sri Gaura Purnima

 

 

Sri Gaura Purnima

Oleh: Suryanto, M.Pd

Proses pelurusan kembali ajaran Veda yang telah disimpangkan dilakukan beberapa tahap oleh avatara-avatara yang muncul dan menjalankan misinya, sesuai tuntutan situasi dan keadaan. Setelah Buddha Gautama, muncullah Adi Sankaracarya, lalu disusul dengan kemunculan Sri Caitanya. Benarkah beliau avatara Sri Krishna?

Buddha Gautama harus “berpura-pura” menolak dan menyalahkan Veda, karena orang mengatasnamakan Veda untuk membenarkan pembunuhan hewan besar-besaran dan penerapan sistem kasta yang sangat tidak manusiawi. Bertolak belakang dengan ajaran pokok Veda, Buddha Gautama mengajarkan bahwa roh itu tidak ada (anatman). Buddha Gautama juga tidak memberikan penjelasan apapun tentang keberadaan Tuhan, dengan mengajarkan bahwa kebenaran tertinggi adalah kekosongan (sunyavada). Itu merupakan sebuah siasat. Dengan mengatakan tidak ada Tuhan, masyarakat pada waktu itu lalu memuja dan mengikuti Sang Buddha, yang tidak lain adalah penjelmaan Sri Visnu sendiri..

Lalu, pemurnian ajaran Veda tahap berikutnya terjadi. Dewa Siva menjelma menjadi Adi Sankaracarya (788 – 820 M) seorang brahmana dan ahli filsafat yang sangat hebat. Berkat kegiatan pengajaran Sankaracarya, ajaran Veda mulai berkembang kembali di India. Para penganut agama Buddha kembali beralih memeluk agama Hindu. Bahkan, agama Buddha yang tadinya berkembang pesat dibawah perlindungan Raja Asoka akhirnya surut pamornya di India Walaupun demikian, banyak ajaran Buddha Gautama yang diadaptasi dan dikompromikan dengan ajaran Veda oleh Sankaracarya.

Salah satunya adalah konsep tentang Tuhan. Kitab-kitab Upanisad dan kitab Vedanta mengajarkan bahwa Tuhan memiliki sifat impersonal dan sifat personal sekaligus. Artinya, Tuhan berwujud sekaligus tidak berwujud. Kalau kita telaah secara seksama, kitab Injil dan Al-Quran pun mengajarkan bahwa Tuhan memang memiliki wujud. Hanya saja, kedua kitab itu menyampaikannya secara samar-samar. Dalam Injil, misalnya, dinyatakan bahwa : “Tuhan menciptakan manusia menyerupai citra-Nya”. Jadi, kalau manusia dengan wujudnya yang sekarang adalah “pencitraan” atau gambaran Tuhan, bukankah itu berarti bentuk atau wujud Tuhan duluan ada,  Aspek Tuhan yang ‘tidak berwujud’ dan ‘tidak bersifat’ seperti itu dalam bahasa Sanskerta disebut Brahman.

Sedangkan sifat personal  Tuhan, disebut Bhagavan. Agar mudah dipahami, kalau Brahman diibaratkan cahaya, maka Bhagavan adalah “sumber cahaya itu”. Pada siang hari yang cerah, kita hanya bisa melihat cahaya matahari yang menyilaukan, sedangkan bola matahari sendiri tidak tampak. Bulatan bola matahari yang besar itu tertutupi oleh cahaya yang menyilaukan.  Begitu pula, Brahman adalah cahaya yang menyilaukan yang menutupi  badan rohani Tuhan. Hal ini dibenarkan dalam Bhagavad-gita ( 14.27 ), di mana Sri Krishna menyatakan:

brahmaëo hi pratiñöhäham

amåtasyävyayasya ca

çäçvatasya ca dharmasya

sukhasyaikäntikasya ca

Aku adalah sandaran Brahman yang tidak bersifat pribadi, yang bersifat kekal, tidak pernah mati, tidak dapat dimusnahkan, kedudukan dasar kebahagiaan yang paling tinggi.”

Sebaliknya, Sankaracarya mengajarkan bahwa Brahman adalah aspek Tuhan yang tertinggi. Artinya, bahwa  Tuhan itu ada,  tapi tidak berwujud (nirvisesa), tidak bersifat (nirguna), dan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata (sunya) . Menurut Sankaracarya sosok-sosok seperti  Krishna, Visnu, Brahma, Siva, Durga, Ganesha, dan dewa-dewa lainnya hanyalah merupakan “perwujudan” atau manifestasi dari Tuhan yang tidak berwujud itu. Inilah bentuk kompromi antara ajaran Buddha Gautama dan ajaran Veda.

Bagi Buddha Gautama, tidak ada Tuhan, tidak ada Sang Pencipta. Sebaliknya, Veda mengajarkan bahwa ada Sang Pencipta, yang memiliki wujud rohani. Tentu saja, titik temu antara kedua ajaran yang bertolak belakang itu adalah Tuhan itu ada, tapi tidak berwujud. Dengan jalan tengah itu, Sankaracarya memang berhasil menjalankan misinya. Sebuah misi yang sesungguhnya diawali oleh Buddha Gautama sendiri sebagai avatara Visnu.

Keberhasilan Sankaracarya memang pantas dicatat, pengaruhnya masih terasa hingga sekarang ini dalam filsafat Hindu. Kalau saat ini kita mengenal konsep penyatuan atman dengan Brahman, konsep Tat Tvam Asi, dan sebagainya, semua itu adalah ajaran  Sankaracarya. Bahkan, konsep Tri Murti, yaitu bahwa Brahma, Visnu, dan Siva adalah manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang tidak berwujud – adalah aplikasi ajaran Sankaracarya  di Indonesia. Akan tetapi, kalau ditelaah kembali, maka ajaran Sankaracarya tersebut masih belum sepenuhnya sesuai dengan ajaran Veda  seperti murninya. Mengapa demikian?

Karena sebenarnya dalam kitab-kitab Veda dinyatakan bahwa Tuhan itu Esa dan berwujud. Dalam menjalankan “roda pemerintahan alam semesta” Tuhan yang Esa itu dibantu oleh para dewa yang diciptakan oleh Tuhan Sendiri. Ibarat sebuah pemerintahan, Tuhan adalah seorang raja atau presiden, sedangkan para dewa adalah para mentri yang memimpin departemen tertentu. Para dewa sebenarnya sama dengan malaikat dalam istilah agama Kristen dan Islam. Ada malaikat Ridwan penjaga sorga, kita mengenal dewa Indra sebagai raja sorga. Ada Dewa Yama sebagai dewa kematian, ada malaikat Isroil sebagai malaikat pencabut nyawa.  Jadi  dewa bukanlah Tuhan seperti yang selama ini banyak disalahpahami bahkan oleh orang Hindu sendiri. Karena itulah Sankara tidak menyusun ulasan apapun terhadap kitab Bhagavata Purana yang menguraikan identitas Sri Krishna sebagai Bhagavan atau Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana kita ketahui, Sankara sendiri menyusun syair Bhaja Govindam yang sangat termasyur itu. Govinda adalah nama lain dari Sri Krishna.

Dalam perkembangannya, bermunculanlah acarya atau guru-guru yang mengoreksi ajaran-ajaran Sankaracarya. Diantaranya yang terkenal adalah Ramanujacarya dan Madhavacarya. Keduanya mengajarkan bhakti, yang menyatakan bahwa atman tidak pernah menyatu dengan brahman dalam arti yang sesungguhnya. Bhakti berarti pengabdian dan pelayanan kepada Tuhan dengan dilandasi oleh cinta kasih. Seorang bhakta tidak pernah mencita-citakan untuk menyatu dan menunggal dengan Tuhan. Yang menjadi keinginannya hanyalah  mengabdi dan melayani Tuhan dengan cinta yang tanpa pamrih. Cinta adalah sesuatu yang melibatkan kegiatan menerima (take) sekaligus memberi (give). Jadi, love melibatkan take and give. Harus bertimbal balik, dan tidak satu arah. Kalau hanya menerima saja tanpa pernah memberi, itu namanya pemerasan, bukan cinta. Cinta atau bhakti mengisyaratkan adanyapihak  yang mencintai dan obyek yang dicintai. Dalam ajaran Veda, obyek tertinggi cinta bhakti adalah Tuhan Sendiri. Ilmu pengetahuan inilah yang disebut dengan bhakti yoga. Menurut Steven Rosen (1996), tradisi Vaisnava atau bhakti yoga inilah yang merupakan praktek keagamaan tertua yang diikuti oleh masyarakat India, sebelum terjadinya penyimpangan Veda.

Tradisi monotheis, atau pemujaan kepada Tuhan yang Esa melalui bhakti inilah inti ajaran Bhagavad-gita dan Bhagavata Purana, dimana kedua kitab tersebut telah ada sejak 5107 tahun yang lalu. Banyak orang yang menganggap bahwa bhakti yoga adalah cara yang paling mudah dan remeh untuk mencapai kepada Tuhan. Karena itu banyak orang yang mengejek dan menganggap bahwa seorang bhakta adalah mereka yang kurang cerdas (kekurangan jnana) dan tidak mampu melakukan perbuatan (karma) yang lebih tinggi. Sesuai namanya, mereka menganggap bahwa Raja Yoga (meditasi) adalah yoga yang tertinggi. Tetapi, kalau benar bhakti adalah jalan termudah, mengapa orang tidak berbondong-bondong melakukannya? Mengapa memilih jalan yang lebih sulit? Mengapa tidak menempuh jalan termudah dan termurah?

Jadi, bhakti tanpa mengharapkan pamrih kepada Tuhan adalah puncak seluruh ajaran Veda sesungguhnya. Ajaran inilah yang telah disimpangkan sedemikian jauh, sehingga dalam pelurusannya dibutuhkan kemunculan Buddha Gautama dan Adi Sankaracarya. Puncak pelurusan itu terjadi dengan kemunculan Sri Krishna Caitanya, atau yang dikenal juga sebagai Sri Caitanya Mahaprabhu pada abad ke-15 Masehi. Kemunculan Sri Caitanya beserta ajarannya ini tidak banyak diketahui secara luas, sampai akhirnya pada tahun 1965, A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada memperkenalkan ajaran ini keseluruh dunia.

Dalam kitab-kitab Veda, terdapat sloka-sloka yang telah meramalkan kemunculan Sri Caitanya ini. Sri Caitanya adalah penjelmaan Sri Krishna pada jaman Kali. Dalam Mahabharata (Dhana-dharma, Vishnu Sahasranama Stotra) terdapat pernyataan yang  meramalkan identitas Sri Caitanya Mahaprabhu.

suvarna varno hemangovarangas candanangadi

sannyasa-krc chamah santonistha-santi-parayanah

 

Dalam kegiatanNya pada usia muda  Beliau muncul sebagai orang yang berumah tangga yang berwajah kuning emas. Anggota-anggota badanNya tampan sekali. BadanNya diolesi dengan tapal terbuat dari kayu cendana. Warna badannya seperti emas cair. Dalam kegiatan berikutnya, Beliau menjadi sannyasi dan Beliau tenang sentosa. Beliaulah tempat kedamaian dan bhakti tertinggi, sebab beliau membuat terdiam orang yang bukan penyembah dan tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan.” Mahabharata (Dhana-dharma, Vishnu Sahasranama Stotra)

Bagaimana kenyataannya? Apakah ramalan tersebut terpenuhi? Marilah kita simak riwayat hidup Sri Caitanya dan ajaran yang beliau sampaikan.

Sri Caitanya Mahaprabhu dilahirkan di Mayapur di kota Nadia, Benggala, India pada waktu magrib tanggal 23 bulan Phalguna tahun 1407 Sakabda, atau tanggal 18 Februari 1486. Pada saat Sri Caitanya dilahirkan, ada gerhana bulan. Sesuai dengan kebiasaan pada saat-saat seperti itu, para penduduk Nadia sedang mandi di sungai Bhagirati (Gangga) dengan mengucapkan “haribol” dengan suara keras-keras.  Ayah Sri Caitanya bernama Jagannatha Misra adalah seorang brahmana miskin yang mengikuti ajaran Veda. Ibu Sri Caitanya bernama Sacidevi adalah wanita yang memiliki segala sifat yang baik.  Sri Caitanya berwajah sangat tampan, wajah dan anggota badannya berwarna kuning keemasan. Menurut Jabir (1997) pada masa itu, kota Navadvipa merupakan kota yang menjadi pusat belajar yang menyaingi kota Benares, kota yang menjadi pusat terbesar bagi para pengikut Adi Sankaracarya. Kakek Sri Caitanya, Pandit Nilambara Cakravati, seorang ahli ilmu perbintangan yang terkenal, meramalkan bahwa Caitanya akan menjadi tokoh besar pada masanya. Cahaya badannya yang keemasan membuat Caitanya dikenal pula sebagai Gauranga. Dalam bahasa Sanskerta, “gaura” berarti emas, sedangkan “angga” artinya anggota badan. Dalam usia sepuluh tahun, Sri Caitanya telah menjadi seorang sarjana yang terpelajar dalam bidang logika, tata bahasa, ilmu berpidato, dan menguasai berbagai kitab suci. Karena itulah ia juga digelari sebagai Nimai Pandit. Disebut nimai karena beliau terlahir di bawah pohon nim (pohon nimbo). Kata pandit menunjukkan gelar bagi orang yang sangat terpelajar. Semua sarjana terpelajar kota Nadia mengakui kehebatan Sri Caitanya, yang menjadi semakin termasyur setelah ia berhasil mengalahkan Kesava Misra dari Kasmir, seorang pandit besar pada masa itu, dalam debat yang dilakukan dihadapan orang banyak.

Pada saat berusia 14 atau 15 tahun, Sri Caitanya menikah dengan Laksmi devi, putra Vallabhacarya yang juga berasal dari Nadia. Namun, tidak lama kemudian Laksmidevi meninggal dunia akibat gigitan ular berbisa.  Atas permintaan ibunya, Sri Caitanya menikah lagi dengan Visnupriya, putri Raja Pandita Sanatana Misra.  Saat berusia 16 tahun, Sri Caitanya diterima sebagai murid oleh seorang guru kerohanian bernama Isvara Puri, seorang sanyasi Vaisnava. Setelah pulang dari Nadia, Nimai Pandit mengajarkan prinsip-prinsip keagamaan, dan sifat kerohanian menjadi begitu kuat dalam Dirinya. Tokoh-tokoh Vaisnava yang lebih tua menjadi heran melihat perubahan pada diri pemuda itu. Sebelumnya Nimai Pandit tidak lebih dari seorang naiyayika yang suka berdebat, seorang smarta yang suka berargumentasi dan seorang ahli pidato yang suka mencela.  Sekarang Sri Caitanya hampir pingsan kalau  beliau mendengar nama Krishna dan beliau bertindak seperti orang yang mempunyai semangat tinggi karena pengaruh perasaan rohani.

Sri Caitanya khususnya mengajarkan proses rohani dalam bentuk pengucapan nama-nama suci Tuhan. Ajaran Sri Caitanya sama dengan ajaran yang diberikan oleh Sri Kapila, pengemuka pertama ajaran Sankhya-yoga. Filsafat sankya yang dibenarkan menganjurkan agar seseorang semadi pada bentuk rohani Tuhan. Tidak mungkin kita bermeditasi pada kekosongan ataupun pada sesuatu yang tidak memiliki sifat pribadi. Sri Caitanya Mahaprabhu mengajarkan filsafat yang disebut dengan Acintya bedhaabedha-tattva. Menurut filsafat tersebut, Tuhan Yang Maha Esa sama dengan ciptaan-Nya dan pada waktu yang samaberbeda dari ciptaan itu. Contoh yang baik untuk memahami filsafat tersebut adalah sebagai berikut. Cahaya matahari dan bola matahari dapat dikatakan sebagai dua obyek yang sama namun sekaligus berbeda pada saat yang sama. Tidak ada cahaya matahari kalau tidak ada bola matahari sebagai sumbernya. Sebaliknya, bola matahari tidak akan bermanfaat kalau tidak  memancarkan cahaya matahari. Sekarang, misalnya kita berada dalam suatu kamar yang diterangi cahaya matahari. Dapatkah kita mengatakan bahwa matahari berada dalam kamar kita, hanya karena adanya cahaya matahari dalam ruangan kita? Tentu saja tidak!

Jadi, matahari dan cahaya matahari sama sekaligus berbeda pada saat yang sama.

Begitu pula Tuhan dan ciptaan-Nya. Menurut Veda, Tuhan memiliki tiga sifat utama yaitu sat, cit, dan ananda. Sat artinya kekal, Tuhan Maha Kekal. Cit artinya penuh pengetahuan (full of knowledge), Tuhan Maha Tahu, segala pengetahuan berasal dari Beliau. Ananda berarti penuh kebahagiaan (full of bliss), Tuhan adalah sumber kebahagiaan sejati. Karena itulah, orang menjadi bahagia bila ia merasa dekat dengan Tuhan. Tuhan memiliki ketiga sifat utama itu tanpa batas.

Sebagai atman (roh) kita juga memiliki ketiga sifat tersebut. Kita kekal, roh tidak pernah mati, hanya menggantikan badan. Roh tidak pernah diciptakan, sebagaimana Tuhan juga tidak diciptakan. Kita juga penuh pengetahuan, namun saat ini kesadaran kita sedang tercemari karena kita terperangkap dalam badan jasmani. Kita juga selalu mendambakan kebahagiaan, karena pada dasarnya sifat kita adalah ananda. Bagaimana memahami hal ini dalam pengalaman nyata sehari-hari?  Mudah sekali. Berdirinya rumah sakit, menunjukkan bahwa kita ingin terus hidup, mencari kekekalan. Berdirinya sekolah, perguruan tinggi, laboratorium, perpustakaan dll adalah untuk memenuhi kebutuhan kita akan hausnya pengetahuan. Kita selalu mengejar-ngejar kesenangan duniawi, karena kita ingin bahagia. Itulah cermin ketiga sifat itu, sat, cit, dan ananda.

Jadi, ketiga sifat itu sama-sama dimiliki oleh Tuhan dan oleh ciptaan-Nya. Namun, makhluk hidup hanya memiliki dalam jumlah kecil sifat-sifat tersebut, sedangkan Tuhan memilikinya tanpabatas.

Jadi, pada dasarnya kita hanya sama dalam kualitas, namun berbeda jauh dalam kuantitas. Inilah yang dimaksud oleh Sri Caitanya dengan filsafat    acintya bedhaabheda-tattva.

Sri Caitanya mengajarkan filsafat tersebut melalui cara memuji nama suci Tuhan. Beliau mengajarkan bahwa nama suci Tuhan merupakan penjelmaan Tuhan dalam bentuk suara. Oleh karena Tuhan Yang Maha Esa adalah keseluruhan yang mutlak, tidak ada perbedaan antara nama suci Tuhan dengan bentuk rohani Tuhan. Dengan mengucapkan nama suci Tuhan seseorang dapat mengadakan hubungan secara langsung dengan Tuhan Yang Maha Esa melalui getaran suara rohani. Selama seseorang mempraktekkan ucapan getaran suara tersebut, dia naik tingkat melalui tiga tahap perkembangan : yaitu tingkat ia masih melakukan kesalahan, tingkat kesalahan yang dilakukan dihilangkan, lalu tingkat rohani.

Pada tingkat seseorang masih melakukan kesalahan, barangkali ia menginginkan segala jenis kebahagiaan material, tetapi pada tingkat kedua ia menjadi bebas dari segala pengaruh material. Apabila seseorang sudah berada pada tingkat rohani, ia mencapai kedudukan yang paling didambakan oleh setiap orang – yaitu cinta bhakti yang murni kepada Tuhan Yang Maha Esa.  Sri Caitanya mengajarkan bahwa inilah tingkat kesempurnaan tertinggi kehidupan manusia.

Sri Caitanya kemudian mengajarkan secara luas gerakan sankirtan kepada masyarakat luas. Sankirtan adalah pengucapan nama-nama suci Tuhan yang dilakukan secara beramai-ramai, dengan diiringi alat-alat musik tradisional. Sri Caitanya khususnya menganjurkan agar seseorang mengucapakan Maha Mantra Hare Krishna yang telah ditetapkan dalam kitab Kalisantarana Upanisad sebagai yuga dharma untuk jaman Kali Yuga.

 

Hare Krishna Hare Krishna

Krishna Krishna Hare Hare

Hare Rama Hare Rama

Rama Rama Hare Hare

Berangsur-angsur, penduduk Nadia mulai mengikuti apa yang dilakukan oleh Sri Caitanya. Mereka beramai-ramai menyanyikan nama-nama Krishna di jalan-jalan dikota Nadia dengan diiringi instrumen  musik. Demikianlah, gerakan sankirtan Sri Caitanya mulai berkembang pesat, bahkan mulai menyebar ke daerah diluar Nadia.

Sri Caitanya mengajarkan bahwa orang hendaknya mengucapkan nama-nama suci Tuhan dan memuja Tuhan Yang Esa dan Maha Tunggal. Para brahmana kolot di kota Nadia dan sekitarnya yang terbiasa memuja banyak dewa merasa terganggu dan iri hati pada keberhasilan Sri Caitanya. Orang-orang Hindu ini kemudian mengadukan perbuatan Sri Caitanya itu kepada penguasa kota Navadvipa. Mereka menuduh Sri Caitanya telah merusak dan menghancurkan tradisi turun temurun yang dilakukan oleh para brahmana itu, yaitu pemujaan kepada banyak dewa, yang semuanya dianggap Tuhan.

Pada masa itu, kota Navadvipa dibawah penguasaan seorang muslim. Ketua pengadilan di kota itu dijabat oleh Chan Kazi, seorang pemeluk Islam yang taat. Sebagai seorang jaksa, ia merasa berkewajiban untuk menindaklanjuti laporan para brahmana itu.

Bersama para pesuruhnya, ia lalu mendatangi para pengikut Sri Caitanya yang sedang melakukan sankirtan. Chan Kazi  membubarkan orang-orang itu, dan memecahkan gendang serta  mengancam agar orang-orang berhenti menyanyikan nama Krishna. Chan Kazi meminta agar Sri Caitanya berhenti melakukan kegiatannya yang aneh dan dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip agama Hindu. Kalau hal itu masih dilakukan, mereka akan ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.

Mengetahui hal itu, Sri Caitanya lalu mengumpulkan ribuan orang pengikutnya dan mengajak mereka beramai-ramai mendatangi rumah Chan Kazi pada malam hari. Ribuan orang itu membawa obor dan mengepung rumah Chan Kazi sambil menyanyikan Maha Mantra Hare Krishna.

Kazi menjadi ketakutan, lalu mengajak Sri Caitanya berdialog panjang lebar. Sri Caitanya, yang tidak lain adalah penjelmaan Sri Krishna sendiri, bahkan mengutip  ayat-ayat Al-Quran dan digabungkan dengan sloka-sloka Veda untuk membuktikan bahwa apa yang dilakukan oleh Sri Caitanya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip kitab suci. Chan Kazi mengutip ayat Al-Quran untuk membenarkan pembunuhan sapi, namun Sri Caitanya mengutip lebih banyak ayat Al-Quran yang membuktikan bahwa pembunuhan sapi bahkan tidak dibenarkan dalam Al-Quran sendiri.

Karena Sri Caitanya mengajarkan agar orang bermeditasi pada bentuk pribadi Tuhan, Chan Kazi mengutip ayat-ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Allah tidak berwujud. Tapi Sri Caitanya mengutip lebih banyak ayat Al-Quran dan sloka-sloka Veda yang membenarkan bahwa Tuhan sesungguhnya memiliki wujud pribadi yang bersifat rohani. Hasil diskusi lengkap ini tercatat dalam kitab Sri Caitanya Caritamrta, biografi Sri Caitanya yang ditulis oleh Sri Krishna Kaviraja das. Secara terpisah, dialog tersebut telah dijadikan buku tersendiri oleh Akif Manaf Jabir, Ph.D, seorang Hindu kelahiran muslim yang berasal dari Azarbaizan. Kedua buku tersebut adalah The Enlightmen of Chan Kazi (Pencerahan Chan Kazi). Buku lainnya adalah The Hidden Treasure of Al-Qur’an (Harta Karun Tersembunyi dalam Al-Qur’an) terbitan The Dhabir Khas Trust, India, 1997, yang berisi dialog antara Sri Caitanya dengan pemimpin muslim lainnya yang bernama Abdullah Pathan. Anda dapat mengunjungi perpustakaan Narayana Smrti Ashram untuk membaca kedua buku tersebut.

Menjelang usainya diskusi itu, Chan Kazi dapat mengakui kebenaran ajaran Sri Caitanya bahwa Tuhan itu hanya satu, tiada duanya, namun memiliki berjuta-juta nama. Akhirnya, Sri Caitanya menyampaikan pengaruh Vaisnava ke dalam hati Chan Kazi dengan cara menyentuh badannya. Pada saat itu Kazi menangis dan mengakui bahwa ia telah merasakan  pengaruh rohani yang kuat dan pengaruh itu telah menghilangkan keragu-raguannya dan menimbulkan rasa rohani di dalam hatinya yang memberikan kebahagiaan tertinggi baginya.

Pada akhirnya Chan Kazi mendukung gerakan sankirtan Sri Caitanya dan memerintahkan seluruh penduduk muslim di kota Navadvipa agar menghormati dan tidak melakukan gangguan apapun terhadap gerakan sankirtan Sri Caitanya. Perintah tersebut diikuti oleh penduduk kota Nadia turun temurun.

Orang-orang menjadi kagum pada kekuatan spiritual Sri Caitanya, karena beliau mampu mengubah hati orang yang tadinya sangat memusuhi pengucapan nama-nama suci Krishna, kini justru sebaliknya, memberikan perlindungan terhadap kegiatan itu.

Setelah peristiwa itu, Sri Caitanya menarik hati ribuan orang, tanpa dibatasi status sosialnya dalam masyarakat, untuk mengikuti kegiatan rohani beliau. Ketika raja muslim Bengal, Nawab Hussein Shah Badahasah mendengar kehebatan pengaruh Sri Caitanya dalam menarik ribuan orang mengikuti ajarannya, ia menjadi sangat heran dan berkata :” Orang seperti itu, yang mampu menarik ribuan orang tanpa memberi imbalan apapun kepada mereka, pastilah utusan Tuhan. Saya dapat meyakini hal itu.” Nawab Hussein kemudian memerintahkan para jaksa “Jangan mengganggu Sri Caitanya dan kegiatannya hanya karena rasa iri. Biarkan beliau melakukan apapun yang dikehendakinya” (Jabir, 1997). Nawab Hussein dapat melihat bagaimana kekuatan Allah bertindak melalui diri Sri Caitanya, dan ia meyakini sifat-sifat rohani yang dimiliki oleh Beliau.

Sesudah kejadian itu, beberapa brahmana yang iri hatinya dan jahat ingin  bertengkar dengan Sri Caitanya. Mereka mengumpulkan sejumlah orang untuk melawan Sri Caitanya.  Sewajarnya beliau murah hati, walaupun tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsipnya.  Sri Caitanya menyatakan bahwa perasaan partai-partai sendiri dan pembentukan sekte-sekte merupakan dua hambatan utama untuk mencapai kemajuan rohani. Dan selama beliau masih tetap menjadi penduduk Nadia dan anggota keluarga tertentu, missi-Nya tidak akan memperoleh sukses yang lengkap.  Pada usia 24 tahun, dengan ketabahan hati yang luar biasa, Sri Caitanya memutuskan untuk menjadi warga dunia dengan memutuskan hubungan dengan keluarga, golongan dan kepercayaan-Nya. Sri Caitanya memasuki tahap hidup sebagai sanyasin (tahap hidup meninggalkan hal-hal duniawi) di Katwa, dibawah bimbingan Kesava Bharati. Ibu dan istrinya menangis terisak-isak karena rindu, namun Sri Caitanya berjiwa pahlawan: walaupun beliau murah hati, namun beliau berpegang teguh pada prinsip-prinsipNya yang kuat. Sri Caitanya meninggalkan dunia kecil di rumahNya, untuk masuk dunia rohani Krishna yang tidak terhingga bersama masyarakat umum.

Banyak peristiwa ajaib yang dilakukan oleh Sri Caitanya. Banyak sanyasin dalam garis perguruan Sankaracarya yang berhasil dikalahkan dalam debat. Sankaracarya mengajarkan bahwa aspek Tuhan tertinggi adalah kekosongan atau Brahman, sedangkan Sri Caitanya menegaskan bahwa aspek tertinggi Tuhan adalah Tuhan yang memiliki sifat pribadi, berwujud rohani. Bahwa Brahman hanyalah cahaya yang menutupi badan rohani Tuhan. Wujud rohani Tuhan hanya mampu dilihat oleh

mereka yang sudah meninggalkan keinginan duniawi, termasuk keinginan untuk menyatu dengan Brahman. Menurut Sri Caitanya, moksa atau pembebasan berarti bahwa kita akan kembali mendapat badan rohani yang cocok untuk masuk dan hidup dalam kerajaan Tuhan. Namun perlu dicatat bahwa kalau pun kita berhasil masuk kerajaan Tuhan, tidak berarti kita lantas berubah menjadi Tuhan, kita masih akan tetap menjadi pelayan kekal Beliau, dalam hubungan cinta kasih yang bertimbal balik.  Disinilah kita akan memperoleh kembali sifat asli kita : sat, cit, ananda.

Selama seseorang masih memiliki keinginan untuk menjadi Tuhan, maka selama itu pula ia akan masih jatuh dalam perputaran lingkaran kelahiran dan kematian (samsara). Demikianlah, Sri Caitanya berhasil menyempurnakan misi pelurusan dan    pemurnian ajaran Vedapemurnian ajaran Veda, yang dilakukan secara bertahap mulai dari Sang Buddha, dilanjutkan oleh Adi Sankaracarya, dan puncaknya oleh Sri Caitanya Mahaprabhu.

Dari uraian di atas, dapat kita buktikan bahwa ramalan tentang Sri Caitanya dalam Mahabharata tersebut sungguh-sungguh menjadi kenyataan. Banyak ayat lain yang meramalkan kemunculan Sri Caitanya dan misi beliau. Sri Caitanya meramalkan bahwa pengucapan nama-nama suci Krishna dalam bentuk Maha Mantra : Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare/Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare akan menyebar dan dikenal di seluruh pelosok desa dan kota di seluruh dunia. Bhakti Yoga akan menjadi yuga dharma atau dharma pada jaman Kali Yuga, serta akan mengalami masa keemasan selama 10.000 tahun mendatang.

Sri Caitanya hadir di dunia ini selama 48 tahun, dan beliau menghilang dari pandangan mata pada tahun 1534. Para murid Sri Caitanya menulis dan menyusun kitab-kitab yang berisi ajaran-ajaran bhakti kepada Sri Krishna sebagaimana yang diajarkan oleh Sri Caitanya. Semua ajaran itu di dasarkan pada ajaran Bhagavad-gita, Bhagavata Purana, dan kitab-kitab Upanisad lainnya yang memiliki nilai rohani yang sangat mendalam. Dua di antara murid terkemuka Sri Caitanya adalah Dhabira Khasa dan Sakara Malik, dua mentri kesayangan  raja muslim Bengal  yang bernama Nawab Hussein Shah  yang mendukung dan melindungi kegiatan sankirtan Sri Caitanya tersebut. Kedua kakak beradik itu mundur dari jabatannya sebagai mentri, lalu menyerahkan diri kepada Sri Caitanya. Keduanya kemudian mendapat nama rohani Rupa Gosvami dan Sanatana Gosvami yang beserta empat gosvami lainnya melanjutkan misi Sri Caitanya dengan menyusun karya-karya rohani yang tak terhingga banyaknya. Mereka dikenal sebagai enam gosvami, sejenis wali songo.

Ajaran Sri Caitanya disebarluaskan dan dipertahankan kemurniannya melalui sistem parampara (garis perguruan rohani yang dibenarkan yang tidak pernah menyimpang sampai dengan jaman modern ini.

Setelah selama beratus-ratus tahun menjadi teka-teki, akhirnya ramalan Sri Caitanya mulai menjadi kenyataan. Om Visnupada A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada (1896 – 1977) mewujudkan misi Sri Caitanya tersebut, dengan menyebarkan ajaran Vaisnava atau Bhakti Yoga tersebut ke Amerika pada tahun 1965. Selama dua belas tahun pengajarannya, Srila Prabhupada, demikian beliau lebih dikenal, berhasil menarik ribuan orang dari seluruh dunia untuk mengikuti proses yang diajarkan oleh Sri Caitanya. Beliau menyusun kitab Bhagavad-gita As It Is (Bhagavad-gita Menurut Aslinya) menterjemahkan Bhagavata Purana, Sri Caitanya Caritamrta (biografi Sri Caitanya) dan menulis lebih dari 80 judul buku tentang ajaran Veda. Selama 12 tahun, Srila Prabhupada keliling dunia sebanyak 14 kali, dan pernah ke Indonesia pada tahun 1973.

 

Identitas Sri Caitanya & Ramalan Misinya

1. Bhagavata Purana (11.5.32)

kåñëa-varëaà tviñäkåñëaà

säìgopäìgästra-pärñadam

yajïaiù saìkértana-präyair

yajanti hi su-medhasaù

 

 

Pada zaman Kali, orang cerdas bersama-sama memuji nama-nama suci Tuhan untuk menyembah penjelmaan Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa menyanyikan nama Krishna.Walaupun wajah Beliau tidak hitam, Beliau adalah Krishna Sendiri. Beliau diiringi oleh rekan-rekan, hamba-hamba, perlengkapan, dan teman-teman-Nya yang dekat”.

2. Upa-Purana

 

Sri Krishna bersabda kepada Rsi Vyasa :

aham eva kvacid brahman sanyasramam asritah

hari-bhaktim grahayami kalau papa hatan naran

“Wahai brahmana yang bijaksana, kadang-kadang Aku menjadi sanyasi (tingkat meninggalkan hal-hal duniawi) untuk memberi pelajaran kepada orang yang sudah jatuh pada zaman Kali agar mereka mulai  ber-bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.”

3. Mahabharata (Dhana-dharma, Vishnu Sahasranama

suvarna varno hemangovarangas candanangadi

sannyasa-krc chamah santonistha-santi-parayanah

 

Dalam kegiatanNya pada usia muda  Beliau muncul sebagai orang yang berumah tangga yang berwajah kuning emas. Anggota-anggota badanNya tampan sekali. BadanNya diolesi dengan tapal terbuat dari kayu cendana. Warna badannya seperti emas cair. Dalam kegiatan berikutnya, Beliau menjadi sannyasi dan Beliau tenang sentosa. Beliaulah tempat kedamaian dan bhakti tertinggi, sebab beliau membuat terdiam orang yang bukan penyembah dan tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan.”

 

Para sarjana sangat menghargai kesarjanaan dan kedalaman bhakti buku-buku karya Srila Prabhupada. Saat meninggal dunia pada 14 November 1977, Srila Prabhupada telah berhasil mendirikan 108 temple, ashram, dan kawasan pertanian organik di seluruh wilayah dunia. Sebuah prestasi yang oleh para sarjana Barat dianggap sangat laur biasa, yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Dimana orang-orang Barat,  yang tadinya sama sekali asing terhadap kebudayaan Veda, dalam waktu sangat singkat menerima dan mempraktekakkan ajaran bhakti yoga dengan keseriusan yang luar biasa dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Karena menekankan proses spiritual dalam bentuk pengucapan secara berulang-ulang (japa atau zikir) Maha Mantra Hare Krishna, maka gerakan sankirtan Sri Caitanya lebih dikenal secara luas di dunia sebagai Perkumpulan Hare Krishna.

Pada hari Sabtu tanggal 19 Maret 2011 ini, para Vaisnava dan pengikut Sri Caitanya di seluruh dunia memperingati Sri Gaura Purnima 525, yaitu perayaan hari kemunculan Sri Caitanya. Ditempat kelahiran Sri Caitanya di Mayapur, penyembah dari berbagai belahan dunia berkumpul bersama, menyanyikan nama-nama suci Sri Caitanya Mahaprabhu.  Mereka berasal dari  Afrika, Jepang, Cina, Iran, Rusia, Palestina, Israel, Eropa, Amerika, Australia, dll. Mereka bersama-sama merasakan manisnya rasa rohani yang diperoleh dari pengucapan nama-nama suci Tuhan. Pertanda bahwa Veda akan kembali menjadi pegangan bagi spiritualitas dunia. Banggalah menjadi Hindu!

sumber :

http://narayanasmrti.com/2011/03/18/sri-gaura-purnima-kemunculan-sri-caitanya-mahaprabhu-avatara-krishna-di-jaman-kali-yuga-ramalan-serta-misinya-dalam-kitab-kitab-veda/

Iklan

Ramalan Nabi Muhammad dalam Veda?

Om Svastyastu,,

Salam kasih dan sejahtera untuk kita semua,

 

 

Dalam suatu kesempatan saya mendapatkan artikel yang menarik untuk di bahas,artikel ini saya dapatkan dari blog ini dan ini,dimana didalam artikel tersebut membahas mengenai “ramalan Nabi Muhammad dalam Weda” meskipun sudah banyak  bantahan mengenai klaim yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Kalki Avatara namun ada baiknya kita bahas sedikit,berikut beberapa klaim yang di keluarkan oleh admin blog itu,,

 

Pada  blog yang pertama ,kata pembukaan  Di awali dengan kata  yang begitu “MANIS” yakni :

KEBOHONGAN HINDU
(A MILLION BULLSHITS OF HINDUISME)

Sebagaimana klaim orang2 kafir dari golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) terhadap Alkitab, orang2 kafir dari golongan musyrik Hindu juga mengklaim bahwa Kitab Weda adalah kitab yang bersifat universal, karenanya mereka pun berusaha memperkenalkan ajaran Weda kepada setiap orang.

Sungguh, suatu klaim yang tak berdasar. Orang2 Hindu tampaknya lebih mementingkan ego terhadap ajaran agamanya yang sebenarnya merupakan warisan tradisi leluhur secara turun-temurun yang tidak jelas. Secara kasat mata saja, kita bisa melihat bahwa praktek2 ibadah Hindu adalah praktek2 kepercayaan kuno yang tidak mungkin disebut universal.

Berkaitan dengan ketidakuniversalan Hindu dan Weda ini, Gotama Smarti berkata:  “Apabila orang Sudra kebetulan mendengarkan Kitab Weda dibaca, maka adalah kewajiban raja untuk mengecor cor-cor timah dan malam dalam kupingnya; apabila seorang Sudra membaca mantra-mantra Weda, maka raja harus memotong lidahnya, dan apabila ia berusaha untuk membaca Weda, maka raja harus memotong badannya.” (Gotama Smarti:12).

Jelaslah, bahwa Kitab Weda yang diklaim Hindu sebagai kitab universal itu, ternyata hanyalah sebuah kitab untuk golongan tertentu saja, yang sekaligus membantah dugaan keuniversalannya.

 

Hem,kata orang fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan.betul gak?

Saya akan coba luruskan mengenai sloka gotama smrti yang telah di”fitnah”kan kepada kami,berikut sloka aslinya :

 

(Gotama Smerti; 12)

“Wedam upa srnwatas trapu jatubhyam srotra prati purana udaharane jihwac chedo dharane sarira bheda asana sayana wak pathisu sama prepsur dandyah satam”

yang artinya:
“Bagi warna sudra (para pekerja) yang ingin mempelajari Weda, supaya berhasil dengan baik yakni dengan mendekatkan pendengarannya mulai dari awal pengertian-pengertian, bahasa dan ucapannya dengan menutup pengaruh dari luar, badan duduk dengan tenang (asana) ditempat belajar dan ucapan diulang-ulang terus menerus sampai akhir.”

Sudah kita lihat bagaimana fitnah yang di berikan kepada kitab hindu melalui sloka “bajakan” tersebut. 🙂

 

kutipan Selanjutnya dari klaim tersebut yakni :

Lebih jauh, kitab2 agama Hindu lainnya justru meramalkan kedatangan seorang tokoh yang sangat cocok bahkan sama persis dengan sosok Nabi Muhammad SAW. Berikut ini kami suguhkan beberapa ramalan tentang Nabi Muhammad SAW dalam berbagai kitab agama Hindu:

 

 

Dapat kita lihat bagaimana klaim yang sangat menarik,di satu sisi memojokan agama hindu dan di satu sisi lainnya mencari “pengakuan” dari kitab yg dipojokan tersebut.

Selanjutnya :

 

Dalam Atharvaveda book 20 Hymn 127 Shlokas 1-14 disebutkan tentang Kuntupsuktas yg mengisyaratkan bahwa nabi Muhammad akan terungkap kemudian.

• Mantra 1 mengatakan : ia akan disebut Narasangsa. “Nars” artinya orang, “sangsa” artinya “yg terpuji”. Jadi Narasangsa artinya : orang yg terpuji. Kata “Muhammad” dalam bahasa arab juga berarti : orang yg terpuji. Jadi Narasangsa dalam bahasa Sansekerta adalah identik dg Muhammad dalam bahasa arab. Jadi Narasangsa adalah figur yg sama dg nabi Muhammad. Ia akan disebut “Kaurama” yg bisa berarti : pangeran kedamaian, dan bisa berarti : orang yg pindah (hijrah). Nabi Muhammad adalah seorang pangeran kedamaian yg hijrah dari Makkah ke Madinah. Ia akan dilindungi dari musuh yg akan dikalahkannya yg berjumlah 60.090 orang. Jumlah itu adalah sebanyak penduduk Makkah pada masa Muhammad hidup yaitu sekitar 60.000 orang.
• Mantra 2 mengatakan : ia adalah resi yg naik unta. Ini berarti ia bukan seorang bangsawan India, karena dikatakan dalam Mansuriti(11) : 202 mengatakan bahwa Brahma tidak boleh menaiki unta atau keledai. Jadi tokoh ini jelas bukan dari golongan Brahmana (pendeta tinggi Hindu), tapi seorang asing.
• Mantra 3 mengatakan : ia adalah “Mama Rishi” atau resi agung. Ini cocok dg nabi agung umat Islam yaitu nabi Muhammad SAW.
• Mantra 4 mengatakan : ia adalah Washwereda (Rebb) artinya orang yg terpuji. Nabi Muhammad yg juga dipanggil dg nama Ahmad adalah berarti juga “orang yg terpuji” yg terjemahan bahasa Sansekerta-nya adalah Rebb.

Dalam Atharvaveda book 20 Hymn 127 Shlokas 1-14 disebutkan tentang Kuntupsuktas
Sebelumnya kita koreksi dikit, dalam Sruti disebut Mantra bukan sloka
secara lengkap adalah book 20 hymne 127. 1-14 adalah mantra yang menjelaskan tentang pemujaan Kaurama penderma dari bangsa Rusama (dan saya tau sumber yg dipakai Dr Naik dan Haque adalah terjemahan Ralph T.H. Griffith, [1895] ) namun kitab terjemahan lain juga ada misalnya MAURICE BLOOMFIELD [1897]
oke kita bahas  🙂

Mantra 1 :

Griffith
Listen to this, ye men, a laud of glorious bounty shall be sung.
Thousands sixty, and ninety we, O Kaurama, among the Rusamas have received.

Maurice
Listen, ye folks, to this: (a song) in praise of a hero shall be sung! Six thousand and ninety (cows) did we get (when we were) with Kaurama among the Rusamas,–

Artinya :
Dengarkanlah kalian! Seorang yang layak dipuji akan dipuji-puji. O Kaurama
kami telah menerima di antara para Rushama enam puluh ribu dan sembilan

Bangsa Rusama disebutkan dalam RigVeda sebagai yang kaum dilindungi oleh
Indra, dan pada kesempatan2 lainnya ditunjukkan sebagai sebuah komunitas yang tiada sangkut paut apa2 dengan Mekkah. Kaurama adalah nama lain dari Kaurava, seorang penderma murah-hati dalam komunitas mereka.
( dan ingat Arthavaveda lagi bicara tentang Indra lo disini bukan lagi meramal karena tidak ada ramalan dalam Sruti ) lalu kenapa Narasangsha “yang terpuji” menjadi Hak Paten Nabi Muhammad dan setiap kata yang berarti “yang terpuji” itu pasti merujuk Nabi Muhammad ?
sedangkan
‘narasansha’ yang diterjemahkan sebagai penyanyi, dapat juga berarti seseorang yang sedang memuji. Seseorang yang sedang memuji tidaklah sama dengan ‘yang layak dipuji’. Narasansha tidak sebanding dengan Muhammad.
( klo ada waktu silahkan baca Gopatha Brahmana yang merupakan brahmananya dari arthavaveda, disana kata2 dalam mantra lebih diuraikan artinya )

Mantra 2

Griffith
Twenty camels draw his carriage, with him being also his wives. The top of that carriage or chariot bows down escaping from touching the heaven.

Dua puluh unta menarik gerobaknya, beserta dengannya juga ikut istri2nya.Puncak dari gerobak atau keretanya itu merunduk untuk menghindari dari persentuhan dengan sorga.

Maurice
Whose twice ten buffaloes move right along, touether with their cows; the height of his chariot just misses the heaven which recedes from its touch.

‘dia yang memiliki dua kali sepuluh kerbau maju mengiringi, bersama dengan sapi2 mereka, tinggi dari keretanya hampir saja mencapai sorga yang mengundurkan diri dari sentuhannya

Jadi pertanyaannya adalah adakah ada unta yang digunakan oleh orang INDIA dalam zaman Veda, juga tidak sekalipun dapat anda jumpai mengenai unta dalam kitab2 Hindu yang manapun. Dan ini murni masalah penterjemahan.

Mantra 3

Grifitth
A hundred chains of gold, ten wreaths, upon thee Rishi he bestowed, And thrice-a-hundred mettled steeds, ten-times-a-thousand cows he gave.

Maurice
This one (Kaurama) presented the seer with a hundred jewels, ten chaplets, three hundred steeds, and ten thousand cattle.

Anda lihat kan tidak ada disebutkan Mamahrsi, Kata Sanskrit sebenarnya adalah ‘ahammiddhi’, ‘aham’ berarti “Aku” jadi mamah berarti milikku, ga ada hubungannya kan dengan Muhammad ?

Mantra 4

grifitth
Glut thee, O Singer, glut thee like a bird on a ripe-fruited tree.Thy lips and tongue move swiftly like the sharp blades of a pair of shears.

Maurice
Disport thyself, O chanter, disport thyself as a bird upon a flowering tree; thy tongue glides quickly over the lips as a razor over the strop.

Artinya :
adalah “Berlimpahlah hai penyanyi,berlimpah-limpahlah, seperti seekor burung pada pohon yang berbuah matang”.

 

 

Semua ramalan yg disebut diatas tadi tiada lain merujuk pada nabi Muhammad SAW. Penjelasannya demikian :

• Dirumah Visnuyash berarti dirumah pengikut Vishnu (pengikut Tuhan) sedangkan ayah dari nabi Muhammad adalah bernama Abdullah yg artinya adalah pengikut Allah (pengikut Tuhan). Orang Islam menyebut “Allah” sbg Tuhan, sedang orang Hindu menyebut “Vishnu” sbg Tuhan. Jadi di rumah Visnuyash adalah di rumah Abdullah.
• Summati dalam bahasa sansekerta artinya adalah orang yg sangat setia. Sedangkan ibunda nabi Muhammad adalah bernama Aminah yg dalam bahasa arab artinya juga orang yg setia.

Apakah maksud dari arti kata Ayahanda Kalki (Vishnuyasha sama artinya dengan nama ayahanda Muhammad (Abdullah)? Tidak, Vishnuyasha berarti Pengikut Wisnu, sedangkan Abdulah berarti Pengikut Allah, Kata Allah pada jaman Pra-islam Allah berkonotasi dengan dewa bulan. Pada jaman sebelum islam orang Arab menyembah dewa(i). Di Mekah, “Allah” adalah dewa tertinggi bangsa Quraish, sukunya Nabi. Allah memiliki 3 puteri: Al Uzzah (Venus); Manah, dewi nasib dan Al Lat, dewi tumbuh2an.

Kutipan:

• Sambala bahasa arabnya adalah tempat yg aman & damai. Nabi Muhammad dilahirkan di Makkah yg terkenal dg nama “Darul Aman” yaitu tempat yg aman & damai. Akan lahir diantara kepala suku Sambala, artinya bahwa nabi akan lahir diantara kepala suku di Makkah.

 

Apakah Ayahanda Muhammad kepala suku, atau keluarga kaya atau keluarga terpandang? Tidak, Muhammad bukanlah orang kaya, bukan anak kepala suku dan bukan dari keluarga terpandang, ia lahir di Bakka (Quran 3:96) dan kemudian dikenal sebagai Mekah. Suku Quraish adalah penghuni aslinya, mengingat fakta bahwa suku merekalah yg memiliki kontrol atas pengawasan dan ritual religius dari rumah Tuhan tsb.
Anggota2 dari suku Quraish terdiri dari tiga kelompok. Satu adalah kelompok pendeta, yg mengontrol rumah Tuhan dan mendapatkan pemasukan dari para peziarah. Kelompok kedua terdiri dari sejumlah kecil orang Quraish yg melakukan perdagangan. Kelompok ketiga adalah yg paling besar, dan terdiri dari mereka yg menopang hidupnya dg menyediakan air dan pelayanan2 lain bagi para peziarah.
Pekerjaan ini tidak menjamin pemasukan yg tetap bagi mereka; ketika mereka menerima peziarah dalam jumlah yg banyak, mereka mendapat pemasukan yg besar, tapi ketika jumlah peziarah kecil pendapatan merekapun kecil. Orang2 ini spt pekerja zaman kita sekarang; mereka dibayar kalau ada pekerjaan. Lebih dari 1400 tahun yg lalu, tinggal di Mekah seorang laki2 bernama Abdullah. Dia termasuk kelompok ketiga dari kaum Quraish. Istrinya bernama Aminah. Karena dia tidak mempunyai pendapatan yg tetap, keuangan rumah tangganya selalu kempas kempis. Seringkali keduanya harus tidur tanpa makan..

Kutipan:

• Kalki Dilahirkan pada tanggal 12 di bulan pertama Madhop. Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 rabiul awal

Kalki Avatara akan muncul didunia pada kisaran 352.981 Masehi atau tahun 424.981
Dengan penjelasan :

Kalki Avatara itu akan hadir pada akhir jaman Kaliyuga dan Awal jaman Krta yuga/Satya Yuga. Sehingga pertanyaan berikutnya adalah kapan sih itu dalam perhitungan tahun masehi?

Permulaan jaman kali yuga adalah saat meninggalnya Krishna Avatara yaitu di tahun 3102 BC dan berapa panjangkah jaman kali yuga itu?

Dalam teks-teks hindu dikatakan bahwa panjang jaman kali yuga adalah antara 360.000 tahun (Brahmanda Purana 1.2.29.31-34) dan 432.000 tahun (Perhitungan yang didasari dari Vishnu Purana (Book One, Chapter Three), the Srimad-Bhagavatam (3.11.19), juga dengan Bhagavad-gita (8.17), Vayu Purana (Chapter 57) dan Shanti Parwa( 231))

Kalky avatar lahir pada bulan Baisakha 12 hari setelah bulan penuh (purnama), berarti 12 hari setelah tanggal 14/15 yaitu tanggal 26/27 akhir bulan Baisakha.
Sementara itu kepastian tanggal lahir Muhammad pun tidak diketahui saat dulu maupun sekarang. Pendapat para Ulama berbeda-beda dalam hal ini. Phillip K. Hitti berkata bahwa dia dilahirkan sekitar 571 AD (History of the Arabs, hal 111). Abdullah Yusuf Ali berkeras, “tahun yg selalu diberikan utk kelahiran sang Nabi adalah 570 AD, meski tanggalnya harus dikira-kira, jadi angkanya adalah antara 569 dan 571, kemungkinan batas paling ekstrim.” (Quran, V.2, hal 1071).
Walau tahun kelahirannya Muhamad misterius, Muslim tetap menetapkan bahwa dia lahir dijam2 awal pada hari Senin, hari ke-29 bulan Agustus, 570 AD (Lihat Ghulam Mustafa, Vishva Nabi, hal 40). – Sebuah perayaan yg mereka rayakan dg pawai riuh. Namun faktanya tetap: tahun kelahiran Muhamad tidak ditetapkan berdasarkan bukti2 sejarah yg dapat dipercaya. Perayaan kelahiran Muhammad, dengan begitu, ini tidak berdasarkan sumber2 kuat Islam namun hanya berdasarkan tradisi.

Kutipan:

• Dia akan memperoleh bimbingan di atas gunung dan akan kembali lagi ke arah utara. Nabi Muhammad memperoleh wahyu pertamanya di gua Hira di Jabal Nur. Jabal Nur artinya Gunung Cahaya lalu kembali lagi ke Makkah.

 

Kalki dibimbing oleh gurunya bernama Ram digunung mahendra. Dan tidak ada disebutkan bahwa gurunya adalah utusan Tuhan dan tidak pula disebutkan bahwa Kalki atau Gurunya tinggal di Goa tapi di atas gunung.

Kutipan:

• Dia akan diberi kendaraan yg sangat cepat oleh Shiva. Nabi Muhammad juga diberi bouraq yg sangat cepat oleh Allah yg membawanya ke langit dalam peristiwa Mi’raj.
• Dia akan naik kuda putih dg tangan kanannya memegang pedang. Nabi Muhammad juga ambil bagian dalam peperangan termasuk dg menunggang kuda dan bertempur dg memegang pedang dg tangan kanannya.

 

Apakah Muhammad diberi bouraq oleh Shiva ) just kidding ? 🙂

Apakah Muhammad mempunyai kuda putih sebagai tunggangannya setiap saat? Tidak, Ia tidak mempunyai tunggangan yang sama yang dipakainya setiap saat dan tidak pernah tercatat bahwa Muhammad mempunyai kuda berwarna putih sebagai tunggangannya.
Apakah Buraq adalah Kuda putih? Tidak, Buraq adalah suatu mahluk menyerupai hewan berwarna putih berbadan lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari Bagal (MuslimBook 001, Number 0309, Buchari, Vol 5, Book 58, Number 227 bermuka Manusia dan berekor merak (The Haj, Leon Uris’s dan Gambar Buraq dari literatur abad 16). Buraq tidak ditunggangi Muhammad setiap saat namun hanya satu kali yang konon terjadi pada peristiwa Isra’ Mir’aj [AQ 17:1; Bukhari vol 9, buku 63 no.608; Tisdal, W., “Original Sources of Islam”, hal. 78] pada tanggal 27 Rajab tahun ke-11 kerasulan Muhammad. Buraq tidak pernah disebut dalam Al Qur’an dan hanya muncul di Hadis sahih Muslim dan Buchari dan itupun tidak pernah disebutkan sebagai Kuda berwarna putih. Peristiwa Isra’ Miraj menyatakan.
Sementara Kalki dikisahkan bersenjatakan Petir(Bajra) yang menyerupai Pedang yang dapat menghanguskan sebuah Kota (ini lebih menyerupai senjata masa depan daripada sebuah pedang jaman dulu) Kalki Purana, III[7], Verses 9 & 10
Apakah Muhammad diceritakan memiliki pedang yg dapat menghancurkan sebuah kota?

Kutipan:

• Dia akan dibantu oleh 4 sahabat dalam menyebarkan misi. Kita tau ada 4 orang khalifah sahabat nabi yaitu : Sayyidina Abubakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
• Dia akan ditolong oleh malaikat di medan pertempuran. Dalam perang Badr nabi Muhammad dibantu oleh para malaikat Allah spt tersebut dalam QS. Ali Imran (3) ayat 123 & 125 : “Jika kamu bersabar dan bertaqwa dan mereka menyerang kamu dengan seketika itu juga niscaya Allah menolong kamu dengan 5000 malaikat yg memakai tanda”. Juga QS. Al-Anfal(8) ayat 9 yang berbunyi “…. sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yg datang berturut-turut.”

5000 atau 1000  malaikat?

Oh ya nih ada yang belum terungkap dari Kalki Purana :

Kalki, the annihilator of Koli forgot his mission and stayed there happily in that home (in Shambhala) for many years…Padma gave birth to two sons named Joy and Vijoy who were powerful and famous.

~ Kalki Purana, II[6], Verses 32 and 36

Apakah Istri Muhammad ada yang bernama Padma? Tidak, Selain dari Khaddijah, istri-istri Muhammad lainnya adalah Saudah, Aisyah, Hafshah, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah, Juwariyah, Zainab binti Jahsyi(Mantan istri anak angkat Muhammad-Zaid ibn Haritsah), Raihanah(Budak milik Muhammad), Syafiyyah, Maemunah, Maria Qibthiyyah(budak milik Hafshah), Arkian dan masih banyak lagi(Sumber:Biografi Rasullulah, Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad, Penerbit Qisthi press, Januari 2006, hal.887: Seandainya Rasulullah s.a.w berkehendak untuk memiliki ribuan budak perempuan dan selir, tentu saja Rasulullah s.a.w. tidak akan mengurangi haknya untuk mengambil hal tersebut. Apalagi….)

Apakah Muhammad mempunyai banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh? Tidak, Semua anak laki-lakinya telah mati muda, Dari Khadijah (Qasim dan Abdullah) meninggal selagi bayi, dari Budaknya Maria al-Qibthiya (Ibrahim) meninggal saat usia 4 tahun. Yang tersisa hanya berasal dari putrinya Fatimah yang menikah dengan Ali (Hasan dan Husain) yang juga tewas sekeluarga dibantai pada masa Bani Umayah dan Bani Abbas.

 

 

 

Apakah Avatar / Awatara itu????

Mungkin teman-teman kita yang muslim masih bingung mengenai apa itu avatar/awatara,,
Awatara atau Avatar (Sansekerta: अवतार, avatāra, baca: awatara) dalam agama Hindu adalah inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa ke dunia dengan mengambil suatu bentuk material, dalam tujuan menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kejahatan dan menegakkan dharma seperti yang dikatakan dalam Dalam Bhagawad Gita:

“Yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata abhyutthānam adharmasya tadātmanam srjāmy aham paritrānāya sādhūnām vināśāya ca duskrtām dharma samsthāpanarthāya sambavāmi yuge yuge” (Bhagavad Gītā, 4.7-8)

artinya :
manakala kebenaran merosot dan kejahatan merajalela, pada saat itulah Aku akan turun menjelma ke dunia, wahai keturunan Bharata (Arjuna)

Jadi Ia adalah Tuhan yang Turun kedunia untuk menegakkan kebenaran dan menyelamatkan dunia dari kejahatan dari zaman ke zaman

lalu siapa Muhammad ?
Apakah Muhammad adalah Tuhan? Tidak, Muhammad adalah seorang utusan Tuhan. Sedangkan Kalki Avatara adalah Tuhan
kalimat Syahadat (maaf klo salah tulis)
” Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah Rasul / utusan Allah. ”

 
saya harap tulisan yang sedehana ini bisa membantu pembaca sekalian,

Om santhi,santhi,santhi Om

Semoga damai di hati,didunia dan damai selamanya.

 

Rujukan yang  sejenis bisa di jumpai disini,disini,disini, disini dan disini

Sumber tulisan :

http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=194497

 

 

 

Sabda Palon telah kembali?

Sabda Palon telah kembali?


Sabda Palon telah kembali?

Gunung Merapi menggelegar begitu dasyatnya diiringi dengan muntahan lava pijar dan wedus gembel yang meluluh lantakkan setiap wilayah yang dilaluinya. Oleh beberapa penekun spiritual Jawa, kejadian ini bukanlah tanpa insyarat. Subuh, tanggal 25 Oktober 2010, sesaat sebelum terjadinya bencana besar yang telah menyebabkan puluhan nyawa melayang dan ratusan lainnya masih hilang, beberapa penduduk dikejutkan oleh munculnya gumpalan awan “petruk” di puncak gunung Merapi. Awan “petruk” tersebut berbentuk menyerupai kepala tokoh petrok dalam pewayangan Jawa dan dengan hidungnya yang panjang menghadap ke arah Yogyakarta. Meskipun Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Subandriyo mengatakan bahwa awan seperti itu adalah awan yang biasa terjadi dan bukan merupakan indikasi akan terjadinya letusan yang lebih besar, tetap saja masyarakat sekitar tidak percaya. Penguatan bahwa tokoh Petruk hanyalah mitos belaka juga disampaikan oleh seorang tokoh Sastrawan Jawa Modern, Suwardi Endraswara dengan mengatakan bahwa pada dasarnya tokoh petruk tidak benar-benar ada dalam kitab Mahabharata yang asli. Tokoh tersebut hanyalah karangan sunan Kalijaga yang diambil dari kata dalam bahasa Arab, Fatruk. Arti harfiahnya adalah meninggalkan atau menyingkirkan tindakan buruk yang telah menjadi larangan Tuhan.

Namun entah karena kebetulan atau memang keyakinan masyarakat setempat memang benar, akhirnya keesokan harinya pada tanggal 26 Oktober Gunung Merapi meletus memuntahkan awan panas mengarah ke Yogyakarta sesuai dengan arah hidung awan petruk dan menewaskan beberapa orang termasuk Mbah Marijan, sang juru kunci Merapi. Berselang 4 hari setelah itu, pada tanggal 30 Oktober, Gunung Merapi kembali meletus. Letusan kali ini sangat dasyat. Gemuruhnya memekikkan telinya masyarakat sekitarnya. Dan lagi-lagi arah muntahan material dan awan panasnya ke arah Yogyakarta. Kejadian ini akhirnya kembali menguatkan kepercayaan yang selama ini terkubur dalam. Sebuah kepercayaan yang oleh sebagian masyarakat Jawa diyakini sebagi tonggak waktu dimana agama leluhur mereka, akan bangkit kembali menggantikan agama Islam yang sudah 500 tahun lamanya dianut oleh sebagian besar penduduk nusantara. Sumber keyakinan mereka ini adalah dari serat Ramalan Sabdopalon dan Dharmagandul yang merupakan salah satu karya sastra kearifan lokal sangat penting dalam tradisi Jawa.

Awal cerita yang melatarbelakangi kepercayaan sebagian orang Jawa ini adalah ketika runtuhnya kerajaan Majapahit di tangan Prabu Brawijaya V yang memerintah tahun 1453 – 1478. Setidaknya terdapat dua sumber utama yang menceritakan kejadian ini, yaitu Darmagandhul dan bait-bait terakhir ramalan Joyoboyo yang diperkirakan disusun sekitar tahun 1135 – 1157. Kedua sumber ini memberikan gambaran konflik sosial religius dan keruntuhan kekuasaan kerajaan Hindu di nusantara yang sangat memilukan sampai pada penjanjian bahwa 500 tahun setelah peristiwa itu, Sabdo Palon yang merupakan Sang Hyang Semar akan kembali muncul untuk mengembalikan kejayaan dan kepercayaan yang telah diambil alih.

Dalam serat Dharmagandhul diceritakan kisah pertemuan antara Sunan Kalijaga, Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon di daerah Blambangan. Pertemuan ini terjadi ketika Sunan Kalijaga mencari dan menemukan Prabu Brawijaya yang tengah lari ke Blambangan untuk meminta bantuan bala tentara dari kerajaan di Bali dan Cina untuk memukul balik serangan putranya yang durhaka, Raden Patah yang telah menghancurkan Majapahit. Namun hal ini bisa dicegah oleh Sunan Kalijaga dan oleh kelihaiannya akhirnya Prabu Brawijaya bersedia masuk Islam. Namun di sisi lain, Sabdo Palon sang punakawan Prabhu Brawijaya tidak bersedia masuk Islam sehingga akhirnya mereka sepakat untuk berpisah.

Sabdo Palon berkata kepada Prabu Brawijaya; “Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. … Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, …”(“Paduka sudah terlanjur terperosok, mau jadi orang jawan (kehilangan jawa-nya), kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol, saya mau mencari asuhan yang bermata satu (memiliki prinsip/aqidah yang kuat), tidak senang mengasuh paduka. … Kalau paduka tidak percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya (Semar) itu saya, yang membuat kawah air panas di atas gunung itu semua adalah saya, …”)

Ucapan Sabdo Palon ini menyatakan bahwa dia sangat malu kepada bumi dan langit dengan keputusan Prabu Brawijaya masuk agama Islam. Gambaran ini telah diungkapkan Joyoboyo pada bait 173 yang berbunyi : “…, hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; …” (“…, itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; …”). Dalam ucapan ini pula Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah sebenarnya yang dikatakan dalam kawruh Jawa dengan apa yang dikenal sebagai “Manik Maya” atau “Semar”.

Sabdapalon matur yen arêp misah, barêng didangu lungane mênyang ngêndi, ature ora lunga, nanging ora manggon ing kono, mung nêtêpi jênênge Sêmar, nglimputi salire wujud, anglela kalingan padhang. …..” (“ Sabdo Palon menyatakan akan berpisah, begitu ditanya perginya kemana, jawabnya tidak pergi, akan tetapi tidak bertempat di situ, hanya menetapkan namanya Semar, yang meliputi segala wujud, membuatnya samar. …..”). Sekali lagi dalam ucapan ini Sabdo Palon menegaskan bahwa dirinyalah yang bernama Semar. Bagi orang Jawa yang berpegang pada kawruh Jawa pastilah memahami tentang apa dan bagaimana Semar. Secara ringkas dapat dijelaskan bahwa Semar adalah merupakan utusan gaib Gusti Kang Murbeng Dumadi (Tuhan Yang Maha Kuasa) untuk melaksanakan tugas agar manusia selalu sujud bhakti kepada Tuhan, selalu bersyukur dan eling serta berjalan pada jalan kebaikan.

Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajêr Jawi, …..

….., dumugi sapriki umur-kula sampun 2.000 langkung 3 taun, momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, …..” (Sabdo Palon berkata sedih: “Hamba ini Ratu Dhang Hyang yang menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun temurun sampai sekarang, hamba mengasuh keturunan raja-raja Jawa, …..….., sampai sekarang ini usia hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, …..”)

Di kalangan spiritualis Jawa pada umumnya, keberadaan Semar diyakini berupa “suara tanpa rupa”. Namun secara khusus bagi yang memahami lebih dalam lagi, keberadaan Semar diyakini dengan istilah “mencolo putro, mencolo putri”, artinya dapat mewujud dan menyamar sebagai manusia biasa dalam wujud berlainan di setiap masa. Namun dalam perwujudannya sebagai manusia tetap mencirikan karakter Semar sebagai sosok “Begawan atau Pandhita”. Hal ini dapat dipahami karena dalam kawruh Jawa dikenal adanya konsep “menitis” dan “Cokro Manggilingan”. Sabdo Palon sebagai pembimbing spiritual Prabu Brawijaya merupakan sosok Semar yang nyata. Menurut Sabdo Palon dalam ungkapannya dikatakan : “…, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.” (“…, apakah paduka lupa terhadap nama saya Sabdo Palon? Sabda artinya kata-kata, Palon adalah kayu pengancing kandang, Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan hamba itu berlaku sebagai pedoman hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”)

Semar selalu memberikan piwulangnya untuk bagaimana berbudi pekerti luhur selagi hidup di dunia fana ini sebagai bekal untuk perjalanan panjang berikutnya nanti. Jadi Semar merupakan pamomong yang “tut wuri handayani”, menjadi tempat bertanya karena pengetahuan dan kemampuannya sangat luas, serta memiliki sifat yang bijaksana dan rendah hati juga waskitho (ngerti sakdurunge winarah). Semua yang disabdakan Semar tidak pernah berupa “perintah untuk melakukan” tetapi lebih kepada “bagaimana sebaiknya melakukan”. Semua keputusan yang akan diambil diserahkan semuanya kepada “tuan”nya. Semar atau Kaki Semar sendiri memiliki 110 nama, diantaranya adalah Ki Sabdopalon, Sang Hyang Ismoyo, Ki Bodronoyo, dan lain-lain.

Di dalam Serat Darmogandhul diceritakan episode perpisahan antara Sabdo Palon dengan Prabu Brawijaya karena perbedaan prinsip. Sebelum berpisah Sabdo Palon menyatakan kekecewaannya dengan sabda-sabda yang mengandung prediksi tentang sosok masa depan yang diharapkannya. Berikut ungkapan-ungkapan itu : “….. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Budi, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.” (“….. Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama Budi, keturunan Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang memahami kawruh Jawa) tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawi-nya hilang, suka ikut-ikutan bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin oleh orang Jawa (Jawi) yang mengerti.”

 

“….. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.” (“….. Sang Prabu diminta memahami, suatu saat nanti kalau ada orang Jawa menggunakan nama tua (sepuh), berpegang pada kawruh Jawa, yaitulah yang diasuh oleh Sabda Palon, orang Jawan (yang telah kehilangan Jawa-nya) akan diajarkan agar bisa melihat benar salahnya.”)

Dari dua ungkapan di atas Sabdo Palon mengingatkan Prabu Brawijaya bahwa suatu ketika nanti akan ada orang Jawa yang memahami kawruh Jawa (tiyang Jawi) yang akan memimpin bumi nusantara ini. Juga dikatakan bahwa ada saat nanti datang orang Jawa asuhan Sabdo Palon yang memakai nama sepuh/tua (bisa jadi “mbah”, “aki”, ataupun “eyang”) yang memegang teguh kawruh Jawa akan mengajarkan dan memaparkan kebenaran dan kesalahan dari peristiwa yang terjadi saat itu dan akibat-akibatnya dalam waktu berjalan. Hal ini menyiratkan adanya dua sosok di dalam ungkapan Sabdo Palon tersebut yang merupakan sabda prediksi di masa mendatang, yaitu pemimpin yang diharapkan dan pembimbing spiritual (seorang pandhita).

Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang.” (“Sang Prabu berkeinginan merangkul Sabdo Palon dan Nayagenggong, namun orang dua itu kemudian raib. Sang Prabu heran dan bingung kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga : “Gantilah nama Blambangan menjadi Banyuwangi, jadikan ini sebagai tanda kembalinya Sabda Palon di tanah Jawa membawa asuhannya. Sekarang ini Sabdo Palon masih berkelana di tanah seberang.”)

Karena Sabdo Palon tidak berkenan berganti agama Islam, maka dalam naskah Ramalan Sabdo Palon ini diungkapkan sabdanya sebagai berikut: “(3). Sabda Palon matur sugal, “Yen kawula boten arsi, Ngrasuka agama Islam, Wit kula puniki yekti, Ratuning Dang Hyang Jawi, Momong marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jurneneng Tanah Jawi, Wus pinasthi sayekti kula pisahan. (Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.)” “(4). Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Mung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos kang agami, Gama Buda kula sebar tanah Jawa. (Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Buda lagi, saya sebar seluruh tanah Jawa.)”. “(5). Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajekken putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen durung lebur atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar. (Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.)”. “(6). Ngidul ngilen purugira, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika medal kula, Wus nyebar agama budi, Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Boten kenging kalamunta kaowahan. (Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda. Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.)”. “(7). Sanget-sangeting sangsara, Kang tuwuh ing tanah Jawi, Sinengkalan tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji, Upami nyabrang kali, Prapteng tengah-tengahipun, Kaline banjir bandhang, Jerone ngelebne jalmi, Kathah sirna manungsa prapteng pralaya. (Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.)”. “(8). Bebaya ingkang tumeka, Warata sa Tanah Jawi, Ginawe kang paring gesang, Tan kenging dipun singgahi, Wit ing donya puniki, Wonten ing sakwasanipun, Sedaya pra Jawata, Kinarya amertandhani, Jagad iki yekti ana kang akarya. (Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.)

Dari bait-bait di atas dapatlah kita memahami bahwa Sabdo Palon menyatakan berpisah dengan Prabu Brawijaya kembali ke asal mulanya. Semar adalah Sang Hyang Ismoyo yang berwujud manusia. Jadi ketika itu Sabdo Palon kembali ke asal mulanya sebagai wujud Sang Hyang Ismoyo. Namun setelah 500 tahun kemudian Sabdo Palon menyatakan akan datang kembali ke tanah Jawa (tataran nusantara) dengan tanda-tanda tertentu. Diungkapkannya tanda utama itu adalah muntahnya lahar gunung Merapi ke arah barat daya. Baunya tidak sedap. Dan juga kemudian diikuti bencana-bencana lainnya. Itulah tanda Sabdo Palon telah datang. Ciri-ciri lain akan bangkitnya agama leluhur diungkapkan juga dalam serat jangka jayabaya.

Melihat kejadian akhir-akhir ini kelihatannya sangat banyak isi ramalan dari serat-serat leluhur tersebut yang sepertinya membenarkan kedatangan Sabda palon untuk mengembalikan agama leluhur. Apakah artinya ramalan ini sedang menjadi kenyataan? Jika kita menelik berakhirnya kekuasaan Prabu Brawijaya pada tahun 1478 Masehi, maka pada tahun 2010 ini kita sudah memasuki tahun ke-532 yang artinya ramalan tersebut seharusnya sudah terjadi 23 tahun yang lalu. Lalu apa hubungannya dengan kejadian meletusnya gunung merapi yang sangat dasyat kali ini? Bukankah harusnya meletusnya gunung Merapi sudah berlangsung 23 tahun lalu? Penanggalan Jawa berbeda dengan penanggalan Masehi. Dalam kalender Masehi 1 tahun terdiri dari 365 hari, tetapi dalam penanggalan Jawa yang awal, sebagaimana penanggalan yang diturunakan dalam kalender Bali, 1 tahun lamanya 420 hari. Jadi andaikan 500 tahun kalender jawa terdiri dari 210000 hari, maka dalam kalender Masehi ramalan tersebut harusnya berlangsung pada tahun ke-575.  So lets see and wait …….!

 

Referensi:

  1. Huda, Nurul. “Sabdapalon Naya Genggong, Manik Pustaka. Yogyakarta
  2. http://nurahmad.wordpress.com/