Tag Archives: Hindu

Belanda Bakal Punya Kuil Hindu Terbesar di Eropa

Belanda Bakal Punya Kuil Hindu Terbesar di Eropa

Diterbitkan  Oleh Redaksi Indonesia (RNW)

Diarsip dalam:

Den Haag akan membangun kompleks hindu terbesar di Eropa. Tiga aliran hindu yang berbeda akan membangun tiga kuil, berjajar di belakang stasiun kereta api Den Haag Hollands Spoor. Kompleks ini direncanakan selesai tahun 2014. Reaksi penduduk sekitar beragam mengenai pembangunan kuil tersebut.

Komunitas Hindustan yang berjumlah lima puluh ribu orang adalah kelompok masyarakat pendatang terbesar di regio Den Haag. Kompleks kuil ini adalah proyek jutaan euro yang dibiayai sendiri oleh ketiga aliran hindu: Krishna, Sikh dan aliran hindustan-Suriname Arya Samaj.

Selain kuil, akan dibangun pula dua gedung apartemen berisi 45 unit rumah. Pemkot Den Haag sudah definitif menyetujui pembangunan ini.

Wilayah tak terpakai
Kuil akan berdiri di wilayah industri yang tak terpakai, luasnya dua atau tiga kali lebih besar dari lapangan bola. Wakil komunitas Sikh menjelaskan mengapa tiga kuil berbeda harus dibangun: “Komunitas kami terdiri dari 50.000 orang.Tak akan cukup ditampung di satu gedung”.

Jumlah warga Hindu di Den Haag saja mencapai 50.000 jiwa, sekitar 10% dari jumlah total warga ibu kota pemerintahan Belanda itu.

Reaksi dari penduduk daerah Laakkwartier Den Haag, di sekitar kuil, beragam. Seorang muslimah menyatakan, “menyenangkan” jika kuil Hindu dibangun di situ. Pemilik sebuah kafetaria bilang, menarik bahwa rumah ibadah agama lain bermunculan, sementara gereja ditutup. “Kalau nggak masjid, kuil hindu yang dibangun,” katanya.

Damai
Pembangunan masjid di Rotterdam ditentang pengikut partai kanan populis PVV pimpinan Geert Wilders. Hal yang sama tidak terjadi dalam pembangunan kompleks kuil hindu ini. Wakil komunitas Sikh tak bisa menjelaskannya. “Saya tidak tahu, mungkin karena agama kami adalah agama damai.”
view the location of this item

sumber tulisan

Kuil Hindu menggantikan Gereja di Skotlandia

Kuil Hindu menggantikan Gereja di Skotlandia

By hindunesia

Dari Skotlandia diberitakan sebuah bangunan yang dahulu Gereja sedang berubah menjadi sebuah kuil Hindu. Pusat persembahyangan umat Hindu ini akan diberi nama Kuil Sri Sundara Ganapathi dan akan menempati lokasi di  Hamilton Road, Rutherglen setelah tempat itu digadaikan oleh Pusat Kebudayaan India Selatan Skotlandia.

Pekerjaan renovasi yang telah berjalan hampir enam bulan diharapkan selesai akhir April tahun ini. Kuil ini nantinya akan menyediakan tempat bagi kelas bahasa, kelas tari, jasa perkawinan, konseling perkawinan, layanan terjemahan dan kelas-kelas spiritual serta kemah Yoga dan banyak lagi fasilitas lainnya.

Kuil Sri Sundara Ganapathi  ini terbuka untuk semua umat Hindu di seluruh Skotlandia, dengan sekitar 400 keluarga dalam daftar organisasi. Perayaan perdana secara khusus akan diadakan pada tanggal 25 April untuk menandai pembukaan resmi Kuil Sri Sundara Ganapathi.[sumber]

Apa Itu TriWarga???

Apa Itu TriWarga???

Om Isvaraya namo namah

Ajaran Agama Hindu di dalam kitab suci Weda mengajarkan tuntunan hidup rohani yang luhur dengan dengan tujuan untuk mendapat moksa  dan jagaddhita  yang disebut TriWarga,Triwarga terdiri dari kata sansekerta tri dan warga .Tri berarti tiga dan Warga bearti bagian.jadi TriWarga berarti  tiga bagian ajaran rohani untuk mendapatkan Moksa dan Jagaddhita.

Dalam bahasa indonesia moksa dapat diterjemahkan sebagai kelepasan,atau bebasnya roh/atma dari dosa,kehidupan abadi di akherat,menunggalnya Roh dengan Tuhan.

Sedangkan jagaddhita diterjemahkan sebagai kemakmuan,kebahagian,kesejahteraan umat manusia,kelestarian,kedamaian dunia.

TriWarga terdiri dari Artha,Kama dan Dharma :

1.Kama

Kama dapat diterjemahkan sebagai naluri,nafsu,dan keinginan.adapun naluri yang sangat kuat mempengaruhi jiwa makhluk hidup terutama pada manusia,yaitu lapar,dahaga dan nafsu birahi.

2.Artha

Artha dapat diartikan sebagai benda atau sarana yang dapat memuaskan naluri,terutama naluri lapar,dahaga,dan nafsu birahi.bila kita lapar,kita harus makan.apa  yang harus kita makan ? makanlah sesuatu yang dapat memuaskan rasa lapar anda yaitu nasi,sayur dll.begitu juga dengan dahaga dan nafsu birahi.

3.Dharma

Dharma berarti ajaran-ajaran kerohanian dan budi pekerti dari agama sebagai kasih sayang terhadap yang papa dan menderita,adil,melindungi,rasa bersahabat,mengampuni ,simpati,terhadap semua dan sebagainya.untuk mendapat ”jagaddhita” yaitu kebahagian dan kesejahteraan umat manusia,hidup aman dan damai dan sebagainya.

Hanya melalui ajaran kerohaniandan kesusilaan agama yang disebut dharma seseorang akan dapat mencapai tujuan hidup yang tertinggi yaitu kebebasan atman/roh dari penderitaan hidup duniawi,bebasnya roh dari dosa,kebahagiaan rohani dalam wujud ketentraman Illahi,menunggalnya roh dengan Tuhan,Roh Yang Maha Agung (panunggaling kawula lan gusti) yang dikenal dengan Moksa dalam Agama Hindu.

Sloka terkait mengenai ajaran TriWarga :

Dharmathakamamoksanam

Sariram sadhanam

(Brahma purana,228.45)

Tubuh adalah sarana untuk mendapatkan Dharma (kerohanian dan kesusilaan),artha (sarana hidup duniawi dan harta benda),kama (naluri,nafsu,dan keingginan) dan moksa (kelepasan roh dari penderitaan duniawi serta kehidupan abadi di akherat).

 

 

Prabhavarthaya bhutanam

Dharmapravacanam krtam

Yah syat prabhavasamyuktah

Sa dharmah iti niscayah

(santiparva 109.10)

(segala)kegiatan demi kesejahteraan dan kebahagian semua mahluk itu disebut dharma.tiada disangsikan lagi apapun yang bertalian dengan kesejahteraan untuk sesamanya itulah dharma.

 

 

Dharmamulah sadaivarthah

Kamarthaphalamucyate

(santiparva,123.4)

Walaupun atha (kebutuhan harta benda)untuk kama (nafsu,keinginan) namun artha harus selalu bersumber pada Dharma(kerohanian,kebenaran)

 

 

Dharma eva plava nanyah

Svargam samabhivam ca tam

Sadhanor vanijas ca tam

Jaladheh param icchatah

(sarasamusccaya 14)

Dharma itu adalah suatu sarana untuk mencapai surga,bagaikan perahu menjadi sarana bagi pedagang untuk menyeberang samudra

 

 

Wadapramamanakah sreyah

Sadhanam dharmah

(manusamhita.1)

Dharma (disebut) didalam ajaran suci veda sebagai jalan untuk mencapai kebahagian dan kesempurnan

 

 

Dharmo dharmanubandhartho

Dharmo matmarthapidakah

(brahma purana 221.16)

Dharma terikat erat dengan artha.dan dharma tidak menentang artha

(tetapi mengendalikan untuk kebahagiaan dan kesejahteraan/kedamaian  makhluk hidup )

 

Ajaran Agama Hindu pada umumnya membagi dharma (ajaran rohani dan kesusilaan) menjadi enam bagian yakni :

1.sila : kebajikan atau kesusilaan

2.yajna :persembahan atau pengorbanan.amal untuk       kesejahteraan orang banyak

3.Tapa : tapa,tahan uji dalam segala keadaan

4.wrata :menghindari kehidupan duniawi yang berlebihan,hidup sederhana,suka berpuaasa.

5.Yoga :memusatkan pikiran dan hati terhadap Tuhan atau Kekuasaan Illahi dalam wujud cinta bhakti terhadap Tuhan,senantiasa ingat akan nama-Nya yang suci.

6.samaddhi : hati dan roh disucikan dengan melakukan semedhi.

Demikianlah kerohanian,kesusilaan dan kebenaran Agama Hindu yang disebut dengan Dharma,sebagai sarana untuk mencapai kelepasan atma dan kelestarian dunia (moksartham jagaddhita yaca itib dharmah).

Om tat sat

Apa Beda Arca dengan Berhala?

Apa Beda Arca dengan Berhala?

 

Dalam suatu kesempatan seorang teman Kristen saya bertanya “Kenapa umat Hindu sampai sekarang tetap memuja Berhala? Padahal kan sudah banyak penjelasan-penjelasan agama langit yang menunjukkan kesalahan pemujaan berhala itu!” Pernyataan menarik, tetapi membuka celah untuk saya menyerang balik.

Sayapun tersenyum dan langsung berkata: “Oh ya bro…. Hindu memuja berhala ya? Tapi entar dulu, sebelum saya menjelaskannya, boleh saya bertanya?”, Tentunya temen saya yang tadi langsung menjawab “iya” dan saya langsung melontarkan pertanyaan “Yang di komputermu itu gambar Yesus kan?” Terus dari mana kalian bisa tahu kalau tampang Yesus seperti itu? Apa ada penjelasan wajah Yesus di Al-Kitab?”

Jawaban teman saya itu sudah bisa ditebak, yaitu “Spekulatif”. Dia menejelaskan bahwa Yesus digambarkan seperti itu karena di kuburannya masih terdapat kain kafan yang menutupi wajahnya dan berbentuk seperti itu. Disamping itu dia juga menjelaskan bahwa Yesus adalah keturunan Israel yang rata-rata memiliki wajah ganteng, kulit cerah, rambut ikal dan panjang, dengan kumis tipis.

 

Benarkah Yesus seperti ini?

Pertanyaan selanjutnya, “apakah penggambaran ini dapat dipertanggung jawabkan?” Apakah bekas kain kafan bisa memberikan rekonstruksi wajah yang baik? Padahal, fosil dinosaurus yang utuh sekalipun masih memerlukan banyak parameter untuk memberikan gambaran yang sejatinya juga cukup spekulatif. Apakah karena orang israel berambut pirang dan rata-rata ikal dengan kulit putih cerah kita bisa menggambarkan Yesus seperti itu? Bagaimana kalau seandainya Yesus sebenarnya tidak berkumis? Bagaimana kalau beliau punya tahi lalat di muka? Berambut lurus atau mungkin beliau lebih suka berambut cepak?

Jika penggabaran Yesus yang sangat spekulatif tersebut ternyata tidak sesuai dengan keadaan aslinya, apakah itu bisa di kategorikan sebagai penyembahan terhadap berhala?

Karena pada kenyataannya, Al-kitab tidak bisa menjelaskan perbedaan penyembahan terhadap berhala dan juga terhadap gambar Yesus, maka saya akan coba ulas apa itu penyembahan berhala dan penyembahan arca wigraha sebagaimana yang diuraikan dalam ajaran Veda.

Dalam Bhagavad Gita 10.40 disebutkan “Nanto’smi mama divyanam vibhutinam, wujudKu yang rohani nan mulia tidak terbatas”, demikian juga dalam Brahma Samhita 5.33 dikatakan “Advaitam acyutam anadim ananta rupam, Tuhan yang disebut Acyuta  yang satu tiada duanya itu, tidak berawal dan memiliki wujud beraneka-ragam tak terbatas”.

Wujud Tuhan yang tanpa batas ini lebih lanjut disebutkan juga dapat diilhami dalam dunia fana ini. Bhagavata Purana 1.5.20, “Idam hi bhagavan iva, dan Mundaka Upanisad. 2.1.10,” purusam evedam visvam, Alam semesta material adalah wujud semesta Tuhan”. BS.5.39,”ramadi murtesu kala niyamena tistham nanavataram ….”, Para Avatara yang turun ke dunia fana dalam beraneka-macam wujud untuk menegakkan dharma dan membasmi adharma. Bhagavad Gita 7.8, “pranavah sarva vedesu” dan Bhagavad Gita 9.17, “vedyam pavitram omkara”, Huruf OM (Pranava Omkara) yang mengawali setiap mantra Veda adalah juga wujud Tuhan. Dalam Padma-Purana, sebagaimana dikutip dalam Padyavali 25 “nama cintamani Krsna … abhinatvam nama naminoh”, Nama suci Tuhan seperti Rama, Hari atau Krishna adalah wujud Tuhan pula. Padma Purana, “arcye visnau siladhir .. Yasya va narakisah” Arca vigraha dan gambar-gambar perwujudan Tuhan juga dapat dipuja sebagai perwujudan Tuhan sendiri.

Jadi dari beberapa sloka di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa penggambaran Tuhan dapat diilhami dalam keagungan ciptaan material beliau yang maha sempurna, perwujudan-perwujudan avatara beliau, Aksara suci dan juga Arca atau gambar-gambar yang dibuat sesuai dengan petunjuk kitab suci.

Sedangkan dalam Bhagavata purana 7.5.23 dijelaskan mengenai 9 proses bhakti / pemujaan terhadap Tuhan, yaitu;

  1. Sravanam (mendengar tentang Tuhan beserta lila/kegiatan rohani Beliau)
  2. Kirtanam (memuji-muji Tuhan dan lilaNya nan ajaib)
  3. Smaranam (mengingat Tuhan dan lilaNya)
  4. Pada sevanam (melayani kaki PadmaNya)
  5. Arcanam (memuja Arca Vigraha Beliau)
  6. Vandanam (memanjatkan doa-doa pujian kepadaNya)
  7. Dasyam (menjadi pelayanNya)
  8. Sakhyam (menjadi sahabat karibNya), dan
  9. Atma nivedanam (berserah diri kepadanNya).

Berkenaan dengan Arcanam atau pemujaan Arca atau perwujudan beliau ini lebih lanjut diatur di dalam Bhagavata Purana 11.27.12 yang menjelaskan bahwa arca dapat dibuat dengan kayu, logam, batu, tanah liat, pasir, permata, kain dan cat atau bahkan dapat hanya di bayangkan dalam pikiran saja. Dalam sastra Veda yang lain lebih lanjut dijelaskan mengenai ukuran, warna dan aturan-aturan lainnya dalam membuat arca atau gambar perwujudan Tuhan.

Jika kita membuat foto/gambar seseorang yang sesuai dengan ciri-ciri fisik orang yang dimaksud, maka dengan pasti kita bisa menyebutkan bahwa foto/gambar itu adalah gambar si A atau si B, tetapi kalau kita membuat rekaan gambar yang jauh menyimpang dari ciri-ciri fisik yang dimaksud, maka gambar tersebut tidak bisa kita katakan sebagai gambar yang bersangkutan. Demikian juga dengan gambar / arca atau perwujudan yang dibuat untuk menggambarkan Tuhan. Perwujuda tersebut tidak dapat dibenarkan dan dapat disebut sebagai berhala jikalau perwujudan tersebut tidak dibuat sesuai dengan petunjuk sastra, tetapi hanya rekaan angan-angan belaka.

Sebagai contoh, perwujudan arca atau lukisan Sri Krishna dibuat dengan mengacu pada  Brahma Samhita yang menyatakan:

“Tempat tinggal Sri Krishna yang paling utama, yang bernama Goloka Vrindavana, penuh istana-istana terbuat dari batu cintamani (permata yang dapat mengubah benda-benda lain menjadi emas). Ada pohon-pohon, yang disebut kalpa-vriksa atau pohon yang dapat memenuhi segala keinginan, yang menyediakan segala jenis makanan atas permintaan. Ada pula sapi-sapi surabhi, yang menyediakan susu dalam jumlah yang tidak terbatas. Di tempat tinggal ini, Sri Krishna dilayani beratus-ratus ribu Dewi Keberuntungan (para Laksmi), dan Beliau bernama Govinda, Tuhan Yang Mahaabadi dan sebab segala sebab. Krishna suka memainkan seruling-Nya (venu„ kvanantam). Bentuk rohani Krishna adalah bentuk yang paling menarik di seluruh dunia, mata Beliau menyerupai kelopak bunga padma, dan warna badan-Nya seperti warna awan pada musim hujan. Beliau sangat menarik sehingga ketampanan-Nya melebihi beribu-ribu Dewa Asmara. Beliau memakai kain berwarna kuning emas, kalung rangkaian bunga pada leher-Nya dan bulu burung merak pada rambut-Nya”

Atas penjelasan inilah arca / gambar Krishna dibuat. Demikian juga dengan pembuatan gambar/arca Rama yang kulitnya berwarna hijau, penggambaran dewa Siva dengan kulitnya gelap ungu dan khusuk dalam semedi, penggambaran Bala Dewa yang berkulit putih. Semua penggambaran-penggambaran ini harus berdasarkan sastra Veda.

Kembali ke topik percakapan saya di awal tadi dengan seorang sahabat Kristen, maka dapat saya katakan bahwa penggambaran Yesus dalam lukisan atau patung yang tidak di dasarkan pada ayat-ayat Injil tersebut pada dasarnya adalah berhala dan tuduhan dia terhadap umat Hindu yang mewujudkan Tuhan sesuai dengan ajaran-ajaran sastra Veda yang jelas, sama sekali tidak beralasan, tetapi hanya spekulasi belaka.

sumber : http://www.vedasastra.com

Uraian Mengenai Surga

Uraian mengenai Surga

Kita semua tahu bahwa jika diberikan pilihan, maka semuanya akan memilih pergi ke surga. Dan sebagian besar orang mempunyai sejenis pemahaman akan surga yang membuat mereka yakin bahwa surga adalah suatu tempat yang luar biasa. Bahkan jika kehidupan kita di bumi jauh dari ideal, jika kita sekali sudah mencapai surga, maka segala sesuatunya akan menjadi baik-baik saja. Namun setiap seseorang memberitahu saya tentagn uraian surga, saya mendapatkan uraian/pendapat yang berbeda-beda.

Di dalam kitab kitab Veda, kita memdaptakan informasi yang eksplisit tentang apakah surga itu, misalnya kita dapat malihat beberapa tempat dibumi yang sebenarnya bagaikan surga. jika kamu mengunjungi sebuah pulau tropis dimana ada pantai-pantai panjang berpasir putih yang cukup mendapat cahaya matahari yang dilengkapi dengan hembusan angin sejuk yang melewati pohon-pohonnya, membawa aroma bunga-bunga eksotis dan suara-suara ombak air sebening kristal menghempas tepi pantai dan jangan lupa pula, ada gadis-gadis yang berbadan indah memakai busana penuh warna, siap melayani segala kebutuhan kita. Tidakkah kamu merasa seperti di surga? Tak diragukan banyak orang akan suka pengalaman semacam itu, karena setiap orang tertarik di dalam kenikmatan material. Namun Masalahnya adalah tempat-tempat seperti itu sulit dicapai atau makan banyak biaya untuk tinggal lama disana atau kita harus segera balik setelah kunjungan singkat. Kunjungan semacam itu tidak pernah cukup, dan kita akan selalu ingin kembali ke tempat-tempat serupa, lagi dan lagi.

Srimad Bhagavatam menguraikan bahwa tempat-tempat surgawi itu merupakan tempat dimana para makhluk hidup mengahabiskan/menggunakan kegiata-kegiatan salehnya yang lalu. Tempat-tempat surgawi ditemukan di tiga tempat yaitu di atas bumi, surga planet-planet bawah, dan planet-planet surga atas. Hanya orang-orang yg paling sangat saleh dapat memasuki surga atas. Orang-orang hanya dapat mengalami atmosfer surga yang lebih rendah yang dapat ditemukan di bumi atau planet-planet bawah.

Dijelaskan di dalam Srimad Bhagavatam (5.17.12) bahwa di surga atas termasuk dibumi sebelum munculnya jaman kali ribuan tahun yang lalu para penduduk hidup selama sepuluh ribu tahun dan semuanya mirip dewa. “mereka mempunyai kekuatan badan sepuluh ribu gajah dan badan sekuat halilintar. Masa muda dalam kehidupan mereka sangat menyenangkan, baik pria dan wanita menikmati persatuan seks dengat sangat menyenangkan dengan jangka waktu yang lama. Setelah sekian lama mengalami kenikmatan sensual dan ketika sekitar setahun masa kehidupan masih tersisa-sang ister mendapatkan seorang anak. Demikianlah standar kesenangan para penuduk surga ini sama persis dengan manusia yang hidup pada Treta-yuga (ketika tidak ada gangguan).

Bahkan planet bumi ini merupakan surga pada zaman satya-yuga dan treta yuga. Setiap orang sangat saleh dan mempraktekkan yoga. Mereka tidak begitu mempedulikan kenikmatan inderawi, meskipun tersedia dengan mudah. Demikianlah, planet bumi menyediakan para penduduknya dengan segala yang mereka butuhkan dengan atmosfer yang paling menyenangkan. Baru kemudian, setelah datang Dvapara yuga dan khususnya zaman sekarang Kali yuga,

“Ada banyak taman penuh bunga dan buah sesuai dengan musim, dan ada pertapaan2 yang dihias dengan baik. Antara gunung-gunung besar yang membatasi batasan wilayah2 ada danau danau yang sangat besar berisi air jernihpenuh dengan bunga-bunga padma yang baru tumbuh. Burung air seperti angsa, bebek, ayam air, dan angsa merasa sangat senang karena keharuman bunga-bunga padma, dan suara-suara kumbang yang mempesona memenuhi udara. Para penduduk negeri ini merupakan pemimpin-pemimpin penting di antara para dewa. Selalu disertai oleh para pelayan mereka yang terhormat, mereka menikmati hidup di taman-taman disisi-sisi danau. Dalam keadaan yang menyenangkan, isteri-isteri para dewa tersenyum playfully kepada suami-suami mereka dan melihat mereka dengan tatapan nafsu.seluruh dewa dan isteri-isterinya di sediakan bubuh cendana dan kalungan bungan secara teratur oleh pelayan-pelayan mereka. Dengan cara begini, para penduduk varsha kedelapan menikmati, tertarik dengan keigatan lawan jenis.

Dari uraian ini, kita dapat melihat bahwa kesenangan surgawi yang dialami oleh para penduduk planet-planet atas sering berdasarkan seks dan semua itu hanya kenikmatan inderawi yang berbentuk lebih halus saja. Hal ini tidak banyak berbeda dari apa yang dialami oleh manusia di bumi. Satu perbedaannya adalah para penduduk planet planet itu menikmati seperti itu tanpa ada gangguan selama bertahun-tahun jika mereka menginginkn; sedangkan, para penduduk bumi hanya dapat menikmati seperti itu hanya dalam waktu singkat.

Uraian lain tentang beberapa bagian surga di planet-planet atas adalah tentang gunung Trikuta, yang tingginya 80.000 mil dan dikelilingi oleh sebuah lautan susu. Seperti halnya bumi dikelilingi oleh air asin, planet-planet atas juga memiliki lautan, namun terdiri dari air-air yang lebih menyenangkan.

“tiga bahan dasar yang utama yang ada di puncak gunung Trikuta terbuat dari besi, perak dan emas, dan memeperindah segala arah dan angkasa.Gunung ini juga memeiliki puncak yanglain, yang penuh dengan permata dan berbagai mineral dan dihiasi dengan pohon-pohon, tanaman menjalar dan semak-semak yang indah. Suara-suara air terjun di atas gunung menciptakan vibrasi yang menyenangkan. Begitulah adanya gunung itu, semakin meningkatkan keindahan di segala penjuru. Tanah lapang di kaki gunung selalu di bersihkan oleh gelombang ombak susu membentuk emerald di sekiling gunung di delapan penjuru mata angin. Para penduduk planet-planet atas seperti para Siddha, Carana, Ghandarva, Vidyadhara, para Naga, Kinnara dan Apsara- biasanya pergi ke gunung untuk sport. Demikialgha semua gua gua di gunungpenug dengan penduduk 2 surgawi ini.” (bhag.8.2.7-8)

“lembah-lembah di bawah gunung Trikuta terhias indah dengan banyak beraneka hewan hutan, dan di dalam pohon-pohon, yang terawatt di taman-taman oleh para dewa, ada beareka jenis burung bersiul/mengerik? dengan suara-suara merdu. Gunung Trikuta punya banyak danau dan sungai, dengan pantai-pantai yang ditutupi dengan permata/mutiara2 kecil menyerupai butiran2 pasir. Airnya sejernih kristal, dan ketika bidadari para dewa mandi di dalamnya, badan-badan mereka memeberikan keharuman kepda air dan angina sepoi yang bertiup disana, yang memeperkaya atmosfer disana.” (Bhag. 8.2.7-8)

Di planet-planet surga, badan-badan para wanitanya/maidens tidak hanya indah, tetapi juga memberikan keharuman kepada danau-danau dan juga angina sepoi yang bertiup. Di planet bumi ini, setiap orang dapat mengalami bahkan jika badan kita tidak dimandikan setiap hari, maka akan mulai berbau tidak sedap. Untuk menutupinya, orang sering menggunkan deodorant atau wewangian buatan untuk badan mereka agar berbau harum, untuk menutupi kenyataan bahwa mereka tidak mandi dengan teratur. Tentu saja, hal ini, jauh dari standar surga ketika kita harus mentolerir bau tak sedap badan orang-orang di sekitar kita. Oleh karena itu, hal ini, adalah pembanding yang baik untuk mengerti bagaimana planet-planet surga ribuan kali lebih mewah disbanding planet bumi ini.

Dengan mempelajari literature Veda, kita dapat mempelajari tempat-tempat seperti surga ini. Namun mencobak untuk mencapai pengetahuna seperti itu lewat indera dan peralatan yang terbatas seperti teleskop, yang merupakan perpanjangan indera2 kita yang cenderung salah faulty sense, kita tak akan pernah mampu mengamatai dengan wajar keadaan-keadaan dari planet planet yang lebih tinggi. Oleh karena itu, kita dapat mendapat pemahaman apa planet planet yang lebih itnggi itu seperti uraian yang ditemukan di dalam buku2 seperti Srimad-Bhagavatam, yang menguraikan kemewahan dewa Indra, Raja Surga, sebagai berikut :

“Hiranyakasipu, Yang memiliki segala kemewahan mulai bermukim di surga, dengan taman Nandananya yang terkenal, yang dinikmati oleh para dewa. Pada kenyataannya, dia tinggal di istana dewa Indra, Raja Surga, yang paling mewah. Istana itu di bangun secara langsung oleh arsitek para dewa Visvakarma dan dibuat sedemikian hingga indah solah olah dewi keberuntangan alam semesta ini berstana disana. Jalan-jalamnsetapa di kediaman Raja Indra terbuat dari coral, lantai na terhias dengan emerald yang tak ternilai, tembok-tebokna terbuat dari kristal, dan ilar pilar terbuat dari batu yang bernamavaidurya.canopi-canopi terhias dengan indah, tempat tempat duduk terhias dengan ruby, dan tempat tidur dari sutera, seputih busa, yang terhias mutiara. Gadis-gadis istana itu

kebanyakan dari kita bahakan tidak dapat membayangkan sebuah rumah dengan tembok2 kristal, coral steps, lantai yang dilapasi jamrud, kursi kurs dilpaisi ruby, dan tempat-tempat tidur dilapaisimutiara. Namun disisni adalah sebuah uraian istana amat besarsejenis ini, dimana banyak orang tinggal. Ini adalah wilayah surga dimana hanya merka yang kualifaid dapat memasukinya. Kita taka akan mampu pergi kesana dengan alat alat roket atau capsul ruang angkasa. Satu satu cara yang sebenarnya kita dapat memasuki atmosfer kahyangan atau surga adalah dengan kegiatan-kegiatan saleh, karma baik, atau kesempurnaan mistis. Bagaimana pun, bagi mereka syng benar2 bijaksana, mencapai surga tak begitu penting.

Kesempatannya ada di bumi ini

Seorang manusia bijaksana yang pebnuh pengetahuan bagaimana dunia ii bekerja tahu bahwa di planet-planet surga, dan dimanapun juga, ada kelahiran dan kematian. Para penduduk planet-planet atashidup sangat lama dilihat dari perhitungan bumi, namun akhirnya disana juga kehiduapn akan berakhir. Bagaimaan pun juga, masih di dalam dunia material ini, diaman segala sesuatunya secara beratahap merosot, rusak dan terbagi/hancur. Seperti halnya seseorang menabunga uang, pergi berlibu ke hawai atau suatu tempat dan menghabiskan kesluruhan waktu untuk dapat menikmati, bersantai, dan hanya melakukan segala sesuatau yang ia suka, ketika uang habis dipakai maka ia harus kemabali pualang keruamah dan kembali bekerja. Sama halnya seperti itu, setelah seseorang melaksanakan banyak perbuatan saleh dan mengumpulkan berimpah karma baik, orang mungkin dapat memasuki wilayah surga untuk hidup dan menikmati Selma ribuan tahun. Namun ketika reaksi reaksi saleh yang terkumpul telah habis digunakan, keberadaannya di surga berakhir dan dia mulia lagi sistem planet tengah bumi untuk memulai lagi. Hal ini dijelaskan didalam Munduka Upanisahd (1.2.10): “dengan menganggap kurban dan kegiatan baik/kebajikan sebagai yang terbaik, orang-orang bodoh ini tidak mengetahui kebaiakan yang lebih tinggi,.dan setelah menikmati (pahala meraka) di surga ng lebih tinggi, yang didapat dari kegiaran baik, mereka masuk lagi bumi ini atau yang lebih rendah.”

Oleh karena itu, Resi-resi yang penuh pengetahuan menganggap surga dan segala kemewahannya tidak lebih dari sekedar phantasmagoria, sebuah mimpi yang menkjubkan namun temporer. Itulah, dalam kenyataanadalah kehidupan diatas segala lecel eksistensi di dalam ciptaan material ini. Oleh karena itu sri Krishna Menjelaskan di dalam Bhagavad Gita : “dari planet yang paling tinggi sampai planet yang paling rendah, semuanya adalah temapat-tempat kesengsaraan dimana berlangsung kelahiran dan kematian yang berulang. Namun dia yang telah mencapai Tempat Tinggal-Ku, wahai putera Kunti, tak akan pernah lahir lagi.” (bg. 8.16)

Mereka yang serius sibuk dalam jalan spiritual tidak punya concern apakah meerkea memasuki surga atau neraka. Bagi mereka, surga dapat menjadi neraka tanpa Pemujan pada Tuhan dan neraka dapat menjadi surga hanya dengan bermeditasi pada atmosfer spiritual. Tidak begitu penting diaman kamu berada, namun bagaiman kamu menggunakan waktumu yang membuat beda, seperti dijelasakn dalam sloka berikut ini.

“Oh TUhan, kami berdoa semoga Engkau membiarkan kami lahir di dalam segala keondisi kehidupan neraka, kalau hati kami dan pikiran kami selalu sibuk di dalam pelayann suci kepada Kaki-padma-Mu, kata-kata kami menjadi lebih indah (hanya dengan membicarakan segala kegiatan mu) seperti halnya daun tulasi dipercantik ketika dipersembahakan kepad Kaki-Padma_Mu, dan sepanjgan telinga kami selaliu mendengar tentagn sefat-sifat rohani-Mu.” (Bhag.3.15.49)

sekarang kita dapat mulai melihat planet tengah, yaitu bumi, adalah tempat dimana seseorang dapat pergi ke surga, atau ke neraka, atau ke dunia rohani yang sepenuhnya berada diluar ciptaan/dunia material ini. Di surga, atmosfernya sangat kondusif untuk kenikmatan indera dimana seseorang sulit sekali berkonsentrasi untuk embuat kemajuan dalam spiritual. Di planet-planet yang lebih rendah, hidup terlalu menderita dan sengsara, atau masyarakatnya terlalu materialistic untuk sibuk dalam kegiatan spiritual. Tetapi di planet pertengahan ini, umumnya hdiup tidak begitu surgawi atau nerakawi. Oleh karena itu, ia merupakan lingkungan yang cocok untuk seseorang melaksanakan jalan spiritual.

“Karena bentuk kehidupan manusia merupakan posisi yang mulia untuk keinsyafan spiritual, semua para dewa di surga berbicara seperti ini: Betapa hebatnya makhluk manusia ini karena lahir di Bharata-varsha (planet bumi). Mereka pasti telah melaksanakan kegiatan-kegiatan saleh berupa pertapaan di masa lalu, atau Pribadi Tuhan Yang Maha Esa Sendiri sudah puas dengan mereka. Kalau tidak, bagaimana mungkin mereka sibuk di dalam pengabdian suci dalam begitu banyak cara? Kita para dewa hanya dapat bericta-cita untuk mendapat kelahiran sebagai manusia di Bharata-varsha untuk melaksanakan pengabdian suci, namun umat manusia ini sudah melaksanakan disana.(Bhag. 5.19.21)

“Setelah melaksankan tugas yang amat sulit dalam kurban suci ritualistic Veda, melaksanakan pertapaan, melaskasnakan sumpah dan berderma, kami telah mendapatkan kedudukan ini sebagai penduduk planet-planet surga. Namun apakah nilai dari prestasi ini? disini kami sangat sibuk dalam kepuasan indera material, dan oleh karena itu kami sangat sulit untuk mengingat Kaki-Padma Narayana. Tentu saja, karena pemuasan indera yang berlebhian, kami hampir selalu melupakan Kaki-PadmaNya.” (Bhag.5.19.22)

“Sebuah hidup singkat di tanah Bharata-varsha adalah lebih baik dibanding sebuah hidup di Brahmaloka selama jutaan dan miliaran tahun karena jika seseorang diangkat ke Brahma Loka, dia juga mengulamgi kelahiran dan kematian. Meskipun hidup di Bharata varsha, sebuah planet yanglebih rendah, sangat singkat, namun orang yang hidup disana daoat meningkatkan dirinya ke dalam Kesadaran Krishna penuh dan mencapai kesempurnaan tertinggi, bahkan dalam dalam hidup yang singkat ini, dengan sepenuhnya menyerahkan diri kepada Kaki-Padma Tuhan. Demikianlah seseorang dapat menapai Vaikunthaloka (planetplanet rohani), dimana tidak ada kecemasan dan tidak pula ada kelahiran kembali dalam badan material.” (bhag.5.19.23)

“Bharata varsa menawarkan llingkangan dan tempat yang tepat dimana melaksanakan Pengabdian suci (Bhakti-Yoga), yang dapat membebaskan orang dari segala akibat jnana (pengetahuan spekuasli) dan karma. Jika seseorang mendapatkan sebuah badan manusia di tanah Bharata varsha, dengan organ sensori yang jelas dengan mana dapat melaksansakan sankirtan yajna 9 mengucapakan atau menyanyikan dan keagungan nama suci Tuhan), tetapi walupu ada kesempatan ini ia tidak menjalankan pengabdian suci, maka dia memang seperti hewan dan burung hutan yang bebas yang kurang pemeliharaan dan oleh karena itu sekali lagi terntagkap oleh pemburu.” (bhag. 5.19.25)

Ayat-ayat ini dari Srimad-Bhagavatam secara langsung menekankan kesempatan jarang yang ktai dapat sekarang yang kita tahu diri kita sudah berada di planet bumi ini. Orang yang tidak menggunakan kesempatan seperti ini untuk sibuk dalam pncarian untuk kemajuan spiritual, maka pastilah hidup hanya untuk mati tanpa membaut kemajuan yang nyata kearah kekebabasan dari eksisitensi material. Bahkan para dewa berdo auntuk lahir di Bharata varssha.

Surga & Neraka

dan Struktur Dasar Alam Semesta

(Artikel berikut diambil dari buku “The Secrets Teachings of Veda” bab 7 diterjemahkan dan dipublikasikan atas izin tertulis dari Stephen Knapp. tulisan Sthepen Knap yang lain dapat liat di www. Sthepen-knapp.com)

Beberapa bab terakhir telah menjelaskan bagaimana seseorang bisa mencapai/mendapatkan masa depan yang baik atau buruk menurut berbagai jenis kegiatan yang ia lakukan. Disebutkan bahwa orang dapat mencapai surga atau neraka sebagai hasil dari segala kegiatan mereka. Hal ini terjadi berdasarkan kombinasi karma yang telah dikumpulkan oleh seseorang dan dari sifat-sifat tertentu alam materiil yang ia miliki. Namun, apakah yang sebenarnya surga dan neraka itu? Apakah surga merupakan sebuah tempat dimana kita dapat menikmati hidup secara abdi bersama dengan yang pernah kita kenal dan pernah kita cintai? Apakah Neraka merupakan sebuah tempat dimana kita menderita kutukan abadi atas berbagai kesalahan karena tidak hidup seperti layaknya yang diyakini beberapa orang ? atau apakah kita diberikan kesempatan sekali di dalam kehidupan ini untuk mencapai surga atau terkutuk di neraka abadi? Atau semua ini hanyalah tingkatan pikiran?

Banyak orang memiliki banyak kesalah-pahaman tentang apa itu surga dan apa itu neraka. Kebanyakan orang setuju bahwa menjalani sebuah kehidupan yang kedengaran religius untuk mencapai surga, adalah tujuan tertinggi. Tetapi untuk meluruskannya, kita harus memiliki uraian tentang surga dan neraka secara mendetail, dan pengetahuan seperti ini dapat ditemukan di dalam literatur Veda.

Pertama-tama, kitab-kitab Veda setuju sistem planet bumi ini merupakan sistem planet pertengahan di alam semesta. Dari sini seseorang dapat naik ke planet-planet surgawi atau turun ke planet-planet neraka. Seluruhnya, alam semesta ini tersusun atas empat belas susunan sistem planet, dan seperti halnya kita telah lahir di planet bumi ini, kita dapat juga meningkatkan diri dengan kegiatan-kegiatan kita untuk lahir di setiap berbagai susunan planet baik yang diatas maupun yang dibawah. Untuk lebih memahami bagaimana semua hal ini terjadi, pertama kita harus mengerti diamanakah surga dan neraka berada di dalam alam semesta ini?.

STRUKTUR DASAR ALAM SEMESTA

Untuk memulai penjelasannya, kitab mengumpamakan ciptaan kosmos (alam semesta) materiil sebagai sebuah awan di dalam sebuah sudut Angkasa rohani. Di dalam awan ini ada alam semesta yang jumlahnya tak terhitung/terhingga. Setiap alam semesta ditutupi oleh sebuah cangkang yang terbuat dari unsure-unsur materiil, yang menjadikan sisi dalamnya sepenuhnya gelap kecuali di daerah sinar matahari. Srimad Bhagavatam (3.11.41) menjelaskan: “Lapisan-lapisan unsur yang menutupi alam semesta, masing-masing sepuluh kali lebih tebal dari lapisan sebelumnya, dan kumpulan seluruh alam semesta bersama-sama kelihatan bagai atom-atom dalam kombinasi yang besar.”

Hal ini menandakan bahwa jika kita bertualang ke kulit luar yang gelap alam semesta, maka kita akan melewati sebuah cangkang yang terbuat dari unsur tanah yang mengelilingi alam semesta. Ketebalan cangkang ini sepuluh kali lebih tebal dibandingkan lebar alam semesta. Lapisan cangkang yang Pertama adalah lapisan tanah, kemudian ada lapisan air yang tebalnya sepuluh kali tebal lapisan tanah, kemudian ada lapisan-lapsaian (secara berurutan) api, udara, ether, pikiran, kecerdasan dan keakuan palsu. Tentu saja, wujud unsure-unsur di lapisan-lapisan ini lebih halus daripada berbagai wujudnya kita temukan di muka Bumi ini. Interior alam-semesta sangat kecil dibandingkan lapisan-lapisan berbagai unsur yang mengelilinginya. Oleh karena itu, tak pelak lagi, tak seorang pun akan pernah mampu keluar dari alam-semesta ini dengan segala alat mekanik atau dengan cara kesempurnaan material.

Berdasarkan literatur Veda, Matahari terletak di bagian pertengahan. Seperti diuraikan dalam Srimad Bhagavatam (5.20.43-46): “Matahari berada di pertengahan alam-semesta, yaitu di wilayah ruang (antariksha) antara Bhurloka dan Bhuvarloka. Planet matahari membagi segala arah alam-semesta. Karena kehadiran mataharilah kita dapat mengerti apa itu angkasa, apa itu planet-planet yang lebih tinggi, dan apa itu dunia ini

Kitab-kitab Veda sering menguraikan berbagai jenis planet dengan sebutan Dvipa atau Varsha, yang berarti pulau dan pelindung bagi banyak makhluk hidup, di dalam samudra luas ruang angkasa ini. Setiap planet diatur berbeda satu sama llain dengan masing-masing iklimnya, ciri khas (feature)nya, ketakjubannya dan dilengkapi dengan berbagai jenis benda-benda untuk memenuhi kebutuhan berbagai penghuninya yang spesifik pula. Diuraikan dalam Padma Purana bahwa ada 8.400.000 spesies (jenis) kehidupan dan masing-masing spesies memiliki tempat hidupnya masing-masing berupa lingkungan tertentu yang ada dalam berbagai planet. Beberapa spesies kehidupan ada di dalam air, beberapa di udara, beberapa di dalam dan beberapa diatas tanah, beberapa di dalam panas atau api. Oleh karena itu, bukan suatu yang mengherankan ada kehidupan di planet-planet yang lain, seperti yang diuraikan di dalam kitab-kitab Veda, baik kehidupan seperti itu dapat kita lihat maupun tidak, dengan indera-indera atau peralatan kita yang tumpul/tidak sempurna.

Planet Bumi yang berada di tengah sistem perplanetan, disebut Bharata-varsha atau Jambudvipa. Kitab Srimad Bhagavatam (5.20.3-42) menguraikan enam planet utama lainnya di atas Jambudvipa. Planet-planet itu adalah Plaksadvipa lalu Salmalidvipa. Diatasnya ada Kusadvipa, atau planet bulan. Diatas Kusadvipa ada Krauncadvipa yang memiliki lebar 12.800.000 mil. Diatasnya ada Pulau (baca : planet) Sakadvipa, merupakan planet bagi orang-orang saleh, yang mana para penduduknya melaksanakan pranayama dan Yoga-Mistis, dan dalam Samadhi memuja Penguasa Tertingi dalam wujud Vayu.

Planet berikutnya adalah Puskaradvipa atau Brahma loka, yang memiliki diameter 51.200.000 mil dan dikelilingi oleh samudra yang berisi air yang sangat lezat. Di planet ini ada bunga padma raksasa dengan 100.000.000 mahkota/kelopak bunga dari emas murni, seterang nyala api. Bunga ini dianggap tempat duduknya dewa Brahma, makhluk hidup yang paling perkasa di alam semesta dan oleh karena itu kadang-kadang disapa denga sebutan Bhagavan. Penduduk planet ini memuja Yang Kuasa yang diwakili oleh dewa Brahma. Di tengah pulau ini ada gunung besar yang bernama Manasottara, yang memiliki batas antara sisi dalam dan sisi luar pulau itu. Lebar dan tingginya 80.000 mil.

Di gunung itu, di keempat arahnya, merupakan markas-markas kediaman para dewa seperti dewa Indra. Di dalam kereta dewa-matahari, sang matahari menjelajahi puncak gunung itu di dalam sebuah orbit yang bernama Samvatsara, melingkari gunung Meru. Jalur matahari di sebelah utara disebut Uttarayana, dan jalurnya disebelah selatan disebut Daksinayana. Satu sisi (enam bulan, musim panas kita) mewakili satu siang bagi para dewa, dan sisi yang lain (enam bulan, musim dingin kita) mewakili malam mereka. Dengan cara begini, kita dapat mengerti bahwa satu tahun kita tak lain adalah sehari bagi para dewa. Oleh karena itu hidup mereka sangat panjang, hampir seperti kekal jika dibandingkan dengan hidup kita. Itulah kenapa beberapa agama mengatakan kehidupan di surga adalah kekal.

Tidak perlu dikatakan, ini merupakan uraian sebagaian dari planet-planet atas dan letak mereka seperti yang diuraikan oleh para mistikus di dalam literature Veda. Tetapi, seperti dengan mudah kita mulai dapat lihat, hanya orang-orang yang saleh dan maju secara spiritual dapat memasuki planet-planet surga yang lebih tinggi ini. Oleh karena itu, mereka yang kurang beriman dan tidak bertuhan hanya dapat memasuki planet-planet bawah.

Srimad Bhagavatam (5.24.1-6) menjelaskan bahwa dibawah planet-planet atas ‘higher planets’ ini, namun masih diatas bumi, ada planet-planet yang lain, yaitu mulai dari planet Rahu yang berjarak 80.000 mil di bawah matahari. Planet ini bergerak bagaikan salah satu bintang namun ia merupakan sebuah planet gelap dan tak terlihat; namun, keberadaannya dapat dilihat kadang-kadang ketika ada sebuah gerhana. Dibawah rahu 80.000 mil lagi ada planet-planet yang bernama Siddhloka (dimana hidup para Siddha, atau makhluk2 yang secara alamiah memiliki kesempurnaan mistis, seperti terbangan dari satu planet ke planet ke planet yang lain tanpa memakai mesin), Caranaloka (dimana hidup para Carana atau para makhluk mirip minstrel) Gandharvaloka (dimana hidup para Gandharva atau makhluk malaikat), dan Vidyadharaloka (dimana hidup para Vidyadhara, makhluk-makhluk halus yang menguntungkan, yang amat cantik dan bijaksana). Di bawah planet-planet ini merupakan tempat kenikmatan untuk para Yaksha (makhluk mak halus misterius yang sering mengunjungi sawah-sawah dan hutan-hutan), para Rakshasha (makhluk raksasa yang mengembara tiap malam, dan juga membentuk kapal dan dapat mengambil wujud seperti anjing, burung hering, burung hantu, orang kerdil, dll).Para Pishaca (makhluk-makhluk iblis yang makan daging, dapat merasuki orang-orang dan berkumpul di kuburan atau tempat crematorium dengan hantu lainnya), dan makhluk lainnya seperti hantu dan yang lainnya.

Di bawah planet-planet yang gelap dan tak terlihat ini, sekitar ratusan mil adalam planet bumi.

Dibawah bumi ada tujuh planet lainnya, yang bernama Atala, Vitala, Sutala, Talatala, Mahatala, Rasatala dan Patala. Di tujuh system planet ini, yang juga terkenal dengan nama Surga bawah (bila-svarga), ada rumah-rumah, taman-taman dan tempat kenikmatan indera yang sangat indah, dan bahkan lebih mewah dibanding planet-planet diatas karena para raksasa memilki standar kenimatan sensual yang sangat tinggi. Sebagian besar para penduduk planet-planet ini menikmati hidup tanpa gangguan. Demikianlah mereka dapat dimengerti sangat terikat kepada kebahagian ilusi.” (Bhag. 5.24.87-9)

Selanjutnya Bhagavatam menjelaskan planet dibawah Atala adalah planet Vitalka, dimana dewa Shiva tinggal dengan rekan-rekan pribadinya, para hantu dan makhluk sejenisnya. Planet dibawahnya adalah Sutala dimana Bali Maharaj tinggal bahkan sampai sekarang. Dibawah planet Sutala adalah planet Talatala, yang diperintah oleh raksasa Danava bernama Maya. Maya dikenal sebagai Acharya 9 guru dari semua Mayavi (penyihir), yang dapat mengundang kekuatan sihir. Planet dibawah Talatala bernama Mahatala. Planet ini adalah kediaman ular-kepala-banyak, keturunan Kadru, yang selalu suka marah.

Di bawah Mahatala ada planet bernama Rasatala, yang merupakan tempat putera-putera raksasa dan keturunan Diti dan Danu. Mereka sangat perkasa dan kejam dan semuanya merupakan musuh para dewa. Dibawah Rasatala ada sistem planet lain yang bernama Patala atau Nagaloka, dimana banyak ada ular-raksasa. Pemimpin mereka adalah Vasuki. Mereka semua sangat pemarah, dan mereka memiliki sangat banyak kepala. Kepala-kepala ini dihiasi dengan permata-permata berharga, dan cahaya yang memancar dari permata-permata ini menyinari semua system planet di bila-svarga.

Tepat 240.000 mil dibawah Planet Patala tinggal salah satu inkarnasi Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia adalah Ekspansi Sri Vishnu yang bernama Sri Ananta atau Sri Sankarsana. Sri Sankarana merupakan lautan sifat-sifat rohani tak-terbatas, oleh karena itu Dia juga disebut Anantadeva. Dia tak berbeda dengan Pribadi Tuhan Yang Maha Esa. Sendiri. Untuk kesejahteraan semua Makahluk hidup didalam dunia materiil, Dia bersdia tinggal disana, menahan kemarahan dan intoleran-Nya.

Pada waktu peleburan (kiamat), Ketika Sri Anantadeva ingin menghancurkan seluruh cipataan, Dia menjadi sedikit marah. Kemudian dari dua alis-Nya muncul Rudra bermata tiga, membawa trisula. Rudra ini merupakan ekspansi dari dewa Shiva, muncul dengan tujuan menghancurkan seluruh ciptaan.

Para dewa, para raksasa, para Uraga, Siddha, Gandharva, Vidyadhara dan banyak resi-resi maju menghaturkan doa-doa secara teratur kepada Sri Anantadeva. Sri Anantadeva memuaskan pelayan-pelayan-Nya, yaitu dewa-dewa utama, dengan getaran-getaran yang manis yang memancar dari Mulut-Nya. Dia mengenakan pakaian berwarna kebiruan dan mengenakan anting tunggal, membawa sebuah bajak di punggung-Nya dengan dua tanganNya yang berbentuk dengan baik dan indah. Kelihatan seputih Raja Surga, Indra. Dia juga mengenakan sebuah ikat pinggang keemasan, dan sebuah kalungan bunga vaijayanti yang terbuat dari tulasi yang selalu segar di leher-Nya. Dengan cara begini, Dia menikmati lila-Nya yang penuh berkat.

Srimad Bhagavatam menguraikan bahwa tidak ada aklhir bagi keagungan dan kebesaran sifat sifat Sri Anantadeva Yang Perkasa. Tentu saja, Kekuatan Sri Anantadeva tak terbatas. Meskipun Dia Self-Sufficient, Namun Dia Sendiri merupakan penyangga segala sesuatu. Sri Anantadeva berada dibawah system planet paling bawah diatas lautan Garbhodaka dan dengan mudah menopang seluruh alam semesta.

Di atas kediaman Sri Anantadeva, di pertengahan ruang antara tiga-dunia dan lautan luas Garbhodaka-yang memenuhi bagian bawah alam semesta, merupakan tempat dimana planet-planet neraka berada. Planet-planet neraka ini berada di bagian selatan alam semesta, di bawah Bhu-mandala, dan sedikit diatas air lautan Garbhodaka. Pitriloka, planet para leluhur, juga terletak di wilayah antara lautan Garbhodaka dan system planet paling bawah. Semua penduduk Pitriloka, dipimpin oleh Agnisvatta, bermeditasi di dalam Samadhi yang khusuk kepda Tuhan Yang Maha Esa dan selalu dan selalu mengharapkan keluarganya baik-baik saja.

Uraian tentang Neraka

Planet-planet Neraka merupakan destinasi bagi mereka yang ber-ajal untuk mengalami penderitaan sebagai pahala atas segala kegiatan mereka yang jahat dan keji, tentu saja jika orang-orang bisa memutuskan/memilih, untuk diri mereka sendiri, apakah akan pergi ke neraka atau tidak, maka tak seorang pun memilih pergi kesana. Tapi sayangnya kita tak bisa memilih, dan hal ini tergantung pada otoritas-otoritas yang lebih tinggi, yang menyaksikan dan menghakimi segala tindakan kita. Ada kesalah-kaprahan umum diantara banyak orang bahwa sepanjang apa yang kita lakukan tidak membahayakan seseorang atau tak terilihat siapa pun, maka kita bebas melakukan segala hal yang kita inginkan. Namun kitab Veda menekankan bahwa, “matahari, api, angkasa, udara, para dewa, bulan, senja, malam, siang, segala-arah, air, tanah, dan Roh Yang Utama (Paramatma) Sendiri semuanya menyaksikan segala kegiatan Makhluk hidup.” (bhag.6.1.42) menurut saksi-saksi ini, makhluk hidup tak dapat pergi kemana pun dimana tak ada yang melihat apa yang dilakukannya.

Penguasa planet-planet neraka dan pengatur akhirat-afterlife mereka yang diajalkan untuk menghuni wilayah alam-semesta yang lebih gelap ini adalah Yamaraja. Srimad Bhagavatam menguraikan bahwa Yamaraj tinggal di Pitriloka bersama pelayan-pelayan pribadinya dan sambil menerapkan aturan dan peraturan yang ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, memiliki agen-agen yang bernama Yamadhuta (para bala tentara Yamaraja), menyeret semua orang-orang berdosa padanya segera setelah mereka mengalami kematian. Setelah mereka membawa ke pengadilanya, beliau menghakimi secara pantas mereka sesuai kegiatan berdosa khusus mereka dan mengirim mereka ke salah satu planet-planet neraka untuk hukuman yang cocok.

“Beberapa otoritas mengatakan bahwa ada total 21 planet neraka, dan beberapa mengatakan 28. nama-nama planet neraka itu adalah : Tamisra, Andhatamisra, Raurava, Maharaurava, Kumbhipaka, Kalasutra, Asipatravana, Sukaramukha, Andhakupa, Krmibhojana, Sandamsa, Taptasurmi, Vajrakanttaka-salmali, Vaitrani, Puyoda, Pranarodha, Visasana, Lalabhaksa, Sarameyadana, Avici, Ayahpana, Ksarakardama, Raksogana-bhojana, Sulaprota, Dandasuka, Avatanirodhana, Paryavartana da Sucimukha. Semua planet-planet neraka ini dimaksudkan sebagai tempat hukuman bagi makhluk hidup.” (Bhag. 5.26.7)

Diseluruh literature Veda, khususnya di dalam kitab-kitab Purana, ada uraian mengenai planet-plnaet neraka ini. Kami hanya akan memasukan sebagaian kecil dari utaian2 ini agar tidak membuat bab ini terlau panjang, tetapi sekurang-kurangnya kita dapat melihat tempat semacam apakah neraka itu dan orang-orang macam apa saja yang diangkut kesana.

“Seseorang yang mengambil alih istri sah, anak-anak atau uang orang lain diseret pada saat kematian, oleh Yamadhuta yang menakutkan, yang mengikatnya dengan tali waktu dan melemparkannya dengan paksa kedalam planet-planet neraka yang bernama Tamisra. Di planet yang gelap ini, orang-orang berdosa di hukum oleh para Yamadhuta, yang memukuli dan memarahinya. Dia menderita kelaparan, dan ia tak diberikan air untuk diminum. Demikianlah para asisten Yamaraj yang penuh murka, membuatnya menderita, dan kadang-kadang ia jatuh pingsan menerima berbagai siksaan mereka.” (Bhag.5.26.8).

“Di dalam kehidupan ini, orang-orang melakukan kekerasan terhadap para makhluk hidup. Oleh karena itu, setelah kematian, ketika ia di seret ke nerka oleh Yamaraj, para maklhuk hidup itu yang dulu ia sakiti muncul sebagai binatang yang bernama ruru untuk memberikan rasa yang amat sakit padanya. Orang terpelajar menyebuit neraka ini Raurava. Hewan ini tak dapat kita lihat di bumu, ruru ini bersifat leih iri daripada ular.” (bhag.5.26.11)

Mengenai hal ini, setiap orang dapat melihat bahwa ada orang-orang yang memiliki mentalitas raksasa/iblis dan bersenang-senang dengan menyakiti maklhuk lain tanpa rasa adil/justiable. Orang yang melakukan kekerasan seperti itu akan diseret ke Raurava, dimana para makhluk hidup yang telah mereka sakiti di masa lalu mengambil wujud sebagai ruru danmemberikan penderitaan yang luar biasa kepada mereka, seperti dijelaskan dalam ayat berikut :

“Hukuman di neraka yang bernama Maharaurava adalah wajib bagi orang memelihara badannya dengan menyakiti yang lain. Di neraka ini, pada hewan ruru yang dinekal dengan nama krayavada menyiksanyadan memakan dagingnya. Untuk pemeliharaan badan mereka dan untuk kepuasan lidah mereka, orang-orang jahat/cruel memasak hewan-hewan dan burung–burung lemah/poor dan hidup2. orang-orang seperti itu dikutuk bahkan oleh pemakan-manusia. Pada kehidupan mereka kemudian, mereka dieret oleh para Yamadhuta ke neraka yang bernama kumbhipaka, dimana mereka di dalam minyak yang mendidih.” (bhag.5.26.12-13)

“Seorang pembunuh brahmana dimasukkan ke neraka yang bernama Kalasutra, yang memiliki garis tengah.jari-jari 80.000 mil dan seluruhnya terbuat dari tembaga. Dipanasi dari bawah oleh api dan dari atas oleh matahari yang membara, permukaan tembaga planet ini sangat panas sekali. Demikianlah para pembunuh brahmana menderita terbakar baik dari dalam maupun dari luar. Dari dalam ia terbakar oleh rasa lapar dan haus, dan dari luar dia terbakar dari pansa matahari dan api yang berada dibawah permukaan tembaga. Oleh karena itu ia kadang-kadang terbaring, kadang duduk, kadang-kadang berdiri, dan kadang2 berlari kesana kemari. Dia harus menderita seperti ini selama ribuan tahunsebanyak rambut di tubuh hewan (yang ia bunuh).” (bhag.65.26.14)

“Di dalam kehidupannya berikutnya, seorang raja atau wakil pemerintah yang berdosa yang menghukum orang yang tak berdosa, atau yang memberikan hukumana pada badan seorang brahmana, diseeret oleh Yamadhuta ke nereaka yang bernama Sukharamuka, dimanaasisten Yamaraj yang paling perkasamenghancurkannya précis seperti orang menghancurkan tebu untuk mendapatkan airnya. Para maklhuk hidup yang berdosa menangis ……, sama seperti seorang manusia yang tak berdosa melaksanakan hukuman. Ini adalah akibat dari menghukum orang yang tak bersalah.” (bhag.5.26.16)

“Seseorang who in the absence of an emergency Merampok, permata (atau benda-benda berharga) dan emas milik seorang brahmana -atau malahan, orang lainnya—ditempatkan kedalam neraka bernama Sandamsa. Disana kulitnya dilapisi dan dipisahkan oleh bola-bola dan jepitan besi merah-panas, maka keseluruhan badannya terpotong menjadi berkeping-keping.” (Bhag.5.26.19)

Ketika menuli bagian ini dan tingal di Detroit, adalah tidak tak-umum mendengar kesedihan orang-0rang tua yang tidakpunya uang dan kelaparan dan hanya bergumul dari hari ke ahri hanya untuk bertahan hidup. Di banyak kasus, salah satu alasan mereka tidak memiliki kebutuahn lagi akan uang untuk merawat diri mereka lebih baik adalah karena mereka telah dirampok, bukan satu dua kali, tetapi banyak kali. Ini menjadikannya sangat sulit bagi orang–orang ini untuk menikmati hari-hari akhir mereka dengan kedamaian atau kebahagiaan. Bagaimana pun juga dari ayat diatas, kita dapat belajar bahwa para pencuru yang mencuri, mencoleng, dan juga memukul penduduk yang tidak berdosa/bersalah demi kesenganga sendiri berakhir di Sandamsa. Para criminal demikian mungkin bisa lolos dari hukum setempat, tetapi mereka tidak akan pernah lolos dari hukum alam yang ditetapkan oleh Tuhan. Pada waktu kematian, criminal-kriminal demikian itu dengan segera diseret oleh tentara Yamaraj dan dihukum dengan mengupas kulit mereka dengan jepitan besi panas. Jika semua pencuri tahu nasib seperti demikian menantinya setelah kematian atas penderiataan yang ia timbulkan pada yan glainnya, dia tidak akan melanjutkan kegiatan semacam itu

“Seorang laki-laki atau wanita yang terlibat dalam hubungan seksual dengan pasangan tak sahnya, dihukum setelah kematian para asisten Yamaraj di neraka yang bernama Taptasurmi. Disanalah laki-laki dan wanita yang demikian dipukul dengan cambbuk. Sang laki-lki dipaksa untuk memeluk besi merah panas yang berbentuk wanita. Dan yang wanita dipaksa untuk memeluk bentuk yang serupa namun laki-laki. Itulah hukuman bagi seks yang tak sah.” (bhag.5.26.20)

Hukuman-hukuman di planet-planet neraka kedengarannya sangat kejam, namun seseorang menjadi kapok dan menyesal dengan menderita sambil megningat kegitatang-kegiaanberdosa masa lalunya. Seseorang seperti itu mungkin masih membawa pendeianyang mendalam di dalam bawah sadar mereka di kehidupannya kemudian dan akan menahan dari kegiatan yang sama di masa mendatang.

“Di wilayah Yamaraj ada ratusan dan ribuan planet-planet neraka. Orang-orang tidak saleh seperti yang telah saya sebutkan-dan yang tdak saya sebutkan—semuanya harus masuk ke berbagai planet-planet ini sesuai dengan tingkat ketidak-salehan mereka. Mereka yang saleh, bagaimanapun juga, memasuki sistem planet yang lain, yaitu planet planet para dewa, baik yang saleh maupun yang tidak saleh, kedua-duanya lagi dibawa kebumi setelah segala pahala dari kegiatan saleh atau tidak saleh mereka habis.” (bhag.5.26.37)

Dari ayat ini, kita dapat mengerti bahwa neraka bukalah sebuah tempat dmana dihukum secara abadi setelah kematian. Hanyalah reaksi bagi kegiatan-kegiatan tertentu yang keji. Namun sesuai dengan intensitas penderitaan, maka seolah-olah keliatannya kekal/abadi. Setelah reaksi atas segala kegiatan2 habis terpakai, orang itu umumnya kembali memasuki atmosfer bumiuntuk memulai lagi. Kemudian dia dapat melanjutkan mengembara lagi ke berbagai tingkat sistem planet, atau berbagai spesies kehidpan, sampai secara bertahap, ia mengalami berbagai aspek keberadaan material, dari paling bawah sampai planet-planet surga atas surga. BAGAIMANA pun juga, kita harus mengetahui bahwa mengembari terus menerus ke berbagai sistem planet/kehidupan, atau ke berbagao speseis kehidupanm, bukanlah caranya untuk mendapatkan kebahagian sejati. Kebahagian yang selalu kita rindukan berada diluar kurungan alam material ini bak dari atas sampai bawah, atau surga neraka-yang bersifat sementara di dunia ini.

Sumber: Unknow (Dikutip dari file Virabhadra Prabhu)

http://narayanasmrti.com/2011/03/22/uraian-mengenai-surga/

Nilai-Nilai Universal Hindu Dalam Budaya Jawa

Nilai-Nilai Universal Hindu Dalam Budaya Jawa

Nilai-nilai Universal Hindu Dalam Budaya Jawa

Oleh: Wawan Yulianto

I. PENDAHULUAN

Modernitas dengan segala gemerlap materialismenya telah membawa manusia pada dunia metropolitan yang menawarkan banyak pilihan hedon, di mana kesenangan bukan lagi sebagai hobi dan pelampiasan nafsu estetis semata melainkan telah menjadi tujuan hidup. Apapun usaha dihalalkan demi tercapainya hasrat, pangkat, bahkan syahwat. Alasannya meningkatkan harkat, martabat, dan akhirat,  tetapi sesungguhnya hanya mengumbar nafsu maksiat. Inilah zaman kali yuga atau menurut orang Jawa disebut zaman Kalabendu, zaman edan. Zaman Edan menggambarkan sebuah kekacauan dunia dimana semua manusia terjangkit penyakit “gila”, ada yang gila harta, gila tahta, gila wanita, dan kegilaan-kegilaan lainnya. Siapapun yang tidak ikut “gila” maka dia tidak akan kebagian (yan ora melu ngedan mundak ora keduman). Demikianlah gambaran kekacauan yang ditawarkan oleh modernitas dan percaturan global dewasa ini.

Kemajuan pesat di dalam bidang ilmu pengetahuan, sains, dan tekhnologi tidak disertai dengan hal yang sama dalam bidang kehidupan moral, etika, dan spiritualitas. Bahkan, bidang ini semakin rapuh dibawa arus materialisme, hedonisme, pragmatisme peradaban modern. Hal ini tercermin dengan semakin renggangnya rasa kebersamaan, keakraban, nasionalisme, upaya-upaya memajukan kepentingan dan ketertiban umum, pelanggaran nilai-nilai sosial, etika, agama terjadi hampir di semua belahan dunia. Bahkan, yang sangat memalukan adalah negara-negara yang diakui religius, ternyata tingkat korupsinya sangat menonjol. Mengenai hal ini S. Radhakrishnan (1987: 9) mengatakan bahwa kemanusiaan sekarang ini mengalami krisis terbesar sepanjang sejarah umat manusia.

Akan tetapi di tengah-tengah semua kekacauan dan carut marut dunia ini, orang Jawa telah memiliki optimisme bahwa seberuntung apapun orang yang tenggelam dalam kegilaan-kegilaan duniawi akan lebih beruntung orang yang tetap eling dan waspada (sabegja-begjaning wong lali isih begja wong kang eling lan waspada). Ketika tujuan hidup manusia (purusa artha) dicapai tidak berdasarkan dharma maka semuanya akan hancur karena dharmalah satu-satunya yang akan memberikan kebahagiaan sejati. Demikianlah Hindu mengajarkan kepada umatnya “satyam eva jayante” (kebenaran akan selalu menang) dan “dharma raksatah-dharma raksitah” (siapa yang menjaga dharma akan dijaga oleh dharma). Dalam pepetah Jawa dikatakan “jaya-jaya wijayanti, sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” (jayalah orang yang selalu berbuat kebenaran, karena kebenaran akan menghancurkan semua sombongan dan keangkuhan).

Rupanya, falsafah dan budi pekerti orang Jawa tidaklah bertentangan dengan nilai-nilai universal etika Hindu. Inilah yang akan dibahas dalam makalah singkat ini, yaitu bagaimana nilai-nilai universal etika Hindu diterjemahkan dan diaplikasikan dalam etika dan kebudayaan Jawa. Dengan memahami ini maka tidak ada lagi keraguan bahwa Hindu telah menanamkan dasar yang kuat dalam kehidupan orang Jawa.

II. PEMBAHASAN

a. HINDU DAN KEJAWEN

Saat ini banyak orang berpandangan bahwa kejawen adalah hasil perpaduan antara tradisi Hindu, Budha, Islam dan kebudayaan asli Jawa. Hal serupa juga diungkapkan oleh Herusatoto (2003: 65) bahwa kejawen adalah bukanlah agama, melainkan kepercayaan yang lebih tepat disebut pandangan hidup atau filsafat hidup orang Jawa. Filsafat hidup Jawa ini terbentuk karena perkembangan kebudayaan Jawa yang dipengaruhi filsafat Hindu dan filsafat Islam. Akhirnya tradisi Jawa, Hindu, tasawuf/mistikisme Islam dan agama melebur menjadi satu, dalam alam pikiran orang Jawa.

Berbeda dengan hal itu, Neils Mulder (dalam www.jawapalace.org, 26 Desember 2006) menyatakan bahwa kejawen adalah pandangan hidup orang Jawa yang menekankan ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan, sikap nrima terhadap segala peristiwa yang terjadi sambil menempatkan individu di bawah masyarakat dan masyarakat dibawah semesta alam. Niels Mulder memperkirakan unsur-unsur ini berasal dari masa Hindu-Budha dalam sejarah Jawa yang berbaur dalam suatu filsafat, yaitu sistem khusus dari dasar bagi perilaku kehidupan. Oleh sebab itu tidaklah berlebihan rasanya mengatakan bahwa Hindu dan Buddha-lah yang sesungguhnya telah meletakkan dasar-dasar falsafah dan pandangan hidup orang Jawa.

b. BUDI PEKERTI JAWA

Budi pekerti Jawa dibangun di atas pondasi kebersamaan dan kegotong-royongan, sikap hidup nrimo, mengutamakan ketentraman batin, tunduk pada norma-norma yang berlaku di masyarakat, dan hidup serasi dan selaras dengan alam. Hal ini semakin memperkuat keyakinan bahwa etika orang Jawa dibangun oleh nilai-nilai universalitas etika Hindu.

Etika seringkali hanya dipahami sebagai aturan tingkah laku dalam kehidupan bermasayarakat, bagimana manusia berperilaku terhadap manusia lain. Dalam pengertian yang sebenarnya hal itu disebut etiket, bagian dari etika. Sedangkan etika sendiri tidak hanya berbicara etiket, melainkan juga berbicara moralitas, hal-hal mendalam tentang etika, hakikat dari etika. Demikian halnya dengan Etika Hindu yang memaknai etika tidak saja dalam hubungan antara sesama manusia, melainkan juga sebagai landasan hidup spiritual.

Ranah etika Hindu dapat dipahami adalah Tri Hita Karana, yaitu parahyangan, pawongan, dan palemahan. Parahyangan berarti hubungan manusia dengan Tuhan yang diwujudkan melalui jalan catur marga. Dalam kehidupan orang Jawa, hal ini diwujudkan dengan sebuah kesadaran awal, yaitu narimo ing pangdum (menerima apapun telah diberikan Tuhan). Sebuah keyakinan bahwa segala yang ada dalam kehidupan ini telah digariskan oleh Tuhan, manusia hanya bisa menerima dan terus berusaha dan berdoa. Orang Jawa, demikian pula Hindu mengajarkan bahwa setiap orang yang lahir telah dibekali dengan kualitas atau potensi sendiri-sendiri yang harus dikembangkan selanjutnya dalam kehidupan yang lebih nyata. Oleh karena semua ini ditentukan oleh Tuhan melalui hukum karmanya, maka manusia diharuskan untuk selalu ber-karma (bertindak) sesuai dengan dharma, dan semua karma itu dilakukan sebagai persembahan (yajna) kepada Tuhan. Dalam kaitannya dengan etika, bahwa setiap tindakan etika harus dilaksanakan dengan kesadaran penuh sebagai persembahan kepada Tuhan. Bahkan dalam yoga sutra patanjali diajarkan bahwa etika adalah dasar spiritual Hindu, yaitu Panca Yama Brata, meliputi ahimsa (tidak menyakiti/membunuh), satya (berperilaku bajik), asteya (tidak ingin milik orang lain atau tidak mencuri), brahmacarya (tidak melakukan hubungan seks), dan aparigraha (menolak pemberian yang tidak perlu, hidup sederhan dan tidak serakah) dan Panca Nyama Brata, meliputi sauca (murni dan suci diri), santosa (kepuasan batin), tapa (tahan terhadap segala ujian dan godaan), svadhyaya (mempelajari ajaran ketuhanan), dan isvarapranidhana (bhakti kepada Tuhan).

Pawongan berarti keharmonisan hubungan manusia dengan manusia lainnya. Dalam hal ini Hindu mengajarkan bahwa etika harus dilakukan berdasarkan tri kaya parisudha, yakni pikiran (manah), perkataan (wak), dan tindakan (kaya). Ini berarti etika Hindu menekankan pada internalisasi nilai etika, bukan sekedar dramaturgi atau topeng sahaja. Dalam Sarasamuccaya, 79 dijelaskan bahwa pikiranlah yang menentukan segala perkataan dan perbuatan. Oleh karena itu pikiran yang harus diusahakan selalu adalah tidak menginginkan milik orang lain, kasih sayang terhadap semua makhluk, dan percaya pada hukum Karmaphala. Dalam budi pekerti Jawa hal ini diterjemahkan dalam terminologi ojo demen darbeking wong liyo (jangan menginginkan milik orang lain), welas asih marang sesomo (cinta kasih pada sesama), ngunduh wohing pakarti, sopo kang nandur bakal ngunduh (bahwa setiap perbuatan yang dilakukan akan mendatangkan hasil, siapa yang menanam pasti akan memetiknya).

Sedangkan perkataan dikatakan sebagai pedang yang paling tajam dan menunjukkan harga diri dan jati diri seseorang. Dalam ungkapan Jawa dikatakan “ajining diri saka lati, ajining raga saka busana” (harga diri seseorang ditentukan oleh lidahnya (ucapannya), harganya tubuh ditentukan oleh pakaiannya (pakaian di sini sesungguhnya menunjuk pada harta dan tahta)). Dalam Hindu (Nitisastra) diajarkan bahwa dari perkataan orang mendapatkan suka dan duka, dari perkataan orang juga mendapatkan teman atau musuh, bahkan kematian. Perkataan yang harus dikendalikan menurut Sarasamuccaya 75, antara lain (1) tidak berkata-kata kasar; (2) tidak mencaci maki; (3) tidak menfitnah; (4) tidak ingkar janji.

Perbuatan demikian juga halnya pikiran dan perkataan adalah satu kesatuan dalam membentuk prilaku Etika Hindu secara utuh. Dalam Etika Jawa ada sebuah ungkapan yang menjadi dasar perbuatan, yaitu “yen loro dijiwit yo ojo njiwit” (kalau merasa sakit dicubit janganlah kau mencubit). Ini sejalan dengan makna “tat twam asi” bahwa jiwa setiap makhluk adalah sama, oleh karenanya semua makluk adalah saudara (vasudewa kutumbakam) sehingga menyakiti orang lain sama dengan menyakiti diri sendiri. Hindu dan juga orang Jawa mengajarkan bahwa setiap perbuatan harus diukur dari dampak suatu perbuatan jika menimpa pada dirinya sendiri. Jika orang lain melakukan perbuatan yang menyakiti kita, demikian sebaliknya jika kita melakukan perbuatan serupa kepada orang lain. Sarasamuccaya 76 mengajarkan perbuatan-perbuatan yang tidak layak dilakukan, yaitu membunuh (himsa karma), mencuri/mengambil hak milik orang lain (asteya), dan berbuat zina/ prilaku seks menyimpang (gamya gamana). Keseluruhan aspek in dirumuskan dalam satu pepatah Jawa “Ojo Dumeh” yang bermakna jangan karena merasa diri mampu lalu berbuat semena-mena. Ada beberapa ungkapan “ojo dumeh” sebagai berikut:

–       Ojo Dumeh pinter terus keminter (jangan karena merasa pintar lalu sok pintar).

–       Ojo Dumeh sugih terus siyo marang wong ringkih (jangan karena merasa diri kaya lalu kejam pada orang yang miskin)

–       Ojo Dumeh kuoso terus daksiyo marang kawulo (jangan karena berkuasa lalu sewenang-wenang pada rakyat).

Palemahan adalah bagaimana hubungan manusia dengan alam sekitar atau lingkunganya. Alam semesta adalah kamadhuk, pemberi segala kebutuhan manusia. Dalam kebudayaan Jawa, hal ini diceritakan dalam sebait lagu “katawang ibu pertiwi”, sebagai berikut:

ibu pertiwi, Ibu Pertiwi

paring boga lan sandang kang murakabhi, Memberi makan dan sandang

yang cukup.

Asih mring sesami manusa kang bekti, Kasih kepada semua manusia

yang berbakti.

ibu pertiwi, mrih susetyo ing sesami, Ibu pertiwi, berlakulah adil

pada semua makluk.

ayo sujud mring ibu pertiwi” Mari bersujud pada ibu pertiwi.

 

Hanya dengan menjaga keseimbangan dan keserasian alam semesta maka kebahagiaan hidup manusia dapat tercapai (jagadhita)

 

III. SIMPULAN

  • Kejawen atau pandangan hidup orang Jawa sesungguhnya dibentuk berdasarkan dari agama Hindu dan Buddha.
  • Nilai-nilai universal etika Hindu rupanya telah meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam budi pekerti Jawa.
  • Ranah Etika Hindu adalah parahyangan, pawongan, dan palemahan. Pada dasarnya ketiganya adalah keharmonisan yang harus diusahakan demi tercapainya kebahagiaan hidup jasmani dan rohani manusia. Sedangkan aspek etika Hindu adalah pikiran (manah), perkataan (wak) dan perbuatan (kaya).
  • Ketiganya juga menjadi dasar-dasar budi pekerti Jawa yang mengutamakan ketentraman batin, kebersamaan, hidup selaras dan harmonis dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, serta tunduk pada hukum alam semesta dan menjaga alam semesta beserta isinya. Bahwa etika Jawa menekankan pada keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan lingkungannya, sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana.


DAFTAR PUSTAKA :

Endraswara, Suwardi. 2003. Budi Pekerti dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita.

Gorda, I Gusti Ngurah, 1996. Etika Hindu dan Perilaku Organisasi. Singaraja: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Satya Dharma.

____________, 2004. Membudayakan Kerja Berdasarkan Dharma. Singaraja: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Satya Dharma.

____________, 2006. Etika Hindu: Materi Kuliah Etika Hindu. Denpasar: Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan UNHI Denpasar.

Gunadha, Ida Bagus. 2003. Refleksi Nilai-Nilai Etika Hindu Dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan, Sains dan Teknologi: Pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Etika Hindu. Denpasar: Universitas Hindu Indonesia.

Herusatoto, Budiono, 2003. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita.

Kajeng, I Nyoman. 2000. Sarasamuccaya. Surabaya: Paramita.

Mulder, Neils. 2006. Kebudayaan Jawa dalam www.jawapalace.org.

sumber :

http://narayanasmrti.com/2011/03/26/nilai-nilai-universal-hindu-dalam-budaya-jawa/

Ramalan Nabi Muhammad dalam Veda?

Om Svastyastu,,

Salam kasih dan sejahtera untuk kita semua,

 

 

Dalam suatu kesempatan saya mendapatkan artikel yang menarik untuk di bahas,artikel ini saya dapatkan dari blog ini dan ini,dimana didalam artikel tersebut membahas mengenai “ramalan Nabi Muhammad dalam Weda” meskipun sudah banyak  bantahan mengenai klaim yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Kalki Avatara namun ada baiknya kita bahas sedikit,berikut beberapa klaim yang di keluarkan oleh admin blog itu,,

 

Pada  blog yang pertama ,kata pembukaan  Di awali dengan kata  yang begitu “MANIS” yakni :

KEBOHONGAN HINDU
(A MILLION BULLSHITS OF HINDUISME)

Sebagaimana klaim orang2 kafir dari golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) terhadap Alkitab, orang2 kafir dari golongan musyrik Hindu juga mengklaim bahwa Kitab Weda adalah kitab yang bersifat universal, karenanya mereka pun berusaha memperkenalkan ajaran Weda kepada setiap orang.

Sungguh, suatu klaim yang tak berdasar. Orang2 Hindu tampaknya lebih mementingkan ego terhadap ajaran agamanya yang sebenarnya merupakan warisan tradisi leluhur secara turun-temurun yang tidak jelas. Secara kasat mata saja, kita bisa melihat bahwa praktek2 ibadah Hindu adalah praktek2 kepercayaan kuno yang tidak mungkin disebut universal.

Berkaitan dengan ketidakuniversalan Hindu dan Weda ini, Gotama Smarti berkata:  “Apabila orang Sudra kebetulan mendengarkan Kitab Weda dibaca, maka adalah kewajiban raja untuk mengecor cor-cor timah dan malam dalam kupingnya; apabila seorang Sudra membaca mantra-mantra Weda, maka raja harus memotong lidahnya, dan apabila ia berusaha untuk membaca Weda, maka raja harus memotong badannya.” (Gotama Smarti:12).

Jelaslah, bahwa Kitab Weda yang diklaim Hindu sebagai kitab universal itu, ternyata hanyalah sebuah kitab untuk golongan tertentu saja, yang sekaligus membantah dugaan keuniversalannya.

 

Hem,kata orang fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan.betul gak?

Saya akan coba luruskan mengenai sloka gotama smrti yang telah di”fitnah”kan kepada kami,berikut sloka aslinya :

 

(Gotama Smerti; 12)

“Wedam upa srnwatas trapu jatubhyam srotra prati purana udaharane jihwac chedo dharane sarira bheda asana sayana wak pathisu sama prepsur dandyah satam”

yang artinya:
“Bagi warna sudra (para pekerja) yang ingin mempelajari Weda, supaya berhasil dengan baik yakni dengan mendekatkan pendengarannya mulai dari awal pengertian-pengertian, bahasa dan ucapannya dengan menutup pengaruh dari luar, badan duduk dengan tenang (asana) ditempat belajar dan ucapan diulang-ulang terus menerus sampai akhir.”

Sudah kita lihat bagaimana fitnah yang di berikan kepada kitab hindu melalui sloka “bajakan” tersebut. 🙂

 

kutipan Selanjutnya dari klaim tersebut yakni :

Lebih jauh, kitab2 agama Hindu lainnya justru meramalkan kedatangan seorang tokoh yang sangat cocok bahkan sama persis dengan sosok Nabi Muhammad SAW. Berikut ini kami suguhkan beberapa ramalan tentang Nabi Muhammad SAW dalam berbagai kitab agama Hindu:

 

 

Dapat kita lihat bagaimana klaim yang sangat menarik,di satu sisi memojokan agama hindu dan di satu sisi lainnya mencari “pengakuan” dari kitab yg dipojokan tersebut.

Selanjutnya :

 

Dalam Atharvaveda book 20 Hymn 127 Shlokas 1-14 disebutkan tentang Kuntupsuktas yg mengisyaratkan bahwa nabi Muhammad akan terungkap kemudian.

• Mantra 1 mengatakan : ia akan disebut Narasangsa. “Nars” artinya orang, “sangsa” artinya “yg terpuji”. Jadi Narasangsa artinya : orang yg terpuji. Kata “Muhammad” dalam bahasa arab juga berarti : orang yg terpuji. Jadi Narasangsa dalam bahasa Sansekerta adalah identik dg Muhammad dalam bahasa arab. Jadi Narasangsa adalah figur yg sama dg nabi Muhammad. Ia akan disebut “Kaurama” yg bisa berarti : pangeran kedamaian, dan bisa berarti : orang yg pindah (hijrah). Nabi Muhammad adalah seorang pangeran kedamaian yg hijrah dari Makkah ke Madinah. Ia akan dilindungi dari musuh yg akan dikalahkannya yg berjumlah 60.090 orang. Jumlah itu adalah sebanyak penduduk Makkah pada masa Muhammad hidup yaitu sekitar 60.000 orang.
• Mantra 2 mengatakan : ia adalah resi yg naik unta. Ini berarti ia bukan seorang bangsawan India, karena dikatakan dalam Mansuriti(11) : 202 mengatakan bahwa Brahma tidak boleh menaiki unta atau keledai. Jadi tokoh ini jelas bukan dari golongan Brahmana (pendeta tinggi Hindu), tapi seorang asing.
• Mantra 3 mengatakan : ia adalah “Mama Rishi” atau resi agung. Ini cocok dg nabi agung umat Islam yaitu nabi Muhammad SAW.
• Mantra 4 mengatakan : ia adalah Washwereda (Rebb) artinya orang yg terpuji. Nabi Muhammad yg juga dipanggil dg nama Ahmad adalah berarti juga “orang yg terpuji” yg terjemahan bahasa Sansekerta-nya adalah Rebb.

Dalam Atharvaveda book 20 Hymn 127 Shlokas 1-14 disebutkan tentang Kuntupsuktas
Sebelumnya kita koreksi dikit, dalam Sruti disebut Mantra bukan sloka
secara lengkap adalah book 20 hymne 127. 1-14 adalah mantra yang menjelaskan tentang pemujaan Kaurama penderma dari bangsa Rusama (dan saya tau sumber yg dipakai Dr Naik dan Haque adalah terjemahan Ralph T.H. Griffith, [1895] ) namun kitab terjemahan lain juga ada misalnya MAURICE BLOOMFIELD [1897]
oke kita bahas  🙂

Mantra 1 :

Griffith
Listen to this, ye men, a laud of glorious bounty shall be sung.
Thousands sixty, and ninety we, O Kaurama, among the Rusamas have received.

Maurice
Listen, ye folks, to this: (a song) in praise of a hero shall be sung! Six thousand and ninety (cows) did we get (when we were) with Kaurama among the Rusamas,–

Artinya :
Dengarkanlah kalian! Seorang yang layak dipuji akan dipuji-puji. O Kaurama
kami telah menerima di antara para Rushama enam puluh ribu dan sembilan

Bangsa Rusama disebutkan dalam RigVeda sebagai yang kaum dilindungi oleh
Indra, dan pada kesempatan2 lainnya ditunjukkan sebagai sebuah komunitas yang tiada sangkut paut apa2 dengan Mekkah. Kaurama adalah nama lain dari Kaurava, seorang penderma murah-hati dalam komunitas mereka.
( dan ingat Arthavaveda lagi bicara tentang Indra lo disini bukan lagi meramal karena tidak ada ramalan dalam Sruti ) lalu kenapa Narasangsha “yang terpuji” menjadi Hak Paten Nabi Muhammad dan setiap kata yang berarti “yang terpuji” itu pasti merujuk Nabi Muhammad ?
sedangkan
‘narasansha’ yang diterjemahkan sebagai penyanyi, dapat juga berarti seseorang yang sedang memuji. Seseorang yang sedang memuji tidaklah sama dengan ‘yang layak dipuji’. Narasansha tidak sebanding dengan Muhammad.
( klo ada waktu silahkan baca Gopatha Brahmana yang merupakan brahmananya dari arthavaveda, disana kata2 dalam mantra lebih diuraikan artinya )

Mantra 2

Griffith
Twenty camels draw his carriage, with him being also his wives. The top of that carriage or chariot bows down escaping from touching the heaven.

Dua puluh unta menarik gerobaknya, beserta dengannya juga ikut istri2nya.Puncak dari gerobak atau keretanya itu merunduk untuk menghindari dari persentuhan dengan sorga.

Maurice
Whose twice ten buffaloes move right along, touether with their cows; the height of his chariot just misses the heaven which recedes from its touch.

‘dia yang memiliki dua kali sepuluh kerbau maju mengiringi, bersama dengan sapi2 mereka, tinggi dari keretanya hampir saja mencapai sorga yang mengundurkan diri dari sentuhannya

Jadi pertanyaannya adalah adakah ada unta yang digunakan oleh orang INDIA dalam zaman Veda, juga tidak sekalipun dapat anda jumpai mengenai unta dalam kitab2 Hindu yang manapun. Dan ini murni masalah penterjemahan.

Mantra 3

Grifitth
A hundred chains of gold, ten wreaths, upon thee Rishi he bestowed, And thrice-a-hundred mettled steeds, ten-times-a-thousand cows he gave.

Maurice
This one (Kaurama) presented the seer with a hundred jewels, ten chaplets, three hundred steeds, and ten thousand cattle.

Anda lihat kan tidak ada disebutkan Mamahrsi, Kata Sanskrit sebenarnya adalah ‘ahammiddhi’, ‘aham’ berarti “Aku” jadi mamah berarti milikku, ga ada hubungannya kan dengan Muhammad ?

Mantra 4

grifitth
Glut thee, O Singer, glut thee like a bird on a ripe-fruited tree.Thy lips and tongue move swiftly like the sharp blades of a pair of shears.

Maurice
Disport thyself, O chanter, disport thyself as a bird upon a flowering tree; thy tongue glides quickly over the lips as a razor over the strop.

Artinya :
adalah “Berlimpahlah hai penyanyi,berlimpah-limpahlah, seperti seekor burung pada pohon yang berbuah matang”.

 

 

Semua ramalan yg disebut diatas tadi tiada lain merujuk pada nabi Muhammad SAW. Penjelasannya demikian :

• Dirumah Visnuyash berarti dirumah pengikut Vishnu (pengikut Tuhan) sedangkan ayah dari nabi Muhammad adalah bernama Abdullah yg artinya adalah pengikut Allah (pengikut Tuhan). Orang Islam menyebut “Allah” sbg Tuhan, sedang orang Hindu menyebut “Vishnu” sbg Tuhan. Jadi di rumah Visnuyash adalah di rumah Abdullah.
• Summati dalam bahasa sansekerta artinya adalah orang yg sangat setia. Sedangkan ibunda nabi Muhammad adalah bernama Aminah yg dalam bahasa arab artinya juga orang yg setia.

Apakah maksud dari arti kata Ayahanda Kalki (Vishnuyasha sama artinya dengan nama ayahanda Muhammad (Abdullah)? Tidak, Vishnuyasha berarti Pengikut Wisnu, sedangkan Abdulah berarti Pengikut Allah, Kata Allah pada jaman Pra-islam Allah berkonotasi dengan dewa bulan. Pada jaman sebelum islam orang Arab menyembah dewa(i). Di Mekah, “Allah” adalah dewa tertinggi bangsa Quraish, sukunya Nabi. Allah memiliki 3 puteri: Al Uzzah (Venus); Manah, dewi nasib dan Al Lat, dewi tumbuh2an.

Kutipan:

• Sambala bahasa arabnya adalah tempat yg aman & damai. Nabi Muhammad dilahirkan di Makkah yg terkenal dg nama “Darul Aman” yaitu tempat yg aman & damai. Akan lahir diantara kepala suku Sambala, artinya bahwa nabi akan lahir diantara kepala suku di Makkah.

 

Apakah Ayahanda Muhammad kepala suku, atau keluarga kaya atau keluarga terpandang? Tidak, Muhammad bukanlah orang kaya, bukan anak kepala suku dan bukan dari keluarga terpandang, ia lahir di Bakka (Quran 3:96) dan kemudian dikenal sebagai Mekah. Suku Quraish adalah penghuni aslinya, mengingat fakta bahwa suku merekalah yg memiliki kontrol atas pengawasan dan ritual religius dari rumah Tuhan tsb.
Anggota2 dari suku Quraish terdiri dari tiga kelompok. Satu adalah kelompok pendeta, yg mengontrol rumah Tuhan dan mendapatkan pemasukan dari para peziarah. Kelompok kedua terdiri dari sejumlah kecil orang Quraish yg melakukan perdagangan. Kelompok ketiga adalah yg paling besar, dan terdiri dari mereka yg menopang hidupnya dg menyediakan air dan pelayanan2 lain bagi para peziarah.
Pekerjaan ini tidak menjamin pemasukan yg tetap bagi mereka; ketika mereka menerima peziarah dalam jumlah yg banyak, mereka mendapat pemasukan yg besar, tapi ketika jumlah peziarah kecil pendapatan merekapun kecil. Orang2 ini spt pekerja zaman kita sekarang; mereka dibayar kalau ada pekerjaan. Lebih dari 1400 tahun yg lalu, tinggal di Mekah seorang laki2 bernama Abdullah. Dia termasuk kelompok ketiga dari kaum Quraish. Istrinya bernama Aminah. Karena dia tidak mempunyai pendapatan yg tetap, keuangan rumah tangganya selalu kempas kempis. Seringkali keduanya harus tidur tanpa makan..

Kutipan:

• Kalki Dilahirkan pada tanggal 12 di bulan pertama Madhop. Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 rabiul awal

Kalki Avatara akan muncul didunia pada kisaran 352.981 Masehi atau tahun 424.981
Dengan penjelasan :

Kalki Avatara itu akan hadir pada akhir jaman Kaliyuga dan Awal jaman Krta yuga/Satya Yuga. Sehingga pertanyaan berikutnya adalah kapan sih itu dalam perhitungan tahun masehi?

Permulaan jaman kali yuga adalah saat meninggalnya Krishna Avatara yaitu di tahun 3102 BC dan berapa panjangkah jaman kali yuga itu?

Dalam teks-teks hindu dikatakan bahwa panjang jaman kali yuga adalah antara 360.000 tahun (Brahmanda Purana 1.2.29.31-34) dan 432.000 tahun (Perhitungan yang didasari dari Vishnu Purana (Book One, Chapter Three), the Srimad-Bhagavatam (3.11.19), juga dengan Bhagavad-gita (8.17), Vayu Purana (Chapter 57) dan Shanti Parwa( 231))

Kalky avatar lahir pada bulan Baisakha 12 hari setelah bulan penuh (purnama), berarti 12 hari setelah tanggal 14/15 yaitu tanggal 26/27 akhir bulan Baisakha.
Sementara itu kepastian tanggal lahir Muhammad pun tidak diketahui saat dulu maupun sekarang. Pendapat para Ulama berbeda-beda dalam hal ini. Phillip K. Hitti berkata bahwa dia dilahirkan sekitar 571 AD (History of the Arabs, hal 111). Abdullah Yusuf Ali berkeras, “tahun yg selalu diberikan utk kelahiran sang Nabi adalah 570 AD, meski tanggalnya harus dikira-kira, jadi angkanya adalah antara 569 dan 571, kemungkinan batas paling ekstrim.” (Quran, V.2, hal 1071).
Walau tahun kelahirannya Muhamad misterius, Muslim tetap menetapkan bahwa dia lahir dijam2 awal pada hari Senin, hari ke-29 bulan Agustus, 570 AD (Lihat Ghulam Mustafa, Vishva Nabi, hal 40). – Sebuah perayaan yg mereka rayakan dg pawai riuh. Namun faktanya tetap: tahun kelahiran Muhamad tidak ditetapkan berdasarkan bukti2 sejarah yg dapat dipercaya. Perayaan kelahiran Muhammad, dengan begitu, ini tidak berdasarkan sumber2 kuat Islam namun hanya berdasarkan tradisi.

Kutipan:

• Dia akan memperoleh bimbingan di atas gunung dan akan kembali lagi ke arah utara. Nabi Muhammad memperoleh wahyu pertamanya di gua Hira di Jabal Nur. Jabal Nur artinya Gunung Cahaya lalu kembali lagi ke Makkah.

 

Kalki dibimbing oleh gurunya bernama Ram digunung mahendra. Dan tidak ada disebutkan bahwa gurunya adalah utusan Tuhan dan tidak pula disebutkan bahwa Kalki atau Gurunya tinggal di Goa tapi di atas gunung.

Kutipan:

• Dia akan diberi kendaraan yg sangat cepat oleh Shiva. Nabi Muhammad juga diberi bouraq yg sangat cepat oleh Allah yg membawanya ke langit dalam peristiwa Mi’raj.
• Dia akan naik kuda putih dg tangan kanannya memegang pedang. Nabi Muhammad juga ambil bagian dalam peperangan termasuk dg menunggang kuda dan bertempur dg memegang pedang dg tangan kanannya.

 

Apakah Muhammad diberi bouraq oleh Shiva ) just kidding ? 🙂

Apakah Muhammad mempunyai kuda putih sebagai tunggangannya setiap saat? Tidak, Ia tidak mempunyai tunggangan yang sama yang dipakainya setiap saat dan tidak pernah tercatat bahwa Muhammad mempunyai kuda berwarna putih sebagai tunggangannya.
Apakah Buraq adalah Kuda putih? Tidak, Buraq adalah suatu mahluk menyerupai hewan berwarna putih berbadan lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari Bagal (MuslimBook 001, Number 0309, Buchari, Vol 5, Book 58, Number 227 bermuka Manusia dan berekor merak (The Haj, Leon Uris’s dan Gambar Buraq dari literatur abad 16). Buraq tidak ditunggangi Muhammad setiap saat namun hanya satu kali yang konon terjadi pada peristiwa Isra’ Mir’aj [AQ 17:1; Bukhari vol 9, buku 63 no.608; Tisdal, W., “Original Sources of Islam”, hal. 78] pada tanggal 27 Rajab tahun ke-11 kerasulan Muhammad. Buraq tidak pernah disebut dalam Al Qur’an dan hanya muncul di Hadis sahih Muslim dan Buchari dan itupun tidak pernah disebutkan sebagai Kuda berwarna putih. Peristiwa Isra’ Miraj menyatakan.
Sementara Kalki dikisahkan bersenjatakan Petir(Bajra) yang menyerupai Pedang yang dapat menghanguskan sebuah Kota (ini lebih menyerupai senjata masa depan daripada sebuah pedang jaman dulu) Kalki Purana, III[7], Verses 9 & 10
Apakah Muhammad diceritakan memiliki pedang yg dapat menghancurkan sebuah kota?

Kutipan:

• Dia akan dibantu oleh 4 sahabat dalam menyebarkan misi. Kita tau ada 4 orang khalifah sahabat nabi yaitu : Sayyidina Abubakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
• Dia akan ditolong oleh malaikat di medan pertempuran. Dalam perang Badr nabi Muhammad dibantu oleh para malaikat Allah spt tersebut dalam QS. Ali Imran (3) ayat 123 & 125 : “Jika kamu bersabar dan bertaqwa dan mereka menyerang kamu dengan seketika itu juga niscaya Allah menolong kamu dengan 5000 malaikat yg memakai tanda”. Juga QS. Al-Anfal(8) ayat 9 yang berbunyi “…. sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yg datang berturut-turut.”

5000 atau 1000  malaikat?

Oh ya nih ada yang belum terungkap dari Kalki Purana :

Kalki, the annihilator of Koli forgot his mission and stayed there happily in that home (in Shambhala) for many years…Padma gave birth to two sons named Joy and Vijoy who were powerful and famous.

~ Kalki Purana, II[6], Verses 32 and 36

Apakah Istri Muhammad ada yang bernama Padma? Tidak, Selain dari Khaddijah, istri-istri Muhammad lainnya adalah Saudah, Aisyah, Hafshah, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah, Juwariyah, Zainab binti Jahsyi(Mantan istri anak angkat Muhammad-Zaid ibn Haritsah), Raihanah(Budak milik Muhammad), Syafiyyah, Maemunah, Maria Qibthiyyah(budak milik Hafshah), Arkian dan masih banyak lagi(Sumber:Biografi Rasullulah, Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad, Penerbit Qisthi press, Januari 2006, hal.887: Seandainya Rasulullah s.a.w berkehendak untuk memiliki ribuan budak perempuan dan selir, tentu saja Rasulullah s.a.w. tidak akan mengurangi haknya untuk mengambil hal tersebut. Apalagi….)

Apakah Muhammad mempunyai banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh? Tidak, Semua anak laki-lakinya telah mati muda, Dari Khadijah (Qasim dan Abdullah) meninggal selagi bayi, dari Budaknya Maria al-Qibthiya (Ibrahim) meninggal saat usia 4 tahun. Yang tersisa hanya berasal dari putrinya Fatimah yang menikah dengan Ali (Hasan dan Husain) yang juga tewas sekeluarga dibantai pada masa Bani Umayah dan Bani Abbas.

 

 

 

Apakah Avatar / Awatara itu????

Mungkin teman-teman kita yang muslim masih bingung mengenai apa itu avatar/awatara,,
Awatara atau Avatar (Sansekerta: अवतार, avatāra, baca: awatara) dalam agama Hindu adalah inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa ke dunia dengan mengambil suatu bentuk material, dalam tujuan menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kejahatan dan menegakkan dharma seperti yang dikatakan dalam Dalam Bhagawad Gita:

“Yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata abhyutthānam adharmasya tadātmanam srjāmy aham paritrānāya sādhūnām vināśāya ca duskrtām dharma samsthāpanarthāya sambavāmi yuge yuge” (Bhagavad Gītā, 4.7-8)

artinya :
manakala kebenaran merosot dan kejahatan merajalela, pada saat itulah Aku akan turun menjelma ke dunia, wahai keturunan Bharata (Arjuna)

Jadi Ia adalah Tuhan yang Turun kedunia untuk menegakkan kebenaran dan menyelamatkan dunia dari kejahatan dari zaman ke zaman

lalu siapa Muhammad ?
Apakah Muhammad adalah Tuhan? Tidak, Muhammad adalah seorang utusan Tuhan. Sedangkan Kalki Avatara adalah Tuhan
kalimat Syahadat (maaf klo salah tulis)
” Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah Rasul / utusan Allah. ”

 
saya harap tulisan yang sedehana ini bisa membantu pembaca sekalian,

Om santhi,santhi,santhi Om

Semoga damai di hati,didunia dan damai selamanya.

 

Rujukan yang  sejenis bisa di jumpai disini,disini,disini, disini dan disini

Sumber tulisan :

http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=194497