Tag Archives: Ajaran

Apa Itu TriWarga???

Apa Itu TriWarga???

Om Isvaraya namo namah

Ajaran Agama Hindu di dalam kitab suci Weda mengajarkan tuntunan hidup rohani yang luhur dengan dengan tujuan untuk mendapat moksa  dan jagaddhita  yang disebut TriWarga,Triwarga terdiri dari kata sansekerta tri dan warga .Tri berarti tiga dan Warga bearti bagian.jadi TriWarga berarti  tiga bagian ajaran rohani untuk mendapatkan Moksa dan Jagaddhita.

Dalam bahasa indonesia moksa dapat diterjemahkan sebagai kelepasan,atau bebasnya roh/atma dari dosa,kehidupan abadi di akherat,menunggalnya Roh dengan Tuhan.

Sedangkan jagaddhita diterjemahkan sebagai kemakmuan,kebahagian,kesejahteraan umat manusia,kelestarian,kedamaian dunia.

TriWarga terdiri dari Artha,Kama dan Dharma :

1.Kama

Kama dapat diterjemahkan sebagai naluri,nafsu,dan keinginan.adapun naluri yang sangat kuat mempengaruhi jiwa makhluk hidup terutama pada manusia,yaitu lapar,dahaga dan nafsu birahi.

2.Artha

Artha dapat diartikan sebagai benda atau sarana yang dapat memuaskan naluri,terutama naluri lapar,dahaga,dan nafsu birahi.bila kita lapar,kita harus makan.apa  yang harus kita makan ? makanlah sesuatu yang dapat memuaskan rasa lapar anda yaitu nasi,sayur dll.begitu juga dengan dahaga dan nafsu birahi.

3.Dharma

Dharma berarti ajaran-ajaran kerohanian dan budi pekerti dari agama sebagai kasih sayang terhadap yang papa dan menderita,adil,melindungi,rasa bersahabat,mengampuni ,simpati,terhadap semua dan sebagainya.untuk mendapat ”jagaddhita” yaitu kebahagian dan kesejahteraan umat manusia,hidup aman dan damai dan sebagainya.

Hanya melalui ajaran kerohaniandan kesusilaan agama yang disebut dharma seseorang akan dapat mencapai tujuan hidup yang tertinggi yaitu kebebasan atman/roh dari penderitaan hidup duniawi,bebasnya roh dari dosa,kebahagiaan rohani dalam wujud ketentraman Illahi,menunggalnya roh dengan Tuhan,Roh Yang Maha Agung (panunggaling kawula lan gusti) yang dikenal dengan Moksa dalam Agama Hindu.

Sloka terkait mengenai ajaran TriWarga :

Dharmathakamamoksanam

Sariram sadhanam

(Brahma purana,228.45)

Tubuh adalah sarana untuk mendapatkan Dharma (kerohanian dan kesusilaan),artha (sarana hidup duniawi dan harta benda),kama (naluri,nafsu,dan keingginan) dan moksa (kelepasan roh dari penderitaan duniawi serta kehidupan abadi di akherat).

 

 

Prabhavarthaya bhutanam

Dharmapravacanam krtam

Yah syat prabhavasamyuktah

Sa dharmah iti niscayah

(santiparva 109.10)

(segala)kegiatan demi kesejahteraan dan kebahagian semua mahluk itu disebut dharma.tiada disangsikan lagi apapun yang bertalian dengan kesejahteraan untuk sesamanya itulah dharma.

 

 

Dharmamulah sadaivarthah

Kamarthaphalamucyate

(santiparva,123.4)

Walaupun atha (kebutuhan harta benda)untuk kama (nafsu,keinginan) namun artha harus selalu bersumber pada Dharma(kerohanian,kebenaran)

 

 

Dharma eva plava nanyah

Svargam samabhivam ca tam

Sadhanor vanijas ca tam

Jaladheh param icchatah

(sarasamusccaya 14)

Dharma itu adalah suatu sarana untuk mencapai surga,bagaikan perahu menjadi sarana bagi pedagang untuk menyeberang samudra

 

 

Wadapramamanakah sreyah

Sadhanam dharmah

(manusamhita.1)

Dharma (disebut) didalam ajaran suci veda sebagai jalan untuk mencapai kebahagian dan kesempurnan

 

 

Dharmo dharmanubandhartho

Dharmo matmarthapidakah

(brahma purana 221.16)

Dharma terikat erat dengan artha.dan dharma tidak menentang artha

(tetapi mengendalikan untuk kebahagiaan dan kesejahteraan/kedamaian  makhluk hidup )

 

Ajaran Agama Hindu pada umumnya membagi dharma (ajaran rohani dan kesusilaan) menjadi enam bagian yakni :

1.sila : kebajikan atau kesusilaan

2.yajna :persembahan atau pengorbanan.amal untuk       kesejahteraan orang banyak

3.Tapa : tapa,tahan uji dalam segala keadaan

4.wrata :menghindari kehidupan duniawi yang berlebihan,hidup sederhana,suka berpuaasa.

5.Yoga :memusatkan pikiran dan hati terhadap Tuhan atau Kekuasaan Illahi dalam wujud cinta bhakti terhadap Tuhan,senantiasa ingat akan nama-Nya yang suci.

6.samaddhi : hati dan roh disucikan dengan melakukan semedhi.

Demikianlah kerohanian,kesusilaan dan kebenaran Agama Hindu yang disebut dengan Dharma,sebagai sarana untuk mencapai kelepasan atma dan kelestarian dunia (moksartham jagaddhita yaca itib dharmah).

Om tat sat

Iklan

PENGHORMATAN PADA ORANG TUA

PENGHORMATAN PADA ORANG TUA

Tidak ada sesuatu yang kekal di dunia ini, demikian para sesepuh mengingatkan kita, segala sesuatu pasti mengalami perubahan. Kecuali Hyang Widhi. Seiring dengan berjalannya sang kala, Pembangunan terus meningkat di berbagai bidang kehidupan. Namun bila kita perhatikan dengan seksama. Ternyata selain kemajuan-kemajuan yang kita dapatkan. Perlahan namun pasti, nilai-nilai luhur budaya dan agama kian hari kian menitipis. Terkikis oleh budaya baru yang disebut modernisasi.

Tidak jarang kita lihat masyarakat menganggap beberapa budaya yang luhur warisan para pendahulu dianggap kuno dan mulai ditinggalkan. Misalnya saja penghormatan kepada orang tua atau guru pengajar. Saat ini sulit sekali menemukan anak murid mengucapkan salam hormat (Om Swastyastu) kepada guru maupun kepada orang tuanya. Kalaupun ada pasti dapat dihitung dengan jari.

Kalo kita lihat kembali kitab suci kita, ternyata banyak sekali sloka-sloka yang mengajari kita untuk selalu memberikan penghormatan kepada orang tua.

Pustaka suci Manawa Dharma Sastra menyuratkan mengenai pahala dari penghormatan kepada orang tua. Pada adyaya II sloka 121 disebutkan sebagai berikut;

“abhi wadanacilasya, nityam wrddhopasewinah, catwari tasya madhante, ayurwidya yaco balam”.

Yang artinya; ia yang sudah biasa menghormati dan selalu taat kepada orang tua mendapatkan tambahan dalam empat hal yaitu umur panjang, pengetahuan, kemasyuran, dan kekuatan.

Bait sloka ini sangat jelas memberi gambaran akan pahala bagi mereka yang taat serta patuh kepada orang tua. Bagi siapapun yang taat dan patuh kepada orang tuanya akan diberikan tambahan berupa umur panjang, pengetahuan, kemasyuran, dan kekuatan. Namun jangan pula sekali-kali melakukan ketaatan dan kepatuhan kepada orang tua karena keinginan untuk memperoleh pahala, sebab penghormatan yang diberikan maupun ketaatan adalah sesuatu yang mutlak dilakukan pada orang tua, karena jasa mereka yang tidak ternilai atas kehidupan kita di dunia ini.

Hal ini dengan tegas dituliskan pula oleh pustaka suci Manawa Dharma Sastra, yaitu adyaya II, sloka 227, adapun bunyinya ialah sebagai berikut;

“yam matapitarrau klecam, sahete sambhawernam, na tasya niskrtih cakya, kartum warsacatairapi”.

Yang artinya; kesulitan dan kesakitan yang dialami oleh orang tua pada waktu melahirkan anaknya tidak dapat dibayar walaupun dalam seratus tahun.

Sebuah wejangan dari Prabu Sri Aji Jayabaya putra Airlangga cucu dari Prabu Udayana, juga memberi kita pedoman bahwasanya, penghormatan kepada orang tua sangat penting karena penghormatan kepada orang tua juga sama dengan penghormatan kepada Tuhan.

Wejangannya sebagai berikut;

“sing sapa lali marang wong tuwane prasast lali marang Hyang Widhi. Ngabektia marang wong tuwa”.

Artinya; barang siapa lupa akan orang tua tak ubahnya lupa dengan Gusti Sang Hyang Widhi. Hormatilah orang tua.

Pada pustaka suci Sarasamuccaya juga dapat ditemukan mengenai penghormatan seorang anak kepada orang tuanya. Salah satu sloka yang menguraikannya ialah pada sloka 239;

“tapaçcaucavata nityam, dharmasatyaratena ca, matapitro raharah, pujanam karyamañjasa”.

Yang artinya orang yang senantiasa hormat kepada ibu bapanya disebut tetap teguh melakukan tapa dan menyucikan diri, tetap teguh berpegang kepada kebenaran atau dharma.

Betapa berdosanya apabila tidak dapat berprilaku hormat kepada orang tua, karena demikian banyak hal yang telah mereka lakukan hingga kita dapat mengecap kehidupan di dunia. Mereka dengan tidak jemu-jemunya mengusahakan hal yang terbaik bagi putra-putrinya. Sudah sewajarnya kita selalu hormat dan taat kepada beliau.

Sekilas Tentang Banten

Sekilas Tentang Banten

 

Banten adalah tata cara yajna [persembahan] yang berasal dari jaman Veda dan berakar pada Tantra. Tata cara yajna ini dibawa dari India ke nusantara oleh Maharsi Agastya [abad ke-4 M] dan Maharsi Markandeya [abad ke-8 M], dengan disesuaikan dengan keadaan dan situasi lokal. Lalu seiring waktu banten ini terus dikembangkan oleh orang-orang suci lokal, seperti [kalau khususnya di bali] oleh Mpu Sangkulputih, Mpu Jiwaya, Danghyang Nirartha, dll.

 

FUNGSI BANTEN

 

1. Banten sebagai Yantra.

 

Yantra adalah sebuah tehnologi spiritual. Yantra mewujudkan simbol-simbol suci dari misalnya alam semesta, kesadaran, para dewa-dewi, dll. Selaras dengan isi Lontar Yadnya Parakerti, bisa disimpulkan bahwa banten adalah yantra, yaitu simbol-simbol mistik yang berfungsi sebagai kanal [saluran] penghubung dengan para dewa-dewi dan Brahman. Simbol-simbol ini dalam banten [seperti halnya yantra], diwujudkan dalam tata letak perpaduan warna, bunga-bunga, biji-bijian dan unsur-unsur lainnya dalam banten.

 

2. Banten sebagai Mantra.

 

Banten adalah mantra yang diwujudkan dalam bentuk fisik. Tujuannya agar lebih kuat, sehingga apa yang diharapkan dapat lebih mudah terwujud [tercapai tujuan]. Contoh banten [hanya dimuat beberapa saja untuk mempersingkat] sebagai perwujudan fisik mantra, misalnya :

– Sesayut Pageh Tuwuh, perwujudan mantra Rig Veda VII.66.16

Om taccaksura devahitam sukram uccarat, pasyema saradah satam, jivema saradah satam [Brahman dan para dewa-dewi, semoga sepanjang hidup hamba selalu melihat mata-Mu yang bersinar].

 

– Daksina, perwujudan Gayatri Maha Mantram [Rig Veda III.62.10]

Om bhur bhuvah svaha, tat savitur varenyam, bhargo devasya dimahi, dhiyo yo nah pracodayat [Kami bermeditasi kepada cahaya realitas mahasuci, yang merupakan dasar dari tiga macam alam semesta. Semoga pikiran kami dicerahkan].

 

– Byakala Dhurmanggala, perwujudan mantra Rig Veda V.82.5

Om visvani deva savitar, duritani para suva, yad bhadram tanna a suva [Brahman sebagai cahaya realitas mahasuci, jauhkanlah segala energi jahat dan berkahi kami dengan yang terbaik].

 

– Sesayut-canang pengrawos, perwujudan mantra Rig Veda I.89.1

Om a no bhadrah krattavo yantu visvatah [Semoga pikiran yang mulia datang dari segala arah].

 

– Sesayut Pageh Urip, perwujudan Maha Mrityunjaya Mantra [Rig Veda VII.59.12]

Aum tryambakam yajamahe, sugandhim pusti-vardhanam, urvarukam iva bandhanan, mrtyor muksiya mamrtat [Kami memuja Dewa Shiva, yang penuh welas asih, yang wanginya memelihara semua mahluk. Semoga kami dibebaskan dari alam kematian menuju pembebasan. Laksana ketimun masak yang sangat mudah melepaskan diri dari tangkai yang mengikatnya].

 

– Dll.

 

3. Banten sebagai yajna [persembahan].

Bisa dikatakan bahwa secara umum landasan pokok dari yajna adalah welas asih dan rasa terimakasih, ke semua arah dan semua loka [alam semesta]. Apa-apa yang kita dapatkan dalam hidup ini, kita kembalikan dalam bentuk persembahan suci [mebanten, yajna, upakara]. Dan aktifitas ini bukannya tidak ada efeknya. Bagi orang-orang yang mata bathinnya sudah terbuka, akan bisa melihat vibrasi kosmik kesucian dan kedamaian di Pulau Bali sungguh luar biasa.

 

4. Banten sebagai sastra [ajaran dharma].

 

Pada jaman dahulu sarana komunikasi tidaklah semudah sekarang. Tidak ada percetakan yang dalam sekejap bisa mencetak ribuan buku, tidak ada internet, dll. Terlebih lagi jaman dahulu banyak sekali orang yang buta huruf. Sehingga oleh para tetua kita yang bijak, ajaran dharma diletakkan atau ”disembunyikan” di dalam banten.

 

Banten adalah ajaran dharma dalam bentuk simbol-simbol yang mona [diam], seperti halnya huruf-huruf tulisan yang diam. Tapi seandainya kita cukup memahami sasahaning tukang banten, lalu disaat kita mejejaitan, maka banten itu dengan sendirinya akan banyak menuturkan berbagai ajaran dharma yang selaras dengan Veda dan Vedanta. Misalnya pada banten itu ada reringgitan dan tetuwasan yang melambangkan keteguhan bathin. Ini bermakna sebagai wujud keteguhan bathin di dalam menghadapi berbagai bentuk godaan kehidupan.

 

Dalam keadaan banyak sekali hambatan untuk meneruskan ajaran dharma secara tertulis di jaman dahulu, para tetua kita yang bijak mengharapkan ajaran dapat ditanamkan ke dalam lubuk hati secara motorik, melalui pembuatan banten.

 

5. Banten sebagai sarana untuk membuat segala sesuatu menjadi baik.

Ada berbagai macam tata-cara banten sesuai tujuannya, yaitu sebagai sarana penyucian, sarana somya [harmonisasi], dari pikiran gelap menuju terang, dari keadaan suram menuju sejahtera, dari bencana menuju aman-tenteram, dll. Secara garis besar, inilah tujuan tertinggi dari banten, yaitu membuat segala sesuatu menjadi baik. Tidak ada tujuan lainnya lagi yang lebih penting.

 

Misalnya [salah satu contoh] banten sebagai sarana somya [harmonisasi]. Alam semesta berada dalam pengaruh vibrasi energi kosmik yang bersifat tri guna [tiga sifat alam], yaitu : sattvam, rajas dan tamas. Sehingga tidak hanya manusia yang memiliki tingkatan-tingkatan spiritual, tapi alam sekitar lingkungan kita juga.  Ketika kita melakukan persembahan, vibrasi energi yang muncul dari persembahan mengurai vibrasi unsur rajas-tamas di alam, sekaligus membangkitkan dan meningkatkan vibrasi unsur sattvam. Sehingga memurnikan vibrasi kosmik alam sekitarnya.

 

Semuanya adalah pengetahuan rahasia yang diperoleh sebagai berkah dari alam dewa oleh para maha-siddha, yang kita warisi sampai saat ini.

 

 

FAKTOR PENTING YANG MEMBUAT BANTEN BISA BERFUNGSI SEMPURNA

 

Yajna yang baik adalah Yajna yang sattvika. Dan ini sama sekali tidak diukur dari besar-kecilnya volume banten atau besar-kecilnya biaya yang dihabiskan. Melainkan harus memenuhi tiga persyaratan di bawah ini :

 

1. Sumber bahan harus baik.

 

Banten harus bersumber dari bahan atau uang yang baik, tidak dari hasil korupsi, mencuri, merampok, menipu, berhutang, menjual tanah warisan, dll. Banten yang bersumber dari bahan atau uang yang tidak baik, tidak nyambung dan sia-sia. Persembahan yang bersumber dari bahan atau uang seperti itu percuma, sebab vibrasi sattvam [jyoti atau cahaya] dari banten-nya hilang.

 

Maka dari itu, penting sekali membuat banten yang sesuai dengan kemampuan kantong kita yang sewajarnya, agar tujuan yajna dapat tercapai.

 

2. Proses pembuatan.

 

Ketika membuat banten, sebisa mungkin kita harus membuatnya dengan pikiran bersih, disertai ketulusan dan kesabaran. Kalau bisa dengan diam atau dengan menyanyi lagu-lagu kidung surgawi [atau boleh juga dengan lagu-lagu mantra ala modern], agar pikiran kita terpusat. Jangan membuat banten sambil bergosip atau omongan aneh-aneh lainnya. Kita bisa bandingkan dengan saat  banten disiapkan untuk upacara besar di Besakih. Tempat membuat banten disebut dengan pesucian yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang atau orang yang tidak berkepentingan. Ini erat kaitannya dengan proses pembuatan.

 

Kalaupun banten-nya membeli, membelinya jangan disertai dengan keluhan-keluhan ini-itu. Sebab hal ini berpengaruh kepada vibrasi banten-nya.

 

3. Proses menghantar.

 

Apapun yang terjadi ketika kita menghaturkan banten, jangan lupa dilaksanakan dengan sejuk, teduh dan penuh kesabaran. Kalau gara-gara mebanten kita bertengkar atau marah-marah, hal ini sangat mempengaruhi banten-nya. Jangan pernah sampai karena banten, yajna atau upakara kita jadi menyakiti hati orang lain.

 

 

BESAR-KECILNYA BANTEN

Ada sembilan alternatif volume banten, yaitu  mula-mula dibagi dalam 3 kelompok, alit, madya, utama. Kemudian masing-masing kelompok dibagi lagi menjadi 3 sub kelompok, misalnya : aliting alit, madyaning alit, utamaning alit, dll.

 

Tidak benar kalau ada yang menyebutkan bahwa besar-kecilnya volume banten menentukan hasil yajna [upakara]. Tidak benar bahwa untuk setiap upakara diharuskan dengan volume banten besar. Ini ada dua kemungkinan, salah kaprah [ketidak-tahuan] atau sebuah ketidak-jujuran yang bermotif materi.

 

Dalam berbagai lontar kuno di Bali banyak yang menjelaskan hal ini, diantaranya Lontar Kusuma Dewa [copy original tersimpan di Gedong Kertya, Singaraja]. Kesembilan alternatif volume banten itu adalah sama, tidak berbeda tingkatan secara siginifikan. Hal yang membedakan adalah, semakin kecil volume bantennya, maka semakin banyak mantra yang dibacakan oleh yang memuput upakara-nya. Sebaliknya semakin besar volume bantennya, maka semakin sedikit mantra yang dibacakan oleh yang memuput upakara-nya. Ini berarti bahwa volume banten yang kecil bisa digantikan oleh mantra.

 

Sekali lagi, penting sekali membuat banten yang sesuai dengan kemampuan kantong kita yang sewajarnya, agar tujuan yajna dapat tercapai. Karena yang menentukan banten adalah sumber bahan, proses pembuatan dan proses menghantar sebagaimana dijelaskan sebelumnya.

 

BAGAIMANA KALAU TIDAK ADA BANTEN

 

Banten adalah yajna [persembahan], sehingga banten tetap dibutuhkan. Tapi dalam keadaan tertentu, kita mungkin saja mengalami kesulitan memperoleh banten yang sesuai.

 

Misalnya [hanya contoh] kita punya niat untuk sembahyang ke sebuah pura, tapi karena satu hal kita tidak bisa membuat atau memperoleh pejati. Disini pejati bisa kita ganti dengan cukup satu buah canang sari saja, karena canang sari adalah volume alit dari pejati [pejati = utama, canang sari = alit]. Tapi kalaupun canang sari juga tetap tidak bisa, kita bisa ganti dengan cukup ketulusan dan kebersihan bathin. Dan ini adalah pondasi dasar yang terpenting dari semuanya.

 

 

HAL YANG TERPENTING

Sebagian kecil orang ada yang menganggap perjalanan bhatin, perjalanan karma dan perjalanan ke alam kematian akan selesai dengan banten dan upakara. Hal ini adalah sebuah pendapat yang sangat salah. Satu-satunya hal yang paling berguna adalah bathin yang bersih, sejuk dan terang.

 

Menjadi penganut Hindu itu sakral, karena sejak lahir sampai mati, tidak terhitung banyaknya upakara yang dibikin untuk diri kita hanya untuk membuat kita menjadi baik [mulai bayi baru lahir di RS, bayi pulang sampai di rumah, 12 hari, 3 bulan, 6 bulan, otonan, dll dst—nya]. Dan satu hal yang akan membuat kesakralan ini baru muncul cahaya terangnya adalah, kalau di dalam bathin dan di dalam keseharian, kita juga baik.

 

Banten, yajna dan upakara itu baik dan penting. Tapi yang nomer satu terpenting adalah bagaimana membuat bathin kita menjadi bersih, sejuk dan terang. Bagaimana cara mendasar untuk membuat bathin kita bersih, sejuk dan terang ? Dengan welas asih, kebaikan, kesabaran, rendah hati dan selalu berpikir positif. Di jalan dharma, kita boleh lupa yang lain, tapi harus ingat yang satu hal pokok yang terpenting, yaitu welas asih dan kebaikan. Rasa hormat dan welas asih kepada orang lain, mahluk lain, pepohonan, gunung, sungai, dll semua yang ada di bumi ini, secara nyata dalam keseharian kita.

 

Rumah Dharma – Hindu Indonesia

Empat aspek dalam melaksanakan svadharma [tugas kehidupan]

Empat aspek dalam melaksanakan svadharma [tugas kehidupan]

Asato ma sad-gamaya

Tamaso ma jyotir-ga-maya

Mrtyor-ma amrtam gamaya

[Brhadaranyaka Upanishad 1.3.28]

 

Terjemahan :

Tuntun saya dari realitas materi menuju realitas absolut

Tuntun saya dari kegelapan menuju penerangan

Tuntun saya dari lahir-mati menuju hakikat diri sejati yang abadi

 

Di dalam mengarungi samudera kehidupan, secara paling sederhana ada empat aspek yang musti kita kembangkan agar melaksanakan svadharma dalam hidup bisa berjalan, sekaligus membimbing kita menuju penerangan.

 

KESABARAN

 

Dalam dharma kita diajarkan, hidup ini adalah karma yang berputar. Salah satu sebab kita dilahirkan kembali ke dunia ini adalah untuk membayar hutang karma. Sehingga lebih cepat kita bisa melunasi hutang tersebut lebih bagus. Karena dengan demikian banyak jalan akan terbuka untuk kita, yang akan membimbing kita menuju kondisi-kondisi kesadaran yang terang.

 

Celakanya banyak diantara kita terlahir kembali ke dunia bukannya membayar hutang karma, melainkan menambah hutang karma baru. Misalnya : suami / istri marah-marah, kita balas marah-marah lebih keras lagi. Ini adalah hal yang harus direnungkan kembali. Pertama tidak bayar hutang karma, kedua menambah hutang karma baru. Ketika kita terlahir kembali ke dunia ini, suami / istri kita akan jadi orang yang lebih menyulitkan dan menyakiti kita. Tambah parah. Sehingga yang terbaik adalah, diamlah, sabar dan tetaplah sejuk dan damai. Sebabnya kita ketemu suami / istri yang galak, adalah karena kita membayar hutang karma kepada suami / istri kita itu. Kalau dia marah, kita bisa diam, sabar dan tetap sejuk, kita bayar hutang karma dan hutang karmanya lunas.

 

Salah satu pilihan terbaik dalam hidup adalah membayar hutang karma secepat-cepatnya. Dan dengan siapa orang yang harus kita bayar hutang karma itu ? Itulah mereka orang-orang yang suka menyakiti kita. Setiap bertemu orang yang menyakiti kita, itu tanda-tanda kita sedang membayar hutang karma. Kalau kita ditipu sama tetangga, diamlah-sabar dan tetap sejuk. Kalau mobil kita ditabrak orang, diamlah-sabar dan tetap sejuk. Intinya : ketika kita ada masalah dengan orang, diamlah-sabar dan tetap sejuk. Karena hanya dengan demikian kita membayar hutang karma. Jangan melawan dengan kemarahan, apalagi caci-maki dan kebencian.

 

Yang terindah dari hal ini adalah, ketika kita terus-menerus membayar hutang karma, kita menjadi manusia yang sabar. Kesabaran membuat bathin kita mudah sekali menjadi tenang. Dan ketika kesabaran menyatu dengan ketenangan, kita bisa menerima hidup apa adanya [nrimo]. Ujung-ujungnya kita menjadi manusia yang dengan bathin yang shanti [damai]. Dan dengan bathin yang shanti, kemanapun kita akan mudah terhubung dengan wilayah-wilayah kemahasucian. Ketika kita sembahyang, akan terasa bedanya. Ketika kita meditasi, akan terasa bedanya. Demikianlah cara hidup membimbing kita menuju kondisi-kondisi kesadaran yang terang.

 

KERJA KERAS

 

Hidup ini sebuah dharma, melaksanakan kerja itu sebuah dharma. Dharma akan menjadi indah kalau kita laksanakan. Tanda-tanda kerja kita menjadi dharma yang dilaksanakan adalah ketika kita melaksanakan tugas-tugas kehidupan kita dengan sebaik-baiknya, tapi apapun yang terjadi, apapun hasilnya, terima dengan senyum damai. Misalnya : kalau kita jadi room boy di hotel, bersihkan kamar hotel sebaik-baiknya, lupakan berapa kita dapat gaji dari perusahaan atau berapa kita dapat tips dari tamu. Kalau kita pegawai bank, layani semua nasabah dengan sebaik-baiknya, lupakan berapa kita dapat gaji dari perusahaan atau kapan kita naik pangkat.

 

Kalau kita belajar dharma, tapi setiap hari mengeluh gaji kurang banyak, atasan atau tamu hotel memperlakukan kita kurang bagus, itu sama sekali tidak nyambung dengan ajaran dharma. Karena melaksanakan dharma sehari-hari itu bisa begitu sederhana : laksanakan tugas-tugas kehidupan [svadharma] kita dengan sebaik-baiknya, tapi apapun yang terjadi, apapun hasilnya, terima dengan senyum damai. Kalau kita menjadi ibu rumah tangga, fokuskan diri melayani anak dan suami dengan sebaik-baiknya, itu dharma. Kalau kita menjadi petugas kolam renang, fokuskan diri menjadikan kolam renang kita kolam renang paling bersih di dunia, itu dharma. Kalau kita menjadi pegawai, fokuskan diri melaksanakan perintah atasan lebih baik dari yang dia niatkan, itu dharma. Kalau kita menjadi polisi, fokuskan diri menjadikan wilayah tugas kita menjadi tempat paling aman dan tertib di dunia, itu dharma. Karena tempat melaksanakan dharma tidak hanya di pura, di tempat kerja juga tempat melaksanakan dharma, di rumah juga tempat melaksanakan dharma dan seluruh hidup ini tempat melaksanakan dharma.

 

Orang-orang yang bekerja dengan spirit penuh keluhan, penuh ketidakpuasan, bathinnya terbakar. Sebaliknya semakin banyak sattvam [kemurnian bathin] dalam hidup kita, semakin efisien dan mudah kita menunaikan tugas-tugas kehidupan kita. Sehingga bekerjalah dengan keras, dengan sebaik-baiknya, di dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan [svadharma] kita. Dan jangan bekerja dengan spirit yang penuh keluhan-keluhan : gaji tidak naik-naik, atasan tidak adil, dll.

 

Bahkan kalau bisa : kalau kita dibayar dengan nilai 10 oleh perusahaan, kita bekerja dengan nilai 15. Kalau kita dibayar dengan nilai 15 oleh perusahaan, kita bekerja dengan nilai 20. Dst-nya. Selalu memberi dan memberi nilai lebih kepada kehidupan. Karena dengan cara seperti itu, kita sedang menabung banyak karma baik. Kenapa ada banyak wajah yang kusut dan menyerengut di jaman sekarang ? Karena dia dibayar dengan nilai 10, kerjanya nilainya 5. Ngabsen pagi-pagi, kita minta diabsenin sama teman. Orang-orang seperti itu, orang-orang yang setiap hari membuat hutang karma kepada kehidupan. Dibandingkan berhutang lebih baik memberi yang lebih.  Kalau kita dibayar dengan nilai 10 oleh perusahaan, bekerjalah dengan nilai 15. Kalau kita dibayar dengan nilai 15 oleh perusahaan, bekerjalah dengan nilai 20. Dst-nya. Karena kalaupun atasan kita tidak mencatat, ada atasan yang lebih tinggi [hukum karma, hukum semesta] yang mencatat keikhlasan kerja kita.

 

 

BERSYUKUR

 

Hidup seperti pertandingan sepakbola, tidak ada tim yang menang terus. Hidup seperti orang yang berjualan, tidak ada pedagang yang untung terus. Hidup persis seperti alam, habis siang ada malam, habis panas ada hujan, habis jalan menanjak ada jalan menurun. Sayangnya sebagian besar manusia sengsara dan bathinnya berguncang karena mau yang baik-tidak mau yang jelek, mau naik-tidak mau turun, mau menang-tidak mau kalah, mau untung tidak mau rugi.

 

Kenapa ada manusia yang tidak siap menerima ha-hal yang negatif ? Karena serakah. Menangnya mau, tapi kalahnya tidak mau. Baiknya mau, tapi jeleknya tidak mau. Istri cantik kita terima, tapi begitu cerewet mau kita ceraikan. Padahal tidak ada orang yang grafik hidupnya selalu naik, selalu dapat yang baik, selalu bahagia, TIDAK ADA HIDUP SEPERTI ITU. Menyiapkan diri menerima hal yang menyenangkan itu mudah, tapi menyiapkan diri menerima hal yang tidak menyenangkan, itu orang bijaksana. Terlebih karena kebijasanaan dan kedewasaan itu akan bisa muncul, kalau kita sering mengalami kekalahan, kerugian atau kejatuhan.

 

Hiduplah dengan penuh rasa syukur kepada apapun yang terjadi. Caranya dengan belajar melihat sisi indah dari setiap kejadian, karena selalu ada keindahan dalam setiap kejadian. Bersyukur tidak hanya ketika suami atau istri sayang sama kita, tapi juga bersyukur ketika suami atau istri marah-marah, karena itu adalah guru kesabaran yang sejati. Bersyukur tidak hanya ketika gaji naik, tapi juga bersyukur ketika ada pemotongan gaji, karena kita diajarkan untuk menjadi hemat dan tidak menuruti hawa nafsu [beli ini-itu]. Orang yang ke semua arah penuh dengan rasa syukur, hidupnya terang seperti matahari. Tidak diterangi oleh cahaya luar, tapi diterangi oleh cahaya dalam.

 

Dengan hidup yang penuh rasa syukur, kita membuat bathin kita tambah terang, sekaligus mencegah diri kita membuat hutang karma yang baru dengan marah-marah, protes, dll.

 

 

KEBAIKAN

 

Lakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan, lalu segera lupakan. Bantulah orang yang memerlukan pertolongan, buatlah hati orang lain menjadi senang dan bahagia, setelah itu lupakan. Dan melaksanakan kebaikan seperti ini bukan saja membuat orang lain bahagia dan bisa membantu kita dalam menghadapi karma buruk dalam hidup, tapi juga sekaligus menerangi bathin kita sendiri.

 

Lakukan kebaikan, kebaikan dan kebaikan. Kalau tidak bisa atau tidak mampu, cukup jangan menyakiti.

 

 

Rumah Dharma – Hindu Indonesia

Brahman dan riwayat singkat Alam Semesta.

Brahman dan riwayat singkat Alam Semesta.

BRAHMAN

 

Brahman adalah nirguna [melampaui semua sifat alam], niranjana [murni], nirvikalpa [melampaui semua penjelasan] dan acintya [tidak terpikirkan]. Karena tidak ada kata-kata maupun pemikiran yang bisa menjelaskan Brahman. Yang ada maupun yang tidak ada adalah manifestasi Brahman, berawal dari Brahman dan berakhir pada Brahman.

 

Segala yang ada di alam semesta ini adalah manifestasi Brahman, termasuk Purusha dan Prakriti. Akan tetapi Brahman tidak bisa dijelaskan. Itulah sebabnya Brahman juga disebut Acintya atau [kalau di Bali] Hyang Acintya. Dalam bahasa sansekerta acintya berarti tidak terpikirkan. Menurut para maharsi, kata-kata yang paling mendekati yang bisa menjelaskan Brahman, walaupun juga tidak tepat, adalah Sat-Chit-Ananda [realitas absolut – kesadaran – kebahagiaan murni].

 

 

PURUSHA DAN PRAKRITI

Keseluruhan alam semesta ini terdiri dari dua realitas : Purusha – realitas absolut [kesadaran murni] dan Prakriti – fenomena alam materi [energi-materi].

Purusha adalah realitas absolut, kesadaran murni. Mutlak, tidak tergantung, bebas, tidak terasa, tidak kelihatan, diluar semua pengalaman dan diluar semua kata-kata dan penjelasan. Tidak terpikirkan. Kesadaran tanpa sifat yang selalu murni. Purusha tidak berasal dari sesuatu dan tidak menghasilkan / menimbulkan sesuatu.

 

Sedangkan Prakriti dalam bahasa manusia yang paling mendekati adalah energi. Jadi Prakriti bisa disebut sebagai divine energy [energi ilahi]. Prakriti adalah penyebab awal dari seluruh fenomena alam materi, seluruh dimensi alam semesta -dan segalanya-, kecuali purusha, yang tidak memiliki penyebab maupun menjadi sebab. Prakriti menjadi sumber asal dari apapun yang bersifat material [fisik] dan energi.

 

Hal ini juga dijelaskan di dalam Veda : “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari” [ Rig Veda 2.72.4 ] – dari aditi [materi] asalnya daksa [energi] dan dari daksa asalnya aditi -. Ini teori yang sama dengan teori E=mc2 yang ditulis oleh Einstein.

 

Menurut hukum Satkaryavada, sejatinya tidak ada sesuatupun yang dapat diciptakan, maupun sebaliknya : dihancurkan ke dalam ketiadaan. Yang ada adalah transformasi dari satu bentuk ke bentuk lainnya belaka. Ini juga bisa berarti dalam fenomena alam materi yang penuh aktifitas [utpetti, sthiti, pralina – pembentukan, pengembangan dan penghancuran], sejatinya tidak ada yang diciptakan atau dihancurkan, hanya dinamika perubahan bentuk dari satu bentuk ke bentuk lainnya, dari materi menjadi energi dan dari energi menjadi materi. Hanya dikatakan saja sebagai utpetti, sthiti, pralina, karena begitulah yang terlihat dalam realitas materi.

 

Keseluruhan alam semesta dalam fenomena dinamika perubahan dan aktivitas [utpetti, sthiti, pralina – pembentukan, pengembangan dan penghancuran] dalam realitas materi [prakriti] diistilahkan sebagai tarian kosmik Brahman. Sering disimbolikkan sebagai Shiva Nataraja [tarian kosmik Shiva]. Kita adalah tarian Brahman dalam realitas materi. Segala hal di alam semesta, semua yang kita lihat, dengar dan bayangkan, adalah dinamika [pergerakan]. Galaksi-galaksi melayang tinggi dalam pergerakan, atom-atom dalam pergerakan dan semua pergerakan adalah tarian kosmik Brahman.

 

Perputaran utpetti, sthiti, pralina ini disebut Brahma Cakra. Satu putaran Brahma Cakra mulai dari pembentukan sampai penghancuran [maha pralaya] memakan waktu 1 siang + 1 malam Brahma [1 hari Brahma], yang sama dengan 8,4 Milyar tahun.

 

BRAHMA CAKRA [RODA CAKRA ALAM SEMESTA]

 

1. Roda penciptaan dan penghancuran alam semesta.

Menurut hukum Satkaryavada, “akibat” pra-eksis di dalam “sebab”. Sebab dan akibat dipandang sebagai sisi-sisi sementara yang berbeda dari satu hal yang sama – akibat terletak terpendam [tersembunyi] di dalam sebab yang pada gilirannya menebar benih pada akibat berikutnya.

 

Hukum Prakriti-Parinama Vada menyatakan bahwa “akibat” adalah perubahan nyata dari “sebab”. Sebab yang dimaksudkan disini adalah Prakriti [divine energy] atau tepatnya Mula-Prakriti [primordial matter / materi yang mula-mula]. Dalam evolusinya [perkembangannya], Prakriti berevolusi menjadi Mula-Prakriti dan dari sini menjadi berbagai obyek yang berbeda-beda dan beragam. Seperti yang dijelaskan di dalam Veda : “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari” [ Rig Veda 2.72.4 ] – dari aditi [materi] asalnya daksa [energi] dan dari daksa asalnya aditi -. Ini teori yang sama dengan teori E=mc2 yang ditulis oleh Einstein.

 

Evolusi [perkembangan] ini kemudian diikuti oleh peleburan atau pembubaran. Dalam pralina wujud materi [fisik] ini, semua obyek di seluruh dimensi alam semesta ini kembali menyatu dengan Prakriti, yang berarti yang ada hanya Prakriti [energi ilahi yang mula-mula] saja. Semuanya berlangsung laksana putaran roda [cakra] perkembangan-pemeliharaan-peleburan yang saling berputar [laksana roda chakra] bergantian secara terus menerus. Sering disimbolikkan sebagai Shiva Nataraja.

 

2. Pembentukan atau pengembangan alam semesta.

Karena prakriti adalah dasar atau pondasi [tattva] dari seluruh fenomena dan dimensi alam semesta dia juga sering disebut PRADHANA. Dinamika prakriti dipicu [dipengaruhi] oleh tiga intisari sifat dasar-nya [tri guna], yaitu :

 

1. Sattvam – unsur keseimbangan.

2. Rajas – unsur aktif [pengembangan, pemuaian atau dinamika aktifitas].

3. Tamas – unsur statik [kelembaman atau perlawanan untuk melakukan kegiatan].

 

Dalam kondisi seimbang total [sattvam], seluruh materi semesta terserap kembali ke dalam Prakriti. Namun apabila Prakriti diguncang oleh unsur aktifnya [rajas], sehingga Prakriti menjadi tidak seimbang, maka terciptalah alam semesta ini. Seluruh materi memencar menyebar ke segala arah dan terciptalah wujud alam semesta raya. Dimana dinamika murni Prakriti mengembangkan dirinya secara berurutan sambung-menyambung menjadi dua puluh empat tattva [asas dasar]. Evolusi [perkembangan] ini sendiri terjadi karena Prakriti selalu dalam keadaan tidak stabil akibat tekanan tiga unsur intisari sifat dasar-nya [tri guna].

 

Kedua puluh empat tattva [asas dasar] itu adalah :

>>> PRAKRITI [divine energy] – asas dasar paling halus yang merupakan sumber di balik segala apapun yang ada di seluruh dimensi alam semesta -dan segalanya-, kecuali purusha. Juga diidentikkan dengan Mula-Prakriti [primordial matter / materi purba yang mula-mula]. Prakriti di intisarinya sendiri adalah keadaan keseimbangan total [sattvam].

 

>>> MAHAT – Ketika kondisi Prakriti tengah aktif, maka saat itulah terjadi pertemuan antara Purusha dan Prakriti. Dari pertemuan keduanya lahir hasil pertama dari evolusi Prakriti, yaitu mahat [dinamika murni]. Mahat juga identik dengan cosmic mind atau maha-kesadaran kosmik. Saat mahat [cosmic mind] ini bangkit, alam semesta ini belum juga ada. Kemudian karena pengaruh unsur Rajas [aktif / kerja] dari Tri Guna, cosmic mind ini mulai berkreasi [lila] dan mengembangkan ciptaan [dinamika].

 

Dari sini lahirlah citta semesta, cikal bakal memori subyektif-relatif seluruh makhluk. Citta adalah Purusha yang sudah “terkontaminasi”, jatuh dan terperosok akibat belenggu Prakriti. Begitu citta semesta tercipta, maka pengaruh Prakriti semakin besar. Prakriti kembali menanamkan belenggunya kepada citta semesta, dari sini maka lahirlah buddhi [kecerdasan] semesta, sebagai cikal bakal kesadaran dan kecerdasan relatif seluruh makhluk.

 

>>> AHAMKARA – Akibat unsur rajas ini juga, hasil kedua dari evolusi Prakriti adalah ahamkara [ke-aku-an atau ego]. Ahamkara inilah yang bertanggung-jawab terhadap perasaan “aku” dalam mahluk hidup. Ahamkara juga adalah penyebab identifikasi diri yang berbeda dengan alam luar beserta segala isinya. Disini kondisi Purusha sudah semakin terbelenggu Prakriti. Keterbatasan dan kebodohan sudah mulai melekati Atman.

 

>>> PANCA TANMATRA [lima bahan materi halus] – adalah hasil dari Mahat, bersamaan muncul dengan Ahamkara. Masing-masing Tanmatra ini terbentuk dari salah satu aspek Tri Guna, yaitu :

 

1. Sabda Tanmatra [unsur halus dari ruang].

2. Sparsa Tanmatra [unsur halus dari udara atau gas].

3. Rupa Tanmatra [unsur halus dari cahaya atau api].

4. Rasa Tanmatra [unsur halus dari cairan].

5. Gandha Tanmatra [unsur halus dari materi padat].

 

>>> MANAS [pikiran] atau “Antahkarana” – berkembang dari kesemua [total] aspek sattvam dari Pancha Tanmatra dan Ahamkara.

 

>>> PANCHA JNANA INDRIYA – lima indra perasa, yang berkembang dari aspek sattvam dari Ahamkara, yaitu :

 

1. Cakshu semesta [cikal bakal penglihatan].

2. Srota semesta [cikal bakal pendengaran].

3. Ghrana semesta [cikal bakal penciuman].

4. Jihva semesta [cikal bakal perasa lidah].

5. Tvak semesta [cikal bakal peraba seluruh tubuh].

 

>>> PANCHA KARMA INDRIYA – lima organ tindakan, yang berkembang dari aspek Rajas dari Ahamkara, yaitu :

 

1. Vak semesta [cikal bakal pengucapan].

2. Pani semesta [cikal bakal peraba tangan].

3. Pada semesta [cikal bakal peraba kaki].

4. Upastha semesta [cikal bakal rasa kemaluan].

5. Payu semesta [cikal bakal gerak dan dubur].

 

>>> PANCHA MAHABHUTA – lima elemen dasar yang berkembang dari aspek Tamas dari Ahamkara. Panca Mahabhuta muncul dari “pengasaran” [panchikaran] dari Panca Tanmatra, sehingga terciptalah Panca Mahabhuta, lima elemen dasar materi kasar, yaitu :

 

1. Sabda Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi AKASHA [ruang].

2. Sparsa Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi VAYU [udara atau gas].

3. Rupa Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi TEJA [cahaya atau api].

4. Rasa Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi APAH [cairan].

5. Gandha Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi PRTHIVI [materi padat].

 

 

3. Hukum-hukum semesta.

 

Adanya hukum-hukum semesta seperti Hukum Rta dan Hukum Karma tidak bisa dipisahkan dari penjelasan hukum Satkaryavada dan hukum Prakriti-Parinama Vada. “Akibat” pra-eksis di dalam “sebab” dan “akibat” adalah perubahan nyata dari “sebab”.

 

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa dinamika prakriti dipicu [dipengaruhi] oleh tiga intisari sifat dasar-nya [tri guna], yaitu : Sattvam, Rajas dan Tamas. Unsur Rajas yang memicu chaos [kekacauan] semesta -yang juga menjadi penyebab awal terciptanya alam semesta-, dan unsur Sattvam dan Tamas menjadi penyeimbangnya. Kestabilan-keseimbangan inilah yang merubah fenomena materi-energi Prakriti dari chaos [kekacauan semesta] menjadi cosmos [alam semesta yang tidak kacau].

 

Tri guna adalah dasar dari terciptanya hukum-hukum semesta [hukum Rta dan hukum Karma], sehingga terjadilah keteraturan dan ketidak-kacauan. Sehingga ketika kita memasak beras, kita bisa yakin kalau hasilnya nanti adalah nasi, bukan menjadi racun, bom atau handphone misalnya.

TERCIPTANYA MAHLUK

1. Pertemuan Purusha dan Prakriti.

 

Prakriti yang sudah bermanifestasi menjadi 24 asas dasar, kemudian seolah-olah “terpecah-belah” menjadi berbagai fenomena di alam materi termasuk mahluk hidup. Setiap mahluk hidup terdiri dari Purusha dan Prakriti. Purusha [realitas absolut, kesadaran murni] yang terbelenggu Prakriti menjadi penyebab adanya mahluk hidup. Dari pertemuan citta, buddhi, manas, ahamkara, panca jnana indriya dan panca karma indriya terciptalah sukhsma sarira [badan astral]. Dari pertemuan sukhsma sarira dan panca mahabhuta, terciptalah sthula sarira [badan fisik]. Inilah mahluk hidup.

 

 

 

Purusha [atman] telah terselubungi dan terbelenggu sedemikian rupa oleh berbagai produk-produk Prakriti. Akibatnya kesadaran atman merosot jatuh secara total. Jivatman terkecoh, mengira dirinya adalah pikiran [manas], ahamkara [ke-aku-an] dan sthula sarira [badan fisik] belaka. Jivatman sudah melupakan siapa dirinya yang sejati.

 

Setiap kejadian material [fisik] dan energi adalah perwujudan dari dinamika Prakriti [fenomena alam materi], termasuk yang terjadi pada setiap lapisan tubuh [kosha] kita -lapisan badan dan lapisan pikiran-. Sehingga kemudian semua evolusi [perkembangan] materi macrocosmic [alam semesta] dan microcosmic [mahluk] dipengaruhi oleh tiga sifat dasar prakriti ini. Tri guna mempengaruhi mahluk sebagai berikut :

 

1. Sattvam – kehalusan, keindahan, kebaikan, penerangan, cahaya dan kebahagiaan sejati.

2. Rajas – aktivitas / kegiatan, motifasi, dinamika dan kesengsaraan.

3. Tamas – kelambanan, kemalasan [keengganan] dan kebuntuan.

 

Walaupun sejatinya eksistensi setiap mahluk hidup sejatinya adalah Purusha [kesadaran murni] yang tidak terbatas, tidak terpikirkan dan tidak terpengaruh oleh tubuh. Tapi atman terbelenggu oleh prakriti. Eksistensi mahluk hidup atau “sang aku” mengalami pembebasan [moksha] ketika bisa “sadar” akan identitas diri yang sejati.

 

Akan tetapi selama kesadaran atman tidak muncul, maka dia akan tetap terbelenggu oleh Prakriti. Tugas ini sangatlah berat, karena jivatman sudah melewati berjuta-juta kelahiran, dimana pada periode tersebut jivatman terus-menerus melekat pada Prakriti, melekat erat pada pikiran [manas], ahamkara [ke-aku-an] dan sthula sarira [badan fisik]. Bahkan ada jivatman yang makin terperosok dan makin terbelenggu prakriti, sehingga lahir di alam ashura [alam para mahluk bawah atau bhuta kala].

 

2. Terperosoknya Jivatman.

 

Ketika kita SMA, sebagian besar dari kita mempelajari hukum seleksi alam [natural selection] dari Darwin. Hanya yang kuat dan mampu beradaptasi terhadap gejolak perubahan lingkungan yang bisa bertahan [survive]. Teori ini bisa dikatakan benar adanya.

 

Kebanyakan kehidupan adalah tentang survival terhadap eksistensi kita sebagai mahluk. Perhatikan rantai makanan : Elang memakan ular, ular memakan kodok, kodok memakan nyamuk, dst-nya. Perhatikan kehidupan manusia : persaingan berebut uang dan makanan [persaingan dagang, persaingan ekonomi, persaingan di tempat kerja], persaingan berebut pengaruh, perebutan kursi kekuasaan, eksploitasi tenaga kerja, penipuan, perampokan, korupsi, peperangan, dll. Saling menyakiti, saling membenci, saling menyalahkan, dll. Kenapa kita melakukan semua itu ? Karena kita punya suatu kebutuhan. Ini secara alami kita lakukan dalam rangka upaya kita untuk bisa survive terhadap eksistensi kita sebagai mahluk atau sebagai suatu identitas. Kita dipaksa oleh kehidupan untuk seperti itu. Alasannya macam-macam : untuk bisa makan, untuk bisa menghidupi rumah tangga, untuk bisa membiayai anak sekolah, untuk rasa aman, untuk jaminan kebahagiaan, untuk melindungi kepentingan kelompok, untuk melindungi identitas diri kita, dll.

 

Apa akibatnya ? Akibatnya hukum yang dominan dipakai [berlaku] dimana-mana adalah hukum rimba. Pemangsa dan yang dimangsa, pengeksploitasi dan yang dieksploitasi, pemanipulasi dan yang dimanipulasi, yang menyakiti dan yang disakiti. Untuk bisa survive dalam hukum rimba, kita harus punya ego yang besar. Karena itu ego kita sebagai mahluk semakin hari semakin besar dan semakin besar. Ini adalah kebutuhan alami dalam avidya [ketidaktahuan, kebodohan] yang kita perlukan untuk bisa survive terhadap eksistensi kita sebagai mahluk individu.

 

Tapi apa akibat berikutnya ? Kita terus-menerus melekat pada Prakriti, melekat erat pada pikiran [manas], ahamkara [ke-aku-an] dan sthula sarira [badan fisik]. Kita jauh dari kedamaian. Pikiran kita berubah menjadi serakah, mementingkan diri sendiri, marah, sombong, kecewa, iri hati, takut, stress, dll. Kita semakin jauh dari reakitas diri yang sejati. Kita terperosok dalam ”kubangan” Prakriti untuk jangka waktu yang sangat lama.

 

3. Moksha [pembebasan sempurna].

 

Moksha dalam bahasa sansekerta berarti : lepas atau bebas. Moksha adalah pembebasan sempurna. Jivatman berada dalam belenggu samsara diakibatkan oleh avidya [ketidaktahuan / kebodohan]. Jivatman mengalami pembebasan [moksha] ketika “sadar” akan identitas diri yang sejati. Begitu jivatman bisa lepas dari belenggu selubung prakriti, maka dia akan kembali berubah menjadi realitas absolut, kesadaran murni.

 

 

Inilah landasan dasar dari mengapa para Maharsi pendahulu dan para Dewa-Dewi mengajarkan dharma dan berbagai jalan yoga. Yaitu untuk membimbing manusia bebas dari belenggu Prakriti, yaitu belenggu pikiran [manas], ahamkara [ke-aku-an] dan sthula sarira [badan fisik]. Semakin cepat semakin baik, sebelum kita terperosok semakin jauh lahir menjadi binatang atau lahir di alam ashura [alam para mahluk bawah atau bhuta kala] yang penuh dengan kesengsaraan.

 

Tugas hidup kita yang sesungguhnya adalah melampaui pengaruh Prakriti. Bebas dari belenggu pikiran [manas], ahamkara [ke-aku-an] dan sthula sarira [badan fisik]. Atman Brahman Aikyam, Atman adalah Brahman. Laksana setetes air dalam samudera maha luas yang tersadar bahwa realitas dirinya bukanlah setetes air [mahluk individu], melainkan samudera yang maha luas.

 

 

Rumah Dharma – Hindu Indonesia

Krishna amoral?

Krishna amoral?

Krishna amoral?

Pada penghujung tahun 2010 ini, sebuah kasus unik sudah menggemparkan kalangan Hindu dan Kristen, khususnya di Polandia. Proses Harinama Sankirtana yang dilakukan oleh anggota ISKCON Polandia yang begitu gencarnya menyebabkan kalangan gereja merasa terdesak. Sangat banyak pengikut gereja pada akhirnya memutuskan untuk menjadi Hindu di bawah naungan ISKCON. Tingkat konversi yang begitu tinggi inilah yang menyulut beberapa kalangan gereja mengajukan tuntutan hukum kepada ISKCON agar segera dibekukan oleh pemerintah.

Seorang suster dari sebuah gereja Katolik menandatangani gugatan terhadap ISKCON dengan tuduhan bahwa ISKCON mengarahkan masyarakat untuk memuja seseorang yang tidak bermoral yang menikahi 16.000 wanita yang disebut gopi. Tentu saja tuduhan ini menarik begitu banyak kalangan masyarakat. Sebuah kasus unik yang jarang terjadi.

Pada sidang perdana di sebuah pengadilan di Warsaw, Polandia, suster yang mengajukan gugatan tersebut dengan begitu cekatannya membacakan tuduhannya. Para pendukungnyapun mengikuti proses sidang dengan menggebu-gebu dengan keyakinan penuh akan memenangkan kasus tersebut.

Setelah tuduhan selesai dibacakan, tibalah saatnya pihak ISKCON menyampaikan pembelaannya. Dengan tenang salah seorang anggota ISKCON berkata kepada Hakim Ketua; “Bapak Hakim yang saya hormati, bolehkan saya meminta injin kepada suster yang mengajukan gugatan ini untuk membacakan kembali sumpah yang dia ucapkan saat menjadi seorang suster?”. Setelah pertanyaan tersebut, Hakim-pun melemparkan permintaan tersebut kepada sang suster dan memintanya membacakan sumpah saat ia diangkat menjadi suster.

Namun apa yang terjadi? Dengan berbagai alasan suster tersebut menolak membacakan kembali sumpah yang pernh dia ucapkan saat diangkat menjadi suster. Karena itulah akhirnya anggota ISKCON yang sebelumnya juga merupakan seorang Kristen kembali meminta ijin kepada Hakim untuk membacakan sendiri apa isi sumpah seorang suster. Dengan pelan, tenang dan tegas dia mengatakan satu kalimat kunci dalam sumpah itu yang berbunyi bahwa seseorang yang akan diangkat menjadi suster harus mengatakan bahwa dia bersedia menikah dan menjadi istri Yesus. Dengan sigap, anggota ISKCON tersebut kembali bertanya kepada Hakim dan semua peserta sidang dengan mengatakan bahwa pada dasarnya Yesus memiliki istri yang lebih banyak dari pada saat Krishna ber-lila di Vrindavan 5000 tahun yang lalu.

Semua pendukung suster tersebut senyap tidak bergeming sedikitpun dan peserta sidang dari pihak ISKCON tersenym bangga melihat bagaimana rekannya mengajukan pembelaan yang sangat singkat, padat dan tepat. Akhirnya Hakim-pun menutup kasus tersebut dengan kemenangan mutlak di pihak ISKCON.

Tentu saja kasus ini telah menjawab pertanyaan orang-orang Kristen mengenai apakah Krishna amoral dengan mengembalikannya ke konsep ketuhanan mereka. Namun bagaimana jika pertanyaan ini ditanyakan oleh agama lain atau oleh mereka yang menjunjung tingi feminism?

Dasar dari ketuhanan adalah “Maha Kuasa”, Dia Yang Absolut dan tidak dibatasi. Krishna sebagai Tuhan Yang Maha Esa adalah personifikasi yang lengkap. Beliau tidak hanya memiliki 16108 istri sebagaimana disebutkan pada saat lila Beliau 5000 tahun lalu, namun dikatakan bahwa Beliau selalu dilayani oleh ratusan ribu dewi Laksmi sebagaimana disampaikan dalam petikan Brahmasamhita berikut ini:

Cintamani prakara sadmasu kalpavriksa

Laksavritesu surabhir abipalayantam

Laksmi sahasrasata sambrama sevyamanam

Govindam adipurusam tam aham bhajami

 

Aku memuja Govinda (Krishna), Tuhan Yang Maha Purba, leluhur pertama yang menggembalakan sapi, pemuas segala keinginan, dikawasan yang terbuat dari batu permata spiritual, dikelilingi oleh jutaan pohon yang dapat memenuhi segala keinginan, selalu dilayani dengan penuh bhakti dan kasih sayang oleh ratusan ribu laksmi atau gopi”.

Dalam sloka-sloka Veda yang lain mengenai hakekat Atman/Jiva juga dijelaskan bahwa semua entitas kecuali Tuhan itu sendiri dharma/hakekatnya hanyalah pelayan dari Tuhan. Meskipun di dunia rohani tidak ada pembedaan jenis kelamin pria dan wanita sebagaimana di dunia material ini, namun jika sang jiva kembali ke alam rohani, maka disana dia seolah-olah bagaikan berhakekat feminim. Hanya Tuhan yang berhakekat maskulin dan berhak dilayani oleh para jiva yang berhakekat feminim.

Kalau demikin, dimana letak keadilan Tuhan? Kenapa Dia selalu harus dilayani? Bagaikan Api yang hakekat(dharma)-nya adalah panas dan membakar, Es yang dharma-nya dingin dan membekukan, Air yang membasahi. Maka Jiva-pun demikian. Jiva akan mencapai kebahagiaan sejati jika dia kembali kepada dharma aslinya sebagai pelayan Tuhan.

Brahman dan riwayat singkat Alam Semesta 2 (dua)

Brahman dan riwayat singkat Alam Semesta lanjutan 2 (dua),,, 😉

Evolusi [perkembangan] ini kemudian diikuti oleh peleburan atau pembubaran. Dalam pralina wujud materi [fisik] ini, semua obyek di seluruh dimensi alam semesta ini kembali menyatu dengan Prakriti, yang berarti yang ada hanya Prakriti [energi ilahi yang mula-mula] saja. Semuanya berlangsung laksana putaran roda [cakra] perkembangan-pemeliharaan-peleburan yang saling berputar [laksana roda chakra] bergantian secara terus menerus. Sering disimbolikkan sebagai Shiva Nataraja.

2. Pembentukan atau pengembangan alam semesta.
Karena prakriti adalah dasar atau pondasi [tattva] dari seluruh fenomena dan dimensi alam semesta dia juga sering disebut PRADHANA. Dinamika prakriti dipicu [dipengaruhi] oleh tiga intisari sifat dasar-nya [tri guna], yaitu :

1. Sattvam – unsur keseimbangan.

2. Rajas – unsur aktif [pengembangan, pemuaian atau dinamika aktifitas].

3. Tamas – unsur statik [kelembaman atau perlawanan untuk melakukan kegiatan].

Dalam kondisi seimbang total [sattvam], seluruh materi semesta terserap kembali ke dalam Prakriti. Namun apabila Prakriti diguncang oleh unsur aktifnya [rajas], sehingga Prakriti menjadi tidak seimbang, maka terciptalah alam semesta ini. Seluruh materi memencar menyebar ke segala arah dan terciptalah wujud alam semesta raya.Dimana dinamika murni Prakriti mengembangkan dirinya secara berurutan sambung-menyambung menjadi dua puluh empat tattva [asas dasar]. Evolusi [perkembangan] ini sendiri terjadi karena Prakriti selalu dalam keadaan tidak stabil akibat tekanan tiga unsur intisari sifat dasar-nya [tri guna].

Lanjut,, 🙂

Kedua puluh empat tattva [asas dasar] itu adalah :

>>> PRAKRITI [divine energy] -asas dasar paling halus yang merupakan sumber di balik segala apapun yang ada di seluruh dimensi alam semesta -dan segalanya-, kecuali purusha. Juga diidentikkan dengan Mula-Prakriti [primordial matter / materi purba yang mula-mula]. Prakriti di intisarinya sendiri adalah keadaan keseimbangan total [sattvam].

>>> MAHAT – Ketika kondisi Prakriti tengah aktif, maka saat itulah terjadi pertemuan antara Purusha dan Prakriti. Dari pertemuan keduanya lahir hasil pertama dari evolusi Prakriti, yaitu mahat [dinamika murni]. Mahat juga identik dengan cosmic mind atau maha-kesadaran kosmik. Saat mahat [cosmic mind] ini bangkit, alam semesta ini belum juga ada. Kemudian karena pengaruh unsur Rajas [aktif / kerja] dari Tri Guna, cosmic mind ini mulai berkreasi [lila] dan mengembangkan ciptaan [dinamika].

Dari sini lahirlah citta semesta, cikal bakal memori subyektif-relatif seluruh makhluk. Citta adalah Purusha yang sudah “terkontaminasi”, jatuh dan terperosok akibat belenggu Prakriti.Begitu citta semesta tercipta, maka pengaruh Prakriti semakin besar. Prakriti kembali menanamkan belenggunya kepada citta semesta, dari sini maka lahirlah buddhi [kecerdasan] semesta, sebagai cikal bakal kesadaran dan kecerdasan relatif seluruh makhluk.

>>> AHAMKARA – Akibat unsur rajas ini juga, hasil kedua dari evolusi Prakriti adalah ahamkara [ke-aku-an atau ego]. Ahamkara inilah yang bertanggung-jawab terhadap perasaan “aku” dalam mahluk hidup. Ahamkara juga adalah penyebab identifikasi diri yang berbeda dengan alam luar beserta segala isinya. Disini kondisi Purusha sudah semakin terbelenggu Prakriti. Keterbatasan dan kebodohan sudah mulai melekati Atman.

>>> PANCA TANMATRA [lima bahan materi halus] – adalah hasil dari Mahat, bersamaan muncul dengan Ahamkara. Masing-masing Tanmatra ini terbentuk dari salah satu aspek Tri Guna, yaitu :

1. Sabda Tanmatra [unsur halus dari ruang].

2. Sparsa Tanmatra [unsur halus dari udara atau gas].

3. Rupa Tanmatra [unsur halus dari cahaya atau api].

4. Rasa Tanmatra [unsur halus dari cairan].

5. Gandha Tanmatra [unsur halus dari materi padat].

>>> MANAS [pikiran] atau “Antahkarana” – berkembang dari kesemua [total] aspek sattvam dari Pancha Tanmatra dan Ahamkara.

>>> PANCHA JNANA INDRIYA – lima indra perasa, yang berkembang dari aspek sattvam dari Ahamkara, yaitu :

1. Cakshu semesta [cikal bakal penglihatan].

2. Srota semesta [cikal bakal pendengaran].

3. Ghrana semesta [cikal bakal penciuman].

4. Jihva semesta [cikal bakal perasa lidah].

5. Tvak semesta [cikal bakal peraba seluruh tubuh].

>>> PANCHA KARMA INDRIYA – lima organ tindakan, yang berkembang dari aspek Rajas dari Ahamkara, yaitu :

1. Vak semesta [cikal bakal pengucapan].

2. Pani semesta [cikal bakal peraba tangan].

3. Pada semesta [cikal bakal peraba kaki].

4. Upastha semesta [cikal bakal rasa kemaluan].

5. Payu semesta [cikal bakal gerak dan dubur].

>>> PANCHA MAHABHUTA – lima elemen dasar yang berkembang dari aspek Tamas dari Ahamkara. Panca Mahabhuta muncul dari “pengasaran” [panchikaran] dari Panca Tanmatra, sehingga terciptalah Panca Mahabhuta, lima elemen dasar materi kasar, yaitu :

1. Sabda Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi AKASHA [ruang].

2. Sparsa Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi VAYU [udara atau gas].

3. Rupa Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi TEJA [cahaya atau api].

4. Rasa Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi APAH [cairan].

5. Gandha Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi PRTHIVI [materi padat].