Nilai-Nilai Universal Hindu Dalam Budaya Jawa

Nilai-Nilai Universal Hindu Dalam Budaya Jawa

Nilai-nilai Universal Hindu Dalam Budaya Jawa

Oleh: Wawan Yulianto

I. PENDAHULUAN

Modernitas dengan segala gemerlap materialismenya telah membawa manusia pada dunia metropolitan yang menawarkan banyak pilihan hedon, di mana kesenangan bukan lagi sebagai hobi dan pelampiasan nafsu estetis semata melainkan telah menjadi tujuan hidup. Apapun usaha dihalalkan demi tercapainya hasrat, pangkat, bahkan syahwat. Alasannya meningkatkan harkat, martabat, dan akhirat,  tetapi sesungguhnya hanya mengumbar nafsu maksiat. Inilah zaman kali yuga atau menurut orang Jawa disebut zaman Kalabendu, zaman edan. Zaman Edan menggambarkan sebuah kekacauan dunia dimana semua manusia terjangkit penyakit “gila”, ada yang gila harta, gila tahta, gila wanita, dan kegilaan-kegilaan lainnya. Siapapun yang tidak ikut “gila” maka dia tidak akan kebagian (yan ora melu ngedan mundak ora keduman). Demikianlah gambaran kekacauan yang ditawarkan oleh modernitas dan percaturan global dewasa ini.

Kemajuan pesat di dalam bidang ilmu pengetahuan, sains, dan tekhnologi tidak disertai dengan hal yang sama dalam bidang kehidupan moral, etika, dan spiritualitas. Bahkan, bidang ini semakin rapuh dibawa arus materialisme, hedonisme, pragmatisme peradaban modern. Hal ini tercermin dengan semakin renggangnya rasa kebersamaan, keakraban, nasionalisme, upaya-upaya memajukan kepentingan dan ketertiban umum, pelanggaran nilai-nilai sosial, etika, agama terjadi hampir di semua belahan dunia. Bahkan, yang sangat memalukan adalah negara-negara yang diakui religius, ternyata tingkat korupsinya sangat menonjol. Mengenai hal ini S. Radhakrishnan (1987: 9) mengatakan bahwa kemanusiaan sekarang ini mengalami krisis terbesar sepanjang sejarah umat manusia.

Akan tetapi di tengah-tengah semua kekacauan dan carut marut dunia ini, orang Jawa telah memiliki optimisme bahwa seberuntung apapun orang yang tenggelam dalam kegilaan-kegilaan duniawi akan lebih beruntung orang yang tetap eling dan waspada (sabegja-begjaning wong lali isih begja wong kang eling lan waspada). Ketika tujuan hidup manusia (purusa artha) dicapai tidak berdasarkan dharma maka semuanya akan hancur karena dharmalah satu-satunya yang akan memberikan kebahagiaan sejati. Demikianlah Hindu mengajarkan kepada umatnya “satyam eva jayante” (kebenaran akan selalu menang) dan “dharma raksatah-dharma raksitah” (siapa yang menjaga dharma akan dijaga oleh dharma). Dalam pepetah Jawa dikatakan “jaya-jaya wijayanti, sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” (jayalah orang yang selalu berbuat kebenaran, karena kebenaran akan menghancurkan semua sombongan dan keangkuhan).

Rupanya, falsafah dan budi pekerti orang Jawa tidaklah bertentangan dengan nilai-nilai universal etika Hindu. Inilah yang akan dibahas dalam makalah singkat ini, yaitu bagaimana nilai-nilai universal etika Hindu diterjemahkan dan diaplikasikan dalam etika dan kebudayaan Jawa. Dengan memahami ini maka tidak ada lagi keraguan bahwa Hindu telah menanamkan dasar yang kuat dalam kehidupan orang Jawa.

II. PEMBAHASAN

a. HINDU DAN KEJAWEN

Saat ini banyak orang berpandangan bahwa kejawen adalah hasil perpaduan antara tradisi Hindu, Budha, Islam dan kebudayaan asli Jawa. Hal serupa juga diungkapkan oleh Herusatoto (2003: 65) bahwa kejawen adalah bukanlah agama, melainkan kepercayaan yang lebih tepat disebut pandangan hidup atau filsafat hidup orang Jawa. Filsafat hidup Jawa ini terbentuk karena perkembangan kebudayaan Jawa yang dipengaruhi filsafat Hindu dan filsafat Islam. Akhirnya tradisi Jawa, Hindu, tasawuf/mistikisme Islam dan agama melebur menjadi satu, dalam alam pikiran orang Jawa.

Berbeda dengan hal itu, Neils Mulder (dalam www.jawapalace.org, 26 Desember 2006) menyatakan bahwa kejawen adalah pandangan hidup orang Jawa yang menekankan ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan, sikap nrima terhadap segala peristiwa yang terjadi sambil menempatkan individu di bawah masyarakat dan masyarakat dibawah semesta alam. Niels Mulder memperkirakan unsur-unsur ini berasal dari masa Hindu-Budha dalam sejarah Jawa yang berbaur dalam suatu filsafat, yaitu sistem khusus dari dasar bagi perilaku kehidupan. Oleh sebab itu tidaklah berlebihan rasanya mengatakan bahwa Hindu dan Buddha-lah yang sesungguhnya telah meletakkan dasar-dasar falsafah dan pandangan hidup orang Jawa.

b. BUDI PEKERTI JAWA

Budi pekerti Jawa dibangun di atas pondasi kebersamaan dan kegotong-royongan, sikap hidup nrimo, mengutamakan ketentraman batin, tunduk pada norma-norma yang berlaku di masyarakat, dan hidup serasi dan selaras dengan alam. Hal ini semakin memperkuat keyakinan bahwa etika orang Jawa dibangun oleh nilai-nilai universalitas etika Hindu.

Etika seringkali hanya dipahami sebagai aturan tingkah laku dalam kehidupan bermasayarakat, bagimana manusia berperilaku terhadap manusia lain. Dalam pengertian yang sebenarnya hal itu disebut etiket, bagian dari etika. Sedangkan etika sendiri tidak hanya berbicara etiket, melainkan juga berbicara moralitas, hal-hal mendalam tentang etika, hakikat dari etika. Demikian halnya dengan Etika Hindu yang memaknai etika tidak saja dalam hubungan antara sesama manusia, melainkan juga sebagai landasan hidup spiritual.

Ranah etika Hindu dapat dipahami adalah Tri Hita Karana, yaitu parahyangan, pawongan, dan palemahan. Parahyangan berarti hubungan manusia dengan Tuhan yang diwujudkan melalui jalan catur marga. Dalam kehidupan orang Jawa, hal ini diwujudkan dengan sebuah kesadaran awal, yaitu narimo ing pangdum (menerima apapun telah diberikan Tuhan). Sebuah keyakinan bahwa segala yang ada dalam kehidupan ini telah digariskan oleh Tuhan, manusia hanya bisa menerima dan terus berusaha dan berdoa. Orang Jawa, demikian pula Hindu mengajarkan bahwa setiap orang yang lahir telah dibekali dengan kualitas atau potensi sendiri-sendiri yang harus dikembangkan selanjutnya dalam kehidupan yang lebih nyata. Oleh karena semua ini ditentukan oleh Tuhan melalui hukum karmanya, maka manusia diharuskan untuk selalu ber-karma (bertindak) sesuai dengan dharma, dan semua karma itu dilakukan sebagai persembahan (yajna) kepada Tuhan. Dalam kaitannya dengan etika, bahwa setiap tindakan etika harus dilaksanakan dengan kesadaran penuh sebagai persembahan kepada Tuhan. Bahkan dalam yoga sutra patanjali diajarkan bahwa etika adalah dasar spiritual Hindu, yaitu Panca Yama Brata, meliputi ahimsa (tidak menyakiti/membunuh), satya (berperilaku bajik), asteya (tidak ingin milik orang lain atau tidak mencuri), brahmacarya (tidak melakukan hubungan seks), dan aparigraha (menolak pemberian yang tidak perlu, hidup sederhan dan tidak serakah) dan Panca Nyama Brata, meliputi sauca (murni dan suci diri), santosa (kepuasan batin), tapa (tahan terhadap segala ujian dan godaan), svadhyaya (mempelajari ajaran ketuhanan), dan isvarapranidhana (bhakti kepada Tuhan).

Pawongan berarti keharmonisan hubungan manusia dengan manusia lainnya. Dalam hal ini Hindu mengajarkan bahwa etika harus dilakukan berdasarkan tri kaya parisudha, yakni pikiran (manah), perkataan (wak), dan tindakan (kaya). Ini berarti etika Hindu menekankan pada internalisasi nilai etika, bukan sekedar dramaturgi atau topeng sahaja. Dalam Sarasamuccaya, 79 dijelaskan bahwa pikiranlah yang menentukan segala perkataan dan perbuatan. Oleh karena itu pikiran yang harus diusahakan selalu adalah tidak menginginkan milik orang lain, kasih sayang terhadap semua makhluk, dan percaya pada hukum Karmaphala. Dalam budi pekerti Jawa hal ini diterjemahkan dalam terminologi ojo demen darbeking wong liyo (jangan menginginkan milik orang lain), welas asih marang sesomo (cinta kasih pada sesama), ngunduh wohing pakarti, sopo kang nandur bakal ngunduh (bahwa setiap perbuatan yang dilakukan akan mendatangkan hasil, siapa yang menanam pasti akan memetiknya).

Sedangkan perkataan dikatakan sebagai pedang yang paling tajam dan menunjukkan harga diri dan jati diri seseorang. Dalam ungkapan Jawa dikatakan “ajining diri saka lati, ajining raga saka busana” (harga diri seseorang ditentukan oleh lidahnya (ucapannya), harganya tubuh ditentukan oleh pakaiannya (pakaian di sini sesungguhnya menunjuk pada harta dan tahta)). Dalam Hindu (Nitisastra) diajarkan bahwa dari perkataan orang mendapatkan suka dan duka, dari perkataan orang juga mendapatkan teman atau musuh, bahkan kematian. Perkataan yang harus dikendalikan menurut Sarasamuccaya 75, antara lain (1) tidak berkata-kata kasar; (2) tidak mencaci maki; (3) tidak menfitnah; (4) tidak ingkar janji.

Perbuatan demikian juga halnya pikiran dan perkataan adalah satu kesatuan dalam membentuk prilaku Etika Hindu secara utuh. Dalam Etika Jawa ada sebuah ungkapan yang menjadi dasar perbuatan, yaitu “yen loro dijiwit yo ojo njiwit” (kalau merasa sakit dicubit janganlah kau mencubit). Ini sejalan dengan makna “tat twam asi” bahwa jiwa setiap makhluk adalah sama, oleh karenanya semua makluk adalah saudara (vasudewa kutumbakam) sehingga menyakiti orang lain sama dengan menyakiti diri sendiri. Hindu dan juga orang Jawa mengajarkan bahwa setiap perbuatan harus diukur dari dampak suatu perbuatan jika menimpa pada dirinya sendiri. Jika orang lain melakukan perbuatan yang menyakiti kita, demikian sebaliknya jika kita melakukan perbuatan serupa kepada orang lain. Sarasamuccaya 76 mengajarkan perbuatan-perbuatan yang tidak layak dilakukan, yaitu membunuh (himsa karma), mencuri/mengambil hak milik orang lain (asteya), dan berbuat zina/ prilaku seks menyimpang (gamya gamana). Keseluruhan aspek in dirumuskan dalam satu pepatah Jawa “Ojo Dumeh” yang bermakna jangan karena merasa diri mampu lalu berbuat semena-mena. Ada beberapa ungkapan “ojo dumeh” sebagai berikut:

–       Ojo Dumeh pinter terus keminter (jangan karena merasa pintar lalu sok pintar).

–       Ojo Dumeh sugih terus siyo marang wong ringkih (jangan karena merasa diri kaya lalu kejam pada orang yang miskin)

–       Ojo Dumeh kuoso terus daksiyo marang kawulo (jangan karena berkuasa lalu sewenang-wenang pada rakyat).

Palemahan adalah bagaimana hubungan manusia dengan alam sekitar atau lingkunganya. Alam semesta adalah kamadhuk, pemberi segala kebutuhan manusia. Dalam kebudayaan Jawa, hal ini diceritakan dalam sebait lagu “katawang ibu pertiwi”, sebagai berikut:

ibu pertiwi, Ibu Pertiwi

paring boga lan sandang kang murakabhi, Memberi makan dan sandang

yang cukup.

Asih mring sesami manusa kang bekti, Kasih kepada semua manusia

yang berbakti.

ibu pertiwi, mrih susetyo ing sesami, Ibu pertiwi, berlakulah adil

pada semua makluk.

ayo sujud mring ibu pertiwi” Mari bersujud pada ibu pertiwi.

 

Hanya dengan menjaga keseimbangan dan keserasian alam semesta maka kebahagiaan hidup manusia dapat tercapai (jagadhita)

 

III. SIMPULAN

  • Kejawen atau pandangan hidup orang Jawa sesungguhnya dibentuk berdasarkan dari agama Hindu dan Buddha.
  • Nilai-nilai universal etika Hindu rupanya telah meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam budi pekerti Jawa.
  • Ranah Etika Hindu adalah parahyangan, pawongan, dan palemahan. Pada dasarnya ketiganya adalah keharmonisan yang harus diusahakan demi tercapainya kebahagiaan hidup jasmani dan rohani manusia. Sedangkan aspek etika Hindu adalah pikiran (manah), perkataan (wak) dan perbuatan (kaya).
  • Ketiganya juga menjadi dasar-dasar budi pekerti Jawa yang mengutamakan ketentraman batin, kebersamaan, hidup selaras dan harmonis dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, serta tunduk pada hukum alam semesta dan menjaga alam semesta beserta isinya. Bahwa etika Jawa menekankan pada keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan lingkungannya, sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana.


DAFTAR PUSTAKA :

Endraswara, Suwardi. 2003. Budi Pekerti dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita.

Gorda, I Gusti Ngurah, 1996. Etika Hindu dan Perilaku Organisasi. Singaraja: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Satya Dharma.

____________, 2004. Membudayakan Kerja Berdasarkan Dharma. Singaraja: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Satya Dharma.

____________, 2006. Etika Hindu: Materi Kuliah Etika Hindu. Denpasar: Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan UNHI Denpasar.

Gunadha, Ida Bagus. 2003. Refleksi Nilai-Nilai Etika Hindu Dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan, Sains dan Teknologi: Pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Etika Hindu. Denpasar: Universitas Hindu Indonesia.

Herusatoto, Budiono, 2003. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita.

Kajeng, I Nyoman. 2000. Sarasamuccaya. Surabaya: Paramita.

Mulder, Neils. 2006. Kebudayaan Jawa dalam www.jawapalace.org.

sumber :

http://narayanasmrti.com/2011/03/26/nilai-nilai-universal-hindu-dalam-budaya-jawa/

Ramalan Nabi Muhammad dalam Veda?

Om Svastyastu,,

Salam kasih dan sejahtera untuk kita semua,

 

 

Dalam suatu kesempatan saya mendapatkan artikel yang menarik untuk di bahas,artikel ini saya dapatkan dari blog ini dan ini,dimana didalam artikel tersebut membahas mengenai “ramalan Nabi Muhammad dalam Weda” meskipun sudah banyak  bantahan mengenai klaim yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah Kalki Avatara namun ada baiknya kita bahas sedikit,berikut beberapa klaim yang di keluarkan oleh admin blog itu,,

 

Pada  blog yang pertama ,kata pembukaan  Di awali dengan kata  yang begitu “MANIS” yakni :

KEBOHONGAN HINDU
(A MILLION BULLSHITS OF HINDUISME)

Sebagaimana klaim orang2 kafir dari golongan Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen) terhadap Alkitab, orang2 kafir dari golongan musyrik Hindu juga mengklaim bahwa Kitab Weda adalah kitab yang bersifat universal, karenanya mereka pun berusaha memperkenalkan ajaran Weda kepada setiap orang.

Sungguh, suatu klaim yang tak berdasar. Orang2 Hindu tampaknya lebih mementingkan ego terhadap ajaran agamanya yang sebenarnya merupakan warisan tradisi leluhur secara turun-temurun yang tidak jelas. Secara kasat mata saja, kita bisa melihat bahwa praktek2 ibadah Hindu adalah praktek2 kepercayaan kuno yang tidak mungkin disebut universal.

Berkaitan dengan ketidakuniversalan Hindu dan Weda ini, Gotama Smarti berkata:  “Apabila orang Sudra kebetulan mendengarkan Kitab Weda dibaca, maka adalah kewajiban raja untuk mengecor cor-cor timah dan malam dalam kupingnya; apabila seorang Sudra membaca mantra-mantra Weda, maka raja harus memotong lidahnya, dan apabila ia berusaha untuk membaca Weda, maka raja harus memotong badannya.” (Gotama Smarti:12).

Jelaslah, bahwa Kitab Weda yang diklaim Hindu sebagai kitab universal itu, ternyata hanyalah sebuah kitab untuk golongan tertentu saja, yang sekaligus membantah dugaan keuniversalannya.

 

Hem,kata orang fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan.betul gak?

Saya akan coba luruskan mengenai sloka gotama smrti yang telah di”fitnah”kan kepada kami,berikut sloka aslinya :

 

(Gotama Smerti; 12)

“Wedam upa srnwatas trapu jatubhyam srotra prati purana udaharane jihwac chedo dharane sarira bheda asana sayana wak pathisu sama prepsur dandyah satam”

yang artinya:
“Bagi warna sudra (para pekerja) yang ingin mempelajari Weda, supaya berhasil dengan baik yakni dengan mendekatkan pendengarannya mulai dari awal pengertian-pengertian, bahasa dan ucapannya dengan menutup pengaruh dari luar, badan duduk dengan tenang (asana) ditempat belajar dan ucapan diulang-ulang terus menerus sampai akhir.”

Sudah kita lihat bagaimana fitnah yang di berikan kepada kitab hindu melalui sloka “bajakan” tersebut. 🙂

 

kutipan Selanjutnya dari klaim tersebut yakni :

Lebih jauh, kitab2 agama Hindu lainnya justru meramalkan kedatangan seorang tokoh yang sangat cocok bahkan sama persis dengan sosok Nabi Muhammad SAW. Berikut ini kami suguhkan beberapa ramalan tentang Nabi Muhammad SAW dalam berbagai kitab agama Hindu:

 

 

Dapat kita lihat bagaimana klaim yang sangat menarik,di satu sisi memojokan agama hindu dan di satu sisi lainnya mencari “pengakuan” dari kitab yg dipojokan tersebut.

Selanjutnya :

 

Dalam Atharvaveda book 20 Hymn 127 Shlokas 1-14 disebutkan tentang Kuntupsuktas yg mengisyaratkan bahwa nabi Muhammad akan terungkap kemudian.

• Mantra 1 mengatakan : ia akan disebut Narasangsa. “Nars” artinya orang, “sangsa” artinya “yg terpuji”. Jadi Narasangsa artinya : orang yg terpuji. Kata “Muhammad” dalam bahasa arab juga berarti : orang yg terpuji. Jadi Narasangsa dalam bahasa Sansekerta adalah identik dg Muhammad dalam bahasa arab. Jadi Narasangsa adalah figur yg sama dg nabi Muhammad. Ia akan disebut “Kaurama” yg bisa berarti : pangeran kedamaian, dan bisa berarti : orang yg pindah (hijrah). Nabi Muhammad adalah seorang pangeran kedamaian yg hijrah dari Makkah ke Madinah. Ia akan dilindungi dari musuh yg akan dikalahkannya yg berjumlah 60.090 orang. Jumlah itu adalah sebanyak penduduk Makkah pada masa Muhammad hidup yaitu sekitar 60.000 orang.
• Mantra 2 mengatakan : ia adalah resi yg naik unta. Ini berarti ia bukan seorang bangsawan India, karena dikatakan dalam Mansuriti(11) : 202 mengatakan bahwa Brahma tidak boleh menaiki unta atau keledai. Jadi tokoh ini jelas bukan dari golongan Brahmana (pendeta tinggi Hindu), tapi seorang asing.
• Mantra 3 mengatakan : ia adalah “Mama Rishi” atau resi agung. Ini cocok dg nabi agung umat Islam yaitu nabi Muhammad SAW.
• Mantra 4 mengatakan : ia adalah Washwereda (Rebb) artinya orang yg terpuji. Nabi Muhammad yg juga dipanggil dg nama Ahmad adalah berarti juga “orang yg terpuji” yg terjemahan bahasa Sansekerta-nya adalah Rebb.

Dalam Atharvaveda book 20 Hymn 127 Shlokas 1-14 disebutkan tentang Kuntupsuktas
Sebelumnya kita koreksi dikit, dalam Sruti disebut Mantra bukan sloka
secara lengkap adalah book 20 hymne 127. 1-14 adalah mantra yang menjelaskan tentang pemujaan Kaurama penderma dari bangsa Rusama (dan saya tau sumber yg dipakai Dr Naik dan Haque adalah terjemahan Ralph T.H. Griffith, [1895] ) namun kitab terjemahan lain juga ada misalnya MAURICE BLOOMFIELD [1897]
oke kita bahas  🙂

Mantra 1 :

Griffith
Listen to this, ye men, a laud of glorious bounty shall be sung.
Thousands sixty, and ninety we, O Kaurama, among the Rusamas have received.

Maurice
Listen, ye folks, to this: (a song) in praise of a hero shall be sung! Six thousand and ninety (cows) did we get (when we were) with Kaurama among the Rusamas,–

Artinya :
Dengarkanlah kalian! Seorang yang layak dipuji akan dipuji-puji. O Kaurama
kami telah menerima di antara para Rushama enam puluh ribu dan sembilan

Bangsa Rusama disebutkan dalam RigVeda sebagai yang kaum dilindungi oleh
Indra, dan pada kesempatan2 lainnya ditunjukkan sebagai sebuah komunitas yang tiada sangkut paut apa2 dengan Mekkah. Kaurama adalah nama lain dari Kaurava, seorang penderma murah-hati dalam komunitas mereka.
( dan ingat Arthavaveda lagi bicara tentang Indra lo disini bukan lagi meramal karena tidak ada ramalan dalam Sruti ) lalu kenapa Narasangsha “yang terpuji” menjadi Hak Paten Nabi Muhammad dan setiap kata yang berarti “yang terpuji” itu pasti merujuk Nabi Muhammad ?
sedangkan
‘narasansha’ yang diterjemahkan sebagai penyanyi, dapat juga berarti seseorang yang sedang memuji. Seseorang yang sedang memuji tidaklah sama dengan ‘yang layak dipuji’. Narasansha tidak sebanding dengan Muhammad.
( klo ada waktu silahkan baca Gopatha Brahmana yang merupakan brahmananya dari arthavaveda, disana kata2 dalam mantra lebih diuraikan artinya )

Mantra 2

Griffith
Twenty camels draw his carriage, with him being also his wives. The top of that carriage or chariot bows down escaping from touching the heaven.

Dua puluh unta menarik gerobaknya, beserta dengannya juga ikut istri2nya.Puncak dari gerobak atau keretanya itu merunduk untuk menghindari dari persentuhan dengan sorga.

Maurice
Whose twice ten buffaloes move right along, touether with their cows; the height of his chariot just misses the heaven which recedes from its touch.

‘dia yang memiliki dua kali sepuluh kerbau maju mengiringi, bersama dengan sapi2 mereka, tinggi dari keretanya hampir saja mencapai sorga yang mengundurkan diri dari sentuhannya

Jadi pertanyaannya adalah adakah ada unta yang digunakan oleh orang INDIA dalam zaman Veda, juga tidak sekalipun dapat anda jumpai mengenai unta dalam kitab2 Hindu yang manapun. Dan ini murni masalah penterjemahan.

Mantra 3

Grifitth
A hundred chains of gold, ten wreaths, upon thee Rishi he bestowed, And thrice-a-hundred mettled steeds, ten-times-a-thousand cows he gave.

Maurice
This one (Kaurama) presented the seer with a hundred jewels, ten chaplets, three hundred steeds, and ten thousand cattle.

Anda lihat kan tidak ada disebutkan Mamahrsi, Kata Sanskrit sebenarnya adalah ‘ahammiddhi’, ‘aham’ berarti “Aku” jadi mamah berarti milikku, ga ada hubungannya kan dengan Muhammad ?

Mantra 4

grifitth
Glut thee, O Singer, glut thee like a bird on a ripe-fruited tree.Thy lips and tongue move swiftly like the sharp blades of a pair of shears.

Maurice
Disport thyself, O chanter, disport thyself as a bird upon a flowering tree; thy tongue glides quickly over the lips as a razor over the strop.

Artinya :
adalah “Berlimpahlah hai penyanyi,berlimpah-limpahlah, seperti seekor burung pada pohon yang berbuah matang”.

 

 

Semua ramalan yg disebut diatas tadi tiada lain merujuk pada nabi Muhammad SAW. Penjelasannya demikian :

• Dirumah Visnuyash berarti dirumah pengikut Vishnu (pengikut Tuhan) sedangkan ayah dari nabi Muhammad adalah bernama Abdullah yg artinya adalah pengikut Allah (pengikut Tuhan). Orang Islam menyebut “Allah” sbg Tuhan, sedang orang Hindu menyebut “Vishnu” sbg Tuhan. Jadi di rumah Visnuyash adalah di rumah Abdullah.
• Summati dalam bahasa sansekerta artinya adalah orang yg sangat setia. Sedangkan ibunda nabi Muhammad adalah bernama Aminah yg dalam bahasa arab artinya juga orang yg setia.

Apakah maksud dari arti kata Ayahanda Kalki (Vishnuyasha sama artinya dengan nama ayahanda Muhammad (Abdullah)? Tidak, Vishnuyasha berarti Pengikut Wisnu, sedangkan Abdulah berarti Pengikut Allah, Kata Allah pada jaman Pra-islam Allah berkonotasi dengan dewa bulan. Pada jaman sebelum islam orang Arab menyembah dewa(i). Di Mekah, “Allah” adalah dewa tertinggi bangsa Quraish, sukunya Nabi. Allah memiliki 3 puteri: Al Uzzah (Venus); Manah, dewi nasib dan Al Lat, dewi tumbuh2an.

Kutipan:

• Sambala bahasa arabnya adalah tempat yg aman & damai. Nabi Muhammad dilahirkan di Makkah yg terkenal dg nama “Darul Aman” yaitu tempat yg aman & damai. Akan lahir diantara kepala suku Sambala, artinya bahwa nabi akan lahir diantara kepala suku di Makkah.

 

Apakah Ayahanda Muhammad kepala suku, atau keluarga kaya atau keluarga terpandang? Tidak, Muhammad bukanlah orang kaya, bukan anak kepala suku dan bukan dari keluarga terpandang, ia lahir di Bakka (Quran 3:96) dan kemudian dikenal sebagai Mekah. Suku Quraish adalah penghuni aslinya, mengingat fakta bahwa suku merekalah yg memiliki kontrol atas pengawasan dan ritual religius dari rumah Tuhan tsb.
Anggota2 dari suku Quraish terdiri dari tiga kelompok. Satu adalah kelompok pendeta, yg mengontrol rumah Tuhan dan mendapatkan pemasukan dari para peziarah. Kelompok kedua terdiri dari sejumlah kecil orang Quraish yg melakukan perdagangan. Kelompok ketiga adalah yg paling besar, dan terdiri dari mereka yg menopang hidupnya dg menyediakan air dan pelayanan2 lain bagi para peziarah.
Pekerjaan ini tidak menjamin pemasukan yg tetap bagi mereka; ketika mereka menerima peziarah dalam jumlah yg banyak, mereka mendapat pemasukan yg besar, tapi ketika jumlah peziarah kecil pendapatan merekapun kecil. Orang2 ini spt pekerja zaman kita sekarang; mereka dibayar kalau ada pekerjaan. Lebih dari 1400 tahun yg lalu, tinggal di Mekah seorang laki2 bernama Abdullah. Dia termasuk kelompok ketiga dari kaum Quraish. Istrinya bernama Aminah. Karena dia tidak mempunyai pendapatan yg tetap, keuangan rumah tangganya selalu kempas kempis. Seringkali keduanya harus tidur tanpa makan..

Kutipan:

• Kalki Dilahirkan pada tanggal 12 di bulan pertama Madhop. Nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 rabiul awal

Kalki Avatara akan muncul didunia pada kisaran 352.981 Masehi atau tahun 424.981
Dengan penjelasan :

Kalki Avatara itu akan hadir pada akhir jaman Kaliyuga dan Awal jaman Krta yuga/Satya Yuga. Sehingga pertanyaan berikutnya adalah kapan sih itu dalam perhitungan tahun masehi?

Permulaan jaman kali yuga adalah saat meninggalnya Krishna Avatara yaitu di tahun 3102 BC dan berapa panjangkah jaman kali yuga itu?

Dalam teks-teks hindu dikatakan bahwa panjang jaman kali yuga adalah antara 360.000 tahun (Brahmanda Purana 1.2.29.31-34) dan 432.000 tahun (Perhitungan yang didasari dari Vishnu Purana (Book One, Chapter Three), the Srimad-Bhagavatam (3.11.19), juga dengan Bhagavad-gita (8.17), Vayu Purana (Chapter 57) dan Shanti Parwa( 231))

Kalky avatar lahir pada bulan Baisakha 12 hari setelah bulan penuh (purnama), berarti 12 hari setelah tanggal 14/15 yaitu tanggal 26/27 akhir bulan Baisakha.
Sementara itu kepastian tanggal lahir Muhammad pun tidak diketahui saat dulu maupun sekarang. Pendapat para Ulama berbeda-beda dalam hal ini. Phillip K. Hitti berkata bahwa dia dilahirkan sekitar 571 AD (History of the Arabs, hal 111). Abdullah Yusuf Ali berkeras, “tahun yg selalu diberikan utk kelahiran sang Nabi adalah 570 AD, meski tanggalnya harus dikira-kira, jadi angkanya adalah antara 569 dan 571, kemungkinan batas paling ekstrim.” (Quran, V.2, hal 1071).
Walau tahun kelahirannya Muhamad misterius, Muslim tetap menetapkan bahwa dia lahir dijam2 awal pada hari Senin, hari ke-29 bulan Agustus, 570 AD (Lihat Ghulam Mustafa, Vishva Nabi, hal 40). – Sebuah perayaan yg mereka rayakan dg pawai riuh. Namun faktanya tetap: tahun kelahiran Muhamad tidak ditetapkan berdasarkan bukti2 sejarah yg dapat dipercaya. Perayaan kelahiran Muhammad, dengan begitu, ini tidak berdasarkan sumber2 kuat Islam namun hanya berdasarkan tradisi.

Kutipan:

• Dia akan memperoleh bimbingan di atas gunung dan akan kembali lagi ke arah utara. Nabi Muhammad memperoleh wahyu pertamanya di gua Hira di Jabal Nur. Jabal Nur artinya Gunung Cahaya lalu kembali lagi ke Makkah.

 

Kalki dibimbing oleh gurunya bernama Ram digunung mahendra. Dan tidak ada disebutkan bahwa gurunya adalah utusan Tuhan dan tidak pula disebutkan bahwa Kalki atau Gurunya tinggal di Goa tapi di atas gunung.

Kutipan:

• Dia akan diberi kendaraan yg sangat cepat oleh Shiva. Nabi Muhammad juga diberi bouraq yg sangat cepat oleh Allah yg membawanya ke langit dalam peristiwa Mi’raj.
• Dia akan naik kuda putih dg tangan kanannya memegang pedang. Nabi Muhammad juga ambil bagian dalam peperangan termasuk dg menunggang kuda dan bertempur dg memegang pedang dg tangan kanannya.

 

Apakah Muhammad diberi bouraq oleh Shiva ) just kidding ? 🙂

Apakah Muhammad mempunyai kuda putih sebagai tunggangannya setiap saat? Tidak, Ia tidak mempunyai tunggangan yang sama yang dipakainya setiap saat dan tidak pernah tercatat bahwa Muhammad mempunyai kuda berwarna putih sebagai tunggangannya.
Apakah Buraq adalah Kuda putih? Tidak, Buraq adalah suatu mahluk menyerupai hewan berwarna putih berbadan lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari Bagal (MuslimBook 001, Number 0309, Buchari, Vol 5, Book 58, Number 227 bermuka Manusia dan berekor merak (The Haj, Leon Uris’s dan Gambar Buraq dari literatur abad 16). Buraq tidak ditunggangi Muhammad setiap saat namun hanya satu kali yang konon terjadi pada peristiwa Isra’ Mir’aj [AQ 17:1; Bukhari vol 9, buku 63 no.608; Tisdal, W., “Original Sources of Islam”, hal. 78] pada tanggal 27 Rajab tahun ke-11 kerasulan Muhammad. Buraq tidak pernah disebut dalam Al Qur’an dan hanya muncul di Hadis sahih Muslim dan Buchari dan itupun tidak pernah disebutkan sebagai Kuda berwarna putih. Peristiwa Isra’ Miraj menyatakan.
Sementara Kalki dikisahkan bersenjatakan Petir(Bajra) yang menyerupai Pedang yang dapat menghanguskan sebuah Kota (ini lebih menyerupai senjata masa depan daripada sebuah pedang jaman dulu) Kalki Purana, III[7], Verses 9 & 10
Apakah Muhammad diceritakan memiliki pedang yg dapat menghancurkan sebuah kota?

Kutipan:

• Dia akan dibantu oleh 4 sahabat dalam menyebarkan misi. Kita tau ada 4 orang khalifah sahabat nabi yaitu : Sayyidina Abubakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
• Dia akan ditolong oleh malaikat di medan pertempuran. Dalam perang Badr nabi Muhammad dibantu oleh para malaikat Allah spt tersebut dalam QS. Ali Imran (3) ayat 123 & 125 : “Jika kamu bersabar dan bertaqwa dan mereka menyerang kamu dengan seketika itu juga niscaya Allah menolong kamu dengan 5000 malaikat yg memakai tanda”. Juga QS. Al-Anfal(8) ayat 9 yang berbunyi “…. sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yg datang berturut-turut.”

5000 atau 1000  malaikat?

Oh ya nih ada yang belum terungkap dari Kalki Purana :

Kalki, the annihilator of Koli forgot his mission and stayed there happily in that home (in Shambhala) for many years…Padma gave birth to two sons named Joy and Vijoy who were powerful and famous.

~ Kalki Purana, II[6], Verses 32 and 36

Apakah Istri Muhammad ada yang bernama Padma? Tidak, Selain dari Khaddijah, istri-istri Muhammad lainnya adalah Saudah, Aisyah, Hafshah, Zainab binti Khuzaimah, Ummu Salamah, Juwariyah, Zainab binti Jahsyi(Mantan istri anak angkat Muhammad-Zaid ibn Haritsah), Raihanah(Budak milik Muhammad), Syafiyyah, Maemunah, Maria Qibthiyyah(budak milik Hafshah), Arkian dan masih banyak lagi(Sumber:Biografi Rasullulah, Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad, Penerbit Qisthi press, Januari 2006, hal.887: Seandainya Rasulullah s.a.w berkehendak untuk memiliki ribuan budak perempuan dan selir, tentu saja Rasulullah s.a.w. tidak akan mengurangi haknya untuk mengambil hal tersebut. Apalagi….)

Apakah Muhammad mempunyai banyak anak yang gagah perkasa dan penakluk musuh? Tidak, Semua anak laki-lakinya telah mati muda, Dari Khadijah (Qasim dan Abdullah) meninggal selagi bayi, dari Budaknya Maria al-Qibthiya (Ibrahim) meninggal saat usia 4 tahun. Yang tersisa hanya berasal dari putrinya Fatimah yang menikah dengan Ali (Hasan dan Husain) yang juga tewas sekeluarga dibantai pada masa Bani Umayah dan Bani Abbas.

 

 

 

Apakah Avatar / Awatara itu????

Mungkin teman-teman kita yang muslim masih bingung mengenai apa itu avatar/awatara,,
Awatara atau Avatar (Sansekerta: अवतार, avatāra, baca: awatara) dalam agama Hindu adalah inkarnasi dari Tuhan Yang Maha Esa ke dunia dengan mengambil suatu bentuk material, dalam tujuan menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kejahatan dan menegakkan dharma seperti yang dikatakan dalam Dalam Bhagawad Gita:

“Yadā yadā hi dharmasya glānir bhavati bhārata abhyutthānam adharmasya tadātmanam srjāmy aham paritrānāya sādhūnām vināśāya ca duskrtām dharma samsthāpanarthāya sambavāmi yuge yuge” (Bhagavad Gītā, 4.7-8)

artinya :
manakala kebenaran merosot dan kejahatan merajalela, pada saat itulah Aku akan turun menjelma ke dunia, wahai keturunan Bharata (Arjuna)

Jadi Ia adalah Tuhan yang Turun kedunia untuk menegakkan kebenaran dan menyelamatkan dunia dari kejahatan dari zaman ke zaman

lalu siapa Muhammad ?
Apakah Muhammad adalah Tuhan? Tidak, Muhammad adalah seorang utusan Tuhan. Sedangkan Kalki Avatara adalah Tuhan
kalimat Syahadat (maaf klo salah tulis)
” Saya bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad saw adalah Rasul / utusan Allah. ”

 
saya harap tulisan yang sedehana ini bisa membantu pembaca sekalian,

Om santhi,santhi,santhi Om

Semoga damai di hati,didunia dan damai selamanya.

 

Rujukan yang  sejenis bisa di jumpai disini,disini,disini, disini dan disini

Sumber tulisan :

http://forum.kafegaul.com/showthread.php?t=194497

 

 

 

Kitab Weda Hanya Untuk Golongan Tertentu??

Kitab Weda Hanya Untuk Golongan Tertentu??

Salam kasih dan salam sejahtera untuk kita semua.

Kata orang fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, tapi menurut saya pembunuhan itu lebih kejam daripada fitnah, tapi bagi saya fitnah + pembunuhan itu yang lebih kejam.

Di forum kaskus ini, banyak skali yang saya temukan tman non-Hindu mmpertanyakan tentang kelemahan Hindu yakni kitab veda hanya untuk golongan tertentu saja,,

Sbenarnya sih ini lagu lama, ketika ada teman yang non-Hindu mmpertanyakan kembali maka saya jelaskan. Sudah saya jelaskan, makin hari ada lagi yang bertanya. Jadi, supaya saya tidak lelah menjelaskannya satu per satu maka saya buatlah artikel ini khusus untuk memaparkan sedikit kesalahan tentang pendapat mereka ini. Semoga bermanfaat untuk kita semua…

Sebelumnya mari kita lihat terjemahan dari sloka gotama smrti 12 yg sering di qoute oleh saudara kita yang non-hindu dan menurut mereka terjemahan sloka ini bisa memperkuat argumen tersebut.
Terjemahan dari Sloka Gotama Smrti 12 yang berbunyi sbb;

“Apabila orang sudra kebetulan mendengarkan kitab Veda dibaca, maka adalah kewajiban raja untuk mengecor cor-coran timah dan malam dalam kupingnya; apabila seorang sudra membaca mantra-mantra weda, maka raja harus memotong lidahnya.”

benarkah terjemahan yg sering di quote oleh saudara qt yg non-hindu tersebut??

Bpk. Ketut Wiana, seorang intelektual hindu dan merupakan salah satu ‘petinggi’ di Parisada (PHDI), sudah meluruskan terjemahan sloka yg menyimpang itu dengan yang ‘orsi’ melalui majalah Tempo 18 September 1993 yg ternyata sloka dan terjemahan yang benar adalah;

“Wedam upa srnwatas trapu jatubhyam srotra prati purana udaharane jihwac chedo dharane sarira bheda asana sayana wak pathisu sama prepsur dandyah satam”
(Gotama Smerti; 12)
arti:
“Bagi warna sudra (para pekerja) yang ingin mempelajari Weda, supaya berhasil dengan baik yakni dengan mendekatkan pendengarannya mulai dari awal pengertian-pengertian, bahasa dan ucapannya dengan menutup pengaruh dari luar, badan duduk dengan tenang (asana) ditempat belajar dan ucapan diulang-ulang terus menerus sampai akhir.”

Kenapa sampai ada terjemahan yang menyimpang itu? karena banyak sloka ataupun mantram dalam Veda telah diterjemahkan secara ‘brutal’ oleh oknum ataupun kelompok yang tidak jelas juga motivasinya akan tetapi juga mungkin memiliki motivasi terselubung.
Pelurusan terjemahan itu dilakukan agar pemahaman ataupun terjemahan yang keliru tidak lagi dipakai, sebenarnya akan lebih baik jika melihat dari bahasa aslinya sedangkan yang dipake pada terjemahan pertama tidak melihat dari bahasa aslinya akan tetapi mengambil dari yang telah diterjemahkan dari bhs. Inggris. Kemungkinan yang dipake adalah terjemahan Max Muller atau yang termasuk dalam “kelompok”nya (para indologis) dalam ‘upaya’ mungkin untk meng’Kristen’kan India yaitu dengan menterjemahkan secara bebas sloka maupun mantram dalam Veda,…..

Bahkan yang anehnya sloka ‘bajakan’ tsb dimasukkan dalam kata pendahuluan terjemahan kitab suci Qur’an versi Indonesia pada jaman Pak Mukti Ali sebagai menteri agama, entah apa motivasinya. Apakah karena ingin menghormati ajaran Hindu?
Bisa jadi 🙂

selanjutnya mari kita lihat sloka yg menunjukan bahwa kitab veda bisa di pelajari oleh sluruh umat manusia :
Yajur Veda XVI.18

“Yaatheram waçam kalyanim awadoni janebhyah,Brahma Rajanyabhyam çudraya caryaya ca siwaya caramayaca”

artinya :

“Biar kunyatakan,di sini kitab suci ini kepada orang-orang banyak,kepada kaum brahmana,kaum ksatrya,kaum sudra,dan kaum waisya dan BAHKAN kepada orang-orangKu dan kepada mereka(orang-orang asing) sekalipun.”

jadi masihkah kita beranggapan bahwa kitab Veda hanya untuk golongan tertentu saja??
Tentu tidak 🙂

salam damai,damai dihati damai di dunia dan damai selamanya.

KEUNGGULAN HINDU DALAM SAINS MODERN DENGAN VEDA BISA BIRSINERGI

KEUNGGULAN HINDU DALAM SAINS MODERN DENGAN VEDA BISA BIRSINERGI

 

Wahai manusia, seperti kapal yang dibuat oleh para ahli untuk mudah menyebrangi lautan demikan pula buatlah dengan angin dan energi sehingga mampu melewati jalan dengan kapal dan pesawat tersebut, Oleh karena itu ciptakanlah beraneka jenis lalu lintas udara dan laut, sehingga mampu mengunjungi satu tempat ke tempat yang lain. ( Rgveda 1.46.7 )

• Sains dan Tekologi dalam Veda.

Yang terpenting adalah ajaran-ajaran dalam agama Hindu bisa diterima oleh logika kita sebagai manusia yang memiliki akal untuk menimangnya. Janganlah kita langsung percaya begitu saja dengan isi kitab sebelum kita dapat mengupasnya menjadi hal yang masuk akal dan bisa diterima oleh akal sehat kita. Apa yang dikatakan oleh agama harus bisa bertemu dengan pembuktian-pembuktian empiris ilmu pengetahuan, sebab agama diperuntukan bagi orang yang masih hidup. Dengan demikian, ajaran agama harus sejalan dengan dunia nyata. Hal ini sesuai dengan nasehat Sang Budha yang menyatakan bahwa “kita tidak boleh membabi buta dalam meyakini naskah-naskah kuno”. Segala yang ada harus ditelaah. Kitab suci Veda juga mengamanatkan, “ Walau seribu Veda mengatakan bahwa api itu dingin, janganlah dipercaya!”.
Sebagai alat untuk mencari kebenaran, sains dan Weda semestinya menuju kebenaran yang sama. Sudah seharusnya sains menjadi jalan setapak menuju pecerahan. Namun tidak ada gunanya kita mempelajari ilmu sains jika kita semakin tidak mengerti akan diri kita sendiri. Upaya untuk menyingkap kebenaran ilmiah dikenal dengan nama metode ilmiah, yang dalam ajaran Hindu dikenal sebagai Tri Premana, yaitu : agama ( sastra) premana ( kesaksian orang lain), anumana premana (penalaran) dan pratyaksa premana (pengamatan langsung). Kerangka berfikir dalam metode ilmiah tersebut merupakan rangkean proses logika-hipotetika-verifikasi.
Pustaka suci Regveda mengamanatkan agar ilmu pengetahuan disebarluaskan sebagaimana halnya cahaya yang menyebar kesegala arah. Seloka pertama dalam Sarasamuscaya menyebutkan “ dharma carte ca kame ca moksa ca bharatasabha, yadiasti tadanyatra yannehasti an tat kvacit.” Artinya segala ajaran tentang caturwaga ( dharma , Harta, Kama dan Moksa), baik sumber, uraian, arti maupun tafsirannya, semua ada di sini. Singkatnya, segala yang ada disini akan terdapat dalam sastra lain, tetapi yang tidak ada disini tidak akan pernah ada dalam sastra lain.

Dr.K. Walker mengatakan ; Pada suatu saat Veda itu adalah Agama, pada saat lainnya adalah fisafat, dan saat lainnya lagi adalah merupakan ilmu sains. Tentu pernyataan tersebut bukan isapan jempol belaka, tetapi didasarkan atas bukti-bukti yang argumentative ilmiah. Pendapat Prof.Dr.D.C Morgan yang sangat mengagumi sifat ilmiah Veda. Sebagai contoh, matematika yang rasanya tidak mungkin terdapat dalam kitab suci agama, ternyata terpendam dalam kitab suci Veda. Ia mengatakan “ Pencapaian tertinggi dan terjauh dari matematika barat modern, masih belum membawa dunia Barat ke ambang matematika Veda, pada zaman India Kuno. Gerald Head juga mengatakan “ Vedanta merupakan keterangan yang sangat alamiah tentang hukum-hukum yang mengatur alam semesta.” Keagungan Veda juga disampaikan oleh Annie Besant, wanita Inggris pemimpin masyarakat theosofi mengatakan “ setelah lebih dari 40 tahun mempelajari agama-agama besar dunia saya mendapat kesimpulan bahwa tidak ada pustaka suci yang sesempurna, seilmiah, sefilosofis dan sespiritual Veda”.

BIDANG FISIKA

Apam rasam udvayasam surye santam samahitam, apam rasasya yo rasah (Yajurveda IX :3).
Intisari yang paling halus yang membentuk air ada di matahari.

Penjelasan : Matahari sesungguhnya adalah bola gas yang berpijar, dengan komponen utama gas hindrogen dan helium. Hidrogen (H2) dapat bereaksi dengan oksigen (O2) menghasilkan air (H2O). Reaksinya 2H2(g) + O2 (g)a 2 H2O(l).

* Somena aditya balinah ( Atharvaveda XIV.1.2).

Matahari menghasilkan energi dari soma ( hiderogen).

Penjelasan : Di Matahari secara terus menerus terjadi reaksi fusi ( penggabungan) inti-inti atom hydrogen menjadi inti atom helium. Reaksi tersebut disertai dengan pelepasan energi yang sangat besar.

* Susunah suryarasmis candrama-gandharvah ( Yajurveda XVIII.40).

Sinar matahari yang disebut susumna, menerangi bulan.

Penjelasan : Bulan merupakan pengiring ( satelit) bagi bumi. Permukaan bulan terdiri atas bebatuan yang dapat memantulkan cahaya matahari, termasuk diantranya ke bumi.

Ava divas tarayanti, sapta suryasya rasmayah, apah samudriya dharah ( Atharvaveda VIII.107.1).
Matahari dengan tujuh warna cahayanya menyebabkan terjadinya penguapan air laut yang selanjutnya menjadi hujan.

Penjelasan : penguraian cahaya putih dari matahari dengan prisma kaca, air hujan, atau busa sabun menghasilkan tujuh warna cahaya yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Warna itu sangat indah sebagaimana terlihat pada warna pelangi. Siklus air di alam ditopang oleh sinar matahari. Uap air yang terbentuk dibawa oleh angin menjadi awan, selanjutnya menebal menjadi mendung. Kemudian ketika mencapai titik kondensasi, maka terjadilah hujan.

Suryasyamrasmayah para patanti asumat (Atarvaveda VI. 105.3).

Sinar matahari terpancar dengan dengan kecepatan sangat tinggi.

Penjelasan : kecepatan cahaya matahari adalah 2,99793 x 108 m/ det.

 

BIDANG KIMIA

Dharayanta adityaso jagat stha ( Regveda II.27.4)

Sinar matahari menopang seluruh alam semesta.

Penjelasan : Sinar matahari menopang melalui energi radiasi yang dikandungnya. Sebagai contoh , Bumi menerima supply energi dari matahari sebesar 1,73 x 1017 joule per detik. Energi sebesar itu hanya seperlima puluh milyar dari seluruh energi yang dipancarkan matahari. Mengingat demikian pentingnya energi matahari , maka matahari disebut sebagai sumber energi pertama dan utama bagi kehidupan di Bumi.

Agnisomau bibhrati apa it tah ( Atharvaveda III.13.5)

Air terbentuk dari Agni ( oksigen ) dan soma ( hidrogen)

Aditer dakso ajayata, daksad u-aditih pari ( Rgveda II.72.4).

Dari Aditi (materi) asalnya daksa (energi) , sebaliknya energi berasal dari materi. Penjelasan: DR. Albert Einstein menemukan hubungan antara materi dan energi dengan persamaan , E = m.c2. Dalam hal ini, E = energi (joule) , m = masa yang berubah menjadi energi (kg), dan c = kecepatan cahaya ( 2,99793 x 108 m/det).

 

BIDANG BIOLOGI

Mahad brahma, yena prananti virudhah ( Atharvaveda I.32.1)

Terdapat jiwa di dalam tumbuh-tumbuhan. Mereka bernafas dan tumbuh karena jiwa itu.

Penjelasan: Percobaan dengan bunga Marigold di Universitas Chulalangkorn, Bangkok, pada tahun 1969, membuktikan bahwa bunga yang dirawat dengan cinta kasih tumbuh lebih subur dibandingkan yang tanpa cinta kasih. Hal yang sejenis juga dilakukan dengan memakai musik keras dan lembut. Selanjutnya, percobaan komunikasi yang bersifat melindungi, oleh Burbank ( seorang ahli botani), dapat mengubah pohon kaktus menjadi tida berduri. Semua itu membuktikan , bahwa di dalam tumbuhan juga terdapat jiwa.

Adhuksat pipyusim isam urjam, suryasya sapta rasmibhih ( Rgveda VIII. 72.16).

Tumbuh-tumbuhan memperoleh energi dari cahaya matahari.

Penjelasan : Tumbuhan dapat mengubah air dan gas karbondioksida menjadi gula dan gas oksigen dengan adanya zat hijau daun (klorofil) dan bantuan sinar matahari ( sinar biru dan sinar merah). Hal tersebut terjadi melalui proses fotosintesis.

Tam it samanam vaninas ca virudho-antarvatis ca suvate ca vivaha ( Samaveda 1824)

Tumbuh-tumbuhan memancarkan udara vital yang dinamakan samana ( oksigen) secara teratur.

Penjelasannya : Oksigen (O2) merupakan hasil samping reaksi fotosintesis yang sangat bermanfaat bagi kehidupan, termasuk untuk pernafasan.

BIDANG MATEMATIKA

Om Kham brahma ( Yajurveda XI.17)

Tuhan Yang MAha Esa adalah nol ( tidak terbatas).

Kalaya te krinani, khustaya , saphena, pada. ( Maitrayani Samitha 3.7.7)

Beberapa pecahan yang digunakan meliputi kala (1/16), kustha (1/12), sapha (1/8), dan pada (1/4).

 

BIDANG LINGKUNGAN

Sarvo vai tatra gaur-asvah purusah pasuh, yatredam brahma kriyate paridhir jivanaya kam ( Atharvaveda VIII.2.25)

Sipapun apakah umat manusia ataukah binatang, hidup dengan selamat, dimana kebersihan atmosfir dipelihara dengan segala cara untuk tujuan hidup.

Ugra ya visa-dhusanih osadhih (Atharvaveda VIII.7.10)

Tumbuh-tumbuhan menghancurkan pengaruh atmosfir yang beracun.

Virudho vaisvadevir-ugrah purusajivanih (Atharvaveda VIII.7.4)

Tumbuh-tumbuhan memiliki sifat para dewa, mereka adalah para juru selamat kemanusiaan. Penjelasan : banyak tumbuh-tumbuhan memiliki kasiat obat yang dapat menyembuhkan.

Agnis tigmena socisa, yasad visvam nya trinam (Yajurveda XVII. 16)

Api menghentikn semua pengaruh buruk pencemaran udaranya dengan nyalanya yang hebat.

Ma-apo himsir, ma-osadhir himsih ( Yajurveda VI.22)

Janganlah mencemari air dan jangan pula menyakiti atau menebangi pohon.

Dyam ma lekhir,anariksam ma himsih ( Yajurveda V.43)

Jangan mengganggu langit dan mencemari atmosfir.

Prtivam dramha, prthivim ma himsih (Maitrayani samitha II 8>14))

Selalu berbuat yang dapat menyuburkan tanah, jangan sekali mencemarinya.

Aham bhumimadadamaryyayaham vstim dasuse martyaya ahamapo anayam vavasana mama devaso anu etamyan. ( Rgveda :4.26.2)

Aku memberikan bumi kepada orang-orang baik, hujan serta udara untuk umat manusia, wahai para bijaksana, datanglah kepada-Ku dengan keinginan yang penuh.

Yam raksantyasvapana visvadanim deva bhumim prthivim apramadam sa no madhu priyam duhamatho uksatu varcasa. ( Atharvaveda 12.1.7)

Para dewa pun tanpa tidur, tidak pernah malas, melindungi bumi yang amat luas, bumi tersebut menyediakan makanan dan minuman serta memberi kekuatan kepada kita semua.

Asambadham badhyato manavanam yasya udvatah pravatah samambahu nana virya osadhirya bibharti prthivi nah prathatam radhyatam nah ( Atharvaveda : 12.1.2 )

Bumi merupakan tempat yang bebas dari gangguan, tinggi, rendah, datar semuanya untuk umat manusia, bumi memiliki beraneka kekuatan dan sumber obat-obatan, demikianlah ibu pertiwi memperluas diri dan mensejahterakan kami.

Ma po mo sadhir himsih ( Yajuveda :6.22)

Jangan mencemari air dan jangan menebang pohon.

 

BIDANG PERTANIAN

Tam prthi vainyo-adhok, tam krsim ca sasyam cadhok ( Atharva-veda VIII.10.24)

Prthi Vainya adalah orang pertama yang memulai sistem pertanian dan mengolah tanah.

Yunakta sira vi yuga tanota. Krte yonau vapata –iha bijam ( Atharva-veda III .17.2)

Pergunakanlah bajak dan tempatkan pasangan sapi padanya. Sebarkan benih di tanah yang sudah dikerjakan.

Te no vyantu varyam, devatra ksetraradhasah (Rgveda III.8.7)

Semoga pemberian pupuk dapat meningkatkan hasil panen kami.

Sunasiravimam vacam jusetham yaddivi cakrathuh payah tenemam sincatam ( Rgveda :4.57.5)

Para petani dengan memahami pertanian, menyiram tanah dengan bijaksana. Maka dari itu hormatilah para petani dan siramlah ibu pertiwi dengan sempurna

 

BIDANG ASTRONOMI

Prajnanaya naksatra-darsam (Yajurveda XXX.10)

Astronomi adalah studi tentang bintang-bintang dan planet-planet.

Ahoratre pari suryam vasane (Atharvaveda XIII.2.32)

Siang dan malam adalah karena cahaya matahari

Trimsad dhama vira jati, prati vastor aha dyubhih (Yajurveda III.8)

Ada 30 muhurta ( satu muhurta = 48 menit) dalam satu hari.

Ahoratratrair vimitam trimsad-angam ( Atharvaveda XIII.3.8)

Satu bulan terdiri dari 30 siang dan 30 malam

Dvadasa pradhayas cakram ekam, trini nabhayani ka utac-ciketa ( Rgveda I.164.48)

Ada 12 zodiak dalam satu lingkaran zodiak dan tiga poros.

Penjelasan : Zodiak itu meliputi : Mesa (Aries), Vrsa (Taurus), Mithuna (Gemini), Karka (Cancer), Simha ( Leo),Kanya (Virgo) , Tula ( Libra), Vrscika ( Scorpion), Kumbha (Aquarius), dan Mina (Pisces). Sedangkan yang dimaksud dengan 3 poros adalah tiga musim yaitu : musim panas,musim hujan dan musim salju.

Citrani sakam divi rocanani sarisrpani bhuvane javani ( Atharvaveda XIX.7.1)

Semua konstelasi perbintangan yang bercahya ini berputar sangat kencang.

Avartayat suryo na cakram (Rgveda II,11.20).

Matahari berputar seperti sebuah roda pada sumbunya.

Ayam gauh prsnir akramid, asadan mataram purah, pitaram ca prayam svah ( Yajurveda III.6)

Bumi yang berbintik-bintik ini ada dan berputar di langit seperti seorang ibu. Ia berjalan mengelilingi matahari sebagaimana seorang ayah.

Penjelasan : Berbeda dengan kitab-kitab suci rumpun Yahudi ( Yahudi, Kristen dan Islam ) yang menyatakan bahwa bumi itu datar seperti piring: Kita suci Veda, sesuai dengan kenyataan menyatakan bahwa bumi itu bulat, sehingga disebut Brahmanda. (Anda = telur atau bulat). Kitab suci rumpun Yahudi mengatakan bahwa bumi sebagai pusat alam semesta (geosentris). Pandangan itu telah dibuktikan ketidakbenarannya oleh Galileo-Galilei, dan gereja baru mengakui kesalahannya hampir 350 tahun berikutnya, yaitu tahun 1992. Yang cukup menarik pada tahun 1993, Sheik Abdelazizibn Baaz, pemimpin tertinggi ulama di Arab Saudi mengatakan, “Bumi ini datar! Siapapun yang menyatakan bumi bundar adalah orang atheis dan karena itu patut di hukum!”

Yat tva surya svarbhanus tamasa avidhyad asurah ( Rgveda.V.40.5)

Oh, Hyang Surya, bayangan rembulan membungkus-Mu dengan kegelapan tebal

Kejadian ini menjelaskan terjadinya gerhana Matahari.

Sam no grahas candramasah, ayam adityas ca rahuna ( Atharvaveda XIX.9.10)

Semoga gerhana-gerhana matahari dan rembulan mendatangkan keuntungan buat kami.

Dalam gerhana-gerhana ini mereka dibungkus oleh bayangan.

Penjelasan : salah persepsi tentang bulan yang di caplok oleh raksasa Kala Rahu. Kala =waktu dan raha = gelap. Jadi Kala Rahu artinya waktu gelap yang terjadi di bumi akibat cahaya matahari terhalang oleh bulan.

Aksum opacam vitatam, sahasraksam visuvati ( Atharvaveda IX.3.8)

Katulistiwa adalah Visuvat. Ia menggenggam ribuan kekuatan yang berkaitan, yang kelihatan seperti jaringan.

Avaksipan arka ulkam iva dyoh ( Regveda X.68.4)

Matahari melemparkan meteor-meteor itu dari langit.

 

BIDANG GEOLOGI

Ya apa sarpam vijamana vimrgvari ( Atharvaveda XII.1.37)

Bumi bergerak berrotasi dan bertranslasi.

Hiranyam ca me, ayas,ca me, syamam ca me, loham ca me, sisam ca me, trapu ca me (Yajurveda XVIII.13)

Semoga kami mendapatkan logam-logam berikut yang terkandung di dalam bumi, yaitu emas, besi,tembaga,logam merah ( tembaga, timah hitam, seng dan timah putih.

 

BIDANG KEDOKTERAN

Atho haridravesu te, harimanam ni dadhmasi ( Atharvaveda I.22.4)

Haridra (Curcuma longa linn) menyembukan penyakit kuning. Ia juga menyembuhkan penyakit hati (liver).

Agnim ca visvasambhuvam. Apas ca visvabhesajih (Rgveda I.23.20).

Api menyembuhkan semua penyakit. Air menyembuhkan semua penyakit.

Sam vato vatu- arapa apa sridhah ( Rgveda VIII.)

Udara yang segar sangat berpaedah . Ia menyingkirkan penyakit dan kuman-kuman menular.

Apamivam savita savisat ( Rgveda X.100.8)

Sinar matahari menyingkirkan semua penyakit.

Visena hanmi te visam (Atharvaveda V.13.4)

Kami menyembuhkan korban gigitan ular dengan memberikan racun kepadanya.

Sadyo jangham ayasim vispalayani, dhane hite sartave pratyadhattam (Rgveda I.116.15)

Dewa Aswin, engkau mengganti kaki dari besi kepada Vispala, sehingga dia (wanita itu) bisa bergerak di medan pertempuran.

Reg Veda 10/97/12

Daun-daun obat menembus dan menyebar ke dalam semua anggota badan dan persendian dari si sakit dan seperti pelerai (moderator) yang tajam dan kuat menghancurkan penyakit.

Reg Veda 1/23/19

Engkau orang terpelajar, dapatkan pengetahuan tentang penyembuhan oleh alam, di bawah air terdapat cairan yang menyembuhkan penyakit belakang yang fatal. Air mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan semua penyakit, dapatkan pengetahuan dan kekuatan ini bagi kehidupan yang sehat dan penuh kebaikan

 

KENAPA KINI DI EROPA SANGAT BANYAK KUIL -KUIL BARU DIBANGUN ?

Oleh : Arjun Surya Visvadeva Kuntiya Surya

Orang India disana termasuk mampu, dan ditopang juga oleh penduduk asli (bule-bule) yang beragama Hindu. Orang India memiliki kemampuan lebih dalam Iptek dalam urusan ilmu komunikasi jadi lebih dihargai dan py wibawa.

Hindu cepat berkembang dibarat karena nilai2 logisnya, yang cocok ma karakter orang barat yang cerdas2.

 

Siddhanta adalah Kitab suci Hindu yang mengulas tentang berbagai benda luar angkasa, pergerakan planet, gerhana, unsur penyusun planet bentuk rotasinya.

Berikut contoh2 penjelasan Kitab Surya Sidhanta dibandingkan dengan Sains modern

Jarak dari matahari:
Saturnus (Sanaiscara) 1.361.727.000 Km (Veda), 1.427.497.0…00 (sains modern)
JUPITER (BRHASPATI), 757.848.000 Km (Veda), 777.276.000 (Sains Modern)
Mars (Angaraka), 230.193.000 Km (Veda), 227.204.000 (Sains modern)
VENUS (Sukra), 108.371.000 (Veda), 107.623.000 (Sains modern)
MERCURI (Budha) 55.007.000 (Veda), 58.296.000 (Sains modern)
Jumlah hari dalam satu tahun.
SATURNUS ( SANAISCARA) 10.766 (Veda), 10.754 (Sains modern)
JUPITER (BRHASPATI) 4.332 (Veda), 4.333 (Sains modern)
Mars (Angaraka) 687 (Veda), 687 (Sains modern)
Venus (Sukra) 225 (Veda), 225 (Sains modern)
Merkuri (Budha) 88 (Veda), 88 Sains (Veda)

Charak Samhita

Charaka Samhita yang merupakan karya ensiklopedis bagian dari Ayurveda yang dibagi menjadi delapan bagian. Bagian Sutra Sthan memiliki 30 Bab; empat bagian pertama yang ditujukan untuk pertimbangan-pertimbangan umum kesehatan dan klasifikasi obat. Dalam Sutra Sthan Obat-obatan dikla…sifikasikan dalam lima puluh kelompok, kategori masing-masing memiliki sepuluh beberapa obat yang terdaftar di lebih dari dari satu kategori. Kategori meliputi antara lain, makanan pembuka, pencahar, anthelmints & obat muntah, anti-tussives, analgesik, antipiretik, sedatif, tonik jantung (penguat jantung), haematinics, diuretik dll. Bab 27 berkaitan dengan kualitas dari sejumlah besar konsep diet, obat-obatan, fungsi anggur dan air. Pada bagian Keenam, Sthan chikitsa atau bagian terapi, terdiri tiga puluh bab. Bab pertama adalah ditujukan untuk Rasayans seperti persiapan dari jenis myrobalans, aindra dan mineral yang berbeda. Ini diklaim memberi efek vitalitas dan perpanjangan hidup yang fantastis. Bab kedua disebut Vajikarans atau bahasa medisnya aphrodisiacs menggambarkan penggunaan telur, daging, dan jus daging, testis ikan, burung dalam kasus tertentu.

http://hubpages.com/hub/shettyas3

Seri Kitab Sains Veda

SAMHITA SUSHRUTA

Samhita Sushruta adalah ilmu pengobatan Veda yang terdiri dari dua bagian, yaitu Purva-tantra dalam lima bagian dan Uttara-tantra. Mereka bersama-sama meliputi dua bagian, terpisah dari Salya dan Salakya, dengan spesialisasi khusus seperti obat, pediatri, geriatri, penyakit telinga…, hidung, tenggorokan dan mata, toksikologi, aphrodisiacs dan psikiatri. Dengan demikian seluruh isi Samhita, adalah bagian dari ilmu bedah, Bahkan, dalam teks Sushruta menekankan Samhita sebuah ensiklopedi untuk mempelajari ilmu medis dengan penekanan khusus pada Salya dan Salakya. Sutra-sthana, Nidana-sthana, Sarira-sthana, Kalpa-sthana dan chikitsa-sthana adalah lima kitab dari bagian Purvatantra berisi seratus dua puluh bab. Agnivesatantra dikenal lebih baik sebagai Samhita Charaka dan Hridayam Ashtanga dari Vagbhata juga memiliki seratus dua puluh bab. Nidana-sthana memberikan mahasiswa pengetahuan etiologi, tanda dan gejala penyakit. Dasar-dasar Embriologi dan anatomi tubuh manusia bersama dengan instruksi untuk venesection (pemotongan pembuluh darah), posisi pasien untuk setiap vena, dan perlindungan struktur vital (Marma) yang dibahas dalam sthana-Sarira. Ini juga termasuk esensi kebidanan. Prinsip-prinsip pengelolaan kondisi bedah termasuk obstetric darurat tercantum dalam sthana-chikitsa, yang juga mencakup beberapa bab tentang geriatri dan aphrodisiacs.

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Sushruta_Samhita#Plastic_Surgery

Taitriya Upanisad

Taiitiriya Upanisad adalah salah satu kitab Upanisad ( kitab pelajaran dari seorang guru ke murid) yang kaya akan ilmu sains biologi, kitab ini membagi bagian luar dari tumbuhan dengan istilah valka (untuk kulit bagian luar) dan vakala (kulit kayu bagian luar). Bahkan Brhadaranyaka Upanisad …memberi tahu lebih detail tentang ini dengan menjelaskan tentang tvak (bagian kulit), mamsa (kuit bagian dalam yang lembut), asthi (xylem), majja (inti) dan snayu (jaringan antara xylem dan sclerenchyma). Bahkan Vrksayurveda dari rsi Parasara menjelaskan tentang sistim transportasi nutrisi dan getah tumbuh-tumbuhan. Semua sistim vaskuler ini diberi nama sarvastrotamsi (itu yang membantu mengalir). Sistim vaskuler ini dibagi menjadi dua yaitu syandana dan sirajala yang merupakan xylem dan phloem dalam ilmu modern yang paling menabjubkan kitab ini juga menjelaskan tentang sel tanaman.

Veda telah menjelaskan teknik penghasilan benih yang baik. Dalam Veda benih disebut vija, endosperm disebut sasya dan cothledon vijapatra. Parasara menggunakan istilah vijamatrka itu untuk cotyledon dan monocotyledonus sebagai ekamatrkavija dan dicotyledonous sebagai dvimatrkavita. Teknik pengolahan benih dalam Veda disebut ankurodbheda yang berarti menyebarkan benih kehidupan; ankura berarti menanam benih

Veda sangat banyak mengulas ilmu yang berhubungan dengan tumbuhan seperti jenis-jenis tumbuhan, karakter tumbuhan, penyakit yang dapat menjangkiti tumbuhan yang semua diulas dengan sangat sistimatis dan masuk akal.

http://en.wikipedia.org/wiki/Taittiriya_Upanishad

Ilmuwan NASA telah membuktikan bahwa bahasa Sansekerta adalah satu-satunya bahasa yang dapat mengekspresikan setiap konsdisi yang ada di alam semesta dengan jelas. Dengan struktur bahasa yang sempurna, Bahasa Sansekerta dapat dan telah digunakan sebagai Bahasa Kecerdasan Buatan, Artificial Intelligence. Rigg Briggs, seseorang peneliti NASA menjelaskan bahwa struktur Panini bisa digunakan untuk menciptakan bahasa tingkat tinggi yang efisien dan sistematis tanpa perlu menggunakan karakter alfanumerik yang sekarang digunakan dalam semua bahasa tingkat tinggi komputer. Bahasa tingkat tinggi artinya, bahasa yang menyerupai bahasa manusia dan merupakan jembatan instruksi manusia dengan mesin (komputer). Bahasa tingkat tinggi ini berkebalikan dengan bahasa mesin (bahasa tingkat rendah ) pada komputer yang terdiri atas kombinasi biner :0 dan 1 (open and close positions).

FILSAFAT VEDA BEGITU DIMINATI DI RUSIA

MOSKOW,RUSIA.

Rusia Academy of Sciences kini mengajarkan program bahasa Sansekerta dan program berbagai cabang filsafat Veda. program ini telah dibanjiri peminat di Rusia. Sebuah Buku filsafat Veda yang dibuat oleh Indologists Rusia, telah diterbitkan dan Komisi Negara Rusia menyat akan itu buku terbaik tahun 2009.

 

Dikutip dari Group Bangkitnya Hindu

http://mertamupu.blogspot.com/2010/08/wikipedia.org/wiki/Vedas

BUNUH DIRI DALAM SASTRA HINDU

BUNUH DIRI DALAM SASTRA HINDU


Salam Kasih, Svastyastu,

Saya membaca HU NUSA dan HU Balipost di internet hampir setiap hari. Setiap membaca berita kejadian orang bunuh diri, nyali menjadi kecil seraya mencakupkan tangan kepada Hyang Parama Kawi, semoga saya dan keluarga saya, dan teman-teman saya, dan orang-orang dekat saya, dan kenalan-kenalan saya, dan seluruh umat manusia tidak didatangi oleh bahaya itu.

Ternyata cukup banyak kejadian seperti itu terjadi di masyarakat. Untuk itu, paling tidak lewat postingan ini, saya ingin Semeton HDnet menyebarluaskan di lingkungan masing-masing bahwa BUNUH DIRI merupakan jalan yang salah dan selain dosa besar, kesalahan tersebut akan membawa orang ke neraka paling gelap:

ANDHANTAMOVISHEYUSTE YE CAIVATMA-HANO JANAH. BHUKTVA NIRAYASAHADRAM TE CA SYUR GRAMA-SUKARAH

“Orang-orang yang bunuh diri (setelah meninggalkan badan wadagnya alias setelah mati) pergi ke neraka yang paling gelap. Setelah menikmati ribuan hukuman-hukuman berat di neraka ia akan terlahirkan menjadi babi.” (Skanda Purana, Kashi.Pu.12.12-13)

Semoga kegelapan tidak menjejali kesadaran batin kita.

OM…, tamaso ma jyotir gamaya,

Ya Tuhan…, jauhkanlah kami dari kegelapan dan tuntunlah kami menuju jalan terang…..

Selain ia merupakan sebuah doa, renungan untuk realisasi spiritual, ia juga merupakan sebuah mantram. “mrityor ma gamaya”, Ya Tuhan YME mohon janganlah hamba diantarkan kepada kematian, tetapi “amritam gamaya”, bimbinglah hamba kepada kekekalan.

Di depan kita ada dua jalan, satu jalan kematian dan satu jalan kehidupan/kekekalan. Satunya adalah mrita dan satunya lagi amrita. Di Bali sedikit bergeser arti, yah… sedikit terbalik arti, “titiang nunas merta…” artinya saya minta makanan. Tetapi, kalau didekatkan ke arti asalnya yaitu Sanskerta, ia seharusnya diterjemahkan saya minta racun. Ternyata kata amerta yang berarti “nectar” berganti menjadi merta. Saya punya seorang teman bernama merta, setelah mendengar arti yang agak keseleo ia mengganti namanya menjadi amrita.

Jalan merta adalah jalan kematian. Di dunia ini, sepanjang kita tidak mendasari segala sesuatu yang kita cari dengan dasar spiritual, semua adalah membimbing kita ke jalan kematian, jalan tidak kekal, jalan kesengsaraan. Kadang jalan kesengsaraan itu bisa dalam bentuk kehidupan yang indah menarik dan menyenangkan dihias oleh berbagai pujian. Namun, jika ia tidak dalam sentuhan spiritual, segala kemewahan dan keindahan tersebut tidak lain hanyalah jalan turun yang menyenangkan. Nah, upanisad tidak menganjurkan kita meniti jalan seperti itu, oleh karena itulah kita diajarkan doa “mrityor ma gamaya”, janganlah hamba dibimbing menuju jalan kematian, jalan khayalan, jalan kehidupan tanpa arti spiritual.

Jalan amrita adalah jalan yang dianjurkan untuk ditempuh karena ia merupakan jalan kebenaran, jalan yang menuntun kita kepada kehidupan yang kekal. Kebahagiaan sejati hanya berada pada kehidupan yang kekal dan bukan kepada kehidupan yang tidak kekal. Kesenangan dalam hiasan apa pun yang berada di lingkungan jalan tanpa sentuhan spiritual, kesenangan tersebut pastilah sebuah kesenangan yang hanya mengikat kita pada kehidupan khayal. Memang, ketika mengkhayalkan sesuatu, untuk sementara kita sempat dibawa melayang-layang pada “seolah” nyata mengalami. Begitulah, sepintas saja kita akan tertawa bergembira, sebentar lagi akan disusul oleh tangisan yang lebih lama (sukhasyanantaram duhkham).

Untuk membedakan jalan “mrita” (kematian) dengan jalan “amrita” (kekekalan) kita memang perlu selalu memantapkan diri kita pada kesadaran spiritual. Sspiritual itu berbeda dengan kehidupan keagamaan. Spiritual adalah tujuan dari segala praktek agama yang kita lakukan. Agama tidak mengajarkan kita untuk tetap berada dalam kesadaran religious. Sejati kita adalah spiritual maka object kita juga adalah spiritual. Inilah yang dinamakan tingkat adhyatmika siddhi, tingkat di mana kita akan sepenuhnya terlindungi oleh kesadaran sat cit ananda…ampurayang…menawi sapunika…

(Darmayasa)
http://www.divine-love-society.org

 

Sumber: http://www.iloveblue.com/bali_gaul_funky/artikel_bali/detail/1785.htm

 

 

Pemujaan Arca Oleh Umat Hindu

Pemujaan Arca Oleh Umat Hindu

Pembaca yang terhormat,

Konsep pemujaan terhadap murti atau arca Tuhan dan berbagai penjelmaan-Nya merupakan ciri pokok cara sembahyang dalam agama Hindu. Sebaliknya, dalam ajaran agama lain cara tersebut dipandang sebagai sebuah jalan kesesatan. Islam dan Kristen misalnya, melarang keras pemujaan terhadap obyek sembahyang apapun yang diciptakan oleh manusia. Umat Hindu dituduh sebagai pemuja berhala. Celakanya, pemujaan terhadap berhala inilah yang sering dijadikan sebagai alasan untuk “menyelamatkan” orang-orang Hindu.

Sebagai generasi muda Hindu, kita tentu kenyang dengan pengalaman menghadapi pertanyaan yang sering membuat kita jadi merasa nggak percaya diri untuk mengaku beragama Hindu. Tidaklah mengherankan jika sebagian dari saudara Hindu kita pada akhirnya tertarik untuk “diselamatkan”. Kita tidak bisa menyalahkan mereka begitu saja. Sepintas lalu, kita memang bisa goyah dengan argumen-argumen valid yang memojokkan cara pemujaan yang kita lakukan. Masak sih, Tuhan seperti batu? Tidakkah berarti kita membatasi Tuhan kalau Tuhan kita puja dalam wujud tertentu? Apakah bukan pelecehan besar kalau kita mempersamakan Tuhan dengan benda-benda ciptaan-Nya? Apakah Tuhan orang Hindu terus-terusan lapar, hingga tiap hari harus disuguhi dan persembahkan aneka makanan? Apalagi kalau mereka melihat banten-banten di Bali yang diisi Cola Cola atau Sprite dan buahbuahan serba impor, mereka akan berkomentar, “Wah, tinggi juga selera Tuhan orang Hindu, ya?” Sewajarnya mereka akan menantang kita dengan mempertanyakan konsep ketuhanan kita, yang kelihatannya jauh berbeda dengan konsep yang mereka miliki : tidakkah Tuhan Maha Kaya? Bukankah Tuhan tidak berwujud? Suatu kesempatan, saat ditanya mengenai cara sembahyang orang Hindu yang pakai patung itu, saya pernah menjelaskan bahwa menurut Weda, Tuhan ada di mana-mana. Karena itu, Beliau juga ada dalam setiap “patung” yang kita puja. Mendengar jawaban itu, lawan bicara saya yang kebetulan seorang Kristiani, dan kandidat doktor pada salah satu universitas terkemuka di Yogya ini, mengejar saya dengan pertanyaan memojokkan. “Lho, kalau Tuhan ada di mana-mana, seperti Anda bilang, bukankah Tuhan juga ada di lantai yang kita injak ini? Mengapa lantai ini boleh seenaknya kita injak, tapi patung-patung itu kita sembah? Apa bedanya? Apakah itu bukan diskriminasi?” sanggahnya penuh nada kemenangan.

Saya sempat terdiam juga mendengar itu. Pertanyaannya masuk akal, wajar sekali. Boleh juga logika dan nalarnya. Lalu, bagaimana menjawab pertanyaannya yang memojokkan itu? Adakah jawaban yang lebih tepat untuk menjelaskan mengapa kita menghormati bentuk-bentuk tertentu, sedangkan bentuk lainnya tidak? Adakah penjelasan menurut uraian kitab suci Weda untuk menjawab kritikan itu?

Sumber: Newsletter Narayana Smrti Ashram Yogyakarta

______________________________________________

http://ithum.files.wordpress.com/2008/01/bendera-ri.jpg

Apakah Tuhan orang Hindu (kalau memang benar Tuhan itu lebih dari satu) juga menjadi cemburu kalau umat Hindu sembahyang kepada arca? Apakah umat Buddha yang bersembahyang kepada patung Buddha juga memiliki Tuhan yang suka cemburu? Untuk menjawab pertanyaan seperti itu, dapat kita awali dengan terlebih dahulu menjelaskan arti kata “arca”. Bukankah kata “arca” asalnya dari bahasa Sanskerta yang sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia?Dalam perkembangannya, kata ‘arca’ kemudian identik dengan kata patung atau berhala, dan sering dimaknai secara negatif. Sembahyang umat Hindu kepada Tuhan dengan penggunaan sarana arca, dicap sebagai kegiatan pemujaan terhadap berhala, dan penghinaan kepada Tuhan. Padahal, dalam kitab-kitab Weda, cara

sembahyang kepada Tuhan melalui perantaraan arcavigraha adalah sebuah anjuran bagi mereka yang ingin maju dalam jalan mendekatkan diri kepada Tuhan. Benarkah? Mari kita kaji bersama uraian beberapa kitab Weda berikut. Sumber referensi utama dalam pembahasan ini adalah kitab Srimad Bhagavatam atau kitab Bhagavata Purana, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris oleh His Divine Grace A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada.

Pada umumnya masyarakat telah mengenal dan mempelajari Bhagavad-gita yang berisi ajaran rohani Sri Krishna kepada Arjuna, sebelum mulainya perang Bharatayuda. Namun, tidak banyak umat Hindu yang mengenal dan mempelajari kitab Uddhavagita, yaitu ajaran rohani Sri Krishna kepada sekretaris pribadinya, Uddhava, pada saat Sri Krishna hmengakhiri kegiatan rohani-Nya di bumi ini. Bhagavad-gita sering dipelajari sebagai kitab tersendiri, meskipun sebenarnya ia merupakan bagian dari kitab Mahabharata, yaitu Bab 25 sampai dengan Bab 42 Bhisma Parva (Bhagavad-gita terdiri dari 18 bab). Begitu pula, kitab Uddhava-gita merupakan bagian dari kitab Bhagavata Purana atau dikenal pula sebagai Srimad Bhagavatam, khususnya Sloka 11.14.1 sampai dengan 11.29.49. Para sarjana Weda, khususnya para Waishnawa menjuluki kitab Bhagavata Purana sebagai ensiklopedi ilmu tentang Tuhan. Dalam kitab inilah, diuraikan secara panjang lebar, bahwa dalam Weda, Tuhan diinsyafi atau disadari dalam tiga aspek, yaitu sebagai Brahman, Paramatman, dan Bhagavan.

Uddhava bersujud di kaki Sri Krshna sambil meneteskan air mata. Pada saat inilah Uddhava menerima pelajaran tatacara sembahyang kepada arca-vigraha Tuhan.

vadanti tat tattva-vidas

tattvaà yaj jïänam advayam

brahmeti paramätmeti

bhagavän iti çabdyate

“Learned transcendentalists who know the Absolute Truth call this nondual substance Brahman, Paramätmä or Bhagavän” (Bhagavata Purana 1.2.11)

Terjemahan : “Para rohaniwan terpelajar yang mengenal Kebenaran Mutlak, menjuluki zat yang tidak nisbi tersebut Brahman, Paramatma, atau Bhagavan”.

Selanjutnya, dalam sloka 1.3.28, dinyatakan bahwa kåñëas tu bhagavän svayam, artinya Sri Krishna adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa (Bhagavan). Dari kata Bhagavan ini, lahirlah nama Bhagavad-gita (Song of God, atau Nyanyian Tuhan), serta nama kitab “Bhagavata Purana”, yang berarti “sejarah kegiatan rohani dan pengetahuan tentang Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa”. Itulah sebabnya, kalau kita cermati, mengapa dalam sloka-sloka bhagavad-gita, setiap Kali Sri Krishna bersabda, ayat Sanskertanya berbunyi : “sri bhagavan uvaca”. Begitupun dalam kitab Bhagavata Purana dan lain-lainnya. Baiklah, setelah kita ketahui secara ringkas tentang Uddhava-gita, marilah kita bahas kembali ayat-ayat yang mengajarkan pemujaan kepada arca-vigraha, sebagaimana yang diajarkan oleh Sri Krishna kepada Uddhava. Uddhava bertanya kepada Sri Krishna sebagai berikut :

çré-uddhava uväca

kriyä-yogaà samäcakñva

bhavad-ärädhanaà prabho

yasmät tväà ye yathärcanti

sätvatäù sätvatarñabha

Sri Uddhava bertanya: Wahai Sri Krishna, tuan bagi para penyembah, mohon menjelaskan cara yang telah ditetapkan dalam menyembah Anda dalam wujud Anda sebagai arca. Bagaimana kualifikasi para bhakta yang memuja arca, atas dasar apa pemujaan seperti itu dilakukan, dan bagaimanakah cara pemujaannya secara

rinci? (Bhagavatam11.27.1)

etad vadanti munayo

muhur niùçreyasaà nåëäm

närado bhagavän vyäsa

äcäryo ‘ìgirasaù sutaù

“Resi-resi yang mulia menyatakan bahwa pemujaan arca seperti itu memberikan manfaat terbesar bagi kehidupan manusia. Itulah pendapat NaradaMuni, rsi agung Vyasadeva, dan pendapat guru saya sendiri, Båhaspati (aìgirasaù sutaù) (Bhagavatam 11.27.2) Muni, rsi agung Vyasadeva, dan pendapat guru saya sendiri, Båhaspati (aìgirasaù sutaù) (Bhagavatam 11.27.2)

niùsåtaà te mukhämbhojäd

yad äha bhagavän ajaù

putrebhyo bhågu-mukhyebhyo

devyai ca bhagavän bhavaù

etad vai sarva-varëänäm

äçramäëäà ca sammatam

çreyasäm uttamaà manye

stré-çüdräëäà ca mäna-da

“Wahai Sri Krishna yang paling murah hati, ajaran mengenai proses pemujaan Arca tersebut, pertama kali terpancar dari bibir padma Anda sendiri. Selanjutnya, pengetahuan tersebut diajarkan oleh Brahma kepada putraputranya yang dipimpin oleh Resi Bhrgu, Dewa Siwa mengajarkannya kepada Parvati (devyai ca bhagavän bhavaù). Proses seperti itu diterima dan cocok bagi semua

golongan masyarakat dan tingkatan hidup manapun (sarva-varëänäm äçramäëäà). Karena itulah, saya menganggap bahwa proses pemujaan arca ini bermanfaat bagi semua praktek spiritual, bahkan bagi para wanita dan sudra”. (Bhagavatam 11.27.5-6)

Sri Krishna menjawab pertanyaan Uddhava dengan menyatakan sebagai berikut :

vaidikas täntriko miçra

iti me tri-vidho makhaù

trayäëäm épsitenaiva

vidhinä mäà samarcaret

“Hendaknya seseorang memuja-Ku dengan penuh kehati-hatian dengan memilih salah satu cara pemujaan yang telah ditetapkan untuk memuja-Ku, yaitu : Vaidika, tantra, atau gabungan keduanya.

arcäyäà sthaëòile ‘gnau vä

sürye väpsu hådi dvijaù

dravyeëa bhakti-yukto ‘rcet

sva-guruà mäm amäyayä “Seorang dvija (orang yang sudah dilahirkan dua kali, atau orang yang sudah punya guru spiritual) harus menyembah-Ku, sepenuh hati (tanpa sikap mendua), mempersembahkanberbagai perlengkapan

dengan cinta Bhakti kepada wujud-Ku sebagai arca, atau kepada wujud-Ku yang muncul dalam tanah, dalam api, dalam matahari, dalam air, atau dalam hati penyembah itu sendiri”.(Bhagavatam 11.27.9)

sandhyopästyädi-karmäëi

vedenäcoditäni me

püjäà taiù kalpayet samyaksaìkalpaù

karma-pävaném

“Dengan memusatkan pikirannya kepada-Ku, seseorang hendaknya memuja-Ku dengan melakukan tugas kewajiban yang telah ditetapkan baginya. Misalnya dengan mengucapkan gayatri mantra tiga kali sehari (pagi, siang, dan senja hari). Kegiatan seperti itu diperintahkan dalam Weda, dan akan menyucikan hati orang yang melakukannya dari keinginan untuk mendapatkan hasil dari perbuatannya.” Mengenai bahan-bahan yang dapat digunakan untuk membuat arca Krsihna menyebutkan sebagai berikut :

çailé däru-mayé lauhé

lepyä lekhyä ca saikaté

mano-mayé maëi-mayé

pratimäñöa-vidhä småtä

Dinyatakan bahwa Arca Tuhan dapat muncul dalam delapan jenis bahan: dari batu, kayu, , logam, tanah, cat, pasir,

pikiran, dan permata. (Bhagavatam 11.27.12). Jelaslah dalam hal ini, bahwa pada saat umat Hindu membuat arca Tuhan dari batu atau logam, tidak berarti bahwa mereka sedang menghina Tuhan karena mempersamakan Tuhan dengan batu. Toh, batu dan bahan-bahan lainnya, semuanya adalah ciptaan Tuhan. Dan Tuhan sendiri yang mengijinkan Diri Beliau dipuja dalam bentuk yang dapat dilihat oleh mata manusia yang terbatas ini.

Mengapa Kita Perlu Perantara Arca?

Apa sesungguhnya tujuan kita bersembahyang dan memuja Tuhan? Kalau kita mau jujur, kebanyakan orang sembahyang hanya karena ingin menjadikan Tuhan sekedar sebagai “order supplier” atau “tempat pesan & penyedia”

barang-barang kebutuhan kita. Kita sembahyang dan mendekatkan diri kepada Tuhan karena butuh sesuatu, dan

karenanya dengan enteng kita main perintah kepada Tuhan :”Tuhan, berikan kami rejeki pada hari ini….beri kami perlindungan, jauhkan kami dari segala bahaya, jangan beri kami cobaan, dst….dst…..”

Atau, orang bersembahyang kepada Tuhan hanya karena ingin mendapat pahala, takut pada ancaman dijebloskan ke dalam api neraka kalau tidak melakukannya. Yang paling banyak, orang ingat pada Tuhan hanya saat dia dalam duka dan kesedihan. Padahal, tujuan tertinggi pemujaan kepada Tuhan menurut Weda adalah agar kita pada akhirnya dapat mencapai pembebasan atau moksa.

Yaitu terlepasnya atman dari perputaran kelahiran dan kematian yang dialami berulang kali ke dunia material ini, atau terbebas dari samsara. Pembebasan itu hanya dapat dicapai, bila seseorang telah berhasil kembali pulang ke dunia rohani, atau memasuki kerajaan Tuhan. Mengenai sifat alam rohani tersebut, diuraikan dalam Bhagavad-gita sebagai berikut:

“Dari planet tertinggi di dunia material sampai dengan planet yang lebih rendah, semuanya tempat-tempat kesengsaraan, tempat kelahiran dan kematian dialami berulangkali. Tetapi orang yang mencapai tempat tinggal-Ku tidak akan pernah dilahirkan lagi, wahai Arjuna “(8.16)

“Tempat tinggal-Ku yang paling utama itu tidak diterangi oleh matahari, bulan, api, maupun listrik. Orang yang mencapai tempat tinggal itu tidak pernah kembali lagi ke dunia material ini” (15.6)

“Sesudah mencapai kepada-Ku, roh-roh yang mulia, yogi-yogi dalam bhakti, tidak pernah kembali lagi kedunia fana yang penuh kesengsaraan, sebab mereka sudah mencapai kesempurnaan tertinggi” (8.15)

Disebutkan pula, bahwa syarat untuk dapat mencapai kepada Tuhan adalah, kita harus mencintai Tuhan. Tapi ingat, pepatah “Tak Kenal Maka Tak Sayang” ataupun “To Know is To Love” juga berlaku dalam hubungan kita dengan Tuhan. Bagaimana kita bisa jatuh cinta kepada Tuhan, kalau kita tidak pernah kenal Beliau? Bukankah “cinta” adalah “take and give” – member dan menerima? Lalu pertanyaannya, bagaimana kita bisa mencintai Tuhan, kalau ternyata Tuhan tidak berwujud, tidak memiliki sifat, tidak terkatakan, tidak terdeskripsikan dan tidak…tidak….tidak….lainnya? Inilah persoalannya. Bagaimana kita bisa “memberi” sesuatu kepada Tuhan, kalau mata kita tidak bisa melihat-Nya? Kita sering mendengar ada orang yang langsung “fall in love on the first sight”, jatuh cinta pada pandangan pertama. Itu karena ada obyek yang dapat dilihat dan dapat dipandang. Dari mata turun ke hati…..

Bagaimana proses “dari mata turun ke hati” ini bisa kita terapkan pada Tuhan? Mustahil, karena berbagai alas an. Pertama, keterbatasan panca indera kita. Tuhan mungkin sudah hadir di depan mata kita, tapi mata kita memang tidak mampu melihatnya. Telinga kita tak mampu mendengar bisikan lembut Tuhan, yang mungkin sudah sangat dekat ke telinga kita. Mengapa? Karena frekuensinya berbeda, panjang gelombangnya berbeda! Maksudnya? Ingat, dalam ilmu fisika dikenal istilah cahaya tampak dan cahaya tak tampak. Mata hanya bisa melihat cahaya dengan panjang gelombang antara 4000 Amstrong sampai 7000 Amstrong. Telinga kita hanya bisa mendengar suara yang

panjang gelombangnya antara 20 Hz sampai dengan 20 kHz. Kalau mau jujur, kemampuan telinga kita kalah dengan

telinga kelelawar dan telinga anjing. Di mata kita, matahari hanya sebesar bulatan bola kaki, padahal ukuran matahari sebenarnya 14 kali ukuran bumi. Bintangbintang seolah hanya muncul pada malam hari, menghilang pada siang hari. Padahal kenyataannya bintang-bintang tidak pernah menghilang. Di udara sekitar kita sebenarnya berseliweran film, siaran televisi, siaran radio, orang lagi asyik mojok pakai telpon, dan lain-lain. Tapi, toh mata dan

telinga kita tidak mampu melihat dan mendengarnya. Setelah kita memanfaatkan televisi, menyetel radio atau menggunakan alat bantu lainnya, Itulah sebabnya, selama ini secara umum manusia menyimpulkan bahwa Tuhan tidak berwujud, tidak terpikirkan, tidak terbayangkan, dan diluar segala sifat yang dapat diterapkan pada diri manusia. Tuhan disebut Acintya, tak terpikirkan.

Lalu, bagaimana solusinya? Padahal, kalau mau jujur, kita tidak pernah bisa bersembahyang pada kekosongan. Saat

berdoa, sembahyang, ataupun melakukan pemujaan, pastilah pikiran kita membayangkan suatu figur, sosok, bentuk,

wujud, konsep, atau gambaran tertentu, yang kita jadikan sebagai obyek untuk pemusatan pikiran. Bukankah demikian? Entah itu berupa “cahaya menyilaukan”, “orang tua yang agung dan bijak”, “omkara”, “gambar Jesus”, “Kaligrafi Allah” tanda salib, dan sebagainya dan seterusnya. Selalu ada sesuatu yang kita wujudkan – baik secara sadar ataupun tidak sadar – dalam pikiran kita, sebuah obyek yang dapat kita jadikan sebagai tempat mencurahkan

kesedihan, duka cita, ataupun permohonan – permohonan kita. Bukankah umat Islam juga diwajibkan untuk menghadap ke arah “kiblah” yaitu berupa Ka’bah yang berada di kota Mekah, Arab Saudi? Arah menghadapnya bisa ke barat, timur, utara, selatan, tenggara, dan sebagainya, tergantung pada arah mana kota Mekah kalau dilihat

dari negara di mana umat Islam berada. Bukankah, Islam yang mengajarkan agar orang tidak menggambarkan wujud Allah pun, masih menganjurkan agar umatnya sembahyang dengan menghadap ke arah Ka’bah sebagai pusat konsentrasi? Bukankah Ka’bah juga terbuat dari batu? Demikianlah, pada dasarnya, orang tidak bisa sembahyang pada kekosongan. Kalau kita pelajari secara mendalam dan menyeluruh ayat-ayat Weda, maka akan kita temukan uraian-uraian bahwa Tuhan memiliki wujud rohani, Tuhan memiliki badan rohani. Kebenaran Tertinggi menurut Weda adalah dalam bentuk Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa (Bhagavan). Sebagaimana sebuah negara memiliki pemerintahan, maka akan ada seseorang yang bersifat individu yang menjadi kepala pemerintahan.

Salah satu keunikan dan kelengkapan kitab Weda adalah, ia menguraikan secara sangat lengkap sifatsifat, wujud dan kegiatan Tuhan, yang tidak dapat ditemukan dalam kitab suci lainnya. Mungkin ada yang bertanya, tidakkah wujud Tuhan itu hanyalah hasil penggambaran dan imajinasi manusia semata? Jawabannya tidak. Menurut Weda, Tuhan tahu pasti bahwa manusia tidak akan pernah mampu memikirkan atau membayangkan wujud-Nya. Itu semua berada di luar batas kemampuan manusia. Lalu, bagaimana jalan keluarnya? Bukankah manusia tidak akan bisa mencintai Tuhan, kalau manusia tidak memiliki gambaran apapun tentang Tuhan?

Contoh tipuan pandangan mata. Cobalah terka : Gambar seorang gadis muda berbulu mata lentik, ataukah seorang nenek berhidung besar?

Tentu saja, semua itu bisa teratasi, bila Tuhan yang berinisiatif, Tuhan yang harus “mengalah”, dengan menampakkan diri kepada manusia. Tuhan memiliki hak prerogatif untuk melakukan itu kepada yang dikehendaki-Nya. Pihak Tuhan lah yang harus berinisiatif untuk memberitahu manusia tentang sifat-sifat, wujud dan kegiatan-Nya, tentu sejauh dan sebatas yang dapat dimengerti dan dipahami oleh otak manusia yang serba terbatas ini. Itulah yang terjadi dalam kitab Weda, yang tidak dapat dijumpai dalam kitabkitab lainnya di dunia. Kalau kita mau secara obyektif mempelajari dan membandingkan kelengkapan informasi atau pengetahuan tentang Tuhan, alam rohani, dan kegiatan-kegiatan Tuhan yang tersajikan dalam berbagai kitab suci di dunia, maka kitab Weda lah yangmenyediakan informasi paling lengkap mengenai hal itu. Jangan mengatakan tidak sebelum Anda membuktikannya.

Sekali lagi, indera manusia hanya bisa menangkap dan memahami hal-hal yang bersifat material, sedangkan Tuhan bersifat rohani atau spiritual. Oleh karena itu, Tuhan berkenan hadir dalam wujud arca atau murti yang terbuat dari bahan-bahan material, yang dapat dilihat dan diraba oleh indera manusia. Arca atau murti boleh dibuat dari bahan kayu, batu, logam, tanah liat, cat, dan sebagainya.

Satu lagi contoh tipuan optis, bukti keterbatasan kemampuan indria mata kita! Cobalah terka : Gambar sebuah gelas atau gambar dua wajah?

Tuhan Maha Hebat, Beliau mampu mengubah sesuatu yang bersifat material menjadi bersifat spiritual, begitu pula sebaliknya, sesuai dengankehendak-Nya. Apa sulitnya bagi Tuhan untuk “masuk” ke dalam arca atau murti itu, untuk menerima bhakti dan persembahan dari pemuja-Nya yang berbhakti dengan hati dan keinginan yang tulus? Bukankah batu, kayu, logam, atau bahan-bahan lainnya, toh semuanya adalah ciptaan Tuhan Sendiri? Apakah kita akan disebut menghina dan menyekutukan Tuhan, kalau kita manfaatkan benda-benda ciptaan Tuhan untuk mengagungkan dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sering kita mendengar pernyataan bahwa Tuhan berada di mana-mana. Kalau kemudian saya bertanya : “ Tuhan ada di mana-mana. Apakah itu berarti Tuhan juga ada di dalam arca? Mampukah Tuhan masuk, berada dan bersemayam dalam arca yang dipuja oleh umat Hindu itu?” Mendengar itu, banyak orang yang serta merta menjawab: “Ah…tidak mungkin dong…Tuhan tidak mungkin ada di arca. Arca’kan buatan manusia?Tidak mungkin Tuhan ada dalam benda-benda ciptaan manusia!”

Lalu, kita bisa mengejar jawaban itu dengan menyimpulkan begini: “Oh, jadi Tuhan kalah dengan manusia? Manusia lebih hebat dari Tuhan, karena mampu menciptakan sesuatu yang membuat Tuhan tidak mampu memasukinya? Tuhan yang tadinya ada dimana-mana, Maha Ada, menjadi tidak berdaya menghadapi benda-benda

ciptaan manusia! Bukankah itu berarti Tuhan juga tidak mampu berada dalam masjid, gereja, pura, atau wihara,

karena semua tempat-tempat itu adalah ciptaan manusia?” Lalu, apa gunanya kita sembahyang di pura, masjid atau gereja?

Kita semua pasti sepakat, bahwa Tuhan mampu berada di dalam segala sesuatu! Asal, Beliau Mau! Kalau tidak, apa hebatnya Tuhan? Karena itulah, salah satu nama Tuhan dalam bahasa Sanskerta adalah “Wishnu”, yang artinya “Dia yang merasuk dan bersemayam dalam segala sesuatu. Bukankah ternyata justru manusia yang membatasi Tuhan?  Tuhan tidak mungkin begini, Tuhan tidak boleh begitu. Tuhan bukan ini dan  bukan itu! Karena itu, kalau kita menyembah Tuhan dalam wujud arca atau pratima, kita dianggap membatasi Tuhan. Masak sih Tuhan seperti batu?

Pertanyaannya, benarkah Tuhan memang akan terbatasi oleh batasan-batasan manusia? Mampukah batasan-batasan kita itu benar-benar membatasi Tuhan yang Tanpa Batas itu?

Alasan itulah yang melandasi konsep pemujaan arca atau murti yang dijelaskan dalam kitab-kitab Weda. Tuhan sadar betul akan kemampuan manusia, sehingga Beliau memberikan fasilitas kepada kita untuk melakukan pemujaan kepada-Nya, melalui wujud-Nya yang dapat kita lihat, kita raba, dan kita layani dengan indera-indera kita.

Oleh karena itulah Sri Krishna memberikan penjelasan tata cara pembuatan dan pemujaan arca vigraha secara lengkap kepada Uddhava. Jadi, dalam hal ini, Tuhan Sendirilah yang memberikan petunjuk dan mengijinkan pemujaan arca yang dilakukan oleh umat Hindu. Sudah barang tentu, “Tuhan umat Hindu” tidak pernah cemburu, kalau ada umat-Nya yang menyembah perwujudan atau simbol tertentu sebagai perantara. Satu hal yang harus diingat, orang tidak boleh membentuk arca sesuka hatinya, lalu menjadikan itu sebagai Tuhan pujaannya. Arca harus dibuat menurut aturan dan ketentuan yang telah ditetapkan dalam kitab-kitab Weda. Ada mantra-mantra khusus yang ditetapkan untuk “mengundang” Tuhan agar berkenan bersemayam dalam arca yang kita buat dan menerima pemujaan kita. Kalau kita ingin agar surat kita sampai kepada tujuan, maka kita harus memasukkan surat kita ke dalam kotak surat yang resmi, yang dibuat oleh pihak pemerintah atau swasta yang berwenang untuk hal itu. Kita tidak bisa membuat kotak surat sendiri, memasukkan surat kita ke dalamnya, lalu berharap surat itu akan sampai tujuannya. Begitu pula dengan arca, kita tidak boleh membuatnya menurut selera kita sendiri. Misalnya, seorang pemuja Siwa yang memuja linggam Siwa. Bentuk linggam yang ada seperti sekarang, bukanlah hasil imajinasi liar manusia semata. Juga, penggambaran Siwa yang berkalung ular kobra, atau Ganesha yang berbadan manusia erkepala gajah. Brahma digambarkan berkepala empat, Wishnu berlengan empat, atau Krishna yang memegang seruling, adalah berdasarkan pada informasi yang ada dalam Weda.

Lho, kok Pilih Kasih???

Penjelasan konsep pemujaan arca seperti yang telah disajikan di atas, seringkali masih menyisakan pertanyaan lain yang tidak kalah memojokkan. Kalau benar Tuhan ada di mana-mana, termasuk di dalam arca ditempat sembahyang,

Bukankah berarti Tuhan juga ada di lantai yang kita injak-injak setiap hari? Kenapa kita pilih kasih, hanya hormat kepada Tuhan yang di dalam arca, sementara dengan seenaknya “menghina Tuhan” di dalam lantai? Juga, kenapa orang marah kalau ada arca atau murti yang dirusak atau dihancurkan? Tidakkah itu namanya diskriminatif? Jawabnya, akan sama dengan jawaban terhadap pertanyaan : Kenapa orang menghormat kepada bendera negaranya, padahal bendera itu tidak lebih dari secarik kain? Kenapa orang mau mengangkat tangan dengan sikap hormat pada saat upacara penaikan bendera merah putih? Mengapa orang Indonesia marah besar kalau misalnya ada orang Australia yang demo dan membakar kain merah putih, bendera Indonesia? Mengapa kita tidak marah, kalau ada orang menginjak-injak kain warna merah dan kain warna putih yang tidak dijahit sebagai bendera? Tidakkah itu berarti juga diskriminatif, pilih kasih???

Jadi, yang dihormati bukanlah secarik kain merah putih itu semata, melainkan sesuatu yang disimbolkannya. Bendera merah putih adalah simbol sebuah negara, sebuah bangsa, sebuah harga diri, sebuah kehormatan, yaitu Indonesia. Kain merah yang dijahit di atas kain putih, identik dengan Indonesia. Kalau itu dibakar, orang Indonesia

akan rela mengorbankan nyawanya. Padahal, kalau ada orang menginjak atau membakar seragam anak-anak sekolah dasar, yang jelas-jelas juga merah putih, apakah orang juga akan tersinggung dan marah besar? Seperti halnya bendera tadi, begitu pula masalahnya dengan Tuhan yang “berada” dalam arca, dengan Tuhan yang berada dalam lantai. Orang marah kalau arca dirusak, karena yang dirusak adalah simbol kehadiran Tuhan yang dipujanya. Kesimpulannya, umat Hindu bukanlah pemuja berhala. Umat Hindu tidak menyekutukan Tuhan, ketika mereka bersembahyang kepada Tuhan dengan perantaraan arca vigraha. Justru umat Hindu sangat jujur, mengakui ketidakmampuan panca inderanya yang bersifat material untuk melihat dan merasakan kehadiran Tuhan yang bersifat spiritual. Manusia hanya mampu melihat dan mengapresiasi hal-hal material yang kasat mata. Diakui atau tidak, toh setiap orang butuh bayangan atau gambaran sebuah obyek yang dalam pikirannya dianggap sebagai Tuhan.

Tuhan adalah pemilik segala sesuatu, sumber segala sesuatu, baik yang bersifat material maupun spiritual. Karena manusia hanya bisa melihat yang material, karena rasa kasih-Nya, Tuhan berkenan hadir dalam bentuk-bentuk yang terbuat dari bahanbahan material guna menerima pelayanan bhakti dari para penyembah-Nya. Ada sebuah kenyataan menarik dalam cara sembahyang kepada arca ini. Dulu, saat Inggeris masih menjajah India, para misionaris dan pendeta Kristen mengejek dan mengolok-olok habis-habisan arca Jagannath (Krishna), Baladeva dan Subhadra, yang sedang diarak diatas kereta dijalan-jalan besar oleh ribuan orang Hindu di kota Jagannath Puri. Mereka menulis artikel-artikel di surat kabar dan media lain yang terbit saat itu, menyebut arca-arca tersebut sebagai bukti meprimitifan penduduk India yang masih memuja batu-batu yang dipoles.

Sekarang kejayaan Inggeris sebagai negara penjajah telah berakhir, Inggeris tidak lagi memiliki taring. Sebaliknya, gentian arca-arca India yang sekarang “menjajah” penduduk Inggeris dan negara-negara lainnya. Sejak tahun 1971, acara Ratha Yatra yang dulu ditertawakan oleh para misionaris itu, kini justru menjadi acara yang dinanti-nantikan oleh orang-orang Barat yang telah beralih menganut agama Hindu. Kuil-kuil Hindu lengkap dengan arca Krishna, Caitanya, Wishnu, Siwa, Ganesh dan lain-lainnya kini dapat kita jumpai hampir diseluruh kota besar di dunia. Orang-orang Barat yang mengutamakan rasionalitas dan materialis, kini berangsurangsur mengerti, bahwa cara sembahyang kepada arca vigraha Tuhan bukanlah idolatry atau pemujaan berhala. Mereka sadar, bahwa orang Islam pun masih wajib sembahyang menghadap Ka’bah di kota Mekah. Orang Katholik masih menempatkan patung Yesus pada gereja-gereja mereka. Toh, orang yang tidak pakai arca yang terbuat dari bahan-bahan kasar, juga masih memuja “arca” yang terbuat dari bahan “halus”, yang mereka gambarkan dalam pikiran mereka masing-masing. Bukankah demikian? Jadi, umat Hindu pemuja arca, bukan penyembah berhala.

Banggalah menjadi Hindu!

PENGHORMATAN PADA ORANG TUA

PENGHORMATAN PADA ORANG TUA

Tidak ada sesuatu yang kekal di dunia ini, demikian para sesepuh mengingatkan kita, segala sesuatu pasti mengalami perubahan. Kecuali Hyang Widhi. Seiring dengan berjalannya sang kala, Pembangunan terus meningkat di berbagai bidang kehidupan. Namun bila kita perhatikan dengan seksama. Ternyata selain kemajuan-kemajuan yang kita dapatkan. Perlahan namun pasti, nilai-nilai luhur budaya dan agama kian hari kian menitipis. Terkikis oleh budaya baru yang disebut modernisasi.

Tidak jarang kita lihat masyarakat menganggap beberapa budaya yang luhur warisan para pendahulu dianggap kuno dan mulai ditinggalkan. Misalnya saja penghormatan kepada orang tua atau guru pengajar. Saat ini sulit sekali menemukan anak murid mengucapkan salam hormat (Om Swastyastu) kepada guru maupun kepada orang tuanya. Kalaupun ada pasti dapat dihitung dengan jari.

Kalo kita lihat kembali kitab suci kita, ternyata banyak sekali sloka-sloka yang mengajari kita untuk selalu memberikan penghormatan kepada orang tua.

Pustaka suci Manawa Dharma Sastra menyuratkan mengenai pahala dari penghormatan kepada orang tua. Pada adyaya II sloka 121 disebutkan sebagai berikut;

“abhi wadanacilasya, nityam wrddhopasewinah, catwari tasya madhante, ayurwidya yaco balam”.

Yang artinya; ia yang sudah biasa menghormati dan selalu taat kepada orang tua mendapatkan tambahan dalam empat hal yaitu umur panjang, pengetahuan, kemasyuran, dan kekuatan.

Bait sloka ini sangat jelas memberi gambaran akan pahala bagi mereka yang taat serta patuh kepada orang tua. Bagi siapapun yang taat dan patuh kepada orang tuanya akan diberikan tambahan berupa umur panjang, pengetahuan, kemasyuran, dan kekuatan. Namun jangan pula sekali-kali melakukan ketaatan dan kepatuhan kepada orang tua karena keinginan untuk memperoleh pahala, sebab penghormatan yang diberikan maupun ketaatan adalah sesuatu yang mutlak dilakukan pada orang tua, karena jasa mereka yang tidak ternilai atas kehidupan kita di dunia ini.

Hal ini dengan tegas dituliskan pula oleh pustaka suci Manawa Dharma Sastra, yaitu adyaya II, sloka 227, adapun bunyinya ialah sebagai berikut;

“yam matapitarrau klecam, sahete sambhawernam, na tasya niskrtih cakya, kartum warsacatairapi”.

Yang artinya; kesulitan dan kesakitan yang dialami oleh orang tua pada waktu melahirkan anaknya tidak dapat dibayar walaupun dalam seratus tahun.

Sebuah wejangan dari Prabu Sri Aji Jayabaya putra Airlangga cucu dari Prabu Udayana, juga memberi kita pedoman bahwasanya, penghormatan kepada orang tua sangat penting karena penghormatan kepada orang tua juga sama dengan penghormatan kepada Tuhan.

Wejangannya sebagai berikut;

“sing sapa lali marang wong tuwane prasast lali marang Hyang Widhi. Ngabektia marang wong tuwa”.

Artinya; barang siapa lupa akan orang tua tak ubahnya lupa dengan Gusti Sang Hyang Widhi. Hormatilah orang tua.

Pada pustaka suci Sarasamuccaya juga dapat ditemukan mengenai penghormatan seorang anak kepada orang tuanya. Salah satu sloka yang menguraikannya ialah pada sloka 239;

“tapaçcaucavata nityam, dharmasatyaratena ca, matapitro raharah, pujanam karyamañjasa”.

Yang artinya orang yang senantiasa hormat kepada ibu bapanya disebut tetap teguh melakukan tapa dan menyucikan diri, tetap teguh berpegang kepada kebenaran atau dharma.

Betapa berdosanya apabila tidak dapat berprilaku hormat kepada orang tua, karena demikian banyak hal yang telah mereka lakukan hingga kita dapat mengecap kehidupan di dunia. Mereka dengan tidak jemu-jemunya mengusahakan hal yang terbaik bagi putra-putrinya. Sudah sewajarnya kita selalu hormat dan taat kepada beliau.