BUNUH DIRI DALAM SASTRA HINDU

BUNUH DIRI DALAM SASTRA HINDU


Salam Kasih, Svastyastu,

Saya membaca HU NUSA dan HU Balipost di internet hampir setiap hari. Setiap membaca berita kejadian orang bunuh diri, nyali menjadi kecil seraya mencakupkan tangan kepada Hyang Parama Kawi, semoga saya dan keluarga saya, dan teman-teman saya, dan orang-orang dekat saya, dan kenalan-kenalan saya, dan seluruh umat manusia tidak didatangi oleh bahaya itu.

Ternyata cukup banyak kejadian seperti itu terjadi di masyarakat. Untuk itu, paling tidak lewat postingan ini, saya ingin Semeton HDnet menyebarluaskan di lingkungan masing-masing bahwa BUNUH DIRI merupakan jalan yang salah dan selain dosa besar, kesalahan tersebut akan membawa orang ke neraka paling gelap:

ANDHANTAMOVISHEYUSTE YE CAIVATMA-HANO JANAH. BHUKTVA NIRAYASAHADRAM TE CA SYUR GRAMA-SUKARAH

“Orang-orang yang bunuh diri (setelah meninggalkan badan wadagnya alias setelah mati) pergi ke neraka yang paling gelap. Setelah menikmati ribuan hukuman-hukuman berat di neraka ia akan terlahirkan menjadi babi.” (Skanda Purana, Kashi.Pu.12.12-13)

Semoga kegelapan tidak menjejali kesadaran batin kita.

OM…, tamaso ma jyotir gamaya,

Ya Tuhan…, jauhkanlah kami dari kegelapan dan tuntunlah kami menuju jalan terang…..

Selain ia merupakan sebuah doa, renungan untuk realisasi spiritual, ia juga merupakan sebuah mantram. “mrityor ma gamaya”, Ya Tuhan YME mohon janganlah hamba diantarkan kepada kematian, tetapi “amritam gamaya”, bimbinglah hamba kepada kekekalan.

Di depan kita ada dua jalan, satu jalan kematian dan satu jalan kehidupan/kekekalan. Satunya adalah mrita dan satunya lagi amrita. Di Bali sedikit bergeser arti, yah… sedikit terbalik arti, “titiang nunas merta…” artinya saya minta makanan. Tetapi, kalau didekatkan ke arti asalnya yaitu Sanskerta, ia seharusnya diterjemahkan saya minta racun. Ternyata kata amerta yang berarti “nectar” berganti menjadi merta. Saya punya seorang teman bernama merta, setelah mendengar arti yang agak keseleo ia mengganti namanya menjadi amrita.

Jalan merta adalah jalan kematian. Di dunia ini, sepanjang kita tidak mendasari segala sesuatu yang kita cari dengan dasar spiritual, semua adalah membimbing kita ke jalan kematian, jalan tidak kekal, jalan kesengsaraan. Kadang jalan kesengsaraan itu bisa dalam bentuk kehidupan yang indah menarik dan menyenangkan dihias oleh berbagai pujian. Namun, jika ia tidak dalam sentuhan spiritual, segala kemewahan dan keindahan tersebut tidak lain hanyalah jalan turun yang menyenangkan. Nah, upanisad tidak menganjurkan kita meniti jalan seperti itu, oleh karena itulah kita diajarkan doa “mrityor ma gamaya”, janganlah hamba dibimbing menuju jalan kematian, jalan khayalan, jalan kehidupan tanpa arti spiritual.

Jalan amrita adalah jalan yang dianjurkan untuk ditempuh karena ia merupakan jalan kebenaran, jalan yang menuntun kita kepada kehidupan yang kekal. Kebahagiaan sejati hanya berada pada kehidupan yang kekal dan bukan kepada kehidupan yang tidak kekal. Kesenangan dalam hiasan apa pun yang berada di lingkungan jalan tanpa sentuhan spiritual, kesenangan tersebut pastilah sebuah kesenangan yang hanya mengikat kita pada kehidupan khayal. Memang, ketika mengkhayalkan sesuatu, untuk sementara kita sempat dibawa melayang-layang pada “seolah” nyata mengalami. Begitulah, sepintas saja kita akan tertawa bergembira, sebentar lagi akan disusul oleh tangisan yang lebih lama (sukhasyanantaram duhkham).

Untuk membedakan jalan “mrita” (kematian) dengan jalan “amrita” (kekekalan) kita memang perlu selalu memantapkan diri kita pada kesadaran spiritual. Sspiritual itu berbeda dengan kehidupan keagamaan. Spiritual adalah tujuan dari segala praktek agama yang kita lakukan. Agama tidak mengajarkan kita untuk tetap berada dalam kesadaran religious. Sejati kita adalah spiritual maka object kita juga adalah spiritual. Inilah yang dinamakan tingkat adhyatmika siddhi, tingkat di mana kita akan sepenuhnya terlindungi oleh kesadaran sat cit ananda…ampurayang…menawi sapunika…

(Darmayasa)
http://www.divine-love-society.org

 

Sumber: http://www.iloveblue.com/bali_gaul_funky/artikel_bali/detail/1785.htm

 

 

7 responses to “BUNUH DIRI DALAM SASTRA HINDU

  1. tentang bunuh diri silakan baca di parasa dharmasastra.

  2. Selamat,

    “Agama tidak mengajarkan kita untuk tetap berada dalam kesadaran religious.”

    Apakah maksud anda itu sebenarnya? Saya kurang mengerti akannya. Apakah yang dimaksudkan dengan kesedaran religous?

    Dan apa yang membezakan dasar spiritual dan kesedaran religious? Jika begitu, adakah agama yang dianuti oleh kefahaman anda itu seolah-olah kurang sempurna? Penjelasan anda amat bermakna buat saya.

    Sekiranya adanya tulisan saya yang kurang enak didengarin, saya mohon maaf.

  3. Spirituality adalah sesuatu yang bersifat internal (dimana kesadaran yang muncul bukan karena pengaruh dogma melainkan kesadara yang tumbuh dari dalam diri sendiri).

    Religion sesuatu adalah sesuatu yang eksternal (kesadaran yang timbul karena pengaruh dogma).

    Jika anda seorang penganut spritual, maka Anda dapat melihat kebenaran dalam semua agama.

    Tapi jika anda seorang penganut religion,maka menurut anda semua agama salah kecuali agama yang anda anut.

    Mungkin untuk lebih jelasnya anda bisa mengunjungi ini :
    http://hubpages.com/hub/difference-between-religious-and-spiritual

    salam..🙂

  4. Aum Swastyastu,
    Saya suka sekali cara anda memberi penjelasan dalam artikel ini. Terima kasih karena sudah memberi pencerahan. Bolehkan kata-kata anda saya kutip?
    Suksme.
    Aum Santih, Santih, Santih, Aum

  5. Om Svastyastu.
    @triandyn,,
    trimakasih sudah mau brkunjung dan memberikn coment,,

    bolehkah kata-kata anda saya kutip?

    silahkan di kutib bli jika memang bisa membantu.🙂
    Om Çanthi,Çanthi,Çanthi Om

  6. om svastyastu,
    mohon maaf, tadi iseng klik sana klik sini akhirnya ketemu tulisan saya di blog menarik ini. terima kasih ternyata ada blog bagus spt ini. mudah2 an saya sempat melihat lebih lagi kedalam blog ini.
    mengenai pernyataan saya tentang keagamaan, memang menyatakan bahwa pencapaian keagamaan bukanlah pencapaian terakhir karena pada tingkat keagamaan kita masih berada pada pintu spiritual (adhyatmika). keagamaan hanyalah satu level lebih tinggi dari level sangsarika tetapi ia satu levil berada dibawah level adhyatmika. level keagamaan (dharmika) merupakan level cukup maju didalam hidup manusia kita. tetapi, dharmika sesungguhnya perlu disucikan menjadi visuddha dharmika, dan itulah level adhyatmika.
    mohon maaf penjelasan saya sangat singkat.
    semoga semua berbahagia.

    darmayasa

  7. @darmayasa…

    Om Svastyastu bli…
    Sebelumnya salam kenal dari saya…

    Trimakasih sudah mau berkunjung keblog sederhana ini…
    Tulisan yg bli buat ini sangat menarik dan mencerahkan,sehingga saya memposting tulisan bli di sini tanpa ada perubahan… Hehe🙂
    ya karena memang tujuan dari blog ini adalah untuk menyebarkan artikel yg berhubungan dengan hindu.🙂

    oya bli trimakasih atas penjelasan yg telah diberikan,sangat membantu sekali…
    Mudah”an dilain waktu bli mau menjelaskan ini lebih detail,agar saya rasa ingin tau saya terpenuhi.

    Semoga semua mahluk berbahagia…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s