Shivaratri – Jalan Pendakian Menuju Pembebasan

Shivaratri – Jalan Pendakian Menuju Pembebasan

oleh Rumah Dharma – Hindu Indonesia pada 04 Januari 2011 jam 19:53

Teks sansekerta yang memuat uraian tentang Shivaratri adalah Padma Purana. Teks ini kemudian diadaptasi ke dalam lontar Siwaratri Kalpa [Kekawin Lubdaka] oleh Mpu Tanakung, seorang Mpu dari Jawa Timur di Abad ke-15 M. Melalui kekawin itu, Mpu Tanakung menceritakan kisah seorang pemburu yang penuh dosa bernama  Lubdaka, yang karena melaksanakan Tapa Brata Siwaratri, akhirnya bertemu Betara Siwa dan mendapat anugerah pembebasan [moksha].

 

 

Shivaratri jatuh pada purwani tilem kapitu, malam paling gelap. Malam gelap merupakan simbolik sad ripu [kegelapan bathin]. Shiva adalah pemralina atau pelebur, Ratri berarti malam atau kegelapan. Shivaratri berarti malam peleburan kegelapan bathin [sad ripu]. Shivaratri adalah malam pelatihan bathin dari kegelapan menuju penerangan. Karena itu pada setiap hari Shivaratri, dilaksanakan Tapa Brata Shivaratri, yaitu upavasa [puasa makan-minum], mona brata [puasa bicara] dan jagra [sadar atau tidak tidur]. Dengan membebaskan diri dari sad ripu, kita bisa mengikuti tapa yoga Dewa Shiva dan memperoleh berkah pembebasan dari beliau.

 

LUBDAKA PENUH DOSA [DALAM KEGELAPAN BATHIN PEKAT]

 

Banyak orang terjebak, seolah-olah hanya karma baik yang bisa menjadi sumber kesucian bathin. Hal itu tidak sepenuhnya benar. Karma baik bisa menjadi awal bathin yang gelap, kalau kita merasa baik lalu kita jadi sombong. Merasa diri suci, lalu orang lain kita sebut kotor. Merasa diri benar, orang yang berbeda kita sebut salah atau sesat. Tidak semua karma buruk itu berakhir pada kegelapan bathin. Dia sebaliknya bisa menjadi sumber kesucian bathin, bila :

 

1. Kita sadar dan bertobat.

2. Kekurangan-kekurangan kita, rasa bersalah kita, kita gunakan sebagai janji untuk berlatih lebih keras.

 

Kebaikan bisa jadi sumber kesucian bathin, itu sudah jelas, tapi keburukan juga bisa. Kebanyakan yogi yang perjalanannya jauh, umumnya memang punya karma baik yang dominan. Tapi bila kita punya kekurangan masa lalu, lebih-lebih kekurangannya parah sekali, belajarlah dari kisah Lubdaka. Melalui keteguhan hati melaksanakan Tapa Brata Shivaratri, seseorang bisa bertemu kesucian. Walaupun memang, kalau karma buruk kita lebih dominan tentu saja perjalanan kita akan lebih berat.

 

TAPA BRATA SHIVARATRI

 

Tapa Brata Shivaratri dilaksanakan dengan tiga hal, yaitu :

 

1. Upavasa [puasa makan-minum]

 

Kata puasa berasal dari bahasa sansekerta “upavasa”, yang terserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi puasa. “Upa” berarti dekat dan ”vasa” [wasa] berarti yang maha agung. Secara lengkap, upavasa berarti mendekatkan diri kepada maha kesadaran agung.

 

Upavasa sama sekali tidak terletak pada siksaan atau penderitaan yang harus dialami dengan tidak makan atau minum. Tujuan upavasa adalah mengendalikan badan [indriya] dan pikiran dari obyek-obyek luar. Karena dari obyek-obyek luar yang direspon oleh badan [indriya] dan pikiran, munculah sad ripu [enam kegelapan bathin]. Dari sad ripu munculah tindakan. Tindakan akan melahirkan pengalaman. Dan pengalaman-pengalaman buruk dalam hidup akan dimulai dari sad ripu yang tidak terkendali.

 

Catatan : dalam upavasa, tidak ada dikenal istilah batal puasa. Ketika tubuh kita tidak mampu lagi menahan lapar atau haus, silahkan makan-minum, tidak apa-apa. Yang penting pikiran dan indriya kita tetap dikendalikan dengan baik. Paling tidak [minimal] agar tidak memiliki pikiran negatif terhadap obyek luar apapun, selalu berpikir positif.

 

2. Mona Brata [puasa bicara].

Mona Brata berarti tidak bicara atau diam. Puasa yang lebih sempurna dari tidak makan-minum adalah ditambah dengan diam. Tidak saja mulut [badan] yang puasa, tapi pikiran juga puasa. Dengan diam lebih mungkin pikiran kita melakukan puasa. Tidak memikirkan hal ini dan hal itu, tidak memperdebatkan hal ini dan itu, tidak menghakimi hal ini dan itu.

 

Ketika pikiran dan perasaan kita sedang diganggu oleh kemarahan, ketersinggungan, iri hati dan segala bentuk sad ripu lainnya, segeralah diam. Hampir semua kecelakaan dalam hidup [berkelahi, bertengkar, dll] karena kita berbicara saat emosi kita terganggu. Sehingga begitu pikiran dan perasaan kita ada gangguan, jangankan besar, kecil saja cepatlah diam, karena diam sangat menyelamatkan. Menyelamatkan diri kita sendiri dan menyelamatkan orang lain.

 

Dalam cerita tetua Jawa juga ada kisah kura-kura yang karena kemarau panjang lalu pindah [migrasi] dibantu burung. Kura-kura menggigit kayu diterbangkan dua burung. Melihat fenomena langka seperti ini, sejumlah anak-anak berteriak gembira : “hai burung, betapa cerdasnya ide kalian !”. Seketika saja kura-kura menjawab : “ini bukan ide burung, tapi ideku !”. Dan jatuhlah sang kura-kura dari langit, mati dengan badan berantakan. Ini kisah untuk mengingatkan kita agar hati-hati dengan ego. Berbicara atas nama ego memiliki resiko demikian besar.

 

Karena itu ada sumpah para yogi pertapa, begitu dalam pikiran saya ada setitik noda, saya bersumpah akan diam seperti sebatang pohon. Lihatlah pohon, ditendang dia diam, dipotong dahannya dia diam, bahkan ditebangpun dia diam. Itulah sumpah para yogi tingkat tinggi, orang suci.

 

Catatan : Apakah ada hubungan upavasa dengan yoga ? Ada. Terutama bagi mereka yang bathinnya masih memerlukan banyak pembersihan. Ketika kita menghabiskan satu hari dalam pengendalian indriya dan dalam diam [pengendalian pikiran], kehidupan akan berputar tanpa keinginan kita. Dengan bathin yang telah bersih, tentu kita akan lebih mudah fokus pada hakikat kesadaran diri. Inilah yang disebut upavasa [mendekatkan diri kepada maha kesadaran agung]. Karena kesadaran akan mengundang datangnya kesadaran.

 

3. Jagra [sadar].

Jagra berarti sadar. Umumnya dalam pelaksanaan Shivaratri dimaknakan sebagai tidak tidur semalam suntuk sambil meditasi, mulat sarira [introspeksi diri] ataupun aktifitas lain seperti memusatkan diri pada Dewa Shiva. Akan tetapi sadar yang dimaksud dalam kisah Lubdaka tidak semata sebatas sadar tidak tidur. Lebih jauh lagi, ia juga mengandung arti selalu sadar [tidak tidur] kepada segala bentuk kegelapan bathin [sad ripu].

 

Ketika Lubdaka berada diatas pohon, untuk mencegah rasa kantuknya ia memetik daun bila helai demi helai lalu menjatuhkannya ke bawah, tanpa memikirkan masa lalu dan masa depan. Ini memberi makna pentingnya kita untuk selalu sadar di moment saat ini. Sebagian besar penglihatan, pemahaman dan persepsi kita sebenarnya diproduksi oleh pikiran. Apa yang kita sebut dengan bahagia dan sedih sebenarnya tidak lebih dari sekadar produk pikiran. Sehingga titik berangkat dari evolusi bathin adalah sadar dan waspada [tidak pernah tidur] pada setiap gerak-gerik sad ripu pada momen di saat ini. Karena siapa saja yang tekun berlatih menerangi bathin dengan kesadaran, menjauhkan hidup dari sad ripu, hidupnya menjadi sejuk dan damai. Sekaligus bergerak mendekat dengan realitas diri yang sejati.

 

Perhatikan hidup ini. Seringkali kita baru baru sadar bahayanya judi setelah banyak harta habis. Kita baru sadar betapa bahagianya hidup jujur setelah kita masuk penjara karena korupsi. Kita baru sadar celakanya selingkuh setelah pasangan hidup menuntut cerai, dll. Berbagai godaan kehidupan ini seringkali menipu dan meninabobokan kita. Inilah yang disebut orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan tidur. Banyak diantara kita yang lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak dan akhirnya meninggal dalam keadaan tidur. Tanpa pernah tahu dan menemukan siapa realitas dirinya yang sejati.

 

Titik tolak dari evolusi bathin bisa bermula dari mengelola kesadaran. Kesadaran bukan saja akan menyelamatkan kita dari banyak badai kehidupan, tapi sekaligus membimbing kita kepada realitas diri yang sejati. Sayangnya kesadaran bukanlah suatu hal stabil yang mudah dikelola. Sebab kita sudah melewati jangka kehidupan yang demikian lama dengan segala pengaruhnya kepada bathin kita. Disinilah diperlukan kesabaran. Kesabaran bukan saja sumber kedamaian, tapi juga sumber kejernihan dan keheningan. Seperti Lubdaka yang dengan sangat sabar semalam suntuk memetik daun bila, tanpa memikirkan masa lalu dan masa depan. Kekeruhan pikiran mudah sekali muncul dalam kualitas bathin yang tidak sabar, seperti misalnya marah yang merupakan salah satu hasil dari ketidaksabaran. Tekunlah berlatih kesadaran, jangan pernah tidur, sampai tidak ada lagi sad ripu yang tersisa, yang ada hanya kesadaran agung [Parama Shiva], semuanya terang benderang.

 

DEWA SHIVA

 

 

Bagi sebagian besar orang yang mempelajari dharma dengan intelek, Dewa Shiva adalah dewa yang dihormati dan dipuja. Tapi bagi para praktisi Tantra, Shiva Sidhanta dan beberapa ajaran tingkat menengah keatas lainnya, Dewa Shiva bukan hanya sebatas pengetahuan intelek, tapi beliau sering hadir langsung untuk memberikan berbagai bimbingan dan berkah spiritual. Deva Shiva adalah maha kesadaran kosmik yang penuh welas asih dan selalu membimbing manusia untuk menuju pembebasan. Bertemu dengan Dewa Shiva adalah sebuah pengalaman langsung [pratyaksa pramana, anubhavam], tidak hanya sebatas pengetahuan.

 

Sebagian besar dari kita umumnya berkah dharma-nya [sesuai putaran karma masing-masing] adalah sebagai orang biasa dan bukan praktisi ajaran tingkat menengah keatas. Tapi dengan memusatkan pikiran kita kepada beliau, kita juga bisa mendapatkan berkah bimbingan Dewa Shiva guna membersihkan bathin kita dari berbagai kegelapan bathin [sad ripu].

 

Om Namah Shivaya.

Selamat melaksanakan Tapa Brata Shivaratri – 3 January 2011.

 

Rumah Dharma – Hindu Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s