Ahimsa Paramo Dharmah : Pelaksanaan Dharma Yang Paling Mendasar

Ahimsa Paramo Dharmah : Pelaksanaan Dharma Yang Paling Mendasar

oleh Rumah Dharma – Hindu Indonesia pada 26 Desember 2010 jam 23:11

Kutipan dari Vana Parva :

 

अहिंसा सत्यवचनं सर्वभूतहितं परम

अहिंसा परमॊ धर्मः स च सत्ये परतिष्ठितः

सत्ये कृत्वा परतिष्ठां तु परवर्तन्ते परवृत्तयः

 

ahimsā satyavacanam sarvabhūtahitam param

ahimsā paramo dharmah sa ca satye pratisthitah

satye krtvā pratisthām tu pravartante pravrttayah

 

Mereka yang bathinnya mulia tidak menyakiti dan penuh kebaikan kepada semua mahluk.

Ahimsa [tidak menyakiti] adalah dharma yang tertinggi, mereka tidak pernah menyakiti dalam perbuatan, perkataan dan pikiran.

Mereka sepenuhnya sadar kepada sebab dan akibat dari perbuatan [hukum karma], menuju evolusi bathin.

PENJELASAN

 

Ajaran dharma yang paling mendasar adalah tumbuhkan sifat penuh welas asih dan banyak-banyak berbuat baik, tapi kalau tidak bisa cukup jangan menyakiti. Sehingga tidak menyakiti adalah bentuk dasar dharma yang paling mendasar. Karena itulah dikatakan “Ahimsa Paramo Dharmah”, tidak menyakiti adalah salah satu bentuk dharma yang tertinggi.

 

Tidak menyakiti sangatlah penting. Baik melalui perbuatan, perkataan dan bahkan melalui pikiran [artinya ketika ada moment kita berpikiran tidak baik, kita harus cepat-cepat melupakannya]. Inilah refleksi paling mendasar dari Tri Kaya Parisudha. Rasa takut, resah, gelisah, marah, iri hati, semuanya muncul dari ahamkara [ke-aku-an], dari perilaku cenderung mementingkan diri sendiri. Dengan mengembangkan sikap tidak menyakiti, apalagi kemudian bisa menumbuhkannya menjadi sifat penuh welas asih dan kebaikan, bathin kita akan lebih terbuka dan jernih. Dari sana bisa muncul sifat yang sabar, penuh kerelaan, jujur, tulus dan damai dalam bathin kita.

 

Kemarahan, iri hati dan sifat-sifat sad ripu lainnya sudah pasti menyebabkan bathin kita sengsara. Sehingga kembali ke ajaran dharma yang paling mendasar, tumbuhkan sifat penuh welas asih dan banyak-banyak berbuat baik, tapi kalau tidak bisa cukup jangan menyakiti. Karena hal itulah pondasi paling mendasar untuk membersihkan bathin dari sad ripu, menuju realisasi manah shanti, kedamaian bathin yang sejati.

 

Ketika kita membicarakan manah shanti, seyogyanya kita tidak salah memahaminya dengan sifat apatis yang tidak pedulian. Manah shanti bukanlah bathin yang datar atau hampa. Manah shanti adalah kondisi bathin damai dan tenang yang berakar-mula dari welas asih, kebaikan dan kepedulian kepada ketidak-bahagiaan mahluk lain.

 

Kehidupan tanpa menyakiti [ahimsa] bukanlah satu pilihan hidup bagi orang yang berhati lemah, melainkan bagi para pemberani. Kalau bisa damai, sejuk dan tidak menyakiti saat dipuji dan dihormati itu anak TK juga bisa melakukannya. Tapi kalau bisa tetap damai, sejuk dan tidak menyakiti saat dicerca dan dilecehkan, itulah mereka yang memiliki bathin dewa [daiwa sampad], bathinnya sekuat batu karang dan sejernih mata air.

 

Rumah Dharma – Hindu Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s