Govardhan Puja, pemujaan pada gunung

Govardhan Puja, pemujaan pada gunung

Govardhan Puja, pemujaan pada gunung?

Ngetopnya tayangan serial kartun “Little Krishna” ternyata memberikan kesan yang mendalam kepada masyarakat Indonesia. Film yang disadur dari kitab suci Hindu tersebut mampu memukau para penonton. Bukan hanya anak-anak, orang dewasapun tidak kuasa melewatkan film seri tersebut. Saking ngetopnya, bahkan film seri Little Krishna sampai ditayangkan berulang-ulang di salah satu stasiun TV. Melejitnya tayangan kartun ini tentu saja meningkatkan popularitas dan pemahaman masyarakat umum tentang siapa itu Krishna. Sebagian besar dari mereka pasti setuju mengatakan Krishna adalah perwujudan Tuhan Yang Maha Esa. Siapa lagi kalau bukan Tuhan yang bisa membuat dewa Brahma dari seluruh alam semesta datang dan bersujud? Siapa lagi yang bisa membuat seluruh para dewa menyembah? Hanya saja, ternyata terdapat sebuah adegan yang mengganjal pada hati sebagian penonton. Yaitu adegan pemujaan kepada bukit Govardhan. Sebagian dari mereka mencibir dan berkata; “kenapa bukit bisa di puja? Apa orang Hindu memuja benda mati yang nyata-nyata bukan Tuhan?”

Asal mula pemujaan kepada bukit Govardhan sebagaimana disebutkan dalam Visnu Purana, dimulai dari kisah perseteruan antara Sri Krishna dengan dewa Indra. Pada masa itu dikisahkan bahwa para penduduk Vrindavan hidup dari bertani dan beternak sapi. Mereka sangat tergantung pada kesuburan tanah yang mereka tempati. Menurut mereka kesuburan sangat dipengaruhi oleh karunia dewa Indra yang berkuasa atas hujan. Itulah sebabnya kenapa penduduk Vrindavan selalu melakukan festival Indra Puja sebagai persembahan yang ditujukan kepada dewa Indra agar beliau selalu berkarunia dan tidak menghukum mereka dengan kemarau panjang.

Pada suatu hari di saat para penduduk Vrindavan sibuk mempersiapkan festival pemujaan kepada dewa Indra dengan mengumpulkan berbagai hasil pertanian, mengolah berbagai produk susu dan menghiasnya sedemikian rupa, Sri Krishna kecil datang kepada ayahnya yang sedang berkumpul dengan para tetua Vrindavan yang lain. Sri Krishna mempertanyakan buat apa upacara ini harus diadakan. Nanda Maharaj sejenak berpikir dan menatap wajah putranya. Akhirnya beliau berusaha menjelaskan dengan panjang lebar bahwa upacara itu penting untuk memohon karunia kepada Indra sebagai penguasa hujan dan sebagai ucapan terimakasih karena telah memberikan berkah kesuburan. Namun Sri Krishna tidak puas dengan jawaban ayahnya tersebut dan Beliau memberikan argumen yang seolah-olah mengarah ke filsafat karma-mimamsa. Beliau mengatakan bahwa semua yang diperoleh oleh masyarakat Vrindavan adalah karena karma dari perbuatan yang telah mereka lakukan sesuai dengan hukum karma yang sudah ditetapkan. Para dewa sama sekali tidak punya hak melawan hukum karma yang sudah ditetapkan karena sesungguhnya para dewa hanyalah abdi Tuhan yang diberikan tugas menjalankan tugas dan fungsinya. Yang memberikan karunia secara langsung adalah Tuhan sendiri, bukan para dewa. Beliau juga menjelaskan bahwa setiap mahluk hidup dan bahkan benda mati sekalipun memiliki perannya masing-masing. Dewa memiliki peran sebagai aparatur pemerintahan alam semesta, Brahmana berkewajian membina spiritual masyarakat, Ksatria harus melindungi rakyatnya, Vaisya harus bergerak dalam perekonomian dan seorang sudra harus bersedia melayani golongan yang lain. Tanah, air, udara dan semua benda mati lainnya seremeh apapun itu juga memiliki peran yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Semuanya harus diberikan penghargaan dan penghormatan sesuai dengan perannya masing-masing. Sehingga dalam hal ini, masyarakat Vrindavan tidak perlu melakukan upacara Indra puja. Dan dengan berbagai argumen yang membuat ayahnya, para tetua dan penduduk Vrindavan mengikuti-Nya, Sri Krishna menyatakan kalau yang lebih patut dipuja adalah bukit Govardhan yang telah menjadi media bercocok tanam dan tempat ternak sapi-sapi mereka merumput setiap harinya serta para brahmana lokal yang telah khusuk dalam kegiatan spiritual.

Akhirnya upacara Indra Puja batal dilakukan dan para penduduk mengikuti perintah Sri Krishna untuk melakukan festival perayaan untuk menghormati bukit Govardhan dan persembahan kepada para brahmana. Melihat kejadian ini, tentu saja dewa Indra yang sedang diselimuti ego kekuasaan menjadi marah besar. Seketika itu juga dewa Indra mengirimakan hujan badai yang sangat lebat sehingga menyebabkan banjir bandang luar biasa di sekitar Vrindavan. Para penduduk ketakutan dan berusaha menyelamatkan diri dengan berbagai cara. Singkat cerita, dikisahkanlah Sri Krishna akhirnya mengangkat bukit Govardhan hanya dengan menggunakan jari kelingking-Nya dan meminta seluruh penduduk serta hewan-hewan peliharaan di Vrindavan berlindung di bawah bukit yang Beliau angkat tersebut.

Setelah berlangsung sekian lama akhirnya dewa Indra sadar bahwa yang dia hadapi bukanlah seorang anak biasa, tetapi perwujudan dari Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, pujaannya. Akhirnya dewa Indra-pun menghentikan hujan badai dan datang ke Govardhan lalu bersujud memohon maaf kepada Sri Krishna atas kehilafannya. Para dewapun berdatangan dan mengucapkan doa-doa pujian kepada Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa yang sedang melakukan lila rohani. Kepada seluruh penduduk Vrindavan, Sri Krishna akhirnya mengidentifikasikan diri Beliau sebagai bukit Govardhan. Beliau kembali memperlihatkan kemahakuasaan-Nya dengan menyantap semua makanan yang dipersembahkan pada perayaan tersebut. Sejak saat itulah penduduk Vrindavan selalu melakukan upacara persembahan kepada bukit Govardhan sebagai media pemujaan kepada Sri Krishna setiap tahunnya.

Dewasa ini, tradisi Govardhan Puja diperingati sehari setelah festival Deepawali yang pada tahun 2010 ini telah berlangsung pada hari Minggu, 7 November yang lalu. Festival dilakukan dengan memasak 108 jenis makanan yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menyerupai gunungan makanan yang oleh penduduk setempat disebut sebagai “ankut”. Mereka juga biasanya melakukan parikrama mengelilingi bukit Govardhan. Untuk umat Hindu, khususnya para Vaisnava yang berdomisili jauh dari Govardhan biasanya juga memperingati dengan membuat masakan yang dibentuk dan dihias sedemikian rupa sehingga membentuk tumpeng dan digambarkan sebagai sebuah duplikasi bukit Govardhan.

Sepertinya, tradisi tumpengan yang berkembang di Nusantara juga memiliki kaitan yang sangat erat dengan tradisi Govardhan Puja ini. Di Jawa sendiri dikenal adanya tumpeng sangga langit, Arga Dumilah, Tumpeng Megono dan Tumpeng Robyong. Sedangkan di Bali tumpeng sepertinya sudah mengalami transformasi ukuran. Tumpeng-tumpeng di bali cenderung berukuran kecil. Namun demikian tentu saja ukuran disini tidak merubah makna yang terkandung di dalamnya. Baik tradisi Jawa dan Bali masih tetap menjadikan tumpeng sebagai penggambaran terhadap gunung/bukit yang menggambarkan kemakmuran sejati. Sehingga tidaklah salah kalau gunung memiliki nilai mistik dan spiritual tersendiri dalam masyarakat kita.

Ternyata tradisi penghormatan terhadap gunung tidak hanya ada di India atau di Jawa dan Bali, orang Yunani menganggap gunung Olympus sebagai tempat bersemayamnya Zeus. Di Hawaii masyarakatnya percaya kalo gunung Mauna Kea adalah tempat tinggal Pele. Orang Babylonia menghormati Gunung Ziggurat, orang Persia kuno menghormati Gunung Elbruz, orang Jerman kuno memuja Gunung Humingbjorg, orang Inggris kuno memuja Gunung Irmingsul, dan bagi orang China kuno Gunung Khun Lun dianggap sebagai gunung yang suci.

Demikianlah meskipun tidak banyak orang yang mengenal tradisi Govardhan Puja, namun pada kenyataannya tradisinya sudah mendarah daging dalam sebagian besar kehidupan masyarakat manusia di dunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s