Nietzsche, Raja Atheis yang mencintai Krishna

Nietzsche, Raja Atheis yang mencintai Krishna

Siapa penggemar filsafat yang tidak mengenal Nietzsche? Ya, Nietzsche adalah seseorang filsuf Jerman yang dikenal sebagai Atheis terbesar dunia. Ia dilahirkan di Röcken bei Lützen, Prussia pada 15 Oktober 1844 dalam keluarga Kristen Lutheran. Meski ayahnya sendiri adalah seorang pendeta Lutheran, namun dia tumbuh dalam filsafatnya tersendiri yang dikenal dengan filsafat cara memandang kebenaran atau filsafat perspektivisme. Sebelum memulai karirnya sebagai seorang filosofis, dia merupakan seorang ahli filologi klasik yang menguasai berbagai macam naskah kuno. Pada umur 24 tahun ia sudah sukses menjadi kepala Filologi Klasik di Universitas Basel. Hal ini juga mengukuhkannya sebagai orang termuda yang pernah memegang jabatan tersebut. Sementara karirnya sebagai seorang “sang pembunuh Tuhan” melejit berkat karyanya yang berjudul Also sprach Zarathustra.

Namun benarkah Nietzsche adalah seorang Atheis? Apakah dia benar-benar tidak percaya akan adanya Tuhan? Dalam forum “Synthesis of Science and Religion Critical Essays and Dialogues” dalam sebuah paper yang dipresentasikan oleh William Deadwyler (Ravindra Svarupa Dasa) pada tanggal 9-12 Janauari 1986 di Bombay dibuktikan bahwa sesungguhnya Nietzsche bukanlah seorang Atheis, melainkan dia adalah seorang pemuja Tuhan yang taat yang sedang menyembunyikan jati dirinya.

Pada bagian ketujuh, Essay ke-3, hal. 398 dalam paper itu disebutkan: “…terkadang kecaman mengenai gagasan klasik akan keilahian harus dimengerti bukan sebagai sangkalan akan Tuhan atau Yang Maha Agung, melainkan sebagai sebuah konsep yang cacat mengenai Tuhan. Saya setuju akan hal tersebut.  Socrates contohnya, dituduh sebagai seorang penganut paham atheis. Namun “ke-atheis-annya”sesungguhnya adalah tanda pemahamannya yang lebih tinggi akan Tuhan. Terkadang orang-orang salah berpikir bahwa dirinya adalah seorang atheis, padahal dalam hatinya mereka sebenarnya bukanlah seorang atheis. Orang-orang berkata kepada saya, “Aku tidak percaya akan Tuhan”, dan ketika mereka menjelaskan kepada saya siapa yang mereka maksud dengan “Tuhan”, maka saya dapat dengan berkata dengan sungguh-sungguh kepada mereka, “Aku tidak percaya terhadap Tuhan yang sama dengan Tuhan yang tidak kalian percayai.” Nietzsche, sang pewarta kematian Tuhan, dalam pemahaman saya bukanlah seorang atheis sejati. Karena suatu ketika ia pernah menyatakan, “Aku hanya bisa beriman kepada Tuhan yang dapat menari.” Sebagai orang yang percaya terhadap Krishna, yang juga dikenal sebagai Nataraja, Sang Penari Yang Utama, saya melihat bahwa keyakinan Nietzsche tak terjawab dan dibingungkan oleh ide akan ketuhanan yang tersedia baginya. Namun, keyakinan yang tak terjawab tidak dapat diartikan sebagai paham atheis.

Bh. Tod Desmond mengatakan bahwa Nietzsche sesungguhnya adalah seorang penyembah Krsna. Nietzsche pernah berkata, “Aku dapat menjadi Buddha dari Eropa.” Sama seperti Buddha, Nietzsche juga hanya berpura-pura untuk menjadi seorang atheis. Dia berdusta demi Krsna. Di bagian kedua terakhir dari Beyond Good and Evil, #295, Nietzsche menyingkap Tuhan rahasianya, yang ia sebut dengan nama samaran Dionysus, Sang Peniup Seruling dalam hati setiap orang, Sang Filsuf Utama yang menurunkan garis perguruan. Dia-lah Krsna, kepada siapa Nietzsche tak hanya sekedar insaf akan-Nya, namun juga jatuh cinta kepada-Nya.

Nietzsche adalah seorang penyembah Krishnadari Eropa yang menggunakan taktik yang sama dengan yang digunakan oleh Buddha di Timur. (Srimad Bhagavatam 1.3.24: “Maka, di awal zaman Kali-yuga, Tuhan akan muncul sebagai Sang Buddha, putra dari Anjana, dari provinsi Gaya, dengan tujuan untuk memperdaya orang-orang yang iri terhadap para pemuja Tuhan yang setia.”

Dalam bukunya, Beyond Good and Evil #40, Nietzsche berkata, “Segala hal yang khidmat (mendalam) sangat menyukai kedok. Tak ada kedok penyamaran yang cukup untuk menyembunyikan cinta yang sangat mendalam ini selain dengan cara menyatakan yang sebaliknya, yaitu rasa malu akan Tuhan, bukankah begitu?”

Dalam Gay Science #106 Nietzsche mengambil peran sebagai seorang pengikut yang berkata kepada Tuannya: “Namun aku meyakini-Mu, dan mengingat bahwa hal ini sangat kuat, maka aku akan mengatakan kebalikan dari seluruh isi pikiranku.”

Sang inovator tertawa dalam hatinya dan mengibaskan jarinya. “Cara menjadi pengikut seperti ini,” ia berkata, “adalah yang terbaik; namun juga yang paling berbahaya, dan tidak dalam semua doktrin hal ini dapat diterapkan.”

Pada dua aforisma selanjutnya, di nomor 108 yang sangat signifikan, Nietzsche mengeluarkan pernyataannya yang paling terkenal:

Setelah mangkatnya Sang Buddha, bayang-bayangnya masih tampak selama berabad-abad dalam sebuah keruntuhan—sebuah bayang-bayang yang maha mengerikan. Tuhan telah mati; mempertimbangkan sifat-sifat manusia, keruntuhan ini akan terus berlanjut hingga ribuan tahun ke depan, di mana bayang-bayang ini akan terus mengikuti.

Bukanlah suatu ketidaksengajaan bahwa Nietzsche menyatakan bahwa Tuhan telah mati, dan kemudian menghubungkan pernyataan tersebut dengan Sang Buddha dan nomor penting dalam budaya Veda, 108. Nietzsche sangat paham akan apa yang dilakukan oleh Sang Buddha, dan ia mengikuti taktik yang sama, yang tampak dalam pernyataan nomor 106 di atas.

Terkait dengan bayang-bayang Sang Buddha akan Tuhan yang berada dalam keruntuhan, mari kita simak kembali apa yang dikatakan oleh Nietzsche mengenai keruntuhan ini. “Bukankah seorang penulis memiliki sebuah agenda yang tersembunyi dalam membuat bukunya? Tentu saja, ia akan mempertanyakan, bukankah dibalik semua orang dalam keruntuhannya terdapat sebuah keruntuhan yang lebih mendalam lagi? Di setiap filsafat tersembunyi sebuah filsafat lainnya; dalam setiap opini terkandung sebuah maksud, dan setiap kata adalah sebuah kedok.

Hal ini mengingatkan kita akan kutipan sebelumnya, BGE #40, ketika Nietzsche menyatakan segala hal yang khidmat (mendalam) sangat menyukai kedok, dan hal yang benar-benar berlawanan akan menjadi kedok yang sangat tepat untuk menyembunyikan Tuhan. Apakah Nietzsche benar-benar memainkan peran Buddha? Nietzsche sendiri mengakui, “Aku dapat menjadi Buddha dari Eropa.” (KSA 10, 4[2])

Ia juga pernah mengatakan, “Keanehan yang terjadi di mana terdapat kemiripan antara filsafat India, Yunani, dan Jerman sebenarnya dapat dijelaskan dengan cukup mudah. Di mana terdapat pertalian antara bahasa-bahasa ini maka tidak mungkin salah lagi bahwa sejak awal segala hal lainnya telah disiapkan dengan tujuan untuk pembentukan dan penyusunan sistem-sistem filosofi yang sama. (BGE#20)

Di bagian kedua terakhir dari buku Beyond Good and Evil, #295, Nietzsche secara terang-terangan menggambarkan Tuhan-nya, dan secara terang-terangan mengakui bahwa ia menggunakan nama samaran Dionysus untuk menyebut Tuhan-nya, alias Krsna:

Sementara itu aku telah belajar banyak, sangat banyak, mengenai filosofi dari Tuhan ini, dan seperti yang telah aku katakan sebelumnya: yang ajarannya diturunkan dari mulut ke mulut—Aku, murid utama yang terakhir dari Tuhan Dionysus—dan aku ingin mulai menawarkan kepadamu, sahabat-sahabatku, bersediakah kalian mencicipi sedikit rasa dari filosofi ini? Tak berlebihan, hanya secukupnya saja, karena filosofi ini bersifat rahasia, mutakhir, ganjil, asing, dan ajaib. Walaupun Dionysus adalah seorang filsuf, ia juga Tuhan, namun ia juga berfilsafat, yang mungkin tampak seperti seorang filsuf baru yang tak berbahaya dan mungkin akan memunculkan kecurigaan di antara para filsuf… Karena, hari ini, seperti yang telah disampaikan kepada ku, kalian tidak lagi percaya terhadap Tuhan dan para dewa. Apakah aku juga seharusnya lebih berterus terang dalam berbicara kepada kalian, daripada berbicara hanya untuk menyenangkan telinga kalian? Tentu saja jika kita mempertanyakan Tuhan lebih jauh lagi, jauh lebih mendalam, di sebuah dialog seperti ini, ia akan selalu berada beberapa langkah didepanku.”

Tuhan-nya Nietzsche, yang bernama samaran Dionysus, adalah Sang Pemikat Hati bagi setiap jiwa, Sang Peniup Seruling, dan Sang Ahli Dialog Filosofis, Filsafat itu Sendiri, serta Yang Diwariskan dari seorang guru kepada muridnya “dari mulut ke mulut”.

Selain Socrates (yang dikatakan oleh segelintir orang sebagai sosok yang juga pernah disinggung oleh Nietzsche secara rahasia) dialog filosofis lainnya yang layak untuk didiskusikan hanyalah literatur-literatur Veda. Oleh karena itu mari kita simak kembali Bhagavad-gita, literatur Veda yang paling mashyur, di mana Krishnabersabda: “Aku bersemayam di dalam hati setiap orang, dan Diri-Ku adalah sumber dari kemampuan mengingat, ilmu pengetahuan, dan kemampuan untuk lupa. Aku dapat dikenal dari literatur-literatur Veda; sesungguhnyalah Aku yang menyusun Vedanta, dan Aku adalah Sang Penguasa seluruh Veda.”

Nietzsche juga mengatakan, “Aku hanya bisa beriman kepada Tuhan yang dapat menari.” Yang tak lain dan tak bukan adalah Krsna. Kita dapat melihat dengan jelas bahwa Nietzsche adalah seorang penyembah Krsna, sesungguhnyalah bahwa sang raja atheis ini adalah seorang penyembah Tuhan yang agung. Jika kita dapat membuktikan hal ini maka kita akan mendapatkan kemenangan bagi Sri Krishna dan para penyembahnya.

Jika di antara para pembaca ada yang membutuhkan informasi tambahan, maka saya mempunyai banyak kutipan untuk mendukung fakta bahwa Nietzsche memang seorang penyembah Krishnayang memainkan peran Sang Buddha.

Sebagai contoh, dalam bukunya yang berjudul Thus Spoke Zarathustra, sang Paus tua berkata kepada Zarathustra, “Engkau lebih saleh daripada yang kau kira. Tuhan dalam dirimu pasti sudah merubahmu menjadi tak ber-Tuhan.”

Dalam buku The Dawn #96, Nietzsche berkata: “Tak peduli betapa majunya perkembangan yang telah dicapai oleh bangsa Eropa hingga membuat bangsa lain menghormatinya, dalam hal keagamaan bangsa Eropa belum mencapai kemurnian pikiran bebas yang dimiliki oleh para brahmana zaman dahulu: sebuah tanda bahwa terjadi lebih banyak proses berpikir di zaman dahulu, dan kesenangan dalam proses berpikir ini sudah biasa diwariskan turun-temurun, dan proses ini sudah berlangsung selama empat ribu tahun lebih awal di India dari pada di sini.”

Demikianlah sekilas pembuktian Nietzsche yang lebih dikenal sebagai “sang pembunuh Tuhan” ternyata adalah seorang penyembah Tuhan, Sri Krishna yang sangat berdedikasi.

Sumber:
http://en.wikipedia.org/wiki/Friedrich_Nietzsche
http://www.veda.krishna.com/

5 responses to “Nietzsche, Raja Atheis yang mencintai Krishna

  1. mantap, ku berpikir, tingkatan moksa kita adalah pemikiran ateis..
    Sang Buddha adalah contoh untuk mencapai moksa..
    seperti catur asrama.. brahmacari, grhasta, wanaprasta, biksuka/sanyasin..
    sungguh lengkap filsafat agama kita.. Hindu.. Sanatana Dharma..

  2. @wirad,,
    stuju,bli🙂
    dlm hindu ada 4 cara untuk mencapai moksa yang d sebut catur marga yoga,,,

    https://dharmasastra3.wordpress.com/2010/10/10/catur-marga-yoga/

    salam,,

  3. Iaa, mungkin Sang Buddha termasuk raja marga yoga..

  4. Bhakti marga : seperti umat kebanyakan sekarang ini.. sering melakukan upakara dan persembahan seperti di Bali..
    Jnana marga : mungkin seperti einstein, melalui pengetahuan alam, fisika, kimia, biologi, kita bisa mengetahui rahasia ilahi..
    Karma yoga : seperti yg dilakukan para Maha rsi.. berbuat tanpa pamrih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s