Spiritualitas salah kaprah

Spiritualitas salah kaprah


Spiritualitas salah kaprah

Seorang teman dengan yakin dan semangatnya berujar; “Hanya dengan kuasa Yesus-lah roh jahat yang membuat penyakit di dalam tubuh seseorang akan terusir. Semua orang Kristen punya kekuatan untuk menyembuhkan orang yang sakit hanya dengan berdoa dan menyentuh orang yang sakit tersebut karena semua orang Kristen adalah anak-anak Allah. Orang Kristen tidak akan pernah kekurangan kekayaan apapun, lihatlah bos Ciputra yang seorang Cina, sejak dia memeluk Kristen, dengan segera dia menjadi pengusaha terkaya di Indonesia”.

Namun, apa yang terjadi? Tepat keesokan harinya teman saya tersebut tidak masuk kerja dengan alasan sakit, bahkan bukan hanya 1 hari, tapi sampai 3 hari. Tentunya saya tertawa lebar meski hanya di dalam hati. Pada saat dia sudah mulai masuk kerja, sambil basa-basi saya bertanya kepadanya; “Anak Tuhan bisa sakit juga ya pak ya? Katanya semua anak Tuhan bisa menyembuhkan orang sakit?”. Apa jawabannya? Dia berujar; “Itu kan saat iman saya sedang jatuh, makanya bisa sakit”. Sebuah jawaban yang masih memiliki celah lebar untuk diperdebatkan bukan?

Dalam sastra Veda disebutkan; “Sa kaler tamasa smrtah, ketika sifat alam tamas (kebodohan) begitu pekat menyelimuti penduduk dunia, masa itu disebut Kali-Yuga (Bhagavata Purana 12.3.30). Jadi jangan heran kalau pada jaman kali yuga ini sangat banyak orang yang tidak mampu membedakan antara spiritualitas, kesaktian material, kekayaan dan kecerdasan material. Orang yang sakti, yang mampu melakukan hal-hal metafisik yang diluar nalar manusia dikatakan orang yang tingkat spiritualnya tinggi. Orang yang kaya secara material dikatakan memiliki kedekatan khusus dengan Tuhan. Orang-orang dihargai hanya karena gelar professor, doctor, insinyur dan kedudukannya dalam sains modern. Inilah jaman kegelapan dimana lebih dari 75% penduduk dunia memiliki pandangan keliru seperti itu.

Berdasarkan penelitian seksama terhadap Jyotir Sastra (ilmu Astronomi Veda), para sarjana tradisional Veda menyatakan bahwa Kali-Yuga mulai pada tanggal 18 Pebruari 3102 SM ketika Maha Raja Pariksit naik tahta Kerajaan Hastinapura. Dikatakan bahwa pada hari itu ke 7 planet termasuk Bulan dan Matahari tidak dapat dilihat dari Bumi, sebab mereka berjejer lurus satu arah dibalik Bumi. Sementara itu, planet Rahu yang tidak bisa dilihat mata telanjang, tepat berada diatas Bumi di langit yang gelap gulita. Oleh karena tahun Masehi telah berlangsung selama 2006 tahun, maka pernyataan bahwa Kali-Yuga mulai sekitar  5.100 tahun yang lalu diakui sebagai kebenaran oleh para penganut ajaran Veda. Lebih lanjut dinyatakan bahwa Kali-Yuga berlangsung selama dvadasabda satatmakah, dua  abad deva, atau 1.200 tahun deva (Bhagavata Purana 12.2.31). Menurut tahun manusia, Kali-Yuga berlangsung selama 1.200 x 360 =  432.000  tahun (1 hari deva = 1 tahun manusia). Dari jumlah ini, 5.100 tahun telah berlalu, sehingga Kali-Yuga punya jangka waktu berlangsung yang masih lama yaitu 426.900 tahun manusia. Karena itu, seharusnya manusia tidak perlu kawatir akan adanya isu kiamat pada tahun 2012 mendatang.

Bhagavata Purana 12.3.25 lebih lanjut menatakan bahwa: (a) Dalam masa Kali-Yuga, manusia cendrung semakim rakus, berprilaku jahat (korup) dan tidak mengenal belas-kasihan. Mereka bertengkar satu dengan yang lain tanpa alasan benar. Mereka bernasib malang, diliputi beraneka-macam keinginan material dan sudra-dasottarah prajah, mayoritas tergolong sudra dan manusia tidak beradab.

Lingam evasrama kyatau anyonyapatti karanam, tingkat kehidupan spiritual (asrama) seseorang ditentukan berdasarkan ciri/simbul luar belaka (Bhagavata Purana 12.2.4). Masyarakat berbondong-bondong mendatangi orang-orang sakti secara material demi meminta kesembuhan, ngalap berkah dan sejenisnya. Orang yang mengenakan pakaian kebesaran keagamaan dianggap maju secara spiritual. Orang yang pintar bersilat lidah dikatakan dekat dengan Tuhan.

Tatas canudinam dharmah satyam saucam ksama daya kalena balina nanksyati, dharma (agama) beserta keempat prinsipnya yaitu satyam (kejujuran), saucam (kesucian diri), ksama (kesabaran) dan daya  (kasih-sayang) merosot dari hari ke hari (Bhagavata Purana 12.2.1). Semua orang asyik membicarakan dan memperdebatkan Tuhan, namun mereka lupa keempat pondasi dasar yang harus mereka lalui sebelum dapat dikatakan benar-benar menjalankan perintah Tuhan. Jika mereka belum dapat menjalankan aturan dasar ini, dapatkah mereka mengajarkan dan memaksakan keyakinan mereka kepada orang lain?

Yada mayanrtam tandra nidra himsa visadanam sa kalir tamasa smrtah, ketika kegiatan tipu-menipu (maya), bohong-membohongi (anrta), kemalasan spiritual (tandra), ketidak-insyafan pada diri (nidra), tindak kekerasan (himsa) dan kecenasan (visadanam) merajalela (Bhagavata Purana 12.3.30). Durbhaga bhuri-tarsah ca sudra dasottarah prajah, manusia Kali-Yuga bernasib malang, diliputi beraneka macam keingianan material dan mayoritas tergolong  sudra dan orang-orang tidak beradab (Bhagavata Purana 12.3.25). Orang berkedok mendekatkan diri kepada Tuhan dan mengatakan diri belajar spiritual hanya karena keinginan duniawinya, keinginan untuk memperoleh kesaktian, keinginan untuk mendapat kenikmatan material di dunia dan di Sorga dan hanya mengejar popularitas semata.

Cobalah kita lihat fenomena yang terjadi saat ini. Adanya Yogya Festival dan Bali Festival yang digalakkan oleh kaum misionaris Kristen dengan dalih kegiatan sosial memanfaatkan ketidakmampuan masyarakat secara meteri. Mereka juga menjanjikan kesembuhan dan kesehatan demi mencari pengikut. Teknik yang mereka gunakan tidak lebih dari pada sugesti semata. Siapapun mereka dan apapun agamanya pada dasarnya dapat melakukan teknik tersebut. Semua itu hanya karena “percaya”, bukan karena agama mereka. Apa tujuan dari semua kegiatan itu? Murnikah demi Tuhan? Ataukah ada motif lain karena kita tahu bahwasanya ada kewajiban yang harus di bayar kepada Gereja setiap bulannya? Saya tidak tahu, tetapi saya hanya menegaskan bahwa seperti inilah masyarakat kita saat ini. Spiritual di dasarkan pada material. Dua hal yang pada dasarnya sangat bertolak belakang.

Kebanyakan masyarakat melakukan berbagai upacara keagamaan yang sangat besar demi untuk popularitas dan agar dipandang di masyarakat, walaupun pada kenyataannya mereka tidak melakukan semua itu secara tulus iklas. Sehingga tidaklah salah kalau Bhagavata Purana 12.2.6 mengatakan; “Yaso’rthe dharma sevanam, (pada jaman kali) kegiatan keagamaan dilaksanakan semata-mata untuk memperoleh ketenaran/kemasyuran”

Demikian juga para pemimpin agama yang kebanyakan sudah tidak memegang prinsip-prinsp kebrahmanaan memanfaatkan kedudukannya untuk mengeruk kekayan dan kenikmatan pribadi. Sisnodara para dvijah, mereka yang disebut para brahmana hanya sibuk dalam urusan memuaskan perut dan kemaluan (Bhagavata Purana 12.2.32).

Celakanya, kekayaan material dijadikan label identitas level kerohanian seseorang. Sehingga tidaklah salah seorang pengunjung home page saya menuliskan comment yang mengatakan bahwa negara-negara Kristen seperti Amerika, dan Eropa makmur karena mereka memuja Yesus dan negara India serta negara-negara non-Kristen lainnya dikatakan miskin karena mereka masih primitif secara spiritual. Apa benar seperti itu? Tidakkah mereka tahu bahwa founding father Amerika sendiri dengan tegas menyatakan bahwa Amerika tidak dibangun atas dasar agama tertentu. Bahkan saat ini di Amerika penganut Kristen semakin menyusut.

Itulah pandangan manusia yang katanya saja modern, tetapi berpikiran sempit dan picik. Mengeneralisasi sesuatu secara subjektif tanpa metodologi ilmiah yang benar, tetapi mengaku hal tersebut sebagai suatu kebenaran yang objektif. Sehingga tidaklah salah kalau sekali lagi Bhagavata Purana 12.2.2 menegaskan; “Vittam eva kalau nrnam janmacara gunodayah, (pada jaman Kali) kekayaan material dijadikan petunjuk kelahiran, prilaku dan sifat-sifat baik seseorang.  Lebih lanjut dikatakan dalam Bhagavata Purana 12.2.5; “Anadhyata ivasadhutve, seseorang dianggap hina jikalau dia miskin”.

Dengan demikian, jika anda adalah seorang penekun spiritual, (spirit = soul = Jiva = Atman) dalam hubungannya dengan Tuhan yang sangat jauh berbeda dari “maya”/alam material, maka seharusnyalah anda dapat membedakan antara kepandaian dan kemajuan teknologi modern, kesaktian yang bersifat metafisika, kekayaan dan segala hal yang berhubungan dengan dunia ini dengan spiritual. Seseorang yang maju secara spiritual tidak dapat diukur dari parameter-parameter material tersebut, tetapi mereka harus diukur dari parameter rohani. Salah satu parameter tersebut adalah 4 pondasi Dharma sebagaimana dijelaskan dalam Bhagavata Purana 12.3.30, juga pemahamannya dan kemampuannya dalam hal pengetahuan sejati prihal Atman dan Brahman sebagaimana dijelaskan dalam Bhagavad Gita bab 4.

2 responses to “Spiritualitas salah kaprah

  1. Ping-balik: TANGGAPAN ATAS: ‘spiritualitas-salah-kaprah’ « fransiskusmgs'

  2. Ping-balik: Menaggapi Seorang Hindu « fransiskusmgs'

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s