Meniti Jalan Spiritual

Meniti Jalan Spiritual

Meniti Jalan Spiritual

Dalam Bhagavad-Gita 13.27 Sri Krishna berkata, “Sattvam sthavara jangamam ksetra-ksetrajna samyogat, segala yang hidup baik bergerak ataupun tidak bergerak adalah kombinasi antara ksetra (badan jasmani) dengan  ksetrajna (Atman atau jiva)”.

Karena itu, setiap orang yang hidup terdiri dari dua unsur yaitu:

  1. Badan jasmani yang material dan sementara, dan
  2. Sang jiva (roh) yang spiritual dan kekal abadi.

Karena fakta ini maka kesadaran ada dua macam yaitu:

  1. Kesadaran material, dan
  2. Kesadaran spiritual.

PRINSIP-PRINSIP KESADARAN MATERIAL

Veda menyatakan, “Janasya moho’yam aham mameti, para makhluk hidup (jiva) di dunia fana diliputi oleh paham ‘Aku’ dan ‘Milik-ku’ (Perhatikan Bhagavata Purana 5.5.8). Selanjutnya dikatakan, “Maya-sukhaya bharam udvahato vimudha, para makhluk hidup (jiva) yang bodoh ini bekerja amat keras untuk menikmati  maya-sukha, kesenangan duniawi semu dan sementara” (Bhagavata Purana 7.9.43).

Dengan kata lain, kehidupan orang-orang yang berkesadaran materialistik berpondasi pada 3 prinsip berikut.

  1. Ahanta, aku adalah badan jasmani yang dipanggil si anu.
  2. Mamanta, segala sesuatu yang terkait dengan badan jasmaniku adalah  milkikku atau dapat menjadi milikku.
  3. Maya-sukha, kesenangan/kenikmatan semu dan sebentar yang dirasakan dari kontak antara indriya jasmani dengan obyeknya diangggap kebahagiaan sejati.

Dicengkram kuat oleh ketiga prinsip hidup ini, sang jiva berjasmani manusia menjadi amat sibuk dalam beraneka-macam kegiatan pamerih dalam ikhtiarnya hidup bahagia di dunia fana melalui pemuasan indriya jasmani.

PRINSIP-PRINSIP KESADARAN SPIRITUAL

Veda mengingatkan setiap orang bahwa dirinya sejati adalah jiva rohani nan abadi dengan prinsip-prinsip spiritual berikut.

  1. Aham barhmasmi, aku adalah roh (jiva) spiritual abadi (brhad aranyaka  upanisad 1.4.10).
  2. Tat tvam asi, anda adalah jiva spiritual abadi (chandogya upanisad 6.14.3) yang nirmamo nirahankarah, bebas dari paham kepemilikan dan ke-aku-an material apapun (perhatikan Bhagavad Gita 2.71).
  3. Brahma-sukham, kebahagiaan spiritual abadi adalah kebahagiaan sejati bagi sang jiva (perhatikan Bhagavata Purana 5.5.7).

Dengan berpegang pada peringatan Veda tersebut, kehidupan orang-orang yang berkesadaran spiritual berpondasi pada keinsyafan diri (self-realization) bahwa dirinya sejati adalah sang jiva rohani-abadi, bukan badan jasmani yang material dan sementara dan tidak punya hubungan apapun dengan dirinya yang spiritual.

Berdasarkan pada keinsyafan rohani demikian, mereka  yang berkesadaran spiritual berjuang keras untuk mencapai brahma-sukha (kebahagiaan spiritual abadi tak terbatas) dengan cara mengendalikan indriya-indriya badan jasmaninya sesuai petunjuk kitab suci Veda.

Secara umum, orang-orang yang berkesadaran spiritual di sebut kaum brahmana. Mereka ber-pengetahuan spiritual  Veda dan bertindak sebagai guru (pembimbing) rakyat untuk melepaskan diri dari kehidupan material dunia fana yang menyengsarakan.

KESADARAN TINGKAT RENDAH PALSU DAN TINGKAT TINGGI SEJATI

Kesadaran material disebut kesadaran tingkat rendah dan palsu, karena ia hanya terkait dengan badan jasmani yang fana dan sementara. Sedangkan kesadaran spiritual disebut kesadaran tinggi dan sejati, karena ia terkait dengan sang jiva (roh) yang spiritual-abadi.

Mengenai badan jasmani dan tingkatan unsur-unsurnya, Sri Krishna menjelaskan sebagai berikut,”Indriyany parany ahur, indriya jasmani lebih halus dari pada obyeknya. Indriyebhyah param manah, pikiran lebih  halus dari pada indriya. Manasas tu para buddhir, kecerdasan lebih halus dari pada pikiran. Dan, yo buddheh paratas tu sah, sang jiva (yang diselimuti ego) lebih halus dari pada kecerdasan” (Bhagavad Gita 3.42).

Berdasarkan sloka Gita tersebut, maka menurut Veda ada  4 tingkat kesadaran material yaitu:

  1. Kesadaran sensual
  2. Kesadaran mental
  3. Kesadaran intelektual
  4. Kesadaran egoistik

Sedangkan kesadaran spiritual dicapai ketika ego (ahankara/ke-aku-an palsu) “Aku adalah badan jasmani ber-nama si Anu”, berobah menjadi “Aku adalah sang jiva rohani-abadi yang berkedudukan dasar sebagai pelayan kekal Sri Krishna”. Dengan kembali  pada  kedudukan  dasarnya, sang jiva mencapai kebahagiaan sejati (brahma-sukha).

Mereka yang berkesadaran material menganggap kenikmatan indriyawi semu dan sementara (maya-sukha) sebagai kebahagiaan sejati (brahma-sukha). Sebab, mereka pikir setelah ajal segala sesuatu yang terkait  dengan badan jasmaninya jadi hilang, lenyap tanpa bekas. Mereka tidak peduli bahwa begitu banyak manusia kaya-raya hidup tak aman, tidak  nyaman dan tidak damai, apalagi bahagia.

Sebaliknya, orang-orang bijak berkesadaran spiritual merasakan kebahagiaan sejati (brahma-sukha) dari keinsyafan diri sebagai jiva rohani-abadi dalam kegiatan pelayanan cinta-kasih (bhakti) kepada Sri Krishna.

Tingkat kesadaran material dan spiritual dapat diringkas sebagai berikut.

Kriteria yang harus dipakai menentukan tingkat kesadaran seseorang adalah karma, perbuatan/kegiatannya sehari-hari.

TINGKAT KESADARAN  DAN TENAGA MATERIAL (MAYA) TUHAN

Taittiriya Upanisad 2.1- 5 menyatakan bahwa dalam hubungannya dengan tenaga material (maya) Sri Krishna, tingkat kesadaran yang berjumlah 5 tersebut dijabarkan sebagai berikut.

Tingkat spiritual brahman-bhuta dijelaskan oleh Sri Krishna sebagai berikut, “Brahma-bhuta prasannatma na socati  na  kanksati samah sarvesu bhutesu mad bhaktim labhate param, orang yang telah berada pada tingkat spiritual brahman-bhuta senantiasa bahagia. Dia  tidak pernah sedih dan tidak lagi men-dambakan apapun yang material, dan bertindak sama ter hadap segala makhluk. Dalam kehidupan demikian, dia khusuk dalam pelayanan bhakti  murni  kepada Ku”  (Bhagavad Gita 18.54).

Tingkat material jiva-bhuta dijelaskan oleh Sri Krishna sebagai berikut, “Jiva-bhutam mahabaho yayedam dharyate jagat, para jiva-bhuta (orang-orang yang berkesadaran materialistik) ini, O Arjuna yang berlengan perkasa, sibuk mengeksploitir alam material (untuk kesenangan hidupnya) (Bhagavad Gita  7.5), Jiva – bhutah sanatanah manah sasthanindriyani prakrti-sthani karsati, para jiva-bhuta yang berhakekat kekal dan berada di alam fana ini, berjuang keras dengan keenam indriya termasuk pikiran (agar hidup bahagia) (Bhagavad Gita 15.7)”.

Veda menyatakan bahwa selama seseorang dicengkram / diikat Tri-guna, maka dia berkesadaran materialistik dan tergolong jiva-bhuta. Sebaliknya, bila seseorang bebas dari cengkraman/ikatan Tri-guna, maka dia dikatakan berkesadaran spiritual, berada pada tingkat rohani  visud-dha-sattvam dan tergolong brahman-bhuta.

TINGKAT KESADARAN IBARAT PROSES MEKARNYA BUNGA

Veda meng-ibaratkan kemajuan kesadaran setiap orang  seperti  proses mekarnya bunga. Pada awalnya bunga itu hanya berupa  kuncup  bulat dan kecil, lalu  berangsur-angsur membesar dan pelan-pelan  berkembang sampai akhirnya jadi mekar nan indah.

Bunga yang indah mekar adalah bagaikan orang berkesadaran spiritual yang sifat-sifat dan prilakunya menyenangkan dan tutur katanya menyejukkan hati.

Proses berkembangnya kesadaran yang seperti bunga ini dapat diringkas sebagai berikut.

Meskipun seseorang tahu bahwa dirinya adalah jiva rohani-abadi, namun pengetahuan, kekayaan dan kesenangan material yang timbul  dari  sifat alam sattvam (kebaikan) tetap mengikat dirinya di dunia fana (perhatikan Bhagavad Gita 14.6), sehingga dia tetap tergolong berkesadaran material.

Apakah seseorang berkesadaran material atau berkesadaran spiritual, itu ditentukan oleh perbuatan/kegiatan (karma) yang dilakukan setiap hari? Oleh karena sifat alam rajas (kenafsuan) dan tamas (kegelapan) begitu tebal menyelimuti kesadaran penduduk Bumi pada masa Kali-Yuga sekarang (perhatikan Bhagavad Gita 14.18) maka praktis orang-orang yang disebut modern dewasa ini ber-kesadaran materialistik.

TINGKAT KESADARAN DAN JALAN KEROHANIAN (YOGA)

Ajaran Veda disusun sedemikian rupa agar sang manusia dapat secara berangsur-angsur meningkatkan kesadarannya dari material ke spiritual  untuk bisa kembali tinggal bersama Tuhan di dunia rohani dalam hubungan cinta-kasih (bhakti) dengan-Nya.

Secara umum ada 4 jalan kerohanian (yoga) yang  diajarkan oleh Veda sesuai dengan tingkat kesadaran sang manusia yaitu karma, jnana, dhyana dan bhakti.

Veda meng-ibaratkan jalan kerohanian (yoga) sebagai suatu tangga dengan 4 pijakan yaitu karma, jnana, dhyana dan bhakti. Pijakan tangga  pertama (yaitu karma) di sebut  yoga-ruruksa, sedangkan pijakan tangga keempat (terakhir yaitu bhakti) disebut yoga-rudha (perhatikan Bhagavad Gita 6.3).

Tingkat kesadaran dalam hubungannya dengan jalan kerohanian (yoga) dapat diringkas sebagai berikut.

 

PENJELASAN UMUM TENTANG JALAN KEROHANIAN (YOGA)

Bila kegiatan (mencakup kegiatan badan, pikiran dan kata-kata) itu semata-mata dimaksudkan untuk meningkatkan standar kehidupan material supaya menjadi lebih baik dan lebih nikmat dengan lahir di alam Sorgawi sesuai petunjuk/aturan Veda, maka kegiatan ini disebut Karma-Yoga. Bagian pengetahuan Veda yang mengajarkan tentang Karma-Yoga ini disebut Karma-Kanda dan bersumber pada  kitab  Catur-Veda.   Kegiatan Karma-Kanda ini pada umumnya berupa ritual ke-agamaan untuk memuja para  Deva.

Bila kegiatan (badan, pikiran dan kata-kata) dilandasi oleh pengetahuan Veda  dengan tujuan untuk membebaskan diri dari reaksi (phala) kerja (karma) yang mengikat di dunia fana, maka kegiatan ini disebut Jnana-Yoga. Bagian pengetahuan Veda  yang  mengajarkan Jnana-Yoga disebut disebut Jnana-Kanda dan bersumber pada kitab Upanisad. Kegiatan Jnana-Kanda ini pada umumnya berupa diskusi pengetahuan Veda tentang Tuhan impersonal yaitu Brahman.

Jika kegiatan (badan, pikiran dan kata-kata) dilandasi keinginan memperoleh kekuatan mistik melalui pemusatan pikiran kepada Tuhan sesuai aturan/petunjuk Veda agar bisa pergi dan menikmati dimana saja di alam fana, maka kegiatan ini disebut Dhyana-Yoga. Bagian pengetahuan Veda yang mengajarkan Dhyana-Yoga disebut Jnana-Kanda pula dan bersumber pada kitab-kitab Upanisad. Pada umumnya kegiatan ini berupa meditasi kepada  Tuhan sebagai Paramatma.

Bila kegiatan (badan, pikiran dan kata-kata) dilandasi semata-mata oleh keinginan menyenangkan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa (Bhagavan) degan menyibukkan seluruh indriya jasmani  dalam  pela- yanan berdasarkan cinta kepadaNya sesuai petunjuk Veda, maka kegiatan demikian menjadi spiritual dan disebut Bhakti-Yoga. Bagian pengetahuan Veda yang mengajarkan Bhakti-Yoga di-sebut  Upasana- Kanda  dan  bersumber pada kitab – kitab Veda-Sruti (Vedanta dan Bhagavad-Gita).  Pada umumnya kegiatan bhakti ini berupa pemujaan Arca-vigraha Tuhan.

Telah dijelaskan bahwa Yoga adalah ibarat tangga menuju dunia rohani, sedangkan ke-empat macam Yoga tersebut (yaitu Karma, Jnana, Dhyana dan Bhakti) adalah 4 (empat) pijakan tangga Yoga dari bawah ke atas. Karena itu dapat disimpulkan sebagai berikut.

  1. Kegiatan memenuhi kebutuhan hidup sesuai aturan veda = karma
  2. Karma + pengetahuan veda = jnana.
  3. Jnana + meditasi kepada tuhan  = dhyana.
  4. Dhyana + pelayanan berdasakan cinta kepada tuhan = bhakti.

Bhakti adalah pijakan tertinggi dalam tangga Yoga, sebab hanya dengan bhakti sang makhluk hidup (jiva) bisa mengerti dan mencapai Tuhan dan bergaul bersama-Nya dalam hubungan cinta-kasih timbal-balik ( perhatikan Bhagavad Gita  4.3, 8.10, 8.22, 9.34, 11.54, 13.19, 18.55, 18.65 dan 18.67).

TINGKAT KESADARAN DAN GOLONGAN/KELOMPOK/JENIS DAN STATUS SERTA ARAH TUJUAN SANG MAKHLUK HIDUP (JIVA) SETELAH AJAL

Hubungan antara tingkat kesadaran dengan golongan/kelompok/jenis mahluk hidup, pengetahuan serta arah tujuan sang makhluk hidup (jiva) setelah ajal dapat diringkas sebagai berikut.

Mereka yang berkesadaran materialistik sibuk dalam bermacam-macam kegiatan pamerih agar hidup bahagia di dunia fana dengan memuaskan indriya-indriya jasmani yang tidak terkendali dan tidak pernah bisa dipuaskan dengan cara dan upaya material apapun.

Dalam hubungan ini, Inkarnasi Tuhan, Vamanadeva berkata kepada Vali Maharaja, sang Pemimpin para Daitya, “Wahai sang Raja, meskipun segala benda pemuas kebutuhan hidup yang ada di seluruh Tri-Loka ini diberikan kepada orang yang indriya-indriya jasmaninya tak terkendali, dia akan tetap saja tidak merasa puas”.

Orang berbahagia hanya jikalau hatinya tenang dan damai, bebas dari rasa pemilikan dan ke-akuan palsu. Sebab dikatakan, “Asantausah kutah sukham, jikalau hati tak damai, bagaimana mungkin bahagia? (Bhagavad Gita 2.66). Sa santim apnoti na kama kami, orang merasa damai bukan dengan bekerja keras memenuhi beraneka-macam keinginan indriyawi (Bhagavad Gita 2.70). Dan, nirmamo nirahankarah sa santim adhi gacchati, orang merasa damai bila dia bebas dari rasa pemilikan dan ke-aku-an palsu (Bhagavad Gita 2.71)”.

TINGKAT KESADARAN, ISI HATI, JENIS KEGIATAN DAN SUASANA  KEHIDUPAN

Isi hati, jenis kegiatan dan suasana kehidupan setiap orang bergantung pada tingkat kesadarannya. Mereka yang ber-kesadaran spiritual hidup berdasarkan prinsip-prinsip dharma. Sedangkan mereka yang ber-kesadaran material tidak sadar bahwa dirinya hidup berdasarkan prinsip-prinsip adharma.

Hubungan antara tingkat kesadaran dengan isi hati, jenis kegiatan dan suasana kehidupan dapat diringkas sebagai berikut.

KESADARAN MATERIALISTIK PENYEBAB DERITA DAN SENGSARA

Ketidak-puasan atas hasil dan kemajuan material yang telah dicapai melahirkan beraneka macam watak/sifat/perangai/prilaku buruk dan  jahat (asuri-sampad). Semua sifat buruk dan jahat ini lalu menghimpun diri ke dalam 6 kelompok musuh yang di sebut sadripu dan tiada henti  mendera dan menyiksa sang jiva-bhuta berjasmani manusia materialistik.

  1. Kama, nafsu yang bagaikan penyakit kronis amat menyengsarakan.
  2. Krodha, kemarahan yang membakar bagaikan api.
  3. Moha, khayalan yang membenamkan kedalam mimpi-mi mpi indah tak berguna.
  4. Lobha, keserakahan yang menyebabkan buta pada dosa.
  5. Mada, mabuk yang menyebabkan buta pada kebenaran.
  6. Matsarya, iri-dengki yang menyebabkan pikiran tak pernah damai.

Tanpa sadar disiksa oleh sad-ripu, para jiva bhuta berjasmani manusia modern  melakukan beraneka-ragam kegiatan pamerih untuk membuat hidupnya nyaman di dunia fana. Begitulah, dengan mengembangkan maya-tattva (pengetahuan material) yang disebut teknologi, mereka pikir hidupnya bisa tambah nyaman dan sejahtera.

Tetapi semua kegiatan pamerihnya yang dilandasi sad-ripu hanya membuat dirinya bersaing semakim sengit  dalam memperebutkan kekayaan Ibu Prthivi (Bumi)  demi kesenangan pribadinya masing-masing.

Persaingan hidup sengit demikian memaksa mereka bekerja-keras siang malam. Dan dalam persaingan keras ini hanya segelintir orang muncul sebagai pemenang dengan cara-cara tak bermoral.

Mayoritas penduduk yang tersisih dari persaingan tak bermoral ini, hidup semakim sulit. Dan supaya bisa bertahan hidup, para manusia pecundang (=kalah bersaing) ini ter-paksa juga menempuh cara-cara  licik, dusta, dan berdosa dalam mencari nafkah agar hidup bahagia.

Sementara itu, pembangunan beraneka-macam pabrik, produksi bermacam-macam sarana transport, penebangan  hutan  yang tak terkendali, penambangan minyak dan berbagai mineral lain, pembukaan areal perkebunan komoditas yang bukan  kebutuhan hidup pokok (seperti tembakau, karet, teh, kopi, dsb.) serta pola hidup hedonistik dan individualistik yang semakim meluas, adalah kegiatan-kegiatan asurik yang :

  1. Menyebabkan rusak dan hancurnya alam sehingga berbagai macam bencana alam semakim sering terjadi, dan
  2. Mengakibatkan polusi dan pemanasan global yang semakim menakutkan sang manusia.

Bukan itu saja. Kecerdasannya sebagai makhluk paling tinggi dan paling beradab, dimanfaatkan untuk memuaskan lidah dengan membunuh jutaan binatang dan makhluk rendah  lain sebagai makanan. Mereka tidak mau mengerti bahwa penyakit, kecelakaan perang, teror bom dan berbagai macam tindak kekerasan lain adalah reaksi (phala) dari perbuatan bengis dan kejam (himsa-karma) nyembelih binatang setiap hari untuk dimakan.

Sementara menikmati kesenangan material semu dan sementara (maya-sukha) yang di-dapat dari kerja-keras, dari hari ke hari mereka yang berkesadaran material dan di-sebut asura, prabhavanty ugra  karmanah, semakin sering melakukan perbuatan jahat dan amoral yang tambah ksayaya jagato’ hitah, merusakkan Bumi tempat tinggalnya sendiri (Bhagavad Gita 16.9).

Demikianlah kesadaran materialistik yang kini mendominasi penduduk Bumi bukan saja semakim me-nyengsarakan hidup sang manusia tetapi  juga menyengsarakan kehidupan berbagai jenis makhluk lain.

CARA DAN UPAYA MATERIALISTIK YANG TIDAK BERMANFAAT

Mereka yang disebut kaum intelektual modern berkesadaran material dengan ber-aneka-macam gelar akademik, tahu dan sadar  terhadap  kerusakan alam yang semakim mengkhawatirkan. Tetapi mereka  tidak  sadar bahwa beraneka-macam “Teori memuaskan indriya  badan jasmani agar hidup bahagia didunia fana” yang mereka ajarkan adalah penyebab utama kerusakan alam.

Dengan menuruti teori-teori seperti itu, rakyat menjadi amat melekat dan ketagihan pada kenikmatan indriya jasmani. Sehingga bermacam-macam aturan pembatas dan larangan yang di- keluarkan  oleh Pemerintah untuk melindungi hutan, sumber mata air, bukit  dan gunung, satwa dan cagar alam, dan sebagainya tidak diperdulikan oleh penduduk, apalagi dituruti oleh mereka.

Mengeluarkan aturan dan peraturan larangan, menyelenggarakan diskusi, seminar, perundingan atau penyuluhan tentang pelestarian alam, adalah cara-cara materialistik yang tidak bermanfaat. Sebab, semua cara ini tidak mampu membersihkan sifat-sifat  asurik (kecanduan pada kenikmatan indriyawi) yang  telah begitu tebal mengotori hati mayoritas manusia Kali-Yuga yang disebut modern. “Jikalau aku tidak kaya, bagaimana mungkin aku bahagia?”, begitu mereka berargumen.

Sementara para Pejabat/Pemimpin/Kepala negara sibuk membuat dan merundingkan aturan dan peraturan baru untuk mengurangi kerusakan alam polusi dan pemanasan global, Bhumi semakim dan  semakim  rusak, dan rakyat hidup semakim sulit dan sengsara.

ROBAH KESADARAN DARI MATERIAL KE SPIRITUAL

Telah dijelaskan bahwa selama se-seorang ber-kesadaran material, maka selama itu dia hanya sibuk bekerja keras dalam penderitaan, meskipun telah kaya-raya.

Veda menganjurkan agar, dalam kondisi kehidupan bagaimana pun, sang manusia harus merobah kesadarannya dari material ke spiritual jika  ber- keinginan hidup tenang, damai dan bahagia dalam suasana alam lestari.

Adapun cara yang diberikan Veda untuk merobah kesadaran dari material ke spiritual dapat diringkas sebagai berikut.

Tetapi dalam masa Kali-Yuga sekarang, Veda memberikan cara yang lebih praktis, lebih manjur dan lebih mujarab untuk merobah kesadaran dari material ke spiritual yaitu dengan melaksanakan Hari-nama-sankirtana.

Dengan mengucapkan nama-nama suci Sri Hari (Krishna) secara tekun dan teratur plus mengkonsumsi prasadam setiap hari, maka secara otomatis segala sifat-sifat asurik yang mengotori hati dan pikiran dihancurkan. Kemudian semua sifat-sifat kedewataan (surik) sebagimana di rinci dalam Pannca Yama dan Panca Niyama Vrata, berangsur-angsur berkembang di dalam hati sang bhakta.

Selanjutnya, seseorang menjadi insyaf diri, “Aku adalah jiva  rohani  abadi, pelayan kekal Sri Krishna”, dan cinta-kasih (bhakti) kepada-Nya tumbuh  subur di hatinya. Sehingga, dengan hanya ingat Beliau pada saat ajal, sang  bhakta (sebagai jiva rohani-abadi) kembali pulang ke dunia rohani yang kekal dan penuh kebahagiaan Vaikuntha-loka.

Banyak sekali sloka-sloka Veda yang menyatakan bahwa Hari-nama Sankirtana adalah praktek kerohanian yang diajurkan untuk dituruti oleh setiap manusia Kali-Yuga sekarang guna merobah kesadarannya dari material ke spiritual. Oleh karena itu, sebagai kesinambungan artikel ini, maka silahkan tengok kembali artikel Hari-nama-sankirtana sebelumnya.

 

 

Special thanks to:

Haladara Prabhu, Bhagiratha Prabhu, Sadaputa Prabhu and Bhakti Raghava Swami, who has provided material and inspiration in every articles in this web

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s