Maya, Tenaga Material Tuhan Yang Maha Esa

Maya, Tenaga Material Tuhan Yang Maha Esa


Maya, Tenaga Material Tuhan Yang Maha Esa

Maya adalah nama lain prakrti, tenaga material (material energy) dari Tuhan sendiri. Tenaga material ini terdiri dari tiga unsur sifat alam material yaitu sattvam (kebaikan), rajas (kenafsuan) dan tamas (kegelapan/kebodohan). Ketiga sifat alam material ini disebut triguna. Sri Krishna berkata, “Daivi hy esa guna mayi mama maya duratyaya, tenaga material (maya)-Ku ini yang terdiri dari unsur-unsur triguna, sangat sulit diatasi” (Bhagavad Gita 7.14).

Maya berasal dari dua suku kata yaitu ma = tidak dan ya = itu. Jadi maya berarti “Yang bukan itu”. Diartikan demikian karena tenaga material Tuhan ini menyebabkan;

  1. Para makhluk hidup lupa pada hakekat dirinya sebagai roh atau jiva spiritual kekal abadi.
  2. Para makhluk hidup menganggap badan jasmaninya yang di panggil si “A” adalah dirinya sendiri.

Karena itu, maya secara umum dimengerti sebagai khayalan, sesuatu yang tidak nyata, tidak benar atau tidak sejati.

Beberapa istilah untuk menyebutkan istilah maya ini antara lain;

  1. Disebut Mohini-Prakrti, sebab maya berhakekat mengkhayalkan.
  2. Disebut Avidya-Sakti, sebab maya berhakekat menggelapkan atau menyebabkan kelupaan atau kebodohan.
  3. Disebut Tri-gunamayi, sebab maya tersusun dari unsur-unsur Tri-guna, tiga sifat alama material yaitu sattvam (kebaikan), rajas (kenafsuan) dan tamas (kegelapan/kebodohan).
  4. Disebut Apara-Prakrti, sebab maya bisa dimanfaatkan oleh para makhluk hidup (jiva) untuk kesenangannya di dunia fana (sang jiva = Para-Prakrti).
  5. Disebut Bahiranga-Sakti atau tenaga luar (external energy) Tuhan, sebab maya berhakekat menyisihkan/menjauhkan sang makhluk hidup (jiva) dari Tuhan.
  6. Disebut Acit-Vaibhava, sebab maya merupakan tenaga material Tuhan yang mewujudkan dunia fana yang sementara dan berubah-ubah.
  7. Disebut Maha-Maya, sebab maya sungguh sulit diatasi.

Maya adalah tenaga material yang menghayalkan. Disini kata “mengkhayalkan” mencakup pengertian menggelapkan,menyebabkan lupa, menyesatkan dan membingungkan. Dengan kata lain, maya adalah tenaga material Tuhan yang menyebabkan illusi, tipuan atau angan-angan hingga sang makhluk hidup (jiva) senantiasa berpikir salah, keliru dan sesat.

Ketiga unsur maya yang disebut  tri-guna, (tiga sifat alam material sattvam, rajas dan tamas) secara metaporik (kiasan) sering disebut:

  1. Jerat atau tali-temali maya yang mengikat para makhluk hidup (jiva)di dunia fana atau alam material.
  2. Tangan-tangan halus maya yang mencengkram para makhluk hidup (jiva) di dunia fana atau alam material.
  3. Tirai maya yang menutupi atau menggelapkan  para makhluk hidup (jiva) di alam material atau dunia fana.

 

Maya berasal dari tenaga spiritual Tuhan

 

Dengan  5 (lima) unsur materi kasar (ether, udara, api air dan tanah), maya mewujudkan dunia fana atau alam material yang nampak ini.

Dengan 5 (lima) unsur materi kasar tersebut diatas + 3 (tiga) unsur materi halus (ego, pikiran dan kecerdasan) +  5 (lima) indriya persepsi ( mata, telinga, hidung, lidah dan kulit) + 5 (lima) obyek indriya (rasa,aroma, wujud suara dan sentuhan) + 5 (lima) indriya  pekerja  (kaki, tangan, mulut, anus dan kemaluan), maya mewujudkan beraneka-macam badan  jasmani bagi para makhluk hidup (jiva).

Bila badan jasmaninya dominan diliputi oleh sifat alam sattvam (kebaikan), maka sang jiva berjasmani manusia tekun dalam kegiatan spiritual keinsyafan diri, senang membaca kitab suci, dan suka berdiskusi tentang hal-hal metapisik atau spiritual.

Bila badan jasmaninya dominan diliputi oleh sifat alam rajas (kenafsuan), maka sang jiva berjasmani manusia memiliki banyak keinginan duniawi sehingga dia bekerja amat keras secara pamerih untuk  bisa  menikmati berbagai kesenangan material.

Bila badan jasmaninya dominan diliputi oleh sifat alam tamas (kegelapan/kebodohan), maka sang jiva berjasmani manusia berwatak  tidak cerdas, bekerja lambat dan tidak praktis, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang menyengsarakan makhluk-makhluk lain.

Begitu sang manusia lahir, dia seketika dicengkram oleh maya dengan tiga tangan halus Tri-Guna-nya. Dalam hubungan ini, Sri  Krishna  berkata,”Sattvam raja tamah iti gunah prakrti sambhavah nibadhnanti dehe dehinam avyayam, begitu sang makhluk hidup (jiva) berhubungan dengan alam material dengan memperoleh badan jasmani (= lahir ke dunia fana), ia seketika di cengkram oleh (tiga tangan mayanan halus)Tri-Guna yaitu sifat alam sattvam, rajas dan tamas” (Bhagavad Gita 14.5).

Cara maya bekerja mengkhayalkan para makhluk hidup dapat dijelaskan dengan analogi berikut.

Akibat-akibat cengkraman maya;

  1. Manusia menjadi terkhayalkan sehingga ia menganggap dirinya sendiri (sebagai jiva rohani-abadi) sebagai pelaku atas segala kegiatan yang dilakukannya, padahal kegiatannya itu terlaksana oleh alam material. Dikatakan, “Prakrteh kriyamanani gunaih karmani sarvasah ahankara vimu dhatma kartaham iti manyate. dikhayalkan oleh (tirai maya yaitu) Tri-Guna, sang makhluk hidup berpikir bahwa dirinyalah yang melakukan segala kepadahal kegiatannya itu ter-laksana oleh alam material” (Bhagavad Gita 3.27). Contoh, sifat alam rajas (kenafsuan) yang  dominan menyelimuti  jasmaninya, menyebabkan seseorang gemar nonton film porno dan kekerasan.
  2. Manusia menjadi tidak insyaf diri (bodoh) dan sibuk dalam kegiatan pamerih, lalu terikat di dunia fana oleh hasil kegiatannya itu. Dikatakan,”Prakrter guna sammudhah sajjante  guna  karmasu tan akrtsna vido mandan, dikhayalkan oleh (tirai maya yaitu) Tri-Guna, sang  makhluk hidup menjadi tidak insyaf diri (bodoh) dan sibuk dalam berbagai kegiatan material pamerih, dan jadi terikat pada hasil kegiatannya itu” (Bhagavad Gita 3.29). Contoh, sang pengusaha terus bekerja keras meski telah kaya raya. Sifat alam rajas (kenafsuan) menyebabkan dia tak pernah puas ata segala harta yang telah dimilikinya. Sifat alam tamas (kegelapan) menyebabkan dia tidak perduli pada tujuan hidup sebagai manusia. Dan sifat alam sattvam (kebaikan) tiada henti membuai dirinya dengan kenikmatan materi, pujian dan  juga sanjungan dari orang-orang materialistik.
  3. Manusia tidak mengerti  bahwa Sri Krishna adalah Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Dikatakan,”Tribhir gunamayair bhavair ebhih sarvam idam jagat mohitam na bhijanati mam ebhyah param avyayam, digelapkan (tirai maya yaitu) oleh sifat-sifat material (Tri Guna), seluruh dunia tidak mengenal diriKu yang mengatasi ketiga sifat alam material tersebut dan kekal abadi” (Bhagavad Gita 7.13).
  4. Manusia tidak sadar bahwa dirinya (sebagai jiva rohani-abadi) berpindah dari satu badan jasmani ke badan jasmani lain  dan mengalami suka-suka dalam berbagai jenis kehidupan. Dikatakan,”Karanam guna sango’sya sad-asad yoni janmasu, karena  dicengkram (oleh tangan-tangan maya nan halus yaitu) Tri-Guna, sang makhluk  hidup berpindah-pindah dari satu badan jasmani ke badan jasmani lain dan mengalami suka-duka dalam berbagai jenis kehidupan” (Bhagavad Gita 13.22)
  5. Manusia mengembangkan jenis keyakinan/kepercayaan tertentu selain kepada Tuhan. Dikatakan,”Yajante sattvika devan yaksa raksamsi rajasah pretan bhuta ganams canye yajante tamasa janah, mereka yang diliputi sifat alam sattvam, menyembah para Dewa. Mereka yang diliputi sifat alam rajas, menyembah para Yaksa dan Raksasa (yang tergolong Asura atau Demon). Sedangkan mereka yang diliputi sifat alam tamas, menyembah hantu dan roh-roh halus”(Bhagavad Gita  17.4).

Beraneka-macam pandangan hidup keliru yang timbul dari cengkraman maya, adalah sebagai berikut:

  1. Badan jasmani dianggap diri sendiri.
  2. Alam material dianggap tempat tinggal sejati.
  3. Kenikmatan indriya semu dan sementara dianggap kebahagiaan tertinggi.
  4. Memuaskan indriya jasmani dianggap tujuan hidup.
  5. Cara-cara memuaskan indriya jasmani disebut pengetahuan.
  6. Pencapaian pangkat/jabatan/kedudukan material dianggap membuat diri ter-hormat.
  7. Pemilikan gelar-gelar akademik dianggap membuat hidup lebih maju.
  8. Pemilikan banyak kekayaan material dianggap meniadakan kesengsaraan.
  9. Kelahiran dianggap kesempatan menikmati.
  10. Kematian dianggap akhir kehidupan.
  11. Persenyawaan unsur-unsur materi secara kimiawi dianggap sumber kehidupan.
  12. Alam material dianggap terwujud secara mekanis.
  13. Kemajuan teknologi dianggap membuat kehidupan lebih beradab.
  14. Ceritra-ceritra kitab suci Veda dianggap dongeng.
  15. Binatang dan makhluk rendah lain dianggap tidak punya jiva (roh).
  16. Kehidupan beradab dianggap hanya ada di Bhumi.
  17. Ekonomi dianggap masalah kehidupan paling utama.
  18. Perbuatan dianggap bermoral jika secara material menyenangkan dan menguntungkan.
  19. Kebebasan individual dianggap nilai kemanusiaan tertinggi.
  20. Kehidupan kumpul kebo dianggap pola hidup wajar.
  21. Demokrasi dianggap sistem pemerintahan terbaik.
  22. Pendidikan akademik dianggap pendidikan  sesungguhnya.
  23. Hidup sederhana dan bersahaja dianggap kehinaan dan kesesatan.

Dicengkram oleh maya, sang jiva berjasmani manusia menderita sakit. Yaitiu sakit materi yaitu kecanduan/ketagihan/keterikatan/kemelekatan pada kenikmatan indriyawi atau kesenangan material dunia fana. Sakit ma-teri yang dideritanya ditunjukkan oleh kerja keras memuaskan indriya. Dan kerja keras seperti itu hanya menyengsarakan dirinya belaka.

Dikatakan oleh Veda,”Mayam tu prakrtim viddhi mayinam tu mahesvaram, meskipun maya terlihat hebat dalam mewujudkan dunia fana, namun ia dikendalikan oleh Tuhan Yang Maha Esa (Svetasvatara Upanisad 4.10).

Sri Krishna berkata,”Mama maya duratyaya mam eva ye prapadyante mayam etan taranti te, tenaga material (maya)-Ku ini sungguh sulit diatasi. Tetapi siapapun yang berserah diri kepada-Ku, mudah mengatasinya” (Bhagavad Gita 7.14).

Selanjutnya Sri  Krishna berkata,”Mam ca yo’vyabhicarena bhakti yogena sevate sa gunan samatityaitan, siapapun yang tekun dalam pelayanan bhakti kepada-Ku tanpa pernah gagal, seketika mengatasi  (cengkraman tangan maya nan halus yaitu) Tri Guna” (Bhagavad Gita 14.26).

Ciri-ciri orang yang bebas dari cengkraman maya adalah sebagai berikut, ”Dia tidak membenci pencerahan rohani, kemelekatan duniawi ataupun khayalan bila hal-hal itu  datang padanya. Dia juga tidak menginginkan hal-hal itu bilamana tidak datang kepadanya. Dia tetap tenang karena tidak  ter-pengaruh oleh sifat-sifat alam material itu. Dia hidup mantap karena sadar bahwa hanya sifat-sifat alam itu saja yang aktip. Dia merasakan kesusahan dan kesenangan sama saja, dan meliaht tanah, batu dan emas dengan pandangan sama. Dia tidak goyah oleh pujian ataupun cacian, bertindak sama kepada kawan maupun lawan. Dan dia tidak melakukan kegiatan pamerih apapun” (Bhagavad Gita 14.22-26).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s