raja yoga tanpa bhakti nonsense

Raja Yoga Tanpa Bhakti, Nonsense!

Siapa yang tidak mengenal Yoga atau meditasi? Orang boleh mengatakan tidak mengenal Veda atau Hindu, tetapi sepertinya kepopuleran istilah Yoga sudah merasuki semua strata manusia modern. Dewasa ini Yoga dikenal dan diakui sangat efektif dalam menjaga vitalitas sehingga sangat banyak orang-orang non Hindu dari berbagai kalangan mempraktekkannya. Bahkan dewasa ini sering kali kita mendengar orang-orang membanggakan Yoga dan menyatakan dirinya sebagai pengikut ajaran Yoga, tetapi mengingkari sumber dari Yoga itu sendiri, yaitu Hindu.

Dalam masyarakat Indonesia, yoga sudah dikenal luas oleh berbagai kalangan. Kekawin Arjuna Wiwaha 11.1 menyebutkan kata Yoga dengan sangat jelas; “Sasi wimba heneng ghata mesi banu Ndanasing, suci nirmala mesi wulan Iwa mangkana rakwa kiteng kadadin Ring angambeki YOGA kiteng sakala, Bagaikan bulan di dalam tempayan berisi air. Di dalam air yang suci jernih tampaklah bulan. Sebagai itulah Dikau (Tuhan) dalam tiap mahluk. Kepada orang yang melakukan YOGA Engkau menampakkan diri”. Jadi pada dasarnya semua aliran kepercayaan yang menjadikan Yoga atau Meditasi sebagai pegangan utamanya pada dasarnya adalah pengikut ajaran Veda.

Yoga tidak hanya dikenal sebagai solusi kesehatan fisik, tetapi juga dikenal sangat efektif dalam melatih mental dan kemapuan berpikir. Sebagaimana disampaikan oleh peneliti di UCLA yang menggunakan high-resolution magnetic resonance imaging (MRI) untuk men-scan jaringan otak praktisi Yoga, didapatkan bukti ilmiah akan keefektifan yoga dalam meningkatkan daya ingat, kontrol emosi dan segala hal yang berkaitan dengan kesehatan mental. Sebagaimana disampaikan dalam jurnal NeuroImage yang dapat dikunjungi secara online sebagaimana tertuang dalam link referensi dalam artikel ini dilaporkan bahwa beberapa area otak pada praktisi meditasi lebih besar dari pada orang yang tidak melakukan meditasi. Volume hippocampus dan area dalam orbito-frontal cortex, thalamus dan inferior temporal gyrus mengalami pembesaran yang cukup signifikan dimana semua area ini dikenal sebagai area saraf pengendali emosi. Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa meditasi dapat mengurangi stres dan meningkatkan imunitas tubuh.

Ironisnya disaat ilmu pengetahuan modern mengakui keefektifan Yoga, segelintir pihak yang terkungkung dalam fanatik sempit malahan menjustish Yoga haram. NFC Malaysia mengatakan bahwa Yoga diharamkan bagi umat muslim, karena dikatakan Yoga adalah produk agama Hindu. Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menggodok isu ini. Jawaban yang diberikan oleh salah satu pimpinan MUI, Maruf Amin, dengan entengnya mengatakan: “Melakukan Yoga, adalah hak manusia Indonesia, tapi tugas MUI adalah memberikan nasihat kepada masyarakat Indonesia, untuk melakukan hal yang benar.” Tentunya apa yang disampaikan oleh kedua lembaga agama ini tidak murni atas perhitungan sains dan filosofi semata, tetapi lebih dikarenakan motif politik dan ketakutan kehilangan pengikut sehingga mereka harus melakukan black campaign. Meskipun demikian, pastinya masyarakat tahu mana yang salah dan mana yang benar, sehingga praktek Yoga hampir tidak terpengaruh oleh fatwa tersebut.

Namun demikian, apakah lingkup Yoga hanya sebatas kesehatan sebagaimana yang dipraktekkan saat ini?

Bapak dari sistem Yoga adalah Maha Rsi Patanjali, sehingga sistem Yoga yang original dikenal dengan sebutan “Patanjali Raja Yoga”. Sistem Yoga yang dikembangkan oleh Rsi Patanjali juga pada dasarnya tidak lepas dari sistem filsafat Samkya, yaitu salah satu cabang filsafat Veda yang mengedepankan metode ilmiah dan disampaikan oleh avatara Tuhan sendiri, Maha Rsi Kapila (Bhagavata Purana 1.3.10).

Sayangnya jika kita telusuri apa yang disebut Yoga oleh orang-orang moden sangat jauh berbeda dari sistem Yoga aslinya. Saat ini orang-orang hanya fokus mempraktekkan tingkatan Raja Yoga yang ketiga dan yang keempat, yaitu Asana (sikap duduk) dan Pranayama (teknik pernapasan) dan semata-mata hanya untuk alasan kesehatan, umur panjang bahkan meningkatkan nafsu birahai semata. Walaupun secara material bermanfaat, namun mereka tidak memahami tujuan utama dari sistem Yoga itu sendiri.

Pada dasarnya Yoga berarti penghubungan atau pengaitan jiva individuil dengan Yang Maha Kuasa, dengan kata lain tujuan utama dari sistem Yoga adalah untuk menghubungkan diri kita yang rendah dengan Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan semata-mata hanya untuk kepentingan kesehatan dan hal-hal material lainnya. Dengan demikian syarat utama yang dimiliki oleh seorang calon praktisi Yoga adalah kepercayaan akan adanya Tuhan. Seorang yang atheis tidak bisa mengikuti sistem ini. Kalaupun dia mengikutinya, dia hanya akan mentok sampai pada tingkatan asana dan pranayama yang tujuannya hanya sebatas kesehatan fisik. Disamping itu, seorang praktisi Yoga juga harus memiliki dasar moral dan disiplin tinggi. Meskipun dikatakan bahwa selama kita ada dalam tubuh manusia, tidak perduli berapa umur kita, jenis kelamin dan kondisi fisik, namun tanpa dasar moral yang baik dipastikan seseorang tidak akan pernah bisa menapak sistem Yoga. Karena itulah dua tingkatan pertama Raja Yoga adalah Yama dan Nyama Bratha. Seseorang yang masih memelihara sifat kejam, suka mabuk dan kejahatan-kejahatannya otomatis akan gugur dengan sendirinya.

Kedelapan tingkatan Yoga dikenal dengan istilah Astangga Yoga. Kedelapan tingkatan tersebut adalah;

1. Yama atau pantangan
2. Nyama atau kebajikan pembantu
3. Asana atau sikap-sikap tubuh
4. Pranayama atau penguasaan nafas vital
5. Pratyahara atau penyaluran aktivitas mental
6. Dharana atau pemusatan pikiran
7. Dhyana atau meditasi
8. Samadi atau keadaan suprasadar transenden.

Tingkatan pertama, Yama adalah merupakan pantangan yang harus dilakukan tanpa kecuali. Gagal melakukan pantangan dasar ini maka seseorang tidak akan pernah bisa mencapai tingkatan berikutnya. Penjabaran kelima Yama Bratha ini diuraikan dengan jelas dalam Patanjali Yoga Sutra II.35 – 39.

1. Ahimsa atau tanpa kekerasan. Jangan melukai mahluk lain manapun dalam pikiran, perbuatan atau perkataan. (Patanjali Yoga Sutra II.35)
2. Satya atau kejujuran/kebenaran dalam pikiran, perkataan dan perbuatan, atau pantangan akan kecurangan, penipuan dan kepalsuan. (Patanjali Yoga Sutra II.36)
3. Astya atau pantang menginginkan segala sesuatu yang bukan miliknya sendiri. Atau dengan kata lain pantang melakukan pencurian baik hanya dalam pikiran, perkataan apa lagi dalam perbuatan. (Patanjali Yoga Sutra II.37)
4. Brahmacarya atau berpantang kenikmatan seksual. (Patanjali Yoga Sutra II.38)
5. Aparigraha atau pantang akan kemewahan; seorang praktisi Yoga (Yogin) harus hidup sederhana. (Patanjali Yoga Sutra II.38)

Sedangkan Panca Niyama Bratha yang merupakan tahapan kedua dan sebagai penyokong dari pantangan dasar sebelumnya diuraikan dalam sutra II.40-45.

1. Sauca, kebersihan lahir batin. Lambat laun seseorang yang menekuni prinsip ini akan mulai mengesampingkan kontak fisik dengan badan orang lain dan membunuh nafsu yang mengakibatkan kekotoran dari kontak fisik tersebut (Patanjali Yoga Sutra II.40). Sauca juga menganjurkan kebajikan Sattvasuddi atau pembersihan kecerdasan untuk membedakan (1) saumanasya atau keriangan hati, (2) ekagrata atau pemusatan pikiran, (3) indriajaya atau pengawsan nafsu-nafsu, (4) atmadarsana atau realisasi diri (Patanjali Yoga Sutra II.41).
2. Santosa atau kepuasan. Hal ini dapat membawa praktisi Yoga kedalam kesenangan yang tidak terkatakan. Dikatakan dalam kepuasan terdapat tingkat kesenangan transendental (Patanjali Yoga Sutra II.42).
3. Tapa atau pantangan. Melalui pantangan tubuh dan pikiran akan menjadi kuat dan terbebas dari noda dalam aspek spiritual (Patanjali Yoga Sutra II.43).
4. Svadhyaya atau mempelajari kitab-kitab suci, melakukan japa (pengulangan pengucapan nama-nama suci Tuhan) dan penilaian diri sehingga memudahkan tercapainya “istadevata-samprayogah, persatuan dengan apa yang dicita-citakannya (Patanjali Yoga Sutra II.44).
5. Isvarapranidhana atau penyerahan dan pengabdian kepada Tuhan yang akan mengantarkan seseorang kepada tingkatan samadhi (Patanjali Yoga Sutra II.45).

Kebalikan dari sepuluh kebaikan yang harus diwujudkan (Yama dan Niyama) disebut sebagai vitarka, yaitu kesalahan-kesalahan yang harus dengan teliti dijauhkan dan dihilangkan, yaitu:

1. Himsa atau kekerasan dan tidak sabar sebagai lawan ahimsa
2. Asatya atau kepalsuan sebagai lawan dari satya
3. Steya atau keserakahan sebagai lawan dari asteya
4. Vyabhicara atau kenikmatan seksual sebagai lawan dari brahmacarya
5. Asauca atau kekotoran sebagai lawan dari sauca
6. Asantosa atau ketidakpuasan sebagai lawan dari santosa
7. Vilasa atau kemewahan sebagai lawan tapa
8. Pramada atau kealpaan sebagai lawan svadhyaya
9. Prakrti-pranidhana atau keterikatan pada prakrti sebagai lawan dari isvarapranidhana

Dengan menempuh jalan kebaikan bukan berarti seseorang dengan sendirinya dilindungi terhadap kesalahan yang bertentangan. “Jangan menyakiti orang lain” belum tentu berarti “perlakukan orang lain dengan baik”. Kita harus melakukan keduanya, tidak menyakiti orang lain dan sekaligus melakukan keramah-tamahan.

Asana atau sikap-sikap Yoga yang merupakan tingkatan ketiga dalam astangga Yoga memberikan pondasi awal bagai seorang praktisi untuk mendapatkan jenis asana yang cocok dengan kondisi badannya. Meskipun dalam Patanjali Yoga Sutra dijelaskan ratusan jenis-jenis asana, namun Rsi Patanjali tidak memaksakan untuk melakukan sikap-sikap yoga tertentu. Ia berpendapat bahwa sikap manapun untuk menguasai pikiran, yang tidak terlalu memaksa anggota badan dan yang dapat dipertahankan cukup lama oleh seorang praktisi adalah baik baginya (sukha asana). Jadi tidak semua sikap asana harus dikuasai dan dipraktekkan oleh praktisi. Adapun pelatihan terhadap asana-asana tersebut untuk tujuan memilih sikap yang paling tepat baginya dan sebagai pondasi dasar dalam menjaga kesehatan badan dan mental sehingga mensupport kemajuan dalam tingkatan-tingkatan selanjutnya.

Setelah menguasai asana, selanjutnya diikuti oleh tingkatan pranayama. Pranayama tidak semata-mata mengacu kepada nafas masuk dan keluar dan kaitannya dengan fenomena fisika-kimia, tetapi jauh lebih halus dari itu. Proses menarik, menahan dan mengeluarkan nafas hanyalah gambaran kasar dari prana. Chandogya VII.15.1 mengatakan; “Prana, sesungguhnya melebihi harapan. Sebagaimana sesungguhnya ruji dikencangkan pada pusat sebuah roda, demikianlah segala apa adalah terikat pada prana. Prana berjalan bersama pada prana. Prana memberikan prana. Memeberikan kehidupan pada mahluk yang hidup. Bapak seseorang adalah prana. Ibu seseorang adalah prana. Saudara wanita seseorang adalah prana, guru seseorang adalah prana, seorang Brahmana adalah prana”. Sehingga dikatakan bahwa dengan penguasaan pernafasan yang merupakan gambaran kasar dari Prana itu sendiri seseorang dapat mengendalikan pikiran yang bergejolak, hawa nafsu serta kelemahan badan. Bahkan dengan menguasai prana dengan baik, seorang praktisi dapat mengalami fenomena metafisis yang tidak dapat dijelaskan oleh fenomena fisika biasa.

Keempat sendi Yoa yang pertama, yaitu Yama, Nyama, Asana dan Pranayama adalah termasuk persiapan atau dengan kata lain baru “kulit” dari Yoga itu sendiri. Sedangkan keempat sendi berikutnya barulah merupakan arah menuju inti Yoga itu sendiri.

Maha Rsi Patanjali mengatakan bahwa tingkatan Yoga yang kelima, Pratyahara berkaitan dengan alat-alat indria yang cecara ilmiah hanya ditujukan untuk menikmati hal-hal material. Seorang praktisi Yoga harus bisa mengendalikan semua indria-indrianya ini. Mata sebagai indra penglihatan digunakan untuk menikmati hal-hal yang spiritual, telinga untuk mendengar diarahkan untuk mendengar nama-nama suci dan segala hal yang berkaitan dengan spiritual, demikian juga dengan indra-indra yang lainnya, semuanya ditarik dari kenikmatan duniawi dan diarahkan kepada kenikmatan rohani. Berkaitan dengan ini, Patanjali Yoga Sutra II.54-55 menyebutkan; “sva-viæayâsamprayoge cittasya svarûpânukâra ivendriyâñâm pratyâhârai. tataï paramâ vaåyatendriyâñâm, Pratyahara (atau penyaluran) terdiri dari pelepasan alat-alat indria dan sensualitas masing-masing, dan dari penyesuaian alat-alat indria pada bentuk citta atau pikiran yang murni. Dan dnegan cara demikian orang dapat memperoleh penguasaan penuh atas alat-alat indrianya”. Tingkatan Pratyaksa ini hanya dapat dicapai jika keempat sendii Yoga sebelumnya telah dikuasaai dengan baik (Katha Upanisad III.13).

Dharana atau pemusatan pikiran adalah tingkatan Yoga yang keenam. Dalam Patanjali Yoga Sutra III.1 disebutkan “deåa-bandhaå cittasya dhâraña, menetapkan citta atau pikiran pada suatu tempat disebut dharana”. Dharana dapat diibaratkan sebagai proses “mengetuk pintu” menuju Samadhi sehingga praktisi yang telah menguasai dharana dengan sempurna akan dengan sendirinya terarahkan menuju pada samadhi. Patanjali menganjurkan agar pemusatan pikiran harus hanya ditujukan pada satu objek kontemplasi, tat-pratiæedhârtham eka-tattvâbhyâsai (Patanjali Yoga Sutra I.32). Sehingga dalam proses dharana seorang praktisi dapat bermeditasi dengan memusatkan diri pada ujung hidung, pada berkas cahaya, aksara suci OM atau hal-hal lain yang dibenarkan.

“puruæârtha-åûnyânâä guñânâm pratiprasavaï kâivalyaä svarûpa-pratiæøhâ vâ citi-åakter iti, peleburan nilai-nilai dalam sumbernya, bilamana tiadalah apapun lagi yang perlu dicapai, adalah pembebasan atau pemantapan kesadaran diri asli dalam bentuknya sendiri yang sejati. Kini kita akan membahas tentang dhyana, yaitu peresapan atau penyelaman yang diperpanjang (Patanjali Yoga Sutra IV.34). Penyelaman yang dimaksud dalam dhyana ini adalah penyelaman terhadap sang diri, Jiva dan diri yang Agung, Tuhan. Sankaracarya dalam kutipannya dari Yajnavalkya menyebutkan; “dhyanena-anisvaram guna, dengan dhayana dihilangkanlah segala apa yang ada diantara Jiva dengan Tuhan Yang Maha Esa”. Demikian juga dalam Samkhya Sutra disebutkan; “Dhyanam nirvisayam manah, dhyana adalah pembebasan citta dari segala ikatan”. Jadi pada tingkatan dhyana ini, seorang yogin sudah benar-benar dapat merasakan kehadiran Yang Maha Kuasa dan sudah siap mencapai kondisi samadhi.

Diantara dhaya dan samadhi ada perbedaan mendasar (renungan dan keadaan supra sadar transenden). Dalam keadaan renungan (dhyana) pikiran seseorang merenungkan (dhyata), perbuatan renungan (dhyana) dan tujuan renungan (dhyaya) ketiganya masih dibedakan, namun dalam keadaan samadhi, ketiganya melebur menjadi satu. Jika diasumsikan sebagai pelukis dan lukisannya, kondisi dhyana adalah kondisi dimana sang pelukis masih berbeda dari gagasan tentang melukis dan keduanya berbeda pula dengan lukisannya. Tetapi dalam kondisi samadhi, pelukis tersebut begitu tercebur dalam karyanya sehingga ia, gagasan dan karyanya lebur menjadi satu. Dalam keadaan samadhi, sang jiva berada begitu dekat dengan Tuhan dan merasakan kebahagiaan luar biasa. Sehingga setelah seseorang terbangun dari samadhi, pada dasarnya dia tidaklah sama dengan sebelumnya. Ia menjadi berubah karena begitu lama berdekatan dan berhubungan secara pribadi dengan Tuhan, ia mendapatkan tambahan kehangatan (waranugraha atau ananda dan vijnana). Pada tahap ini seseorang dapat dikatakan sebagai seorang Siddha dan memperoleh kesaktian-kesaktian mistis tertentu sebagaimana sudah pernah saya singgung dalam artikel sebelumnya tentang kesaktian Yoga.

Namun tentunya tujuan terakhir dari Astangga Raja Yoga bukan semata-mata mendapatkan siddhi (kesaktian) dan mencapai samadhi dalam arti sempit., berdekatan dengan Tuhan hanya pada waktu meditasi dan setelah itu kembali lagi ke kehidupan material. Tujuan tertingginya sudah barang tentu mencapai kedudukan sat cit ananda yang kekal bersama Tuhan. Masalahnya, bagaimana seorang Yogin bisa mencapai tujuan tertinggi tersebut?

Patanjali Yoga Sutra I.23 menyebutkan; “îåvara-prañidhânâd va, Penyerahan diri (disebut juga bhakti) adalah jalan menuju kesadaran transendental”. Hal yang serupa juga ditegaskan dalam Patanjali Yoga Sutra II.1, II.32 dan juga II.45. Dalam Bhagavad Gita 2.50-51 dikatakan; “buddhi-yukto jahātīha ubhe sukṛta-duṣkṛte tasmād yogāya yujyasva yogaḥ karmasu kauśalam. karma-jaḿ buddhi-yuktā hi phalaḿ tyaktvā manīṣiṇaḥ janma-bandha-vinirmuktāḥ padaḿ gacchanty anāmayam, Orang yang menekuni bhakti membebaskan dirinya dari perbuatan yang baik dan buruk bahkan dalam kehidupan ini pun. Karena itu, berusahalah untuk yoga, ilmu segala pekerjaan. Dengan menekuni bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa seperti itu, resi-resi yang mulia dan penyembah-penyembah membebaskan diri dari hasil pekerjaan di dunia material. Dengan cara demikian mereka dibebaskan dari perputaran kelahiran dan kematian dan mencapai keadaan di luar segala kesengsaraan (dengan kembali kepada Tuhan Yang Maha Esa). Bhagavad Gita 5.6 juga memberikan penegasan yang lebih eksplisit dnegan mengatakan; “sannyāsas tu mahā-bāho duḥkham āptum ayogataḥ yoga-yukto munir brahma na cireṇādhigacchati, Kalau seseorang hanya melepaskan segala kegiatan namun tidak menekuni bhakti kepada Tuhan, itu tidak dapat membahagiakan dirinya. Tetapi orang yang banyak berpikir yang menekuni bhakti dapat mencapai kepada Yang Mahakuasa dengan segera, wahai yang berlengan perkasa. Kesemurnaan Yoga hanya dapat diperoleh oleh Yogin yang memusatkan dan menyerahkan dirinya pada Tuhan, praśānta-manasaḿ hy enaḿ (Bhagavad Gita 6.27). Dan masih banyak lagi sloka-sloka Bhagavad gita yang menyatakan dengan jelas bahwa Bhakti adalah puncak dari segala jalan. Setidaknya terdapat sekitar 62 sloka dalam Bhagavad Gita yang menekankan aspek bhakti ini.

Bagaimana jika seorang yogin tidak menyerahkan dirinya (bhakti) pada Tuhan Yang Maha Esa?

Selama seorang Yogin tidak menyerahkan diri dalam cinta Bhakti kepada Tuhan, maka selama itu pula dia tidak akan mencapai moksa, sat cit ananda. Dia hanya akan berputar-putar dalam siklus kelahiran dan kematian di alam material ini. Bhagavad Gita 8. 25 mengatakan; “dhūmo rātris tathā kṛṣṇaḥ ṣaṇ-māsā dakṣiṇāyanam tatra cāndramasaḿ jyotir yogī prāpya nivartate, Seorang yogi (ahli kebatinan) yang meninggal dunia selama masa asap, malam hari, selama dua minggu menjelang bulan mati, atau selama enam bulan pada waktu matahari berjalan menuju selatan akan mencapai planet bulan, tetapi dia akan kembali lagi. “prāpya puṇya-kṛtāḿ lokān uṣitvā śāśvatīḥ samāḥ śucīnāḿ śrīmatāḿ gehe yoga-bhraṣṭo ‘bhijāyate, Sesudah seorang yogi yang tidak mencapai sukses menikmati selama bertahun-tahun di planet-planet makhluk yang saleh, ia dilahirkan dalam keluarga orang saleh atau dalam keluarga bangsawan yang kaya” (Bhagavad Gita 6.41). “atha vā yoginām eva kule bhavati dhīmatām etad dhi durlabhataraḿ loke janma yad īdṛśam, Atau (kalau dia belum mencapai sukses sesudah lama berlatih yoga) dia dilahirkan dalam keluarga rohaniwan yang pasti memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Memang, jarang sekali seseorang dilahirkan dalam keadaan seperti itu di dunia ini” (Bhagavad Gita 6.42).

Hanya yogi, orang yang mempunyai keyakinan yang kuat dan selalu tinggal di dalam kesadaran terhadap Tuhan, yang selalu berpikir tentang Tuhan di dalam dirinya, dan mengabdikan diri kepada Tuhan dalam cinta bhakti rohani mencapai kesempurnaan Yoga, dan Yogi seperti itulah yang menurut Krishna, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa sebagai yang paling tinggi diantara semuanya (Bhagavad Gita 6.47).

Jadi melakukan Yoga atau Meditasi tanpa ada rasa penyerahan diri dalam Bhakti kepada Tuhan adalah nonsense.

Sumber:

1. Swami Satya Prakas Saraswati, Patanjali Raja Yoga, Paramita Surabaya. 1996
2. Chip Hartranft, The Yoga-Sûtra of Patañjali Sanskrit-English Translation & Glossary, 2003
3. http://newsroom.ucla.edu/portal/ucla/how-to-build-a-bigger-brain-91273.aspx
4. http://clubbing.kapanlagi.com/showthread.php?t=32027

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s