Kasta?Siapa yang menerapkan?

Sekarang ini, sebenarnya kasta sudah tidak terlalu dipikirkan lagi. Karena, dalam kenyataan kasta rendah bisa lebih kaya dari orang yang berkasta lebih tinggi. Oleh karena itu, si kasta tinggi lebih menghormati si kasta rendah. Tidak hanya memikirkan kasta, manusia zaman sekarang, zaman Kali atau Kali Yuga, bahkan tidak memikirkan jenis kelamin sebagai pendamping hidup. Pasangan sesama jenis menjadi hal yang biasa saja di zaman ini. Loh kok omongin pasangan sejenis? Kembali ke laptop. Maksud saya kembali ke masalah kasta.
Keputusan Mengenai Pengamalan Catur Varna

Kata orang fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, tapi menurut saya pembunuhan itu lebih kejam daripada fitnah, tapi bagi saya fitnah + pembunuhan itu yang lebih kejam.

Di forum kaskus ini, banyak skali yang saya temukan tman non-Hindu mmpertnyakan tentang kelemahan Hindu yakni Hindu menerapkan sistem kasta, menggolongkan manusia berdasar garis keturunan, tidak adil, mngkotak-kotakkan manusia, rasis, dan sebagainya.
Sbenarnya sih ini lagu lama, ketika ada teman yang non-Hindu mmpertanyakan kembali maka saya jelaskan. Sudah saya jelaskan, makin hari ada lagi yang bertanya. Jadi, supaya saya tidak lelah menjelaskannya satu per satu maka saya buatlah artikel ini khusus untuk mengerti sesungguhnya tentang sistem kasta yang tidak adil ini. Semoga bermanfaat untuk kita semua…
Pertama, saya membuat sebuah sayembara, bagi siapa saja yang mampu membuktikan bahwa agama Veda menerapkan sistem kasta maka uang sejumlah Rp. 1 M akan saya berikan untuknya.
Nah, seandainya saja saya ini seorang pejabat, maka saya bisa mendapatkan uang sejumlah Rp. 1 M dengan menuntut ke jalur hukum orang-orang yang mengatakan bahwa agama Hindu menerapkan sistem kasta. Mengapa?
Tidak saya pungkiri, memang orang Hindu menerapkan sistem ini kok. Tapi, akan saya tolak secara tegas apabila agama Hindulah yang dikatakan menerapkan sistem ini. Sebenarnya, sistem ini bukan orang Hindu saja yang menerapkannya, tapi beberapa negara yang non-Hindu pun menerapkannya seperti Kerajaan Inggris, Malaysia, Arab, Kekaisaran Jepang dll. Di negara tersebut garis keturunanlah yang menentukan segalanya. Benar’kan? Hanya keturunan kerajaan yang berhak memegang pemerintahan. Tidak demokratis’kan? Tidak apa-apa yang penting kerajaannya makmur.
Kalau saya menolak bahwa Hindu yang menerapkan sistem kasta ini, lalu siapa yang menerapkan sistem ini?
Kasta, seperti yang sering kita dengar, apakah artinya? Kata ini berasal dari bahasa portugis ‘caste’ yang berarti ‘tembok pemisah’. Pada masa penjajahan, istilah atau sistem ini digunakan oleh para misionaris kristen kepada umat Hindu di Bali. Tujuannya sungguh mulia sekali, yakni ingin memecah umat Hindu di Bali agar bisa dikonversi supaya mau masuk agama kristen. Sebuah taktik evangelisasi (mengubah agama orang lain).
Hindu bukan mengajarkan penggolongan berdasar garis keturunan, melainkan mengajarkan penggolongan berdasarkan profesi dan dalam Hindu disebut sebagai Catur Varna (Empat jenis golongan berdasar PROFESI). Pembagiannya adalah sebagai berikut:
Brahmana : profesi dalam bidang spiritual (pedanda, pendeta, guru kerohanian)
Ksatriya : profesi dalam bidang pemerintahan (presiden, raja, kaisar, pejabat, tentara, polisi)
Waisya : profesi dalam bidang usaha (pedagang, pengusaha atau para wiraswasta)
Sudra : profesi dalam bidang pelayanan (pembantu RT, cleaning service, pelayan)

Penggolongan ini sama sekali tidak ada kaitannya pada garis keturunan, adalah lucu ketika lahir tiba-tiba menjadi pendeta atau presiden atau pengusaha atau pelayan. Maka, jadilah pendeta dahulu baru disebut Brahmana, jadilah tentara dulu baru disebut Ksatriya, jadilah pengusaha dulu baru disebut Waisya, dan jika menjadi pelayan barulah disebut Sudra. Penggolongn ini berdasar kemampuan diri menentukan profesi. Setiap manusia di dunia menerapkan sistem ini apapun agamanya, dan setiap manusia mampu berpindah dari setiap golongan ke golongan lain. Anak dari seorang pembantu RT bisa menjadi pengusaha kaya raya atau polisi, ini berarti anak dari seorang Sudra bisa menjadi seorang Waisya atau Ksatriya.
Ini lho ajaran Hindu yang sesungguhnya.
Semoga ini bisa menjadi peringatan bagi umat nasrani, banyak sekali buku pendidikan agama kristen saya temukan yang suka sekali menyatakan bahwa agama Hindu mengajarkan Catur Warna sebagai sistem kasta yang mengolongkan atas dasar garis keturunan. Yang lebih parahnya lagi, mereka tidak segan menambahkan satu golongan lagi yang lebih rendah dari Sudra yaitu Paria (yakni golongan yang sama sekali tidak memiliki tempat sosial dan merupakan golongan yang terbuang). Itu bukan menanamkan keimanan pada pemuda kristen, tapi itu namanya menanamkan pemfitnahan kepada pemuda kristen terhadap agama Hindu. Terasa lucu covernya pendidikan agama tapi isinya fitnah…
Pikirlah baik-baik, siapa yang menerapkan sistem kasta.
Jika saya telah menjadi seorang pejabat, saya akan tegas akan saya tuntut orang-orang yang menulis buku yang isinya demikian.
Apakah yesus suka mengajarkan umatnya untuk memfitnah umat lain?
Tidak bukan??
Jadi jangan sekali-kali kita memfitnah kepercayaan orang lain…
Sumber : vedasastra.wordpress.com dg sedikit modifikasi..

One response to “Kasta?Siapa yang menerapkan?

  1. benar di semua tempat ada sistem kasta menurut kelahiran terutama di daerah kerajaan tapi tidak membawa bawa agama tapi murni kekuasaan untuk mengatur ketertiban kerajaan, apakah penerapan sistem kasta hindu terutama di bali sudah benar? tidak turun temurun menurut kelahiran dan garis keturunan? suatu status exclusive menurut kelahiran berdalih ajaran agama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s