Belanda Bakal Punya Kuil Hindu Terbesar di Eropa

Belanda Bakal Punya Kuil Hindu Terbesar di Eropa

Diterbitkan  Oleh Redaksi Indonesia (RNW)

Diarsip dalam:

Den Haag akan membangun kompleks hindu terbesar di Eropa. Tiga aliran hindu yang berbeda akan membangun tiga kuil, berjajar di belakang stasiun kereta api Den Haag Hollands Spoor. Kompleks ini direncanakan selesai tahun 2014. Reaksi penduduk sekitar beragam mengenai pembangunan kuil tersebut.

Komunitas Hindustan yang berjumlah lima puluh ribu orang adalah kelompok masyarakat pendatang terbesar di regio Den Haag. Kompleks kuil ini adalah proyek jutaan euro yang dibiayai sendiri oleh ketiga aliran hindu: Krishna, Sikh dan aliran hindustan-Suriname Arya Samaj.

Selain kuil, akan dibangun pula dua gedung apartemen berisi 45 unit rumah. Pemkot Den Haag sudah definitif menyetujui pembangunan ini.

Wilayah tak terpakai
Kuil akan berdiri di wilayah industri yang tak terpakai, luasnya dua atau tiga kali lebih besar dari lapangan bola. Wakil komunitas Sikh menjelaskan mengapa tiga kuil berbeda harus dibangun: “Komunitas kami terdiri dari 50.000 orang.Tak akan cukup ditampung di satu gedung”.

Jumlah warga Hindu di Den Haag saja mencapai 50.000 jiwa, sekitar 10% dari jumlah total warga ibu kota pemerintahan Belanda itu.

Reaksi dari penduduk daerah Laakkwartier Den Haag, di sekitar kuil, beragam. Seorang muslimah menyatakan, “menyenangkan” jika kuil Hindu dibangun di situ. Pemilik sebuah kafetaria bilang, menarik bahwa rumah ibadah agama lain bermunculan, sementara gereja ditutup. “Kalau nggak masjid, kuil hindu yang dibangun,” katanya.

Damai
Pembangunan masjid di Rotterdam ditentang pengikut partai kanan populis PVV pimpinan Geert Wilders. Hal yang sama tidak terjadi dalam pembangunan kompleks kuil hindu ini. Wakil komunitas Sikh tak bisa menjelaskannya. “Saya tidak tahu, mungkin karena agama kami adalah agama damai.”
view the location of this item

sumber tulisan

Kuil Hindu menggantikan Gereja di Skotlandia

Kuil Hindu menggantikan Gereja di Skotlandia

By hindunesia

Dari Skotlandia diberitakan sebuah bangunan yang dahulu Gereja sedang berubah menjadi sebuah kuil Hindu. Pusat persembahyangan umat Hindu ini akan diberi nama Kuil Sri Sundara Ganapathi dan akan menempati lokasi di  Hamilton Road, Rutherglen setelah tempat itu digadaikan oleh Pusat Kebudayaan India Selatan Skotlandia.

Pekerjaan renovasi yang telah berjalan hampir enam bulan diharapkan selesai akhir April tahun ini. Kuil ini nantinya akan menyediakan tempat bagi kelas bahasa, kelas tari, jasa perkawinan, konseling perkawinan, layanan terjemahan dan kelas-kelas spiritual serta kemah Yoga dan banyak lagi fasilitas lainnya.

Kuil Sri Sundara Ganapathi  ini terbuka untuk semua umat Hindu di seluruh Skotlandia, dengan sekitar 400 keluarga dalam daftar organisasi. Perayaan perdana secara khusus akan diadakan pada tanggal 25 April untuk menandai pembukaan resmi Kuil Sri Sundara Ganapathi.[sumber]

Apa Itu TriWarga???

Apa Itu TriWarga???

Om Isvaraya namo namah

Ajaran Agama Hindu di dalam kitab suci Weda mengajarkan tuntunan hidup rohani yang luhur dengan dengan tujuan untuk mendapat moksa  dan jagaddhita  yang disebut TriWarga,Triwarga terdiri dari kata sansekerta tri dan warga .Tri berarti tiga dan Warga bearti bagian.jadi TriWarga berarti  tiga bagian ajaran rohani untuk mendapatkan Moksa dan Jagaddhita.

Dalam bahasa indonesia moksa dapat diterjemahkan sebagai kelepasan,atau bebasnya roh/atma dari dosa,kehidupan abadi di akherat,menunggalnya Roh dengan Tuhan.

Sedangkan jagaddhita diterjemahkan sebagai kemakmuan,kebahagian,kesejahteraan umat manusia,kelestarian,kedamaian dunia.

TriWarga terdiri dari Artha,Kama dan Dharma :

1.Kama

Kama dapat diterjemahkan sebagai naluri,nafsu,dan keinginan.adapun naluri yang sangat kuat mempengaruhi jiwa makhluk hidup terutama pada manusia,yaitu lapar,dahaga dan nafsu birahi.

2.Artha

Artha dapat diartikan sebagai benda atau sarana yang dapat memuaskan naluri,terutama naluri lapar,dahaga,dan nafsu birahi.bila kita lapar,kita harus makan.apa  yang harus kita makan ? makanlah sesuatu yang dapat memuaskan rasa lapar anda yaitu nasi,sayur dll.begitu juga dengan dahaga dan nafsu birahi.

3.Dharma

Dharma berarti ajaran-ajaran kerohanian dan budi pekerti dari agama sebagai kasih sayang terhadap yang papa dan menderita,adil,melindungi,rasa bersahabat,mengampuni ,simpati,terhadap semua dan sebagainya.untuk mendapat ”jagaddhita” yaitu kebahagian dan kesejahteraan umat manusia,hidup aman dan damai dan sebagainya.

Hanya melalui ajaran kerohaniandan kesusilaan agama yang disebut dharma seseorang akan dapat mencapai tujuan hidup yang tertinggi yaitu kebebasan atman/roh dari penderitaan hidup duniawi,bebasnya roh dari dosa,kebahagiaan rohani dalam wujud ketentraman Illahi,menunggalnya roh dengan Tuhan,Roh Yang Maha Agung (panunggaling kawula lan gusti) yang dikenal dengan Moksa dalam Agama Hindu.

Sloka terkait mengenai ajaran TriWarga :

Dharmathakamamoksanam

Sariram sadhanam

(Brahma purana,228.45)

Tubuh adalah sarana untuk mendapatkan Dharma (kerohanian dan kesusilaan),artha (sarana hidup duniawi dan harta benda),kama (naluri,nafsu,dan keingginan) dan moksa (kelepasan roh dari penderitaan duniawi serta kehidupan abadi di akherat).

 

 

Prabhavarthaya bhutanam

Dharmapravacanam krtam

Yah syat prabhavasamyuktah

Sa dharmah iti niscayah

(santiparva 109.10)

(segala)kegiatan demi kesejahteraan dan kebahagian semua mahluk itu disebut dharma.tiada disangsikan lagi apapun yang bertalian dengan kesejahteraan untuk sesamanya itulah dharma.

 

 

Dharmamulah sadaivarthah

Kamarthaphalamucyate

(santiparva,123.4)

Walaupun atha (kebutuhan harta benda)untuk kama (nafsu,keinginan) namun artha harus selalu bersumber pada Dharma(kerohanian,kebenaran)

 

 

Dharma eva plava nanyah

Svargam samabhivam ca tam

Sadhanor vanijas ca tam

Jaladheh param icchatah

(sarasamusccaya 14)

Dharma itu adalah suatu sarana untuk mencapai surga,bagaikan perahu menjadi sarana bagi pedagang untuk menyeberang samudra

 

 

Wadapramamanakah sreyah

Sadhanam dharmah

(manusamhita.1)

Dharma (disebut) didalam ajaran suci veda sebagai jalan untuk mencapai kebahagian dan kesempurnan

 

 

Dharmo dharmanubandhartho

Dharmo matmarthapidakah

(brahma purana 221.16)

Dharma terikat erat dengan artha.dan dharma tidak menentang artha

(tetapi mengendalikan untuk kebahagiaan dan kesejahteraan/kedamaian  makhluk hidup )

 

Ajaran Agama Hindu pada umumnya membagi dharma (ajaran rohani dan kesusilaan) menjadi enam bagian yakni :

1.sila : kebajikan atau kesusilaan

2.yajna :persembahan atau pengorbanan.amal untuk       kesejahteraan orang banyak

3.Tapa : tapa,tahan uji dalam segala keadaan

4.wrata :menghindari kehidupan duniawi yang berlebihan,hidup sederhana,suka berpuaasa.

5.Yoga :memusatkan pikiran dan hati terhadap Tuhan atau Kekuasaan Illahi dalam wujud cinta bhakti terhadap Tuhan,senantiasa ingat akan nama-Nya yang suci.

6.samaddhi : hati dan roh disucikan dengan melakukan semedhi.

Demikianlah kerohanian,kesusilaan dan kebenaran Agama Hindu yang disebut dengan Dharma,sebagai sarana untuk mencapai kelepasan atma dan kelestarian dunia (moksartham jagaddhita yaca itib dharmah).

Om tat sat

Apa Beda Arca dengan Berhala?

Apa Beda Arca dengan Berhala?

 

Dalam suatu kesempatan seorang teman Kristen saya bertanya “Kenapa umat Hindu sampai sekarang tetap memuja Berhala? Padahal kan sudah banyak penjelasan-penjelasan agama langit yang menunjukkan kesalahan pemujaan berhala itu!” Pernyataan menarik, tetapi membuka celah untuk saya menyerang balik.

Sayapun tersenyum dan langsung berkata: “Oh ya bro…. Hindu memuja berhala ya? Tapi entar dulu, sebelum saya menjelaskannya, boleh saya bertanya?”, Tentunya temen saya yang tadi langsung menjawab “iya” dan saya langsung melontarkan pertanyaan “Yang di komputermu itu gambar Yesus kan?” Terus dari mana kalian bisa tahu kalau tampang Yesus seperti itu? Apa ada penjelasan wajah Yesus di Al-Kitab?”

Jawaban teman saya itu sudah bisa ditebak, yaitu “Spekulatif”. Dia menejelaskan bahwa Yesus digambarkan seperti itu karena di kuburannya masih terdapat kain kafan yang menutupi wajahnya dan berbentuk seperti itu. Disamping itu dia juga menjelaskan bahwa Yesus adalah keturunan Israel yang rata-rata memiliki wajah ganteng, kulit cerah, rambut ikal dan panjang, dengan kumis tipis.

 

Benarkah Yesus seperti ini?

Pertanyaan selanjutnya, “apakah penggambaran ini dapat dipertanggung jawabkan?” Apakah bekas kain kafan bisa memberikan rekonstruksi wajah yang baik? Padahal, fosil dinosaurus yang utuh sekalipun masih memerlukan banyak parameter untuk memberikan gambaran yang sejatinya juga cukup spekulatif. Apakah karena orang israel berambut pirang dan rata-rata ikal dengan kulit putih cerah kita bisa menggambarkan Yesus seperti itu? Bagaimana kalau seandainya Yesus sebenarnya tidak berkumis? Bagaimana kalau beliau punya tahi lalat di muka? Berambut lurus atau mungkin beliau lebih suka berambut cepak?

Jika penggabaran Yesus yang sangat spekulatif tersebut ternyata tidak sesuai dengan keadaan aslinya, apakah itu bisa di kategorikan sebagai penyembahan terhadap berhala?

Karena pada kenyataannya, Al-kitab tidak bisa menjelaskan perbedaan penyembahan terhadap berhala dan juga terhadap gambar Yesus, maka saya akan coba ulas apa itu penyembahan berhala dan penyembahan arca wigraha sebagaimana yang diuraikan dalam ajaran Veda.

Dalam Bhagavad Gita 10.40 disebutkan “Nanto’smi mama divyanam vibhutinam, wujudKu yang rohani nan mulia tidak terbatas”, demikian juga dalam Brahma Samhita 5.33 dikatakan “Advaitam acyutam anadim ananta rupam, Tuhan yang disebut Acyuta  yang satu tiada duanya itu, tidak berawal dan memiliki wujud beraneka-ragam tak terbatas”.

Wujud Tuhan yang tanpa batas ini lebih lanjut disebutkan juga dapat diilhami dalam dunia fana ini. Bhagavata Purana 1.5.20, “Idam hi bhagavan iva, dan Mundaka Upanisad. 2.1.10,” purusam evedam visvam, Alam semesta material adalah wujud semesta Tuhan”. BS.5.39,”ramadi murtesu kala niyamena tistham nanavataram ….”, Para Avatara yang turun ke dunia fana dalam beraneka-macam wujud untuk menegakkan dharma dan membasmi adharma. Bhagavad Gita 7.8, “pranavah sarva vedesu” dan Bhagavad Gita 9.17, “vedyam pavitram omkara”, Huruf OM (Pranava Omkara) yang mengawali setiap mantra Veda adalah juga wujud Tuhan. Dalam Padma-Purana, sebagaimana dikutip dalam Padyavali 25 “nama cintamani Krsna … abhinatvam nama naminoh”, Nama suci Tuhan seperti Rama, Hari atau Krishna adalah wujud Tuhan pula. Padma Purana, “arcye visnau siladhir .. Yasya va narakisah” Arca vigraha dan gambar-gambar perwujudan Tuhan juga dapat dipuja sebagai perwujudan Tuhan sendiri.

Jadi dari beberapa sloka di atas kita dapat menarik kesimpulan bahwa penggambaran Tuhan dapat diilhami dalam keagungan ciptaan material beliau yang maha sempurna, perwujudan-perwujudan avatara beliau, Aksara suci dan juga Arca atau gambar-gambar yang dibuat sesuai dengan petunjuk kitab suci.

Sedangkan dalam Bhagavata purana 7.5.23 dijelaskan mengenai 9 proses bhakti / pemujaan terhadap Tuhan, yaitu;

  1. Sravanam (mendengar tentang Tuhan beserta lila/kegiatan rohani Beliau)
  2. Kirtanam (memuji-muji Tuhan dan lilaNya nan ajaib)
  3. Smaranam (mengingat Tuhan dan lilaNya)
  4. Pada sevanam (melayani kaki PadmaNya)
  5. Arcanam (memuja Arca Vigraha Beliau)
  6. Vandanam (memanjatkan doa-doa pujian kepadaNya)
  7. Dasyam (menjadi pelayanNya)
  8. Sakhyam (menjadi sahabat karibNya), dan
  9. Atma nivedanam (berserah diri kepadanNya).

Berkenaan dengan Arcanam atau pemujaan Arca atau perwujudan beliau ini lebih lanjut diatur di dalam Bhagavata Purana 11.27.12 yang menjelaskan bahwa arca dapat dibuat dengan kayu, logam, batu, tanah liat, pasir, permata, kain dan cat atau bahkan dapat hanya di bayangkan dalam pikiran saja. Dalam sastra Veda yang lain lebih lanjut dijelaskan mengenai ukuran, warna dan aturan-aturan lainnya dalam membuat arca atau gambar perwujudan Tuhan.

Jika kita membuat foto/gambar seseorang yang sesuai dengan ciri-ciri fisik orang yang dimaksud, maka dengan pasti kita bisa menyebutkan bahwa foto/gambar itu adalah gambar si A atau si B, tetapi kalau kita membuat rekaan gambar yang jauh menyimpang dari ciri-ciri fisik yang dimaksud, maka gambar tersebut tidak bisa kita katakan sebagai gambar yang bersangkutan. Demikian juga dengan gambar / arca atau perwujudan yang dibuat untuk menggambarkan Tuhan. Perwujuda tersebut tidak dapat dibenarkan dan dapat disebut sebagai berhala jikalau perwujudan tersebut tidak dibuat sesuai dengan petunjuk sastra, tetapi hanya rekaan angan-angan belaka.

Sebagai contoh, perwujudan arca atau lukisan Sri Krishna dibuat dengan mengacu pada  Brahma Samhita yang menyatakan:

“Tempat tinggal Sri Krishna yang paling utama, yang bernama Goloka Vrindavana, penuh istana-istana terbuat dari batu cintamani (permata yang dapat mengubah benda-benda lain menjadi emas). Ada pohon-pohon, yang disebut kalpa-vriksa atau pohon yang dapat memenuhi segala keinginan, yang menyediakan segala jenis makanan atas permintaan. Ada pula sapi-sapi surabhi, yang menyediakan susu dalam jumlah yang tidak terbatas. Di tempat tinggal ini, Sri Krishna dilayani beratus-ratus ribu Dewi Keberuntungan (para Laksmi), dan Beliau bernama Govinda, Tuhan Yang Mahaabadi dan sebab segala sebab. Krishna suka memainkan seruling-Nya (venu„ kvanantam). Bentuk rohani Krishna adalah bentuk yang paling menarik di seluruh dunia, mata Beliau menyerupai kelopak bunga padma, dan warna badan-Nya seperti warna awan pada musim hujan. Beliau sangat menarik sehingga ketampanan-Nya melebihi beribu-ribu Dewa Asmara. Beliau memakai kain berwarna kuning emas, kalung rangkaian bunga pada leher-Nya dan bulu burung merak pada rambut-Nya”

Atas penjelasan inilah arca / gambar Krishna dibuat. Demikian juga dengan pembuatan gambar/arca Rama yang kulitnya berwarna hijau, penggambaran dewa Siva dengan kulitnya gelap ungu dan khusuk dalam semedi, penggambaran Bala Dewa yang berkulit putih. Semua penggambaran-penggambaran ini harus berdasarkan sastra Veda.

Kembali ke topik percakapan saya di awal tadi dengan seorang sahabat Kristen, maka dapat saya katakan bahwa penggambaran Yesus dalam lukisan atau patung yang tidak di dasarkan pada ayat-ayat Injil tersebut pada dasarnya adalah berhala dan tuduhan dia terhadap umat Hindu yang mewujudkan Tuhan sesuai dengan ajaran-ajaran sastra Veda yang jelas, sama sekali tidak beralasan, tetapi hanya spekulasi belaka.

sumber : http://www.vedasastra.com

Uraian Mengenai Surga

Uraian mengenai Surga

Kita semua tahu bahwa jika diberikan pilihan, maka semuanya akan memilih pergi ke surga. Dan sebagian besar orang mempunyai sejenis pemahaman akan surga yang membuat mereka yakin bahwa surga adalah suatu tempat yang luar biasa. Bahkan jika kehidupan kita di bumi jauh dari ideal, jika kita sekali sudah mencapai surga, maka segala sesuatunya akan menjadi baik-baik saja. Namun setiap seseorang memberitahu saya tentagn uraian surga, saya mendapatkan uraian/pendapat yang berbeda-beda.

Di dalam kitab kitab Veda, kita memdaptakan informasi yang eksplisit tentang apakah surga itu, misalnya kita dapat malihat beberapa tempat dibumi yang sebenarnya bagaikan surga. jika kamu mengunjungi sebuah pulau tropis dimana ada pantai-pantai panjang berpasir putih yang cukup mendapat cahaya matahari yang dilengkapi dengan hembusan angin sejuk yang melewati pohon-pohonnya, membawa aroma bunga-bunga eksotis dan suara-suara ombak air sebening kristal menghempas tepi pantai dan jangan lupa pula, ada gadis-gadis yang berbadan indah memakai busana penuh warna, siap melayani segala kebutuhan kita. Tidakkah kamu merasa seperti di surga? Tak diragukan banyak orang akan suka pengalaman semacam itu, karena setiap orang tertarik di dalam kenikmatan material. Namun Masalahnya adalah tempat-tempat seperti itu sulit dicapai atau makan banyak biaya untuk tinggal lama disana atau kita harus segera balik setelah kunjungan singkat. Kunjungan semacam itu tidak pernah cukup, dan kita akan selalu ingin kembali ke tempat-tempat serupa, lagi dan lagi.

Srimad Bhagavatam menguraikan bahwa tempat-tempat surgawi itu merupakan tempat dimana para makhluk hidup mengahabiskan/menggunakan kegiata-kegiatan salehnya yang lalu. Tempat-tempat surgawi ditemukan di tiga tempat yaitu di atas bumi, surga planet-planet bawah, dan planet-planet surga atas. Hanya orang-orang yg paling sangat saleh dapat memasuki surga atas. Orang-orang hanya dapat mengalami atmosfer surga yang lebih rendah yang dapat ditemukan di bumi atau planet-planet bawah.

Dijelaskan di dalam Srimad Bhagavatam (5.17.12) bahwa di surga atas termasuk dibumi sebelum munculnya jaman kali ribuan tahun yang lalu para penduduk hidup selama sepuluh ribu tahun dan semuanya mirip dewa. “mereka mempunyai kekuatan badan sepuluh ribu gajah dan badan sekuat halilintar. Masa muda dalam kehidupan mereka sangat menyenangkan, baik pria dan wanita menikmati persatuan seks dengat sangat menyenangkan dengan jangka waktu yang lama. Setelah sekian lama mengalami kenikmatan sensual dan ketika sekitar setahun masa kehidupan masih tersisa-sang ister mendapatkan seorang anak. Demikianlah standar kesenangan para penuduk surga ini sama persis dengan manusia yang hidup pada Treta-yuga (ketika tidak ada gangguan).

Bahkan planet bumi ini merupakan surga pada zaman satya-yuga dan treta yuga. Setiap orang sangat saleh dan mempraktekkan yoga. Mereka tidak begitu mempedulikan kenikmatan inderawi, meskipun tersedia dengan mudah. Demikianlah, planet bumi menyediakan para penduduknya dengan segala yang mereka butuhkan dengan atmosfer yang paling menyenangkan. Baru kemudian, setelah datang Dvapara yuga dan khususnya zaman sekarang Kali yuga,

“Ada banyak taman penuh bunga dan buah sesuai dengan musim, dan ada pertapaan2 yang dihias dengan baik. Antara gunung-gunung besar yang membatasi batasan wilayah2 ada danau danau yang sangat besar berisi air jernihpenuh dengan bunga-bunga padma yang baru tumbuh. Burung air seperti angsa, bebek, ayam air, dan angsa merasa sangat senang karena keharuman bunga-bunga padma, dan suara-suara kumbang yang mempesona memenuhi udara. Para penduduk negeri ini merupakan pemimpin-pemimpin penting di antara para dewa. Selalu disertai oleh para pelayan mereka yang terhormat, mereka menikmati hidup di taman-taman disisi-sisi danau. Dalam keadaan yang menyenangkan, isteri-isteri para dewa tersenyum playfully kepada suami-suami mereka dan melihat mereka dengan tatapan nafsu.seluruh dewa dan isteri-isterinya di sediakan bubuh cendana dan kalungan bungan secara teratur oleh pelayan-pelayan mereka. Dengan cara begini, para penduduk varsha kedelapan menikmati, tertarik dengan keigatan lawan jenis.

Dari uraian ini, kita dapat melihat bahwa kesenangan surgawi yang dialami oleh para penduduk planet-planet atas sering berdasarkan seks dan semua itu hanya kenikmatan inderawi yang berbentuk lebih halus saja. Hal ini tidak banyak berbeda dari apa yang dialami oleh manusia di bumi. Satu perbedaannya adalah para penduduk planet planet itu menikmati seperti itu tanpa ada gangguan selama bertahun-tahun jika mereka menginginkn; sedangkan, para penduduk bumi hanya dapat menikmati seperti itu hanya dalam waktu singkat.

Uraian lain tentang beberapa bagian surga di planet-planet atas adalah tentang gunung Trikuta, yang tingginya 80.000 mil dan dikelilingi oleh sebuah lautan susu. Seperti halnya bumi dikelilingi oleh air asin, planet-planet atas juga memiliki lautan, namun terdiri dari air-air yang lebih menyenangkan.

“tiga bahan dasar yang utama yang ada di puncak gunung Trikuta terbuat dari besi, perak dan emas, dan memeperindah segala arah dan angkasa.Gunung ini juga memeiliki puncak yanglain, yang penuh dengan permata dan berbagai mineral dan dihiasi dengan pohon-pohon, tanaman menjalar dan semak-semak yang indah. Suara-suara air terjun di atas gunung menciptakan vibrasi yang menyenangkan. Begitulah adanya gunung itu, semakin meningkatkan keindahan di segala penjuru. Tanah lapang di kaki gunung selalu di bersihkan oleh gelombang ombak susu membentuk emerald di sekiling gunung di delapan penjuru mata angin. Para penduduk planet-planet atas seperti para Siddha, Carana, Ghandarva, Vidyadhara, para Naga, Kinnara dan Apsara- biasanya pergi ke gunung untuk sport. Demikialgha semua gua gua di gunungpenug dengan penduduk 2 surgawi ini.” (bhag.8.2.7-8)

“lembah-lembah di bawah gunung Trikuta terhias indah dengan banyak beraneka hewan hutan, dan di dalam pohon-pohon, yang terawatt di taman-taman oleh para dewa, ada beareka jenis burung bersiul/mengerik? dengan suara-suara merdu. Gunung Trikuta punya banyak danau dan sungai, dengan pantai-pantai yang ditutupi dengan permata/mutiara2 kecil menyerupai butiran2 pasir. Airnya sejernih kristal, dan ketika bidadari para dewa mandi di dalamnya, badan-badan mereka memeberikan keharuman kepda air dan angina sepoi yang bertiup disana, yang memeperkaya atmosfer disana.” (Bhag. 8.2.7-8)

Di planet-planet surga, badan-badan para wanitanya/maidens tidak hanya indah, tetapi juga memberikan keharuman kepada danau-danau dan juga angina sepoi yang bertiup. Di planet bumi ini, setiap orang dapat mengalami bahkan jika badan kita tidak dimandikan setiap hari, maka akan mulai berbau tidak sedap. Untuk menutupinya, orang sering menggunkan deodorant atau wewangian buatan untuk badan mereka agar berbau harum, untuk menutupi kenyataan bahwa mereka tidak mandi dengan teratur. Tentu saja, hal ini, jauh dari standar surga ketika kita harus mentolerir bau tak sedap badan orang-orang di sekitar kita. Oleh karena itu, hal ini, adalah pembanding yang baik untuk mengerti bagaimana planet-planet surga ribuan kali lebih mewah disbanding planet bumi ini.

Dengan mempelajari literature Veda, kita dapat mempelajari tempat-tempat seperti surga ini. Namun mencobak untuk mencapai pengetahuna seperti itu lewat indera dan peralatan yang terbatas seperti teleskop, yang merupakan perpanjangan indera2 kita yang cenderung salah faulty sense, kita tak akan pernah mampu mengamatai dengan wajar keadaan-keadaan dari planet planet yang lebih tinggi. Oleh karena itu, kita dapat mendapat pemahaman apa planet planet yang lebih itnggi itu seperti uraian yang ditemukan di dalam buku2 seperti Srimad-Bhagavatam, yang menguraikan kemewahan dewa Indra, Raja Surga, sebagai berikut :

“Hiranyakasipu, Yang memiliki segala kemewahan mulai bermukim di surga, dengan taman Nandananya yang terkenal, yang dinikmati oleh para dewa. Pada kenyataannya, dia tinggal di istana dewa Indra, Raja Surga, yang paling mewah. Istana itu di bangun secara langsung oleh arsitek para dewa Visvakarma dan dibuat sedemikian hingga indah solah olah dewi keberuntangan alam semesta ini berstana disana. Jalan-jalamnsetapa di kediaman Raja Indra terbuat dari coral, lantai na terhias dengan emerald yang tak ternilai, tembok-tebokna terbuat dari kristal, dan ilar pilar terbuat dari batu yang bernamavaidurya.canopi-canopi terhias dengan indah, tempat tempat duduk terhias dengan ruby, dan tempat tidur dari sutera, seputih busa, yang terhias mutiara. Gadis-gadis istana itu

kebanyakan dari kita bahakan tidak dapat membayangkan sebuah rumah dengan tembok2 kristal, coral steps, lantai yang dilapasi jamrud, kursi kurs dilpaisi ruby, dan tempat-tempat tidur dilapaisimutiara. Namun disisni adalah sebuah uraian istana amat besarsejenis ini, dimana banyak orang tinggal. Ini adalah wilayah surga dimana hanya merka yang kualifaid dapat memasukinya. Kita taka akan mampu pergi kesana dengan alat alat roket atau capsul ruang angkasa. Satu satu cara yang sebenarnya kita dapat memasuki atmosfer kahyangan atau surga adalah dengan kegiatan-kegiatan saleh, karma baik, atau kesempurnaan mistis. Bagaimana pun, bagi mereka syng benar2 bijaksana, mencapai surga tak begitu penting.

Kesempatannya ada di bumi ini

Seorang manusia bijaksana yang pebnuh pengetahuan bagaimana dunia ii bekerja tahu bahwa di planet-planet surga, dan dimanapun juga, ada kelahiran dan kematian. Para penduduk planet-planet atashidup sangat lama dilihat dari perhitungan bumi, namun akhirnya disana juga kehiduapn akan berakhir. Bagaimaan pun juga, masih di dalam dunia material ini, diaman segala sesuatunya secara beratahap merosot, rusak dan terbagi/hancur. Seperti halnya seseorang menabunga uang, pergi berlibu ke hawai atau suatu tempat dan menghabiskan kesluruhan waktu untuk dapat menikmati, bersantai, dan hanya melakukan segala sesuatau yang ia suka, ketika uang habis dipakai maka ia harus kemabali pualang keruamah dan kembali bekerja. Sama halnya seperti itu, setelah seseorang melaksanakan banyak perbuatan saleh dan mengumpulkan berimpah karma baik, orang mungkin dapat memasuki wilayah surga untuk hidup dan menikmati Selma ribuan tahun. Namun ketika reaksi reaksi saleh yang terkumpul telah habis digunakan, keberadaannya di surga berakhir dan dia mulia lagi sistem planet tengah bumi untuk memulai lagi. Hal ini dijelaskan didalam Munduka Upanisahd (1.2.10): “dengan menganggap kurban dan kegiatan baik/kebajikan sebagai yang terbaik, orang-orang bodoh ini tidak mengetahui kebaiakan yang lebih tinggi,.dan setelah menikmati (pahala meraka) di surga ng lebih tinggi, yang didapat dari kegiaran baik, mereka masuk lagi bumi ini atau yang lebih rendah.”

Oleh karena itu, Resi-resi yang penuh pengetahuan menganggap surga dan segala kemewahannya tidak lebih dari sekedar phantasmagoria, sebuah mimpi yang menkjubkan namun temporer. Itulah, dalam kenyataanadalah kehidupan diatas segala lecel eksistensi di dalam ciptaan material ini. Oleh karena itu sri Krishna Menjelaskan di dalam Bhagavad Gita : “dari planet yang paling tinggi sampai planet yang paling rendah, semuanya adalah temapat-tempat kesengsaraan dimana berlangsung kelahiran dan kematian yang berulang. Namun dia yang telah mencapai Tempat Tinggal-Ku, wahai putera Kunti, tak akan pernah lahir lagi.” (bg. 8.16)

Mereka yang serius sibuk dalam jalan spiritual tidak punya concern apakah meerkea memasuki surga atau neraka. Bagi mereka, surga dapat menjadi neraka tanpa Pemujan pada Tuhan dan neraka dapat menjadi surga hanya dengan bermeditasi pada atmosfer spiritual. Tidak begitu penting diaman kamu berada, namun bagaiman kamu menggunakan waktumu yang membuat beda, seperti dijelasakn dalam sloka berikut ini.

“Oh TUhan, kami berdoa semoga Engkau membiarkan kami lahir di dalam segala keondisi kehidupan neraka, kalau hati kami dan pikiran kami selalu sibuk di dalam pelayann suci kepada Kaki-padma-Mu, kata-kata kami menjadi lebih indah (hanya dengan membicarakan segala kegiatan mu) seperti halnya daun tulasi dipercantik ketika dipersembahakan kepad Kaki-Padma_Mu, dan sepanjgan telinga kami selaliu mendengar tentagn sefat-sifat rohani-Mu.” (Bhag.3.15.49)

sekarang kita dapat mulai melihat planet tengah, yaitu bumi, adalah tempat dimana seseorang dapat pergi ke surga, atau ke neraka, atau ke dunia rohani yang sepenuhnya berada diluar ciptaan/dunia material ini. Di surga, atmosfernya sangat kondusif untuk kenikmatan indera dimana seseorang sulit sekali berkonsentrasi untuk embuat kemajuan dalam spiritual. Di planet-planet yang lebih rendah, hidup terlalu menderita dan sengsara, atau masyarakatnya terlalu materialistic untuk sibuk dalam kegiatan spiritual. Tetapi di planet pertengahan ini, umumnya hdiup tidak begitu surgawi atau nerakawi. Oleh karena itu, ia merupakan lingkungan yang cocok untuk seseorang melaksanakan jalan spiritual.

“Karena bentuk kehidupan manusia merupakan posisi yang mulia untuk keinsyafan spiritual, semua para dewa di surga berbicara seperti ini: Betapa hebatnya makhluk manusia ini karena lahir di Bharata-varsha (planet bumi). Mereka pasti telah melaksanakan kegiatan-kegiatan saleh berupa pertapaan di masa lalu, atau Pribadi Tuhan Yang Maha Esa Sendiri sudah puas dengan mereka. Kalau tidak, bagaimana mungkin mereka sibuk di dalam pengabdian suci dalam begitu banyak cara? Kita para dewa hanya dapat bericta-cita untuk mendapat kelahiran sebagai manusia di Bharata-varsha untuk melaksanakan pengabdian suci, namun umat manusia ini sudah melaksanakan disana.(Bhag. 5.19.21)

“Setelah melaksankan tugas yang amat sulit dalam kurban suci ritualistic Veda, melaksanakan pertapaan, melaskasnakan sumpah dan berderma, kami telah mendapatkan kedudukan ini sebagai penduduk planet-planet surga. Namun apakah nilai dari prestasi ini? disini kami sangat sibuk dalam kepuasan indera material, dan oleh karena itu kami sangat sulit untuk mengingat Kaki-Padma Narayana. Tentu saja, karena pemuasan indera yang berlebhian, kami hampir selalu melupakan Kaki-PadmaNya.” (Bhag.5.19.22)

“Sebuah hidup singkat di tanah Bharata-varsha adalah lebih baik dibanding sebuah hidup di Brahmaloka selama jutaan dan miliaran tahun karena jika seseorang diangkat ke Brahma Loka, dia juga mengulamgi kelahiran dan kematian. Meskipun hidup di Bharata varsha, sebuah planet yanglebih rendah, sangat singkat, namun orang yang hidup disana daoat meningkatkan dirinya ke dalam Kesadaran Krishna penuh dan mencapai kesempurnaan tertinggi, bahkan dalam dalam hidup yang singkat ini, dengan sepenuhnya menyerahkan diri kepada Kaki-Padma Tuhan. Demikianlah seseorang dapat menapai Vaikunthaloka (planetplanet rohani), dimana tidak ada kecemasan dan tidak pula ada kelahiran kembali dalam badan material.” (bhag.5.19.23)

“Bharata varsa menawarkan llingkangan dan tempat yang tepat dimana melaksanakan Pengabdian suci (Bhakti-Yoga), yang dapat membebaskan orang dari segala akibat jnana (pengetahuan spekuasli) dan karma. Jika seseorang mendapatkan sebuah badan manusia di tanah Bharata varsha, dengan organ sensori yang jelas dengan mana dapat melaksansakan sankirtan yajna 9 mengucapakan atau menyanyikan dan keagungan nama suci Tuhan), tetapi walupu ada kesempatan ini ia tidak menjalankan pengabdian suci, maka dia memang seperti hewan dan burung hutan yang bebas yang kurang pemeliharaan dan oleh karena itu sekali lagi terntagkap oleh pemburu.” (bhag. 5.19.25)

Ayat-ayat ini dari Srimad-Bhagavatam secara langsung menekankan kesempatan jarang yang ktai dapat sekarang yang kita tahu diri kita sudah berada di planet bumi ini. Orang yang tidak menggunakan kesempatan seperti ini untuk sibuk dalam pncarian untuk kemajuan spiritual, maka pastilah hidup hanya untuk mati tanpa membaut kemajuan yang nyata kearah kekebabasan dari eksisitensi material. Bahkan para dewa berdo auntuk lahir di Bharata varssha.

Surga & Neraka

dan Struktur Dasar Alam Semesta

(Artikel berikut diambil dari buku “The Secrets Teachings of Veda” bab 7 diterjemahkan dan dipublikasikan atas izin tertulis dari Stephen Knapp. tulisan Sthepen Knap yang lain dapat liat di www. Sthepen-knapp.com)

Beberapa bab terakhir telah menjelaskan bagaimana seseorang bisa mencapai/mendapatkan masa depan yang baik atau buruk menurut berbagai jenis kegiatan yang ia lakukan. Disebutkan bahwa orang dapat mencapai surga atau neraka sebagai hasil dari segala kegiatan mereka. Hal ini terjadi berdasarkan kombinasi karma yang telah dikumpulkan oleh seseorang dan dari sifat-sifat tertentu alam materiil yang ia miliki. Namun, apakah yang sebenarnya surga dan neraka itu? Apakah surga merupakan sebuah tempat dimana kita dapat menikmati hidup secara abdi bersama dengan yang pernah kita kenal dan pernah kita cintai? Apakah Neraka merupakan sebuah tempat dimana kita menderita kutukan abadi atas berbagai kesalahan karena tidak hidup seperti layaknya yang diyakini beberapa orang ? atau apakah kita diberikan kesempatan sekali di dalam kehidupan ini untuk mencapai surga atau terkutuk di neraka abadi? Atau semua ini hanyalah tingkatan pikiran?

Banyak orang memiliki banyak kesalah-pahaman tentang apa itu surga dan apa itu neraka. Kebanyakan orang setuju bahwa menjalani sebuah kehidupan yang kedengaran religius untuk mencapai surga, adalah tujuan tertinggi. Tetapi untuk meluruskannya, kita harus memiliki uraian tentang surga dan neraka secara mendetail, dan pengetahuan seperti ini dapat ditemukan di dalam literatur Veda.

Pertama-tama, kitab-kitab Veda setuju sistem planet bumi ini merupakan sistem planet pertengahan di alam semesta. Dari sini seseorang dapat naik ke planet-planet surgawi atau turun ke planet-planet neraka. Seluruhnya, alam semesta ini tersusun atas empat belas susunan sistem planet, dan seperti halnya kita telah lahir di planet bumi ini, kita dapat juga meningkatkan diri dengan kegiatan-kegiatan kita untuk lahir di setiap berbagai susunan planet baik yang diatas maupun yang dibawah. Untuk lebih memahami bagaimana semua hal ini terjadi, pertama kita harus mengerti diamanakah surga dan neraka berada di dalam alam semesta ini?.

STRUKTUR DASAR ALAM SEMESTA

Untuk memulai penjelasannya, kitab mengumpamakan ciptaan kosmos (alam semesta) materiil sebagai sebuah awan di dalam sebuah sudut Angkasa rohani. Di dalam awan ini ada alam semesta yang jumlahnya tak terhitung/terhingga. Setiap alam semesta ditutupi oleh sebuah cangkang yang terbuat dari unsure-unsur materiil, yang menjadikan sisi dalamnya sepenuhnya gelap kecuali di daerah sinar matahari. Srimad Bhagavatam (3.11.41) menjelaskan: “Lapisan-lapisan unsur yang menutupi alam semesta, masing-masing sepuluh kali lebih tebal dari lapisan sebelumnya, dan kumpulan seluruh alam semesta bersama-sama kelihatan bagai atom-atom dalam kombinasi yang besar.”

Hal ini menandakan bahwa jika kita bertualang ke kulit luar yang gelap alam semesta, maka kita akan melewati sebuah cangkang yang terbuat dari unsur tanah yang mengelilingi alam semesta. Ketebalan cangkang ini sepuluh kali lebih tebal dibandingkan lebar alam semesta. Lapisan cangkang yang Pertama adalah lapisan tanah, kemudian ada lapisan air yang tebalnya sepuluh kali tebal lapisan tanah, kemudian ada lapisan-lapsaian (secara berurutan) api, udara, ether, pikiran, kecerdasan dan keakuan palsu. Tentu saja, wujud unsure-unsur di lapisan-lapisan ini lebih halus daripada berbagai wujudnya kita temukan di muka Bumi ini. Interior alam-semesta sangat kecil dibandingkan lapisan-lapisan berbagai unsur yang mengelilinginya. Oleh karena itu, tak pelak lagi, tak seorang pun akan pernah mampu keluar dari alam-semesta ini dengan segala alat mekanik atau dengan cara kesempurnaan material.

Berdasarkan literatur Veda, Matahari terletak di bagian pertengahan. Seperti diuraikan dalam Srimad Bhagavatam (5.20.43-46): “Matahari berada di pertengahan alam-semesta, yaitu di wilayah ruang (antariksha) antara Bhurloka dan Bhuvarloka. Planet matahari membagi segala arah alam-semesta. Karena kehadiran mataharilah kita dapat mengerti apa itu angkasa, apa itu planet-planet yang lebih tinggi, dan apa itu dunia ini

Kitab-kitab Veda sering menguraikan berbagai jenis planet dengan sebutan Dvipa atau Varsha, yang berarti pulau dan pelindung bagi banyak makhluk hidup, di dalam samudra luas ruang angkasa ini. Setiap planet diatur berbeda satu sama llain dengan masing-masing iklimnya, ciri khas (feature)nya, ketakjubannya dan dilengkapi dengan berbagai jenis benda-benda untuk memenuhi kebutuhan berbagai penghuninya yang spesifik pula. Diuraikan dalam Padma Purana bahwa ada 8.400.000 spesies (jenis) kehidupan dan masing-masing spesies memiliki tempat hidupnya masing-masing berupa lingkungan tertentu yang ada dalam berbagai planet. Beberapa spesies kehidupan ada di dalam air, beberapa di udara, beberapa di dalam dan beberapa diatas tanah, beberapa di dalam panas atau api. Oleh karena itu, bukan suatu yang mengherankan ada kehidupan di planet-planet yang lain, seperti yang diuraikan di dalam kitab-kitab Veda, baik kehidupan seperti itu dapat kita lihat maupun tidak, dengan indera-indera atau peralatan kita yang tumpul/tidak sempurna.

Planet Bumi yang berada di tengah sistem perplanetan, disebut Bharata-varsha atau Jambudvipa. Kitab Srimad Bhagavatam (5.20.3-42) menguraikan enam planet utama lainnya di atas Jambudvipa. Planet-planet itu adalah Plaksadvipa lalu Salmalidvipa. Diatasnya ada Kusadvipa, atau planet bulan. Diatas Kusadvipa ada Krauncadvipa yang memiliki lebar 12.800.000 mil. Diatasnya ada Pulau (baca : planet) Sakadvipa, merupakan planet bagi orang-orang saleh, yang mana para penduduknya melaksanakan pranayama dan Yoga-Mistis, dan dalam Samadhi memuja Penguasa Tertingi dalam wujud Vayu.

Planet berikutnya adalah Puskaradvipa atau Brahma loka, yang memiliki diameter 51.200.000 mil dan dikelilingi oleh samudra yang berisi air yang sangat lezat. Di planet ini ada bunga padma raksasa dengan 100.000.000 mahkota/kelopak bunga dari emas murni, seterang nyala api. Bunga ini dianggap tempat duduknya dewa Brahma, makhluk hidup yang paling perkasa di alam semesta dan oleh karena itu kadang-kadang disapa denga sebutan Bhagavan. Penduduk planet ini memuja Yang Kuasa yang diwakili oleh dewa Brahma. Di tengah pulau ini ada gunung besar yang bernama Manasottara, yang memiliki batas antara sisi dalam dan sisi luar pulau itu. Lebar dan tingginya 80.000 mil.

Di gunung itu, di keempat arahnya, merupakan markas-markas kediaman para dewa seperti dewa Indra. Di dalam kereta dewa-matahari, sang matahari menjelajahi puncak gunung itu di dalam sebuah orbit yang bernama Samvatsara, melingkari gunung Meru. Jalur matahari di sebelah utara disebut Uttarayana, dan jalurnya disebelah selatan disebut Daksinayana. Satu sisi (enam bulan, musim panas kita) mewakili satu siang bagi para dewa, dan sisi yang lain (enam bulan, musim dingin kita) mewakili malam mereka. Dengan cara begini, kita dapat mengerti bahwa satu tahun kita tak lain adalah sehari bagi para dewa. Oleh karena itu hidup mereka sangat panjang, hampir seperti kekal jika dibandingkan dengan hidup kita. Itulah kenapa beberapa agama mengatakan kehidupan di surga adalah kekal.

Tidak perlu dikatakan, ini merupakan uraian sebagaian dari planet-planet atas dan letak mereka seperti yang diuraikan oleh para mistikus di dalam literature Veda. Tetapi, seperti dengan mudah kita mulai dapat lihat, hanya orang-orang yang saleh dan maju secara spiritual dapat memasuki planet-planet surga yang lebih tinggi ini. Oleh karena itu, mereka yang kurang beriman dan tidak bertuhan hanya dapat memasuki planet-planet bawah.

Srimad Bhagavatam (5.24.1-6) menjelaskan bahwa dibawah planet-planet atas ‘higher planets’ ini, namun masih diatas bumi, ada planet-planet yang lain, yaitu mulai dari planet Rahu yang berjarak 80.000 mil di bawah matahari. Planet ini bergerak bagaikan salah satu bintang namun ia merupakan sebuah planet gelap dan tak terlihat; namun, keberadaannya dapat dilihat kadang-kadang ketika ada sebuah gerhana. Dibawah rahu 80.000 mil lagi ada planet-planet yang bernama Siddhloka (dimana hidup para Siddha, atau makhluk2 yang secara alamiah memiliki kesempurnaan mistis, seperti terbangan dari satu planet ke planet ke planet yang lain tanpa memakai mesin), Caranaloka (dimana hidup para Carana atau para makhluk mirip minstrel) Gandharvaloka (dimana hidup para Gandharva atau makhluk malaikat), dan Vidyadharaloka (dimana hidup para Vidyadhara, makhluk-makhluk halus yang menguntungkan, yang amat cantik dan bijaksana). Di bawah planet-planet ini merupakan tempat kenikmatan untuk para Yaksha (makhluk mak halus misterius yang sering mengunjungi sawah-sawah dan hutan-hutan), para Rakshasha (makhluk raksasa yang mengembara tiap malam, dan juga membentuk kapal dan dapat mengambil wujud seperti anjing, burung hering, burung hantu, orang kerdil, dll).Para Pishaca (makhluk-makhluk iblis yang makan daging, dapat merasuki orang-orang dan berkumpul di kuburan atau tempat crematorium dengan hantu lainnya), dan makhluk lainnya seperti hantu dan yang lainnya.

Di bawah planet-planet yang gelap dan tak terlihat ini, sekitar ratusan mil adalam planet bumi.

Dibawah bumi ada tujuh planet lainnya, yang bernama Atala, Vitala, Sutala, Talatala, Mahatala, Rasatala dan Patala. Di tujuh system planet ini, yang juga terkenal dengan nama Surga bawah (bila-svarga), ada rumah-rumah, taman-taman dan tempat kenikmatan indera yang sangat indah, dan bahkan lebih mewah dibanding planet-planet diatas karena para raksasa memilki standar kenimatan sensual yang sangat tinggi. Sebagian besar para penduduk planet-planet ini menikmati hidup tanpa gangguan. Demikianlah mereka dapat dimengerti sangat terikat kepada kebahagian ilusi.” (Bhag. 5.24.87-9)

Selanjutnya Bhagavatam menjelaskan planet dibawah Atala adalah planet Vitalka, dimana dewa Shiva tinggal dengan rekan-rekan pribadinya, para hantu dan makhluk sejenisnya. Planet dibawahnya adalah Sutala dimana Bali Maharaj tinggal bahkan sampai sekarang. Dibawah planet Sutala adalah planet Talatala, yang diperintah oleh raksasa Danava bernama Maya. Maya dikenal sebagai Acharya 9 guru dari semua Mayavi (penyihir), yang dapat mengundang kekuatan sihir. Planet dibawah Talatala bernama Mahatala. Planet ini adalah kediaman ular-kepala-banyak, keturunan Kadru, yang selalu suka marah.

Di bawah Mahatala ada planet bernama Rasatala, yang merupakan tempat putera-putera raksasa dan keturunan Diti dan Danu. Mereka sangat perkasa dan kejam dan semuanya merupakan musuh para dewa. Dibawah Rasatala ada sistem planet lain yang bernama Patala atau Nagaloka, dimana banyak ada ular-raksasa. Pemimpin mereka adalah Vasuki. Mereka semua sangat pemarah, dan mereka memiliki sangat banyak kepala. Kepala-kepala ini dihiasi dengan permata-permata berharga, dan cahaya yang memancar dari permata-permata ini menyinari semua system planet di bila-svarga.

Tepat 240.000 mil dibawah Planet Patala tinggal salah satu inkarnasi Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia adalah Ekspansi Sri Vishnu yang bernama Sri Ananta atau Sri Sankarsana. Sri Sankarana merupakan lautan sifat-sifat rohani tak-terbatas, oleh karena itu Dia juga disebut Anantadeva. Dia tak berbeda dengan Pribadi Tuhan Yang Maha Esa. Sendiri. Untuk kesejahteraan semua Makahluk hidup didalam dunia materiil, Dia bersdia tinggal disana, menahan kemarahan dan intoleran-Nya.

Pada waktu peleburan (kiamat), Ketika Sri Anantadeva ingin menghancurkan seluruh cipataan, Dia menjadi sedikit marah. Kemudian dari dua alis-Nya muncul Rudra bermata tiga, membawa trisula. Rudra ini merupakan ekspansi dari dewa Shiva, muncul dengan tujuan menghancurkan seluruh ciptaan.

Para dewa, para raksasa, para Uraga, Siddha, Gandharva, Vidyadhara dan banyak resi-resi maju menghaturkan doa-doa secara teratur kepada Sri Anantadeva. Sri Anantadeva memuaskan pelayan-pelayan-Nya, yaitu dewa-dewa utama, dengan getaran-getaran yang manis yang memancar dari Mulut-Nya. Dia mengenakan pakaian berwarna kebiruan dan mengenakan anting tunggal, membawa sebuah bajak di punggung-Nya dengan dua tanganNya yang berbentuk dengan baik dan indah. Kelihatan seputih Raja Surga, Indra. Dia juga mengenakan sebuah ikat pinggang keemasan, dan sebuah kalungan bunga vaijayanti yang terbuat dari tulasi yang selalu segar di leher-Nya. Dengan cara begini, Dia menikmati lila-Nya yang penuh berkat.

Srimad Bhagavatam menguraikan bahwa tidak ada aklhir bagi keagungan dan kebesaran sifat sifat Sri Anantadeva Yang Perkasa. Tentu saja, Kekuatan Sri Anantadeva tak terbatas. Meskipun Dia Self-Sufficient, Namun Dia Sendiri merupakan penyangga segala sesuatu. Sri Anantadeva berada dibawah system planet paling bawah diatas lautan Garbhodaka dan dengan mudah menopang seluruh alam semesta.

Di atas kediaman Sri Anantadeva, di pertengahan ruang antara tiga-dunia dan lautan luas Garbhodaka-yang memenuhi bagian bawah alam semesta, merupakan tempat dimana planet-planet neraka berada. Planet-planet neraka ini berada di bagian selatan alam semesta, di bawah Bhu-mandala, dan sedikit diatas air lautan Garbhodaka. Pitriloka, planet para leluhur, juga terletak di wilayah antara lautan Garbhodaka dan system planet paling bawah. Semua penduduk Pitriloka, dipimpin oleh Agnisvatta, bermeditasi di dalam Samadhi yang khusuk kepda Tuhan Yang Maha Esa dan selalu dan selalu mengharapkan keluarganya baik-baik saja.

Uraian tentang Neraka

Planet-planet Neraka merupakan destinasi bagi mereka yang ber-ajal untuk mengalami penderitaan sebagai pahala atas segala kegiatan mereka yang jahat dan keji, tentu saja jika orang-orang bisa memutuskan/memilih, untuk diri mereka sendiri, apakah akan pergi ke neraka atau tidak, maka tak seorang pun memilih pergi kesana. Tapi sayangnya kita tak bisa memilih, dan hal ini tergantung pada otoritas-otoritas yang lebih tinggi, yang menyaksikan dan menghakimi segala tindakan kita. Ada kesalah-kaprahan umum diantara banyak orang bahwa sepanjang apa yang kita lakukan tidak membahayakan seseorang atau tak terilihat siapa pun, maka kita bebas melakukan segala hal yang kita inginkan. Namun kitab Veda menekankan bahwa, “matahari, api, angkasa, udara, para dewa, bulan, senja, malam, siang, segala-arah, air, tanah, dan Roh Yang Utama (Paramatma) Sendiri semuanya menyaksikan segala kegiatan Makhluk hidup.” (bhag.6.1.42) menurut saksi-saksi ini, makhluk hidup tak dapat pergi kemana pun dimana tak ada yang melihat apa yang dilakukannya.

Penguasa planet-planet neraka dan pengatur akhirat-afterlife mereka yang diajalkan untuk menghuni wilayah alam-semesta yang lebih gelap ini adalah Yamaraja. Srimad Bhagavatam menguraikan bahwa Yamaraj tinggal di Pitriloka bersama pelayan-pelayan pribadinya dan sambil menerapkan aturan dan peraturan yang ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, memiliki agen-agen yang bernama Yamadhuta (para bala tentara Yamaraja), menyeret semua orang-orang berdosa padanya segera setelah mereka mengalami kematian. Setelah mereka membawa ke pengadilanya, beliau menghakimi secara pantas mereka sesuai kegiatan berdosa khusus mereka dan mengirim mereka ke salah satu planet-planet neraka untuk hukuman yang cocok.

“Beberapa otoritas mengatakan bahwa ada total 21 planet neraka, dan beberapa mengatakan 28. nama-nama planet neraka itu adalah : Tamisra, Andhatamisra, Raurava, Maharaurava, Kumbhipaka, Kalasutra, Asipatravana, Sukaramukha, Andhakupa, Krmibhojana, Sandamsa, Taptasurmi, Vajrakanttaka-salmali, Vaitrani, Puyoda, Pranarodha, Visasana, Lalabhaksa, Sarameyadana, Avici, Ayahpana, Ksarakardama, Raksogana-bhojana, Sulaprota, Dandasuka, Avatanirodhana, Paryavartana da Sucimukha. Semua planet-planet neraka ini dimaksudkan sebagai tempat hukuman bagi makhluk hidup.” (Bhag. 5.26.7)

Diseluruh literature Veda, khususnya di dalam kitab-kitab Purana, ada uraian mengenai planet-plnaet neraka ini. Kami hanya akan memasukan sebagaian kecil dari utaian2 ini agar tidak membuat bab ini terlau panjang, tetapi sekurang-kurangnya kita dapat melihat tempat semacam apakah neraka itu dan orang-orang macam apa saja yang diangkut kesana.

“Seseorang yang mengambil alih istri sah, anak-anak atau uang orang lain diseret pada saat kematian, oleh Yamadhuta yang menakutkan, yang mengikatnya dengan tali waktu dan melemparkannya dengan paksa kedalam planet-planet neraka yang bernama Tamisra. Di planet yang gelap ini, orang-orang berdosa di hukum oleh para Yamadhuta, yang memukuli dan memarahinya. Dia menderita kelaparan, dan ia tak diberikan air untuk diminum. Demikianlah para asisten Yamaraj yang penuh murka, membuatnya menderita, dan kadang-kadang ia jatuh pingsan menerima berbagai siksaan mereka.” (Bhag.5.26.8).

“Di dalam kehidupan ini, orang-orang melakukan kekerasan terhadap para makhluk hidup. Oleh karena itu, setelah kematian, ketika ia di seret ke nerka oleh Yamaraj, para maklhuk hidup itu yang dulu ia sakiti muncul sebagai binatang yang bernama ruru untuk memberikan rasa yang amat sakit padanya. Orang terpelajar menyebuit neraka ini Raurava. Hewan ini tak dapat kita lihat di bumu, ruru ini bersifat leih iri daripada ular.” (bhag.5.26.11)

Mengenai hal ini, setiap orang dapat melihat bahwa ada orang-orang yang memiliki mentalitas raksasa/iblis dan bersenang-senang dengan menyakiti maklhuk lain tanpa rasa adil/justiable. Orang yang melakukan kekerasan seperti itu akan diseret ke Raurava, dimana para makhluk hidup yang telah mereka sakiti di masa lalu mengambil wujud sebagai ruru danmemberikan penderitaan yang luar biasa kepada mereka, seperti dijelaskan dalam ayat berikut :

“Hukuman di neraka yang bernama Maharaurava adalah wajib bagi orang memelihara badannya dengan menyakiti yang lain. Di neraka ini, pada hewan ruru yang dinekal dengan nama krayavada menyiksanyadan memakan dagingnya. Untuk pemeliharaan badan mereka dan untuk kepuasan lidah mereka, orang-orang jahat/cruel memasak hewan-hewan dan burung–burung lemah/poor dan hidup2. orang-orang seperti itu dikutuk bahkan oleh pemakan-manusia. Pada kehidupan mereka kemudian, mereka dieret oleh para Yamadhuta ke neraka yang bernama kumbhipaka, dimana mereka di dalam minyak yang mendidih.” (bhag.5.26.12-13)

“Seorang pembunuh brahmana dimasukkan ke neraka yang bernama Kalasutra, yang memiliki garis tengah.jari-jari 80.000 mil dan seluruhnya terbuat dari tembaga. Dipanasi dari bawah oleh api dan dari atas oleh matahari yang membara, permukaan tembaga planet ini sangat panas sekali. Demikianlah para pembunuh brahmana menderita terbakar baik dari dalam maupun dari luar. Dari dalam ia terbakar oleh rasa lapar dan haus, dan dari luar dia terbakar dari pansa matahari dan api yang berada dibawah permukaan tembaga. Oleh karena itu ia kadang-kadang terbaring, kadang duduk, kadang-kadang berdiri, dan kadang2 berlari kesana kemari. Dia harus menderita seperti ini selama ribuan tahunsebanyak rambut di tubuh hewan (yang ia bunuh).” (bhag.65.26.14)

“Di dalam kehidupannya berikutnya, seorang raja atau wakil pemerintah yang berdosa yang menghukum orang yang tak berdosa, atau yang memberikan hukumana pada badan seorang brahmana, diseeret oleh Yamadhuta ke nereaka yang bernama Sukharamuka, dimanaasisten Yamaraj yang paling perkasamenghancurkannya précis seperti orang menghancurkan tebu untuk mendapatkan airnya. Para maklhuk hidup yang berdosa menangis ……, sama seperti seorang manusia yang tak berdosa melaksanakan hukuman. Ini adalah akibat dari menghukum orang yang tak bersalah.” (bhag.5.26.16)

“Seseorang who in the absence of an emergency Merampok, permata (atau benda-benda berharga) dan emas milik seorang brahmana -atau malahan, orang lainnya—ditempatkan kedalam neraka bernama Sandamsa. Disana kulitnya dilapisi dan dipisahkan oleh bola-bola dan jepitan besi merah-panas, maka keseluruhan badannya terpotong menjadi berkeping-keping.” (Bhag.5.26.19)

Ketika menuli bagian ini dan tingal di Detroit, adalah tidak tak-umum mendengar kesedihan orang-0rang tua yang tidakpunya uang dan kelaparan dan hanya bergumul dari hari ke ahri hanya untuk bertahan hidup. Di banyak kasus, salah satu alasan mereka tidak memiliki kebutuahn lagi akan uang untuk merawat diri mereka lebih baik adalah karena mereka telah dirampok, bukan satu dua kali, tetapi banyak kali. Ini menjadikannya sangat sulit bagi orang–orang ini untuk menikmati hari-hari akhir mereka dengan kedamaian atau kebahagiaan. Bagaimana pun juga dari ayat diatas, kita dapat belajar bahwa para pencuru yang mencuri, mencoleng, dan juga memukul penduduk yang tidak berdosa/bersalah demi kesenganga sendiri berakhir di Sandamsa. Para criminal demikian mungkin bisa lolos dari hukum setempat, tetapi mereka tidak akan pernah lolos dari hukum alam yang ditetapkan oleh Tuhan. Pada waktu kematian, criminal-kriminal demikian itu dengan segera diseret oleh tentara Yamaraj dan dihukum dengan mengupas kulit mereka dengan jepitan besi panas. Jika semua pencuri tahu nasib seperti demikian menantinya setelah kematian atas penderiataan yang ia timbulkan pada yan glainnya, dia tidak akan melanjutkan kegiatan semacam itu

“Seorang laki-laki atau wanita yang terlibat dalam hubungan seksual dengan pasangan tak sahnya, dihukum setelah kematian para asisten Yamaraj di neraka yang bernama Taptasurmi. Disanalah laki-laki dan wanita yang demikian dipukul dengan cambbuk. Sang laki-lki dipaksa untuk memeluk besi merah panas yang berbentuk wanita. Dan yang wanita dipaksa untuk memeluk bentuk yang serupa namun laki-laki. Itulah hukuman bagi seks yang tak sah.” (bhag.5.26.20)

Hukuman-hukuman di planet-planet neraka kedengarannya sangat kejam, namun seseorang menjadi kapok dan menyesal dengan menderita sambil megningat kegitatang-kegiaanberdosa masa lalunya. Seseorang seperti itu mungkin masih membawa pendeianyang mendalam di dalam bawah sadar mereka di kehidupannya kemudian dan akan menahan dari kegiatan yang sama di masa mendatang.

“Di wilayah Yamaraj ada ratusan dan ribuan planet-planet neraka. Orang-orang tidak saleh seperti yang telah saya sebutkan-dan yang tdak saya sebutkan—semuanya harus masuk ke berbagai planet-planet ini sesuai dengan tingkat ketidak-salehan mereka. Mereka yang saleh, bagaimanapun juga, memasuki sistem planet yang lain, yaitu planet planet para dewa, baik yang saleh maupun yang tidak saleh, kedua-duanya lagi dibawa kebumi setelah segala pahala dari kegiatan saleh atau tidak saleh mereka habis.” (bhag.5.26.37)

Dari ayat ini, kita dapat mengerti bahwa neraka bukalah sebuah tempat dmana dihukum secara abadi setelah kematian. Hanyalah reaksi bagi kegiatan-kegiatan tertentu yang keji. Namun sesuai dengan intensitas penderitaan, maka seolah-olah keliatannya kekal/abadi. Setelah reaksi atas segala kegiatan2 habis terpakai, orang itu umumnya kembali memasuki atmosfer bumiuntuk memulai lagi. Kemudian dia dapat melanjutkan mengembara lagi ke berbagai tingkat sistem planet, atau berbagai spesies kehidpan, sampai secara bertahap, ia mengalami berbagai aspek keberadaan material, dari paling bawah sampai planet-planet surga atas surga. BAGAIMANA pun juga, kita harus mengetahui bahwa mengembari terus menerus ke berbagai sistem planet/kehidupan, atau ke berbagao speseis kehidupanm, bukanlah caranya untuk mendapatkan kebahagian sejati. Kebahagian yang selalu kita rindukan berada diluar kurungan alam material ini bak dari atas sampai bawah, atau surga neraka-yang bersifat sementara di dunia ini.

Sumber: Unknow (Dikutip dari file Virabhadra Prabhu)

http://narayanasmrti.com/2011/03/22/uraian-mengenai-surga/

Sri Gaura Purnima

 

 

Sri Gaura Purnima

Oleh: Suryanto, M.Pd

Proses pelurusan kembali ajaran Veda yang telah disimpangkan dilakukan beberapa tahap oleh avatara-avatara yang muncul dan menjalankan misinya, sesuai tuntutan situasi dan keadaan. Setelah Buddha Gautama, muncullah Adi Sankaracarya, lalu disusul dengan kemunculan Sri Caitanya. Benarkah beliau avatara Sri Krishna?

Buddha Gautama harus “berpura-pura” menolak dan menyalahkan Veda, karena orang mengatasnamakan Veda untuk membenarkan pembunuhan hewan besar-besaran dan penerapan sistem kasta yang sangat tidak manusiawi. Bertolak belakang dengan ajaran pokok Veda, Buddha Gautama mengajarkan bahwa roh itu tidak ada (anatman). Buddha Gautama juga tidak memberikan penjelasan apapun tentang keberadaan Tuhan, dengan mengajarkan bahwa kebenaran tertinggi adalah kekosongan (sunyavada). Itu merupakan sebuah siasat. Dengan mengatakan tidak ada Tuhan, masyarakat pada waktu itu lalu memuja dan mengikuti Sang Buddha, yang tidak lain adalah penjelmaan Sri Visnu sendiri..

Lalu, pemurnian ajaran Veda tahap berikutnya terjadi. Dewa Siva menjelma menjadi Adi Sankaracarya (788 – 820 M) seorang brahmana dan ahli filsafat yang sangat hebat. Berkat kegiatan pengajaran Sankaracarya, ajaran Veda mulai berkembang kembali di India. Para penganut agama Buddha kembali beralih memeluk agama Hindu. Bahkan, agama Buddha yang tadinya berkembang pesat dibawah perlindungan Raja Asoka akhirnya surut pamornya di India Walaupun demikian, banyak ajaran Buddha Gautama yang diadaptasi dan dikompromikan dengan ajaran Veda oleh Sankaracarya.

Salah satunya adalah konsep tentang Tuhan. Kitab-kitab Upanisad dan kitab Vedanta mengajarkan bahwa Tuhan memiliki sifat impersonal dan sifat personal sekaligus. Artinya, Tuhan berwujud sekaligus tidak berwujud. Kalau kita telaah secara seksama, kitab Injil dan Al-Quran pun mengajarkan bahwa Tuhan memang memiliki wujud. Hanya saja, kedua kitab itu menyampaikannya secara samar-samar. Dalam Injil, misalnya, dinyatakan bahwa : “Tuhan menciptakan manusia menyerupai citra-Nya”. Jadi, kalau manusia dengan wujudnya yang sekarang adalah “pencitraan” atau gambaran Tuhan, bukankah itu berarti bentuk atau wujud Tuhan duluan ada,  Aspek Tuhan yang ‘tidak berwujud’ dan ‘tidak bersifat’ seperti itu dalam bahasa Sanskerta disebut Brahman.

Sedangkan sifat personal  Tuhan, disebut Bhagavan. Agar mudah dipahami, kalau Brahman diibaratkan cahaya, maka Bhagavan adalah “sumber cahaya itu”. Pada siang hari yang cerah, kita hanya bisa melihat cahaya matahari yang menyilaukan, sedangkan bola matahari sendiri tidak tampak. Bulatan bola matahari yang besar itu tertutupi oleh cahaya yang menyilaukan.  Begitu pula, Brahman adalah cahaya yang menyilaukan yang menutupi  badan rohani Tuhan. Hal ini dibenarkan dalam Bhagavad-gita ( 14.27 ), di mana Sri Krishna menyatakan:

brahmaëo hi pratiñöhäham

amåtasyävyayasya ca

çäçvatasya ca dharmasya

sukhasyaikäntikasya ca

Aku adalah sandaran Brahman yang tidak bersifat pribadi, yang bersifat kekal, tidak pernah mati, tidak dapat dimusnahkan, kedudukan dasar kebahagiaan yang paling tinggi.”

Sebaliknya, Sankaracarya mengajarkan bahwa Brahman adalah aspek Tuhan yang tertinggi. Artinya, bahwa  Tuhan itu ada,  tapi tidak berwujud (nirvisesa), tidak bersifat (nirguna), dan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata (sunya) . Menurut Sankaracarya sosok-sosok seperti  Krishna, Visnu, Brahma, Siva, Durga, Ganesha, dan dewa-dewa lainnya hanyalah merupakan “perwujudan” atau manifestasi dari Tuhan yang tidak berwujud itu. Inilah bentuk kompromi antara ajaran Buddha Gautama dan ajaran Veda.

Bagi Buddha Gautama, tidak ada Tuhan, tidak ada Sang Pencipta. Sebaliknya, Veda mengajarkan bahwa ada Sang Pencipta, yang memiliki wujud rohani. Tentu saja, titik temu antara kedua ajaran yang bertolak belakang itu adalah Tuhan itu ada, tapi tidak berwujud. Dengan jalan tengah itu, Sankaracarya memang berhasil menjalankan misinya. Sebuah misi yang sesungguhnya diawali oleh Buddha Gautama sendiri sebagai avatara Visnu.

Keberhasilan Sankaracarya memang pantas dicatat, pengaruhnya masih terasa hingga sekarang ini dalam filsafat Hindu. Kalau saat ini kita mengenal konsep penyatuan atman dengan Brahman, konsep Tat Tvam Asi, dan sebagainya, semua itu adalah ajaran  Sankaracarya. Bahkan, konsep Tri Murti, yaitu bahwa Brahma, Visnu, dan Siva adalah manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang tidak berwujud – adalah aplikasi ajaran Sankaracarya  di Indonesia. Akan tetapi, kalau ditelaah kembali, maka ajaran Sankaracarya tersebut masih belum sepenuhnya sesuai dengan ajaran Veda  seperti murninya. Mengapa demikian?

Karena sebenarnya dalam kitab-kitab Veda dinyatakan bahwa Tuhan itu Esa dan berwujud. Dalam menjalankan “roda pemerintahan alam semesta” Tuhan yang Esa itu dibantu oleh para dewa yang diciptakan oleh Tuhan Sendiri. Ibarat sebuah pemerintahan, Tuhan adalah seorang raja atau presiden, sedangkan para dewa adalah para mentri yang memimpin departemen tertentu. Para dewa sebenarnya sama dengan malaikat dalam istilah agama Kristen dan Islam. Ada malaikat Ridwan penjaga sorga, kita mengenal dewa Indra sebagai raja sorga. Ada Dewa Yama sebagai dewa kematian, ada malaikat Isroil sebagai malaikat pencabut nyawa.  Jadi  dewa bukanlah Tuhan seperti yang selama ini banyak disalahpahami bahkan oleh orang Hindu sendiri. Karena itulah Sankara tidak menyusun ulasan apapun terhadap kitab Bhagavata Purana yang menguraikan identitas Sri Krishna sebagai Bhagavan atau Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana kita ketahui, Sankara sendiri menyusun syair Bhaja Govindam yang sangat termasyur itu. Govinda adalah nama lain dari Sri Krishna.

Dalam perkembangannya, bermunculanlah acarya atau guru-guru yang mengoreksi ajaran-ajaran Sankaracarya. Diantaranya yang terkenal adalah Ramanujacarya dan Madhavacarya. Keduanya mengajarkan bhakti, yang menyatakan bahwa atman tidak pernah menyatu dengan brahman dalam arti yang sesungguhnya. Bhakti berarti pengabdian dan pelayanan kepada Tuhan dengan dilandasi oleh cinta kasih. Seorang bhakta tidak pernah mencita-citakan untuk menyatu dan menunggal dengan Tuhan. Yang menjadi keinginannya hanyalah  mengabdi dan melayani Tuhan dengan cinta yang tanpa pamrih. Cinta adalah sesuatu yang melibatkan kegiatan menerima (take) sekaligus memberi (give). Jadi, love melibatkan take and give. Harus bertimbal balik, dan tidak satu arah. Kalau hanya menerima saja tanpa pernah memberi, itu namanya pemerasan, bukan cinta. Cinta atau bhakti mengisyaratkan adanyapihak  yang mencintai dan obyek yang dicintai. Dalam ajaran Veda, obyek tertinggi cinta bhakti adalah Tuhan Sendiri. Ilmu pengetahuan inilah yang disebut dengan bhakti yoga. Menurut Steven Rosen (1996), tradisi Vaisnava atau bhakti yoga inilah yang merupakan praktek keagamaan tertua yang diikuti oleh masyarakat India, sebelum terjadinya penyimpangan Veda.

Tradisi monotheis, atau pemujaan kepada Tuhan yang Esa melalui bhakti inilah inti ajaran Bhagavad-gita dan Bhagavata Purana, dimana kedua kitab tersebut telah ada sejak 5107 tahun yang lalu. Banyak orang yang menganggap bahwa bhakti yoga adalah cara yang paling mudah dan remeh untuk mencapai kepada Tuhan. Karena itu banyak orang yang mengejek dan menganggap bahwa seorang bhakta adalah mereka yang kurang cerdas (kekurangan jnana) dan tidak mampu melakukan perbuatan (karma) yang lebih tinggi. Sesuai namanya, mereka menganggap bahwa Raja Yoga (meditasi) adalah yoga yang tertinggi. Tetapi, kalau benar bhakti adalah jalan termudah, mengapa orang tidak berbondong-bondong melakukannya? Mengapa memilih jalan yang lebih sulit? Mengapa tidak menempuh jalan termudah dan termurah?

Jadi, bhakti tanpa mengharapkan pamrih kepada Tuhan adalah puncak seluruh ajaran Veda sesungguhnya. Ajaran inilah yang telah disimpangkan sedemikian jauh, sehingga dalam pelurusannya dibutuhkan kemunculan Buddha Gautama dan Adi Sankaracarya. Puncak pelurusan itu terjadi dengan kemunculan Sri Krishna Caitanya, atau yang dikenal juga sebagai Sri Caitanya Mahaprabhu pada abad ke-15 Masehi. Kemunculan Sri Caitanya beserta ajarannya ini tidak banyak diketahui secara luas, sampai akhirnya pada tahun 1965, A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada memperkenalkan ajaran ini keseluruh dunia.

Dalam kitab-kitab Veda, terdapat sloka-sloka yang telah meramalkan kemunculan Sri Caitanya ini. Sri Caitanya adalah penjelmaan Sri Krishna pada jaman Kali. Dalam Mahabharata (Dhana-dharma, Vishnu Sahasranama Stotra) terdapat pernyataan yang  meramalkan identitas Sri Caitanya Mahaprabhu.

suvarna varno hemangovarangas candanangadi

sannyasa-krc chamah santonistha-santi-parayanah

 

Dalam kegiatanNya pada usia muda  Beliau muncul sebagai orang yang berumah tangga yang berwajah kuning emas. Anggota-anggota badanNya tampan sekali. BadanNya diolesi dengan tapal terbuat dari kayu cendana. Warna badannya seperti emas cair. Dalam kegiatan berikutnya, Beliau menjadi sannyasi dan Beliau tenang sentosa. Beliaulah tempat kedamaian dan bhakti tertinggi, sebab beliau membuat terdiam orang yang bukan penyembah dan tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan.” Mahabharata (Dhana-dharma, Vishnu Sahasranama Stotra)

Bagaimana kenyataannya? Apakah ramalan tersebut terpenuhi? Marilah kita simak riwayat hidup Sri Caitanya dan ajaran yang beliau sampaikan.

Sri Caitanya Mahaprabhu dilahirkan di Mayapur di kota Nadia, Benggala, India pada waktu magrib tanggal 23 bulan Phalguna tahun 1407 Sakabda, atau tanggal 18 Februari 1486. Pada saat Sri Caitanya dilahirkan, ada gerhana bulan. Sesuai dengan kebiasaan pada saat-saat seperti itu, para penduduk Nadia sedang mandi di sungai Bhagirati (Gangga) dengan mengucapkan “haribol” dengan suara keras-keras.  Ayah Sri Caitanya bernama Jagannatha Misra adalah seorang brahmana miskin yang mengikuti ajaran Veda. Ibu Sri Caitanya bernama Sacidevi adalah wanita yang memiliki segala sifat yang baik.  Sri Caitanya berwajah sangat tampan, wajah dan anggota badannya berwarna kuning keemasan. Menurut Jabir (1997) pada masa itu, kota Navadvipa merupakan kota yang menjadi pusat belajar yang menyaingi kota Benares, kota yang menjadi pusat terbesar bagi para pengikut Adi Sankaracarya. Kakek Sri Caitanya, Pandit Nilambara Cakravati, seorang ahli ilmu perbintangan yang terkenal, meramalkan bahwa Caitanya akan menjadi tokoh besar pada masanya. Cahaya badannya yang keemasan membuat Caitanya dikenal pula sebagai Gauranga. Dalam bahasa Sanskerta, “gaura” berarti emas, sedangkan “angga” artinya anggota badan. Dalam usia sepuluh tahun, Sri Caitanya telah menjadi seorang sarjana yang terpelajar dalam bidang logika, tata bahasa, ilmu berpidato, dan menguasai berbagai kitab suci. Karena itulah ia juga digelari sebagai Nimai Pandit. Disebut nimai karena beliau terlahir di bawah pohon nim (pohon nimbo). Kata pandit menunjukkan gelar bagi orang yang sangat terpelajar. Semua sarjana terpelajar kota Nadia mengakui kehebatan Sri Caitanya, yang menjadi semakin termasyur setelah ia berhasil mengalahkan Kesava Misra dari Kasmir, seorang pandit besar pada masa itu, dalam debat yang dilakukan dihadapan orang banyak.

Pada saat berusia 14 atau 15 tahun, Sri Caitanya menikah dengan Laksmi devi, putra Vallabhacarya yang juga berasal dari Nadia. Namun, tidak lama kemudian Laksmidevi meninggal dunia akibat gigitan ular berbisa.  Atas permintaan ibunya, Sri Caitanya menikah lagi dengan Visnupriya, putri Raja Pandita Sanatana Misra.  Saat berusia 16 tahun, Sri Caitanya diterima sebagai murid oleh seorang guru kerohanian bernama Isvara Puri, seorang sanyasi Vaisnava. Setelah pulang dari Nadia, Nimai Pandit mengajarkan prinsip-prinsip keagamaan, dan sifat kerohanian menjadi begitu kuat dalam Dirinya. Tokoh-tokoh Vaisnava yang lebih tua menjadi heran melihat perubahan pada diri pemuda itu. Sebelumnya Nimai Pandit tidak lebih dari seorang naiyayika yang suka berdebat, seorang smarta yang suka berargumentasi dan seorang ahli pidato yang suka mencela.  Sekarang Sri Caitanya hampir pingsan kalau  beliau mendengar nama Krishna dan beliau bertindak seperti orang yang mempunyai semangat tinggi karena pengaruh perasaan rohani.

Sri Caitanya khususnya mengajarkan proses rohani dalam bentuk pengucapan nama-nama suci Tuhan. Ajaran Sri Caitanya sama dengan ajaran yang diberikan oleh Sri Kapila, pengemuka pertama ajaran Sankhya-yoga. Filsafat sankya yang dibenarkan menganjurkan agar seseorang semadi pada bentuk rohani Tuhan. Tidak mungkin kita bermeditasi pada kekosongan ataupun pada sesuatu yang tidak memiliki sifat pribadi. Sri Caitanya Mahaprabhu mengajarkan filsafat yang disebut dengan Acintya bedhaabedha-tattva. Menurut filsafat tersebut, Tuhan Yang Maha Esa sama dengan ciptaan-Nya dan pada waktu yang samaberbeda dari ciptaan itu. Contoh yang baik untuk memahami filsafat tersebut adalah sebagai berikut. Cahaya matahari dan bola matahari dapat dikatakan sebagai dua obyek yang sama namun sekaligus berbeda pada saat yang sama. Tidak ada cahaya matahari kalau tidak ada bola matahari sebagai sumbernya. Sebaliknya, bola matahari tidak akan bermanfaat kalau tidak  memancarkan cahaya matahari. Sekarang, misalnya kita berada dalam suatu kamar yang diterangi cahaya matahari. Dapatkah kita mengatakan bahwa matahari berada dalam kamar kita, hanya karena adanya cahaya matahari dalam ruangan kita? Tentu saja tidak!

Jadi, matahari dan cahaya matahari sama sekaligus berbeda pada saat yang sama.

Begitu pula Tuhan dan ciptaan-Nya. Menurut Veda, Tuhan memiliki tiga sifat utama yaitu sat, cit, dan ananda. Sat artinya kekal, Tuhan Maha Kekal. Cit artinya penuh pengetahuan (full of knowledge), Tuhan Maha Tahu, segala pengetahuan berasal dari Beliau. Ananda berarti penuh kebahagiaan (full of bliss), Tuhan adalah sumber kebahagiaan sejati. Karena itulah, orang menjadi bahagia bila ia merasa dekat dengan Tuhan. Tuhan memiliki ketiga sifat utama itu tanpa batas.

Sebagai atman (roh) kita juga memiliki ketiga sifat tersebut. Kita kekal, roh tidak pernah mati, hanya menggantikan badan. Roh tidak pernah diciptakan, sebagaimana Tuhan juga tidak diciptakan. Kita juga penuh pengetahuan, namun saat ini kesadaran kita sedang tercemari karena kita terperangkap dalam badan jasmani. Kita juga selalu mendambakan kebahagiaan, karena pada dasarnya sifat kita adalah ananda. Bagaimana memahami hal ini dalam pengalaman nyata sehari-hari?  Mudah sekali. Berdirinya rumah sakit, menunjukkan bahwa kita ingin terus hidup, mencari kekekalan. Berdirinya sekolah, perguruan tinggi, laboratorium, perpustakaan dll adalah untuk memenuhi kebutuhan kita akan hausnya pengetahuan. Kita selalu mengejar-ngejar kesenangan duniawi, karena kita ingin bahagia. Itulah cermin ketiga sifat itu, sat, cit, dan ananda.

Jadi, ketiga sifat itu sama-sama dimiliki oleh Tuhan dan oleh ciptaan-Nya. Namun, makhluk hidup hanya memiliki dalam jumlah kecil sifat-sifat tersebut, sedangkan Tuhan memilikinya tanpabatas.

Jadi, pada dasarnya kita hanya sama dalam kualitas, namun berbeda jauh dalam kuantitas. Inilah yang dimaksud oleh Sri Caitanya dengan filsafat    acintya bedhaabheda-tattva.

Sri Caitanya mengajarkan filsafat tersebut melalui cara memuji nama suci Tuhan. Beliau mengajarkan bahwa nama suci Tuhan merupakan penjelmaan Tuhan dalam bentuk suara. Oleh karena Tuhan Yang Maha Esa adalah keseluruhan yang mutlak, tidak ada perbedaan antara nama suci Tuhan dengan bentuk rohani Tuhan. Dengan mengucapkan nama suci Tuhan seseorang dapat mengadakan hubungan secara langsung dengan Tuhan Yang Maha Esa melalui getaran suara rohani. Selama seseorang mempraktekkan ucapan getaran suara tersebut, dia naik tingkat melalui tiga tahap perkembangan : yaitu tingkat ia masih melakukan kesalahan, tingkat kesalahan yang dilakukan dihilangkan, lalu tingkat rohani.

Pada tingkat seseorang masih melakukan kesalahan, barangkali ia menginginkan segala jenis kebahagiaan material, tetapi pada tingkat kedua ia menjadi bebas dari segala pengaruh material. Apabila seseorang sudah berada pada tingkat rohani, ia mencapai kedudukan yang paling didambakan oleh setiap orang – yaitu cinta bhakti yang murni kepada Tuhan Yang Maha Esa.  Sri Caitanya mengajarkan bahwa inilah tingkat kesempurnaan tertinggi kehidupan manusia.

Sri Caitanya kemudian mengajarkan secara luas gerakan sankirtan kepada masyarakat luas. Sankirtan adalah pengucapan nama-nama suci Tuhan yang dilakukan secara beramai-ramai, dengan diiringi alat-alat musik tradisional. Sri Caitanya khususnya menganjurkan agar seseorang mengucapakan Maha Mantra Hare Krishna yang telah ditetapkan dalam kitab Kalisantarana Upanisad sebagai yuga dharma untuk jaman Kali Yuga.

 

Hare Krishna Hare Krishna

Krishna Krishna Hare Hare

Hare Rama Hare Rama

Rama Rama Hare Hare

Berangsur-angsur, penduduk Nadia mulai mengikuti apa yang dilakukan oleh Sri Caitanya. Mereka beramai-ramai menyanyikan nama-nama Krishna di jalan-jalan dikota Nadia dengan diiringi instrumen  musik. Demikianlah, gerakan sankirtan Sri Caitanya mulai berkembang pesat, bahkan mulai menyebar ke daerah diluar Nadia.

Sri Caitanya mengajarkan bahwa orang hendaknya mengucapkan nama-nama suci Tuhan dan memuja Tuhan Yang Esa dan Maha Tunggal. Para brahmana kolot di kota Nadia dan sekitarnya yang terbiasa memuja banyak dewa merasa terganggu dan iri hati pada keberhasilan Sri Caitanya. Orang-orang Hindu ini kemudian mengadukan perbuatan Sri Caitanya itu kepada penguasa kota Navadvipa. Mereka menuduh Sri Caitanya telah merusak dan menghancurkan tradisi turun temurun yang dilakukan oleh para brahmana itu, yaitu pemujaan kepada banyak dewa, yang semuanya dianggap Tuhan.

Pada masa itu, kota Navadvipa dibawah penguasaan seorang muslim. Ketua pengadilan di kota itu dijabat oleh Chan Kazi, seorang pemeluk Islam yang taat. Sebagai seorang jaksa, ia merasa berkewajiban untuk menindaklanjuti laporan para brahmana itu.

Bersama para pesuruhnya, ia lalu mendatangi para pengikut Sri Caitanya yang sedang melakukan sankirtan. Chan Kazi  membubarkan orang-orang itu, dan memecahkan gendang serta  mengancam agar orang-orang berhenti menyanyikan nama Krishna. Chan Kazi meminta agar Sri Caitanya berhenti melakukan kegiatannya yang aneh dan dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip agama Hindu. Kalau hal itu masih dilakukan, mereka akan ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara.

Mengetahui hal itu, Sri Caitanya lalu mengumpulkan ribuan orang pengikutnya dan mengajak mereka beramai-ramai mendatangi rumah Chan Kazi pada malam hari. Ribuan orang itu membawa obor dan mengepung rumah Chan Kazi sambil menyanyikan Maha Mantra Hare Krishna.

Kazi menjadi ketakutan, lalu mengajak Sri Caitanya berdialog panjang lebar. Sri Caitanya, yang tidak lain adalah penjelmaan Sri Krishna sendiri, bahkan mengutip  ayat-ayat Al-Quran dan digabungkan dengan sloka-sloka Veda untuk membuktikan bahwa apa yang dilakukan oleh Sri Caitanya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip kitab suci. Chan Kazi mengutip ayat Al-Quran untuk membenarkan pembunuhan sapi, namun Sri Caitanya mengutip lebih banyak ayat Al-Quran yang membuktikan bahwa pembunuhan sapi bahkan tidak dibenarkan dalam Al-Quran sendiri.

Karena Sri Caitanya mengajarkan agar orang bermeditasi pada bentuk pribadi Tuhan, Chan Kazi mengutip ayat-ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Allah tidak berwujud. Tapi Sri Caitanya mengutip lebih banyak ayat Al-Quran dan sloka-sloka Veda yang membenarkan bahwa Tuhan sesungguhnya memiliki wujud pribadi yang bersifat rohani. Hasil diskusi lengkap ini tercatat dalam kitab Sri Caitanya Caritamrta, biografi Sri Caitanya yang ditulis oleh Sri Krishna Kaviraja das. Secara terpisah, dialog tersebut telah dijadikan buku tersendiri oleh Akif Manaf Jabir, Ph.D, seorang Hindu kelahiran muslim yang berasal dari Azarbaizan. Kedua buku tersebut adalah The Enlightmen of Chan Kazi (Pencerahan Chan Kazi). Buku lainnya adalah The Hidden Treasure of Al-Qur’an (Harta Karun Tersembunyi dalam Al-Qur’an) terbitan The Dhabir Khas Trust, India, 1997, yang berisi dialog antara Sri Caitanya dengan pemimpin muslim lainnya yang bernama Abdullah Pathan. Anda dapat mengunjungi perpustakaan Narayana Smrti Ashram untuk membaca kedua buku tersebut.

Menjelang usainya diskusi itu, Chan Kazi dapat mengakui kebenaran ajaran Sri Caitanya bahwa Tuhan itu hanya satu, tiada duanya, namun memiliki berjuta-juta nama. Akhirnya, Sri Caitanya menyampaikan pengaruh Vaisnava ke dalam hati Chan Kazi dengan cara menyentuh badannya. Pada saat itu Kazi menangis dan mengakui bahwa ia telah merasakan  pengaruh rohani yang kuat dan pengaruh itu telah menghilangkan keragu-raguannya dan menimbulkan rasa rohani di dalam hatinya yang memberikan kebahagiaan tertinggi baginya.

Pada akhirnya Chan Kazi mendukung gerakan sankirtan Sri Caitanya dan memerintahkan seluruh penduduk muslim di kota Navadvipa agar menghormati dan tidak melakukan gangguan apapun terhadap gerakan sankirtan Sri Caitanya. Perintah tersebut diikuti oleh penduduk kota Nadia turun temurun.

Orang-orang menjadi kagum pada kekuatan spiritual Sri Caitanya, karena beliau mampu mengubah hati orang yang tadinya sangat memusuhi pengucapan nama-nama suci Krishna, kini justru sebaliknya, memberikan perlindungan terhadap kegiatan itu.

Setelah peristiwa itu, Sri Caitanya menarik hati ribuan orang, tanpa dibatasi status sosialnya dalam masyarakat, untuk mengikuti kegiatan rohani beliau. Ketika raja muslim Bengal, Nawab Hussein Shah Badahasah mendengar kehebatan pengaruh Sri Caitanya dalam menarik ribuan orang mengikuti ajarannya, ia menjadi sangat heran dan berkata :” Orang seperti itu, yang mampu menarik ribuan orang tanpa memberi imbalan apapun kepada mereka, pastilah utusan Tuhan. Saya dapat meyakini hal itu.” Nawab Hussein kemudian memerintahkan para jaksa “Jangan mengganggu Sri Caitanya dan kegiatannya hanya karena rasa iri. Biarkan beliau melakukan apapun yang dikehendakinya” (Jabir, 1997). Nawab Hussein dapat melihat bagaimana kekuatan Allah bertindak melalui diri Sri Caitanya, dan ia meyakini sifat-sifat rohani yang dimiliki oleh Beliau.

Sesudah kejadian itu, beberapa brahmana yang iri hatinya dan jahat ingin  bertengkar dengan Sri Caitanya. Mereka mengumpulkan sejumlah orang untuk melawan Sri Caitanya.  Sewajarnya beliau murah hati, walaupun tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsipnya.  Sri Caitanya menyatakan bahwa perasaan partai-partai sendiri dan pembentukan sekte-sekte merupakan dua hambatan utama untuk mencapai kemajuan rohani. Dan selama beliau masih tetap menjadi penduduk Nadia dan anggota keluarga tertentu, missi-Nya tidak akan memperoleh sukses yang lengkap.  Pada usia 24 tahun, dengan ketabahan hati yang luar biasa, Sri Caitanya memutuskan untuk menjadi warga dunia dengan memutuskan hubungan dengan keluarga, golongan dan kepercayaan-Nya. Sri Caitanya memasuki tahap hidup sebagai sanyasin (tahap hidup meninggalkan hal-hal duniawi) di Katwa, dibawah bimbingan Kesava Bharati. Ibu dan istrinya menangis terisak-isak karena rindu, namun Sri Caitanya berjiwa pahlawan: walaupun beliau murah hati, namun beliau berpegang teguh pada prinsip-prinsipNya yang kuat. Sri Caitanya meninggalkan dunia kecil di rumahNya, untuk masuk dunia rohani Krishna yang tidak terhingga bersama masyarakat umum.

Banyak peristiwa ajaib yang dilakukan oleh Sri Caitanya. Banyak sanyasin dalam garis perguruan Sankaracarya yang berhasil dikalahkan dalam debat. Sankaracarya mengajarkan bahwa aspek Tuhan tertinggi adalah kekosongan atau Brahman, sedangkan Sri Caitanya menegaskan bahwa aspek tertinggi Tuhan adalah Tuhan yang memiliki sifat pribadi, berwujud rohani. Bahwa Brahman hanyalah cahaya yang menutupi badan rohani Tuhan. Wujud rohani Tuhan hanya mampu dilihat oleh

mereka yang sudah meninggalkan keinginan duniawi, termasuk keinginan untuk menyatu dengan Brahman. Menurut Sri Caitanya, moksa atau pembebasan berarti bahwa kita akan kembali mendapat badan rohani yang cocok untuk masuk dan hidup dalam kerajaan Tuhan. Namun perlu dicatat bahwa kalau pun kita berhasil masuk kerajaan Tuhan, tidak berarti kita lantas berubah menjadi Tuhan, kita masih akan tetap menjadi pelayan kekal Beliau, dalam hubungan cinta kasih yang bertimbal balik.  Disinilah kita akan memperoleh kembali sifat asli kita : sat, cit, ananda.

Selama seseorang masih memiliki keinginan untuk menjadi Tuhan, maka selama itu pula ia akan masih jatuh dalam perputaran lingkaran kelahiran dan kematian (samsara). Demikianlah, Sri Caitanya berhasil menyempurnakan misi pelurusan dan    pemurnian ajaran Vedapemurnian ajaran Veda, yang dilakukan secara bertahap mulai dari Sang Buddha, dilanjutkan oleh Adi Sankaracarya, dan puncaknya oleh Sri Caitanya Mahaprabhu.

Dari uraian di atas, dapat kita buktikan bahwa ramalan tentang Sri Caitanya dalam Mahabharata tersebut sungguh-sungguh menjadi kenyataan. Banyak ayat lain yang meramalkan kemunculan Sri Caitanya dan misi beliau. Sri Caitanya meramalkan bahwa pengucapan nama-nama suci Krishna dalam bentuk Maha Mantra : Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare/Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare akan menyebar dan dikenal di seluruh pelosok desa dan kota di seluruh dunia. Bhakti Yoga akan menjadi yuga dharma atau dharma pada jaman Kali Yuga, serta akan mengalami masa keemasan selama 10.000 tahun mendatang.

Sri Caitanya hadir di dunia ini selama 48 tahun, dan beliau menghilang dari pandangan mata pada tahun 1534. Para murid Sri Caitanya menulis dan menyusun kitab-kitab yang berisi ajaran-ajaran bhakti kepada Sri Krishna sebagaimana yang diajarkan oleh Sri Caitanya. Semua ajaran itu di dasarkan pada ajaran Bhagavad-gita, Bhagavata Purana, dan kitab-kitab Upanisad lainnya yang memiliki nilai rohani yang sangat mendalam. Dua di antara murid terkemuka Sri Caitanya adalah Dhabira Khasa dan Sakara Malik, dua mentri kesayangan  raja muslim Bengal  yang bernama Nawab Hussein Shah  yang mendukung dan melindungi kegiatan sankirtan Sri Caitanya tersebut. Kedua kakak beradik itu mundur dari jabatannya sebagai mentri, lalu menyerahkan diri kepada Sri Caitanya. Keduanya kemudian mendapat nama rohani Rupa Gosvami dan Sanatana Gosvami yang beserta empat gosvami lainnya melanjutkan misi Sri Caitanya dengan menyusun karya-karya rohani yang tak terhingga banyaknya. Mereka dikenal sebagai enam gosvami, sejenis wali songo.

Ajaran Sri Caitanya disebarluaskan dan dipertahankan kemurniannya melalui sistem parampara (garis perguruan rohani yang dibenarkan yang tidak pernah menyimpang sampai dengan jaman modern ini.

Setelah selama beratus-ratus tahun menjadi teka-teki, akhirnya ramalan Sri Caitanya mulai menjadi kenyataan. Om Visnupada A.C. Bhaktivedanta Swami Prabhupada (1896 – 1977) mewujudkan misi Sri Caitanya tersebut, dengan menyebarkan ajaran Vaisnava atau Bhakti Yoga tersebut ke Amerika pada tahun 1965. Selama dua belas tahun pengajarannya, Srila Prabhupada, demikian beliau lebih dikenal, berhasil menarik ribuan orang dari seluruh dunia untuk mengikuti proses yang diajarkan oleh Sri Caitanya. Beliau menyusun kitab Bhagavad-gita As It Is (Bhagavad-gita Menurut Aslinya) menterjemahkan Bhagavata Purana, Sri Caitanya Caritamrta (biografi Sri Caitanya) dan menulis lebih dari 80 judul buku tentang ajaran Veda. Selama 12 tahun, Srila Prabhupada keliling dunia sebanyak 14 kali, dan pernah ke Indonesia pada tahun 1973.

 

Identitas Sri Caitanya & Ramalan Misinya

1. Bhagavata Purana (11.5.32)

kåñëa-varëaà tviñäkåñëaà

säìgopäìgästra-pärñadam

yajïaiù saìkértana-präyair

yajanti hi su-medhasaù

 

 

Pada zaman Kali, orang cerdas bersama-sama memuji nama-nama suci Tuhan untuk menyembah penjelmaan Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa menyanyikan nama Krishna.Walaupun wajah Beliau tidak hitam, Beliau adalah Krishna Sendiri. Beliau diiringi oleh rekan-rekan, hamba-hamba, perlengkapan, dan teman-teman-Nya yang dekat”.

2. Upa-Purana

 

Sri Krishna bersabda kepada Rsi Vyasa :

aham eva kvacid brahman sanyasramam asritah

hari-bhaktim grahayami kalau papa hatan naran

“Wahai brahmana yang bijaksana, kadang-kadang Aku menjadi sanyasi (tingkat meninggalkan hal-hal duniawi) untuk memberi pelajaran kepada orang yang sudah jatuh pada zaman Kali agar mereka mulai  ber-bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.”

3. Mahabharata (Dhana-dharma, Vishnu Sahasranama

suvarna varno hemangovarangas candanangadi

sannyasa-krc chamah santonistha-santi-parayanah

 

Dalam kegiatanNya pada usia muda  Beliau muncul sebagai orang yang berumah tangga yang berwajah kuning emas. Anggota-anggota badanNya tampan sekali. BadanNya diolesi dengan tapal terbuat dari kayu cendana. Warna badannya seperti emas cair. Dalam kegiatan berikutnya, Beliau menjadi sannyasi dan Beliau tenang sentosa. Beliaulah tempat kedamaian dan bhakti tertinggi, sebab beliau membuat terdiam orang yang bukan penyembah dan tidak mengakui bentuk pribadi Tuhan.”

 

Para sarjana sangat menghargai kesarjanaan dan kedalaman bhakti buku-buku karya Srila Prabhupada. Saat meninggal dunia pada 14 November 1977, Srila Prabhupada telah berhasil mendirikan 108 temple, ashram, dan kawasan pertanian organik di seluruh wilayah dunia. Sebuah prestasi yang oleh para sarjana Barat dianggap sangat laur biasa, yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Dimana orang-orang Barat,  yang tadinya sama sekali asing terhadap kebudayaan Veda, dalam waktu sangat singkat menerima dan mempraktekakkan ajaran bhakti yoga dengan keseriusan yang luar biasa dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Karena menekankan proses spiritual dalam bentuk pengucapan secara berulang-ulang (japa atau zikir) Maha Mantra Hare Krishna, maka gerakan sankirtan Sri Caitanya lebih dikenal secara luas di dunia sebagai Perkumpulan Hare Krishna.

Pada hari Sabtu tanggal 19 Maret 2011 ini, para Vaisnava dan pengikut Sri Caitanya di seluruh dunia memperingati Sri Gaura Purnima 525, yaitu perayaan hari kemunculan Sri Caitanya. Ditempat kelahiran Sri Caitanya di Mayapur, penyembah dari berbagai belahan dunia berkumpul bersama, menyanyikan nama-nama suci Sri Caitanya Mahaprabhu.  Mereka berasal dari  Afrika, Jepang, Cina, Iran, Rusia, Palestina, Israel, Eropa, Amerika, Australia, dll. Mereka bersama-sama merasakan manisnya rasa rohani yang diperoleh dari pengucapan nama-nama suci Tuhan. Pertanda bahwa Veda akan kembali menjadi pegangan bagi spiritualitas dunia. Banggalah menjadi Hindu!

sumber :

http://narayanasmrti.com/2011/03/18/sri-gaura-purnima-kemunculan-sri-caitanya-mahaprabhu-avatara-krishna-di-jaman-kali-yuga-ramalan-serta-misinya-dalam-kitab-kitab-veda/

Pembunuhan dan Vegetarianisme

Pembunuhan dan Vegetarianisme

Pembunuhan dan Vegetarianisme

Salah satu sloka dalam ajaran Veda mengatakan; “Ahimsaya paro dharmah” yang bisa diartikan: “Dharma atau kebajikan tertinggi adalah ahimsa”. Apa itu ahimsa? Beberapa orang mengatakan bahwa ahimsa berasal dari kata “a” yang artinya tidak dan “himsa” yang artinya membunuh. Sehingga mereka mengatakan bahwa ahimsa artinya tidak membunuh. Permasalahannya adalah apakah mungkin dalam kehidupan ini kita lepas dari pembunuhan? Setiap mahluk hidup dari yang terbesar sampai kepada yang terkecil memerlukan makanan dalam mempertahankan hidupnya dan semua itu tidak mungkin lepas dari pembunuhan. Manusia yang menjalani kehidupan frutarian yang hanya memakan daging buah sekalipun tidak akan pernah luput dari pembunuhan. Setiap udara yang dia hirup akan membawa sejumlah jasat renik yang akhirnya binasah akibat sistem pertahanan tubuhnya. Setiap air yang dia masak sudah pasti mengandung jutaan bakteri dan virus. Dan setiap gerak langkah aktivitasnya meski dilakukan secara tidak sengaja, sudah pasti berkaitan dengan pembunuhan. Sehingga dengan demikian, tidaklah tepat jika “ahimsa” diartikan sebagai tidak membunuh. Srila Prabhupada dalam Bhagavad Gita menurut aslinya sloka 10.5, 13.8, 16.2, dan 17.14 mengartikan ahimsa sebagai tidak melakukan kekerasan. Memang benar bahwasanya membunuh adalah salah satu bentuk dari tindakan kekerasan. Tetapi ada pembunuhan-pembuhuhan yang diijinkan dan bahkan diwajibkan oleh ajaran Veda. Membunuh untuk mempertahankan hidup bukanlah tindakan himsa karma. Bahkan Bhagavad Gita yang disabdakan oleh Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna adalah merupakan perintah kepada Arjuna untuk bangkit dan melakukan kewajibannya membunuh lawan-lawannya di medan perang. Pembunuhan harus dilakukan dalam rangka melakukan tugas dan kewajiban. Seorang Brahmana yang berkualifikasi dapat pembunuhan binatang dalam rangka korban suci. Seorang Ksatria seperti Arjuna yang tugas dan kewajibannya bela negara dan menghancurkan musuh demi dharma maka harus siap melakukan pembunuhan walaupun yang harus dia bunuh adalah sanak keluarga, guru dan saudara-saudaranya sendiri. Begitu juga dengan seorang Hakim sebagaimana disampaikan dalam kitab hukum Hindu, Manu Samhita tidak boleh disalahkan hanya karena dia menjatuhkan hukuman dan mengeksekusi mati narapidana yang telah terbukti melakukan dosa berat membunuh orang lain. Seseorang yang membela diri dari serangan perampok demi mempertahankan jiwa raga dan harta bendanya pun tidak boleh disalahkan karen membunuh si perampok. Begitu juga semua mahluk hidup yang melakukan pembunuhan demi makan dan mempertahankan hidupnya tidak bisa serta merta kita salahkan. Bahkan Bhagavata Purana 6.4.9 mengatakan: “annaḿ carāṇām acarā hy apadaḥ pāda-cāriṇām ahastā hasta-yuktānāḿ dvi-padāḿ ca catuṣ-padaḥ, secara alamiah, buah-buahan dan bunga diperuntukkan sebagai makanan untuk serangga dan burung; rumput dan binatang yang tidak berkaki adalah sebagai makanan binatang berkaki empat seperti sapi dan kerbau; binatang yang tidak menggunakan kaki depannya sebagai tangan adalah makanan bagi binatang seperti macan, yang memiliki cakar; dan binatang berkaki empat seperti rusa dan kambing, maupun biji-bijian, adalah makanan bagi manusia”. Ini berarti secara alami manusia memang diijinkan melakukan pembunuhan binatang untuk kebutuhan hidupnya. Meskipun demikian, hendaknya kita harus menyikapi “hak” membunuh ini dengan sangat hati-hati. Jangan beranggapan bahwasanya kita bisa melakukan pembunuhan sembarangan dengan alasan bahwa sang roh tidak pernah terbunuh meski badan materialnya terbunuh. Karena tidakan membunuh seperti ini bertentangan dengan prinsip bahwasanya jika suatu mahluk hidup dibunuh tanpa aturan kitab suci, itu berarti kita telah menghalangi proses evolusi sang roh mahluk hidup bersangkutan. Karena itulah dikatakan pula bahwa ahimsa dapat diartikan tidak menghalang-halangi kehidupan makhluk hidup mana pun yang maju dari salah satu jenis kehidupan ke jenis kehidupan yang lain. Dalam melakukan pembunuhan kita juga harus memandang kualifikasi personal kita. Sebagai contoh, pembunuhan binatang dalam korban suci diijinkan dengan tujuan agar roh binatang yang dikorbankan tersebut bisa naik derajatnya dan mencapai sorga. Permasalahannya adalah apakah saat ini masih ada Brahmana yang berkualifikasi? Apakah kita sanggup mengangkat roh binatang yang kita bunuh tersebut mencapai sorga sementara diri kita sendiri belum tentu bisa mencapai sorga? Karena itulah kitab suci Veda sebagaimana tertuang dalam Vishnu Puräna 6.2.17, Padma Puräna Uttara Kanda 72.25, Brhan-Naradiya Puräna 38.97, Bhägavata Puräna 11.5.32 dan 12.3.52, Narayana Samhita serta banyak lagi sloka-sloka Veda yang lainnya menegaskan bahwa pada Kali Yuga ini korban suci binatang tidak dianjurkan karena hampir tidak ada Brahmana yang memiliki kualifikasi melakukan korban binatang. Demikian juga dalam hal membunuh untuk alasan makanan demi mempertahankan hidup. Benarkah tindakan kita membunuh suatu binatang untuk mempertahankan hidup atau hanya demi memenuhi nafsu kita memakan berbagai jenis daging? Pada jaman sekarang yang kita katakan sebagai peradaban modern, manusia berusaha mengembangkan teknologi peternakan, rumah pemotongan hewan dan pemrosesannya menjadi berbagai macam produk makanan instan siap saji dengan berbagai cita rasanya. Manusia cenderung melakukan perburuan berbagai jenis makanan mulai dari kuliner tradisional yang mudah di dapat sampai pada makanan yang diolah dari daging binatang langka yang tidak seharusnya di bunuh dan bahkan juga ada yang diolah dari janin manusia sebagaimana pemberitaan yang pernah santer di dunia maya. Apakah kuliner seperti ini dapat kita kategorikan sebagai tindakan membunuh untuk mempertahankan hidup yang dibenarkan oleh ajaran Dharma? Pada jaman dahulu, para Ksatria secara rutin pergi ke hutan untuk berburu. Perburuan yang mereka lakukan adalah dalam rangka melatih ilmu memanah dan bela diri mereka. Jenis binatang yang mereka jadikan target pun tidaklah sembarangan. Biasanya mereka akan berburu rusa, babi hutan dan beberapa jenis burung. Sebagai konsekuensi dari pembunuhan ini, maka daging binatang tersebut tidak boleh mereka buang, tetapi harus di makan atau dibakar dengan mengikuti aturan upacara pembakaran mayat manusia sebagaimana yang masih diikuti oleh beberapa kelompok masyarakat di Jaipur – India sampai saat ini. Demikian juga para petani, mereka biasanya melakukan perburuan terhadap binatang-binatang yang menjadi hama bagi lahan pertanian mereka. Para petani menangkap berbagai jenis serangga seperti jangkrik dan belalang yang kemudian mereka konsumsi sebagai lauk-pauk. Binatang-binatang pengerat seperti tupai, tikus dan babi hutan juga sering kali menjarah lahan pertanian mereka sehingga mereka harus memburu dan membunuhnya. Dan tentunya, binatang hasil buruan ini harus mereka santap dari pada dibuang percuma. Bahkan beberapa sistem masyarakat di Bali masih mengikuti tradisi Veda dengan melakukan upacara pengabenan bangkai tikus hasil perburuan di sawah. Hanya saja apa yang terjadi sekarang? Babi yang dulunya merupakan hama, malahan sekarang dipelihara dan diternakkan hanya karena alasan dagingnya. Demikian juga degan binatang-binatang lainnya yang dipelihara bukan lagi dengan tujuan mempertahankan hidup, tetapi sudah mengarah pada pemenuhan selera makan semata. Padahal kalau manusia mau berpikir cerdas tanpa mendahulukan nafsu makannya semata, akan jauh lebih bijak jika mereka mengkonsumsi langsung tumbuhan atau biji-bijian yang diberikan ke binatang yang mereka ternakkan dari pada menunggu daging binatang ternah tersebut siap dikonsumsi. Menurut penelitian, untuk 1 hektar lahan jika digunakan menggemukkan 1 ekor sapi maka kita dapat menghasilkan protein sekitar 0,5 Kg. Sementara itu dalam kurun waktu yang sama, jika lahan tersebut digunakan untuk menanam kedelai dan kedelai itu langsung dapat dikonsumsi manusia maka dapat dihasilkan protein sekitar 8,5 Kg. Jadi dengan kata lain untuk bisa menikmati daging dalam jumlah yang sama kita memerluka 17 kali luas lahan jika dibandingkan dengan mengkonsumsi produk nabati. Begitu juga jika kita beternak binatang yang lain. Pada kenyataanya, maksimal hanya 10% dari seluruh makanan yang kita berikan kepada binatang tersebut yang terkonversi menjadi daging, sementara selebihnya hanya akan terbuang percuma menjadi kotoran. Sehingga secara hitung-hitungan ekonomi, dengan mengurangi konsumsi daging sebenarnya kita bisa berhemat sumber daya alam sampai 90%. Saat ini terjadi bencana kelaparan di mana-mana bukan karena Bumi tidak mampu menyediakan makanan bagi mahluk hidup yang ada di atasnya, tetapi karena keserakahan manusia dalam memanfaatkan sumber daya alam. Paul dan Anne Ehrlich dalam bukunya berjudul “Population, Resources And Environtment” mengatakan bahwa di Amerika, Untuk menghasilkan 1 pon gandum memerlukan 60 pon air, sementara untuk menghasilkan 1 pon daging perlu air 2.500 – 6.000 pon. Dan dari penjabaran-penjabaran yang dia sampaikan, diambil kesimpulan jika seluruh masyarakat dunia memiliki gaya hidup seperti orang Amerika, maka kita memerlukan 3 buah planet bumi lagi untuk menyokong kehidupan kita. Andaikan masyarakat kita peduli dengan krisis seperti ini, seharusnya bahan nabati yang dijadikan pakan ternak bisa dialihkan untuk dapat dikonsumsi langsung dan disalurkan ke daerah-daerah yang memerlukan sehingga tidak ada lagi bencana kelaparan seperti sering kali kita dengar akhir-akhir ini. Jika lingkungan kita menyediakan begitu banyak makanan nabati dan tidak ada serangan hama binatang yang berarti, itu artinya sama sekali tidak ada alasan pembunuhan binatang untuk bahan makanan. Pembunuhan hanya diijinkan jika lingkungan memang benar-benar tidak mendukung. Seperti contoh suku eskimo yang hidup di Alaska dimana di sana sama sekali tidak terdapat biji-bijian dan sayuran sehingga mereka hanya bisa bertahan hidup dengan berburu anjing laut, dan berbagai jenis ikan. Begitu juga dengan mereka yang hidup di gurun dan savana yang tandus. Mungkin mereka hanya bisa bertahan hidup dengan berburu binatang liar atau berternakk beberapa jenis binatang untuk diambil susu dan dagingnya. Tetapi meskipun demikian, bukan berarti semua binatang boleh dibunuh dan dimakan dagingnya. Ṛg Veda 9.46.4 mengatakan: “gobhiḥ prīṇita-matsaram” yang berarti bahwa orang yang sudah puas sepenuhnya dengan susu tetapi ingin membunuh sapi berada dalam kebodohan yang paling kasar. Visnu Purana 1.19.65 juga mengatakan: “namo brahmaṇya-devāya go-brāhmaṇa-hitāya ca jagad-dhitāya kṛṣṇāya govindāya namo namaḥ, Tuhan yang hamba cintai, Andalah yang mengharapkan kesejahteraan sapi dan para brahmana, dan Anda mengharapkan kesejahteraan seluruh masyarakat manusia dan dunia”. Sehingga dengan demikian, andaipun kita harus membunuh untuk mempertahankan hidup dari kurangnya sumber makanan, tetapi sapi sebagai binatang yang sering kali juga disebut “mata” atau ibu dalam kitab suci Veda sama sekali tidak boleh dibunuh. Dari penjabaran di atas, yang ingin saya tekankan di sini adalah bahwasanya Veda tidak pernah mengatakan tidak boleh membunuh dan tidak juga mengatakan pola hidup Vegetarian wajib bagi seluruh penganut Veda. Vegetarian adalah sebuah usaha pengendalian diri dari nafsu bagi mereka yang ada dalam tingkatan spiritualitas tertentu dan juga merupakan anjuran kitab suci Veda dalam upaya menjaga keseimbangan alam dengan cara menghindari pola hidup mengeksploitasi sumber daya alam seperti contoh peternakan modern saat ini. Jika kita hidup dalam lingkungan yang miskin bahan makanan nabati, maka kita boleh membunuh dan mengkonsumsi binatang. Jika dalam lahan pertanian kita terdapat banyak binatang yang merupakan hama, maka binatang itu dapat kita bunuh dan santap dagingnya. Tetapi jika kita hidup dalam lingkungan yang sangat mudah mendapatkan biji-bijian dan sayur-sayuran tetapi kita masih saja bersikeras memaksakan diri membunuh dan menyantap binatang, maka kita mungkin harus segera merenung. Apa benar pembunuhan yang kita lakukan sesuai dengan aturan dalam kitab suci Veda?   Om tat sat sumber : http://narayanasmrti.com/2011/02/23/pembunuhan-dan-vegetarianisme/