Arsip Tag: Weda

Nilai-Nilai Universal Hindu Dalam Budaya Jawa

Nilai-Nilai Universal Hindu Dalam Budaya Jawa

Nilai-nilai Universal Hindu Dalam Budaya Jawa

Oleh: Wawan Yulianto

I. PENDAHULUAN

Modernitas dengan segala gemerlap materialismenya telah membawa manusia pada dunia metropolitan yang menawarkan banyak pilihan hedon, di mana kesenangan bukan lagi sebagai hobi dan pelampiasan nafsu estetis semata melainkan telah menjadi tujuan hidup. Apapun usaha dihalalkan demi tercapainya hasrat, pangkat, bahkan syahwat. Alasannya meningkatkan harkat, martabat, dan akhirat,  tetapi sesungguhnya hanya mengumbar nafsu maksiat. Inilah zaman kali yuga atau menurut orang Jawa disebut zaman Kalabendu, zaman edan. Zaman Edan menggambarkan sebuah kekacauan dunia dimana semua manusia terjangkit penyakit “gila”, ada yang gila harta, gila tahta, gila wanita, dan kegilaan-kegilaan lainnya. Siapapun yang tidak ikut “gila” maka dia tidak akan kebagian (yan ora melu ngedan mundak ora keduman). Demikianlah gambaran kekacauan yang ditawarkan oleh modernitas dan percaturan global dewasa ini.

Kemajuan pesat di dalam bidang ilmu pengetahuan, sains, dan tekhnologi tidak disertai dengan hal yang sama dalam bidang kehidupan moral, etika, dan spiritualitas. Bahkan, bidang ini semakin rapuh dibawa arus materialisme, hedonisme, pragmatisme peradaban modern. Hal ini tercermin dengan semakin renggangnya rasa kebersamaan, keakraban, nasionalisme, upaya-upaya memajukan kepentingan dan ketertiban umum, pelanggaran nilai-nilai sosial, etika, agama terjadi hampir di semua belahan dunia. Bahkan, yang sangat memalukan adalah negara-negara yang diakui religius, ternyata tingkat korupsinya sangat menonjol. Mengenai hal ini S. Radhakrishnan (1987: 9) mengatakan bahwa kemanusiaan sekarang ini mengalami krisis terbesar sepanjang sejarah umat manusia.

Akan tetapi di tengah-tengah semua kekacauan dan carut marut dunia ini, orang Jawa telah memiliki optimisme bahwa seberuntung apapun orang yang tenggelam dalam kegilaan-kegilaan duniawi akan lebih beruntung orang yang tetap eling dan waspada (sabegja-begjaning wong lali isih begja wong kang eling lan waspada). Ketika tujuan hidup manusia (purusa artha) dicapai tidak berdasarkan dharma maka semuanya akan hancur karena dharmalah satu-satunya yang akan memberikan kebahagiaan sejati. Demikianlah Hindu mengajarkan kepada umatnya “satyam eva jayante” (kebenaran akan selalu menang) dan “dharma raksatah-dharma raksitah” (siapa yang menjaga dharma akan dijaga oleh dharma). Dalam pepetah Jawa dikatakan “jaya-jaya wijayanti, sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti” (jayalah orang yang selalu berbuat kebenaran, karena kebenaran akan menghancurkan semua sombongan dan keangkuhan).

Rupanya, falsafah dan budi pekerti orang Jawa tidaklah bertentangan dengan nilai-nilai universal etika Hindu. Inilah yang akan dibahas dalam makalah singkat ini, yaitu bagaimana nilai-nilai universal etika Hindu diterjemahkan dan diaplikasikan dalam etika dan kebudayaan Jawa. Dengan memahami ini maka tidak ada lagi keraguan bahwa Hindu telah menanamkan dasar yang kuat dalam kehidupan orang Jawa.

II. PEMBAHASAN

a. HINDU DAN KEJAWEN

Saat ini banyak orang berpandangan bahwa kejawen adalah hasil perpaduan antara tradisi Hindu, Budha, Islam dan kebudayaan asli Jawa. Hal serupa juga diungkapkan oleh Herusatoto (2003: 65) bahwa kejawen adalah bukanlah agama, melainkan kepercayaan yang lebih tepat disebut pandangan hidup atau filsafat hidup orang Jawa. Filsafat hidup Jawa ini terbentuk karena perkembangan kebudayaan Jawa yang dipengaruhi filsafat Hindu dan filsafat Islam. Akhirnya tradisi Jawa, Hindu, tasawuf/mistikisme Islam dan agama melebur menjadi satu, dalam alam pikiran orang Jawa.

Berbeda dengan hal itu, Neils Mulder (dalam www.jawapalace.org, 26 Desember 2006) menyatakan bahwa kejawen adalah pandangan hidup orang Jawa yang menekankan ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan, sikap nrima terhadap segala peristiwa yang terjadi sambil menempatkan individu di bawah masyarakat dan masyarakat dibawah semesta alam. Niels Mulder memperkirakan unsur-unsur ini berasal dari masa Hindu-Budha dalam sejarah Jawa yang berbaur dalam suatu filsafat, yaitu sistem khusus dari dasar bagi perilaku kehidupan. Oleh sebab itu tidaklah berlebihan rasanya mengatakan bahwa Hindu dan Buddha-lah yang sesungguhnya telah meletakkan dasar-dasar falsafah dan pandangan hidup orang Jawa.

b. BUDI PEKERTI JAWA

Budi pekerti Jawa dibangun di atas pondasi kebersamaan dan kegotong-royongan, sikap hidup nrimo, mengutamakan ketentraman batin, tunduk pada norma-norma yang berlaku di masyarakat, dan hidup serasi dan selaras dengan alam. Hal ini semakin memperkuat keyakinan bahwa etika orang Jawa dibangun oleh nilai-nilai universalitas etika Hindu.

Etika seringkali hanya dipahami sebagai aturan tingkah laku dalam kehidupan bermasayarakat, bagimana manusia berperilaku terhadap manusia lain. Dalam pengertian yang sebenarnya hal itu disebut etiket, bagian dari etika. Sedangkan etika sendiri tidak hanya berbicara etiket, melainkan juga berbicara moralitas, hal-hal mendalam tentang etika, hakikat dari etika. Demikian halnya dengan Etika Hindu yang memaknai etika tidak saja dalam hubungan antara sesama manusia, melainkan juga sebagai landasan hidup spiritual.

Ranah etika Hindu dapat dipahami adalah Tri Hita Karana, yaitu parahyangan, pawongan, dan palemahan. Parahyangan berarti hubungan manusia dengan Tuhan yang diwujudkan melalui jalan catur marga. Dalam kehidupan orang Jawa, hal ini diwujudkan dengan sebuah kesadaran awal, yaitu narimo ing pangdum (menerima apapun telah diberikan Tuhan). Sebuah keyakinan bahwa segala yang ada dalam kehidupan ini telah digariskan oleh Tuhan, manusia hanya bisa menerima dan terus berusaha dan berdoa. Orang Jawa, demikian pula Hindu mengajarkan bahwa setiap orang yang lahir telah dibekali dengan kualitas atau potensi sendiri-sendiri yang harus dikembangkan selanjutnya dalam kehidupan yang lebih nyata. Oleh karena semua ini ditentukan oleh Tuhan melalui hukum karmanya, maka manusia diharuskan untuk selalu ber-karma (bertindak) sesuai dengan dharma, dan semua karma itu dilakukan sebagai persembahan (yajna) kepada Tuhan. Dalam kaitannya dengan etika, bahwa setiap tindakan etika harus dilaksanakan dengan kesadaran penuh sebagai persembahan kepada Tuhan. Bahkan dalam yoga sutra patanjali diajarkan bahwa etika adalah dasar spiritual Hindu, yaitu Panca Yama Brata, meliputi ahimsa (tidak menyakiti/membunuh), satya (berperilaku bajik), asteya (tidak ingin milik orang lain atau tidak mencuri), brahmacarya (tidak melakukan hubungan seks), dan aparigraha (menolak pemberian yang tidak perlu, hidup sederhan dan tidak serakah) dan Panca Nyama Brata, meliputi sauca (murni dan suci diri), santosa (kepuasan batin), tapa (tahan terhadap segala ujian dan godaan), svadhyaya (mempelajari ajaran ketuhanan), dan isvarapranidhana (bhakti kepada Tuhan).

Pawongan berarti keharmonisan hubungan manusia dengan manusia lainnya. Dalam hal ini Hindu mengajarkan bahwa etika harus dilakukan berdasarkan tri kaya parisudha, yakni pikiran (manah), perkataan (wak), dan tindakan (kaya). Ini berarti etika Hindu menekankan pada internalisasi nilai etika, bukan sekedar dramaturgi atau topeng sahaja. Dalam Sarasamuccaya, 79 dijelaskan bahwa pikiranlah yang menentukan segala perkataan dan perbuatan. Oleh karena itu pikiran yang harus diusahakan selalu adalah tidak menginginkan milik orang lain, kasih sayang terhadap semua makhluk, dan percaya pada hukum Karmaphala. Dalam budi pekerti Jawa hal ini diterjemahkan dalam terminologi ojo demen darbeking wong liyo (jangan menginginkan milik orang lain), welas asih marang sesomo (cinta kasih pada sesama), ngunduh wohing pakarti, sopo kang nandur bakal ngunduh (bahwa setiap perbuatan yang dilakukan akan mendatangkan hasil, siapa yang menanam pasti akan memetiknya).

Sedangkan perkataan dikatakan sebagai pedang yang paling tajam dan menunjukkan harga diri dan jati diri seseorang. Dalam ungkapan Jawa dikatakan “ajining diri saka lati, ajining raga saka busana” (harga diri seseorang ditentukan oleh lidahnya (ucapannya), harganya tubuh ditentukan oleh pakaiannya (pakaian di sini sesungguhnya menunjuk pada harta dan tahta)). Dalam Hindu (Nitisastra) diajarkan bahwa dari perkataan orang mendapatkan suka dan duka, dari perkataan orang juga mendapatkan teman atau musuh, bahkan kematian. Perkataan yang harus dikendalikan menurut Sarasamuccaya 75, antara lain (1) tidak berkata-kata kasar; (2) tidak mencaci maki; (3) tidak menfitnah; (4) tidak ingkar janji.

Perbuatan demikian juga halnya pikiran dan perkataan adalah satu kesatuan dalam membentuk prilaku Etika Hindu secara utuh. Dalam Etika Jawa ada sebuah ungkapan yang menjadi dasar perbuatan, yaitu “yen loro dijiwit yo ojo njiwit” (kalau merasa sakit dicubit janganlah kau mencubit). Ini sejalan dengan makna “tat twam asi” bahwa jiwa setiap makhluk adalah sama, oleh karenanya semua makluk adalah saudara (vasudewa kutumbakam) sehingga menyakiti orang lain sama dengan menyakiti diri sendiri. Hindu dan juga orang Jawa mengajarkan bahwa setiap perbuatan harus diukur dari dampak suatu perbuatan jika menimpa pada dirinya sendiri. Jika orang lain melakukan perbuatan yang menyakiti kita, demikian sebaliknya jika kita melakukan perbuatan serupa kepada orang lain. Sarasamuccaya 76 mengajarkan perbuatan-perbuatan yang tidak layak dilakukan, yaitu membunuh (himsa karma), mencuri/mengambil hak milik orang lain (asteya), dan berbuat zina/ prilaku seks menyimpang (gamya gamana). Keseluruhan aspek in dirumuskan dalam satu pepatah Jawa “Ojo Dumeh” yang bermakna jangan karena merasa diri mampu lalu berbuat semena-mena. Ada beberapa ungkapan “ojo dumeh” sebagai berikut:

-       Ojo Dumeh pinter terus keminter (jangan karena merasa pintar lalu sok pintar).

-       Ojo Dumeh sugih terus siyo marang wong ringkih (jangan karena merasa diri kaya lalu kejam pada orang yang miskin)

-       Ojo Dumeh kuoso terus daksiyo marang kawulo (jangan karena berkuasa lalu sewenang-wenang pada rakyat).

Palemahan adalah bagaimana hubungan manusia dengan alam sekitar atau lingkunganya. Alam semesta adalah kamadhuk, pemberi segala kebutuhan manusia. Dalam kebudayaan Jawa, hal ini diceritakan dalam sebait lagu “katawang ibu pertiwi”, sebagai berikut:

ibu pertiwi, Ibu Pertiwi

paring boga lan sandang kang murakabhi, Memberi makan dan sandang

yang cukup.

Asih mring sesami manusa kang bekti, Kasih kepada semua manusia

yang berbakti.

ibu pertiwi, mrih susetyo ing sesami, Ibu pertiwi, berlakulah adil

pada semua makluk.

ayo sujud mring ibu pertiwi” Mari bersujud pada ibu pertiwi.

 

Hanya dengan menjaga keseimbangan dan keserasian alam semesta maka kebahagiaan hidup manusia dapat tercapai (jagadhita)

 

III. SIMPULAN

  • Kejawen atau pandangan hidup orang Jawa sesungguhnya dibentuk berdasarkan dari agama Hindu dan Buddha.
  • Nilai-nilai universal etika Hindu rupanya telah meletakkan dasar-dasar yang kuat dalam budi pekerti Jawa.
  • Ranah Etika Hindu adalah parahyangan, pawongan, dan palemahan. Pada dasarnya ketiganya adalah keharmonisan yang harus diusahakan demi tercapainya kebahagiaan hidup jasmani dan rohani manusia. Sedangkan aspek etika Hindu adalah pikiran (manah), perkataan (wak) dan perbuatan (kaya).
  • Ketiganya juga menjadi dasar-dasar budi pekerti Jawa yang mengutamakan ketentraman batin, kebersamaan, hidup selaras dan harmonis dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, serta tunduk pada hukum alam semesta dan menjaga alam semesta beserta isinya. Bahwa etika Jawa menekankan pada keserasian, keselarasan, dan keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan lingkungannya, sejalan dengan ajaran Tri Hita Karana.


DAFTAR PUSTAKA :

Endraswara, Suwardi. 2003. Budi Pekerti dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita.

Gorda, I Gusti Ngurah, 1996. Etika Hindu dan Perilaku Organisasi. Singaraja: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Satya Dharma.

____________, 2004. Membudayakan Kerja Berdasarkan Dharma. Singaraja: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Satya Dharma.

____________, 2006. Etika Hindu: Materi Kuliah Etika Hindu. Denpasar: Program Magister Ilmu Agama dan Kebudayaan UNHI Denpasar.

Gunadha, Ida Bagus. 2003. Refleksi Nilai-Nilai Etika Hindu Dalam perkembangan Ilmu Pengetahuan, Sains dan Teknologi: Pidato Pengukuhan Guru Besar Bidang Etika Hindu. Denpasar: Universitas Hindu Indonesia.

Herusatoto, Budiono, 2003. Simbolisme dalam Budaya Jawa. Yogyakarta: Hanindita.

Kajeng, I Nyoman. 2000. Sarasamuccaya. Surabaya: Paramita.

Mulder, Neils. 2006. Kebudayaan Jawa dalam www.jawapalace.org.

sumber :

http://narayanasmrti.com/2011/03/26/nilai-nilai-universal-hindu-dalam-budaya-jawa/

Brahman dan riwayat singkat Alam Semesta.

Brahman dan riwayat singkat Alam Semesta.

BRAHMAN

 

Brahman adalah nirguna [melampaui semua sifat alam], niranjana [murni], nirvikalpa [melampaui semua penjelasan] dan acintya [tidak terpikirkan]. Karena tidak ada kata-kata maupun pemikiran yang bisa menjelaskan Brahman. Yang ada maupun yang tidak ada adalah manifestasi Brahman, berawal dari Brahman dan berakhir pada Brahman.

 

Segala yang ada di alam semesta ini adalah manifestasi Brahman, termasuk Purusha dan Prakriti. Akan tetapi Brahman tidak bisa dijelaskan. Itulah sebabnya Brahman juga disebut Acintya atau [kalau di Bali] Hyang Acintya. Dalam bahasa sansekerta acintya berarti tidak terpikirkan. Menurut para maharsi, kata-kata yang paling mendekati yang bisa menjelaskan Brahman, walaupun juga tidak tepat, adalah Sat-Chit-Ananda [realitas absolut – kesadaran – kebahagiaan murni].

 

 

PURUSHA DAN PRAKRITI

Keseluruhan alam semesta ini terdiri dari dua realitas : Purusha – realitas absolut [kesadaran murni] dan Prakriti – fenomena alam materi [energi-materi].

Purusha adalah realitas absolut, kesadaran murni. Mutlak, tidak tergantung, bebas, tidak terasa, tidak kelihatan, diluar semua pengalaman dan diluar semua kata-kata dan penjelasan. Tidak terpikirkan. Kesadaran tanpa sifat yang selalu murni. Purusha tidak berasal dari sesuatu dan tidak menghasilkan / menimbulkan sesuatu.

 

Sedangkan Prakriti dalam bahasa manusia yang paling mendekati adalah energi. Jadi Prakriti bisa disebut sebagai divine energy [energi ilahi]. Prakriti adalah penyebab awal dari seluruh fenomena alam materi, seluruh dimensi alam semesta -dan segalanya-, kecuali purusha, yang tidak memiliki penyebab maupun menjadi sebab. Prakriti menjadi sumber asal dari apapun yang bersifat material [fisik] dan energi.

 

Hal ini juga dijelaskan di dalam Veda : “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari” [ Rig Veda 2.72.4 ] – dari aditi [materi] asalnya daksa [energi] dan dari daksa asalnya aditi -. Ini teori yang sama dengan teori E=mc2 yang ditulis oleh Einstein.

 

Menurut hukum Satkaryavada, sejatinya tidak ada sesuatupun yang dapat diciptakan, maupun sebaliknya : dihancurkan ke dalam ketiadaan. Yang ada adalah transformasi dari satu bentuk ke bentuk lainnya belaka. Ini juga bisa berarti dalam fenomena alam materi yang penuh aktifitas [utpetti, sthiti, pralina - pembentukan, pengembangan dan penghancuran], sejatinya tidak ada yang diciptakan atau dihancurkan, hanya dinamika perubahan bentuk dari satu bentuk ke bentuk lainnya, dari materi menjadi energi dan dari energi menjadi materi. Hanya dikatakan saja sebagai utpetti, sthiti, pralina, karena begitulah yang terlihat dalam realitas materi.

 

Keseluruhan alam semesta dalam fenomena dinamika perubahan dan aktivitas [utpetti, sthiti, pralina - pembentukan, pengembangan dan penghancuran] dalam realitas materi [prakriti] diistilahkan sebagai tarian kosmik Brahman. Sering disimbolikkan sebagai Shiva Nataraja [tarian kosmik Shiva]. Kita adalah tarian Brahman dalam realitas materi. Segala hal di alam semesta, semua yang kita lihat, dengar dan bayangkan, adalah dinamika [pergerakan]. Galaksi-galaksi melayang tinggi dalam pergerakan, atom-atom dalam pergerakan dan semua pergerakan adalah tarian kosmik Brahman.

 

Perputaran utpetti, sthiti, pralina ini disebut Brahma Cakra. Satu putaran Brahma Cakra mulai dari pembentukan sampai penghancuran [maha pralaya] memakan waktu 1 siang + 1 malam Brahma [1 hari Brahma], yang sama dengan 8,4 Milyar tahun.

 

BRAHMA CAKRA [RODA CAKRA ALAM SEMESTA]

 

1. Roda penciptaan dan penghancuran alam semesta.

Menurut hukum Satkaryavada, “akibat” pra-eksis di dalam “sebab”. Sebab dan akibat dipandang sebagai sisi-sisi sementara yang berbeda dari satu hal yang sama – akibat terletak terpendam [tersembunyi] di dalam sebab yang pada gilirannya menebar benih pada akibat berikutnya.

 

Hukum Prakriti-Parinama Vada menyatakan bahwa “akibat” adalah perubahan nyata dari “sebab”. Sebab yang dimaksudkan disini adalah Prakriti [divine energy] atau tepatnya Mula-Prakriti [primordial matter / materi yang mula-mula]. Dalam evolusinya [perkembangannya], Prakriti berevolusi menjadi Mula-Prakriti dan dari sini menjadi berbagai obyek yang berbeda-beda dan beragam. Seperti yang dijelaskan di dalam Veda : “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari” [ Rig Veda 2.72.4 ] – dari aditi [materi] asalnya daksa [energi] dan dari daksa asalnya aditi -. Ini teori yang sama dengan teori E=mc2 yang ditulis oleh Einstein.

 

Evolusi [perkembangan] ini kemudian diikuti oleh peleburan atau pembubaran. Dalam pralina wujud materi [fisik] ini, semua obyek di seluruh dimensi alam semesta ini kembali menyatu dengan Prakriti, yang berarti yang ada hanya Prakriti [energi ilahi yang mula-mula] saja. Semuanya berlangsung laksana putaran roda [cakra] perkembangan-pemeliharaan-peleburan yang saling berputar [laksana roda chakra] bergantian secara terus menerus. Sering disimbolikkan sebagai Shiva Nataraja.

 

2. Pembentukan atau pengembangan alam semesta.

Karena prakriti adalah dasar atau pondasi [tattva] dari seluruh fenomena dan dimensi alam semesta dia juga sering disebut PRADHANA. Dinamika prakriti dipicu [dipengaruhi] oleh tiga intisari sifat dasar-nya [tri guna], yaitu :

 

1. Sattvam – unsur keseimbangan.

2. Rajas – unsur aktif [pengembangan, pemuaian atau dinamika aktifitas].

3. Tamas – unsur statik [kelembaman atau perlawanan untuk melakukan kegiatan].

 

Dalam kondisi seimbang total [sattvam], seluruh materi semesta terserap kembali ke dalam Prakriti. Namun apabila Prakriti diguncang oleh unsur aktifnya [rajas], sehingga Prakriti menjadi tidak seimbang, maka terciptalah alam semesta ini. Seluruh materi memencar menyebar ke segala arah dan terciptalah wujud alam semesta raya. Dimana dinamika murni Prakriti mengembangkan dirinya secara berurutan sambung-menyambung menjadi dua puluh empat tattva [asas dasar]. Evolusi [perkembangan] ini sendiri terjadi karena Prakriti selalu dalam keadaan tidak stabil akibat tekanan tiga unsur intisari sifat dasar-nya [tri guna].

 

Kedua puluh empat tattva [asas dasar] itu adalah :

>>> PRAKRITI [divine energy] – asas dasar paling halus yang merupakan sumber di balik segala apapun yang ada di seluruh dimensi alam semesta -dan segalanya-, kecuali purusha. Juga diidentikkan dengan Mula-Prakriti [primordial matter / materi purba yang mula-mula]. Prakriti di intisarinya sendiri adalah keadaan keseimbangan total [sattvam].

 

>>> MAHAT – Ketika kondisi Prakriti tengah aktif, maka saat itulah terjadi pertemuan antara Purusha dan Prakriti. Dari pertemuan keduanya lahir hasil pertama dari evolusi Prakriti, yaitu mahat [dinamika murni]. Mahat juga identik dengan cosmic mind atau maha-kesadaran kosmik. Saat mahat [cosmic mind] ini bangkit, alam semesta ini belum juga ada. Kemudian karena pengaruh unsur Rajas [aktif / kerja] dari Tri Guna, cosmic mind ini mulai berkreasi [lila] dan mengembangkan ciptaan [dinamika].

 

Dari sini lahirlah citta semesta, cikal bakal memori subyektif-relatif seluruh makhluk. Citta adalah Purusha yang sudah “terkontaminasi”, jatuh dan terperosok akibat belenggu Prakriti. Begitu citta semesta tercipta, maka pengaruh Prakriti semakin besar. Prakriti kembali menanamkan belenggunya kepada citta semesta, dari sini maka lahirlah buddhi [kecerdasan] semesta, sebagai cikal bakal kesadaran dan kecerdasan relatif seluruh makhluk.

 

>>> AHAMKARA – Akibat unsur rajas ini juga, hasil kedua dari evolusi Prakriti adalah ahamkara [ke-aku-an atau ego]. Ahamkara inilah yang bertanggung-jawab terhadap perasaan “aku” dalam mahluk hidup. Ahamkara juga adalah penyebab identifikasi diri yang berbeda dengan alam luar beserta segala isinya. Disini kondisi Purusha sudah semakin terbelenggu Prakriti. Keterbatasan dan kebodohan sudah mulai melekati Atman.

 

>>> PANCA TANMATRA [lima bahan materi halus] – adalah hasil dari Mahat, bersamaan muncul dengan Ahamkara. Masing-masing Tanmatra ini terbentuk dari salah satu aspek Tri Guna, yaitu :

 

1. Sabda Tanmatra [unsur halus dari ruang].

2. Sparsa Tanmatra [unsur halus dari udara atau gas].

3. Rupa Tanmatra [unsur halus dari cahaya atau api].

4. Rasa Tanmatra [unsur halus dari cairan].

5. Gandha Tanmatra [unsur halus dari materi padat].

 

>>> MANAS [pikiran] atau “Antahkarana” – berkembang dari kesemua [total] aspek sattvam dari Pancha Tanmatra dan Ahamkara.

 

>>> PANCHA JNANA INDRIYA – lima indra perasa, yang berkembang dari aspek sattvam dari Ahamkara, yaitu :

 

1. Cakshu semesta [cikal bakal penglihatan].

2. Srota semesta [cikal bakal pendengaran].

3. Ghrana semesta [cikal bakal penciuman].

4. Jihva semesta [cikal bakal perasa lidah].

5. Tvak semesta [cikal bakal peraba seluruh tubuh].

 

>>> PANCHA KARMA INDRIYA – lima organ tindakan, yang berkembang dari aspek Rajas dari Ahamkara, yaitu :

 

1. Vak semesta [cikal bakal pengucapan].

2. Pani semesta [cikal bakal peraba tangan].

3. Pada semesta [cikal bakal peraba kaki].

4. Upastha semesta [cikal bakal rasa kemaluan].

5. Payu semesta [cikal bakal gerak dan dubur].

 

>>> PANCHA MAHABHUTA – lima elemen dasar yang berkembang dari aspek Tamas dari Ahamkara. Panca Mahabhuta muncul dari “pengasaran” [panchikaran] dari Panca Tanmatra, sehingga terciptalah Panca Mahabhuta, lima elemen dasar materi kasar, yaitu :

 

1. Sabda Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi AKASHA [ruang].

2. Sparsa Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi VAYU [udara atau gas].

3. Rupa Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi TEJA [cahaya atau api].

4. Rasa Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi APAH [cairan].

5. Gandha Tanmatra, mengasar atau mengkristal menjadi PRTHIVI [materi padat].

 

 

3. Hukum-hukum semesta.

 

Adanya hukum-hukum semesta seperti Hukum Rta dan Hukum Karma tidak bisa dipisahkan dari penjelasan hukum Satkaryavada dan hukum Prakriti-Parinama Vada. “Akibat” pra-eksis di dalam “sebab” dan “akibat” adalah perubahan nyata dari “sebab”.

 

Seperti sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa dinamika prakriti dipicu [dipengaruhi] oleh tiga intisari sifat dasar-nya [tri guna], yaitu : Sattvam, Rajas dan Tamas. Unsur Rajas yang memicu chaos [kekacauan] semesta -yang juga menjadi penyebab awal terciptanya alam semesta-, dan unsur Sattvam dan Tamas menjadi penyeimbangnya. Kestabilan-keseimbangan inilah yang merubah fenomena materi-energi Prakriti dari chaos [kekacauan semesta] menjadi cosmos [alam semesta yang tidak kacau].

 

Tri guna adalah dasar dari terciptanya hukum-hukum semesta [hukum Rta dan hukum Karma], sehingga terjadilah keteraturan dan ketidak-kacauan. Sehingga ketika kita memasak beras, kita bisa yakin kalau hasilnya nanti adalah nasi, bukan menjadi racun, bom atau handphone misalnya.

TERCIPTANYA MAHLUK

1. Pertemuan Purusha dan Prakriti.

 

Prakriti yang sudah bermanifestasi menjadi 24 asas dasar, kemudian seolah-olah “terpecah-belah” menjadi berbagai fenomena di alam materi termasuk mahluk hidup. Setiap mahluk hidup terdiri dari Purusha dan Prakriti. Purusha [realitas absolut, kesadaran murni] yang terbelenggu Prakriti menjadi penyebab adanya mahluk hidup. Dari pertemuan citta, buddhi, manas, ahamkara, panca jnana indriya dan panca karma indriya terciptalah sukhsma sarira [badan astral]. Dari pertemuan sukhsma sarira dan panca mahabhuta, terciptalah sthula sarira [badan fisik]. Inilah mahluk hidup.

 

 

 

Purusha [atman] telah terselubungi dan terbelenggu sedemikian rupa oleh berbagai produk-produk Prakriti. Akibatnya kesadaran atman merosot jatuh secara total. Jivatman terkecoh, mengira dirinya adalah pikiran [manas], ahamkara [ke-aku-an] dan sthula sarira [badan fisik] belaka. Jivatman sudah melupakan siapa dirinya yang sejati.

 

Setiap kejadian material [fisik] dan energi adalah perwujudan dari dinamika Prakriti [fenomena alam materi], termasuk yang terjadi pada setiap lapisan tubuh [kosha] kita -lapisan badan dan lapisan pikiran-. Sehingga kemudian semua evolusi [perkembangan] materi macrocosmic [alam semesta] dan microcosmic [mahluk] dipengaruhi oleh tiga sifat dasar prakriti ini. Tri guna mempengaruhi mahluk sebagai berikut :

 

1. Sattvam – kehalusan, keindahan, kebaikan, penerangan, cahaya dan kebahagiaan sejati.

2. Rajas – aktivitas / kegiatan, motifasi, dinamika dan kesengsaraan.

3. Tamas – kelambanan, kemalasan [keengganan] dan kebuntuan.

 

Walaupun sejatinya eksistensi setiap mahluk hidup sejatinya adalah Purusha [kesadaran murni] yang tidak terbatas, tidak terpikirkan dan tidak terpengaruh oleh tubuh. Tapi atman terbelenggu oleh prakriti. Eksistensi mahluk hidup atau “sang aku” mengalami pembebasan [moksha] ketika bisa “sadar” akan identitas diri yang sejati.

 

Akan tetapi selama kesadaran atman tidak muncul, maka dia akan tetap terbelenggu oleh Prakriti. Tugas ini sangatlah berat, karena jivatman sudah melewati berjuta-juta kelahiran, dimana pada periode tersebut jivatman terus-menerus melekat pada Prakriti, melekat erat pada pikiran [manas], ahamkara [ke-aku-an] dan sthula sarira [badan fisik]. Bahkan ada jivatman yang makin terperosok dan makin terbelenggu prakriti, sehingga lahir di alam ashura [alam para mahluk bawah atau bhuta kala].

 

2. Terperosoknya Jivatman.

 

Ketika kita SMA, sebagian besar dari kita mempelajari hukum seleksi alam [natural selection] dari Darwin. Hanya yang kuat dan mampu beradaptasi terhadap gejolak perubahan lingkungan yang bisa bertahan [survive]. Teori ini bisa dikatakan benar adanya.

 

Kebanyakan kehidupan adalah tentang survival terhadap eksistensi kita sebagai mahluk. Perhatikan rantai makanan : Elang memakan ular, ular memakan kodok, kodok memakan nyamuk, dst-nya. Perhatikan kehidupan manusia : persaingan berebut uang dan makanan [persaingan dagang, persaingan ekonomi, persaingan di tempat kerja], persaingan berebut pengaruh, perebutan kursi kekuasaan, eksploitasi tenaga kerja, penipuan, perampokan, korupsi, peperangan, dll. Saling menyakiti, saling membenci, saling menyalahkan, dll. Kenapa kita melakukan semua itu ? Karena kita punya suatu kebutuhan. Ini secara alami kita lakukan dalam rangka upaya kita untuk bisa survive terhadap eksistensi kita sebagai mahluk atau sebagai suatu identitas. Kita dipaksa oleh kehidupan untuk seperti itu. Alasannya macam-macam : untuk bisa makan, untuk bisa menghidupi rumah tangga, untuk bisa membiayai anak sekolah, untuk rasa aman, untuk jaminan kebahagiaan, untuk melindungi kepentingan kelompok, untuk melindungi identitas diri kita, dll.

 

Apa akibatnya ? Akibatnya hukum yang dominan dipakai [berlaku] dimana-mana adalah hukum rimba. Pemangsa dan yang dimangsa, pengeksploitasi dan yang dieksploitasi, pemanipulasi dan yang dimanipulasi, yang menyakiti dan yang disakiti. Untuk bisa survive dalam hukum rimba, kita harus punya ego yang besar. Karena itu ego kita sebagai mahluk semakin hari semakin besar dan semakin besar. Ini adalah kebutuhan alami dalam avidya [ketidaktahuan, kebodohan] yang kita perlukan untuk bisa survive terhadap eksistensi kita sebagai mahluk individu.

 

Tapi apa akibat berikutnya ? Kita terus-menerus melekat pada Prakriti, melekat erat pada pikiran [manas], ahamkara [ke-aku-an] dan sthula sarira [badan fisik]. Kita jauh dari kedamaian. Pikiran kita berubah menjadi serakah, mementingkan diri sendiri, marah, sombong, kecewa, iri hati, takut, stress, dll. Kita semakin jauh dari reakitas diri yang sejati. Kita terperosok dalam ”kubangan” Prakriti untuk jangka waktu yang sangat lama.

 

3. Moksha [pembebasan sempurna].

 

Moksha dalam bahasa sansekerta berarti : lepas atau bebas. Moksha adalah pembebasan sempurna. Jivatman berada dalam belenggu samsara diakibatkan oleh avidya [ketidaktahuan / kebodohan]. Jivatman mengalami pembebasan [moksha] ketika “sadar” akan identitas diri yang sejati. Begitu jivatman bisa lepas dari belenggu selubung prakriti, maka dia akan kembali berubah menjadi realitas absolut, kesadaran murni.

 

 

Inilah landasan dasar dari mengapa para Maharsi pendahulu dan para Dewa-Dewi mengajarkan dharma dan berbagai jalan yoga. Yaitu untuk membimbing manusia bebas dari belenggu Prakriti, yaitu belenggu pikiran [manas], ahamkara [ke-aku-an] dan sthula sarira [badan fisik]. Semakin cepat semakin baik, sebelum kita terperosok semakin jauh lahir menjadi binatang atau lahir di alam ashura [alam para mahluk bawah atau bhuta kala] yang penuh dengan kesengsaraan.

 

Tugas hidup kita yang sesungguhnya adalah melampaui pengaruh Prakriti. Bebas dari belenggu pikiran [manas], ahamkara [ke-aku-an] dan sthula sarira [badan fisik]. Atman Brahman Aikyam, Atman adalah Brahman. Laksana setetes air dalam samudera maha luas yang tersadar bahwa realitas dirinya bukanlah setetes air [mahluk individu], melainkan samudera yang maha luas.

 

 

Rumah Dharma – Hindu Indonesia

Intisari Tradisi Hindu adalah Weda

Idanim daharma pramaanaanyaa.
Vedo’khilo dharma mulam.
Smrtisile ca tadvidam.
Acarascaiva saadhuunaam
Aatmanastustireva ca.

Maksudnya:

Sruti (sabda Tuhan) sumber pertama dari Dharma (agama), kemudian Smrti (Sastra Veda), Sila (pedoman tingkat laku) Acara (Veda yang telah ditradisikan oleh masyarakat) dan akhirnya mencapai kepuasan Atman.

SLOKA kitab suci Manawa Dharmasastra yang dikutip ini menunjukkan bagaimana cara melihat persamaan dan perbedaan penampilan tradisi Hindu dalam kehidupan beragama baik di tingkat daerah, nasional maupun global. Bentuk luar dari agama Hindu selalu berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah yang lainnya. Apalagi, tradisi Hindu di antara satu negara dengan tradisi Hindu di negara lain pasti berbeda-beda. Ini disebabkan keberadaan struktur budaya dan sosial satu daerah dengan daerah yang lain itu berbeda-beda.

Berdasarkan Sloka di atas, Hindu kalau dilihat dari Veda Sruti, Smrti dan Sila akan selalu sama. Tetapi kalau sudah sampai di tingkat Acara (tradisi Hindu) dan Atmanastusti (kepuasan rohani) masing-masing umat akan penuh dengan perbedaan.Perbedaan itu berupa bentuk luarnya atau kemasan budayanya.

Bagi mereka yang kurang paham dengan sistem dan pengalaman, memandang agama Hindu di satu daerah dengan daerah lainnya itu berbeda-beda secara total. Bahkan, para ilmuwan empiris sering membeda-bedakannya secara mutlak bahkan perbedaan itu dipertentangkan. Seolah-olah agama Hindu di Bali dan di Jawa atau di India berbeda-beda. Sesungguhnya agama Hindu itu di mana-mana sama.
Persamaan Hindu itu hendaknya dilihat dari sudut esensinya. Semua tradisi Hindu bersumber dari Weda. Mengapa Hindu itu bentuk luarnya selalu berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya? Karena sistem penerapannya itu mengajarkan harus disesuaikan dengan Iksha, Sakti, Desa dan Kala. Dalam penerapannya, tidak boleh bertentangan dengan Tattwa.

Tattwa itu adalah intisari kebenaran Weda. Pedoman penerapan agama Hindu ini sudah sering diungkapkan dalam media ini. Karena keberadaan Iksha, Sakti, Desa dan Kala itu selalu berbeda-beda, di mana pun Hindu selalu menampilkan tradisi yang berbeda-beda juga.

Jika dibedah isinya di mana pun Hindu itu pasti sama isinya yaitu Tattwa kebenaran menurut Weda. Dalam kutipan Sloka Manawa Dharmasastra di atas tergambar bahwa Weda Sruti sabda Tuhan itu dijabarkan ke dalam Dharmasastra atau Smrti. Dari Smrti ini terus dijabarkan ke dalam Sila, bentuk tingkah laku yang sangat banyak dijumpai pada ceritra Itihasa dan Purana.
Di dalam ceritra Itihasa dan Purana kita akan mendapatkan banyak sekali ceritra tentang Sila. Ada Sila atau tingkah laku yang patut diteladani ada tingkah laku yang tidak patut ditiru. Kalau kita umpamakan Weda itu sebagai makanan. Intisari makanan yang dibutuhkan oleh umat manusia seisi dunia ini sama.

Semua manusia membutuhkan karbohidrat, protein, lemak, vitamin dll. Namun bentuk makanan yang dimakan sangat berbeda-beda dan tergantung pada budaya setempat. Misalnya karbohidrat. Ada yang menggunakan nasi, ada sagu, ada roti, ada jagung, dll. Demikianlah ajaran Hindu itu bentuk pengamalannya berbeda-beda, namun yang diamalkan adalah tetap Sanatana Dharma intisari Weda. Misalnya di dalam Weda diajarkan untuk memenangkan Dharma dalam pertarungan kehidupan ini.
Salah satu cara untuk menanamkan sikap hidup memenangkan Dharma itu melalui hari raya agama.
Hari raya mengingatkan umat Hindu memenangkan Dharma adalah hari raya Galungan dan Kuningan. Ilustrasi ceritranya soal menangnya Dewa Indra melawan Maya Danawa.

Sementara di India, hari raya Galungan sama dengan hari raya Wijaya Dasami. Kata Galungan sama artinya dengan Wijaya. Di India Utara perayaan Wijaya Dasami itu ilustrasi ceritranya menangnya Sri Rama melawan Rahwana. Versi India Selatan menangnya Dewi Durgha melawan Raksasa Mahesasura. Di Bali ada upacara melasti dan Nyepi, di India ada upacara Kumbha Mela yang kegiatannya meliputi Nagasankirtan (melasti) dan dilanjutkan dengan Nyepi.

Di Bali ada Tumpek Wariga, di India ada hari raya Sangkara Puja. Di Bali ada Tumpek Landep, di India ada Ayudha Puja. Sesungguhnya banyak sekali contoh yang dapat dikemukakan mengenai persamaan esensi Hindu dan perbedaan kemasan budayanya.

Demikian juga Hindu di Indonesia antara budaya Hindu di Bali bentuk luarnya dengan Hindu di Jawa, Kaharingan, di Batak Karo, Tengger sangat berbeda. Namun kalau dibedah pasti akan dijumpai kesamaan tattwa-nya. Seperti upacara Tiwah di Kaharingan, upacara Pitra Yadnya di Jawa dan Bali Tattwanya sama persis.

Sumber:

http://www.iloveblue.com/bali_gaul_funky/artikel_bali/detail/1737.htm

Kali Santarana Upanisad Kali Santarana Upanisad

Kali Santarana Upanisad

 

Kali Santarana Upanisad

Kali Santarana Upanisad (कलिसन्तरन) adalah salah satu kitab acuan terpenting yang digunakan oleh sebagian besar Vaisnava di dunia. Garis perguruan Gaudya Vaisnava yang dewasa ini lebih dikenal dengan sebutan Hare Krishna. Dalam setiap bhajan/kirtana dan japanya selalu melantunkan mantra yang terdapat dalam kitab ini. Kenapa kitab ini begitu istimewa?

Upanisad adalah salah satu kumpulan terpenting dari Veda yang membahas filosofi ketuhanan yang sangat mendalam. Dari 108 kitab Upanisad yang ada, Kali Santarana Upanisad adalah salah satunya dan merupakan bagian dari Yajur Veda hitam/Krishna Yajur Veda. Kitab ini adalah kitab yang sangat penting untuk masa Kali Yuga dan muncul dari hasil percakapan Maha Rsi Narada dengan ayah yang sekaligus gurunya, Dewa Brahma. Kitab Kali Santarana Upanisad termasuk kitab yang sangat pendek, hanya tersusun dari 11 sloka. Adapun sloka keseluruhan dari kitab ini adalah sebagai berikut:

Yaddhivyanama smaratam samsaro gospadayate

Sva navyabhaktir bhavati tadramapadam asraye

Om sa ha navavaty iti santih

[1]

hari om. dvaparante narada brahmanam

jagama katham bhagavan gam

paryatana kalim santareyam iti.

 

[2]

sa hovaca. brahma sadhu prishto’smi

sarva shruti rahasyam gopyam tac

chrinu yena kali samsaram tarishyasi.

 

[3]

bhagavata adi purushasya narayanasya

namoccharana matrena nirdhta kalir bhavati

 

[4]

narada punah papraccha tan nama kim iti.

 

[5]

sa hovaca hiranyagarbah

hare krishna hare krishna, krishna krishna hare hare.

hare rama hare rama, rama rama hare hare;

 

[6]

iti shodashakam namnam, kali-kalmasha-nashanam;

natah parataropayah, sarva-vedeshu drishyate.

 

[7]

iti shodasha kalasya jivasyavarana vinashanam;

tatah prakashate para brahma medhapaye

ravi rashmi mandali veti.

 

[8]

punar narada prapaccha bhagavan kasya vidhi-riti

 

[9]

tam hovaca nasya vidhi-riti

sarvada shuci-ashucira va pathan

brahmanam salokya samipya

sarupatam sayujyatam eti.

 

[10]

yadasya shodashikasya sardha trikotir japati.

tada brahma hatyam tarati vira hatyam.

svarna steyat puto bhavati. pitrideva

manushyanam apakarat puto bhavati.

 

[11]

sarva dharma parityaga papat sadyah sucitamapnuyat. sadyo mucyate sadyo mucyate ity upanishat.

Om sa ha navavatviti santih

Iti sri-kali-santaranopanisat samapta

 

Arti harfiah dari sloka-sloka ini adalah sebagai berikut:

 

Harih Om. Tersebutlah pada akhir jaman dvapara, maha Rsi Narada datang menghadap dewa Brahma dan bertanya, “Wahai Bhagawan, Guruku yang mulia, dengan berkeliling-keliling di dunia ini, bagaimanakah caranya agar hamba mampu melepaskan diri dari pengaruh Kali-yuga?

Dewa Brahma selanjutnya menjawab; “Pertanyaanmu adalah pertanyaan yang sangat baik, apa-apa yang seluruh Sruti Sastra (Rg., Sama, Yajur, Atharva Veda dan lain-lain) tersimpan secara rahasia dan rohani, dengarlah hal itu dengan baik, dengan mana engkau akan mampu menyeberangi kesengsaraan pada jaman Kali berupa kelahiran dan kematian berulang kali. Hanya dengan mengucapkan nama-nama suci kepribadian Tuhan Yang Maha Esa Yang Awal, Narayana, akan mampu menghancurkan pengaruh buruk jaman Kali”. Maha Rsi Narada kembai bertanya sebagai berikut, “Nama suci manakah yang anda maksudkan itu?”. Selnjutnya dewa Brahma menjawab: (1). Hare, (2). Rama, (3). Hare, (4). Rama, (5). Rama, (6). Rama, (7). Hare, (8). Hare, (9). Hare, (10). Krishna, (11). Hare, (12). Krishna, (13). Krishna, (14). Krishna, (15). Hare, (16). Hare. Keenambelas nama-nama suci Tuhan Yang Maha Esa ini menghancurkan pengaruh-pengaruh buruk dalam jaman Kali. Sama sekali tidak ada cara lain yang lebih ampuh dari pada ini yang dapat ditemukan di dalam seluruh literatur Veda. Ini (keenam belas nama-nama suci Tuhan Yang Maha Esa) menghancurkan penutup dari sang Atman (Jiva) berupa enam belas Kala. Kemudian barulah sang atman dapat menunjukkan sinar aslinya: Barulah parambrahma bagaikan sang surya bersinar terang benderang dengan hilangnya sang awan. Kembali Maha Rsi Narada bertanya; “Guruku yang mulia, apakah aturan peraturan untuk mengucapkan nama-nama suci Tuhan Yang Maha Esa ini?”. Dewa Brahma menjawab; “Sama sekali aturan-aturan (yang khusus) mengucapkan keenam belas nama-nama suci Tuhan Yang Maha Esa ini. Setiap saat, apakah seseorang dalam keadaan suci atau tidak suci, dia dapat mengucapkannya. Dengan mengucapkan nama-nama suci Tuhan Yang Maha Esa ini, orang akan mampu mencapai Moksa atau pembebasan dari kelahiran dan kematian yang disebut Salokya (dapat tinggal di alam rohani yang sama dengan kepribadian Tuhan Yang Maha Esa), Samipya (dapat tinggal di dekat Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa), Sarupya (bisa mendapat bentuk badan yang sama dengan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa) dan Sayujya (dapat bersatu dengan Bahmajyoti atau sinar badan Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa).

 

Jika seseorang berjapa atau mengucapkan nama-nama suci Tuhan Yang Maha Esa ini sebanyak tiga setengah koti (35.000.000), maka dia akan dibebaskan dari dosa-dosa akibat membunuh Brahmana, dosa akibat membunuh pahlawan besar, dosa akibat mencuri emas. Dia juga akan dibebaskan dari dosa-dosa akibat penghinaan/kesalahan terhadap leluhur, para dewa, Tuhan dan kesalahan terhadap manusia atau orang lain. Dia akan dibebaskan dengan segera dari dosa-dosa akibat meninggalkan segala dharma atau kewajiban-kewajiban suci yang ditetapkan. Dia akan mendapatkan kesucian segera dibebaskan, segera dibebaskan.

 

Demikianlah Upanisad ini. Harih Om tat sat. Om sa ha navavatviti santih.

 

Dalam mantra ini, pernyataan Maha Rsi Narada mengenai “berkeliling-keliling di dunia ini” bukanlah pernyataan harfiah dimana Maha Rsi Narada memang senantiasa berkeliling ke berbagai tempat di alam semesta material dan juga di dunia rohani, tetapi pernyatan ini adalah istilah yang ditujukan pada pengembaraan sang jiva yang terperangkap dalam samsara (mengembara di alam material dan mengalami kehidupan dan kematian berulang kali). Kenyataan ini dipertegas oleh dewa Brahma yang memberikan penjelasan yang terpusat pada Atman/Jiva/Mahluk hidup.

Berikutnya dewa Brahma juga menjelaskan bahwa ke-16 nama suci yang terdiri dari kata “Hare”, “Krishna” dan “Rama” dapat diucapkan tanpa aturan khusus. Seseorang dapat mengucapkan mantra ini dalam kondisi apapun dan dimanapun. Meskipun seseorang sedang berada di kamar mandi, dalam keadaan sedih atau ada di tempat-tempat kotor lainnya, dia tetap bisa melantunkan nama-nama suci ini.

Anjuran pelantunan maha mantra “Hare Krishna Hare Krishna, Krishna Krishna Hare Hare, Hare Rama Hare Rama, Rama Rama Hare Hare” pada masa Kali-Yuga ini ternyata tidak saja terdapat dalam kitab Kali Santarana Upanisad, tetapi juga sangat dianjurkan pada kitab-kitab Veda lainnya. Dalam Brhan Naradiya Purana (38.126) disebutkan: “harer nama harer nama harer nama eva kevalam kalau nasty eva nasty eva nasty eva gatir anyata, pada jaman Kali, tidak ada cara lain, tidak ada cara lain, tidak ada cara lain untuk mencapai kemajuan spiritual selain dari pada mengucapkan, mengumandangkan atau menyanyikan nama suci, nama suci, nama suci Sri Hari. Dalam Bhagavata Purana (12.3.51) disebutkan; “kaler dosa-nidhe rajan asti hy eko mahan gunah kirtanad eva krsnasya muktah-sangah param vrajet, sang Raja mulia, meskipun Kali-Yuga penuh dengan kegiatan berdosa, tetapi jaman Kali ini membawa satu keberuntungan besar yakni hanya dengan mengumandangkan nama-nama suci Tuhan Sri Krishna, orang dapat bebas dari derita dunia fana dan kembali ke dunia rohani. Hal yang serupa juga ditegaskan dalam Vishnu Purana (6.2.17), Padma Purana (Uttara Kanda 72.25) dan Brhan-Naradiya Purana38.97); “dhyayan krte yajan yajnais tretaram dvapare’rcyam yad apnoti tad apnoti kalau sankirtya kesavam, Phala kerohanian apapun yang dicapai melalui meditasi pada masa Satya-Yuga, melalui pelaksanaan yajna pada masa Treta-Yuga, dengan memuja Arca vigraha-Nya pada masa Dvapara-Yuga, phala serupa juga bisa dicapai pada masa Kali-Yuga hanya dengan mengumandangkan nama-nama suci Kesava.

Dengan demikian, kenapa ragu melantunkan nama suci ini?

Untuk memperjelas, mohon baca juga artikel terkait berikut:

  1. Hari-nama Cintamani
  2. Hari-nama Sankirtana

 

Sumber:

  1. Darmayasa, Kali Santarana Upanisad, Shabari Ashram, 1995
  2. http://nitaaiveda.com/
  3. www.wikipedia.org
<br>

white hole-black hole,teori penciptaan menurut weda

White Hole – Black Hole, Teori Penciptaan dalam Veda!
Posted on February 16, 2009 by Administrator

Ada berbagai versi mengenai teori penciptaan alam semesta yang telah diajarkan sampai saat ini. Mulai dari teori dentuman besar (Big bang), Matahari ganda dan lain sebagainya baik yang memang murni berdasarkan analisa ilmu pengetahuan ataupun untuk kepentingan pembenaran kitab suci tertentu.
Menurut penulis yang memiliki nama besar dari kalangan Muslim, dengan nama samarannya Harun Yahya. Teori penciptaan menurut Al-Qur’an sangat sesuai dengan teori penciptaan dentuman besar Big Bang . Menurutnya, Alam semesta dimulai dari satu titik energi-materi yang akhirnya pecah dan terbentuk berbagai susunan planet dengan tatasuryanya. (Eittt… nanti dulu, apa benar teori penciptaan Al-Qur’an sesuai dengan teori Big Bang? Akan kita bahas dalam topik berikutnya) Al-Qur’an dan Injil menyebutkan bahwasanya alam semesta beserta isinya ini diciptakan oleh Allah hanya dalam waktu 1 minggu (7 Hari). Teori ini juga menjelaskan kenapa alam semesta ini mengembang dan jarak antara tatasurya semakin menjauh.

Bagaimana menurut Hindu? Apakah sama dengan teori-teori agama abrahamik? Dan dapatkah dijelaskan secara ilmiah?
Secara global menurut Veda alam semesta terdiri dari dua bagian utama, yaitu 2/3 alam rohani dan 1/3-nya alam material. Alam rohani sering disebut dengan istilah alam Moksa dimana kondisinya adalah sat cit ananda (kekal, penuh dengan ilmu pengetahuan dan penuh dengan kebahagiaan). Di alam moksa terdapat jutaan planet yang ditempati oleh roh-roh yang telah mencapai pembebasan dan sesuai dengan rasa yang dimiliki oleh roh bersangkutan. Sebagai contohnya, seorang pemuja Krishna akan mencapai planet Vaikunta, Pemuja Narasimha akan hidup bersama Narasimha, pemuja Narayana akan hidup bersama Narayana di planet rohani yang masing-masing terpisah. Sedangkan di alam material tersusun atas jutaan alam semesta. Dimana dalam satu alam semesta terdiri dari jutaan galaksi. Kita sendiri menempati salah satu alam semesta dalam galaksi Bimasakti. Dalam sebuah galaksi terdiri milyaran tatasurya yang berpusat pada 1 bintang, dan dalam satu tatasurya terdiri dari beberapa planet. Seperti pada tempat kita tinggal di planet bumi yang terletak pada tatasurya dengan pusat bintang matahari.

Penciptaan alam semesta diawali dari Tuhan sendiri yang berbaring di lautan penyebab yang mungkin bisa dikiaskan sebagai pondasi seluruh alam semesta sebagai Karanodakasayi Visnu yang maha besar. Dari setiap pori-pori Karanodakasayi Visnu muncullah Garbhodakasayi Visnu yang memunculkan sebuah alam semesta. Dari sini bisakah kita membayangkan betapa besarnya Tuhan? Yang hanya dari 1 pori-porinya memunculkan 1 alam semesta yang terdiri dari jutaan galaksi.

Secara Ilmiah munculnya alam semesta dari pori-pori Tuhan dalam wujud Karanodakasayi Visnu ini diistilahkan dengan White Hole (Lubang Putih). Fenomena White hole sempat diamati oleh beberapa ilmuan yang merupakan area tempat terjadinya perubahan dari Energi menjadi Materi. Kenyataan ini dibenarkan dalam sloka Rgveda bab II.72.4 disebutkan “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari” artinya : Dari aditi (materi) asalnya daksa (energi) dan dari daksa (energi) asalnya aditi (materi). Perubahan dari energi menjadi materi diistilahkan dengan White Hole, bagaimana dengan perubahan dari materi menjadi energi? Dalam konsep penciptaan Veda, perubahan ini dapat diistilahkan dengan Black Hole yang juga sangat sesuai dengan penemuan para ilmuan saat ini. Jadi Veda memberikan jawaban atas pertanyaan bagaimana alam semesta diciptakan bukan dengan konsep big bang seperti yang diakui oleh Al-Qur’an, melainkan dengan teori yang baru mulai dilirik oleh para ilmuawan setelah ditemukannya fenomena Black Hole, yaitu teori Black Hole – White Hole.

Lebih lanjut Veda menjelaskan bahwa setelah munculnya Garbhadakasayi Visnu dari pusar beliau muncul bentuk yang menyerupai bunga padma. Di atas bunga padma inilah Tuhan menciptakan mahluk hidup yang pertama, yaitu Dewa Brahma. Dewa Brahma diberi wewenang sebagai arsitek yang menciptakan susunan galaksi besarta isinya dalam satu alam semesta yang dikuasainya. Kanapa penulis menjelaskan Dewa Brahma menjadi arsitek dalam alam semesta yang dikuasainya? Hal ini karena Menurut Veda alam semesta ada jutaan dan tidak terhitung banyaknya yang muncul dari pori-pori Karanodakasayi Visnu dan setiap alam semesta memiliki dewa Brahma yang berbeda-beda. Ada Dewa Brahma yang berkepada 4 seperti yang dijelaskan menguasai alam semesta tempat bumi ini berada. Dan ada juga Brahma yang lain yang memiliki atribut yang berbeda, berkepala 8, 16, 32 dan sebagainya. Yang jelas dapat disimpulkan bahwa Brahma adalah merupakan kedudukan dalam sebuah alam semesta dan di seluruh jagad material terdapat sangat banyak dewa Brahma, bukan saja dewa Brahma yang telah biasa dibicarakan oleh umat Hindu saat ini. Hal pertama yang diciptakan Brahma dalah susunan benda antariksa, planet, bintang dan sejenisnya mulai dari tingkatan paling halus sampai dengan yang paling kasar. Dalam penciptaan ini dijelaskan bahwa Tuhan menjelma sebagai Ksirodakasayi Visnu dan masuk kedalam setiap atom dan partikel terkecil sekalipun. Inilah kemahahebatan Tuhan sebagai maha ada dan menguasai setiap unsur dalam ciptaannya. Setalah itu Dewa Brahma menciptakan berbagai jenis kehidupan mulai dari para dewa, elien, mahluk halus, binatang, tumbuhan sampai pada virus yang berjumlah 8.400.000 jenis kehidupan. Veda juga memberikan penjelasan siapa manusia pertama. Tidak seperti halnya kitab suci Abrahamik yang menyebutkan hanya ada 1 manusia pertama yaitu adam, Tapi Veda menjelaskan ada 14 manusia pertama yang muncul dalam jaman yang berbeda dalam 1 siklus penciptaan. Manusia pertama dalam Veda diciptakan oleh dewa Brahma dan disebut dengan Manu dan sampai saat ini sudah mencapai generasi manu ke-7.

Jika anda mengaku sebagai manusia tetapi menolak otoritas manu sebagai manusia pertama, maka anda adalah orang bodoh. Manusia berasal dari bahasa sansekerta, dari urat kata manu dan sia, sia diartikan sebagai keturunan. Karena itu seluruh keturunan manu disebut sebagai manusia. Jadi anda salah besar jika memanggil diri anda sebagai manusia tetapi mengakui adam sebagai leluhur pertama anda.

Veda menolak akan adanya teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin, Tetapi Veda mengemukakan akan adanya Devolusi, atau terjadinya degradasi atau penurunan kualitas kehidupan, mulai dari semakin kacaunya susunan tatasurya, kepunahan mahluk hidup, penurunan kualitas kehidupan manusia seiring dengan berjalannya waktu. Terus bagaimana Veda dapat menjelaskan tentang terjadinya berbagai ras manusia? Dalam kitab suci agama abrahamik yang dengan tegas mengakui hanya adam adalah manusia pertama dan berusaha menjelaskan bahwa mutasi dan evolusi genetislah yang menghasilkan ras berbeda. Hawa sebagai pasangan adam tercipta dari tulang rusuk adam. Dengan demikian secara ilmiah, gen yang dimiliki adam seharusnya sama dengan gen yang dimiliki hawa. Jika kedua pasangan ini kawin dan menghasilkan keturunan, maka sudah barang tentu keturunan yang dihasilkannya seharusnya memiliki gen yang sama. Hanya saja kenapa saat ini ada banyak ras dengan genetik yang sangat jauh berbeda? Agamawan dari kalangan Abrahamik menjelaskan bahwa perubahan itu akibat adanya evolusi karena mutasi. Hanya saja Ilmu pengetahuan modern saat ini menjelaskan bahwasanya mutasi tidak akan pernah menghasilkan keturunan yang bersifat menguntungkan bagi mahluk hidup bersangkutan. Sebagai contoh semangka yang dimutasi dapat menghasilkan semangka tanpa biji dimana selanjutnya semangka bersangkutan tidak akan mampu berkembangbiak secara normal.Demikian juga dengan sapi yang diradiasi untuk menghasilkan sapi yang memiliki ukuran besar juga tidak sanggup bertahan hidup dan berkembang biak secara normal. Bukti lain yang membantah pernyataan agamawan abrahamik yaitu jika orang asia hidup ditengah-tengan orang bule di eropa dalam waktu yang sangat lama dengan kebudayaan eropa tetapi mereka tidak pernah melakukan perkawinan silang dengan orang bule, apakah postur tubuh mereka berubah menjadi orang bule atau campurannya? Tentu tidak bukan. orang dengan ras asia tetap sama dimanapun mereka berada.

Nah, jika teori adam-hawa ini salah, bagaimana otoritas Veda menjelaskannya? Menurut Veda yang menjelaskan bahwa sampai saat ini di bumi ini telah muncul 7 manu dengan gambang menyatakan bahwa ras-ras yang berbeda yang ada saat ini berasal dari ke-7 manu yang memiliki genetik yang berbeda dan perkawinan silang diantara mereka. Jadi keturunan dari manu saat ini adalah kombinasi dari 7 dan dapat merupakan kombinasi dari keturunanya lagi. Tentunya secara Ilmiah teori ini dapat diterima dengan baik dan jauh lebih masuk akal dibandingkan dengan konsep adam-hawa. Jadi yakinkah bahwa leluhur anda adalah adam dan hawa?

Seringkali pula kita mendengar bahwa kiamat sudah dekat. Benarkah kiamat sudah dekat? Veda menjelaskan bahwa kiamat akan terjadi pada saat Brahma yang merupakan arsitek alam semesta meninggal dunia pada usia beliau yang ke-100 tahun dalam satuan waktu alam Jana loka. Sebelum ke penjelasan selanjutnya, sebaiknya harus dimengerti terlebih dahulu bahwa waktu di bumi, berbeda dengan waktu di planet lain ataupun di dimensi lain sesuai dengan hukum relativitas ruang dan waktu. jika kita dapat mengerti bahwa 1 hari di sorga akan sama dengan 6 bulan di bumi, 1 hari di dimensi alam jin akan sama dengan 3 hari di dimensi kita di bumi. Demikian juga dengan alam / dimesi ruang yang lainnya. 100 tahun dewa brahma jika dikonversikan dalam satuan waktu kita akan sama dengan 311,04 triliun tahun manusia.

Sumber: Lifes come from lifes, Bhaktivedanta Book Trush

Toleransi dalam weda

Bila kita memaknai penjelmaan kita kedunia sebagai manusia DALAM konteks sosial budaya maka kita harus mengembangkn sikap WELES ASIH kpda sesama manusia,wawasan multikvltural sesama pendukung budaya yg berbeda dan sekaligus juga mengembangkn KERUKUUNAN dan TOLERANSI sesama umad beragama.Tentang WAWASAN MULTICULTURAL DAN TOLERANSI sesama umad beragama kitab Veda mengamatkn sbb:

Atharvaveda XII.1.45.

Janam bibhratî bahudhâ vivâcasam nana
dharmanam prthiviyathaukasam,
sahasram dhara dravinasya me duham dhruveva dhenur anapasphuranti.
Artinya :
“bekerjalh keras untuk kejayaan ibu pertiwi,tumpah darah dan bangsamu yg menggunakn berbagai bahasa.Berikanlah PENGHARGAAN yg pantas KEPADA mereka yg menganut AGAMA yg BERBEDA.HARGAILAH mereka seluruhnya SEPERTI halnya KELUARGA yg tinggal dlm satu rumah.Curahknlah kasih sayangmu,bagaikan induk sapi yg selalu membrikan susu kpada manusia.Bunda pertiwi akan memberikan kekayaan dan kesejahteraan kepada kamu,umat manusia sbg anak2nya””

Weda Sebagai Sumber dan Kitab Suci Agama Hindu.

Tiap Agama mempunyai kitab suci yg mnjadi sumber keyakinan dan kpercayaan kepada Tuhan,disamping sumber etik dari tingkah laku seseorang.

Agama bukan saja mengajarkn soal hidup sesudah mati,tetapi juga apa yg harus dbuat selama hidup d dunia.Agama mempunyai peraturan-peraturan yg berbentuk susila,dan barang siapa yg mlanggarnya akan mndapat hukuman penderitaan di Dunia dan di Akhirat,sebaliknya barang siapa yg menaati dan mlaksanakan perattran2 agama itu dg sbaik2nya,akan mndapat kebahagian di dunia dan akhirat.

Bagi umad Hindu sumber Agama adalah Weda dan Dharmacastra.Weda a/ wahyu yg d turunkan melalui Maharesi2 lebih dari 4000 tahun yg lalu.
Ajaran Manu yg d tulis oleh Bhagawan Bhrgu dlm Manawa Dharmacastra II. 10. Menyebutkan.
Crutistu Wedo Wijnejo dharma castram tuwai smrih,te sarwartheswam imammsye tabhyam dharmohi nirbabhau.
Artinya:
ssunggunya Cruti(wahyu) itu adalah weda,dmikian pula yg di sebut smrti adalah Dharma Castra,keduanya ini tdx boleh d ragukan dlm hal apapun juga kdrena keduanya adalah kitab suci yg menjadi sumber dari Dharma.

Dalam kaitanya antara Weda dg smrti,weda itu lebih dulu ada dari smrti,jd dg demikia maka Wedalah yg menjadi sumber paling utama dari Agama Hindu.Jelas d sebutkan disini bahwa Weda itu adalah wahyu bukan buatan maharsi atau manusia,dg demikian Agama Hindu bukan agama budaya hasil ciptaan manusia.

Ada beberapa hal yg menonjol dari Weda yg patut d jelaskan supaya jangan menimbulkan salah tafsir bagi orang yg menimbulkan tidax memahaminya yaitu:

1.Dalam weda kita melihat pula ajaran2 yg tampaknya seperti polytheis,memuja banyak dewa,sehingga spintas timbul anggapan bhwa Tuhan itu banyak…
Padahal Weda adalah monotheisme,tp dlm penghayatan yg agak brbeda dg agama2 monotheis lainya.
Weda adalah agama untuk manusia masa lampau,manusia sekarang dan manusia yg akan datang.Weda adalah sanatana dharma yaitu agama yg abadi dan bisa hidup spanjang jaman.Bentuk polyteisme yg monotheisme dlm weda dpat di lihat dari mantra Tri sandya bait ke 3 yakni:
Om twan ciwah,twam Mahadewa,Iswara,Parameswara,Brahma,Wisnucca,Rudrasca,Purusah parikirtitah
artinya :
Tuhan yg d sebut dg nama Ciwa,Mahadewa,Iswara,Parameswara,Brahma,Wisnu,dan Rudra.Tuhan adalah asal mula dari sgala
yg ada.Demikianlah Tuhan dipuja selalu.

Jd Dewa2 itu walaupun dbayangkan bnyak tapi sbenarnya tidak lebih dari sifat srta fungsi dari Tuhan yg satu(Esa).
Ambil contoh matahari dg sinar2nya,yg d gunakan oleh Umad Hindu sbg kiasan.Matahari yg satu ini mempunyai sinar banyak,para ahli menyebutnya dg sinar ultra merah,sinar ultra violet,dll.Dan stiap sinar ini mempunyai khasiat,ciri,warna dg kegunaan masing.Seolah2 ada sinar banyak yg keluar dari sumber yg banyak pula,tetapi nyatanya semua sinar itu adalah berasal dari matahari yg satu.Matahari yg satu ini mempunyai fungsi banyak,matahari yg satu ini mempunyai sinar yg masing2 mempunyai kekuatan dan kegunaan yg brbeda2.
Itulah sebabnya dalam Agama Hindu kekuatan2 Tuhan Yang Maha Esa itu d sebut Dewa,karena asal katanya “Div”yg artinya sinar..

Mengapa para sarjana memisah2kan dan memberi nama lain sinar2 itu, padahal semua sinar itu adalah sinarnya matahari.?Salahkan kalau sinar2 kekuatan Tuhan d personifikasikan dan di berikan nama2 yg berbeda??

2.Weda mempunyai keluwesan,tidax kaku,namun tidak berubah inti hakekatnya.
Weda di ibaratkan seperti bola karet yg melengket,kemanapun dia d gelindingkan,maka tanah yg d lalui itu melengkdt,membri warna baru pada bola karet itu,namun inti karet itu tdx berubah,demikian pula bentuknya yg bundar,hanya warnanya berubah sesuai dg daerah yg d lalui,kalau lewat d pasir,maka bola karet itu membentuk bola pasir dmikian kalau melewati tanah merah maka akan terjadi bola tanah merah,karena kalau d belah inti bola ini akan tetap sama.

Begitulah Agama Hindu,ajara Wedanya tetap abadi,intinya tdx berubah hanya bagian luarnya yg bervariasi,menyesuaikan diri dg budaya setempat di mana Agama itu berkembang.Agama Hindu di india brbeda dg Agama Hindu d jawa,Dan berbeda pula dg Agama Hindu di bali,tetapi perbedaanya ini hanya bagian luarnya saja..