Tri Hita Karana

Tri Hita Karana

Dalam pustaka Bhagawadgita Bab IV sloka 10, dinyatakan bahwa pada jaman dahulu Tuhan mencipta manusia bersama bakti persembahan-Nya, dan bersabda, “Dengan ini engkau akan berkembang biak dan terimalah dunia ini sebagai kamadhuk.” Kamadhuk artinya yang dapat memenuhi segala keinginan.
Dunia sebagai kamadhuk, yang digambarkan sebagai sapi perahan. Maknanya adalah susunya boleh diperah, tetapi sapinya harus selalu dirawat. Demikian pula dengan dunia atau alam ini boleh dieksploitasi, tetapi juga harus selalu dirawat dan dilestarikan.

Tercipta Hubungan
Sejak penciptaan itu, terjalinlah hubungan manusia dan Tuhan sebagai penguasa alam semesta.
Sejak dititahkan untuk berkembang, manusia pun berkembang merambah seluruh pelosok dunia. Sejak itu timbul hubungan manusia dengan manusia. Demikian pula sejak dunia ini sebagai kamadhuk dihadiahkan kepada manusia, terjadilah hubungan manusia dengan alam. Hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungan manusia dengan alam, melahirkan kearifan lokal yang disebut TRI HITA KARANA.
1.Hubungan manusia dengan Tuhan

Hubungan manusia dengan Tuhan
dijalin dengan upaya selalu mendekatkan diri kepada-Nya, dengan cara melaksanakan persembahyangan atau pemujaan sebagaimana diamanatkan dalam Bhagawadgita III sloka II. Oleh karena itu pujalah Tuhan, semoga Tuhan memberkati engkau. Dengan pujaanmu, engkau mencapai kebijaksanaan tertinggi.

2.Hubungan manusia dengan sesamanya

Atharvaveda XII.1.45.

Janam bibhratî bahudhâ vivâcasam nana
dharmanam prthiviyathaukasam,
sahasram dhara dravinasya me duham dhruveva dhenur anapasphuranti.
Artinya :
“bekerjalh keras untuk kejayaan ibu pertiwi,tumpah darah dan bangsamu yg menggunakn berbagai bahasa.Berikanlah PENGHARGAAN yg pantas KEPADA mereka yg menganut AGAMA yg BERBEDA.HARGAILAH mereka seluruhnya SEPERTI halnya KELUARGA yg tinggal dlm satu rumah.Curahknlah kasih sayangmu,bagaikan induk sapi yg selalu membrikan susu kpada manusia.Bunda pertiwi akan memberikan kekayaan dan kesejahteraan kepada kamu,umat manusia sbg anak2nya””

Hubungan manusia dengan sesamanya
hendaknya dengan menyadari diri sebagai sahabat dari sesama manusia, baik dalam hubungan sesama agama, antarsuku, ras, dan antaragama. Tidak perlu memandang perbedaan asal usul maupun budaya, kita semua adalah teman dari semua ciptaan Tuhan, karena berasal dari pencipta yang sama serta diisi dan digerakkan oleh sumber hidup yang sama pula. Pandang memandanglah sebagai sahabat, demikian ditegaskan dalam Yajur Veda XXXVI.18.

3.Melestarikan Alam
Alam semesta

Melestarikan Alam
Alam semesta, khususnya dunia ini, adalah tempat di mana kita hidup. Ia memberi apa yang kita butuhkan. Oleh karena itu, alam lingkungan hendaknya jangan hanya dimanfaatkan, tetapi juga ada upaya pelestarian. Bhagawadgita III.14 mengamanatkan demikian, “Karena makanan makhluk (menjadi) hidup, karena hujan tumbuhan (menjadi) hidup, karena persembahan hujan turun, dan persembahan lahir dari kerja.”

kesimpulan :
Tri Hita Karana adalah Tiga hubungan yang menyebabkan kebahagian
bagian-bagianya yakni:
1.Prahyangan yaitu hubungan manusia dg Tuhan
2.Pawongan yaitu hubungan manusia dg manusia
3.Palemahan yaitu hubungan manusia dg alam sekitar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s