Daily Archives: 31 Oktober 2010

Wujud Semesta Tuhan Sri Krishna

Wujud Semesta Tuhan Sri Krishna

By Administrator, on April 27th, 2010
i
Rate This

Quantcast

//

Krsna

Bentuk Semesta Tuhan

Bhagavad-gita 11.1

11.1 Arjuna berkata; Dengan mendengar wejangan tentang mata pelajaran yang paling rahasia ini yang sudah Anda berikan kepada hamba atas kemurahan hati Anda, khayalan hamba sekarang sudah dihilangkan.

Bhagavad-gita 11.2

11.2 O Krsna yang mempunyai mata seperti bunga padma, hamba sudah mendengar dari Anda secara terperinci tentang muncul dan menghilangnya setiap makhluk hidup dan hamba sudah menginsafi kebesaran Anda yang tidak pernah dibinasakan.

Bhagavad-gita 11.3

11.3 O kepribadian yang paling mulia, bentuk yang paling utama, walaupun hamba melihat Anda berdiri di sini di hadapan hamba dalam kedudukan Anda yang sejati, sesuai dengan uraian Anda tentang Diri Anda, hamba ingin melihat bagaimana Anda masuk dalam manifestasi alam semesta ini. Hamba ingin melihat bentuk Anda tersebut.

Bhagavad-gita 11.4

11.4  Kalau Anda berpikir hamba sanggup memandang bentuk semesta Anda, sudilah kiranya Anda memperlihatkan bentuk semesta Diri Anda yang tidak terhingga itu kepada hamba, o Tuhan yang hamba muliakan, penguasa segala kekuatan batin.

Bhagavad-gita 11.5

11.5 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Wahai Arjuna yang baik hati, wahai putera prtha, sekarang lihatlah kehebatan-Ku, beratus-ratus ribu jenis bentuk rohani yang berwarna-warni.

Bhagavad-gita 11.6

11.6  Wahai yang paling baik di antara para Bharatha, lihatlah di sini berbagai perwujudan para Aditya, vasu, Rudra, Asvini-kumara dan semua dewa lainnya. Lihatlah banyak keajaiban yang belum pernah dilihat atau didengar oleh siapapun sebelumnya.

Bhagavad-gita 11.7

11.7  Wahai Arjuna apapun yang ingin engkau lihat, lihatlah dengan segera dalam badan-Ku ini! Bentuk semesta ini dapat memperlihatkan kepadamu apapun yang engkau ingin lihat sekarang dan apapun yang engkau ingin lihat pada masa yang akan datang. Segala sesuatu- baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak-berada di sini secara lengkap, di satu tempat.

Bhagavad-gita 11.8

11.8  Tetapi engkau tidak dapat melihat-Ku dengan mata yang engkau miliki sekarang. Karena itu, Aku memberikan mata rohani kepadamu. Lihatlah kehebatan batin-Ku.

Bhagavad-gita 11.9

11.9 Sanjaya berkata; Wahai paduka Raja, sesudah bersabda demikian, Tuhan Yang Mahakuasa, penguasa segala kekuatan batin, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, memperlihatkan bentuk semesta-Nya kepada Arjuna.

Bhagavad-gita 11.10

Bhagavad-gita 11.11

11.10-11  Dalam bentuk semesta itu, Arjuna melihat mulut-mulut yang tidak terhingga, mata yang tidak terhingga, dan wahyu-wahyu ajaib yang tidak terhingga. Bentuk tersebut dihiasi dengan banyak perhiasan rohani dan membawa banyak senjata rohani yang diangkat. Beliau memakai kalung rangkaian bunga dan perhiasan rohani, dan banyak jenis minyak wangi rohani dioleskan pada seluruh badan-Nya. Semuanya ajaib, bercahaya, tidak terbatas dan tersebar kemana-mana.

Bhagavad-gita 11.12

11.12 Kalau beratus-ratus ribu matahari terbit di langit pada waktu yang sama, mungkin cahayanya menyerupai cahaya dari kepribadian yang paling utama dalam bentuk semesta itu.

Bhagavad-gita 11.13

11.13 Pada waktu itu, dalam bentuk semesta Tuhan, Arjuna dapat melihat perwujudan-perwujudan alam semesta yang tidak terhingga terletak di satu tempat walaupun dibagi menjadi beribu-ribu.

Bhagavad-gita 11.14

11.14 Kemudian Arjuna kebingungan dan kagum, dan bulu romanya tegak berdiri. Arjuna menundukkan kepalanya untuk bersujud, lalu mencakupkan tangannya dan mulai berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bhagavad-gita 11.15

11.15  Arjuna berkata; Sri Krsna yang hamba muliakan, di dalam badan Anda hamba melihat semua dewa dan berbagai jenis makhluk hidup yang lain. Hamba melihat Brahma duduk di atas bunga padma, bersama Dewa Siva, semua resi dan naga-naga rohani.

Bhagavad-gita 11.16

11.16 O penguasa alam semesta, o bentuk semesta, di dalam badan Anda hamba melihat banyak lengan, perut, mulut dan mata, tersebar ke mana-mana, tanpa batas,. Hamba tidak dapat melihat akhir, pertengahan, maupun awal di dalam Diri Anda.

Bhagavad-gita 11.17

11.17 Bentuk Anda sulit dilihat karena cahaya-Nya yang menyilaukan, tersebar ke segala sisi, seperti api yang menyala atau cahaya matahari  yang tidak dapat diukur. Namun hamba melihat bentuk ini yang bernyala di mana-mana dihiasi dengan berbagai jenis mahkota, gada, dan cakra.

Bhagavad-gita 11.18

11.18  Anda adalah tujuan pertama yang paling utama. Andalah sandaran utama seluruh jagat ini. Anda tidak dapat dimusnahkan, dan Andalah yang paling Tua. Andalah pemelihara dharma yang kekal, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Inilah pendapat hamba.

Bhagavad-gita 11.19

11.19  Anda tidak berawal, tidak ada masa pertengahan bagi Anda dan Anda tidak berakhir. Kebesaran Anda tidak terhingga. Jumlah lengan Anda tidak terbilang. Matahari dan bulan adalah mata Anda. Hamba melihat Anda dengan api yang bernyala keluar dari mulut Anda. Anda sedang membakar seluruh jagat ini dengan cahaya pribadi Anda.

Bhagavad-gita 11.20

11.20 Walaupun Anda adalah satu, Anda berada di mana-mana di seluruh angkasa, planet-planet dan antariksa antar planet-planet. O kepribadian yang Mulia dengan melihat bentuk yang mengagumkan dan mengerikan ini, semua susunan planet goyah.

Bhagavad-gita 11.21

11.21 Semua kelompok dewa menyerahkan diri di hadapan Anda dan masuk ke dalam diri Anda. Beberapa di antaranya sangat ketakutan dan mereka mempersembahkan doa pujian sambil mencakupkan tangannya. Banyak resi yang mulia dan makhluk-makhluk yang sempurna yang sedang berseru, “semoga ada segala kedamaian!” sedang berdoa kepada Anda dengan menyanyikan mantra-mantra veda.

Bhagavad-gita 11.22

11.22 Segala manifestasi dari Dewa Siva, para Aditya, para vasu, para Sandya, para Visvedeva, dua Asvi, para Marut, para Leluhur, para Gandharva, para Yaksa, para Asura dan dewa-dewa yang sempurna memandang Anda dengan rasa kagum.

Bhagavad-gita 11.23

11.23 O kepribadian yang berlengan perkasa, semua planet dengan dewa-dewanya goyah ketika melihat bentuk Anda yang maha Agung, dengan banyak muka, mata, lengan, paha, kaki, dan perutnya, dan banyak gigi Anda yang mengerikan; karena itu, mereka goyah, dan hamba juga goyah.

Bhagavad-gita 11.24

11.24 O Visnu yang berada di mana-mana, ketika hamba melihat Anda dengan berbagai warna Anda yang bercahaya dan menyentuh langit, mulut-mulut Anda yang terbuka lebar dan mata Anda yang besar dan menyala, pikiran hamba goyah karena rasa takut. Hamba tidak dapat memelihara sikap mantap maupun keseimbangan pikiran lagi.

Bhagavad-gita 11.25

11.25 O penguasa para dewa, pelindung dunia-dunia, mohon memberi karunia kepada hamba. Hamba tidak dapat memelihara keseimbangan ketika melihat Anda seperti ini dengan wajah-wajah Anda yang menyala seperti maut dan gigi yang mengerikan. Di segala arah hamba kebingungan.

Bhagavad-gita 11.26

Bhagavad-gita 11.27

11.26-27 Semua putera Dhrtarastra, bersama raja-raja yang bersekutu dengan mereka, Bhisma, Drona, Karna dan – semua pemimpin kesatria di pihak kita – lari masuk ke dalam mulut-mulut Anda yang mengerikan. Hamba melihat beberapa di antaranya tersangkut dengan kepala-kepalanya hancur di antara gigi-gigi Anda.

Bhagavad-gita 11.28

11.28  Bagaikan ombak-ombak banyak sungai mengalir ke dalam lautan, seperti itu pula semua kesatria yang hebat ini menyala dan masuk ke dalam mulut-mulut Anda.

Bhagavad-gita 11.29

11.29 Hamba melihat semua orang lari dengan kecepatan penuh ke dalam mulut-mulut Anda, bagaikan kupu-kupu yang terbang menuju kehancuran di dalam api yang menyala.

Bhagavad-gita 11.30

11.30 O Visnu, hamba melihat Anda menelan semua orang dari segala sisi dengan mulut-mulut  Anda yang mengeluarkan banyak api. Anda menutupi seluruh alam semesta dengan cahaya Anda, Anda terwujud dengan sinar-sinar yang mengerikan dan menganguskan.

Bhagavad-gita 11.31

11.31 O penguasa semua dewa, yang mempunyai bentuk yang begitu ganas, mohon beritahukan  kepada hamba siapa Anda? Hamba bersujud kepada Anda; mohon memberi karunia kepada hamba. Anda adalah Tuhan Yang Maha Esa yang asli. Hamba ingin mengetahui tentang Anda, sebab hamba tidak mengetahui apa maksud Anda.

Bhagavad-gita 11.32

11.32  Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Aku adalah waktu, penghancur besar dunia-dunia, dan Aku datang ke sini untuk menghancurkan semua orang. Kecuali kalian [para Pandava], semua kesatria di sini dari kedua belah pihak akan terbunuh.

Bhagavad-gita 11.33

11.33 Karena itu, bangunlah. Siap-siap untuk bertempur dan merebut kemasyuran. Kalahkanlah musuhmu dan menikmati kerajaan yang makmur. Mereka sudah dibunuh oleh apa yang telah Ku-atur, dan engkau hanya dapat menjadi alat dalam pertempuran, wahai Savyasaci.

Bhagavad-gita 11.34

11.34 Drona, Bhisma, Jayadratha, Karna, dan kesatria-kesatria besar lainnya sudah Ku-hancurkan. Karena itu, bunuhlah  mereka dan jangan merasa goyah. Bertempur saja, dan engkau akan memusnahkan musuh-musuhmu dalam pertempuran.

Bhagavad-gita 11.35

11.35 Sanjaya berkata kepada Dhrtarastra; wahai Baginda Raja, sesudah mendengar kata-kata ini dari kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Arjuna yang sedang gemetar menghaturkan sembah sujud berulang kali dengan mencakupkan tangannya. Hati Arjuna penuh rasa takut dan dia berkata kepada Sri Krsna dengan suara yang tersendat-sendat, sebagai berikut.

Bhagavad-gita 11.36

11.36  Arjuna berkata;  O penguasa indria-indria, dunia menjadi riang dengan mendengar nama Anda, dan dengan demikian semua orang menjadi terikat kepada Anda. Kendatipun makhluk-makhluk sempurna bersujud kepada Anda dengan hormat, para raksasa ketakutan sehingga mereka lari ke sana ke mari. Segala hal ini memang patut terjadi.

Bhagavad-gita 11.37

11.37  O Yang Mahabesar, lebih tinggi daripada Brahma, Anda adalah pencipta yang asli. Karena itu, bukankah seyogyanya mereka bersujud dengan hormat kepada Anda? O kepribadian yang tidak terhingga, Tuhan yang disembah oleh semua dewa, pelindung alam semesta! Anda adalah sumber yang tidak dapat dikalahkan, sebab segala sebab, yang melampaui manifestasi alam material ini.

Bhagavad-gita 11.38

11.38  Anda adalah kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang paling tua, pelindung utama alam semesta yang terwujud. Andalah yang Mahatahu, dan Andalah segala sesuatu yang dapat diketahui. Andalah pelindung tertinggi, Anda berada di atas sifat-sifat material. O bentuk yang tidak terhingga Anda berada di mana-mana di seluruh manifestasi alam semesta ini!

Bhagavad-gita 11.39

11.39  Andalah udara, dan Andalah Yang Mahakuasa! Anda adalah api, Anda adalah air, dan Anda adalah bulan! Anda adalah Brahma, makhluk hidup yang pertama, Anda adalah kakek moyang semua makhluk. Karena itu hamba bersujud dengan hormat kepada Anda seribu kali, kemudian berulang kali lagi.

Bhagavad-gita 11.40

11. 40  Hamba bersujud kepada Anda dari depan, dari belakang dan dari segala sisi! O kekuatan yang tidak terbatas, Anda penguasa kewibawaan yang tidak terhingga! Anda berada di mana-mana, karena itu Andalah segala sesuatu!

Bhagavad-gita 11.41

Bhagavad-gita 11.42

11.41-42  Oleh karena hamba menganggap Anda sebagai kawan, hamba terlalu berani dan menyapa kepada Anda “hai krsna”, “hai yadava”, “hai kawanku,” tanpa mengetahui kebesaran Anda. Mohon mengampuni apapun yang sudah hamba lakukan karena kebodohan atau karena cinta kasih. Berulang kali hamba kurang hormat kepada Anda, bercanda pada waktu kita sedang istirahat, berbaring di ranjang yang sama, duduk atau makan bersama-sama kadang-kadang sendirian, dan kadang-kadang di depan banyak kawan. O kepribadian yang tidak pernah gagal, ampunilah segala kesalahan itu yang hamba lakukan.

Bhagavad-gita 11.43

11.43  Anda adalah ayah seluruh manifestasi alam semesta ini, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Anda adalah pemimpin jagat yang patut disembah, guru kerohanian yang paling utama. Tiada seorang pun yang sejajar dengan Anda, dan tidak mungkin seseorang bersatu dengan Anda.  Karena itu, bagaimana mungkin ada seseorang yang lebih agung daripada Anda di dalam seluruh tiga dunia ini, o penguasa yang memiliki kekuatan yang tidak terhingga.

Bhagavad-gita 11.44

11 44  Anda adalah Tuhan Yang Maha Esa yang patut disembah oleh setiap makhluk hidup. Karena itu, hamba bersujud dengan hormat kepada Anda dan mohon karunia Anda. Seperti halnya seorang ayah membiarkan keberanian puteranya, seorang kawan membiarkan sikap kurang sopan dari kawannya, atau seorang istri membiarkan sikap akrab suaminya, mohon memaafkan kesalahan yang mungkin hamba lakukan terhadap Anda.

Bhagavad-gita 11.45

11.45 Sesudah melihat bentuk semesta ini yang belum pernah hamba lihat sebelumnya, hamba goyah karena ketakutan. Karena itu, mohon memberi  karunia Anda kepada hamba dan sekali lagi memperlihatkan bentuk Anda sebagai kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, o Tuhan yang disembah oleh semua dewa, pelindung alam semesta.

Bhagavad-gita 11.46

11.46. O bentuk semesta, Tuhan Yang Maha Esa yang berlengan seribu, hamba ingin melihat Anda dalam bentuk Anda yang berlengan empat,  dengan mahkota pada kepala Anda dan gada, cakra, kerang, dan bunga padma pada tangan-tangan Anda. Hamba ingin melihat Anda dalam bentuk itu.

Bhagavad-gita 11.47

11.47 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Arjuna yang baik hati, atas kekuatan dalam dari Diri-Ku, dengan senang hati bentuk semesta yang paling utama di dunia material sudah kuperlihatkan kepadamu. Sebelum engkau, belum pernah ada orang yang melihat bentuk yang abadi ini, yang tidak terhingga dan penuh cahaya yang menyilaukan.

Bhagavad-gita 11.48

11.48 Wahai kesatria kuru yang paling baik, sebelum engkau, belum pernah ada orang yang melihat bentuk semesta-Ku ini, sebab Aku tidak dapat dilihat dalam bentuk ini di dunia material. Baik melalui cara mempelajari veda, melakukan korban suci, kedermawanan, kegiatan saleh, maupun pertapaan yang keras.

Bhagavad-gita 11.49

11.49 Engkau sudah menjadi goyah dan bingung dengan melihat ciri-Ku yang mengerikan ini. Sekarang itu semua akan berakhir. Penyembah-Ku, sekarang engkau bebas lagi dari segala gangguan. Dengan pikiran yang tenang, sekarang engkau dapat melihat bentuk yang engkau inginkan.

Bhagavad-gita 11.50

11.50 Sanjaya berkata  kepada  Drtarastra; setelah kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krsna bersabda seperti itu kepada Arjuna, Beliau memperlihatkan bentuknya yang sejati yang berlengan empat, dan akhirnya memperlihatkan bentuknya yang berlengan dua. Dengan demikian, Beliau memberi semangat kepada Arjuna yang sedang ketakutan.

Bhagavad-gita 11.51

11.51  Ketika Arjuna melihat Krsna seperti itu dalam bentuk-Nya yang asli, dia berkata; o Janardana, dengan melihat bentuk ini yang seperti manusia dan sangat tampan, pikiran hamba sudah tenang, dan hamba kembali pada sifat hamba yang asli.

Bhagavad-gita 11.52

11.52  Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Arjuna yang baik hati, bentuk-Ku yang sedang engkau lihat sulit sekali dipandang. Para dewa pun senantiasa mencari kesempatan untuk melihat bentuk ini yang sangat tercinta.

Bhagavad-gita 11.53

11.53  Bentuk yang sedang engkau lihat dengan mata rohanimu tidak dapat dimengerti hanya dengan mempelajari veda, melakukan pertapaan yang serius, melalui kedermawanan maupun sembahyang. Bukan dengan cara-cara ini seseorang dapat melihat Aku dalam bentuk-Ku yang sebenarnya.

Bhagavad-gita 11.54

11.54  Arjuna yang baik hati, hanya melalui bhakti yang murni dan tidak dicampur dengan kegiatan yang lain Aku dapat dimengerti menurut kedudukan-Ku yang sebenarnya, yang sedang berdiri di hadapanmu, dan dengan demikian Aku dapat dilihat secara langsung. Hanya dengan cara inilah engkau dapat masuk ke dalam rahasia pengertian-Ku.

Bhagavad-gita 11.55

11.55 Arjuna yang baik hati, orang yang menekuni bhakti yang murni kepada-Ku, bebas dari pengaruh kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala dan pengaruh angan-angan, yang bekerja demi-Ku, menjadikan Aku sebagai tujuan utama dalam hidupnya, dan ramah terhadap semua makhluk-dia pasti datang kepada-Ku.

_______________________________

Mari kita lihat bersama apa tanggapan orang non-Hindu Indonesia, pasti subjektif banget.

Manu adalah manusia pertama

Manu adalah manusia pertama

11 comments

Pernahkah anda berpikir kenapa kita disebut manusia?

Manusia berasal dari kata Manu dan Sia, Manu berarti “manu” sebagai mana yang disebut-sebut dalam kitab suci Veda. Dan Sia/sha mengarah pada arti “keturunan”. Jadi manusia berarti “mereka yang merupakan keturunan Manu”. Sangatlah lucu jika anda menyebut diri anda sebagai seorang manusia, tapi menolak disebut sebagai keturunan manu, tetapi malah mengaku anak cucu dari Adam.

Dalam artikel yang lain sudah dijelaskan bahwasanya Adam bukanlah manusia pertama. Dan dalam artikel lainnya sudah dijelaskan pula bagaimana proses penciptaan alam semesta dan bagaimana susunannya. Artikel berikut akan menjelaskan secara singkat bagaimana Manu, leluhur manusia yang ternyata tidak hanya 1 jenis tercipta.

Brahman (Prajapati) menciptakan dua kekuatan yang disebut Purusa yaitu kekuatan hidup (batin/nama) dan Prakerti (pradana/rupa) yaitu kekuatan kebendaan. Kemudian timbul “cita” yaitu alam pikiran yang dipengaruhi oleh Tri Guna yaitu Satwam (sifat kebenaran/Dharma), Rajah (sifat kenafsuan/dinamis) dan Tamah (Adharma/kebodohan/apatis). Kemudian timbul Budi (naluri pengenal), setelah itu timbul Manah (akal dan perasaan), selanjutnya timbul Ahangkara (rasa keakuan). Setelah ini timbul Dasa indria (sepuluh indria/gerak keinginan) yang terbagi dalam kelompok

  • Panca Budi Indria yaitu lima gerak perbuatan/rangsangan: Caksu indria (penglihatan), Ghrana indria (penciuman), Srota indria (pendengaran), Jihwa indria ( pengecap), Twak indria (sentuhan atau rabaan)
  • Panca Karma Indria yaitu lima gerak perbuatan/penggerak: Wak indria(mulut), Pani (tangan), Pada indria (kaki), Payu indria (pelepasan), Upastha indria (kelamin)

Setelah itu timbulah lima jenis benih benda alam (Panca Tanmatra): Sabda Tanmatra(suara), Sparsa Tanmatra (rasa sentuhan), Rupa Tanmatra (penglihatan), Rasa Tanmatra (rasa), Gandha Tanmatra (penciuman).

Dari Panca Tanmatra lahirlah lima unsur-unsur materi yang dinamakan Panca Maha Bhuta, yaitu Akasa (ether), Bayu (angin), Teja (sinar), Apah (zat cair) dan Pratiwi (zat padat.)

Perpaduan semua unsur-unsur ini menghasilkan dua unsur benih kehidupan yaitu Sukla (benih laki-laki) dan Swanita (benih perempuan). Pertemuan antara dua benih kehidupan ini adalah pertemuan Purusa dengan Pradana maka terciptalah manusia.

Dahulu kala Prajapati mencipta manusia bersama bhakti persembahannya dan berkata dengan ini engkau akan berkembangbiak dan biarlah dunia ini jadi sapi perahanmu-[Bhagavad-Gita 3.10]

Beberapa jiwa memasuki kandungan untuk ditubuhkan; yang lain memasuki obyek-obyek diam sesuai dengan perbuatan dan pikiran mereka.-[Katha Upanisad 2.2.7]

Mahluk-mahluk di dunia yang terikat ini adalah bagian percikan yang kekal (Brahman) dari Ku, mereka berjuang keras melawan 6 indria termasuk pikiran.-[Bagawad Gita 15.7]

Percikan dari Brahman itu dinamakan Atman/jiwatman. Atman itu tak terlukai oleh senjata, tak terbakar oleh api, tak terkeringkan oleh angin, tak terbasahkan oleh air, abadi, di mana- mana ada, tak berpindah- pindah, tak bergerak, selalu sama, tak dilahirkan, tak terpikirkan, tak berubah dan sempurna tidak laki- laki ataupun perempuan.

Percikan itulah yang menghidupkan/menggerakan manusia. Atman/roh/jiwa menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman. Misalnya telinga tak dapat mendengar bila tak ada atman, mata tak dapat melihat bila tak ada atman, kulit tak dapat merasakan bila tak ada atman. Badan jasmani bisa berubah, lahir, mati, datang dan pergi, namun Atma tetap langgeng untuk selamanya.

Ibarat orang meninggalkan pakian lama dan menggantinya dengan yang baru, demikian jiwa meninggalkan badan tua dan memasuki jasmani baru.-[Bagawad Gita II.22]

Maya tanpa kecerdasan dan Material mempunyai sifat: kebaikan/selaras (satwam), nafsu/kekuatan (rajas) dan kebodohan/kelambaman (tamas)” -[Siwa Samhita 1.79] Mahluk hidup diikat oleh sifat-sifat tersebut dan sulit dikendalikan……-[Bagawad Gita 14.5]

Atma/Jiwatman bersifat abadi, namun karena Maya, maka Jiwatma tidak mengetahui asalnya yang sesungguhnya. Keadaan itu disebut “Awidya”. Hal tersebut mengakibatkan Jiwatman mengalami proses kelahiran kembali yang berulang-ulang kedalam 8.400.000 jenis badan material (kehidupan) yang telah disediakan di alam ini oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Kelahiran kembali (Punarbhawa/Reinkarnasi) terjadi karena Ia harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu (karma). Dalam ajaran tersebut, bisa dikatakan manusia menentukan nasib baik/buruk yang akan ia jalani berdasarkan Hukum Karma yang telah diciptakan Tuhan.

Apabila manusia tidak sempat menikmati pada kehidupan saat ini, maka akan dinikmati pada kehidupan selanjutnya. Karma merupakan hukum sebab akibat. keadaan manusia (baik suka maupun duka) disebabkan karena hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ia menjalani hidup maupun apa yang ia lakukan pada saat ia menjalani kehidupan sebelumnya.

Perputaran itu tidaklah terputus sampai Ia melepas belenggu Maya dan menghancurkan Awidya/ketidaktahuan. Tujuan dari kelahiran kembali adalah lepas dari pengaruh material dan mencapai Moksa.

Menurut beberapa sumber Veda, badan Manusia adalah badan persimpangan yang paling memungkinkan sang jiwa/atman dapat lepas dari belenggu material dan mencapai moksha.

Sebagaimana disebutkan dalam Bhagavata Purana 3.13.14 -16 bahwasanya di dalam 1 Kalpa, akan tercipta 14 generasi manusia (Manu). Masing-masing dari ke-14 manu tersebut adalah;

  1. Swayambhu Manu
  2. Swarochisha Manu
  3. Auttami Manu
  4. Támasa Manu
  5. Raivata Manu
  6. Chakshusha Manu
  7. Vaivasvata Manu
  8. Savarni Manu
  9. Daksa Savarni Manu
  10. Brahma Savarni Manu
  11. Dharma Savarni Manu
  12. Rudra Savarni Manu
  13. Raucya / Deva Savarni Manu
  14. Bhauta / Indra Savarni Manu

Sampai saat ini kita berada pada generasi Vaivasvata Manu, atau manu yang ke 7. Jadi di dunia ini menurut Hindu sudah tercipta 7 jenis manusia pertama yang pada akhirnya melakukan perkawinan silang dan menghasilkan banyak ras-ras manusia yang berbeda.

Jika anda menggunakan logika anda dan berdasarkan data yang sudah saya paparkan, apakah anda akan menerima Adam sebagai leluhur anda ataukah anda mengakui bahwa anda adalah keturunan Manu?

Pustaka Suci Veda

Pustaka Suci Veda

5 comments

Pustaka Suci Veda

Secara harfiah Veda berarti pengetahuan. Veda berasal dari dan disabdakan oleh Tuhan Yang Maha Esa sendiri. Sebagaimana disampaikan dalam Brhad-Aranyaka Upanisad 2.4.10; “ Rg. Yajur, Sama dan Atharva Veda dan Itihasa semuanya keluar dari nafas kebenaran mutlak, Tuhan Yang Maha Esa”. Hal serupa juga disampaikan dalam Bhagavad Gita 3.15; “Brahmaksara-samudbhavam, pengetahuan Veda langsung diwejangkan oleh Tuhan Yang Maha Esa”. Karena itu, Veda bersifat mutlak (absolut), benar dengan sendirinya (self-authoritative), apauruseya (bukan buatan manusia) dan berhakekat mengatasi hal-hal duniawi (transendental). Veda disabdakan oleh Tuhan, Sri Krishna kepada Brahma sebelum alam mateterial tercipta (Yo brahmanam vidadhati purvam yo vai vedam ca gapayati sma krsnah – Atharva-veda. Tene brahma hrdaya adi kavayeBhagavata Purana 1.1.1). Kemudian Brahma mengajarkan Veda tersebut kepada putra-putranya yakni para Rishi. Selanjutnya melalui proses menurun (deduktip) yang disebut parampara dalam garis perguruan (sampradaya) resmi, para Rsi itu mengajarkan Veda kepada murid-muridnya (perhatikan Bhagavad Gita 4.2). Demikianlah melalui proses deduktip (parampara) pengetahuan Veda akhirnya menyebar di masyarakat manusia.

Tujuan pustaka suci Veda adalah membimbing umat manusia menuju kehidupan damai dan sejahtera di dunia fana (jagadhita) dan mencapai mukti, kelepasan dari derita kehidupan material dunia fana yang selalu menyengsarakan. Untuk mencapai tujuan ini, Veda menyajikan pengetahuan spiritual supaya setiap orang insyaf diri dan mengerti “kebenaran” bahwa hidup di dunia fana adalah samsara, penderitaan.

Ada empat derita utama di dunia fana yaitu: Kelahiran (janma), usia tua (jara), penyakit (vyadhi) dan kematian (mrtyu) – (Bhagavad Gita 13.9). Disamping itu, dalam kehidupan sehari-hari setiap orang  selalu didera oleh tiga macam derita rutin yaitu:

  1. Adhyatma-klesa, derita yang imbul dari badan dan pikiran.
  2. Adhiba-utika-klesa, derita yang disebabkan oleh makhluk lain, dan
  3. Adhidaivika-klesa, derita akibat bencana alam.

Karena itu Sri Krishna berulang-kali menyatakan, “Duhkhalayam asas-vatam, alam fana adalah tempat sementara penuh duka (Bhagavad Gita 8.15). Anityam asukam lokan, alam fana adalah tempat tidak kekal dan menyengsarakan (Bhagavad Gita 9.33). Abrahma bhuvanal lokah punar …, dari planet tertinggi Brahmaloka sampai planet terbawah (Patala-loka) di alam material adalah tempat menyengsarakan (Bhagavad Gita 8.16)”. Jadi masalah kehidupan manusia adalah janma (kelahiran), klesa (berbagai derita rutin), jara (usia-tua), vyadhi (penyakit) dan kematian (mrtyu). Semua masalah ini tidak bisa diatasi dengan cara-cara material apapun kecuali dengan hidup sesuai petunjuk Veda.

Oleh karena secara tegas menyatakan bahwa alam material adalah tempat derita dan mewajibkan setiap orang menjauhi kehidupan duniawi  dengan  hidup sebagai sannyasi menjelang usia tua, maka para sarjana dan filsuf materialistik menuduh bahwa Veda mengajarkan paham pesimistik, menganjurkan hidup pasrah yang mencelakakan dan menolak kehidupan material secara bodoh. Veda tidak mengajarkan hal-hal seperti itu, tetapi  mengajarkan agar orang berjuang keras untuk mencapai kehidupan bahagia kekal-abadi di dunia rohani Vaikuntha-loka. Menurut Veda, kehidupan sebagai manusia adalah kesempatan amat baik untuk mengatasi segala macam derita material dan mencapai kemenangan atas kematian dengan memanfaatkan pengetahuan Veda dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya Veda menyatakan bahwa kehidupan sebagai manusia bagaikan perahu yang bagus untuk menyebrangi samudra kehidupan material dimana guru kerohanian (Acarya) dianalogikan sebagai nahkoda handal dan ajaran spiritual Veda diibaratkan sebagai hembusan angin yang baik.

Orang-orang materialistik yang menetapkan tujuan hidupnya pada  3  hal yaitu:

  1. Srih (menumpuk kekayaan material),
  2. Aisvarya (mencapai jabatan/kedudukan tinggi di masyarakat) dan
  3. Prajapsavah (anak cucu yang bisa menambah srih dan meninggikan aisvarya);  sesungguhnya adalah manusia bodoh.

Karena itu, Garga-Upanisad menyatakan, “Mereka adalah makhluk malang karena tidak memecahkan masalah kehidupan sebagai manusia dan akhirnya mati seperti anjing dan kucing  belaka tanpa mengerti pengetahuan tentang keinsyafan diri”.

Menurut Veda, kehidupan sebagai manusia tidak sempurna  karena:

  1. Indriya-indriya jasmani terbatas dan tidak sempurna, dan
  2. Cendrung mengkhayal, menipu dan berbuat salah.

Karena itu mempelajari dan mengerti Veda yang spiritual dan transcendental tidak bisa dilakukan secara pratyaksa (pengamatan dan penglihatan langsung) dan anumana (menyimpulkan berdasar tanda dan bukti-bukti empiris). Veda menetapkan bahwa ia hanya bisa dipelajari dan dimengerti secara sabda-pramana, mendengar dari sumber  yang  benar dan sah yaitu dari para Acarya (guru kerohanian) secara parampara ( proses menurun/deduktip) dalam garis perguruan (sampradaya) sah dan jelas (perhatikan Bhagavad Gita 4.34 dan 4.2). Karena itu, Veda disebut sruti, pengetahuan yang diperoleh dari mendengar; dan smrti, pengetahuan yang diingat dari cara mendengar. Tetapi proses sabda-pramana ini disalah mengerti oleh para sarjana duniawi berwatak materialistik yang berpegang teguh pada proses empiris-induktip. Mereka berkata bahwa proses sabda ini mengharuskan orang percaya secara membuta, patuh dan tunduk pada dogma, berpegang pada keyakinan tanpa dasar atau khayalan. Menurut mereka, proses sabda tidak bisa dipercaya karena tidak ilmiah yaitu tidak didukung bukti-bukti empiris yang dapat dilihat. Sesungguhnya proses sabda ini adalah sederhana yaitu mendengar dari sumber (orang) yang mengetahui seperti sering dilakukan oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari.  Ini bukan dogma, kepercayaan atau keyakinan buta dan bukan pula khayallan. Contoh, bila seseorang ingin mengetahui secara jelas, mudah dan pasti siapa ayahnya, maka dia harus bertanya kepada si ibu, karena si ibulah yang mengetahui kondisi sebenarnya.

Veda diajarkan dan disebarkan melalui tradisi lisan yaitu proses mendengar (sruti) dan mengingat (smrti)  berdasarkan jalur parampara secara bersamaan dengan terciptanya alam semesta material. Pada permulaan Kali-Yuga sekitar 6000 tahun yang lalu inkarnasi Tuhan, Sri Narayana dibidang sastra yaitu Krishna Dvaipayana Vyasa menyusun Veda secara tertulis agar bisa dipelajari dan dimengerti oleh orang-orang jaman Kali. Mengenai Dvaipayana Vyasa sebagai penyusun Veda tertulis, dijelaskan sebagai berikut (Bhagavata Purana 1.4.17-25).

Sang Rishi mulia yang berpengetahuan penuh, dengan penglihatan rohaninya bisa melihat merosotnya segala sesuatu yang material karena pengaruh buruk Kali-Yuga …… Beliau juga melihat orang-orang yang tidak percaya (pada Veda) jadi pendek usia dan mereka tidak penyabar karena kurang memiliki sifat-sifat bajik …… Untuk menyederhanakan proses (belajar Veda), beliau membagi Veda yang satu (Yajur Veda) itu menjadi 4 bagian untuk diajarkan diantara manusia …. Demikianlah, Rishi Paila menjadi sarjana Rg-Veda, Rishi Jaimini menjadi sarjana Sama-Veda, Rishi Vaisampayana menjadi akhli Yajur-Veda dan Sumantu Muni dipercayakan mengajar Atharva-Veda. Mereka mengajarkan bagian-bagian Veda itu kepada para muridnya masing-masing ….. Kemudian karena kasihan (kepada orang-orang kurang cerdas), Vyasa menyusun Mahabharata agar para wanita, sudra dan dvija-bandhu bisa mencapai tujuan hidup tertinggi”.

Jadi menurut penjelasan Veda itu sendiri, Veda bukanlah hasil karya tulis banyak orang selama beribu-ribu tahun dimasa lalu. Tetapi para sarjana duniawi tidak bisa menerima penjelasan Veda ini karena tidak sesuai dengan pemahaman modern tentang peradaban manusia di masa purba.

Dengan menerapkan pendekatan empiris-induktip dalam mempelajari dan memahami Veda, para sarjana duniawi berwatak materialistik menolak:

  1. Semua penjelasan Veda tentang Veda itu sendiri.
  2. Pendapat para Acarya yang secara tradisional dianggap otoritas (penguasa) sah dalam mempelajari Veda.

Berikut adalah ringkasan penolakan mereka.

Berikut adalah pandangan para Indologist (sarjana barat yang mempelajari Veda) pada abad ke 18 di India.

Catatan:

    1. Veda menceritrakan beraneka-macam peristiwa yang terjadi di berbagai planet di alam semesta material yang kondisinya berbeda dari di Bumi. Ia juga menceritrakan para Deva, Rishi, Asura (Daitya, Danava, Raksasa) yang berusia amat panjang dan mampu melakukan berbagai kegiatan ajaib yang tidak bisa di lakukan manusia. Karena berpikir seperti kodok, maka para sarjana modern menganggap Veda adalah kumpulan mitos (dongeng).
    2. Veda hanya memuat riwayat dan kegiatan rohani (lila) Tuhan dan para Avatatara serta bhakta-Nya dari jaman ke jaman di berbagai tempat di alam semesta, sehingga uraiannya tidak tersusun secara kronologis. Karena berpola pikir akademik, maka mereka menganggap Veda adalah ceritra gado-gado.

Sarana yang dipergunakan oleh para sarjana duniawi dalam mempelajari dan memahami Veda adalah bermacam-macam cabang ilmu pengetahuan material seperti: Sosiologi, Arkeologi, Antropologi, Pilologi, dll. Tetapi studi mereka terhadap Veda dengan cara-cara empiris seperti itu tidak pernah sampai pada kesimpulan pasti yang memuaskan. Mereka tetap dan terus beda pendapat mengenai asal-usul Veda, sejarah Veda dan hal-hal lain menyangkut Veda.

Dalam Bhavisya-Purana (sebagaimana dikutip oleh Madhvacarya dalam ulasannya atas sloka Vedanta-Sutra 2.1.6) dikatakan: “Rg yajuh samatharvas ca bharatam pancaratrakam mula ramayana caiva veda Iti eva sabditah … Puranani ca yaniha vaisnavani vido viduh (rg, yajur, sama dan atahrva-veda, mahabharata, pancaratra dan ramayana dan juga kitab-kitab purana serta vaisnava tergolong pustaka veda.

Dalam Chandogya-Upanisad (7.1.4) dan Srimad Bhagavatam (1.4.20); “itihasa puranah pancamah vedanam vedah (kitab-kitab itihasa dan purana termasuk veda kelima). Dalam Mahabharata (bagian Moksa-Dharma 3.40.11) dikatakan pula; “itiihasa puranam ca pancamo veda ucyate (kitab-kitab itihasa dan purana disebut veda kelima).

Disamping keempat Veda (Rg, Yajur, Sama dan Atharva), kitab-kitab Itihasa (Ramayana dan Mahabharata) dan Purana, Veda memiliki pula Upanisad, kitab yang memuat uraian filosofis tentang Tuhan. Ringkasan seluruh Upanisad adalah Vedanta-Sutra. Jadi bagian-bagian Veda adalah:

  1. Keempat Veda (Rg, Yajur, Sama dan Atharva-Veda),
  2. Itihasa (Ramayana dan Mahabharata),
  3. ke 18 Purana dan
  4. 108 Upanisad beserta ringkasannya yaitu Vedanta-Sutra.

Tetapi para sarjana duniawi berwatak materialistik hanya mengakui keempat Veda (Catur-Veda: Rg, Yajur, Sama dan Atharva-Veda) sebagai pustaka Veda. Mereka menganggap Itihasa dan Purana sebagai kumpulan dongeng belaka dan Upanisad sebagai karya filosofis manusia biasa. Pendapat para sarjana duniawi ini telah menyebabkan para penganut ajaran rohani non Vedik berpikir keliru tentang ajaran Veda itu sendiri.

Ada tiga sumber pengetahuan Veda yang disebut prasthana-traya. Ketiga sumber ini dapat diringkas sebagai berikut.

Hubungan ketiga sumber ini yaitu  Smrti  adalah penjelasan  Sruti  dan Nyaya. Maksudnya, untuk bisa mengerti Sruti dan Nyaya, seseorang harus ingat uraian Smrti.

Dalam Vayu-Purana 1.20 dikatakan, “Itihasa puranabhyam veda samupa-brmhayet bibhetyalpasrutad vedo mamayam prahisyati, Veda hendaklah dipelajari melalui kitab-kitab Itihasa dan Purana. Pustaka Veda takut bila ia dipelajari oleh orang bodoh karena ia merasa sakit seperti dipukul-pukul oleh orang bodoh itu”. Aturan mempelajari Veda-Sruti berdasarkan Veda-Smrti tercantum pula dalam Manu-Smrti, Mahabharata (Adi-Parva 1.267) dan di bagian-bagian lain pustaka Veda.

Untuk mempelajari dan mempraktekkan ajaran Veda dalam kehidupan sehari-hari tersedia Vedanga yang terdiri dari enam cabang pengetahuan Veda yaitu:

  1. Siksa, ilmu mengucapkan mantra-mantra Veda.
  2. Vyakarana, ilmu tata-bahasa (sanskerta).
  3. Nirukti, kamus Veda.
  4. Canda, lagu/irama/tembang membaca sloka-sloka.
  5. Jyotisha, ilmu Astronomi untuk menentukan hari baik melaksanakan ritual (yajna), dan
  6. Kalpa, pengetahuan tentang ritual (yajna) dan aturan hidup sehari-hari.

Pengetahuan tentang Kalpa tercantum dalam kitab Kalpa-Sutra. Ia memuat uraian tentang:

  1. Srouta, yajna kolektip.
  2. Grhya, yajna keluarga atau pribadi.
  3. Dharma, tugas-pekerjaan (dalam hubungannya dengan sistem lembaga Varna- Asrama) dan
  4. Sulva, aturan membuat tempat  persembahyangan, arena yajna, dan sebagainya.

Upa-Veda berarti Veda tambahan atau Veda pelengkap. Yang termasuk Upa-Veda adalah: Ayur-Veda (ilmu medis/kedokteran), Dhanur-Veda (ilmu senjata dan perang), Gandharva-Veda (seni tari dan musik), Manu-Smrti, Brahma Samhita, Niti-Sastra dan berbagai kitab Dharma-Sastra. Menurut Veda, Vedanga dan Upa-Veda adalah bagian utuh dari pustaka Veda itu sendiri.

CATUR VEDA

Ajaran Catur-Veda dapat diringkas sebagai berikut.

Menutut Veda, ada 33 juta Dewa yang memiliki wewenang dalam mengatur kehidupan segala makhluk di alam material. Sementara itu, ada beraneka-macam pemujaan kepada para Dewa dengan melaksanakan berbagai-macam ritual (yajna) agar hidup bahagia di dunia fana melalui pemuasan indriya badan jasmani. Contoh: Bila ingin kuat pisik, sembah Prthivi. Banyak rejeki, sembah Durga Devi. Kuat seksual, sembah Indra. Ingin keturunan, sembah Prajapati, dan sebagainya. Secara umum, ajaran memuaskan indriya secara terkendali sebagaimana diatur dalam Catur-Veda, disebut ajaran Karma-Kanda Veda. Tujuan tertinggi yang ditawarkan adalah kebahagiaan sorgawi dengan lahir di planet Svarga-loka. Dalam hubungannya dengan Karma-Kanda Catur Veda ini, Sri Krishna berkata bahwa ajaran ini diperuntukkan bagi mereka yang kurang cerdas dan dicengkram kuat oleh sifat-sifat alam material (Tri-Guna).

Menganggap alam sorgawi sebagai tujuan hidup tertinggi adalah cita-cita mereka yang tergolong veda-vada-ratah, tidak memahami tujuan veda (Bhagavad Gita 2.42-43). Dan mereka tidak tahu bahwa kehidupan dan kebahagiaan sorgawi tidak kekal, berlangsung sebentar saja karena masih berhakekat material (Bhagavad Gita 9.20-21). Memuja para deva untuk memperoleh kesenangan duniawi melalui pelaksanaan ritual adalah kegiatan mereka yang tergolong alpa-medasam, tidak cerdas (Bhagavad Gita 7.23), hrta-jnanah, berpikir tidak waras (Bhagavad Gita 7.20) dan dicengkram kuat oleh tri-guna, tiga sifat sifat alam material (Bhagavad Gita 2.45).

Meskipun Catur-Veda mengajarkan pemujaan kepada para Deva, namun semua doa-doa pujian ritual selalu di akhiri dengan Om Tat Sat. Ketiga suku kata ini menunjuk Sri Krishna yang juga disebut Visnu  atau  Narayana. Lengkapnya adalah sebagai berikut , “Om tad visnoh paramam padam sada pasyanti surayah, para Deva selalu menengadah kearah tempat tinggal Visnu yang maha utama” (Rg. Veda 1.2.22.20). Dikatakan pula, “Om tat sad iti nerdeso brahmanas tri vidah ….. tena vedas ca yajnas ca vihitah pura, sejak alam semesta material tercipta, tiga suku kata Om Tat Sad sudah dipakai menyapa Tuhan dan diucapkan oleh para brahmana ketika melaksanakan ritual untuk memuaskan Beliau” (Bhagavad Gita 17.23). Jadi mantra Om Tat Sat diucapkan pada setiap akhir doa-doa pujian supaya ritual berhasil, sebab para Deva selalu bergantung kepada Sri Krishna dalam melaksanakan tugasnya mengatur urusan-urusan material dunia fana termasuk menyediakan kebutuhan hidup segala makhluk. (Dalam hubungan ini perhatikan Bhagavad Gita 7.21-22).

 

UPANISAD

Upanisad berarti “Duduk dekat (Guru kerohanian untuk mendengarkan ajaran rohani). Ini berarti Upanisad  menandai mulainya kehidupan spiritual, sebab  ia  (Upanisad) tidak lagi membahas kegiatan pemuasan indriya dengan memuja para Deva melalui pelaksanaan ritual (yajna). Melainkan, Upanisad penuh dengan diskusi filosofis tentang Tuhan. Ajaran tentang ketuhanan yang tercantum dalam Upanisad disebut jnana-kanda.  Ia (jnana-kanda) dimaksudkan untuk menuntun sang manusia melepaskan diri dari kelahiran dan kematian (samsara) di dunia fana dengan khusuk berpikir tentang Tuhan.

Upanisad menyatakan bahwa Kebenaran Mutlak (Tuhan) berhakekat non material alias spiritual dan disebut Brahman.  Dikatakan, “Brahman tidak terpahami, karena Ia tidak bisa dimengerti” (Br-had-Aranyaka Upanisad 3.9.26). Dikatakan demikian  karena   Ia (Brahman) tidak berwujud, tidak bersifat atau berciri material. Meskipun Upanisad mengajarkan meditasi kepada Brahman  impersonal, ia tidak menolak bahwa Tuhan memiliki wujud pribadi atau kepribadian spiritual. Dengan demikian, pernyataan Upanisad  tidak  berlawanan dari Veda-Siddhanta (kesimpulan Veda) yaitu Bhagavad-Gita bahwa aspek Tuhan tertinggi adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa spiritual dan disebut Sri Bhagavan.

Berikut adalah pernyataan kitab-kitab Upanisad yang secara langsung  dan tidak langsung menunjukkan bahwa Tuhan memiliki wujud, sifat dan ciri spiritual.

  1. Tam isvaranam paramam mahesvaram, Tuhan  adalah  pengendali tertinggi atas semua pengendali (Svetasvatara- Upanisad 6.7). Mungkinkah sang Pengendali tanpa wujud, sifat dan ciri apapun? Tentu saja tidak mungkin!
  2. Nityo nityanam cetanas cetananam eko bahunam yo vidadhaki kaman, Ia (Tuhan) yang maha kekal diantara yang kekal, Ia yang maha sadar diantara yang sadar, Ia yang satu ini memelihara dan memenuhi kebutuhan mereka (para makhluk hidup) yang jumlah nya sangat banyak (Katha-Upanisad 2.2.13).
  3. Sang Pengendali paling utama ini (Tuhan) adalah sumber yang penuh tenaga/energi (sakti) dan penyebab terjadinya seluruh ciptaan material ini (Aitareya-Upanisad 1.1.2 dan Prasna-Upanisad 6.3).
  4. Tuhan adalah adrsta, tidak punya mata, tetapi Ia drsta, bisa melihat. Ia adalah asrutah, tidak bertelinga, tetapi  Beliau srutah, bisa mendengar. Ia adalah amantah, tidak punya pikiran, tetapi Beliau mantah, berpikir. Dan Ia adalah avijnatah, tidak  berpengetahuan, tetapi  Beliau  vijnatah, maha mengetahui  ( Brhad Aranyaka Upanisad 7.2.3).
  5. Apani pado javano grahita, Ia (Tuhan) tidak punya kaki ataupun tangan, namun Beliau bisa bergerak dan menerima persembahan yang dihaturkan kepadaNya (Svetasvatara-Upanisad 3.19).

Dapat disimpulkan bahwa Tuhan berwujud spiritual dengan indriya-indriya spiritual. Demikianlah, dengan menguraikan hakekat Tuhan  sebagai sesuatu yang non material, Upanisad melapangkan jalan menuju pemahaman yang benar tentang Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krishna  yang penuh dengan segala macam kehebatan spiritual dan menjadi objek cinta-kasih (bhakti) bagi para bhakta.

VEDA SMRTI

Kitab Ramayana (24.000 sloka) disusun oleh Rishi Valmiki dan menguraikan tentang lila (kegiatan rohani) Avatara Sri Rama. Sedangkan kitab Mahabharata (110.000 sloka) disusun oleh Rishi Dvaipayana Vyasa dan menguraikan tentang lila Avatara Sri Krishna. Kitab-kitab Purana utama ada 18 (delapan belas). Menurut Brahma-Vaivarta Purana, ke 18 Purana ini digolongkan menjadi 3 (tiga) kelompok sebagai berikut.

Pada umumnya setiap Purana membahas 5 (lima) macam topik berikut.

  1. sarga, penciptaan unsur-unsur materi alam fana oleh visnu.
  2. visarga, penciptaan alam semesta material beserta planet-planetnya dan beraneka-macam badan jasmani makhluk hidup oleh brahma.
  3. vamsa, asal-usul para raja dan penguasa yang memerintah diberbagai planet di alam semesta.
  4. manvantara, masa pemerintahan setiap manu dalam setiap hari brahma.
  5. vamsanucarita, keturunan para raja dan penguasa di masa datang.

Kitab-kitab Upaveda memperkaya Veda dengan beraneka-macam pengetahuan yang diperlukan manusia dalam kehidupannya di dunia fana.

VEDANTA-SUTRA

Vedanta berarti akhir (puncak) pengetahuan Veda. Ia merupakan ringkasan seluruh kitab Upanisad. Dua bab pertama menyajikan sambandha-jnana, pengetahuan tentang hubungan makhluk hidup (jiva) dengan Tuhan (Brahman). Bab ke-tiga menyajikan abhideya-jnana, pengetahuan tentang cara membina kembali hubungan itu dengan Tuhan.  Dan bab keempat menyajikan prayojana-jnana, pengetahuan tentang phala/hasil dari hubungan itu. Menurut Bhagavata-Purana (Srimad-Bhagavatam) yang merupakan penjelasan/ulasan (bhasya) asli Vedanta-Sutra, hubungan antara sang makhluk hidup (jiva) dengan Tuhan (Brahman berwujud spiritual yaitu Bhagavan) adalah hubungan cinta-kasih (bhakti) timbal-balik yang sungguh-sungguh membahagiakan.

Pengetahuan tentang hubungan cinta-kasih (bhakti) yang terbagi menjadi 3 sub bagian pengetahuan (sambandha, abhideya dan prayojana-jnana) ini, dapat diringkas sebagai berikut.

VEDA-SIDDHANTA: BHAGAVAD-GITA

Veda-siddhanta (kesimpulan Veda) adalah Bhagavad-Gita. Fakta  ini  ditunjukkan oleh pernyataan Sri Krishna, “Vedais ca sarvair aham eva  vedyah, suluruh pustaka Veda dimaksudkan untuk mengenal diri-Ku” (Bhagavad Gita 15.15). Seperti halnya Vedanta-Sutra (dan bhasya nya Srimad Bhagavatam) yang mengajarkan jalan kerohanian bhakti, Bhagavad-Gita adalah kitab penuntun praktis tentang bhakti kepada  Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna. Hal ini di-tunjukkan oleh sloka-sloka Gita berikut.

Jadi sebagai kesimpulan Veda, Bhagavad-Gita mengajarkan umat manusia agar kembali mencintai Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krishna. Bukti bahwa seseorang sungguh mencintai Beliau ditunjukkan oleh penyerahan diri kepada-Nya (Bhagavad Gita 18.66). Ajaran tentang bhakti yang tercantum dalam Bhagavad-Gita dan Vedanta Sutra (serta bhasya-nya Srimad-Bhagavatam) agar sang manusia lepas dari kelahiran dan kematian (samsara) di  dunia  fana, disebut  Upasana-Kanda.

Ajaran Karma-Kanda yang tercantum dalam kitab-kitab Catur Veda (Rg, Yajur, Sama dan Atharva-Veda) disebut Pravrtti-Marga, jalan kehidupan material. Ajaran Jnana-Kanda yang tercantum dalam kitab-kitab Upanisad dan ajaran Upasana-Kanda yang tercantum dalam Vedanta-Sutra dan Bhagavad-Gita, disebut Nivrtti-Marga, jalan kehidupan spiritual. Menurut jenis, isi dan tujuannya, pustaka suci Veda dapat diringkas sebagai berikut.

Veda disusun sedemikian rupa agar setiap orang mampu secara berangsur-angsur meningkatkan kesadarannya dari material ke spiritual. Kitab-kitab Agama yang muncul kemudian dan bertentangan dari Veda-siddhanta (kesimpulan Veda) dan tidak disebutkan dalam Veda, tidak dapat digolongkan sebagai bagian dari pustaka Veda.

 

Special Thanks to Haladara Prabhu that provided materials for this article

DIALOG TIMUR-BARAT: Vasudeva Datta Murid Sri Krsna Caitanya dan Yesus Kristus, Mana Yang Lebih Kasih?

DIALOG TIMUR-BARAT: Vasudeva Datta Murid Sri Krsna Caitanya dan Yesus Kristus, Mana Yang Lebih Kasih?

By Administrator, on December 14th, 2009
i
Rate This

Quantcast

//

Dikutip dari Buku “DIALOG TIMUR-BARAT”

Pastur Hart: Jika Anda merasa bahwa perbandingan antara Yesus Kristus dan Sri Chaitanya tidak sepadan…

Satyaraja Dasa: Saya tidak mengatakan bahwa perbandingan itu tidak sepadan. Tetapi perbedaannya juga jangan diabaikan.

Pastur Hart: Baiklah, apakah ada seseorang dalam tradisi Veda yang Anda pikir akan lebih tepat untuk diperbandingkan dengan Yesus Kristus?

Satyaraja Dasa: Ada satu kepribadian yang sangat spesial, penyembah agung Sri Chaitanya. Namanya adalah Vasudeva Datta. Dalam keseluruhan tradisi Veda mungkin tidak ada seorang pun yang berbelas kasih atas penderitaan roh-roh  yang jatuh di dunia material ini seperti yang Beliau perlihatkan. Rasa belas kasihnya tidak ada bandingannya.

Vasudeva Datta memohon kepada Sri Chaitanya dalam cara yang secara persis mengingatkan kita pada Yesus Kristus. “Hati hamba hancur” beliau mengutarakan pada Sri Chaitanya, “menyaksikan penderitaan mereka. Hamba mohon Anda berkenan mengambil reaksi dosa semua makhluk hidup, dan menempatkannya di atas kepala hamba. Biarlah hamba yang menanggung penderitaan atas semua dosa mereka”.

Vasudeva Datta ingin menderita untuk selamanya di neraka jika hal itu dapat meringankan penderitaan semua makhluk hidup. Vasudeva Datta tidak membeda-bedakan. Seluruh 8.400.000 jenis kehidupan berhak mendapatkan karunianya. Beliau tidak menghindari satu pun di antara mereka. Cinta-kasih beliau merangkul semuanya.

Kadangkala dikatakan bahwa jika Anda adalah orang baik-baik, dan Anda berserah diri kepada Yesus-atau hanya beriman saja-maka Anda dibebaskan dari segala reaksi dosa. Kita mendengar hal ini berulang kali-“Yesus mati untuk dosa kita”! Tapi Vasudeva Datta ingin menerima dosa setiap orang-apakah mereka pengikutnya ataupun bukan. Apakah mereka memiliki kepercayaan atau keimanan kepada beliau ataupun tidak.

Sebenarnya, Anda mesti membaca cerita ini di dalam Chaitanya Charitramrita (madhya 6). Cerita ini menyayat hati. Dan sangat mengingatkan akan cinta kasih Yesus Kristus. Kenyataannya Vesudeva Datta diagungkan dalam teks itu sebagai “kepribadian pengorbanan” itu sendiri, dan sebagai “Cinta Kasih Universal” itu sendiri.

Pastur Hart: Sangat menarik.

Politik agama atau agama politik?

Politik agama atau agama politik?

25 comments

Posted in Antar agama | 25 comments

Sering kali saya berpikir, kenapa Hindu Nusantara runtuh dan digantikan secara cepat oleh Islam? Apa benar para penyebar agama Islam memiliki filsafat yang tinggi sehingga para Rsi Hindu luluh oleh filsafatnya? Ataukah karena masyarakat waktu itu hanya menjadikan Hindu sebagai label tanpa mengerti filsafat Hindu itu sendiri?

Meski hampir setiap saat berbagai “iklan” baik media elektronik dan media cetak mengatakan bahwa Islam disebarkan di bumi nusantara ini secara damai, namun sering kali saya berpikir “nakal”, apa benar Islam disebarkan secara damai?

Meski background saya adalah Fisika Nuklir, namun saya mencoba melemparkan beberapa bukti arkeologi yang mungkin membuat otak kita dipenuhi misteri. Untuk menghindari salah persepsi, saya tidak akan menarik kesimpulan ini dan itu, tetapi saya harap anda dapat menyimpulkannya sendiri berdasarkan data-data yang ada.

Berawal dari pemberitaan di sebuah surat kabar nasional yang menyebutkan ditemukannya komplek candi di sebuah pemakaman umum membuat saya bertanya-tanya. Kenapa sebuah komplek candi bisa dijadikan pemakaman? Apakah ini suatu hal yang kebetulan?

Pertanyaan “nakal” berikutnya kembali muncul setelah seorang teman saya mengatakan bahwa pura saya seperti kuburan karena dipenuhi pohon kamboja. Sontak saja saya berpikir dan berkata, “iya ya… kenapa kuburan di Jawa dipenuhi dengan pohon kamboja? Padahal kalau di Bali pohon kamboja sering kali di tanam di pura / tempat suci dan juga pekarangan rumah, kenapa bisa bertolak belakang seperti ini?”

Sehingga muncullah “hipotesa nakal” saya prihal penyebaran Islam di nusantara tidaklah berlangsung damai sebagaimana disebutkan selama ini, tetapi penuh dengan politik dan trik-trik kotor yang mendeskriditkan Hindu dan Buddha pada waktu itu.

Beberapa fakta menarik dimana komplek candi yang saat ini menjadi komplek kuburan antara lain adalah Candi Bojongmenje yang ditemukan kembali pada tanggal 18 Agustus 2002 oleh bapak Ahmad Muhammad ketika sedang meratakan tanah gundukan yang ada di areal makam Kampung Bojongmenje, Jawa Barat. Berdasarkan hasil peninjauan dapat diketahui bahwa lokasi situs Bojongmenje di sebelah selatan jalan raya Rancaekek, pada komplek kuburan yang terletak di antara pabrik-pabrik, secara administratif berada di wilayah Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Secara geografis berada pada 48’02” BT (berdasarkan peta topografi daerah°50’47” LS dan 107°posisi 6 Sumedang lembar 4522-II). Bangunan candi berada pada bagian barat laut lahan. Tanah di mana terdapat struktur bangunan candi sedikit menggunduk dengan ketinggian sekitar 1,5 m dari permukaan tanah sekitar.

Hal serupa juga ditemukan oleh warga Sukoharjo ketika menggali kuburan di pemakaman umum Turi Loyo, Kecamatan Grogol, Sukoharjo. Mereka menemukan sebuah arca yang diduga peninggalan zaman Kerajaan Majapahit. “Tempat penemuan arca diduga merupakan kawasan pemandian dan pemujaan, tetapi sekarang berubah menjadi tempat pemakaman umum,” kata Agus Riyanto warga yang tinggal dekat pemakaman tersebut.

Menurut keterangan Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur I Made Kusumajawa di sekitar situs Trowulan yang merupakan peninggalan Majapahit juga ditemukan candi yang posisinya sudah dijadikan kuburan warga. Berjejer di antara lokasi candi ditumbuhi pohon kamboja tua dan berjejer empat kuburan.

Di daerah Cangkuang juga ditemukan komplek candi yang juga dijadikan pemakaman leluhur Arif Muhammad. Candi Cangkuang ditemukan pertama kali pada bulan Desember 1966 oleh Uka Tjandrasasmita (anggota Tim Penulisan Sejarah Jawa Barat) berdasarkan laporan Vorderman (1893) tentang sisa-sisa arca Dewa Siwa serta makam leluhur Arif Muhammad di daerah Cangkuang. Ternyata yang ditemukan di pulau itu bukan hanya arca Siwa, melainkan juga batu-batu bekas bangunan candi yang digunakan sebagai nisan-nisan kubur Islam yang berserakan di beberapa tempat. Dan, setelah Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN) bersama para dosen dan mahasiswa dari Jakarta dan Bandung melakukan ekskavasi (penggalian), mengumpulkan batu-batu, penggambaran, penyusunan percobaan dan serangkaian diskusi, maka kesimpulannya bahwa batu-batu itu jelas sisa bangunan candi. Konsentrasi batu-batu itu terletak di bawah pohon besar dekat timbunan batu yang dikenal oleh masyarakat sebagai makam Dalam Arief Mohammad.

Di sepanjang pantura, dari ujung barat (Karawang), Tegal, Brebes dan juga Pemalang sangat banyak ditemukan peninggalan-peninggalan candi. Lebih lanjut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pada waktu itu, Sartono sebagaimana yang disampaikan oleh harian Merdeka (22 Juli 2006) mengatakan bahwa di daerah pemakaman Jatiwangi dan Pagerbarang juga ditemukan banyak reruntuhan candi. Namun sayangnya saat dilakukan evakuasi dan pemugaran, mendapat perlawanan dari sekelompok orang yang memiliki motif-motif tertentu.

Dari beberapa bukti arkeologi dimana candi dialihfungsikan sebagai kuburan, apa yang terbayang di benak anda? Kemana hilangnya keraton kerajaan Majapahit yang besar itu? Hancur karena usia ataukah sengaja di hancurkan? Hancur karena usia saya rasa tidak mungkin, karena dianalogikan dengan candi-candi dan bekas kerajaan di India, kamboja dan Thailand yang sudah umurnya ratusan bahkan ribuan tahun saja masih ada sampai sekarang meskipun tidak terawat dengan baik. Bukankah ini suatu bukti usaha pemberhangusan sejarah dan juga pemutarbalikan fakta?

Keterangan yang juga menguatkan “hipotesa nakal” saya adalah pada apa yang disampaikan dalam serat Darmagandhul dan ramalan Sabdo Palon yang tentunya sudah sangat dikenal di nusantara dan di Jawa khususnya. Dalam serat ini diceritrakan prihal hancurnya kerajaan Brawijaya  (1453 – 1478) oleh ulah putranya sendiri Raden Patah yang menyerang ayahnya atas hasutan  wali songo, terutama sekali sunan kalijaga.

Dalam serat 164 disebutkan bahwa: “…..mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho;  ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong”. (…; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di bawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda; tajamnya tritunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong)

173. nglurug tanpa bala; “yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha asung bhekti”. (menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi).

Dari serat ini kita dapat melihat bahwa sebelum penyerangan dan pemberhangusan Brawijaya oleh anaknya sendiri, kondisi kerajaan berlangsung tentram dan sejahtra, masyarakat melakukan aturan-aturan keagamaan dengan sangat baik dan menjungjung tinggi kebenaran.

Dalam serat yang lain juga diceritakan bahwa penyerangan berlangsung sangat terstruktur dan dilakukan dengan membabi buta, membunuh para brahmana / pendeta Hindu – Buddha dan juga menghancurkan tempat-tempat suci dan istana kerajaan.

Setelah Brawijaya dan kerajaannya diluluh lantakkan, akhirnya Brawijaya lari ke Blambangan dan bermaksud meminta bantuan dari kerajaan Bali dan Cina. Namun usaha beliau dapat di cegah oleh Sunan Kalijaga dan dengan daya upayanya berhasil membuat Prabu Brawijaya bertekuklutut dan akhirnya mengucapkan kalimat Syahadat sebagai tanda masuk Islam. Namun tidak demikian halnya dengan Sabdo Palon, penasehat uatama Brawijaya yang sama sekali tidak bersedia masuk Islam atas ajakan Brawijaya sendiri, maka mereka berpisah.

Namun, sebelum berpisah, Sabda palon sempat memberikan wejangan kepada Brawijaya sehingga membuatnya menyesal mengucapkan kalimat Syahadat dan meminta maaf kepada Sabda Palon.

Sabdo Palon : “Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. … Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, …” (“Paduka sudah terlanjur terperosok, mau jadi orang jawan (kehilangan jawa-nya), kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol, saya mau mencari asuhan yang bermata satu (memiliki prinsip/aqidah yang kuat), tidak senang mengasuh paduka. … Kalau paduka tidak
percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya (Semar) itu saya, yang membuat kawah air panas di atas gunung itu semua adalah saya, …”)

Perhatikan ungkapan Sabdo Palon berikut ini : “Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajêr Jawi, ….. ….., dumugi sapriki umur-kula sampun 2.000 langkung 3 taun, momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, …..” (Sabdo Palon berkata sedih: “Hamba ini Ratu Dhang Hyang yang menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun temurun sampai sekarang, hamba mengasuh keturunan raja-raja Jawa, ….. ….., sampai sekarang ini usia hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, …..”)

Di kalangan spiritualis Jawa pada umumnya, keberadaan Semar (sabda palon) yang umurnya sangat panjang ini diyakini berupa “suara tanpa rupa”. Namun secara khusus bagi yang memahami lebih dalam lagi, keberadaan Semar diyakini dengan istilah “mencolo putro, mencolo putri”, artinya dapat mewujud dan menyamar sebagai manusia biasa dalam wujud berlainan di setiap masa.

Menurut Sabdo Palon dalam ungkapannya dikatakan : “…, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.” (“…, apakah paduka lupa terhadap nama saya Sabdo Palon? Sabda artinya kata-kata, Palon adalah kayu pengancing kandang, Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan hamba itu berlaku sebagai pedoman hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”)

Seperti halnya Semar telah banyak dikenal sebagai pamomong sejati yang selalu mengingatkan bilamana yang di”emong”nya salah jalan, salah berpikir atau salah dalam perbuatan, terlebih apabila melanggar ketentuan-ketentuan Tuhan Yang Maha Esa. Semar selalu memberikan piwulangnya untuk bagaimana berbudi pekerti luhur selagi hidup di dunia fana ini sebagai bekal untuk perjalanan panjang berikutnya nanti.

Semar atau Kaki Semar sendiri memiliki 110 nama, diantaranya adalah Ki Sabdopalon, Sang Hyang Ismoyo, Ki Bodronoyo, dan lain-lain. Di dalam Serat Darmogandhul diceritakan episode perpisahan antara Sabdo Palon dengan Prabu Brawijaya karena perbedaan prinsip. Sebelum berpisah Sabdo Palon menyatakan kekecewaannya dengan sabda-sabda yang mengandung prediksi tentang sosok masa depan yang diharapkannya.

Berikut ungkapan-ungkapan itu : “….. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.” (“….. Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama Buda, keturunan Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang memahami kawruh Jawa) tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawi-nya hilang, suka ikut-ikutan bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin oleh orang Jawa (Jawi) yang mengerti.” “….. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.” (“….. Sang Prabu diminta memahami, suatu saat nanti kalau ada orang Jawa menggunakan nama tua (sepuh), berpegang pada kawruh Jawa, yaitulah yang diasuh oleh Sabda Palon, orang Jawan (yang telah kehilangan Jawa-nya) akan diajarkan agar bisa melihat benar salahnya.”)

Lebih lanjut diceritakan : “Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang.” (“Sang Prabu berkeinginan merangkul Sabdo Palon dan Nayagenggong, namun orang dua itu kemudian raib. Sang Prabu heran dan bingung kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga : “Gantilah nama Blambangan menjadi Banyuwangi, jadikan ini sebagai tanda kembalinya Sabda Palon di tanah Jawa membawa asuhannya. Sekarang ini Sabdo Palon masih berkelana di tanah seberang.”)

Dari kalimat ini jelas menandakan bahwa Sabdo Palon dan Prabu Brawijaya berpisah di tempat yang sekarang bernama Banyuwangi. Tanah seberang yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah Pulau Bali. Untuk mengetahui lebih lanjut guna menguak misteri ini, ada baiknya kita kaji sedikit tentang Ramalan Sabdo Palon berikut ini.

3. Sabda Palon matur sugal, “Yen kawula boten arsi, Ngrasuka agama Islam, Wit kula puniki yekti, Ratuning Dang Hyang Jawi, Momong marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jurneneng Tanah Jawi, Wus pinasthi sayekti kula pisahan”. (Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.)

4. Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Mung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos kang agami, Gama Buda kula sebar tanah Jawa. (Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Buda lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.

5. Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajekken putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen durung lebur atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar. (Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.)

6. Ngidul ngilen purugira, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika medal kula, Wus nyebar agama budi, Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Boten kenging kalamunta kaowahan. (Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.)

7. Sanget-sangeting sangsara, Kang tuwuh ing tanah Jawi, Sinengkalan tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji, Upami nyabrang kali, Prapteng tengah-tengahipun, Kaline banjir bandhang, Jerone ngelebne jalmi, Kathah sirna manungsa prapteng pralaya. (Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.)

8. Bebaya ingkang tumeka, Warata sa Tanah Jawi, Ginawe kang paring gesang, Tan kenging dipun singgahi, Wit ing donya puniki, Wonten ing sakwasanipun, Sedaya pra Jawata, Kinarya amertandhani, Jagad iki yekti ana kang akarya. (Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditangan-Nya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.)

Kutipan serat ini hanya sebagian dari seluruh serat yang ada sebagaimana yang pernah diterbitkan oleh “Nurul Huda”. Meskipun tidak dikutip secara lengkap, namun dapat memberikan kita gambaran tentang seorang anak yang durhaka pada orang tuanya, politik busuk yang dilakukan oleh para wali songo, penghancuran terstruktur ajaran Hindu dan Buddha di tanah Jawa dan ramalan akan kembalinya ajaran “Budhi” yang merupakan keyakinan asli orang Jawa setelah 500 tahun perpisahan Brawijaya dengan Sabda Palon.

Setelah melihat catatan arkeologi, serat darmogandul dan jayabaya tersebut, dapatkah kita mengatakan bahwa Islam disebarkan secara damai dan elegan? Bukankah penyebarannya diwarnai dengan perang, durhaka pada orang tua, politik kotor dan usaha pemberhangusan budaya nusantara?

Hal yang juga menjadi perhatian saya saat ini adalah adanya usaha terstruktur untuk menghancurkan budaya Jawa dan Nusantara umumnya, baik melalui media elektronik maupun cetak. Coba kita perhatikan tayangan sinetron, kenapa yang digambarkan sebagai sosok jahat adalah mereka yang berpakaian Jawa, membawa keris dan melakukan ritual Kejawen? Sementara yang digambarkan sebagai sosk baik adalah mereka yang memakai sorban dan berpakaian serba putih ala Arab? Ditambah lagi dengan adanya usaha sekelompok orang yang berusaha melakukan arabisasi di bumi nusantara ini. Salah satunya adalah dengan cara penerapan undang-undang fornografi yang kontrofersial. Diskriminasi dan pemaksaan agama juga masih banyak terjadi di Nusantara tercinta ini. Banyak pasangan Kejawen, Sapto Dharmo dan kepercayaan asli nusantara tidak dapat melangsungkan pernikahan dan mendapatkan surat-surat administratif lainnya jika tidak menuliskan “Islam” dalam KTP-nya. Bahkan hal ini juga masih sering terjadi pada pemeluk agama minoritas Hindu seperti kasus yang menimpa beberapa keluarga di daerah Jawa Tengah.

Menyimpulkan hal ini memang merupakan suatu hal yang krusial, jika tidak diimbangi dengan niat baik, pikiran jernih dan mau menerima kenyataan tanpa mengedepankan sentimen pribadi dan keagamaan, maka hanya akan menimbulkan pertengkaran dan perdebatan yang tidak berujung.

Oleh karena itu, para pembaca saya arapkan dapat memberikan argumen yang didasarkan pada bukti otentik untuk menyanggah atau mendukung anggapan ini dan dengan kepala dingin tentunya.

 

Sumber:

  1. http://www.wacananusantara.org
  2. KOMPAS.COM, 1 September dan 3 November 2008
  3. Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1988. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  4. Bambang Budi Utomo. 2004. Arsitektur Bangunan Suci Masa Hindu-Budha di Jawa Barat. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata
  5. http://meditasiku.blogspot.com/

Mencari formula untuk aliran sesat dalam hindu

Mencari formula untuk aliran sesat dalam Hindu

33 comments

Posted in Antar agama | 33 comments

Mencari formula untuk aliran sesat dalam Hindu

Masih ingat kasus Ahmadyah yang divonis sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI)? Ahmadyah dikatakan sesat oleh penganut Islam yang lain karena Ahmadyah meyakini adanya nabi lain setelah nabi Muhammad. Umat Islam secara umum harus meyakini beberapa landasan pokok yang sudah digariskan kepadanya. Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan 10 kriteria aliran sesat. Apabila ada satu ajaran yang terindikasi punya salah satu dari kesepuluh kriterai itu, bisa dijadikan dasar untuk masuk ke dalam kelompok aliran sesat. Kesepuluh kriteria itu antara lain:

  1. Mengingkari rukun iman (Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab Suci, Rasul, Hari Akhir, Qadla dan Qadar) dan rukun Islam (Mengucapkan 2 kalimat syahadah, sholat 5 waktu, puasa, zakat, dan Haji)
  2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Alquran dan as-sunah)
  3. Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran
  4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran
  5. Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir
  6. Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam
  7. Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul
  8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir
  9. Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah
  10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i

Menurut kriteria ini, sebuah aliran yang mengaku sebagai Islam tetapi tidak melaksanakan “standard” yang sudah mereka gariskan ini dapat dikatakan sesat. Lalu bagaimana dengan klaim sesat dalam agama Hindu?

Satu kasus yang sangat memalukan dalam sejarah Hindu di Indonesia adalah ketika pada beberapa puluh tahun lalu sebuah garis perguruan Hindu divonis sesat oleh pemerintah. Mungkin baru kasus itulah yang merupakan kasus satu-satunya di dunia dimana sebuah aliran Hindu dikatakan sesat. Saat itu semua aktivitas kerohanian yang dilakukan oleh organisasi ISKCON yang juga dikenal dengan sebutan “Hare Krishna” dibekukan. Para pemimpin dan pengikutnya dikejar-kejar, ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Mereka yang berhasil lolos melarikan diri terpaksa hidup luntang-lantung dan melakukan aktivitasnya secara underground. Kejadian ini terulang lagi pada bulan Oktober 2005, dimana Kantor Wilayah Departemen Agama di Nusa Tenggara Barat kembali mengeluarkan larangan terhadap Hare Krishna dan 12 aliran agama lainnya. Dan sampai saat inipun larangan dan vonis sesat terhadap Hare Krishna belum dicabut. Sebuah kabar yang sangat menggelikan dapat kita lihat di sebuah majalah Hindu nasional yang menyoroti bahwa ada seorang pemuka Hindu yang memiliki sederet gelar akademik menyatakan secara terang-terangan di depan umum bahwa dengan membaca Bhagavad Gita dan mengatakan bahwa yang bersabda dalam Bhagavad Gita, yaitu Sri Krishna sebagai Tuhan adalah orang yang sesat. Benarkah klaim ini? Standar apa yang mereka gunakan untuk menyatakan salah satu aliran Hindu sesat?

 

Bebebrapa pakar filsafat yang melakukan pendekatan empiris–induktif menyatakan bahwa di dunia ini agama-agama di dunia dapat dikategorikan menjadi 2 kategori besar, yaitu agama Hukum dan agama Spiritual. Agama Hukum adalah agama yang mengatur keberadaan umatnya berdasarkan reward and punishment (hadiah dan hukuman). Sebuah agama bisa dikategorikan dalam agama Hukum jika dalam kitab sucinya lebih menekankan akan suatu kegitaan yang harus dilakukan agar menghasilkan pahala dan menghindari kegiatan yang dilarang agar tidak mendapatkan dosa. Islam dan agama-agama Semitik lainnya umumnya dapat dikategorikan dalam kategori agama Hukum karena mereka cenderung memperlihatkan perhitungan terhadap besar pahala dan dosa untuk memvonis seseorang akan masuk sorga atau malah dijebloskan ke dalam neraka jahanam. Sedangkan agama spiritual adalah agama yang mendasarkan pada kesadaran, bukan karena adanya rasa takut akan dosa/hukuman dan/atau terpikat oleh pahala. Meskipun Hindu juga mengenal istilah karma baik dan buruk sehingga berakibat pada adanya alam Sorga dan Neraka, namun penekanan kesadaran adalah yang paling dominan di dalam Hindu, sehingga otomatis Hindu dapat digolongkan dalam golongan agama Spiritual.

Melihat dari karakteristik antara Hindu sebagai agama Spiritual dan Islam sebagai salah satu agama Hukum yang sangat jauh berbeda, tentunya formula yang harus diterapkan dalam mengklaim bahwa sebuah aliran / parampara Hindu adalah sesat atau bukan tentunya sangatlah berbeda. Kita tidak cukup hanya menjadikan Panca Sraddha (lima dasar kepercayaan umat Hindu) yang berlaku di Indonesia yang merupakan adopsi dari lima rukun Islam sebagai patokan utama. Kenapa demikian?  Coba kita perhatikan bagian Veda Smrti, yaitu pada bagian Darsana, disana kita dapat menemukan dua dasar ketuhanan yang sama sekali saling bertolak belakang namun keduanya diakui secara sah oleh Veda, yaitu yang tergolong Astika yang mengakui otoritas Veda dan Nastika yang cenderung lebih kearah Atheis. Jika Veda memang mengakui kedua golongan yang saling bertolak belakang ini, itu berarti satu pondasi Panca Sraddha, yaitu keyakinan akan adanya Tuhan tidak bisa digunakan sebagai dasar dalam menyatakan suatu aliran Veda sesat atau tidak. Demikian juga mengenai Moksa. Sebagian penganut Hindu mengatakan bahwa Moksa adalah penyatuan antara Atman/Jiva dengan Tuhan Yang Maha Esa. Mereka yang memiliki keyakinan ini adalah mereka yang biasa disebut penganut filsafat Mayavada. Namun di sisi lain para penganut filsafat Vedanta menyatakan bahwa Moksa tidak sesempit itu. Bahkan mereka menyatakan bahwa tingkatan Moksa seperti itu adalah tingkatan Moksa yang paling rendah dan bersifat tidak kekal. Ternyata satu pondasi Panca Sradha juga rapuh dan tidak bisa dijadikan acuan dalam memandang suatu aliran adalah sesat.

Veda memang bukanlah setumpuk buku suci yang tipis yang bisa menerangkan secara singkat prihal batasan-batasan seseorang dapat dikatakan sebagai Hindu atau bukan dan juga dapat dikatakan sesat atau bukan. Veda mengatur tataran kehidupan yang sangat luas. Secara umum sebagaimana dikatakan bahwa sesuai dengan tujuannya, ajaran Veda dapat dibagi menjadi tiga, yaitu; (1) ajaran mengenai Karma-kanda, yaitu ajaran yang menuntun manusia untuk berbuat baik dan melakukan berbagai macam korban suci dengan maksud mendapatkan kebahagiaan dan kesenangan material baik di dunia ini maupun di alam Sorgawi. Yang termasuk bagian Veda yang mengajarkan ini adalah kitab Catur Veda dan berbagai macam kitab lain yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari seperti Ayur-veda, Dhanur-veda, Artha-sastra dan sebagainya. (2) ajaran mengenai Jnana-kanda adalah ajaran yang mengajarkan filosofis ketuhanan yang sangat mendalam. Umumnya yang termasuk bagian dari ajaran Jnana-kanda adalah kitab-kitab Upanisad. Dan yang terakhir adalah (3) ajaran Upasana-kanda, yaitu mengajarkan manusia untuk melepaskan diri dari siklus kelahiran dan kematian yang berulang-ulang. Vedanta sutra adalah salah satu kitab yang mengarahkan kepada Upasana-kanda. Dari kombinasi ketiga ajaran utama dalam Veda ini akhirnya muncul berbagai macam aliran dan kebiasaan masyarakat pemeluk Veda karena perbedaan tingkat spiritualitas mereka akibat perbedaan pengaruh tri-guna (tiga sifat alam material) yang menyelimuti mereka. Mereka yang lebih tebal diselimuti oleh sifat tamas (kebodohan) lebih cenderung mengikuti ajaran yang mengarahkan mereka pada pemenuhan kenikmatan material yang rendah dan terjerumus pada praktek-praktek keagamaan dalam sifat kebodohan. Mereka yang lebih banyak diselimuti sifat rajas (nafsu) cenderung lebih tertarik pada pemuasan indriya-indriya dan biasanya menjadikan gemerlapnya alam Sorgawi sebagai tujuan akhir setelah kematian. Dan mereka yang lebih banyak diselimuti oleh sifat satvam (kebaikan) cenderung mengikuti ajaran Upasana-kanda, mencari jati diri dan bertanya akan siapa itu Tuhan dan bagaimana mereka bisa ber-bhakti sehingga kembali kepada Tuhan dan melepaskan dari ikatan samsara (kelahiran dan kematian berulang kali).

Melihat dari penggolongan yang berdasarkan pengaruh tri-guna yang berefek pada perbedaan tingkatan spiritualitas masing-masing orang tersebut di atas, ternyata belum cukup untuk mendapatkan formula dalam mengkategorikan aliran sesat untuk penganut Veda. Veda memfasilitasi mereka yang meskipun dapat dikatakan Atheis, mereka yang terlalu materialistik, penganut paham kekosongan ataupun penganut paham Tuhan yang berwujud pribadi. Lalu bagaimana sebenarnya pengkategorian yang lebih tepat?

Satu-satunya penggolongan manusia yang paling dapat diterima secara universal dalam tatanan filsafat Veda hanyalah penggolongan manusia yang masuk dalam kategori Dharma dan Adharma. Bhagavata Purana 11.17.21 menjabarkan pondasi dari tindakan yang mencerminkan Dharma haruslah berpegang teguh pada prinsip:

  1. Tidak melakukan tindak kekerasan (ahimsa)
  2. Berpegang teguh pada kejujuran (satyam)
  3. Tidak mencuri dan korupsi (asteyam)
  4. Selalu berbuat untuk kesejahteraan semua makhluk lain (bhuta priya hitehaca), dan
  5. Membebaskan diri dari nafsu, kemarahan dan keserakahan (akama krodha lobhasa).

Sedangkan mereka yang memiliki tabiat yang berkebalikan dengan kelima prinsip universal di atas sebagaimana disebutkan dalam Bhagavata Purana 11.17.20, yaitu berwatak kotor (asaucam), tidak jujur (anrtam),  suka mencuri (asteyam), tidak percaya kitab suci (nastikyam),  suka bertengkar (suska vigrahah), penuh nafsu (kamah) dan pemarah (krodha), serta diliputi oleh bermacam-macam keinginan memuaskan indriya jasmani (tarsah) adalah termasuk golongan manusia yang Adharma. Mereka yang tergolong Adharma inilah yang sudah pasti dapat dikatakan sesat dan menyimpang dari prinsip dasar ajaran Veda yang harus dilakukan oleh setiap umat manusia tanpa memandang tataran spiritualitasnya. Meskipun mereka menyatakan diri meyakini Panca Sradha, meyakini berbagai macam filsafat Veda yang tergolong Sattvik ataupun flsafat Veda yang tergolong filsafat yang paling utama, tetapi kalau mereka tidak bisa melakukan dan mengamalkan pondasi dasar sebagaimana disampaikan dalam kedua sloka Bhagavata Purana ini, sudah barang tentu mereka masih bisa kita katakan tersesat dari perintah-perintah Veda.

Di dunia, terdapat ratusan aliran Hindu dengan wajah-wajahnya yang berbeda. Bukan hanya dari cara berpakaian, perlengkapan upacara dan tata cara peribadatannya, tetapi juga dari dasar filosofisnya. Dalam lingkup yang lebih kecil, di Indonesia sendiri terdapat sekian banyak aliran Hindu, baik yang tergolong parampara, maupun yang merupakan local genius hasil akulturasi budaya setempat. Kejawen, Kaharingan, Hindu Bali, dan beberapa kumunitas yang sampai saat ini hanya diakui sebagai aliran kepercayaan adalah sebagian kecil dari sempalan Hindu yang berbeda-beda. Ditambah lagi dengan adanya sampradaya Gaudya Vaisnava, Brahma Samaj, berbagai aliran Yoga, dan berbagai praktek Tantra menunjukkan bertapa luasnya cakupan filsafat Hindu. Masing-masing aliran atau garis perguruan memberikan penekanan berbeda terhadap ajaran Veda sesuai dengan guna dan karma pengikutnya. Jika demikian halnya, bisakah salah satu aliran atau garis perguruan menyatakan aliran atau perguruan yang lain sesat dan harus dibekukan sebagaimana yang pernah menimpa Hare Krishna?

Kembali ke studi kasus di depan, sama sekali tidak ada dasar yang bisa digunakan untuk menyatakan Hare Krishna sesat. Kalaupun seandainya pihak berwenang yang pernah mengeluarkan surat pelarangan dan pembekuan terhadap Hare Krishna menggunakan prinsip umum yang digunakan oleh PHDI yaitu Panca Sradha, Hare Krishna juga tidak melanggar prinsip ini, bahkan ini merupakan pondasi pokoknya sebagaimana ditegaskan dalam ajaran dasar Bhagavad Gita yang merupakan pegangan wajib dan pertama bagi setiap penganut aliran ini. Ajaran mereka juga tidak melanggar prinsip-prinsip dasar yang membedakan antara yang tergolong Dharma dan Adharma. Bahkan mereka cenderung dapat menjalankannya secara lebih strict dengan adanya empat pondasi utama yang harus dilewati seseorang untuk dapat diangkat menjadi murid dalam perguruan ini, yaitu tidak makan daging, ikan dan telur, tidak berjudi, tidak mabuk-mabukan dan tidak berzinah. Bahkan untuk mencapai tingkatan bhakti yang murni, seorang murid harus melakukan berbagai sadhana dan aturan tingkah laku yang jauh lebih ketat sesuai dengan Panca Yama Bratha dan Panca Nyama Brahta. Jadi tidak ada prinsip-prinsip Veda dasar yang dilanggar oleh ajaran sampradaya Hare Krishna.

Apa yang melatarbelakangi Hare Krishna dikatakan sesat? Semua ini tidak lepas dari masalah politis dan ekonomi yang pernah terjadi di Indonesia yang dipicu oleh kecemburuan segelintir orang yang egois dan berwatak picik (Asurik) disamping memang adanya pemicu oleh oknum orang-orang bodoh yang mengaku sebagai Hare Krishna namun tidak melakukan sadhana dan prinsip-prinsip dalam garis perguruan.

Biarlah noktah hitam yang telah menodai sejarah Hindu Indonesia ini terkubur dalam-dalam dan menjadi pelajaran buat kita semua. Semoga mereka yang memiliki kekuasaan politis, selaku decision maker tidak lagi memanfaatkan kekuasaan mereka untuk mengkerdilkan Hindu Nusantara yang sudah kecil hanya demi egoisme sesaat. Semua orang Hindu harus sadar bahwa tindakan menyatakan sesat suatu aliran Hindu yang tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dasar Dharma dan yang tidak merugikan orang lain adalah tindakan keliru dan pada dasarnya mereka yang menyeluarkan pernyataan sesat itulah yang harus dikategorikan sebagai orang sesat.

ayurveda,Ilmu kedokteran Veda

Ayurveda, Ilmu Kedokteran Veda

2 comments

Ayurveda, Ilmu Kedokteran Veda

Manuskrip Atreya Samhita, Caraka dan Susruta adalah salah satu dari beberapa manuskrip yang memuat ilmu pengobatan yang merupakan Upaveda atau cabang kitab suci Atharva Veda. Selanjutnya kumpulan kitab-kitab pengobatan ini disebut sebagai Ayurveda. Kata Ayurveda tersusun dari dua suku kata, yaitu  Ayu dan Veda, yang secara harfiah berarti “Ilmu tentang umur”, sehingga Ayurveda dapat dikatakan sebagai ilmu yang mengajarkan tentang kesehatan individu dan teknik-teknik menyembuhkan penyakit, sehingga diharapkan kualitas hidup dan batas usia seseorang akan menjadi lebih baik.

Beberapa sejarahwan Barat mengatakan bahwa Ayurveda setidaknya telah ada 1500 SM, bahkan beberapa diantaranya meyakini angka yang lebih tua lagi, yaitu 3000 SM. Sehingga semua pakar sejarah dan arkeolog meyakini bahwa Ayurveda merupakan buku medis tertua di dunia. Mereka meyakini Dhanvantari dan Divodasa (Raja Kasi) sebagai pelopor pengembangan teknik pengobatan Ayurveda.

Mengingat kedudukan Ayurveda yang merupakan bagian dari Catur Veda, kitab Sruti tertua umat Hindu. Maka jika kita merunut umur ilmu pengobatan Ayurveda berdasarkan sloka-sloka yang ada dalam Veda itu sendiri maka kita akan menemukan angka tahun yang jauh lebih mengejutkan lagi, yaitu 55,52 triliun tahun SM. Ayurveda diturunkan dari dewa Brahma, Sang Pencipta alam material sendiri, kepada Dewa Kembar Aswin, dan kemudian kepada Indra. Kemudian dikatakan Ayurveda bercabang ke dalam dua aliran, pengobatan dan ilmu bedah. Bharadvaja, Atreya Punarvasu dan enam muridnya  seperti Agnivesa dan Ksirapani kemudian mendirikan ilmu pengobatan/kedokteran umum, sementara Susruta mendirikan ilmu bedah. Tentunya angka ini adalah angka yang sangat mengejutkan bagi para sejarahwan dan arkeolog kaum indologis karena kitab suci agama mereka meyakini Bumi baru diciptakan 6000 SM. Itulah penyebab utama yang mengakibatkan semua hipotesa kaum Indologis akan segala hal di dunia ini tidak pernah melampaui angka 6000 SM.

Ayurveda adalah ilmu pengobatan yang sangat lengkap yang meliputi teknik operasi dan pembedahan, terapi warna dan aroma, serta ilmu gizi dan gaya hidup sehat. Dalam Ayurveda kita juga akan menemukan bahasan yang lengkap prihal asal-usul penyakit dan teknik penyembuhannya.

Dari sekian banyak metode pengobatan/treatment dalam Ayurveda, secara umum dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Deva-vyapasraya (Astronomical) treatment dilakukan untuk pengobatan akibat penyakit Karmaja atau penyakit yang muncul akibat dosa-dosa dari tindakan yang dilakukan pada kehidupan di masa lalu.
  2. Yukti-vyapasraya treatment adalah pengobatan yang ditujukan untuk mengobati penyakit Dosaja atau penyakit yang disebabkan oleh ketidakseimbangan tiga Dosha (vatta, pita dan kafa).

Ayurveda memberikan treatment alami untuk semua jenis penyakit yang disebabkan oleh ketidakkonsistenan fisiologi dalam tubuh. Sehingga penyembuhan penyakit dari teknik Ayurveda terletak pada sifat-sifat alamiah badan itu sendiri. Alam dan badan ini tersusun dari lima elemen dasar, yaitu; Akasha, Bayu (udara), Agni (api), Jala (air) dan Prthivi (bumi). Dari lima unsur tersebut, hanya tiga unsur yang memegang peranan penting dalam pembentukan dan deformasi alamiah, yaitu; Bayu (udara), Agni (api), dan Jala (air). Berdasarkan prinsip yang sama, sistem Ayurveda mengeliminir sumber segala penyakit yang didasarkan pada tiga Dosha, yaitu: vata (udara yang ada dalam tubuh), pita (api atau panas dalam tubuh) dan kafa (air dalam tubuh).

Salah satu sloka dalam kumpulan kitab Ayurveda menyebutkan; “Tanpa perusakan dari unsur Dosha, tidak mungkin penyakit muncul. Jika Dosha tidak terdeteksi, treatment harus dilanjutkan berdasarkan gejalanya”.

Inti pengobatan Ayurveda, seperti yang ditunjukkan dalam sloka ini, terletak pada perawatan Dosha. Sehingga penekanan utama dalam Ayurveda adalah perawatan, mulai dari perawayan mata, telinga, hidung dan tenggorokan (shalakyachikitsa), perawatan anak, dan ginekologi osteric (kaumarabhritya) dan perawatan kesehatan mental (bhutavidya) yang dilakukan dengan berbagai teknik Yoga dan konsumsi makanan sehat. Namun jika penyakit sudah muncul akibat ketidakseimbangan Dosha, maka teknik yang harus di ambil adalah pengobatan (kayachikitsa) dan/atau tindakan operasi (Shalyachikitsa)

Sloka lainnya mengatakan, “Jika seseorang telah mengikuti rejimen (aturan untuk diet atau puasa secara disiplin), ia tidak perlu menggunakan obat-obatan”. Jadi, teknik Ayurveda adalah pengobatan yang berdasarkan sifat-sifat alamiah yang juga menekankan pada pola hidup alami dan treatment naturopathic untuk meningkatkan kesehatan.

Teknik Panchakarma yang menekankan terapi pada titik-titik tertentu di badan juga merupakan salah satu teknik yang sangat penting dalam Ayurveda. Pada dasarnya teknik Akupuntur yang selama ini dikatakan berasal dari China juga merupakan bagian dari teknik Panchakarma. Demikian juga dengan teknik Accupresser yang di beberapa tempat praktek pengobatan di Indonesia diklaim sebagai pengobatan “sunah nabi” pada dasarnya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari teknik Panchakarma dalam Ayurveda.

Ayurveda juga mempertimbangkan aspek astronomi dan astrologi. Kedudukan planet-planet dan bintang di alam semesta terhadap mahluk hidup di Bumi dan juga posisi benda-bedan di sekitar kita sangat mempengaruhi kondisi fisik, mental dan karakter seseorang. Sehingga potensi penyakit yang mungkin diderita seseorang dalam hidupnya bias diprediksikan berdasarkan tempat dan waktu kelahirannya. Hal ini juga menyebabkan treatment Ayurveda yang diberikan terhadap seseorang tidaklah selalu sama dengan treatment yang diberikan terhadap orang yang lain.

Penyakit juga diyakini disebabkan oleh papa-karma atau dosa yang dilakukan di kehidupan masa lalu. Hal ini ditegaskan dalam salah satu sloka yang menyebutkan: “Suatu dosa yang dilakukan di kehidupan masa lalu dapat memberikan masalah dalam bentuk penyakit dalam kehidupan sekarang”. Upaya menyembuhkan penyakit akibat papa-karma dapat dilakukan melalui Yadnya/korban suci, Japa, Homa/Agni Hotra, dan Pudja serta diikuti dengan kayachikitsa (konsumsi obat-obatan herbal).

Berkenaan dengan kayachikitsa, dikenal juga istilah yukti-vyapasraya, yaitu upaya membasmi virus, bakteri dan senyawa patogen lainnya dalam tubuh dengan menggunakan bahan-bahan herbal dimana komposisinya harus disesuaikan dengan kondisi tubuh pasien, cuaca, lingkungan dan waktu pemberian ramuan. Hanya saja teknik ini tidak semuanya ditujukan untuk mengobati secara langsung, melainkan beberapa diantaranya hanya untuk menekan gejala dan rasa sakit. Sakit kepala migrain, hipertensi, diabetes dan asma adalah beberapa contoh penyakit yang ditangani dengan yukti-vyapasraya dan bertujuan hanya menahan rasa sakit dan gejalanya saja. Untuk penyakit seperti ini, termasuk kanker dan AIDS harus dibarengi dengan teknik Ayurveda yang lainnya.

Dikatakan bahwa meredupnya unsur Agni di dalam tubuh akan menurunkan resistensi kita terhadap penyakit. AIDS adalah salah satu penyakit yang paling ditakuti yang menyebabkan meredupnya unsur Agni ini. Sehingga untuk mengobati AIDS, Ayurveda memberikan teknik untuk mengembalikan unsur Agni seperti sedia kala dengan melalui latihan Yoga, Naturopathy dan Panchakarma.

Berkaitan dengan tindakan operasi (Shalyachikitsa), dalam The Book of Origins, karya Trevor Homer, Penguin Books, London, 2007 disebutkan bahwa pada milenium pertama sebelum masehi pendarahan pada hidung sangat lazim terjadi karena kasus pemotongan hidung tawanan pada saat peperangan. Dan sekitar tahun 500 SM, dikatakan Sushruta dari India dengan teknik Ayurveda berhasil mengadakan rhinoplasty atau operasi mengembalikan bentuk hidung. Sushruta menjelaskan potongan kulit dari kepala dapat tumbuh di bekas luka hidung yang terpotong.

Dalam sepucuk surat kepada editor majalah Gentlemen’s Magazine yang tersedia di perpustakaan Wellcome Institute for History of Medicine, 183 Euston Road, London  menjelaskan bahwa pernah ada seorang pengemudi bernama Cowasjee, yang membantu melayani tentara Kerajaan Inggris di India di tahun 1792. Sebelumnya, ia pernah dipenjara oleh tentara Tipu Sultan, dimana mereka mencopot hidungnya karena prilaku barbar penguasa Muslim dalam menyiksa dan melumpuhkan tawanan. Sekembalinya di rumahnya di Pune setahun kemudian, seorang ahli bedah Ayurvedic menanganinya dengan memasangkan sebuah hidung baru. Thomas Cruso dan James Trindlay, merupakan dua orang dokter Inggris yang menjadi saksi mata operasi bedah yang mencengangkan tersebut. Mereka menjadi saksi hidup atas operasi-operasi ajaib yang sangat umum dilakukan di India bahkan selama mereka di sana.

Dalam buku As Seen and Known by Foreigners karya G.K. Deshpende (1950), Dr. Sir William Hunter mengatakan bahwa dokter-dokter bangsa India kuno sangat mahir dan ahli. Mereka melakukan tindakan amputasi, menghentikan pendarahan dengan tekanan, perban pembalut dan minyak mendidih, mempraktekan lithotomy, melakukan operasi pada organ bagian dalam dan uterus, menangani hernia, fistula files, memperbaiki tulang patah dan salah posisi dan cekatan dalam memisahkan unsur-unsur asing dari tubuh.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ilmu pengobatan Ayurveda bukanlah ilmu pengobatan tradisional biasa dan tanpa dasar, tetapi merupakan ilmu pengobatan holistik paling kuno yang dapat disejajarkan dan mungkin lebih maju dari ilmu kedokteran modern saat ini. A.L. Basham dalam bukunya The Wonder That Was India juga membenarkan kenyataan ini dengan menyebutkan bahwa sampai abad ke-18, ketika para ahli bedah East India Company (British) tidak malu-malu mempelajari ilmu bedah plastik (rhinoplasty) dari ilmu Ayurveda peninggalan India kuno”

 

 

 

 

Banggalah menjadi penganut Veda… Banggalah menjadi Hindu…