Arsip Harian: 31 Oktober 2010

Wujud Semesta Tuhan Sri Krishna

Wujud Semesta Tuhan Sri Krishna

By Administrator, on April 27th, 2010
i
Rate This

Quantcast

//

Krsna

Bentuk Semesta Tuhan

Bhagavad-gita 11.1

11.1 Arjuna berkata; Dengan mendengar wejangan tentang mata pelajaran yang paling rahasia ini yang sudah Anda berikan kepada hamba atas kemurahan hati Anda, khayalan hamba sekarang sudah dihilangkan.

Bhagavad-gita 11.2

11.2 O Krsna yang mempunyai mata seperti bunga padma, hamba sudah mendengar dari Anda secara terperinci tentang muncul dan menghilangnya setiap makhluk hidup dan hamba sudah menginsafi kebesaran Anda yang tidak pernah dibinasakan.

Bhagavad-gita 11.3

11.3 O kepribadian yang paling mulia, bentuk yang paling utama, walaupun hamba melihat Anda berdiri di sini di hadapan hamba dalam kedudukan Anda yang sejati, sesuai dengan uraian Anda tentang Diri Anda, hamba ingin melihat bagaimana Anda masuk dalam manifestasi alam semesta ini. Hamba ingin melihat bentuk Anda tersebut.

Bhagavad-gita 11.4

11.4  Kalau Anda berpikir hamba sanggup memandang bentuk semesta Anda, sudilah kiranya Anda memperlihatkan bentuk semesta Diri Anda yang tidak terhingga itu kepada hamba, o Tuhan yang hamba muliakan, penguasa segala kekuatan batin.

Bhagavad-gita 11.5

11.5 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Wahai Arjuna yang baik hati, wahai putera prtha, sekarang lihatlah kehebatan-Ku, beratus-ratus ribu jenis bentuk rohani yang berwarna-warni.

Bhagavad-gita 11.6

11.6  Wahai yang paling baik di antara para Bharatha, lihatlah di sini berbagai perwujudan para Aditya, vasu, Rudra, Asvini-kumara dan semua dewa lainnya. Lihatlah banyak keajaiban yang belum pernah dilihat atau didengar oleh siapapun sebelumnya.

Bhagavad-gita 11.7

11.7  Wahai Arjuna apapun yang ingin engkau lihat, lihatlah dengan segera dalam badan-Ku ini! Bentuk semesta ini dapat memperlihatkan kepadamu apapun yang engkau ingin lihat sekarang dan apapun yang engkau ingin lihat pada masa yang akan datang. Segala sesuatu- baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak-berada di sini secara lengkap, di satu tempat.

Bhagavad-gita 11.8

11.8  Tetapi engkau tidak dapat melihat-Ku dengan mata yang engkau miliki sekarang. Karena itu, Aku memberikan mata rohani kepadamu. Lihatlah kehebatan batin-Ku.

Bhagavad-gita 11.9

11.9 Sanjaya berkata; Wahai paduka Raja, sesudah bersabda demikian, Tuhan Yang Mahakuasa, penguasa segala kekuatan batin, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, memperlihatkan bentuk semesta-Nya kepada Arjuna.

Bhagavad-gita 11.10

Bhagavad-gita 11.11

11.10-11  Dalam bentuk semesta itu, Arjuna melihat mulut-mulut yang tidak terhingga, mata yang tidak terhingga, dan wahyu-wahyu ajaib yang tidak terhingga. Bentuk tersebut dihiasi dengan banyak perhiasan rohani dan membawa banyak senjata rohani yang diangkat. Beliau memakai kalung rangkaian bunga dan perhiasan rohani, dan banyak jenis minyak wangi rohani dioleskan pada seluruh badan-Nya. Semuanya ajaib, bercahaya, tidak terbatas dan tersebar kemana-mana.

Bhagavad-gita 11.12

11.12 Kalau beratus-ratus ribu matahari terbit di langit pada waktu yang sama, mungkin cahayanya menyerupai cahaya dari kepribadian yang paling utama dalam bentuk semesta itu.

Bhagavad-gita 11.13

11.13 Pada waktu itu, dalam bentuk semesta Tuhan, Arjuna dapat melihat perwujudan-perwujudan alam semesta yang tidak terhingga terletak di satu tempat walaupun dibagi menjadi beribu-ribu.

Bhagavad-gita 11.14

11.14 Kemudian Arjuna kebingungan dan kagum, dan bulu romanya tegak berdiri. Arjuna menundukkan kepalanya untuk bersujud, lalu mencakupkan tangannya dan mulai berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bhagavad-gita 11.15

11.15  Arjuna berkata; Sri Krsna yang hamba muliakan, di dalam badan Anda hamba melihat semua dewa dan berbagai jenis makhluk hidup yang lain. Hamba melihat Brahma duduk di atas bunga padma, bersama Dewa Siva, semua resi dan naga-naga rohani.

Bhagavad-gita 11.16

11.16 O penguasa alam semesta, o bentuk semesta, di dalam badan Anda hamba melihat banyak lengan, perut, mulut dan mata, tersebar ke mana-mana, tanpa batas,. Hamba tidak dapat melihat akhir, pertengahan, maupun awal di dalam Diri Anda.

Bhagavad-gita 11.17

11.17 Bentuk Anda sulit dilihat karena cahaya-Nya yang menyilaukan, tersebar ke segala sisi, seperti api yang menyala atau cahaya matahari  yang tidak dapat diukur. Namun hamba melihat bentuk ini yang bernyala di mana-mana dihiasi dengan berbagai jenis mahkota, gada, dan cakra.

Bhagavad-gita 11.18

11.18  Anda adalah tujuan pertama yang paling utama. Andalah sandaran utama seluruh jagat ini. Anda tidak dapat dimusnahkan, dan Andalah yang paling Tua. Andalah pemelihara dharma yang kekal, kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Inilah pendapat hamba.

Bhagavad-gita 11.19

11.19  Anda tidak berawal, tidak ada masa pertengahan bagi Anda dan Anda tidak berakhir. Kebesaran Anda tidak terhingga. Jumlah lengan Anda tidak terbilang. Matahari dan bulan adalah mata Anda. Hamba melihat Anda dengan api yang bernyala keluar dari mulut Anda. Anda sedang membakar seluruh jagat ini dengan cahaya pribadi Anda.

Bhagavad-gita 11.20

11.20 Walaupun Anda adalah satu, Anda berada di mana-mana di seluruh angkasa, planet-planet dan antariksa antar planet-planet. O kepribadian yang Mulia dengan melihat bentuk yang mengagumkan dan mengerikan ini, semua susunan planet goyah.

Bhagavad-gita 11.21

11.21 Semua kelompok dewa menyerahkan diri di hadapan Anda dan masuk ke dalam diri Anda. Beberapa di antaranya sangat ketakutan dan mereka mempersembahkan doa pujian sambil mencakupkan tangannya. Banyak resi yang mulia dan makhluk-makhluk yang sempurna yang sedang berseru, “semoga ada segala kedamaian!” sedang berdoa kepada Anda dengan menyanyikan mantra-mantra veda.

Bhagavad-gita 11.22

11.22 Segala manifestasi dari Dewa Siva, para Aditya, para vasu, para Sandya, para Visvedeva, dua Asvi, para Marut, para Leluhur, para Gandharva, para Yaksa, para Asura dan dewa-dewa yang sempurna memandang Anda dengan rasa kagum.

Bhagavad-gita 11.23

11.23 O kepribadian yang berlengan perkasa, semua planet dengan dewa-dewanya goyah ketika melihat bentuk Anda yang maha Agung, dengan banyak muka, mata, lengan, paha, kaki, dan perutnya, dan banyak gigi Anda yang mengerikan; karena itu, mereka goyah, dan hamba juga goyah.

Bhagavad-gita 11.24

11.24 O Visnu yang berada di mana-mana, ketika hamba melihat Anda dengan berbagai warna Anda yang bercahaya dan menyentuh langit, mulut-mulut Anda yang terbuka lebar dan mata Anda yang besar dan menyala, pikiran hamba goyah karena rasa takut. Hamba tidak dapat memelihara sikap mantap maupun keseimbangan pikiran lagi.

Bhagavad-gita 11.25

11.25 O penguasa para dewa, pelindung dunia-dunia, mohon memberi karunia kepada hamba. Hamba tidak dapat memelihara keseimbangan ketika melihat Anda seperti ini dengan wajah-wajah Anda yang menyala seperti maut dan gigi yang mengerikan. Di segala arah hamba kebingungan.

Bhagavad-gita 11.26

Bhagavad-gita 11.27

11.26-27 Semua putera Dhrtarastra, bersama raja-raja yang bersekutu dengan mereka, Bhisma, Drona, Karna dan – semua pemimpin kesatria di pihak kita – lari masuk ke dalam mulut-mulut Anda yang mengerikan. Hamba melihat beberapa di antaranya tersangkut dengan kepala-kepalanya hancur di antara gigi-gigi Anda.

Bhagavad-gita 11.28

11.28  Bagaikan ombak-ombak banyak sungai mengalir ke dalam lautan, seperti itu pula semua kesatria yang hebat ini menyala dan masuk ke dalam mulut-mulut Anda.

Bhagavad-gita 11.29

11.29 Hamba melihat semua orang lari dengan kecepatan penuh ke dalam mulut-mulut Anda, bagaikan kupu-kupu yang terbang menuju kehancuran di dalam api yang menyala.

Bhagavad-gita 11.30

11.30 O Visnu, hamba melihat Anda menelan semua orang dari segala sisi dengan mulut-mulut  Anda yang mengeluarkan banyak api. Anda menutupi seluruh alam semesta dengan cahaya Anda, Anda terwujud dengan sinar-sinar yang mengerikan dan menganguskan.

Bhagavad-gita 11.31

11.31 O penguasa semua dewa, yang mempunyai bentuk yang begitu ganas, mohon beritahukan  kepada hamba siapa Anda? Hamba bersujud kepada Anda; mohon memberi karunia kepada hamba. Anda adalah Tuhan Yang Maha Esa yang asli. Hamba ingin mengetahui tentang Anda, sebab hamba tidak mengetahui apa maksud Anda.

Bhagavad-gita 11.32

11.32  Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Aku adalah waktu, penghancur besar dunia-dunia, dan Aku datang ke sini untuk menghancurkan semua orang. Kecuali kalian [para Pandava], semua kesatria di sini dari kedua belah pihak akan terbunuh.

Bhagavad-gita 11.33

11.33 Karena itu, bangunlah. Siap-siap untuk bertempur dan merebut kemasyuran. Kalahkanlah musuhmu dan menikmati kerajaan yang makmur. Mereka sudah dibunuh oleh apa yang telah Ku-atur, dan engkau hanya dapat menjadi alat dalam pertempuran, wahai Savyasaci.

Bhagavad-gita 11.34

11.34 Drona, Bhisma, Jayadratha, Karna, dan kesatria-kesatria besar lainnya sudah Ku-hancurkan. Karena itu, bunuhlah  mereka dan jangan merasa goyah. Bertempur saja, dan engkau akan memusnahkan musuh-musuhmu dalam pertempuran.

Bhagavad-gita 11.35

11.35 Sanjaya berkata kepada Dhrtarastra; wahai Baginda Raja, sesudah mendengar kata-kata ini dari kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Arjuna yang sedang gemetar menghaturkan sembah sujud berulang kali dengan mencakupkan tangannya. Hati Arjuna penuh rasa takut dan dia berkata kepada Sri Krsna dengan suara yang tersendat-sendat, sebagai berikut.

Bhagavad-gita 11.36

11.36  Arjuna berkata;  O penguasa indria-indria, dunia menjadi riang dengan mendengar nama Anda, dan dengan demikian semua orang menjadi terikat kepada Anda. Kendatipun makhluk-makhluk sempurna bersujud kepada Anda dengan hormat, para raksasa ketakutan sehingga mereka lari ke sana ke mari. Segala hal ini memang patut terjadi.

Bhagavad-gita 11.37

11.37  O Yang Mahabesar, lebih tinggi daripada Brahma, Anda adalah pencipta yang asli. Karena itu, bukankah seyogyanya mereka bersujud dengan hormat kepada Anda? O kepribadian yang tidak terhingga, Tuhan yang disembah oleh semua dewa, pelindung alam semesta! Anda adalah sumber yang tidak dapat dikalahkan, sebab segala sebab, yang melampaui manifestasi alam material ini.

Bhagavad-gita 11.38

11.38  Anda adalah kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, yang paling tua, pelindung utama alam semesta yang terwujud. Andalah yang Mahatahu, dan Andalah segala sesuatu yang dapat diketahui. Andalah pelindung tertinggi, Anda berada di atas sifat-sifat material. O bentuk yang tidak terhingga Anda berada di mana-mana di seluruh manifestasi alam semesta ini!

Bhagavad-gita 11.39

11.39  Andalah udara, dan Andalah Yang Mahakuasa! Anda adalah api, Anda adalah air, dan Anda adalah bulan! Anda adalah Brahma, makhluk hidup yang pertama, Anda adalah kakek moyang semua makhluk. Karena itu hamba bersujud dengan hormat kepada Anda seribu kali, kemudian berulang kali lagi.

Bhagavad-gita 11.40

11. 40  Hamba bersujud kepada Anda dari depan, dari belakang dan dari segala sisi! O kekuatan yang tidak terbatas, Anda penguasa kewibawaan yang tidak terhingga! Anda berada di mana-mana, karena itu Andalah segala sesuatu!

Bhagavad-gita 11.41

Bhagavad-gita 11.42

11.41-42  Oleh karena hamba menganggap Anda sebagai kawan, hamba terlalu berani dan menyapa kepada Anda “hai krsna”, “hai yadava”, “hai kawanku,” tanpa mengetahui kebesaran Anda. Mohon mengampuni apapun yang sudah hamba lakukan karena kebodohan atau karena cinta kasih. Berulang kali hamba kurang hormat kepada Anda, bercanda pada waktu kita sedang istirahat, berbaring di ranjang yang sama, duduk atau makan bersama-sama kadang-kadang sendirian, dan kadang-kadang di depan banyak kawan. O kepribadian yang tidak pernah gagal, ampunilah segala kesalahan itu yang hamba lakukan.

Bhagavad-gita 11.43

11.43  Anda adalah ayah seluruh manifestasi alam semesta ini, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Anda adalah pemimpin jagat yang patut disembah, guru kerohanian yang paling utama. Tiada seorang pun yang sejajar dengan Anda, dan tidak mungkin seseorang bersatu dengan Anda.  Karena itu, bagaimana mungkin ada seseorang yang lebih agung daripada Anda di dalam seluruh tiga dunia ini, o penguasa yang memiliki kekuatan yang tidak terhingga.

Bhagavad-gita 11.44

11 44  Anda adalah Tuhan Yang Maha Esa yang patut disembah oleh setiap makhluk hidup. Karena itu, hamba bersujud dengan hormat kepada Anda dan mohon karunia Anda. Seperti halnya seorang ayah membiarkan keberanian puteranya, seorang kawan membiarkan sikap kurang sopan dari kawannya, atau seorang istri membiarkan sikap akrab suaminya, mohon memaafkan kesalahan yang mungkin hamba lakukan terhadap Anda.

Bhagavad-gita 11.45

11.45 Sesudah melihat bentuk semesta ini yang belum pernah hamba lihat sebelumnya, hamba goyah karena ketakutan. Karena itu, mohon memberi  karunia Anda kepada hamba dan sekali lagi memperlihatkan bentuk Anda sebagai kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, o Tuhan yang disembah oleh semua dewa, pelindung alam semesta.

Bhagavad-gita 11.46

11.46. O bentuk semesta, Tuhan Yang Maha Esa yang berlengan seribu, hamba ingin melihat Anda dalam bentuk Anda yang berlengan empat,  dengan mahkota pada kepala Anda dan gada, cakra, kerang, dan bunga padma pada tangan-tangan Anda. Hamba ingin melihat Anda dalam bentuk itu.

Bhagavad-gita 11.47

11.47 Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Arjuna yang baik hati, atas kekuatan dalam dari Diri-Ku, dengan senang hati bentuk semesta yang paling utama di dunia material sudah kuperlihatkan kepadamu. Sebelum engkau, belum pernah ada orang yang melihat bentuk yang abadi ini, yang tidak terhingga dan penuh cahaya yang menyilaukan.

Bhagavad-gita 11.48

11.48 Wahai kesatria kuru yang paling baik, sebelum engkau, belum pernah ada orang yang melihat bentuk semesta-Ku ini, sebab Aku tidak dapat dilihat dalam bentuk ini di dunia material. Baik melalui cara mempelajari veda, melakukan korban suci, kedermawanan, kegiatan saleh, maupun pertapaan yang keras.

Bhagavad-gita 11.49

11.49 Engkau sudah menjadi goyah dan bingung dengan melihat ciri-Ku yang mengerikan ini. Sekarang itu semua akan berakhir. Penyembah-Ku, sekarang engkau bebas lagi dari segala gangguan. Dengan pikiran yang tenang, sekarang engkau dapat melihat bentuk yang engkau inginkan.

Bhagavad-gita 11.50

11.50 Sanjaya berkata  kepada  Drtarastra; setelah kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krsna bersabda seperti itu kepada Arjuna, Beliau memperlihatkan bentuknya yang sejati yang berlengan empat, dan akhirnya memperlihatkan bentuknya yang berlengan dua. Dengan demikian, Beliau memberi semangat kepada Arjuna yang sedang ketakutan.

Bhagavad-gita 11.51

11.51  Ketika Arjuna melihat Krsna seperti itu dalam bentuk-Nya yang asli, dia berkata; o Janardana, dengan melihat bentuk ini yang seperti manusia dan sangat tampan, pikiran hamba sudah tenang, dan hamba kembali pada sifat hamba yang asli.

Bhagavad-gita 11.52

11.52  Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa bersabda; Arjuna yang baik hati, bentuk-Ku yang sedang engkau lihat sulit sekali dipandang. Para dewa pun senantiasa mencari kesempatan untuk melihat bentuk ini yang sangat tercinta.

Bhagavad-gita 11.53

11.53  Bentuk yang sedang engkau lihat dengan mata rohanimu tidak dapat dimengerti hanya dengan mempelajari veda, melakukan pertapaan yang serius, melalui kedermawanan maupun sembahyang. Bukan dengan cara-cara ini seseorang dapat melihat Aku dalam bentuk-Ku yang sebenarnya.

Bhagavad-gita 11.54

11.54  Arjuna yang baik hati, hanya melalui bhakti yang murni dan tidak dicampur dengan kegiatan yang lain Aku dapat dimengerti menurut kedudukan-Ku yang sebenarnya, yang sedang berdiri di hadapanmu, dan dengan demikian Aku dapat dilihat secara langsung. Hanya dengan cara inilah engkau dapat masuk ke dalam rahasia pengertian-Ku.

Bhagavad-gita 11.55

11.55 Arjuna yang baik hati, orang yang menekuni bhakti yang murni kepada-Ku, bebas dari pengaruh kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil atau pahala dan pengaruh angan-angan, yang bekerja demi-Ku, menjadikan Aku sebagai tujuan utama dalam hidupnya, dan ramah terhadap semua makhluk-dia pasti datang kepada-Ku.

_______________________________

Mari kita lihat bersama apa tanggapan orang non-Hindu Indonesia, pasti subjektif banget.

Manu adalah manusia pertama

Manu adalah manusia pertama

11 comments

Pernahkah anda berpikir kenapa kita disebut manusia?

Manusia berasal dari kata Manu dan Sia, Manu berarti “manu” sebagai mana yang disebut-sebut dalam kitab suci Veda. Dan Sia/sha mengarah pada arti “keturunan”. Jadi manusia berarti “mereka yang merupakan keturunan Manu”. Sangatlah lucu jika anda menyebut diri anda sebagai seorang manusia, tapi menolak disebut sebagai keturunan manu, tetapi malah mengaku anak cucu dari Adam.

Dalam artikel yang lain sudah dijelaskan bahwasanya Adam bukanlah manusia pertama. Dan dalam artikel lainnya sudah dijelaskan pula bagaimana proses penciptaan alam semesta dan bagaimana susunannya. Artikel berikut akan menjelaskan secara singkat bagaimana Manu, leluhur manusia yang ternyata tidak hanya 1 jenis tercipta.

Brahman (Prajapati) menciptakan dua kekuatan yang disebut Purusa yaitu kekuatan hidup (batin/nama) dan Prakerti (pradana/rupa) yaitu kekuatan kebendaan. Kemudian timbul “cita” yaitu alam pikiran yang dipengaruhi oleh Tri Guna yaitu Satwam (sifat kebenaran/Dharma), Rajah (sifat kenafsuan/dinamis) dan Tamah (Adharma/kebodohan/apatis). Kemudian timbul Budi (naluri pengenal), setelah itu timbul Manah (akal dan perasaan), selanjutnya timbul Ahangkara (rasa keakuan). Setelah ini timbul Dasa indria (sepuluh indria/gerak keinginan) yang terbagi dalam kelompok

  • Panca Budi Indria yaitu lima gerak perbuatan/rangsangan: Caksu indria (penglihatan), Ghrana indria (penciuman), Srota indria (pendengaran), Jihwa indria ( pengecap), Twak indria (sentuhan atau rabaan)
  • Panca Karma Indria yaitu lima gerak perbuatan/penggerak: Wak indria(mulut), Pani (tangan), Pada indria (kaki), Payu indria (pelepasan), Upastha indria (kelamin)

Setelah itu timbulah lima jenis benih benda alam (Panca Tanmatra): Sabda Tanmatra(suara), Sparsa Tanmatra (rasa sentuhan), Rupa Tanmatra (penglihatan), Rasa Tanmatra (rasa), Gandha Tanmatra (penciuman).

Dari Panca Tanmatra lahirlah lima unsur-unsur materi yang dinamakan Panca Maha Bhuta, yaitu Akasa (ether), Bayu (angin), Teja (sinar), Apah (zat cair) dan Pratiwi (zat padat.)

Perpaduan semua unsur-unsur ini menghasilkan dua unsur benih kehidupan yaitu Sukla (benih laki-laki) dan Swanita (benih perempuan). Pertemuan antara dua benih kehidupan ini adalah pertemuan Purusa dengan Pradana maka terciptalah manusia.

Dahulu kala Prajapati mencipta manusia bersama bhakti persembahannya dan berkata dengan ini engkau akan berkembangbiak dan biarlah dunia ini jadi sapi perahanmu-[Bhagavad-Gita 3.10]

Beberapa jiwa memasuki kandungan untuk ditubuhkan; yang lain memasuki obyek-obyek diam sesuai dengan perbuatan dan pikiran mereka.-[Katha Upanisad 2.2.7]

Mahluk-mahluk di dunia yang terikat ini adalah bagian percikan yang kekal (Brahman) dari Ku, mereka berjuang keras melawan 6 indria termasuk pikiran.-[Bagawad Gita 15.7]

Percikan dari Brahman itu dinamakan Atman/jiwatman. Atman itu tak terlukai oleh senjata, tak terbakar oleh api, tak terkeringkan oleh angin, tak terbasahkan oleh air, abadi, di mana- mana ada, tak berpindah- pindah, tak bergerak, selalu sama, tak dilahirkan, tak terpikirkan, tak berubah dan sempurna tidak laki- laki ataupun perempuan.

Percikan itulah yang menghidupkan/menggerakan manusia. Atman/roh/jiwa menghidupkan sarwa prani (makhluk di alam semesta ini). Indria tak dapat bekerja bila tak ada atman. Misalnya telinga tak dapat mendengar bila tak ada atman, mata tak dapat melihat bila tak ada atman, kulit tak dapat merasakan bila tak ada atman. Badan jasmani bisa berubah, lahir, mati, datang dan pergi, namun Atma tetap langgeng untuk selamanya.

Ibarat orang meninggalkan pakian lama dan menggantinya dengan yang baru, demikian jiwa meninggalkan badan tua dan memasuki jasmani baru.-[Bagawad Gita II.22]

Maya tanpa kecerdasan dan Material mempunyai sifat: kebaikan/selaras (satwam), nafsu/kekuatan (rajas) dan kebodohan/kelambaman (tamas)” -[Siwa Samhita 1.79] Mahluk hidup diikat oleh sifat-sifat tersebut dan sulit dikendalikan……-[Bagawad Gita 14.5]

Atma/Jiwatman bersifat abadi, namun karena Maya, maka Jiwatma tidak mengetahui asalnya yang sesungguhnya. Keadaan itu disebut “Awidya”. Hal tersebut mengakibatkan Jiwatman mengalami proses kelahiran kembali yang berulang-ulang kedalam 8.400.000 jenis badan material (kehidupan) yang telah disediakan di alam ini oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Kelahiran kembali (Punarbhawa/Reinkarnasi) terjadi karena Ia harus menanggung hasil perbuatan pada kehidupannya yang terdahulu (karma). Dalam ajaran tersebut, bisa dikatakan manusia menentukan nasib baik/buruk yang akan ia jalani berdasarkan Hukum Karma yang telah diciptakan Tuhan.

Apabila manusia tidak sempat menikmati pada kehidupan saat ini, maka akan dinikmati pada kehidupan selanjutnya. Karma merupakan hukum sebab akibat. keadaan manusia (baik suka maupun duka) disebabkan karena hasil perbuatan manusia itu sendiri, baik yang ia lakukan pada saat ia menjalani hidup maupun apa yang ia lakukan pada saat ia menjalani kehidupan sebelumnya.

Perputaran itu tidaklah terputus sampai Ia melepas belenggu Maya dan menghancurkan Awidya/ketidaktahuan. Tujuan dari kelahiran kembali adalah lepas dari pengaruh material dan mencapai Moksa.

Menurut beberapa sumber Veda, badan Manusia adalah badan persimpangan yang paling memungkinkan sang jiwa/atman dapat lepas dari belenggu material dan mencapai moksha.

Sebagaimana disebutkan dalam Bhagavata Purana 3.13.14 -16 bahwasanya di dalam 1 Kalpa, akan tercipta 14 generasi manusia (Manu). Masing-masing dari ke-14 manu tersebut adalah;

  1. Swayambhu Manu
  2. Swarochisha Manu
  3. Auttami Manu
  4. Támasa Manu
  5. Raivata Manu
  6. Chakshusha Manu
  7. Vaivasvata Manu
  8. Savarni Manu
  9. Daksa Savarni Manu
  10. Brahma Savarni Manu
  11. Dharma Savarni Manu
  12. Rudra Savarni Manu
  13. Raucya / Deva Savarni Manu
  14. Bhauta / Indra Savarni Manu

Sampai saat ini kita berada pada generasi Vaivasvata Manu, atau manu yang ke 7. Jadi di dunia ini menurut Hindu sudah tercipta 7 jenis manusia pertama yang pada akhirnya melakukan perkawinan silang dan menghasilkan banyak ras-ras manusia yang berbeda.

Jika anda menggunakan logika anda dan berdasarkan data yang sudah saya paparkan, apakah anda akan menerima Adam sebagai leluhur anda ataukah anda mengakui bahwa anda adalah keturunan Manu?

Pustaka Suci Veda

Pustaka Suci Veda

5 comments

Pustaka Suci Veda

Secara harfiah Veda berarti pengetahuan. Veda berasal dari dan disabdakan oleh Tuhan Yang Maha Esa sendiri. Sebagaimana disampaikan dalam Brhad-Aranyaka Upanisad 2.4.10; “ Rg. Yajur, Sama dan Atharva Veda dan Itihasa semuanya keluar dari nafas kebenaran mutlak, Tuhan Yang Maha Esa”. Hal serupa juga disampaikan dalam Bhagavad Gita 3.15; “Brahmaksara-samudbhavam, pengetahuan Veda langsung diwejangkan oleh Tuhan Yang Maha Esa”. Karena itu, Veda bersifat mutlak (absolut), benar dengan sendirinya (self-authoritative), apauruseya (bukan buatan manusia) dan berhakekat mengatasi hal-hal duniawi (transendental). Veda disabdakan oleh Tuhan, Sri Krishna kepada Brahma sebelum alam mateterial tercipta (Yo brahmanam vidadhati purvam yo vai vedam ca gapayati sma krsnah – Atharva-veda. Tene brahma hrdaya adi kavayeBhagavata Purana 1.1.1). Kemudian Brahma mengajarkan Veda tersebut kepada putra-putranya yakni para Rishi. Selanjutnya melalui proses menurun (deduktip) yang disebut parampara dalam garis perguruan (sampradaya) resmi, para Rsi itu mengajarkan Veda kepada murid-muridnya (perhatikan Bhagavad Gita 4.2). Demikianlah melalui proses deduktip (parampara) pengetahuan Veda akhirnya menyebar di masyarakat manusia.

Tujuan pustaka suci Veda adalah membimbing umat manusia menuju kehidupan damai dan sejahtera di dunia fana (jagadhita) dan mencapai mukti, kelepasan dari derita kehidupan material dunia fana yang selalu menyengsarakan. Untuk mencapai tujuan ini, Veda menyajikan pengetahuan spiritual supaya setiap orang insyaf diri dan mengerti “kebenaran” bahwa hidup di dunia fana adalah samsara, penderitaan.

Ada empat derita utama di dunia fana yaitu: Kelahiran (janma), usia tua (jara), penyakit (vyadhi) dan kematian (mrtyu) – (Bhagavad Gita 13.9). Disamping itu, dalam kehidupan sehari-hari setiap orang  selalu didera oleh tiga macam derita rutin yaitu:

  1. Adhyatma-klesa, derita yang imbul dari badan dan pikiran.
  2. Adhiba-utika-klesa, derita yang disebabkan oleh makhluk lain, dan
  3. Adhidaivika-klesa, derita akibat bencana alam.

Karena itu Sri Krishna berulang-kali menyatakan, “Duhkhalayam asas-vatam, alam fana adalah tempat sementara penuh duka (Bhagavad Gita 8.15). Anityam asukam lokan, alam fana adalah tempat tidak kekal dan menyengsarakan (Bhagavad Gita 9.33). Abrahma bhuvanal lokah punar …, dari planet tertinggi Brahmaloka sampai planet terbawah (Patala-loka) di alam material adalah tempat menyengsarakan (Bhagavad Gita 8.16)”. Jadi masalah kehidupan manusia adalah janma (kelahiran), klesa (berbagai derita rutin), jara (usia-tua), vyadhi (penyakit) dan kematian (mrtyu). Semua masalah ini tidak bisa diatasi dengan cara-cara material apapun kecuali dengan hidup sesuai petunjuk Veda.

Oleh karena secara tegas menyatakan bahwa alam material adalah tempat derita dan mewajibkan setiap orang menjauhi kehidupan duniawi  dengan  hidup sebagai sannyasi menjelang usia tua, maka para sarjana dan filsuf materialistik menuduh bahwa Veda mengajarkan paham pesimistik, menganjurkan hidup pasrah yang mencelakakan dan menolak kehidupan material secara bodoh. Veda tidak mengajarkan hal-hal seperti itu, tetapi  mengajarkan agar orang berjuang keras untuk mencapai kehidupan bahagia kekal-abadi di dunia rohani Vaikuntha-loka. Menurut Veda, kehidupan sebagai manusia adalah kesempatan amat baik untuk mengatasi segala macam derita material dan mencapai kemenangan atas kematian dengan memanfaatkan pengetahuan Veda dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Selanjutnya Veda menyatakan bahwa kehidupan sebagai manusia bagaikan perahu yang bagus untuk menyebrangi samudra kehidupan material dimana guru kerohanian (Acarya) dianalogikan sebagai nahkoda handal dan ajaran spiritual Veda diibaratkan sebagai hembusan angin yang baik.

Orang-orang materialistik yang menetapkan tujuan hidupnya pada  3  hal yaitu:

  1. Srih (menumpuk kekayaan material),
  2. Aisvarya (mencapai jabatan/kedudukan tinggi di masyarakat) dan
  3. Prajapsavah (anak cucu yang bisa menambah srih dan meninggikan aisvarya);  sesungguhnya adalah manusia bodoh.

Karena itu, Garga-Upanisad menyatakan, “Mereka adalah makhluk malang karena tidak memecahkan masalah kehidupan sebagai manusia dan akhirnya mati seperti anjing dan kucing  belaka tanpa mengerti pengetahuan tentang keinsyafan diri”.

Menurut Veda, kehidupan sebagai manusia tidak sempurna  karena:

  1. Indriya-indriya jasmani terbatas dan tidak sempurna, dan
  2. Cendrung mengkhayal, menipu dan berbuat salah.

Karena itu mempelajari dan mengerti Veda yang spiritual dan transcendental tidak bisa dilakukan secara pratyaksa (pengamatan dan penglihatan langsung) dan anumana (menyimpulkan berdasar tanda dan bukti-bukti empiris). Veda menetapkan bahwa ia hanya bisa dipelajari dan dimengerti secara sabda-pramana, mendengar dari sumber  yang  benar dan sah yaitu dari para Acarya (guru kerohanian) secara parampara ( proses menurun/deduktip) dalam garis perguruan (sampradaya) sah dan jelas (perhatikan Bhagavad Gita 4.34 dan 4.2). Karena itu, Veda disebut sruti, pengetahuan yang diperoleh dari mendengar; dan smrti, pengetahuan yang diingat dari cara mendengar. Tetapi proses sabda-pramana ini disalah mengerti oleh para sarjana duniawi berwatak materialistik yang berpegang teguh pada proses empiris-induktip. Mereka berkata bahwa proses sabda ini mengharuskan orang percaya secara membuta, patuh dan tunduk pada dogma, berpegang pada keyakinan tanpa dasar atau khayalan. Menurut mereka, proses sabda tidak bisa dipercaya karena tidak ilmiah yaitu tidak didukung bukti-bukti empiris yang dapat dilihat. Sesungguhnya proses sabda ini adalah sederhana yaitu mendengar dari sumber (orang) yang mengetahui seperti sering dilakukan oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari.  Ini bukan dogma, kepercayaan atau keyakinan buta dan bukan pula khayallan. Contoh, bila seseorang ingin mengetahui secara jelas, mudah dan pasti siapa ayahnya, maka dia harus bertanya kepada si ibu, karena si ibulah yang mengetahui kondisi sebenarnya.

Veda diajarkan dan disebarkan melalui tradisi lisan yaitu proses mendengar (sruti) dan mengingat (smrti)  berdasarkan jalur parampara secara bersamaan dengan terciptanya alam semesta material. Pada permulaan Kali-Yuga sekitar 6000 tahun yang lalu inkarnasi Tuhan, Sri Narayana dibidang sastra yaitu Krishna Dvaipayana Vyasa menyusun Veda secara tertulis agar bisa dipelajari dan dimengerti oleh orang-orang jaman Kali. Mengenai Dvaipayana Vyasa sebagai penyusun Veda tertulis, dijelaskan sebagai berikut (Bhagavata Purana 1.4.17-25).

Sang Rishi mulia yang berpengetahuan penuh, dengan penglihatan rohaninya bisa melihat merosotnya segala sesuatu yang material karena pengaruh buruk Kali-Yuga …… Beliau juga melihat orang-orang yang tidak percaya (pada Veda) jadi pendek usia dan mereka tidak penyabar karena kurang memiliki sifat-sifat bajik …… Untuk menyederhanakan proses (belajar Veda), beliau membagi Veda yang satu (Yajur Veda) itu menjadi 4 bagian untuk diajarkan diantara manusia …. Demikianlah, Rishi Paila menjadi sarjana Rg-Veda, Rishi Jaimini menjadi sarjana Sama-Veda, Rishi Vaisampayana menjadi akhli Yajur-Veda dan Sumantu Muni dipercayakan mengajar Atharva-Veda. Mereka mengajarkan bagian-bagian Veda itu kepada para muridnya masing-masing ….. Kemudian karena kasihan (kepada orang-orang kurang cerdas), Vyasa menyusun Mahabharata agar para wanita, sudra dan dvija-bandhu bisa mencapai tujuan hidup tertinggi”.

Jadi menurut penjelasan Veda itu sendiri, Veda bukanlah hasil karya tulis banyak orang selama beribu-ribu tahun dimasa lalu. Tetapi para sarjana duniawi tidak bisa menerima penjelasan Veda ini karena tidak sesuai dengan pemahaman modern tentang peradaban manusia di masa purba.

Dengan menerapkan pendekatan empiris-induktip dalam mempelajari dan memahami Veda, para sarjana duniawi berwatak materialistik menolak:

  1. Semua penjelasan Veda tentang Veda itu sendiri.
  2. Pendapat para Acarya yang secara tradisional dianggap otoritas (penguasa) sah dalam mempelajari Veda.

Berikut adalah ringkasan penolakan mereka.

Berikut adalah pandangan para Indologist (sarjana barat yang mempelajari Veda) pada abad ke 18 di India.

Catatan:

    1. Veda menceritrakan beraneka-macam peristiwa yang terjadi di berbagai planet di alam semesta material yang kondisinya berbeda dari di Bumi. Ia juga menceritrakan para Deva, Rishi, Asura (Daitya, Danava, Raksasa) yang berusia amat panjang dan mampu melakukan berbagai kegiatan ajaib yang tidak bisa di lakukan manusia. Karena berpikir seperti kodok, maka para sarjana modern menganggap Veda adalah kumpulan mitos (dongeng).
    2. Veda hanya memuat riwayat dan kegiatan rohani (lila) Tuhan dan para Avatatara serta bhakta-Nya dari jaman ke jaman di berbagai tempat di alam semesta, sehingga uraiannya tidak tersusun secara kronologis. Karena berpola pikir akademik, maka mereka menganggap Veda adalah ceritra gado-gado.

Sarana yang dipergunakan oleh para sarjana duniawi dalam mempelajari dan memahami Veda adalah bermacam-macam cabang ilmu pengetahuan material seperti: Sosiologi, Arkeologi, Antropologi, Pilologi, dll. Tetapi studi mereka terhadap Veda dengan cara-cara empiris seperti itu tidak pernah sampai pada kesimpulan pasti yang memuaskan. Mereka tetap dan terus beda pendapat mengenai asal-usul Veda, sejarah Veda dan hal-hal lain menyangkut Veda.

Dalam Bhavisya-Purana (sebagaimana dikutip oleh Madhvacarya dalam ulasannya atas sloka Vedanta-Sutra 2.1.6) dikatakan: “Rg yajuh samatharvas ca bharatam pancaratrakam mula ramayana caiva veda Iti eva sabditah … Puranani ca yaniha vaisnavani vido viduh (rg, yajur, sama dan atahrva-veda, mahabharata, pancaratra dan ramayana dan juga kitab-kitab purana serta vaisnava tergolong pustaka veda.

Dalam Chandogya-Upanisad (7.1.4) dan Srimad Bhagavatam (1.4.20); “itihasa puranah pancamah vedanam vedah (kitab-kitab itihasa dan purana termasuk veda kelima). Dalam Mahabharata (bagian Moksa-Dharma 3.40.11) dikatakan pula; “itiihasa puranam ca pancamo veda ucyate (kitab-kitab itihasa dan purana disebut veda kelima).

Disamping keempat Veda (Rg, Yajur, Sama dan Atharva), kitab-kitab Itihasa (Ramayana dan Mahabharata) dan Purana, Veda memiliki pula Upanisad, kitab yang memuat uraian filosofis tentang Tuhan. Ringkasan seluruh Upanisad adalah Vedanta-Sutra. Jadi bagian-bagian Veda adalah:

  1. Keempat Veda (Rg, Yajur, Sama dan Atharva-Veda),
  2. Itihasa (Ramayana dan Mahabharata),
  3. ke 18 Purana dan
  4. 108 Upanisad beserta ringkasannya yaitu Vedanta-Sutra.

Tetapi para sarjana duniawi berwatak materialistik hanya mengakui keempat Veda (Catur-Veda: Rg, Yajur, Sama dan Atharva-Veda) sebagai pustaka Veda. Mereka menganggap Itihasa dan Purana sebagai kumpulan dongeng belaka dan Upanisad sebagai karya filosofis manusia biasa. Pendapat para sarjana duniawi ini telah menyebabkan para penganut ajaran rohani non Vedik berpikir keliru tentang ajaran Veda itu sendiri.

Ada tiga sumber pengetahuan Veda yang disebut prasthana-traya. Ketiga sumber ini dapat diringkas sebagai berikut.

Hubungan ketiga sumber ini yaitu  Smrti  adalah penjelasan  Sruti  dan Nyaya. Maksudnya, untuk bisa mengerti Sruti dan Nyaya, seseorang harus ingat uraian Smrti.

Dalam Vayu-Purana 1.20 dikatakan, “Itihasa puranabhyam veda samupa-brmhayet bibhetyalpasrutad vedo mamayam prahisyati, Veda hendaklah dipelajari melalui kitab-kitab Itihasa dan Purana. Pustaka Veda takut bila ia dipelajari oleh orang bodoh karena ia merasa sakit seperti dipukul-pukul oleh orang bodoh itu”. Aturan mempelajari Veda-Sruti berdasarkan Veda-Smrti tercantum pula dalam Manu-Smrti, Mahabharata (Adi-Parva 1.267) dan di bagian-bagian lain pustaka Veda.

Untuk mempelajari dan mempraktekkan ajaran Veda dalam kehidupan sehari-hari tersedia Vedanga yang terdiri dari enam cabang pengetahuan Veda yaitu:

  1. Siksa, ilmu mengucapkan mantra-mantra Veda.
  2. Vyakarana, ilmu tata-bahasa (sanskerta).
  3. Nirukti, kamus Veda.
  4. Canda, lagu/irama/tembang membaca sloka-sloka.
  5. Jyotisha, ilmu Astronomi untuk menentukan hari baik melaksanakan ritual (yajna), dan
  6. Kalpa, pengetahuan tentang ritual (yajna) dan aturan hidup sehari-hari.

Pengetahuan tentang Kalpa tercantum dalam kitab Kalpa-Sutra. Ia memuat uraian tentang:

  1. Srouta, yajna kolektip.
  2. Grhya, yajna keluarga atau pribadi.
  3. Dharma, tugas-pekerjaan (dalam hubungannya dengan sistem lembaga Varna- Asrama) dan
  4. Sulva, aturan membuat tempat  persembahyangan, arena yajna, dan sebagainya.

Upa-Veda berarti Veda tambahan atau Veda pelengkap. Yang termasuk Upa-Veda adalah: Ayur-Veda (ilmu medis/kedokteran), Dhanur-Veda (ilmu senjata dan perang), Gandharva-Veda (seni tari dan musik), Manu-Smrti, Brahma Samhita, Niti-Sastra dan berbagai kitab Dharma-Sastra. Menurut Veda, Vedanga dan Upa-Veda adalah bagian utuh dari pustaka Veda itu sendiri.

CATUR VEDA

Ajaran Catur-Veda dapat diringkas sebagai berikut.

Menutut Veda, ada 33 juta Dewa yang memiliki wewenang dalam mengatur kehidupan segala makhluk di alam material. Sementara itu, ada beraneka-macam pemujaan kepada para Dewa dengan melaksanakan berbagai-macam ritual (yajna) agar hidup bahagia di dunia fana melalui pemuasan indriya badan jasmani. Contoh: Bila ingin kuat pisik, sembah Prthivi. Banyak rejeki, sembah Durga Devi. Kuat seksual, sembah Indra. Ingin keturunan, sembah Prajapati, dan sebagainya. Secara umum, ajaran memuaskan indriya secara terkendali sebagaimana diatur dalam Catur-Veda, disebut ajaran Karma-Kanda Veda. Tujuan tertinggi yang ditawarkan adalah kebahagiaan sorgawi dengan lahir di planet Svarga-loka. Dalam hubungannya dengan Karma-Kanda Catur Veda ini, Sri Krishna berkata bahwa ajaran ini diperuntukkan bagi mereka yang kurang cerdas dan dicengkram kuat oleh sifat-sifat alam material (Tri-Guna).

Menganggap alam sorgawi sebagai tujuan hidup tertinggi adalah cita-cita mereka yang tergolong veda-vada-ratah, tidak memahami tujuan veda (Bhagavad Gita 2.42-43). Dan mereka tidak tahu bahwa kehidupan dan kebahagiaan sorgawi tidak kekal, berlangsung sebentar saja karena masih berhakekat material (Bhagavad Gita 9.20-21). Memuja para deva untuk memperoleh kesenangan duniawi melalui pelaksanaan ritual adalah kegiatan mereka yang tergolong alpa-medasam, tidak cerdas (Bhagavad Gita 7.23), hrta-jnanah, berpikir tidak waras (Bhagavad Gita 7.20) dan dicengkram kuat oleh tri-guna, tiga sifat sifat alam material (Bhagavad Gita 2.45).

Meskipun Catur-Veda mengajarkan pemujaan kepada para Deva, namun semua doa-doa pujian ritual selalu di akhiri dengan Om Tat Sat. Ketiga suku kata ini menunjuk Sri Krishna yang juga disebut Visnu  atau  Narayana. Lengkapnya adalah sebagai berikut , “Om tad visnoh paramam padam sada pasyanti surayah, para Deva selalu menengadah kearah tempat tinggal Visnu yang maha utama” (Rg. Veda 1.2.22.20). Dikatakan pula, “Om tat sad iti nerdeso brahmanas tri vidah ….. tena vedas ca yajnas ca vihitah pura, sejak alam semesta material tercipta, tiga suku kata Om Tat Sad sudah dipakai menyapa Tuhan dan diucapkan oleh para brahmana ketika melaksanakan ritual untuk memuaskan Beliau” (Bhagavad Gita 17.23). Jadi mantra Om Tat Sat diucapkan pada setiap akhir doa-doa pujian supaya ritual berhasil, sebab para Deva selalu bergantung kepada Sri Krishna dalam melaksanakan tugasnya mengatur urusan-urusan material dunia fana termasuk menyediakan kebutuhan hidup segala makhluk. (Dalam hubungan ini perhatikan Bhagavad Gita 7.21-22).

 

UPANISAD

Upanisad berarti “Duduk dekat (Guru kerohanian untuk mendengarkan ajaran rohani). Ini berarti Upanisad  menandai mulainya kehidupan spiritual, sebab  ia  (Upanisad) tidak lagi membahas kegiatan pemuasan indriya dengan memuja para Deva melalui pelaksanaan ritual (yajna). Melainkan, Upanisad penuh dengan diskusi filosofis tentang Tuhan. Ajaran tentang ketuhanan yang tercantum dalam Upanisad disebut jnana-kanda.  Ia (jnana-kanda) dimaksudkan untuk menuntun sang manusia melepaskan diri dari kelahiran dan kematian (samsara) di dunia fana dengan khusuk berpikir tentang Tuhan.

Upanisad menyatakan bahwa Kebenaran Mutlak (Tuhan) berhakekat non material alias spiritual dan disebut Brahman.  Dikatakan, “Brahman tidak terpahami, karena Ia tidak bisa dimengerti” (Br-had-Aranyaka Upanisad 3.9.26). Dikatakan demikian  karena   Ia (Brahman) tidak berwujud, tidak bersifat atau berciri material. Meskipun Upanisad mengajarkan meditasi kepada Brahman  impersonal, ia tidak menolak bahwa Tuhan memiliki wujud pribadi atau kepribadian spiritual. Dengan demikian, pernyataan Upanisad  tidak  berlawanan dari Veda-Siddhanta (kesimpulan Veda) yaitu Bhagavad-Gita bahwa aspek Tuhan tertinggi adalah Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa spiritual dan disebut Sri Bhagavan.

Berikut adalah pernyataan kitab-kitab Upanisad yang secara langsung  dan tidak langsung menunjukkan bahwa Tuhan memiliki wujud, sifat dan ciri spiritual.

  1. Tam isvaranam paramam mahesvaram, Tuhan  adalah  pengendali tertinggi atas semua pengendali (Svetasvatara- Upanisad 6.7). Mungkinkah sang Pengendali tanpa wujud, sifat dan ciri apapun? Tentu saja tidak mungkin!
  2. Nityo nityanam cetanas cetananam eko bahunam yo vidadhaki kaman, Ia (Tuhan) yang maha kekal diantara yang kekal, Ia yang maha sadar diantara yang sadar, Ia yang satu ini memelihara dan memenuhi kebutuhan mereka (para makhluk hidup) yang jumlah nya sangat banyak (Katha-Upanisad 2.2.13).
  3. Sang Pengendali paling utama ini (Tuhan) adalah sumber yang penuh tenaga/energi (sakti) dan penyebab terjadinya seluruh ciptaan material ini (Aitareya-Upanisad 1.1.2 dan Prasna-Upanisad 6.3).
  4. Tuhan adalah adrsta, tidak punya mata, tetapi Ia drsta, bisa melihat. Ia adalah asrutah, tidak bertelinga, tetapi  Beliau srutah, bisa mendengar. Ia adalah amantah, tidak punya pikiran, tetapi Beliau mantah, berpikir. Dan Ia adalah avijnatah, tidak  berpengetahuan, tetapi  Beliau  vijnatah, maha mengetahui  ( Brhad Aranyaka Upanisad 7.2.3).
  5. Apani pado javano grahita, Ia (Tuhan) tidak punya kaki ataupun tangan, namun Beliau bisa bergerak dan menerima persembahan yang dihaturkan kepadaNya (Svetasvatara-Upanisad 3.19).

Dapat disimpulkan bahwa Tuhan berwujud spiritual dengan indriya-indriya spiritual. Demikianlah, dengan menguraikan hakekat Tuhan  sebagai sesuatu yang non material, Upanisad melapangkan jalan menuju pemahaman yang benar tentang Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krishna  yang penuh dengan segala macam kehebatan spiritual dan menjadi objek cinta-kasih (bhakti) bagi para bhakta.

VEDA SMRTI

Kitab Ramayana (24.000 sloka) disusun oleh Rishi Valmiki dan menguraikan tentang lila (kegiatan rohani) Avatara Sri Rama. Sedangkan kitab Mahabharata (110.000 sloka) disusun oleh Rishi Dvaipayana Vyasa dan menguraikan tentang lila Avatara Sri Krishna. Kitab-kitab Purana utama ada 18 (delapan belas). Menurut Brahma-Vaivarta Purana, ke 18 Purana ini digolongkan menjadi 3 (tiga) kelompok sebagai berikut.

Pada umumnya setiap Purana membahas 5 (lima) macam topik berikut.

  1. sarga, penciptaan unsur-unsur materi alam fana oleh visnu.
  2. visarga, penciptaan alam semesta material beserta planet-planetnya dan beraneka-macam badan jasmani makhluk hidup oleh brahma.
  3. vamsa, asal-usul para raja dan penguasa yang memerintah diberbagai planet di alam semesta.
  4. manvantara, masa pemerintahan setiap manu dalam setiap hari brahma.
  5. vamsanucarita, keturunan para raja dan penguasa di masa datang.

Kitab-kitab Upaveda memperkaya Veda dengan beraneka-macam pengetahuan yang diperlukan manusia dalam kehidupannya di dunia fana.

VEDANTA-SUTRA

Vedanta berarti akhir (puncak) pengetahuan Veda. Ia merupakan ringkasan seluruh kitab Upanisad. Dua bab pertama menyajikan sambandha-jnana, pengetahuan tentang hubungan makhluk hidup (jiva) dengan Tuhan (Brahman). Bab ke-tiga menyajikan abhideya-jnana, pengetahuan tentang cara membina kembali hubungan itu dengan Tuhan.  Dan bab keempat menyajikan prayojana-jnana, pengetahuan tentang phala/hasil dari hubungan itu. Menurut Bhagavata-Purana (Srimad-Bhagavatam) yang merupakan penjelasan/ulasan (bhasya) asli Vedanta-Sutra, hubungan antara sang makhluk hidup (jiva) dengan Tuhan (Brahman berwujud spiritual yaitu Bhagavan) adalah hubungan cinta-kasih (bhakti) timbal-balik yang sungguh-sungguh membahagiakan.

Pengetahuan tentang hubungan cinta-kasih (bhakti) yang terbagi menjadi 3 sub bagian pengetahuan (sambandha, abhideya dan prayojana-jnana) ini, dapat diringkas sebagai berikut.

VEDA-SIDDHANTA: BHAGAVAD-GITA

Veda-siddhanta (kesimpulan Veda) adalah Bhagavad-Gita. Fakta  ini  ditunjukkan oleh pernyataan Sri Krishna, “Vedais ca sarvair aham eva  vedyah, suluruh pustaka Veda dimaksudkan untuk mengenal diri-Ku” (Bhagavad Gita 15.15). Seperti halnya Vedanta-Sutra (dan bhasya nya Srimad Bhagavatam) yang mengajarkan jalan kerohanian bhakti, Bhagavad-Gita adalah kitab penuntun praktis tentang bhakti kepada  Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Sri Krishna. Hal ini di-tunjukkan oleh sloka-sloka Gita berikut.

Jadi sebagai kesimpulan Veda, Bhagavad-Gita mengajarkan umat manusia agar kembali mencintai Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa, Krishna. Bukti bahwa seseorang sungguh mencintai Beliau ditunjukkan oleh penyerahan diri kepada-Nya (Bhagavad Gita 18.66). Ajaran tentang bhakti yang tercantum dalam Bhagavad-Gita dan Vedanta Sutra (serta bhasya-nya Srimad-Bhagavatam) agar sang manusia lepas dari kelahiran dan kematian (samsara) di  dunia  fana, disebut  Upasana-Kanda.

Ajaran Karma-Kanda yang tercantum dalam kitab-kitab Catur Veda (Rg, Yajur, Sama dan Atharva-Veda) disebut Pravrtti-Marga, jalan kehidupan material. Ajaran Jnana-Kanda yang tercantum dalam kitab-kitab Upanisad dan ajaran Upasana-Kanda yang tercantum dalam Vedanta-Sutra dan Bhagavad-Gita, disebut Nivrtti-Marga, jalan kehidupan spiritual. Menurut jenis, isi dan tujuannya, pustaka suci Veda dapat diringkas sebagai berikut.

Veda disusun sedemikian rupa agar setiap orang mampu secara berangsur-angsur meningkatkan kesadarannya dari material ke spiritual. Kitab-kitab Agama yang muncul kemudian dan bertentangan dari Veda-siddhanta (kesimpulan Veda) dan tidak disebutkan dalam Veda, tidak dapat digolongkan sebagai bagian dari pustaka Veda.

 

Special Thanks to Haladara Prabhu that provided materials for this article

DIALOG TIMUR-BARAT: Vasudeva Datta Murid Sri Krsna Caitanya dan Yesus Kristus, Mana Yang Lebih Kasih?

DIALOG TIMUR-BARAT: Vasudeva Datta Murid Sri Krsna Caitanya dan Yesus Kristus, Mana Yang Lebih Kasih?

By Administrator, on December 14th, 2009
i
Rate This

Quantcast

//

Dikutip dari Buku “DIALOG TIMUR-BARAT”

Pastur Hart: Jika Anda merasa bahwa perbandingan antara Yesus Kristus dan Sri Chaitanya tidak sepadan…

Satyaraja Dasa: Saya tidak mengatakan bahwa perbandingan itu tidak sepadan. Tetapi perbedaannya juga jangan diabaikan.

Pastur Hart: Baiklah, apakah ada seseorang dalam tradisi Veda yang Anda pikir akan lebih tepat untuk diperbandingkan dengan Yesus Kristus?

Satyaraja Dasa: Ada satu kepribadian yang sangat spesial, penyembah agung Sri Chaitanya. Namanya adalah Vasudeva Datta. Dalam keseluruhan tradisi Veda mungkin tidak ada seorang pun yang berbelas kasih atas penderitaan roh-roh  yang jatuh di dunia material ini seperti yang Beliau perlihatkan. Rasa belas kasihnya tidak ada bandingannya.

Vasudeva Datta memohon kepada Sri Chaitanya dalam cara yang secara persis mengingatkan kita pada Yesus Kristus. “Hati hamba hancur” beliau mengutarakan pada Sri Chaitanya, “menyaksikan penderitaan mereka. Hamba mohon Anda berkenan mengambil reaksi dosa semua makhluk hidup, dan menempatkannya di atas kepala hamba. Biarlah hamba yang menanggung penderitaan atas semua dosa mereka”.

Vasudeva Datta ingin menderita untuk selamanya di neraka jika hal itu dapat meringankan penderitaan semua makhluk hidup. Vasudeva Datta tidak membeda-bedakan. Seluruh 8.400.000 jenis kehidupan berhak mendapatkan karunianya. Beliau tidak menghindari satu pun di antara mereka. Cinta-kasih beliau merangkul semuanya.

Kadangkala dikatakan bahwa jika Anda adalah orang baik-baik, dan Anda berserah diri kepada Yesus-atau hanya beriman saja-maka Anda dibebaskan dari segala reaksi dosa. Kita mendengar hal ini berulang kali-“Yesus mati untuk dosa kita”! Tapi Vasudeva Datta ingin menerima dosa setiap orang-apakah mereka pengikutnya ataupun bukan. Apakah mereka memiliki kepercayaan atau keimanan kepada beliau ataupun tidak.

Sebenarnya, Anda mesti membaca cerita ini di dalam Chaitanya Charitramrita (madhya 6). Cerita ini menyayat hati. Dan sangat mengingatkan akan cinta kasih Yesus Kristus. Kenyataannya Vesudeva Datta diagungkan dalam teks itu sebagai “kepribadian pengorbanan” itu sendiri, dan sebagai “Cinta Kasih Universal” itu sendiri.

Pastur Hart: Sangat menarik.

Politik agama atau agama politik?

Politik agama atau agama politik?

25 comments

Posted in Antar agama | 25 comments

Sering kali saya berpikir, kenapa Hindu Nusantara runtuh dan digantikan secara cepat oleh Islam? Apa benar para penyebar agama Islam memiliki filsafat yang tinggi sehingga para Rsi Hindu luluh oleh filsafatnya? Ataukah karena masyarakat waktu itu hanya menjadikan Hindu sebagai label tanpa mengerti filsafat Hindu itu sendiri?

Meski hampir setiap saat berbagai “iklan” baik media elektronik dan media cetak mengatakan bahwa Islam disebarkan di bumi nusantara ini secara damai, namun sering kali saya berpikir “nakal”, apa benar Islam disebarkan secara damai?

Meski background saya adalah Fisika Nuklir, namun saya mencoba melemparkan beberapa bukti arkeologi yang mungkin membuat otak kita dipenuhi misteri. Untuk menghindari salah persepsi, saya tidak akan menarik kesimpulan ini dan itu, tetapi saya harap anda dapat menyimpulkannya sendiri berdasarkan data-data yang ada.

Berawal dari pemberitaan di sebuah surat kabar nasional yang menyebutkan ditemukannya komplek candi di sebuah pemakaman umum membuat saya bertanya-tanya. Kenapa sebuah komplek candi bisa dijadikan pemakaman? Apakah ini suatu hal yang kebetulan?

Pertanyaan “nakal” berikutnya kembali muncul setelah seorang teman saya mengatakan bahwa pura saya seperti kuburan karena dipenuhi pohon kamboja. Sontak saja saya berpikir dan berkata, “iya ya… kenapa kuburan di Jawa dipenuhi dengan pohon kamboja? Padahal kalau di Bali pohon kamboja sering kali di tanam di pura / tempat suci dan juga pekarangan rumah, kenapa bisa bertolak belakang seperti ini?”

Sehingga muncullah “hipotesa nakal” saya prihal penyebaran Islam di nusantara tidaklah berlangsung damai sebagaimana disebutkan selama ini, tetapi penuh dengan politik dan trik-trik kotor yang mendeskriditkan Hindu dan Buddha pada waktu itu.

Beberapa fakta menarik dimana komplek candi yang saat ini menjadi komplek kuburan antara lain adalah Candi Bojongmenje yang ditemukan kembali pada tanggal 18 Agustus 2002 oleh bapak Ahmad Muhammad ketika sedang meratakan tanah gundukan yang ada di areal makam Kampung Bojongmenje, Jawa Barat. Berdasarkan hasil peninjauan dapat diketahui bahwa lokasi situs Bojongmenje di sebelah selatan jalan raya Rancaekek, pada komplek kuburan yang terletak di antara pabrik-pabrik, secara administratif berada di wilayah Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung. Secara geografis berada pada 48’02” BT (berdasarkan peta topografi daerah°50’47” LS dan 107°posisi 6 Sumedang lembar 4522-II). Bangunan candi berada pada bagian barat laut lahan. Tanah di mana terdapat struktur bangunan candi sedikit menggunduk dengan ketinggian sekitar 1,5 m dari permukaan tanah sekitar.

Hal serupa juga ditemukan oleh warga Sukoharjo ketika menggali kuburan di pemakaman umum Turi Loyo, Kecamatan Grogol, Sukoharjo. Mereka menemukan sebuah arca yang diduga peninggalan zaman Kerajaan Majapahit. “Tempat penemuan arca diduga merupakan kawasan pemandian dan pemujaan, tetapi sekarang berubah menjadi tempat pemakaman umum,” kata Agus Riyanto warga yang tinggal dekat pemakaman tersebut.

Menurut keterangan Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur I Made Kusumajawa di sekitar situs Trowulan yang merupakan peninggalan Majapahit juga ditemukan candi yang posisinya sudah dijadikan kuburan warga. Berjejer di antara lokasi candi ditumbuhi pohon kamboja tua dan berjejer empat kuburan.

Di daerah Cangkuang juga ditemukan komplek candi yang juga dijadikan pemakaman leluhur Arif Muhammad. Candi Cangkuang ditemukan pertama kali pada bulan Desember 1966 oleh Uka Tjandrasasmita (anggota Tim Penulisan Sejarah Jawa Barat) berdasarkan laporan Vorderman (1893) tentang sisa-sisa arca Dewa Siwa serta makam leluhur Arif Muhammad di daerah Cangkuang. Ternyata yang ditemukan di pulau itu bukan hanya arca Siwa, melainkan juga batu-batu bekas bangunan candi yang digunakan sebagai nisan-nisan kubur Islam yang berserakan di beberapa tempat. Dan, setelah Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN) bersama para dosen dan mahasiswa dari Jakarta dan Bandung melakukan ekskavasi (penggalian), mengumpulkan batu-batu, penggambaran, penyusunan percobaan dan serangkaian diskusi, maka kesimpulannya bahwa batu-batu itu jelas sisa bangunan candi. Konsentrasi batu-batu itu terletak di bawah pohon besar dekat timbunan batu yang dikenal oleh masyarakat sebagai makam Dalam Arief Mohammad.

Di sepanjang pantura, dari ujung barat (Karawang), Tegal, Brebes dan juga Pemalang sangat banyak ditemukan peninggalan-peninggalan candi. Lebih lanjut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pada waktu itu, Sartono sebagaimana yang disampaikan oleh harian Merdeka (22 Juli 2006) mengatakan bahwa di daerah pemakaman Jatiwangi dan Pagerbarang juga ditemukan banyak reruntuhan candi. Namun sayangnya saat dilakukan evakuasi dan pemugaran, mendapat perlawanan dari sekelompok orang yang memiliki motif-motif tertentu.

Dari beberapa bukti arkeologi dimana candi dialihfungsikan sebagai kuburan, apa yang terbayang di benak anda? Kemana hilangnya keraton kerajaan Majapahit yang besar itu? Hancur karena usia ataukah sengaja di hancurkan? Hancur karena usia saya rasa tidak mungkin, karena dianalogikan dengan candi-candi dan bekas kerajaan di India, kamboja dan Thailand yang sudah umurnya ratusan bahkan ribuan tahun saja masih ada sampai sekarang meskipun tidak terawat dengan baik. Bukankah ini suatu bukti usaha pemberhangusan sejarah dan juga pemutarbalikan fakta?

Keterangan yang juga menguatkan “hipotesa nakal” saya adalah pada apa yang disampaikan dalam serat Darmagandhul dan ramalan Sabdo Palon yang tentunya sudah sangat dikenal di nusantara dan di Jawa khususnya. Dalam serat ini diceritrakan prihal hancurnya kerajaan Brawijaya  (1453 – 1478) oleh ulah putranya sendiri Raden Patah yang menyerang ayahnya atas hasutan  wali songo, terutama sekali sunan kalijaga.

Dalam serat 164 disebutkan bahwa: “…..mumpuni sakabehing laku; nugel tanah Jawa kaping pindho;  ngerahake jin setan; kumara prewangan, para lelembut ke bawah perintah saeko proyo kinen ambantu manungso Jawa padha asesanti trisula weda; landhepe triniji suci; bener, jejeg, jujur; kadherekake Sabdopalon lan Noyogenggong”. (…; menguasai seluruh ajaran (ngelmu); memotong tanah Jawa kedua kali; mengerahkan jin dan setan; seluruh makhluk halus berada di bawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa berpedoman pada trisula weda; tajamnya tritunggal nan suci; benar, lurus, jujur; didampingi Sabdopalon dan Noyogenggong)

173. nglurug tanpa bala; “yen menang tan ngasorake liyan; para kawula padha suka-suka; marga adiling pangeran wus teka; ratune nyembah kawula; angagem trisula wedha; para pandhita hiya padha muja; hiya iku momongane kaki Sabdopalon; sing wis adu wirang nanging kondhang; genaha kacetha kanthi njingglang; nora ana wong ngresula kurang; hiya iku tandane kalabendu wis minger; centi wektu jejering kalamukti; andayani indering jagad raya; padha asung bhekti”. (menyerang tanpa pasukan; bila menang tak menghina yang lain; rakyat bersuka ria; karena keadilan Yang Kuasa telah tiba; raja menyembah rakyat; bersenjatakan trisula wedha; para pendeta juga pada memuja; itulah asuhannya Sabdopalon; yang sudah menanggung malu tetapi termasyhur; segalanya tampak terang benderang; tak ada yang mengeluh kekurangan; itulah tanda zaman kalabendu telah usai; berganti zaman penuh kemuliaan; memperkokoh tatanan jagad raya; semuanya menaruh rasa hormat yang tinggi).

Dari serat ini kita dapat melihat bahwa sebelum penyerangan dan pemberhangusan Brawijaya oleh anaknya sendiri, kondisi kerajaan berlangsung tentram dan sejahtra, masyarakat melakukan aturan-aturan keagamaan dengan sangat baik dan menjungjung tinggi kebenaran.

Dalam serat yang lain juga diceritakan bahwa penyerangan berlangsung sangat terstruktur dan dilakukan dengan membabi buta, membunuh para brahmana / pendeta Hindu – Buddha dan juga menghancurkan tempat-tempat suci dan istana kerajaan.

Setelah Brawijaya dan kerajaannya diluluh lantakkan, akhirnya Brawijaya lari ke Blambangan dan bermaksud meminta bantuan dari kerajaan Bali dan Cina. Namun usaha beliau dapat di cegah oleh Sunan Kalijaga dan dengan daya upayanya berhasil membuat Prabu Brawijaya bertekuklutut dan akhirnya mengucapkan kalimat Syahadat sebagai tanda masuk Islam. Namun tidak demikian halnya dengan Sabdo Palon, penasehat uatama Brawijaya yang sama sekali tidak bersedia masuk Islam atas ajakan Brawijaya sendiri, maka mereka berpisah.

Namun, sebelum berpisah, Sabda palon sempat memberikan wejangan kepada Brawijaya sehingga membuatnya menyesal mengucapkan kalimat Syahadat dan meminta maaf kepada Sabda Palon.

Sabdo Palon : “Paduka sampun kêlajêng kêlorob, karsa dados jawan, irib-iriban, rêmên manut nunut-nunut, tanpa guna kula êmong, kula wirang dhatêng bumi langit, wirang momong tiyang cabluk, kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal, botên rêmên momong paduka. … Manawi paduka botên pitados, kang kasêbut ing pikêkah Jawi, nama Manik Maya, punika kula, ingkang jasa kawah wedang sanginggiling rêdi rêdi Mahmeru punika sadaya kula, …” (“Paduka sudah terlanjur terperosok, mau jadi orang jawan (kehilangan jawa-nya), kearab-araban, hanya ikut-ikutan, tidak ada gunanya saya asuh, saya malu kepada bumi dan langit, malu mengasuh orang tolol, saya mau mencari asuhan yang bermata satu (memiliki prinsip/aqidah yang kuat), tidak senang mengasuh paduka. … Kalau paduka tidak
percaya, yang disebut dalam ajaran Jawa, nama Manik Maya (Semar) itu saya, yang membuat kawah air panas di atas gunung itu semua adalah saya, …”)

Perhatikan ungkapan Sabdo Palon berikut ini : “Sabdapalon ature sêndhu: “Kula niki Ratu Dhang Hyang sing rumêksa tanah Jawa. Sintên ingkang jumênêng Nata, dados momongan kula. Wiwit saking lêluhur paduka rumiyin, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrêm lan Bambang Sakri, run-tumurun ngantos dumugi sapriki, kula momong pikukuh lajêr Jawi, ….. ….., dumugi sapriki umur-kula sampun 2.000 langkung 3 taun, momong lajêr Jawi, botên wontên ingkang ewah agamanipun, …..” (Sabdo Palon berkata sedih: “Hamba ini Ratu Dhang Hyang yang menjaga tanah Jawa. Siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun temurun sampai sekarang, hamba mengasuh keturunan raja-raja Jawa, ….. ….., sampai sekarang ini usia hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, …..”)

Di kalangan spiritualis Jawa pada umumnya, keberadaan Semar (sabda palon) yang umurnya sangat panjang ini diyakini berupa “suara tanpa rupa”. Namun secara khusus bagi yang memahami lebih dalam lagi, keberadaan Semar diyakini dengan istilah “mencolo putro, mencolo putri”, artinya dapat mewujud dan menyamar sebagai manusia biasa dalam wujud berlainan di setiap masa.

Menurut Sabdo Palon dalam ungkapannya dikatakan : “…, paduka punapa kêkilapan dhatêng nama kula Sabdapalon? Sabda têgêsipun pamuwus, Palon: pikukuh kandhang. Naya têgêsipun ulat, Genggong: langgêng botên ewah. Dados wicantên-kula punika, kenging kangge pikêkah ulat pasêmoning tanah Jawi, langgêng salaminipun.” (“…, apakah paduka lupa terhadap nama saya Sabdo Palon? Sabda artinya kata-kata, Palon adalah kayu pengancing kandang, Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi ucapan hamba itu berlaku sebagai pedoman hidup di tanah Jawa, langgeng selamanya.”)

Seperti halnya Semar telah banyak dikenal sebagai pamomong sejati yang selalu mengingatkan bilamana yang di”emong”nya salah jalan, salah berpikir atau salah dalam perbuatan, terlebih apabila melanggar ketentuan-ketentuan Tuhan Yang Maha Esa. Semar selalu memberikan piwulangnya untuk bagaimana berbudi pekerti luhur selagi hidup di dunia fana ini sebagai bekal untuk perjalanan panjang berikutnya nanti.

Semar atau Kaki Semar sendiri memiliki 110 nama, diantaranya adalah Ki Sabdopalon, Sang Hyang Ismoyo, Ki Bodronoyo, dan lain-lain. Di dalam Serat Darmogandhul diceritakan episode perpisahan antara Sabdo Palon dengan Prabu Brawijaya karena perbedaan prinsip. Sebelum berpisah Sabdo Palon menyatakan kekecewaannya dengan sabda-sabda yang mengandung prediksi tentang sosok masa depan yang diharapkannya.

Berikut ungkapan-ungkapan itu : “….. Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.” (“….. Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama Buda, keturunan Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang memahami kawruh Jawa) tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawi-nya hilang, suka ikut-ikutan bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin oleh orang Jawa (Jawi) yang mengerti.” “….. Sang Prabu diaturi ngyêktosi, ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon, wong jawan arêp diwulang wêruha marang bênêr luput.” (“….. Sang Prabu diminta memahami, suatu saat nanti kalau ada orang Jawa menggunakan nama tua (sepuh), berpegang pada kawruh Jawa, yaitulah yang diasuh oleh Sabda Palon, orang Jawan (yang telah kehilangan Jawa-nya) akan diajarkan agar bisa melihat benar salahnya.”)

Lebih lanjut diceritakan : “Sang Prabu karsane arêp ngrangkul Sabdapalon lan Nayagenggong, nanging wong loro mau banjur musna. Sang Prabu ngungun sarta nênggak waspa, wusana banjur ngandika marang Sunan Kalijaga: “Ing besuk nagara Blambangan salina jênêng nagara Banyuwangi, dadiya têngêr Sabdapalon ênggone bali marang tanah Jawa anggawa momongane. Dene samêngko Sabdapalon isih nglimput aneng tanah sabrang.” (“Sang Prabu berkeinginan merangkul Sabdo Palon dan Nayagenggong, namun orang dua itu kemudian raib. Sang Prabu heran dan bingung kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga : “Gantilah nama Blambangan menjadi Banyuwangi, jadikan ini sebagai tanda kembalinya Sabda Palon di tanah Jawa membawa asuhannya. Sekarang ini Sabdo Palon masih berkelana di tanah seberang.”)

Dari kalimat ini jelas menandakan bahwa Sabdo Palon dan Prabu Brawijaya berpisah di tempat yang sekarang bernama Banyuwangi. Tanah seberang yang dimaksud tidak lain tidak bukan adalah Pulau Bali. Untuk mengetahui lebih lanjut guna menguak misteri ini, ada baiknya kita kaji sedikit tentang Ramalan Sabdo Palon berikut ini.

3. Sabda Palon matur sugal, “Yen kawula boten arsi, Ngrasuka agama Islam, Wit kula puniki yekti, Ratuning Dang Hyang Jawi, Momong marang anak putu, Sagung kang para Nata, Kang jurneneng Tanah Jawi, Wus pinasthi sayekti kula pisahan”. (Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.)

4. Klawan Paduka sang Nata, Wangsul maring sunya ruri, Mung kula matur petungna, Ing benjang sakpungkur mami, Yen wus prapta kang wanci, Jangkep gangsal atus tahun, Wit ing dinten punika, Kula gantos kang agami, Gama Buda kula sebar tanah Jawa. (Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Buda lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.

5. Sinten tan purun nganggeya, Yekti kula rusak sami, Sun sajekken putu kula, Berkasakan rupi-rupi, Dereng lega kang ati, Yen durung lebur atempur, Kula damel pratandha, Pratandha tembayan mami, Hardi Merapi yen wus njeblug mili lahar. (Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.)

6. Ngidul ngilen purugira, Ngganda banger ingkang warih, Nggih punika medal kula, Wus nyebar agama budi, Merapi janji mami, Anggereng jagad satuhu, Karsanireng Jawata, Sadaya gilir gumanti, Boten kenging kalamunta kaowahan. (Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.)

7. Sanget-sangeting sangsara, Kang tuwuh ing tanah Jawi, Sinengkalan tahunira, Lawon Sapta Ngesthi Aji, Upami nyabrang kali, Prapteng tengah-tengahipun, Kaline banjir bandhang, Jerone ngelebne jalmi, Kathah sirna manungsa prapteng pralaya. (Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.)

8. Bebaya ingkang tumeka, Warata sa Tanah Jawi, Ginawe kang paring gesang, Tan kenging dipun singgahi, Wit ing donya puniki, Wonten ing sakwasanipun, Sedaya pra Jawata, Kinarya amertandhani, Jagad iki yekti ana kang akarya. (Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditangan-Nya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.)

Kutipan serat ini hanya sebagian dari seluruh serat yang ada sebagaimana yang pernah diterbitkan oleh “Nurul Huda”. Meskipun tidak dikutip secara lengkap, namun dapat memberikan kita gambaran tentang seorang anak yang durhaka pada orang tuanya, politik busuk yang dilakukan oleh para wali songo, penghancuran terstruktur ajaran Hindu dan Buddha di tanah Jawa dan ramalan akan kembalinya ajaran “Budhi” yang merupakan keyakinan asli orang Jawa setelah 500 tahun perpisahan Brawijaya dengan Sabda Palon.

Setelah melihat catatan arkeologi, serat darmogandul dan jayabaya tersebut, dapatkah kita mengatakan bahwa Islam disebarkan secara damai dan elegan? Bukankah penyebarannya diwarnai dengan perang, durhaka pada orang tua, politik kotor dan usaha pemberhangusan budaya nusantara?

Hal yang juga menjadi perhatian saya saat ini adalah adanya usaha terstruktur untuk menghancurkan budaya Jawa dan Nusantara umumnya, baik melalui media elektronik maupun cetak. Coba kita perhatikan tayangan sinetron, kenapa yang digambarkan sebagai sosok jahat adalah mereka yang berpakaian Jawa, membawa keris dan melakukan ritual Kejawen? Sementara yang digambarkan sebagai sosk baik adalah mereka yang memakai sorban dan berpakaian serba putih ala Arab? Ditambah lagi dengan adanya usaha sekelompok orang yang berusaha melakukan arabisasi di bumi nusantara ini. Salah satunya adalah dengan cara penerapan undang-undang fornografi yang kontrofersial. Diskriminasi dan pemaksaan agama juga masih banyak terjadi di Nusantara tercinta ini. Banyak pasangan Kejawen, Sapto Dharmo dan kepercayaan asli nusantara tidak dapat melangsungkan pernikahan dan mendapatkan surat-surat administratif lainnya jika tidak menuliskan “Islam” dalam KTP-nya. Bahkan hal ini juga masih sering terjadi pada pemeluk agama minoritas Hindu seperti kasus yang menimpa beberapa keluarga di daerah Jawa Tengah.

Menyimpulkan hal ini memang merupakan suatu hal yang krusial, jika tidak diimbangi dengan niat baik, pikiran jernih dan mau menerima kenyataan tanpa mengedepankan sentimen pribadi dan keagamaan, maka hanya akan menimbulkan pertengkaran dan perdebatan yang tidak berujung.

Oleh karena itu, para pembaca saya arapkan dapat memberikan argumen yang didasarkan pada bukti otentik untuk menyanggah atau mendukung anggapan ini dan dengan kepala dingin tentunya.

 

Sumber:

  1. http://www.wacananusantara.org
  2. KOMPAS.COM, 1 September dan 3 November 2008
  3. Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1988. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  4. Bambang Budi Utomo. 2004. Arsitektur Bangunan Suci Masa Hindu-Budha di Jawa Barat. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata
  5. http://meditasiku.blogspot.com/

Mencari formula untuk aliran sesat dalam hindu

Mencari formula untuk aliran sesat dalam Hindu

33 comments

Posted in Antar agama | 33 comments

Mencari formula untuk aliran sesat dalam Hindu

Masih ingat kasus Ahmadyah yang divonis sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI)? Ahmadyah dikatakan sesat oleh penganut Islam yang lain karena Ahmadyah meyakini adanya nabi lain setelah nabi Muhammad. Umat Islam secara umum harus meyakini beberapa landasan pokok yang sudah digariskan kepadanya. Majelis Ulama Indonesia telah mengeluarkan 10 kriteria aliran sesat. Apabila ada satu ajaran yang terindikasi punya salah satu dari kesepuluh kriterai itu, bisa dijadikan dasar untuk masuk ke dalam kelompok aliran sesat. Kesepuluh kriteria itu antara lain:

  1. Mengingkari rukun iman (Iman kepada Allah, Malaikat, Kitab Suci, Rasul, Hari Akhir, Qadla dan Qadar) dan rukun Islam (Mengucapkan 2 kalimat syahadah, sholat 5 waktu, puasa, zakat, dan Haji)
  2. Meyakini dan atau mengikuti akidah yang tidak sesuai dalil syar`i (Alquran dan as-sunah)
  3. Meyakini turunnya wahyu setelah Alquran
  4. Mengingkari otentisitas dan atau kebenaran isi Alquran
  5. Melakukan penafsiran Alquran yang tidak berdasarkan kaidah tafsir
  6. Mengingkari kedudukan hadis Nabi sebagai sumber ajaran Islam
  7. Melecehkan dan atau merendahkan para nabi dan rasul
  8. Mengingkari Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir
  9. Mengubah pokok-pokok ibadah yang telah ditetapkan syariah
  10. Mengkafirkan sesama Muslim tanpa dalil syar’i

Menurut kriteria ini, sebuah aliran yang mengaku sebagai Islam tetapi tidak melaksanakan “standard” yang sudah mereka gariskan ini dapat dikatakan sesat. Lalu bagaimana dengan klaim sesat dalam agama Hindu?

Satu kasus yang sangat memalukan dalam sejarah Hindu di Indonesia adalah ketika pada beberapa puluh tahun lalu sebuah garis perguruan Hindu divonis sesat oleh pemerintah. Mungkin baru kasus itulah yang merupakan kasus satu-satunya di dunia dimana sebuah aliran Hindu dikatakan sesat. Saat itu semua aktivitas kerohanian yang dilakukan oleh organisasi ISKCON yang juga dikenal dengan sebutan “Hare Krishna” dibekukan. Para pemimpin dan pengikutnya dikejar-kejar, ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Mereka yang berhasil lolos melarikan diri terpaksa hidup luntang-lantung dan melakukan aktivitasnya secara underground. Kejadian ini terulang lagi pada bulan Oktober 2005, dimana Kantor Wilayah Departemen Agama di Nusa Tenggara Barat kembali mengeluarkan larangan terhadap Hare Krishna dan 12 aliran agama lainnya. Dan sampai saat inipun larangan dan vonis sesat terhadap Hare Krishna belum dicabut. Sebuah kabar yang sangat menggelikan dapat kita lihat di sebuah majalah Hindu nasional yang menyoroti bahwa ada seorang pemuka Hindu yang memiliki sederet gelar akademik menyatakan secara terang-terangan di depan umum bahwa dengan membaca Bhagavad Gita dan mengatakan bahwa yang bersabda dalam Bhagavad Gita, yaitu Sri Krishna sebagai Tuhan adalah orang yang sesat. Benarkah klaim ini? Standar apa yang mereka gunakan untuk menyatakan salah satu aliran Hindu sesat?

 

Bebebrapa pakar filsafat yang melakukan pendekatan empiris–induktif menyatakan bahwa di dunia ini agama-agama di dunia dapat dikategorikan menjadi 2 kategori besar, yaitu agama Hukum dan agama Spiritual. Agama Hukum adalah agama yang mengatur keberadaan umatnya berdasarkan reward and punishment (hadiah dan hukuman). Sebuah agama bisa dikategorikan dalam agama Hukum jika dalam kitab sucinya lebih menekankan akan suatu kegitaan yang harus dilakukan agar menghasilkan pahala dan menghindari kegiatan yang dilarang agar tidak mendapatkan dosa. Islam dan agama-agama Semitik lainnya umumnya dapat dikategorikan dalam kategori agama Hukum karena mereka cenderung memperlihatkan perhitungan terhadap besar pahala dan dosa untuk memvonis seseorang akan masuk sorga atau malah dijebloskan ke dalam neraka jahanam. Sedangkan agama spiritual adalah agama yang mendasarkan pada kesadaran, bukan karena adanya rasa takut akan dosa/hukuman dan/atau terpikat oleh pahala. Meskipun Hindu juga mengenal istilah karma baik dan buruk sehingga berakibat pada adanya alam Sorga dan Neraka, namun penekanan kesadaran adalah yang paling dominan di dalam Hindu, sehingga otomatis Hindu dapat digolongkan dalam golongan agama Spiritual.

Melihat dari karakteristik antara Hindu sebagai agama Spiritual dan Islam sebagai salah satu agama Hukum yang sangat jauh berbeda, tentunya formula yang harus diterapkan dalam mengklaim bahwa sebuah aliran / parampara Hindu adalah sesat atau bukan tentunya sangatlah berbeda. Kita tidak cukup hanya menjadikan Panca Sraddha (lima dasar kepercayaan umat Hindu) yang berlaku di Indonesia yang merupakan adopsi dari lima rukun Islam sebagai patokan utama. Kenapa demikian?  Coba kita perhatikan bagian Veda Smrti, yaitu pada bagian Darsana, disana kita dapat menemukan dua dasar ketuhanan yang sama sekali saling bertolak belakang namun keduanya diakui secara sah oleh Veda, yaitu yang tergolong Astika yang mengakui otoritas Veda dan Nastika yang cenderung lebih kearah Atheis. Jika Veda memang mengakui kedua golongan yang saling bertolak belakang ini, itu berarti satu pondasi Panca Sraddha, yaitu keyakinan akan adanya Tuhan tidak bisa digunakan sebagai dasar dalam menyatakan suatu aliran Veda sesat atau tidak. Demikian juga mengenai Moksa. Sebagian penganut Hindu mengatakan bahwa Moksa adalah penyatuan antara Atman/Jiva dengan Tuhan Yang Maha Esa. Mereka yang memiliki keyakinan ini adalah mereka yang biasa disebut penganut filsafat Mayavada. Namun di sisi lain para penganut filsafat Vedanta menyatakan bahwa Moksa tidak sesempit itu. Bahkan mereka menyatakan bahwa tingkatan Moksa seperti itu adalah tingkatan Moksa yang paling rendah dan bersifat tidak kekal. Ternyata satu pondasi Panca Sradha juga rapuh dan tidak bisa dijadikan acuan dalam memandang suatu aliran adalah sesat.

Veda memang bukanlah setumpuk buku suci yang tipis yang bisa menerangkan secara singkat prihal batasan-batasan seseorang dapat dikatakan sebagai Hindu atau bukan dan juga dapat dikatakan sesat atau bukan. Veda mengatur tataran kehidupan yang sangat luas. Secara umum sebagaimana dikatakan bahwa sesuai dengan tujuannya, ajaran Veda dapat dibagi menjadi tiga, yaitu; (1) ajaran mengenai Karma-kanda, yaitu ajaran yang menuntun manusia untuk berbuat baik dan melakukan berbagai macam korban suci dengan maksud mendapatkan kebahagiaan dan kesenangan material baik di dunia ini maupun di alam Sorgawi. Yang termasuk bagian Veda yang mengajarkan ini adalah kitab Catur Veda dan berbagai macam kitab lain yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari seperti Ayur-veda, Dhanur-veda, Artha-sastra dan sebagainya. (2) ajaran mengenai Jnana-kanda adalah ajaran yang mengajarkan filosofis ketuhanan yang sangat mendalam. Umumnya yang termasuk bagian dari ajaran Jnana-kanda adalah kitab-kitab Upanisad. Dan yang terakhir adalah (3) ajaran Upasana-kanda, yaitu mengajarkan manusia untuk melepaskan diri dari siklus kelahiran dan kematian yang berulang-ulang. Vedanta sutra adalah salah satu kitab yang mengarahkan kepada Upasana-kanda. Dari kombinasi ketiga ajaran utama dalam Veda ini akhirnya muncul berbagai macam aliran dan kebiasaan masyarakat pemeluk Veda karena perbedaan tingkat spiritualitas mereka akibat perbedaan pengaruh tri-guna (tiga sifat alam material) yang menyelimuti mereka. Mereka yang lebih tebal diselimuti oleh sifat tamas (kebodohan) lebih cenderung mengikuti ajaran yang mengarahkan mereka pada pemenuhan kenikmatan material yang rendah dan terjerumus pada praktek-praktek keagamaan dalam sifat kebodohan. Mereka yang lebih banyak diselimuti sifat rajas (nafsu) cenderung lebih tertarik pada pemuasan indriya-indriya dan biasanya menjadikan gemerlapnya alam Sorgawi sebagai tujuan akhir setelah kematian. Dan mereka yang lebih banyak diselimuti oleh sifat satvam (kebaikan) cenderung mengikuti ajaran Upasana-kanda, mencari jati diri dan bertanya akan siapa itu Tuhan dan bagaimana mereka bisa ber-bhakti sehingga kembali kepada Tuhan dan melepaskan dari ikatan samsara (kelahiran dan kematian berulang kali).

Melihat dari penggolongan yang berdasarkan pengaruh tri-guna yang berefek pada perbedaan tingkatan spiritualitas masing-masing orang tersebut di atas, ternyata belum cukup untuk mendapatkan formula dalam mengkategorikan aliran sesat untuk penganut Veda. Veda memfasilitasi mereka yang meskipun dapat dikatakan Atheis, mereka yang terlalu materialistik, penganut paham kekosongan ataupun penganut paham Tuhan yang berwujud pribadi. Lalu bagaimana sebenarnya pengkategorian yang lebih tepat?

Satu-satunya penggolongan manusia yang paling dapat diterima secara universal dalam tatanan filsafat Veda hanyalah penggolongan manusia yang masuk dalam kategori Dharma dan Adharma. Bhagavata Purana 11.17.21 menjabarkan pondasi dari tindakan yang mencerminkan Dharma haruslah berpegang teguh pada prinsip:

  1. Tidak melakukan tindak kekerasan (ahimsa)
  2. Berpegang teguh pada kejujuran (satyam)
  3. Tidak mencuri dan korupsi (asteyam)
  4. Selalu berbuat untuk kesejahteraan semua makhluk lain (bhuta priya hitehaca), dan
  5. Membebaskan diri dari nafsu, kemarahan dan keserakahan (akama krodha lobhasa).

Sedangkan mereka yang memiliki tabiat yang berkebalikan dengan kelima prinsip universal di atas sebagaimana disebutkan dalam Bhagavata Purana 11.17.20, yaitu berwatak kotor (asaucam), tidak jujur (anrtam),  suka mencuri (asteyam), tidak percaya kitab suci (nastikyam),  suka bertengkar (suska vigrahah), penuh nafsu (kamah) dan pemarah (krodha), serta diliputi oleh bermacam-macam keinginan memuaskan indriya jasmani (tarsah) adalah termasuk golongan manusia yang Adharma. Mereka yang tergolong Adharma inilah yang sudah pasti dapat dikatakan sesat dan menyimpang dari prinsip dasar ajaran Veda yang harus dilakukan oleh setiap umat manusia tanpa memandang tataran spiritualitasnya. Meskipun mereka menyatakan diri meyakini Panca Sradha, meyakini berbagai macam filsafat Veda yang tergolong Sattvik ataupun flsafat Veda yang tergolong filsafat yang paling utama, tetapi kalau mereka tidak bisa melakukan dan mengamalkan pondasi dasar sebagaimana disampaikan dalam kedua sloka Bhagavata Purana ini, sudah barang tentu mereka masih bisa kita katakan tersesat dari perintah-perintah Veda.

Di dunia, terdapat ratusan aliran Hindu dengan wajah-wajahnya yang berbeda. Bukan hanya dari cara berpakaian, perlengkapan upacara dan tata cara peribadatannya, tetapi juga dari dasar filosofisnya. Dalam lingkup yang lebih kecil, di Indonesia sendiri terdapat sekian banyak aliran Hindu, baik yang tergolong parampara, maupun yang merupakan local genius hasil akulturasi budaya setempat. Kejawen, Kaharingan, Hindu Bali, dan beberapa kumunitas yang sampai saat ini hanya diakui sebagai aliran kepercayaan adalah sebagian kecil dari sempalan Hindu yang berbeda-beda. Ditambah lagi dengan adanya sampradaya Gaudya Vaisnava, Brahma Samaj, berbagai aliran Yoga, dan berbagai praktek Tantra menunjukkan bertapa luasnya cakupan filsafat Hindu. Masing-masing aliran atau garis perguruan memberikan penekanan berbeda terhadap ajaran Veda sesuai dengan guna dan karma pengikutnya. Jika demikian halnya, bisakah salah satu aliran atau garis perguruan menyatakan aliran atau perguruan yang lain sesat dan harus dibekukan sebagaimana yang pernah menimpa Hare Krishna?

Kembali ke studi kasus di depan, sama sekali tidak ada dasar yang bisa digunakan untuk menyatakan Hare Krishna sesat. Kalaupun seandainya pihak berwenang yang pernah mengeluarkan surat pelarangan dan pembekuan terhadap Hare Krishna menggunakan prinsip umum yang digunakan oleh PHDI yaitu Panca Sradha, Hare Krishna juga tidak melanggar prinsip ini, bahkan ini merupakan pondasi pokoknya sebagaimana ditegaskan dalam ajaran dasar Bhagavad Gita yang merupakan pegangan wajib dan pertama bagi setiap penganut aliran ini. Ajaran mereka juga tidak melanggar prinsip-prinsip dasar yang membedakan antara yang tergolong Dharma dan Adharma. Bahkan mereka cenderung dapat menjalankannya secara lebih strict dengan adanya empat pondasi utama yang harus dilewati seseorang untuk dapat diangkat menjadi murid dalam perguruan ini, yaitu tidak makan daging, ikan dan telur, tidak berjudi, tidak mabuk-mabukan dan tidak berzinah. Bahkan untuk mencapai tingkatan bhakti yang murni, seorang murid harus melakukan berbagai sadhana dan aturan tingkah laku yang jauh lebih ketat sesuai dengan Panca Yama Bratha dan Panca Nyama Brahta. Jadi tidak ada prinsip-prinsip Veda dasar yang dilanggar oleh ajaran sampradaya Hare Krishna.

Apa yang melatarbelakangi Hare Krishna dikatakan sesat? Semua ini tidak lepas dari masalah politis dan ekonomi yang pernah terjadi di Indonesia yang dipicu oleh kecemburuan segelintir orang yang egois dan berwatak picik (Asurik) disamping memang adanya pemicu oleh oknum orang-orang bodoh yang mengaku sebagai Hare Krishna namun tidak melakukan sadhana dan prinsip-prinsip dalam garis perguruan.

Biarlah noktah hitam yang telah menodai sejarah Hindu Indonesia ini terkubur dalam-dalam dan menjadi pelajaran buat kita semua. Semoga mereka yang memiliki kekuasaan politis, selaku decision maker tidak lagi memanfaatkan kekuasaan mereka untuk mengkerdilkan Hindu Nusantara yang sudah kecil hanya demi egoisme sesaat. Semua orang Hindu harus sadar bahwa tindakan menyatakan sesat suatu aliran Hindu yang tidak menyimpang dari prinsip-prinsip dasar Dharma dan yang tidak merugikan orang lain adalah tindakan keliru dan pada dasarnya mereka yang menyeluarkan pernyataan sesat itulah yang harus dikategorikan sebagai orang sesat.

ayurveda,Ilmu kedokteran Veda

Ayurveda, Ilmu Kedokteran Veda

2 comments

Ayurveda, Ilmu Kedokteran Veda

Manuskrip Atreya Samhita, Caraka dan Susruta adalah salah satu dari beberapa manuskrip yang memuat ilmu pengobatan yang merupakan Upaveda atau cabang kitab suci Atharva Veda. Selanjutnya kumpulan kitab-kitab pengobatan ini disebut sebagai Ayurveda. Kata Ayurveda tersusun dari dua suku kata, yaitu  Ayu dan Veda, yang secara harfiah berarti “Ilmu tentang umur”, sehingga Ayurveda dapat dikatakan sebagai ilmu yang mengajarkan tentang kesehatan individu dan teknik-teknik menyembuhkan penyakit, sehingga diharapkan kualitas hidup dan batas usia seseorang akan menjadi lebih baik.

Beberapa sejarahwan Barat mengatakan bahwa Ayurveda setidaknya telah ada 1500 SM, bahkan beberapa diantaranya meyakini angka yang lebih tua lagi, yaitu 3000 SM. Sehingga semua pakar sejarah dan arkeolog meyakini bahwa Ayurveda merupakan buku medis tertua di dunia. Mereka meyakini Dhanvantari dan Divodasa (Raja Kasi) sebagai pelopor pengembangan teknik pengobatan Ayurveda.

Mengingat kedudukan Ayurveda yang merupakan bagian dari Catur Veda, kitab Sruti tertua umat Hindu. Maka jika kita merunut umur ilmu pengobatan Ayurveda berdasarkan sloka-sloka yang ada dalam Veda itu sendiri maka kita akan menemukan angka tahun yang jauh lebih mengejutkan lagi, yaitu 55,52 triliun tahun SM. Ayurveda diturunkan dari dewa Brahma, Sang Pencipta alam material sendiri, kepada Dewa Kembar Aswin, dan kemudian kepada Indra. Kemudian dikatakan Ayurveda bercabang ke dalam dua aliran, pengobatan dan ilmu bedah. Bharadvaja, Atreya Punarvasu dan enam muridnya  seperti Agnivesa dan Ksirapani kemudian mendirikan ilmu pengobatan/kedokteran umum, sementara Susruta mendirikan ilmu bedah. Tentunya angka ini adalah angka yang sangat mengejutkan bagi para sejarahwan dan arkeolog kaum indologis karena kitab suci agama mereka meyakini Bumi baru diciptakan 6000 SM. Itulah penyebab utama yang mengakibatkan semua hipotesa kaum Indologis akan segala hal di dunia ini tidak pernah melampaui angka 6000 SM.

Ayurveda adalah ilmu pengobatan yang sangat lengkap yang meliputi teknik operasi dan pembedahan, terapi warna dan aroma, serta ilmu gizi dan gaya hidup sehat. Dalam Ayurveda kita juga akan menemukan bahasan yang lengkap prihal asal-usul penyakit dan teknik penyembuhannya.

Dari sekian banyak metode pengobatan/treatment dalam Ayurveda, secara umum dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Deva-vyapasraya (Astronomical) treatment dilakukan untuk pengobatan akibat penyakit Karmaja atau penyakit yang muncul akibat dosa-dosa dari tindakan yang dilakukan pada kehidupan di masa lalu.
  2. Yukti-vyapasraya treatment adalah pengobatan yang ditujukan untuk mengobati penyakit Dosaja atau penyakit yang disebabkan oleh ketidakseimbangan tiga Dosha (vatta, pita dan kafa).

Ayurveda memberikan treatment alami untuk semua jenis penyakit yang disebabkan oleh ketidakkonsistenan fisiologi dalam tubuh. Sehingga penyembuhan penyakit dari teknik Ayurveda terletak pada sifat-sifat alamiah badan itu sendiri. Alam dan badan ini tersusun dari lima elemen dasar, yaitu; Akasha, Bayu (udara), Agni (api), Jala (air) dan Prthivi (bumi). Dari lima unsur tersebut, hanya tiga unsur yang memegang peranan penting dalam pembentukan dan deformasi alamiah, yaitu; Bayu (udara), Agni (api), dan Jala (air). Berdasarkan prinsip yang sama, sistem Ayurveda mengeliminir sumber segala penyakit yang didasarkan pada tiga Dosha, yaitu: vata (udara yang ada dalam tubuh), pita (api atau panas dalam tubuh) dan kafa (air dalam tubuh).

Salah satu sloka dalam kumpulan kitab Ayurveda menyebutkan; “Tanpa perusakan dari unsur Dosha, tidak mungkin penyakit muncul. Jika Dosha tidak terdeteksi, treatment harus dilanjutkan berdasarkan gejalanya”.

Inti pengobatan Ayurveda, seperti yang ditunjukkan dalam sloka ini, terletak pada perawatan Dosha. Sehingga penekanan utama dalam Ayurveda adalah perawatan, mulai dari perawayan mata, telinga, hidung dan tenggorokan (shalakyachikitsa), perawatan anak, dan ginekologi osteric (kaumarabhritya) dan perawatan kesehatan mental (bhutavidya) yang dilakukan dengan berbagai teknik Yoga dan konsumsi makanan sehat. Namun jika penyakit sudah muncul akibat ketidakseimbangan Dosha, maka teknik yang harus di ambil adalah pengobatan (kayachikitsa) dan/atau tindakan operasi (Shalyachikitsa)

Sloka lainnya mengatakan, “Jika seseorang telah mengikuti rejimen (aturan untuk diet atau puasa secara disiplin), ia tidak perlu menggunakan obat-obatan”. Jadi, teknik Ayurveda adalah pengobatan yang berdasarkan sifat-sifat alamiah yang juga menekankan pada pola hidup alami dan treatment naturopathic untuk meningkatkan kesehatan.

Teknik Panchakarma yang menekankan terapi pada titik-titik tertentu di badan juga merupakan salah satu teknik yang sangat penting dalam Ayurveda. Pada dasarnya teknik Akupuntur yang selama ini dikatakan berasal dari China juga merupakan bagian dari teknik Panchakarma. Demikian juga dengan teknik Accupresser yang di beberapa tempat praktek pengobatan di Indonesia diklaim sebagai pengobatan “sunah nabi” pada dasarnya adalah bagian yang tidak terpisahkan dari teknik Panchakarma dalam Ayurveda.

Ayurveda juga mempertimbangkan aspek astronomi dan astrologi. Kedudukan planet-planet dan bintang di alam semesta terhadap mahluk hidup di Bumi dan juga posisi benda-bedan di sekitar kita sangat mempengaruhi kondisi fisik, mental dan karakter seseorang. Sehingga potensi penyakit yang mungkin diderita seseorang dalam hidupnya bias diprediksikan berdasarkan tempat dan waktu kelahirannya. Hal ini juga menyebabkan treatment Ayurveda yang diberikan terhadap seseorang tidaklah selalu sama dengan treatment yang diberikan terhadap orang yang lain.

Penyakit juga diyakini disebabkan oleh papa-karma atau dosa yang dilakukan di kehidupan masa lalu. Hal ini ditegaskan dalam salah satu sloka yang menyebutkan: “Suatu dosa yang dilakukan di kehidupan masa lalu dapat memberikan masalah dalam bentuk penyakit dalam kehidupan sekarang”. Upaya menyembuhkan penyakit akibat papa-karma dapat dilakukan melalui Yadnya/korban suci, Japa, Homa/Agni Hotra, dan Pudja serta diikuti dengan kayachikitsa (konsumsi obat-obatan herbal).

Berkenaan dengan kayachikitsa, dikenal juga istilah yukti-vyapasraya, yaitu upaya membasmi virus, bakteri dan senyawa patogen lainnya dalam tubuh dengan menggunakan bahan-bahan herbal dimana komposisinya harus disesuaikan dengan kondisi tubuh pasien, cuaca, lingkungan dan waktu pemberian ramuan. Hanya saja teknik ini tidak semuanya ditujukan untuk mengobati secara langsung, melainkan beberapa diantaranya hanya untuk menekan gejala dan rasa sakit. Sakit kepala migrain, hipertensi, diabetes dan asma adalah beberapa contoh penyakit yang ditangani dengan yukti-vyapasraya dan bertujuan hanya menahan rasa sakit dan gejalanya saja. Untuk penyakit seperti ini, termasuk kanker dan AIDS harus dibarengi dengan teknik Ayurveda yang lainnya.

Dikatakan bahwa meredupnya unsur Agni di dalam tubuh akan menurunkan resistensi kita terhadap penyakit. AIDS adalah salah satu penyakit yang paling ditakuti yang menyebabkan meredupnya unsur Agni ini. Sehingga untuk mengobati AIDS, Ayurveda memberikan teknik untuk mengembalikan unsur Agni seperti sedia kala dengan melalui latihan Yoga, Naturopathy dan Panchakarma.

Berkaitan dengan tindakan operasi (Shalyachikitsa), dalam The Book of Origins, karya Trevor Homer, Penguin Books, London, 2007 disebutkan bahwa pada milenium pertama sebelum masehi pendarahan pada hidung sangat lazim terjadi karena kasus pemotongan hidung tawanan pada saat peperangan. Dan sekitar tahun 500 SM, dikatakan Sushruta dari India dengan teknik Ayurveda berhasil mengadakan rhinoplasty atau operasi mengembalikan bentuk hidung. Sushruta menjelaskan potongan kulit dari kepala dapat tumbuh di bekas luka hidung yang terpotong.

Dalam sepucuk surat kepada editor majalah Gentlemen’s Magazine yang tersedia di perpustakaan Wellcome Institute for History of Medicine, 183 Euston Road, London  menjelaskan bahwa pernah ada seorang pengemudi bernama Cowasjee, yang membantu melayani tentara Kerajaan Inggris di India di tahun 1792. Sebelumnya, ia pernah dipenjara oleh tentara Tipu Sultan, dimana mereka mencopot hidungnya karena prilaku barbar penguasa Muslim dalam menyiksa dan melumpuhkan tawanan. Sekembalinya di rumahnya di Pune setahun kemudian, seorang ahli bedah Ayurvedic menanganinya dengan memasangkan sebuah hidung baru. Thomas Cruso dan James Trindlay, merupakan dua orang dokter Inggris yang menjadi saksi mata operasi bedah yang mencengangkan tersebut. Mereka menjadi saksi hidup atas operasi-operasi ajaib yang sangat umum dilakukan di India bahkan selama mereka di sana.

Dalam buku As Seen and Known by Foreigners karya G.K. Deshpende (1950), Dr. Sir William Hunter mengatakan bahwa dokter-dokter bangsa India kuno sangat mahir dan ahli. Mereka melakukan tindakan amputasi, menghentikan pendarahan dengan tekanan, perban pembalut dan minyak mendidih, mempraktekan lithotomy, melakukan operasi pada organ bagian dalam dan uterus, menangani hernia, fistula files, memperbaiki tulang patah dan salah posisi dan cekatan dalam memisahkan unsur-unsur asing dari tubuh.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ilmu pengobatan Ayurveda bukanlah ilmu pengobatan tradisional biasa dan tanpa dasar, tetapi merupakan ilmu pengobatan holistik paling kuno yang dapat disejajarkan dan mungkin lebih maju dari ilmu kedokteran modern saat ini. A.L. Basham dalam bukunya The Wonder That Was India juga membenarkan kenyataan ini dengan menyebutkan bahwa sampai abad ke-18, ketika para ahli bedah East India Company (British) tidak malu-malu mempelajari ilmu bedah plastik (rhinoplasty) dari ilmu Ayurveda peninggalan India kuno”

 

 

 

 

Banggalah menjadi penganut Veda… Banggalah menjadi Hindu…

Sains dalam Veda

Sains dalam Veda

 

Sains dalam Veda

Dikutip dari postingan saudara Dharma

 

 

Dalam Bhagavad Gita 5.4 disebutkan; “sāńkhya-yogau pṛthag bālāḥ pravadanti na paṇḍitāḥ ekam apy āsthitaḥ samyag ubhayor vindate phalam, Hanya orang bodoh membicarakan bhakti (karma-yoga) sebagai hal yang berbeda dari mempelajari dunia material secara analisis (sankhya). Orang yang sungguh-sungguh bijaksana mengatakan bahwa orang yang menekuni salah satu di antara kedua jalan tersebut dengan baik akan mencapai hasil dari kedua-duanya”

Jadi sudah sangat jelas kan? Hanya orang bodohlah yang membedakan agama dan logika. Agama memang benar-benar berasal dari Tuhan adalah agama yang ajarannya logis, bukan hanya sekedar harus percaya dan tidak boleh mempertanyakan kebenaran apa yang disampaikan dalam kitab suci. Buat apa punya “iman” dan bertaqwa pada iman tersebut jika seandainya apa yang anda imani hanyalah kebohongan semata?

 

Semua kitab suci Agama-agama di dunia sudah pasti terdiri dari 2 (dua) jenis ajaran, yaitu ajaran rohani tentang yang mahakuasa atau sesuatu yang mutlak dan ajaran material tentang alam semesta beserta isinya ini. Tidak ada satu agamapun yang tidak menceritakan prihal penciptaan alam material, penciptaan manusia dan mahluk hidup, kiamat dan sejenisnya. Jika membuktikan kebenaran agama dari filsafat yang rohani dan jauh dari jangkauan logika kita sulit, maka melogikakan ajaran agama yang bersifat material seperti itu adalah sebuah celah yang sangat baik untuk dapat membuktikan apakah ajaran agama bersangkutan dapat dipercaya ataukah tidak.

Bagaimana dengan Hindu? Ajaran Veda yang maha luas juga tersusun dari ajaran Para Vidya (ilmu spiritual sang diri dengan Tuhan) dan Apara Vidya (ilmu material). Beberapa kutipan sloka-sloka tentang Apara Vidya dalam Veda antara lain sebagai berikut;

Atharva Veda bab III.13.5; “Agnisomau bibhratiapa it tah, air terdiri atas Oksigen dan Hidrogen”.

Sama Veda juga menyebutkan “Tam it samanam vaninas ca virudhoantarvatis ca suvate ca vivaha, Tumbuh-tumbuhan menghasilkan udara vital yang disebut samana (Oksigen) secara teratur”.

Rgveda bab II.72.4 ; “Aditer dakso ajayata, daksad uaditih pari, Dari aditi (materi) asalnya daksa (energi) dan dari daksa (energi) asalnya aditi (materi)”. Inilah hukum kesetaraan energi dengan materi yang diungkapkan oleh Albert Enstein dalam rumusannya yang terkenal E = m.C^2 yang menjadi dasar ditemukannya reaksi nuklir.

Padma Purana: “jala-jā nava-lakñāni sthāvara lakña-vimsati krmaya rudra-sankhyakah paksinam dasa-laksani pasavas trimsa-laksani manusya catur-laksani, Terdapat 900.000 jenis kehidupan dalam air (aquatic species); 2.000.000 jenis kehidupan alam bentuk tumbuhan dan pepohonan; 1.100.000 jenis kehidupan serangga; 1.000.000 jenis kehidupan bentuk burung; 3.000.000 jenis kehidupan binatang buas, dan 400.000 jenis kehidupan dalam badan manusia”.

Atharva Veda bab VII.107.1; “Ava divas tarayanti, sapta suryasya rasmayah, matahari memiliki tujuh jenis sinar, mereka adalah sumber hujan”.

Yajur Veda bab XVIII.40; “Susumnah suryarasmiscandrama susumnah, sinar matahari [yang disebut susumna ] menerangi bulan”.

Rg Veda VIII.102.4; “Agnim samudra vasasam, Api ada didalam lautan dalam bentuk tenaga (energi) dasar laut”

Rg Veda VI.16.34; “Agnir vrtrani janghanat, Api menghancurkan pencemaran”

Rg Veda I.59.2; “Athabhavad arati rodasyaoh, Api adlah inti (nucleus) alam semesta”

Rg Veda I.59.2; ” Murdha divo nabhir agnih prthiv yah, Api adalah dasarnya langit dan intinya bumi”

Rg Veda II.5.2; “A yasmin sapta rasma yas talah, Api mengandung tujuh sinar”

Atharva Veda  XIII.3.9; “Harayah suparna apo vasana Vivam ut patanti, Matahari mengambil air dalam bentuk uap ke langit”

Atharva Veda  VIII.107.1; “Ava divas tarayanti Sapta suryasya rasmayah Apah samudra dharah, Matahari yang tujuh itu mengambil/membawa air laut ke langit dan kemudian menyebabkan hujan

Yajur Veda XVIII.40; “Susumnah suryarasmis candrama andharvah, Sinar matahari yang disebut susumna mnerangi bulan”.

Yajur Veda XX.23; “Sumavavari prthivi sam usah sam u suryah, Matahari bumi dan fajar (permulaan) berputar (berotasi)”

Yajur Veda IX.3; “Apam rasa mud vayasam Surye santam samahitam Apam rasasya yo rasah, Intisari air yg paling halus (atom Hidrogen) terdapat di dalam matahari”

Rg Veda VIII.2.14; “Sam vato vatu te hrde, Udara yg segar bermanfaat untuk jantunggmu”

Sama Veda 1842; “Yad ado vat ate grhe Amrtam nihitam guha, Ya udara engkau berisi nectar (oksigen) ditempat kediamanmu”

Rg Veda I.148.1; “Mathid yad im vsto matarisva Vivas advyam, Udara menghasilkan api melalui pergesekan”

Atharva Veda X.8.40; “Apsu asit matarisva pravistah, Udara ada di dalam air”

Naskah-naskah kuno Veda tidak semata-mata hanya berisikan pengetahuan filsafat dan spiritual tingkat tinggi, tetapi juga memuat informasi tentang ilmu-ilmu material (material science) yang sudah maju. Jadi kita akan menyajikan daftar tentang berbagai topik yang ada di dalam ilmu pengetahuan Veda dan juga ide-ide dan pengetahuan yang sudah dikenal ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Kita juga harus menyadari bahwa tanpa adanya kemajuan yang berasal dari peradaban Veda dalam berbagai bidang yang akan dibahas, dunia ini dan masyarakat kita tentunya tidak akan seperti sekarang ini. Jadi, kita berhutang banyak kepada kemajuan yang bersumber dari kearifan Veda.

Literatur Veda juga termasuk Ayur-veda, ilmu pengobatan holistik yang diajarkan oleh Lord Dhanvantari; Dhanur-veda, ilmu kemiliteran oleh Rishi Bhrigu; Gandharva-veda, yang membahas tentang seni musik, tari, drama, dll, oleh Bharata Muni; Artha-sastra, ilmu pemerintahan dan pembangunan ekonomi; Sthapatya-veda, ilmu arsitektur; dan Manu-samhita, kitab hukum Veda. Ada juga Shulba Sutra, perhitungan menurut sistem Veda.

Shulbasutra (matematika)

Shulbasutra merupakan model-model matematika paling awal, dan tentunya pada mulanya digunakan untuk tujuan keagamaan. Pada dasarnya mereka dimasukkan sebagai sisipan dari Kalpasutra untuk aspek ritual (Shrauta), yang memperlihatkan model-model paling awal dari ilmu aljabar. Pada intinya mereka berisikan rumus-rumus matematika untuk merancang berbagai bangunan altar tempat pemujaan dalam ritual Veda. Setiap Shrautasutra memiliki Shulbasutra-nya sendiri, sehingga mungkin terdapat beberapa naskah tersebut di masa lalu, walau hanya tujuh Shulbasutra yang dikenal saat ini. Diantaranya yang terpenting adalah Baudhayana, Apastamba (yang keduanya merupakan sisipan dari Taittiriya Samhita atau Yajur-veda Hitam), dan Katyayana (yang merupakan sisipan dari Vajasaneya atau Yajur-veda Putih), sementara Manava, Maitrayana, Varaha, dan Vidula kurang begitu penting.

Tentang kapan Shulbasutra disusun, setelah membandingkan Shulba-Shulba Baudhayana, Apastamba, dan Katyayana dengan matematika dari jaman Mesir kuno dan Babylonia, seperti dijelaskan oleh N.S. Rajaram dalam Vedic and The Origin of Civilization (hal.139), adalah sekitar 2000 B.C. Tetapi, setelah memperhitungkan data astronomi sejak Ashvalayana Grihyasutra, Shatapantha Brahmana, dll, saat penyusunannya bisa dibawa jauh kebelakang mendekati 3000 B.C., mendekati saat terjadinya Perang Mahabharata dan penyusunan naskah-naskah Veda lainnya oleh Srila Vyasadeva.

Berdasarkan pandangan ini, matematika Veda tidak bisa lagi dianggap sebagai turunan dari matematikanya bangsa Babylonia kuno, yang bertajuk tahun 1700 B.C., tetapi pasti merupakan sumbernya begitu juga dengan ilmu hitung Yunani atau matematika Pythagoras.

Model-model matematika Veda jauh lebih maju dibandingkan dengan matematika yang ditemukan pada masa-masa awal peradaban bangsa Yunani, Babylonia, Mesir, atau Cina. Ternyata, rumusan geometri yang dikenal sebagai theorema Pythagoras dapat ditelusuri ke Baudhayana, bentuk Shulbasutra paling awal dari masa sebelum abad kedelapan B.C. Hal ini merupakan konfirmasi bahwa para filsuf bangsa Yunani kuno mendapatkan inspirasinya dari India. Ternyata, Prof. R.G. Rawlinson menyatakan, “Hampir semua teori, kepercayaan, filsafat, dan matematika, yang diajarkan oleh Pythagoras sudah dikenal di India pada abad keenam B.C”.

Pengakuan atas keunggulan matematika Veda juga sudah lama ditulis oleh Sebokht, Bishop dari Qinnesrin di Syria Utara yaitu tahun 662 A.D.. Sebagaimana dilaporkan dalam Indian Studies in Honor of Charles Rockwell (Harvad University Press, Cambridge, MA Edited by W.E. Clark, 1929), Sebokht menulis bahwa penemuan-penemuan bangsa India dalam bidang astronomi lebih jenius dibandingkan dengan bangsa Yunani atau Babylonia, dan sistem angka (decimal) mereka lebih unggul. (N.S. Rajaram, p.157, 1995)

Ini merupakan sistem yang berasal dari bangsa India yaitu sistem angka desimal puluhan, ratusan, ribuan, dll, dan prosedur memindahkan sisa dari satu kolom angka ke kolom angka berikutnya. Terdapat juga cara pembagian bilangan pecahan dan pemakaian tanda persamaan dan huruf-huruf untuk menunjukan faktor-faktor yang tidak diketahui. Sistem angka India ini digunakan di Arabia setelah tahun 700 A.D. dan kemudian menyebar ke Eropa dimana mereka telah secara keliru menyebutnya sebagai angka Arab. Itu hanya karena bangsa Eropa mengganti sistem angka Romawi ke sistem angka Arab yang bersumber di India sehingga banyak kemajuan bangsa Eropa dalam bidang ilmu pengetahuan dan matematika bisa terjadi.

Penemu pertama kalkulus modern adalah orang India bernama Bhaskaracarya (1150 A.D.), dimana orang-orang mengira itu merupakan kontribusi dari Newton atau Liebnitz. Penggunaan aljabar, trigonometri, kwadrat dan akar pangkat tiga juga pertama kali dimulai di India. Formulasi istimewa angka “0”, merupakan hasil pemikiran ilmiah luar biasa bangsa India, yang memungkinkan terjadinya banyak kemajuan di bidang matematika yang kita miliki sekarang ini. Dan adalah Aryabhatta (497 A.D.) yang menghitung “phi” sebesar 3,1416. Banyak metode matematika tersebut bertebaran di dalam naskah-naskah seperti Shatapatha Brahmana, Baudhayanasutra, dan lain-lain.

Beralih kepada kitab-kitab Purana, mereka berisikan berbagai informasi atas penciptaan jagat raya, pemeliharaannya, dan penghancurannya. Hal-hal lainnya termasuk astrologi, geografi, penggunaan persenjataan militer, organisasi kemasyarakatan, tugas-tugas dari orang-orang yang berbeda golongan, karakteristik dan aturan tingkah laku para pemimpin, prediksi mengenai masa yang akan datang, analisis terhadap elemen-elemen materi, simpul-simpul kesadaran, bagaimanan energi ilusi bekerja, praktek yoga, meditasi, pengalaman spiritual, menyadari Sang Absolut, dan banyak lagi.

Kitab-kitab Veda ditulis ribuan tahun yang lalu, juga secara tuntas mematahkan teori para ilmuwan modern yang mengira bahwa semua peradaban kuno mengajarkan bumi sebagai pusat jagat raya dan bintang-bintang dan matahari berputar mengelilinginya. Uraian di dalam Veda tentang tatanan kosmis, dijelaskan bahwa semua planet, begitu juga matahari, masing-masing memiliki lintasan orbit tertentu dalam jagat raya. Kita juga dapat menemukan di dalam Yajur-veda suatu uraian tentang bagaimana bumi bisa bertahan di dalam angkasa raya karena gaya tarik matahari yang lebih superior. Teori gravitasi juga diuraikan di dalam Siddhanta Shiromani berabad-abad sebelum kelahiran Newton, penemu barat atas hukum gaya tarik bumi (gravitasi).

Beberapa ahli telah menulis bahwa bukti atas pengamatan astronomi tercantum di dalam Rg Veda, lebih dari 4.000 tahun lalu. Tetapi, ada beberapa ahli yang menghitung bahwa observasi tersebut berasal dari antara tahun 12.500-1.500 B.C.

Di dalam Surya Siddhanta ada catatan-catatan tentang titik-titik koordinat bintang yang berasal dari suatu periode waktu yang sangat tua. Pengetahuan tentang risalah astronomi klasik ini dikatakan pada awalnya telah dikenal sejak 13.000 tahun yang lalu. Ravindranath Ramchandra Karnik menyebut penanggalannya ke tahun 13.902 B.C. di dalam bukunya, Ancient Indian Technologies. Yang lain, menggunakan penghitungan masa kini berdasarkan keakurasian pergerakan bintang-bintang tersebut, menduga bahwa beberapa dari koordinat yang disebutkan itu pasti telah dicatat semenjak tahun 50.000 B.C. Para ilmuwan modern menyebut buku tersebut berasal dari sekitar tahun 490 A.D. Dalam banyak hal, sudah cukup maju untuk masanya. Sebagai contoh, Surya-Siddhanta (12.54) menyebutkan bahwa walau orang-orang mungkin memandang dunia ini datar, sebenarnya bumi berbentuk bulat. Pada bab tigabelas menjelaskan tentang proses pembuatan peta, bahkan sampai pada tingkat menciptakan situasi yang sebenarnya dengan menggunakan garis-garis yang mencerminkan latitude dan longitude.

Jadi apa ini maksudnya? Menurut para antropolog, bukti meyakinkan pertama tentang keberadaan manusia modern di Eropa atau Timur Tengah dapat ditarik mundur hanya ke 40.000 tahun lalu, dan perkembangan cara hidup bercocok tanam dan menetap dalam sebuah perkampungan belum terjadi sampai 10.000-7.000 tahun lalu. Jadi dari sudut pandang ini, kelihatannya bahwa orang-orang belum memiliki kemampuan intelek atau kepedulian untuk mengukur atau mencatat posisi bintang-bintang di langit sejak 50.000 tahun lalu. Oleh sebab itu, uraian-uraian yang terdapat di dalam kitab-kitab seperti Purana atau Surya-Siddhanta membuatnya jelas bahwa peradaban Veda jauh lebih terorganisir atau maju daripada yang diduga banyak orang. Apa sebabnya para Brahmin dan Rishi di jaman dahulu menggunakan perhitungan astrologi adalah untuk menentukan waktu yang paling baik untuk melaksanakan upacara-upacara keagamaan, dan ketika mengharapkan perubahan-perubahan di muka bumi dan tingkat kesadaran masyarakat.

Dalam hal lainnya terkait dengan sistem Veda yang pada dasarnya sudah maju di bidang astronomi, Srimad-Bhagavatam (10.82.2) menjelaskan bahwa Krishna dan Balarama pernah pergi ke Samanta-pancaka (Kuruksetra) dalam persiapannya menyongsong datangnya gerhana untuk memperoleh amalan. Ternyata, orang-orang dari seluruh India datang ke tempat itu untuk berpartisipasi melakukan ritual mandi di danau yang disucikan saat gerhana berlangsung. Ini berarti, sebagaimana bunyi ayat tersebut, bahwa setiap orang mengetahui akan terjadi gerhana jauh hari sebelumnya. Jadi, sistem astronomi yang digunakan oleh para ahli astronomi Veda 5.000 tahun lalu memungkinkan mereka untuk memprediksikan gerhana matahari dan bulan jauh hari sebelumnya sebagaimana ahli astronomi modern saat ini.

Lebih jauh lagi, dalam naskah-naskah Veda yang paling awal, seperti Atharva-veda, kita menemukan sejumlah ayat yang berkaitan dengan pemakaian dan manfaat arus listrik, seperti yang satu ini : “Bahwa daya listrik bisa menjadi sahabat aman kita, menyediakan tenaga-kuda untuk menjalankan mesin-mesin kita, cahaya untuk menerangi rumah kita, dan tenaga untuk bercocok tanam di ladang. Marilah kita pakai untuk kemakmuran dan kemudahan bagi kita melalui aliran sejumlah arus (listrik)”. (Atharve-veda, Buku 20, Hymne 7, ayat 3)

Ilmu-ilmu lain yang disebutkan di dalam Yajur-veda, seperti beberapa ayat berikut :

“O muridku, seorang murid yang belajar ilmu pemerintahan, penangkapan ikan di laut yang berarus, terbang di udara dengan pesawat, mengetahui Tuhan sebagai Pencipta melalui Catur Veda, mengendalikan pernafasan melalui yoga, melalui astronomi bisa mengetahui manfaat siang dan malam, menguasai seluruh Catur Veda, Rig, Yajur, Sama, dan Atharva, melalui unsur-unsur pokoknya”.

“Melalui astronomi, geografi dan geologi, pergilah engkau ke negara-negara di dunia di bawah kolong langit ini. Keagungan bisa engkau capai melalui pengajaran yang baik kepada para negarawan dan artisanship, melalui ilmu pengetahuan medis memperoleh pengetahuan tentang semua tanaman obat-obatan, melalui ilmu pengetahuan hidrostatis mempelajari beragam manfaat air, melalui kelistrikan memahami cara kerja penerangan yang menyala terus-menerus. Camkanlah petunjuk-petunjukku dengan baik… (Yajur-veda, 6.21)

Diantara berbagai macam ilmu yang disebutkan dalam ayat-ayat di atas, hal ini mungkin mengejutkan menemukan sebuah referensi tentang pesawat terbang, atau vimana (wahana). Tetapi, kenyataannya, penyebutan pesawat terbang sering kali dijumpai dalam literatur Veda, termasuk ayat-ayat berikut dari Yajur-veda menjelaskan pergerakan mesin-mesin seperti itu :

“O para insinyur kerajaan yang terampil, bangunlah kapal-kapal laut, dibuat bergerak di atas air oleh para ahli kita, dan pesawat-pesawat udara, bergerak dan terbang ke atas, menembus awan yang terletak di wilayah pertengahan, yang terbang sebagai perahu yang terus bergerak di atas permukaan laut, yang terbang tinggi di atas dan di bawah awan yang berair. Jadilah engkau, dengan demikian, kemakmuran dunia ini yang diciptakan oleh Tuhan Yang hadir dimana-mana, dan melayang baik di udara maupun di dalam cahaya. (Yajur veda 10.19)

Di dalam Brihad Vimana Sastram dalam ayat-ayat Sanskrit disertai terjemahannya dalam bahasa Inggris, diedit oleh G. R. Josyer dari Mysore, kita dapat menemukan penjelasan tentang 37 buah model pesawat terbang vimana dengan perlengkapan untuk mengumpulkan informasi melalui perangkat nir-kabel, dan dengan kemampuan membuat dirinya tidak terlihat (invisible). Ia juga menjelaskan jenis-jenis makanan yang dikonsumsi oleh para navigator dan awak pesawat dalam penerbangan antar planet.

Rg Veda, Ramayana, Mahabharata dan teks-teks Veda lainnya juga memuat sejumlah referensi sejenis vimana, mesin-mesin terbang, dan bahkan kota terbang. Dalam Raghuvamsham, Kalidasa menyajikan suatu uraian yang gamblang dan akurat tentang penerbangan Sri Rama dari Sri Lanka (Alengka) ke Ayodya dalam sebuah pesawat terbang. Dengan tambahan ilmu pengetahuan ilmiah yang disajikan dalam teks-teks Sanskrit, menjadi jelas bahwa terbang dengan mesin sudah dikenal di jaman India kuno.

Penemuan-penemuan lain di bidang teknologi modern yaitu energi atom dan produk-produk sampingannya. Kebanyakan orang sepakat bahwa tidak ada peradaban sebelum kita yang memiliki pengetahuan tentang hal itu. Tetapi berkali-kali kita temukan dalam literatur Veda berbagai uraian tentang persenjataan, seperti brahmashtra, yang memiliki daya ledak mirip sebagaimana bom atom dewasa ini. Untuk apa lagi beberapa ayat dari Atharva-veda berikut ini ditujukan selain daripada penjelasan tentang prinsip-prinsip dasar energi atom?

“Energi Atom pembelahan sembilan puluh sembilan elemen, lintasannya diselimuti oleh elektron-elektron yang bergerak sangat aktif tanpa henti atau rintangan…. ”. (Atharva-veda, 20.41. 1-3)

Hal lain yang menggambarkan kemajuan yang berasal dari peradaban Veda adalah konsepsi mereka tentang skala waktu yang universal. Faktor waktu dihitung yang mana pengaruhnya berbeda untuk berbagai tingkatan jagat raya. Sebagai contoh, dikatakan bahwa satu hari demigod sama dengan enam bulan manusia di planet bumi. Dan satu tahun dihitung 360 hari manusia, sementara 12.000 tahun para dewa dikatakan sama dengan satu kedipan mata Maha-Vishnu. Untuk Brahma, demigod (dewa) tertinggi dari semua demigod, satu siang sama dengan seribu kali siklus gabungan catur-yuga; Satya, Treta, Dvapara, dan Kali-yuga. Ini berjumlah 4,3 milyar tahun, yang pada akhir jamannya disambung dengan malam Brahma yang berdurasi sama ketika itulah terjadi annihilasi jagat raya secara parsial, termasuk planet bumi. Setelah malam Brahma, siang Brahma dimulai lagi, dan apa yang telah dihancurkan diciptakan atau dibangkitkan kembali. Menariknya, ilmu pengetahuan modern memperkirakan bahwa umur planet bumi adalah sekitar 4 milyar tahun. Veda bisa memahami rentang waktu yang sangat panjang itu lebih dari 3.500 tahun lalu yang gambarannya mirip dengan perkiraan ilmu pengetahuan modern saat ini.

Mengenai waktu dan penghitungan jangka panjang, bahkan Dr. Carl Sagan menulis di dalam bukunya, Cosmos (Balentine Books, New York, 1980), “Agama Hindu merupakan satu-satunya keyakinan besar di dunia yang mengemukakan ide bahwa jagat raya itu sendiri mengalami suatu pemuaian, termasuk kematian dan kelahiran kembali dalam jumlah yang tidak terbatas. Ia merupakan satu-satunya agama yang membahas skala waktu, tidak diragukan lagi, seperti halnya kosmologi ilmiah modern. Siklusnya dimulai dari siang dan malam waktu kita sebagaimana biasanya sampai kepada siang dan malam Brahma, 8,64 x 10^9 tahun lamanya, lebih panjang daripada perkiraan umur bumi atau matahari jika di hitung berdasarkan teori  Big Bang”.

Tentunya, kita tidak menerima bahwa kalkulasi seperti itu ditemukan secara kebetulan. Dari imajinasi macam apa sehingga bisa mendapatkan sebuah angka tertentu yang ternyata cocok dengan ilmu pengetahuan modern? Angka-angka tersebut telah disampaikan oleh Tuhan, Sri Krishna dalam Bhagavad-gita dan kitab-kitab Purana lainnya, jadi tidak mungkin diterima sebagai sebuah angka yang muncul secara tiba-tiba. Jadi bagaimana ilmu pengetahuan Veda dari jaman purba bisa memuat kalkulasi seperti itu?

Alasan kenapa hal ini bisa terjadi bukan karena hasil dari sebuah pemikiran spekulatif tentang kehidupan oleh para pertapa suci ribuan tahun yang lalu, tetapi karena pengetahuan Veda, seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, ditetapkan oleh Yang Kuasa sehingga mahluk hidup dapat memahami posisi mereka di dunia ini. Jadi, pengetahuan ini telah diwariskan sepanjang masa, siap untuk digunakan oleh siapapun yang memiliki kualifikasi untuk mengamalkannya. Melalui contoh-contoh di atas, kita bisa melihat bahwa banyak dari ilmu pengetahuan dan penemuan yang kita banggakan sekarang ini, mengira itu sebagai pencapaian belakangan ini, ternyata sudah diketahui bertahun-tahun yang lalu. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati jangan menganggap bahwa tidak ada peradaban sebelum kita yang sebegitu majunya. Dari literatur Veda sudah cukup bukti bahwa kita telah gagal melihat bahwa apa yang kita ketahui dan miliki saat ini, melalui pengorbanan yang sangat besar dan berbagai macam penelitian, sebenarnya hanya sekedar menemukannya kembali.

Veda juga sudah cukup maju dalam pelayaran samudra. Sementara para pelaut dan saudagar bangsa Eropa kebanyakan tidak mengetahui jalur-jalur pelayaran dari Eropa ke India sampai dengan abad ke-enambelas, literatur dan epos-epos bangsa India menjelaskan gambaran bentuk bumi dan benua dan lautan ribuan tahun sebelumnya. Dan bangsa India kuno mengetahui bagaimana cara mencapai daerah seberang melalui jalur-jalur laut.

Sebagaimana dikemukakan dalam buku World-Wide Hindu Culture oleh Dr. Venu Gopalacharya (hal. 102), diketahui bahwa kapal-kapal dagang berukuran besar bangsa India biasa membawa para pelaut dan saudagar dari India ke daerah-daerah koloninya di Jawa, Sumatera, Borneo, Kepulauan Philipina, dan lain-lain, sejak jaman dahulu kala sampai dengan Indian Ocean dikuasai armada dagang bangsa Eropa di abad ke-18. India lebih dari sekedar mahir dalam pelayaran dan penjelajahannya di luar batas-batas perairannya ke tiga arah. Petikan dari surat perintah larangan bahwa seorang suci, dan yang lainnya, untuk tidak bepergian melalui jalur laut ke negara lain mulai berlaku pada abad ke-14 A.D. dan seterusnya. Hal ini terjadi karena orang-orang di Malaysia dan Indonesia telah di-Islamkan dan perjalanan lewat laut menjadi sulit karena adanya fakta yang menimpa orang-orang tertentu yang melakukan perjalanan ke negeri seberang akan dipaksa untuk berganti keyakinan atau bahkan nyawanya terancam.

Yuktikalpataru, sebuah hasil karya Sanskrit dari masa pra-Kristen, memberikan aturan tata-cara membangun berbagai model kapal laut. Kitab Jataka menjelaskan bahwa penguasa dari Bengal, Simhabala, berangkat ke Sri Lanka di abad ke-enam B.C. dalam sebuah kapal membawa anaknya, Vijaya, diikuti oleh tujuh ratus awak kapal. Simhabala memiliki kapal lainnya yang mengikutinya di belakang dengan mengangkut 1.000 orang tukang kayu. Jadi ini bukanlah kapal kecil. Kapal-kapal mereka dikatakan dilengkapi dengan Matsya Yantra, yang adalah jarum magnetik yang terapung di dalam minyak yang bisa menunjukan arah haluan yang benar. Ini kemudian dikembangkan menjadi kompas modern. Tetapi, para pelaut barat baru mengetahui marine kompas setelah abad ke-16, kemungkinan setelah adanya kontak dengan pelaut India.

Keahlian bangsa India di bidang pembangunan kapal secara khusus disebutkan oleh orang Inggris, yang begitu tertarik terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan arsitektur kapal perang, dan menyebut setiap kapal bangsa India sangat bagus untuk ditiru. Sir John Malcolm menulis bahwa kapal-kapal India, “benar-benar disesuaikan dengan tujuan penggunaannya, tidak diragukan lagi merupakan keunggulan pengetahuan mereka. Bangsa Eropa, selama dua abad berhubungan dengan bangsa India, tidak bisa memperkirakan atau paling tidak menerapkan secara sukses satu perbaikan”

Dalam bidang ilmu kemiliteran, Ramayana dan kitab-kitab Purana seringkali menyebut Shataghni, atau canon, karena diletakan di atas menara dan digunakan pada saat emergensi. Sebuah canon disebut “Shataghni” karena itu berarti senjata api yang bisa membunuh seratus orang dengan sekali tembakan. Mereka mengasalkan agniyastra, atau senjata api itu kepada Visvakarma, arsitek dari epos-epos Veda. Senjata roket juga merupakan penemuan bangsa India dan digunakan oleh tentara pribumi saat bangsa Eropa datang pertama kali. Dalam Dante’s inferno, Alexander Yang Agung menyebutkan dalam sebuah surat kepada Aristotle bahwa kilatan nyala api yang sangat mengerikan ditembakkan kepada tentaranya di India.

Shukra Neeti adalah sebuah naskah kuno Sanskrit yang berkenaan dengan pembuatan berbagai jenis senjata seperti senapan dan meriam. Dalam buku The Celtic Druids (hal. 115-116), Godfrey Higgins menyajikan bukti-bukti bahwa orang-orang Hindu telah mengetahui bubuk mesiu sejak jaman dahulu kala. Jadi anggapan bahwa bubuk mesiu pertama kali ditemukan oleh bangsa China adalah keliru.

Juga terdapat berbagai macam kemajuan teknologi dalam berbagai bidang pengetahuan di dalam pustaka Veda. Pilar besi pada bangunan Kutab Minar dekat New Delhi merupakan saksi atas pengetahuan ilmiah Veda pada masa silam. Bukti memperlihatkan bahwa pilar itu tadinya adalah Garuda Stambha dari sebuah kuil Vishnu. Ada yang memperkirakan itu berasal dari abad ke-empat A.D., sementara yang lain memperkirakan berumur lebih dari 4000 tahun. Pilar itu berdiameter 16 inci dan tinggi 23 kaki. Walaupun ada di ruangan terbuka selama berabad-abad, ia tidak berkarat. Itu terbuat dari besi murni, yang bahkan saat ini hanya bisa dibuat dalam jumlah kecil melalui proses elektrolisa. Pilar seperti itu akan sangat sulit dibuat bahkan untuk masa kini. Jadi, pilar itu menantang penjelasan!

Veda juga mencapai penguasaan di bidang ilmu astronomi, matematika, yoga dan pengendalian nafas, arsitektur dan tata kota. Teks-teks seperti Mayamata, Samarangana-sutradhara (dari abad ke-11 A.D.), dan Vishnudharmottara (450-650 A.D.) membahas hal-hal yang berkaitan dengan ilmu arsitektur. Munasara (dari abad ke-11 sampai ke-15 dalam formatnya yang sekarang) juga menyebut tentang sebuah istana raja berlantai 12. Jadi gedung pencakar-langit bukannya tidak dikenal pada waktu itu. Lebih jauh lagi, Arthashastra (2.3,4) memuat informasi tentang bangunan benteng, gerbang menara, gopuram, istana, kuil Deity, dan pemukiman untuk berbagai tipe penduduk.

Shilpa Shastra juga teks klasik Veda tentang arsitektur, konstruksi rumah,, dan tata kota. Yang disebut belakangan ditemukan dalam Vastu Vidya. Beberapa informasi yang ditemukan dalam Vastu Vidya adalah cerita tentang Jataka dan aturan Buddhis Pali. Kemiripan ini membenarkan bahwa Vastu Vidya ada pada saat dan setelah kematian Sang Buddha, dari tahun 500 B.C., sampai 100 A.D. Lebih jauh lagi, kalau kita simak penjelassan mengenai bangunan-bangunan mewah dan tata perkotaan dari kota Dwaraka dalam Canto Kesepuluh Bhagavata Purana, kita dapat mengerti bahwa pengetahuan seperti itu telah ada dan dipakai beberapa ribu tahun lalu.

Vastushastra, bersama dengan referensi di dalam epos-epos Veda, Arthashastra, dan Jataka juga menyebut tentang bahan-bahan bangunan dan berbagai ukuran batu bata dan batu yang digunakan dalam membangun menara, pintu masuk, dan atap kubah. Vrikshayarveda bagian dari Agni Purana membahas model-model irigasi memakai saluran dan kanal.

Ilmu pertanian dijelaskan dalam berbagai naskah yaitu Brihatsamhita, Arthashastra, dan secara lebih eksklusif di dalam Krishiparashara. Karya ini menjelaskan segala sesuatunya sejak pembibitan, menanam anak pohon, panen dan penyimpanan biji-bijian hasil panen. Vrikshayarveda dari Agni Purana juga membahas model irigasi, pembangunan saluran dan kanal, mengairi tanaman, dan berbagai hama tanaman dan cara penanganannya, dan lain-lain.

Ilmu Botani juga dikenal pada jaman Veda dahulu kala. Pustaka kuno Veda seperti Rig-veda (10.97.21) dan Mahabharata menjelaskan bahwa tumbuh-tumbuhan memiliki jiwa dan dapat merasakan. Sir J. C. Bose membuktikannya secara ilmiah di dalam laboratorium. Karya-karya lain, seperti Upavanavinoda dari Sharngadhara-paddhanti dari abad ke-13, bersama dengan bagian-bagian dari sekian banyak Purana, seperti Agni, Padma, Matsya, Bhagavata, dan Arthashastra, Brihatsamhita, dll, membahas tentang penanganan tanaman dan penyakitnya. Informasi yang disampaikan termasuk penggunaan pupuk untuk kesuburan tanaman, penyebab penyakit dan penanganannya, bagaimana agar tanaman berbuah lebat, bagaimana bunga berbau semerbak, reaksi tanaman terhadap panas, dingin, petir, ciuman dan sentuhan, dan bagaimana memanfaatkan air dan angin dan tehnik okulasi. Bahkan ide tentang rotasi tanaman dibahas di dalam Taittiriya-samhita (5.1.7.37). Bahkan, penggunaan obat dari daun-daunan seperti ophium untuk anastesi digunakan pertama kali di India.

Pengetahuan tentang batu permata dan lapidary dapat ditemukan di dalam Garuda dan Agni Purana, yang merupakan tulisan pertama yang menjelaskan tentang kualitas dan kelas batu permata, bagaimana cara menemukan dan mengolahnya, dan bahkan bagaimana mereka bisa dipakai untuk melawan aksi dari pengaruh astrologi planet-planet.

Terdapat juga penjelasan tentang pembagian waktu, molekul-molekul, atom-atom, dan peluru, yang kesemuanya merupakan istilah-istilah Sanskrit. Naskah yang disebut Agastya Samhita berisikan ayat yang menjelaskan bahwa kain sutera adalah bahan yang sangat bagus untuk balon dan parasut karena elastisitasnya. Ayat lain menjelaskan bahwa seseorang dapat membubung tinggi di angkasa dengan memakai baju kedap udara yang diisi hidrogen. Ayat lain dalam teks-teks Veda menjelaskan proses pembuatan kawat lampu dan kabel, tekstil kedap udara, baterai, motor, dan tehnik penyepuhan logam. Lebih jauh lagi, Silpa Samhita menjelaskans teleskop dengan cara ini: “Pertama-tama buatlah kaca dengan cara dipanggang. Masukkan kaca-kaca tersebut pada bagian akhir dan bagian tengah tabung berongga. Ini bisa dipakai sebagai turi-yantra untuk mengamati badan-badan celestial jarak jauh.”

Teks-teks Vedic lainnya juga menunjukkan bagaimana cara membuat suatu barang yang kita dapatkan secara gratis sekarang ini, tetapi sulit untuk dibayangkan bahwa mereka sudah ada ribuan tahun lalu. Sebagai contoh, sebuah copy dari manuskrip Silpa Samhita di dalam perpustakaan Jain di Anhilpur, Gujarat, sebagaimana dilaporkan oleh P.N. Oak dalam World Vedic Heritage (hal.152), menjelaskan bagaimana sebuah termometer bisa dibuat dengan bantuan mercuri, benang, minyak, dan air. Sebuah naskah yang disebut Bhoj-Prabandh menyebutkan sebuah kuda kayu milik Raja Bhoj yang dapat melakukan perjalanan sejauh 22 mil dalam 24 menit, dan sebuah fan yang dapat berputar tanpa perlu bantuan secara manual untuk membuat hembusan angin sepoi-spoi
Ilmu Pengobatan-Ayurvedic

Kebudayaan Hindu kuno juga memiliki sebuah sistem yang sudah maju tentang obat-obatan. Beberapa referensi paling awal mengenai bangsa India dan obat-obatan herbal untuk menangani penyakit ditemukan di dalam Rig-veda (Buku Sepuluh, Bab 97, dan 145). Penyakit demam juga disebutkan di dalam Atharva-veda (5.22.12-14 & 7.116.1-2), dan uraian tentang berbagai jenis demam daftarnya disebutkan dalam Vajasaneyi-Samhita [White Yajur-veda](12.97). Taittiriya Samhita (2.3.5) menyebutkan pentingnya perhatian terhadap makanan dan pernafasan.

Pengetahuan tentang nadi dan arteri disebutkan di dalam Atharva-veda (1.17.1-4), dan pembedahan didiskusikan di dalam Rig-veda (1.116.15) yang mana Asvin memasang sebuah kaki palsu terbuat dari besi kepada Vispala, seorang yang buntung kehilangan kakinya dalam peperangan, dan membantu orang pincang untuk bisa berjalan dan orang buta bisa melihat (1.112.8), dan menangani patah tulang (10.39.2). Perkembangan Ayurveda membawa ilmu pengobatan pertama ke tatanan yang lebih baru.

Dalam ilmu pengobatan terdapat ilmu Embriology. Tulisan pertama yang membahas embriology ditemukan di dalam Rig-veda dan Atharva-veda. Walaupun bukan pembahasan yang berkembang, tetapi dalam Bab 31 dari Kanda Ketiga Bhagavatam Purana kita benar-benar menemukan penjelasan menyeluruh tentang bagaimana entitas kehidupan memasuki kandungan pada saat terjadi pembuahan, dan bagaimana sperma bercampur dengan sel telur lalu terbentuk embriyo, dan pertumbuhannya di dalam kandungan sampai saat kelahirannya. Bahkan membahas pikiran dan perasaan si jabang bayi semasih di dalam kandungan, dan bahkan bagaimana ia terpengaruh oleh perubahan emosi sang ibu dan jenis-jenis makanan yang dikonsumsi sang ibu, dan bagaimana ia merasa kesakitan saat ibunya makan makanan pedas.

Naskah-naskah lainnya, seperti Garuda Purana dan Manu-Samhita, membahas tentang cara meyakinkan apakah si jabang bayi laki-laki atau perempuan. Dengan bantuan buku-buku tersebut dan informasi tambahan dari naskah-naskah lain, seperti Aitareya Aranyaka dan Chandogya Upanishad, kita menemukan sebuah sistem yang benar-benar lengkap yang menguraikan terbentuknya semen dengan segala aspeknya sampain kelahiran sang bayi. Ini menunjukan bahwa para ilmuwan Veda di jaman dahulu mempunyai pemahaman tentang embriology bahkan ketika orang-orang dari bangsa-bangsa lain tidak mengetahuinya.

Dorothea Chaplin menyebutkan di dalam bukunya, Matter, Myth and Spirit, or Keltic and Hindu Links, (hal. 168-9), “Jauh sebelum tahun 460 B.C., saat Hippocrates, bapaknya obat-obatan bangsa Eropa dilahirkan, orang Hindu telah membangun sebuah pharmacopoeia besar dan telah melakukan penanganan terhadap berbagai jenis pengobatan dan pembedahan . . . Keajaiban pengetahuan orang-orang Hindu di bidang pengobatan dalam banyak hal sejauh mungkin menghindarkan si pasien dari tindakan pembedahan yang mengakibatkan kerusakan pada sistem pembuluh darah, yang mana sistem ilmu pengobatan mereka bisa mengatasinya, menghasilkan sebuah tindakan bahkan tanpa melalui krisis pendahuluan”.

Pentingnya kajian ini adalah bahwa Ayurveda sebagai sebuah sistem pengobatan Vedic adalah sebuah sistem ilahi dimana penanganannya didasarkan kepada hukum alam. Sistem ini juga tidak mahal, meminimalkan tindakan, sangat manjur, dan rasa sakit yang minimal. Sistem ini juga mengarah pada penanganan penyakit selain hanya menangani simpul saraf atau mengurangi rasa sakit. Tetapi, dalam kasus-kasus tertentu ketika perlu dilakukan pembedahan, ahli-ahli bedah India jaman dahulu sangatlah mahir.

Bahkan sejak jaman Rig-veda (1.116.15) nampaknya bahwa mereka mengetahui seni pembedahan untuk menangani luka-luka korban peperangan dan bahkan dapat membuat organ tubuh palsu dari bahan logam untuk dipasang di tubuh pasien. Seperti dijelaskan oleh A.L. Basham dalam bukunya, The Wonder That Was India (hal. 502), “Ilmu bedah bangsa India masih di depan bangsa Eropa sampai abad ke-18, ketika para ahli bedah East India Company (British) tidak malu-malu mempelajari ilmu bedah plastik (rhinoplasty) dari orang-orang India”.

Pada halaman 30-31 dari buku Bharat (India) As Seen and Known by Foreigners karya G.K. Deshpende (1950), Dr. Sir William Hunter mengamati, “Perawatan dokter-dokter bangsa India tempo dulu adalah sangat mahir dan ahli. Mereka melakukan tindakan amputasi, menghentikan pendarahan dengan tekanan, perban pembalut dan minyak mendidih, mempraktekan lithotomy, melakukan operasi pada organ bagian dalam dan uterus, menangani hernia, fistula files, memperbaiki tulang patah dan salah posisi dan cekatan dalam memisahkan unsur-unsur asing dari tubuh.

Sebuah cabang khusus ilmu bedah adalah ilmu bedah plastik (rhinoplasty), sebuah operasi untuk memperbaiki telinga dan hidung yang bentuknya tidak bagus dan membuat hidung baru, suatu tindakan operasi yang sangat bermanfaat yang mana sekarang ini dipinjam oleh bangsa Eropa. Ilmu bedah bangsa India kuno juga memberikan petunjuk tentang tindakan penanganan neuralgia, sama dengan cara-cara jaman modern dalam memotong saraf ke-lima di atas alis mata. Mereka ahli dalam kebidanan, tidak takut melakukan operasi yang paling kritis”.

Mr. P.N. Oak menjelaskan dalam bukunya World Vedic Heritage (hal. 360), “Operasi kantung prostat yang dilakukan di jaman modern, para ahli bedah Barat secara persis mengikuti tahapan-tahapan prosedur operasi yang dilakukan oleh Sushrut, ahli bedah Hindu, ribuan tahun yang lalu. Bahkan istilah kantung prostat adalah istilah Sanskrit Prasthita granthi, menunjuk kepada sebuah kantung (gland) yang terletak di depan kantung kemih”.

Ilmu bedah plastik juga dilakukan di India pada ratusan tahun yang lalu. Ini dijelaskan dalam sepucuk surat kepada editor majalah Gentlemen’s Magazine (tersedia di perpustakaan “Wellcome Institute for History of Medicine”, 183 Euston Road, London). Isi surat itu menjelaskan bahwa pernah ada seorang pengemudi bernama Cowasjee, yang membantu melayani tentara Kerajaan Inggris di India di tahun 1792. Sebelumnya, ia pernah dipenjara oleh tentara Tipu Sultan, dimana mereka mencopot hidungnya karena prilaku barbar penguasa Muslim dalam menyiksa dan melumpuhkan tawanan. Sekembalinya di rumahnya di Pune setahun kemudian, seorang ahli bedah Ayurvedic Hindu menanganinya dengan memasangkan sebuah hidung baru. Thomas Cruso dan James Trindlay, merupakan dua orang dokter Inggris yang menjadi saksi mata operasi bedah yang mencengangkan tersebut. Mereka menjadi saksi hidup atas operasi-operasi ajaib yang sangat umum dilakukan di India bahkan selama mereka di sana.

Pada halaman 360-70 dari buku World Vedic Heritage, Mr. Oak menyajikan sebuah daftar perbandingan kata-kata antara bahasa Inggris dan Sanskrit. Ini memperlihatkan seberapa banyak kebudayaan barat berasal dari pengetahuan Vedic/Sanskrit di bidang pengobatan begitu juga berapa banyak kata-kata Sanskrit telah diambil ke dalam bahasa Inggris.

English                                                    Sanskrit
fever ==================> jwar, kemudian menjadi jever, kemudian fever
entrails =============-===> antral
nasal or nose ==========-==> naas
herpes =================> serpes
gland ==================> granthi
drip, drop, drops ==========> drups
hydrocephalus ============> andra-kapaalas (otak/kepala ber-uap air)
hiccups ================> hicca
muscle =================> mausal (gemuk)
malign, malignant =========> mallen
osteomalacia ============> asthi-malashay (kontaminasi tulang)
dyspepsia ==============> dush-pachanashay (pencernaan tidak baik)
surgeon ================> salya-jan (pemakaian peralatan tajam)
fertility ================> falati-lti (menghasilkan buah)
anesthesia ==============> anasthashayee (terbaring tidak sadarkan diri)
homeopathy =============> Samaeo-pathy (treatment parallel terhadap symptom)
allopathy ===============> alag-pathy (treatment yang berbeda dengan symptom)

Dalam buku World Vedic Heritage karya Mr. P.N. Oak menjelaskan : “Apabila kita menyimak lebih dekat tentang terminologi-terminologi allopathi, apakah itu jenis-jenis penyakit, organ-organ fisik, symptom, rehabilitasi, atau peralatannya ternyata bahwa semua itu didasarkan kepada Ayurveda karena semasa dunia masih bersatu di bawah naungan administrasi Veda hanya ada Ayurveda yang merupakan satu-satunya sistem pengobatan yang dipakai di seluruh dunia.

Dengan mandeknya sistem pengobatan dunia setelah Perang Mahabharata, penggalan-penggalan dari sistem pengobatan Ayurveda bisa bertahan di tempat-tempat tertentu di dunia yang dianggap sebagai bentuk cara-cara pengobatan tradisional atau sebagai sistem-sistem tandingan seperti homeopathy dan allopathy.

Hal yang sama terjadi pada theologi dan agama dimana setelah tercerai-berainya theologi peradaban Veda, muncul aliran-aliran yang mengkultuskan dewa dan dewi tertentu, seperti misalnya Mithraisme, Jainisme, Judaisme, Buddhisme, dan Shivaisme, yang pertama muncul secara damai dan masih sejalan atau mirip dengan peradaban Veda.

sumber: http://ngarayana.ugm.ac.id

Runtuhnya teori bangsa arya

Runtuhnya Teori Invasi Bangsa Arya

Runtuhnya Teori Invasi Bangsa Arya

Jika kita mencoba mencari padanan kata “Aryan” dalam kamus New Oxford Dictionary maka disebutkan bahwa Aryan berarti; “a member of a people speaking an Indo-European language who invaded northern India in the 2nd millennium bc, displacing the Dravidian and other aboriginal peoples”. Sebuah teori umum yang sudah terlanjur dijadikan sebagai kebenaran oleh masyarakat manusia. Implikasinya, kaum akademisi dan masyarakat umum juga memahami ajaran Hindu secara keliru. Mereka beranggapan bahwa bahasa Sansekerta dan kitab-kitab Hindu seperti Rg. Veda tidaklah benar-benar dikodifikasi oleh Maha Rsi Vyasa di wilayah Industan (India) sebagaimana yang tertuang dalam kitab suci Veda itu sendiri. Melainkan mereka berpandangan bahwa kitab suci Hindu, terutama sekali Rg. Veda dibawa dari daerah Jerman ke India oleh bangsa Indojerman (Arya) yang melakukan invasi dan mengalahkan bangsa Dravida. Hampir semua kalangan menganggap teori ini adalah teori yang memiliki kebenaran mutlak. Bagaimana tidak, semua buku-buku sejarah yang diajarkan di bangku-bangku sekolah telah mencekoli semua kalangan dengan teori ini. Rezim Nazi yang didirikan Hittler juga diindikasikan menggunakan semangat dari teori ini untuk melakukan invasi dan pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang Yahudi. Mereka juga menggunakan lambang sakral Swastika dalam setiap atribut dan benderanya.

Munculnya teori invasi bangsa Arya atas Dravida ini pada awalnya dicetuskan oleh Max Muller, seorang sarjana Sansekerta kelahiran Jerman yang mengabdikan hidupnya pada Universitas Oxford di Inggris. Bertepatan pada masa kolonialisme Inggris di India, Max Muller dibayar dengan harga tinggi (4 pounsterling per halaman) untuk menterjemahkan kitab-kitab suci Veda kedalam bahasa Inggris oleh pemerintah Inggris. Sebagai seorang penganut Kristen yang taat, tentunya dia melakukan penterjemahan terhadap veda dengan diboncengi motif tersembunyi. Ia juga bergabung dalam perkumpulan para Indologis yang diwadahi oleh organisasi yang disebut Royal Asiatic Society dimana misi dari organisasi ini adalah untuk melakukan Kristenisasi di India.

Max Muller menemukan beberapa sloka-sloka Veda yang mengatakan kata “Arya”. Sayangnya ia memahami kata Arya ini dengan pemahaman yang keliru, yaitu dengan menyebut Arya sebagai sebuah bangsa/suku. Sebagaimana disampaikan oleh Deen, gagasan tentang teori Penyerangan bangsa Arya yang berawal dari pandangan Max Muller ini ternyata bukanlah semata-mata kesalahan hasil penelitian, melainkan kospirasi politik yang sengaja ditiupkan pada masa itu untuk kepentingan kolonial Inggris.

…..the idea of the Aryan invasion was certainly not a matter of misguided research, but was a conspiracy to distribute deliberate misinformation that was formulated on april 10, 1866 in london at a secret meeting held in the Royal Asiatic Society. This was “to induct the theory of aryan invasion of India, so that no Indian may say that English are foriegners…….. India was ruled all along by outsider and so the country must remain a slave under the benigh Cristian rule. “This was a political move and this theory was put to solid use in all school and collage.

jadi pada dasarnya, teori linguistik yang diadopsi oleh penguasa kolonial demi mempertahankan kekuasaan mereka, untuk juga memperlancar konversi orang Hindu menjadi Kristen, sebagaimana yang dituliskan Muller dalam suratnya kepada Istrinya; “Terjemahan edisi ini dan Weda lainnya akan menentukan nasib India kelak dan perkembangan jutaan roh yang lahir di negara ini. Inilah akar kepercayaan mereka, dan aku yakin hanya dengan cara ini akar kepercayaan yang tertanam selama tiga ribu tahun itu dapat dicabut. Kita hanya memerlukan waktu 200 tahun untuk mengkristenisasi Afrika, tetapi meski sudah berlangsung 400 tahun, kita belum berhasil mengubah India. Untuk mewujudkan hal yang serupa, saya mempelajari bahasa Sansekerta.” (The life and Letters of Right Honorable Friedrich Max Muller, Vol.I.p,346).

Ironisnya, kenapa sebagian besar buku-buku pelajaran Hindu terutama sekali di Indonesia juga menuliskan teori ini sebagai sebuah kebenaran? Mereka lebih mempercayai uaraian Veda yang disampaikan oleh orang-orang Barat yang berlindung dibalik kata “ilmiah” dari pada mempercayai sejarah Veda menurut Veda itu sendiri.

Sebagian masyarakat Hindu tidak bisa menerima pernyataan Veda yang menyatakan dirinya diajarkan dan disebarkan melalui tradisi lisan yaitu proses mendengar (sruti) dan mengingat (smrti) berdasarkan jalur parampara secara bersamaan dengan terciptanya alam semesta material. Veda sudah dengan sangat jelas menyatakan bahwa ia dikodifikasi pada permulaan Kali-Yuga sekitar 6000 tahun yang lalu inkarnasi Tuhan, Sri Narayana dibidang sastra yaitu Krishna Dvaipayana Vyasa agar bisa dipelajari dan dimengerti oleh orang-orang jaman Kali. Namun kenapa orang-orang yang katanya saja penganut Veda begitu dungu sehingga mengingkari pernyataan Veda ini? Bhagavata Purana 1.4.17-25 dengan jelas sudah menyatakan hal ini dengan menyebutkan;

Sang Rishi mulia yang berpengetahuan penuh, dengan penglihatan rohaninya bisa melihat merosotnya segala sesuatu yang material karena pengaruh buruk Kali-Yuga …… Beliau juga melihat orang-orang yang tidak percaya (pada Veda) jadi pendek usia dan mereka tidak penyabar karena kurang memiliki sifat-sifat bajik …… Untuk menyederhanakan proses (belajar Veda), beliau membagi Veda yang satu (Yajur Veda) itu menjadi 4 bagian untuk diajarkan diantara manusia …. Demikianlah, Rishi Paila menjadi sarjana Rg-Veda, Rishi Jaimini menjadi sarjana Sama-Veda, Rishi Vaisampayana menjadi akhli Yajur-Veda dan Sumantu Muni dipercayakan mengajar Atharva-Veda. Mereka mengajarkan bagian-bagian Veda itu kepada para muridnya masing-masing ….. Kemudian karena kasihan (kepada orang-orang kurang cerdas), Vyasa menyusun Mahabharata agar para wanita, sudra dan dvija-bandhu bisa mencapai tujuan hidup tertinggi”.

Lebih ironisnya lagi, malahan ada anggapan bahwa Max Muller yang menterjemahkan Veda dan menyebarkan teori palsu malah diagung-agungkan sebagai salah satu Sad Guru yang dihormati yang dianggap berjasa sebagai pembaharu Hindu.

Jika kita mengacu pada kosa kata bahasa Sansekerta yang benar, kata “arya” berarti orang yang terpelajar atau terhormat. Sama sekali tidak ada indikasi yang menyatakan bahwa istilah arya mengacu kepada suatu ras atau bangsa tertentu. Dalam Catur Veda sendiri istilah Arya hanya disebutkan sebanyak 60 kali dan kesemuanya mengacu pada istilah orang yang terpelajar dan terhormat. Veda sendiri menyatakan dengan jelas bahwa Veda dikodifikasikan di daerah Aryavarta atau Bharatavarsha yang dikatakan daerah yang memiliki 7 aliran sungai. Veda tidak pernah menyinggung bahwa dia dikodifikasikan di daerah lain. Colin Renfrew, seorang arkeolog Inggris sendiri dengan tegas mengatakan; “Sejauh yang telah aku lihat, tidak satupun mantra Rg. Veda yang menggambarkan bahwa Veda membicarakan suatu penyerangan suatu bangsa ke daerah tertentu… Tidak satupun hal yang menguatkan bahwa Arya adalah pendatang”.

Penggalian arkelogi yang sistematis dilakukan pertama kali pada tahun 1921 untuk menggali peninggalan kota Harappa di sekitar sungai Ravi (Daya Ram Sahni, Rakhaldas Banerjee). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebudayaan yang berkembang di sana paling tidak sudah berlangsung sejak 4-2500 SM. Hasil penggalian ini juga menunjukkan bahwa sama sekali tidak ada bukti jejak peninggalan bangsa Dravida dalam kebudayaan Harappa, yang artinya sama sekali tidak ada bukti bahwa bangsa Arya datang menyerang kota Harappa dan mengusi bangsa Dravida dari sana.

Peninggalan arkeologi yang jauh lebih tua dan paling sering disebutkan dalam literatur Veda akhirnya ditemukan di sepanjang aliran sungai Sarasvati yang saat ini sudah mengering dan hanya dapat diamati dari luar angkasa melalui satelit. Sebab dari mengeringnya sungai Sarasvati adalah karena habisnya gletser yang menjadi pasokan utama aliran sungai Sarasvati yang terletak di pegunungan Himalaya. Bukti-bukti arkeologi memperhitungkan bahwa sungai Sarasvati sudah mengering sekitar 2.200-10.000 tahun SM akibat terjadinya perubahan iklim yang mengarah pada pemanasan permukaan Bumi. Beberapa mantram-mantram Rg. Veda yang mengagung-angungkan keberadaan sungai Sarasvati ini adalah antara lain pada mantram VI.61.13, VI.61.8 dan VII.95.1. Setidaknya dari keterkaitan dengan keberadaan sungai Sarasvati dan pujian-pujian mantra-mantra Rg. Veda ini sudah merupakan bukti yang sangat kuat yang membantahkan anggapan yang menyatakan Rg. Veda dibawa dari daerah Eropa oleh bangsa nomaden Indojerman yang disebut-sebut sebagai bangsa Arya. Ditambah lagi dengan adanya sloka Mahabharata yang menyatakan bahwa sungai Sarasvati menghilang di suatu gurun, sehingga logikanya jaman kodifikasi Veda juga berlangsung pada tahun-tahun mengeringnya sungai Sarasvati ini.

Kekeliruan teori invasi hasil konspirasi ini sudah diakui dan dipublikasikan oleh BBC London yang dimuat 30 September 2005. Mereka dengan jelas menyatakan bahwa teori kontroversial yang hanya berdasarkan pada pembenaran linguistik dan adanya dua jenis warna kulit bangsa India yang sudah terlanjur dianggap benar hasil ciptaan F. Max Muller pada tahun 1848 yang telah mendistorsikan sejarah Hindu akhirnya mendapat sanggahan dan tumbang setelah 120 tahun.

Kenoyer, seorang sejarawan juga menguatkan pernyataan bahwa Rg. Veda benar-benar ditulis di sekitar sungai Sarasvati di wilayah India dengan mengatakan; “Di timur, sungai Sarasvati purba mengalir secara paralel ke sungai Indus. Saat berakhirnya peradaban lembah sungai Indus, sungai Sarasvati sudah kering secara total. Banyak kisah Rg. Veda mengambil tempat di daerah sungai suci Sarasvati ini”.

 

Lebih lanjut tentang bukti-bukti arkeologi yang membantahkan teori penyerangan bangsa Arya ini dapat dilihat di link ini.

Sumber:

  1. Varun M Deshpande, Invation that never was (an article)
  2. Stephen Knapp, Death of the Aryan Invasion Theory (an article)
  3. http://petualanganduniamaya.blogspot.com/

kedudukan seorang wanita hindu rendah?

Kedudukan seorang wanita Hindu rendah?

 

Kedudukan seorang wanita Hindu rendah?

Beberapa saat yang lalu saat saya berkunjung ke Gramedia Book Store, secara sangat kebetulan saya mengambil sebuah buku yang bertemakan “Wanita” dalam sebuah rak buku teologi. Secara sangat kebetulan saya membuka sebuah halaman secara acak dan saya temukan sebuah ulasan yang sangat menarik, tetapi juga membuat saya geleng-geleng kepala sebagai seorang pengikut Veda.

Buku tersebut adalah sebuah buku karangan seorang “oknum” muslim yang secara umum “mempropagandakan” bahwa dalam ajaran Islam kedudukan seorang wanita adalah sangat terhormat. Sampai disini saya menghormati sang penulis yang mengagungkan agamanya dan saya memandang itu sebagai sesuatu yang wajar. Namun sampai pada sebuah penjelasan yang saya maksud, saya kehilangan simpati terhadap sang penulis. Dalam banyak contoh-contoh-nya sang penulis mendeskreditkan ajaran non-Islam mengenai kedudukan wanita.

Hal inilah yang menyebabkan saya tergerak untuk memberikan penjelasan dan merupakan jawaban dari tuduhan buku yang sangat tidak fair tersebut. Dengan menggunakan “azas praduga tidak bersalah” saya akan mencoba mengutip beberapa bukti yang bertolak belakang dengan penjelasan buku tersebut. Namun sekali lagi saya tegaskan, artikel ini tidak dimaksudkan untuk mendeskreditkan seseorang atau kelompok tertentu, melainkan hanya menjawab ketidak-fair-an buku yang saya temukan tersebut.

Sang penulis menjelaskan bahwa  di dalam ajaran Hindu, kedudukan wanita sangat lemah dan tidak berdaya, hanya Islam-lah yang menjunjung tinggi harkat dan martabat wanita. Dia memberikan sebuah contoh tentang dewi Sita yang setelah diculik oleh Rahvana dan dibebaskan kembali oleh suaminya, Rama beserta bala tentara keranya akhirnya diperlakukan secara tidak adil, dibuang ke hutan sampai akhir hidupnya. Sang penulis juga menjelaskan bahwa di Hindu wanita diperlakukan secara tidak adil dengan mengharuskannya menjalankan sati, yaitu dibakar hidup-hidup setelah suaminya meninggal.

Apa benar Hindu mengajarkan seperti itu?

Saya pribadi tersenyum mendengar penjelasan sang penulis yang “bodoh” ini. Dia mendeskreditkan ajaran agama lain tanpa pernah membaca ajaran Hindu yang sebenarnya. Apalagi dengan memberikan deskripsi kejadian tanpa mengutip sumber yang valid.

Kisah Dewi Sita dan Rama dapat kita temukan dalam kitab Ramayana yang ditulis oleh Maha Rsi Valmiki yang menurut kronologi waktu dari Veda sendiri berlangsung 18,1 juta tahun sebelum masehi. Kitab Ramayana adalah bagian dari Itihasa, yaitu suatu epos/sejarah kepahlawanan yang memang benar-benar pernah terjadi.

Mengenai bukti sejarah Ramayana sudah dibuktikan dengan ditemukannya reruntuhan kerajaan Ayodya dan juga jembatan yang dibangun tentara kera untuk menghubungkan India dengan Alenka (Srilanka) sebagaimana dapat diamati melalui pencitraan satelit NASA.

Kisah dewi sita menjalani pengasingan di Hutan dan akhirnya masuk kembali ke dalam perut bumi diceritakan dalam bagian (kanda) terakhir dari Ramayana. Jika kita pahami secara mendetail literatur Veda, penjelmaan Rama, Laksmana dan Sita adalah Avatara Tuhan yang muncul kedunia dengan tujuan membinasahkan orang jahat dan menyelamatkan orang saleh sebagaimana disebutkan dalam Bhagavad Gita 4.8 pariträëäya sädhünäà  vinäçäya ca duñkåtäm  dharma-saàsthäpanärthäya sambhavämi yuge yuge”. Pada dasarnya Tuhan tidak harus muncul dan hadir kedunia sebagai Rama untuk membinasahkan Rahvana, tetapi Beliau melakukan “lila”, sandiwara rohani yang dapat dijadikan falsafah hidup bagi seluruh umat manusia.

Singkat cerita, setelah Rahvana binasah di tangan Avatara Rama, Sita-pun terselamatkan dan dengan menggunakan pesawat “Vimanas” diterbangkan menuju Ayodya, kerajaan Sri Rama. Rama sebagai anak tertua dari tiga bersaudara akhirnya diangkat sebagai raja Ayodya untuk menggantikan Ayahnya yang sudah wafat dan otomatis Sita menjadi ratu-nya.

Setelah beberapa waktu berlalu, di kalangan rakyat Ayodya beredar desas-desus yang menyangsikan kesucian Dewi Sita yang sempat diculik dalam jangka waktu yang lama oleh Rahvana. Sampai pada akhirnya berita tidak sedap ini sampai kepada Rama, suami dewi Sita. Sudah barang tentu Rama sebagai Avatara Tuhan yang mengetahui segala sesuatu tidak meragukan kesucian dewi Sita, namun untuk meredam desas-desus rakyatnya akhirnya Rama menyiapkan suatu upacara di mana Sita harus meloncat kedalam kobaran api. Jika Sita tidak suci, maka api akan membakar habis tubuh dewi Sita, tetapi jika Sita suci, maka api tidak akan sanggup membakarnya. Dalam upacara ini Sita sama sekali tidak terbakar dan hal ini membuktikan bahwa Sita benar-benar tidak ternoda.

Namun para rakyat yang dipenuhi oleh Avidya (kebodohan) masih saja menyangsikan prihal kesucian Dewi Sita, sampai pada akhirnya Rama sebagai seorang raja yang menjalankan Dharma Kesatria yang harus mengayomi seluruh rakyatnya dan menjaga ketertiban masyarakat memutuskan untuk mengasingkan dewi Sita ke hutan ketempat pertapaan Rsi Valmiki. Pada saat pengasingan ini dewi Sita sedang mengandung dan akhirnya melahirkan anak kembar di pertapan Rsi Valmiki. Oleh Maha Rsi Valmiki kedua anak ini dinamakan Kusa dan Lawa. Rsi Valmiki yang memiliki tugas menuliskan kisah Rama dan Sita kedalam kitab Ramayana ini mengajarkan kedua anak Rama dan Sita ini melantunkan syair-syair tentang kisah hidup orang tua mereka sendiri.

Sampai pada akhirnya Kusa dan Lawa mendapat kesempatan membawakan kisah ini di depan Rama, ayat mereka di istana Ayodya. Menyadari bahwa Kusa dan Lawa adalah anak-Nya, Rama langsung memeluk mereka. Singkat cerita akhirnya Rama memanggil dewi Sita kembali ke istana. Namun sebagai akhir “lila” Sri Rama, Dewi Sita menolak untuk kembali dan memilih kembali ke dalam dekapan ibu pertiwi, Dewi Sita kembali ke dalam perut bumi, dan Rama-pun akhirnya kembali ke Vaikuntaloka, alam rohani.

Jika kita membaca sepenggal kisah ini, mungkin kita akan beranggapan bahwa Sita diperlakukan secara tidak adil sebagai seorang wanita. Namun pada dasarnya ini adalah “lila”, sebuah sandiwara rohani yang tanpa dewi Sita pergi ke hutan ke pertapaan Rsi Valmiki, maka Ramayana mungkin tidak akan pernah ada dan diceritakan sampai saat ini. Demikian juga dari segi Dharma seorang Raja. Seorang yang menjabat sebagai pemimpin/raja, maka dia harus dapat melayani semua orang yang dipimpinnya, dia bukan lagi milik istrinya, anak-anak dan keluarganya, tetapi milik semua rakyatnya dan dia harus mengutamakan kepentingan rakyat banyak diantara kepentingan pribadi dan keluarga. Karena itulah pada saat itu tindakan Rama dan ketulusan Sita untuk mengasingkan diri kehutan demi kepentingan rakyat sudah sangat tepat.

Mengenai tindakan dimana seorang istri menceburkan diri kedalam perabuan suaminya atau “sati” memang dikenal oleh peradaban masyarakat Hindu. Tetapi tidak ada satupun sloka Veda yang mewajibkan seorang istri untuk ikut membakar diri bersama mayat suaminya. Mereka yang melakukan upacara sati adalah mereka yang memang atas dorongan dirinya sendiri yang memiliki cinta kasih dan pengabdian yang tulus pada suaminya. Dasar dari seorang istri untuk melakukan sati mungkin adalalah Manu Smrti 2.67; “Patise-va gurau vasah, melayani suami dengan  tulus  di rumah sama dengan tinggal di Gurukula” dan lebih lanjut dikatakan, “Suddha  nari  pativrata, istri yang selalu setia kepada suami dalam kesenangan  maupun kesusahan adalah wanita saleh” (CN.8.18). Seorang istri yang setia seperti ini menurut Veda sudah pasti akan diangkat kedalam kedudukan yang lebih tinggi, mereka sduah pasti akan mencapai Sorga.

Namun demikian Veda berkali-kali mengingatkan bahwa tujuan akhir kita bukan Svarga/Sorga, tetapi Moksha, mencapai alam rohani yang sat-cit-ananda. Dan kit juga bukan badan ini, kita adalah Atman/jiva. Kita mengambil wujud sebagai namusia, sebagai laki-laki dan wanita hanya karena badan material ini, namun Atman/jiva kita tetaplah sama. Sama sekali tidak terdapat perbedaan antara atman/jiva seorang lelaki dan seorang perempuan. Tidak terdapat perbedaan atman/jiva seorang manusia dengan atman/jiva hewan dan tumbuhan. Hali ni juga ditegaskan dalam Bhagavad Gita 6.29 Sarva bhuta-stham atmanam sarva bhutani catmani … sarvatra sama darsanah, Yogi sejati melihat sang Atma ada dalam badan jasmani segala makhluk dan juga melihat segala makhluk dalam Atma. Sungguh, ia yang telah insyaf diri melihat Atma yang sama dimana-mana”. Kesadaran yang mengatakan kita adalah manusia, yang mengatakan bahwa kita adalah lelaki dan perempuan adalah kesadaran palsu dari interaksi sang Jiva dengan maya. “Iccha dvesa samutthena dvandva mohena bharata sarge yanti parantapa, O keturunan Bharata, dibuai oleh keinginan menikmati secara terpisah dari-Ku dan keengganan melayani-Ku, wahai Penakluk musuh, maka  ia  (sang jiva) jatuh ke alam material” (Bhagavad Gita 7.27). Oleh karena na “bhajante”, tidak mau mengabdi kepada Sri Krishna dan “avajananti”, tidak senang kepada Beliau, maka “sthanad brastah patanti adhah”, jatuhlah sang jiva ke alam material (Bhagavata Purana 11.5.3).

Jadi sloka-sloka ini sudah sangat jelas bahwasanya Veda tidak membedakan antara wanita dan pria, bahkan Veda juga tidak membedakan seorang manusia dengan mahluk yang lain, melainkan semuanya adalah sama, yang membedakan hanyalah tingkat “Bhakti” sang Atman/Jiva kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bukti yang sangat kuat mengenai kedudukan wanita yang sejejar dengan pria dapat dilihat dari penerimaan pewahyuan Veda itu sendiri. Wahyu kitab suci Veda diterima oleh 332 orang suci. 300 orang diantaranya adalah seorang Pria, yaitu antara lain Rsi Atri, Bhrugu, Vasishtha, Vishwamitra, Agastya, Yagyavalkya, Kanva, Bharadwaja, Gautama, Kashyap, Angirasa dan lain-lain. Dan 32 yang lainnya adalah seorang Brahmavadini, atau seorang Rsi wanita, yaitu antara lain Maitreyi, Gargi, Lopamudra dan lain-lain.

Melihat dari proses penerimaan Veda sendiri yang dapat diterima oleh seorang wanita, menunjukkan bahwa kedudukan wanita dalam hindu adalah sejajar dengan pria. Hal seperti ini mungkin tidak akan pernah anda temukan dalam sejarah agama yang lain, terutama agama-agama Abrahamik.

Setelah saya membantah tuduhan bahwa Hindu meletakkan wanita lebih rendah sebagai mana buku tentang wanita yang diterbitkan oleh oknum penulis muslim tersebut, sekarang ijinkan saya mengkritisi dan mempertanyakan apa yang disampaikan oleh penulis tersebut yang menyatakan bahwa Islamlah satu-satunya agama yang meletakkan wanita pada kedudukan yang paling mulia.

Tentunya pertanyaan dan bukti yang saya lemparkan dalam tulisan ini tidak untuk men-justice pernyataan saya sebagai kebenaran. Tapi saya harapkan teman-teman muslim yang kebetulan membaca artikel ini dapat memberikan masukan, sanggahan dan bukti-bukti yang mengarah pada kesamaan persepsi dengan kepala dingin tentunya.

Al-Qur’an menegaskan bahwa; “kaum pria punya kelebihan dari mereka (kaum wanita)” [2:228]; bahwa kesaksian wanita hanya berharga separuh kesaksian pria [2:282]; bahwa wanita mewarisi separuh dari yang diwarisi saudara lelakinya, [4:11-12]; bahwa seorang pria boleh menikahi dua atau tiga atau empat istri [4:3]; bahwa jika seorang wanita tertangkap dalam perang, majikan Muslimnya diperbolehkan untuk memperkosanya [33:50]; bahwa jika seorang istri tidak taat sepenuhnya pada suaminya, dia akan masuk Neraka [66:10]; bahwa istri adalah ladang tempat bercocok tanam bagi suaminya [2:223]; bahwa pria adalah pemimpin wanita, sepertinya wanita itu begitu bodoh atau terbelakang sampai-sampai  tidak bisa memimpin dirinya sendiri; bahwa wanita harus tunduk pada suaminya atau kalau tidak akan diperingatkan (lewat kata-kata), pisah ranjang (penindasan psikologis), atau dipukul (penindasan fisik) [4:34] [lihat kutipan Ali Sina dalam http://www.faithfreedom.org].

Menurut Muhamad hanya sedikit wanita yang akan masuk surga. Kebanyakan wanita masuk neraka. Marilah kita lihat apa yang sang Nabi katakan tentang hal ini. Di sini dia menggambarkan khayalannya ketika mengunjungi neraka dan surga:

“Lalu kulihat Api (neraka), dan aku belum pernah melihat sebelumnya pemandangan yang sangat mengerikan, dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.” Orang-orang bertanya, “O Rasul Allah! Mengapa begitu?” Dia menjawab, “Karena mereka tidak bersyukur.” Dikatakan, “Apakah mereka tidak percaya pada Allah (apakah mereka tidak bersyukur pada Allah)?” Dia menjawab, “Mereka tidak berterima kasih kepada suami-suami mereka dan tidak bersyukur untuk kebaikan yang dilakukan pada mereka. Bahkan jika kau berbuat baik pada satu diantara mereka seumur hidupmu, jika dia menerima kekerasan darimu, dia akan berkata, “Aku tidak pernah melihat satu pun hal yang baik darimu.’ “ Bukhari 7.62.125

Dalam hadis Bukhari 4.54.450 dikatakan bahwa Rasul Allah berkata, “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya (untuk berhubungan seks) dan istri menolak dan menyebabkan suami tidur dalam kemarahan, para malaikat akan mengutuki sang istri sampai pagi”

Lebih lanjut Quran 4:34 mengatakan “Lelaki adalah pengurus wanita karena Allah lebih menyukai lelaki diatas wanita dan wanita diambil hak2 mereka”.

Di Saudi Arabia jika seorang dibunuh atau terbunuh, sang pembunuh harus bayar uang darah atau kompensasi sebagai berikut:

100,000 riyals jika korban adalah lelaki Muslim

50,000 riyals jika korban adalah wanita Muslim

50,000 riyals jika pria Kristen

25,000 riyals jika wanita Kristen

6,666 riyals jika pria Hindu

3,333 riyals jika wanita Hindu

Sumber: The Wall Street Journal, April 9, 2002


Lalu, siapakah yang merendahkan Wanita? Hindukah?